Anda di halaman 1dari 19

Irvan Ramadhani 240210100012 V.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Pengertian umum dari Kemasan adalah suatu benda yang digunakan untuk wadah atau tempat yang dikemas dan dapat memberikan perlindungan sesuai dengan tujuannya. Adanya kemasan yang dapat membantu mencegah/mengurangi kerusakan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan dan getaran. Dari segi promosi kemasan berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli. Bahan kemasan yang umum untuk pengemasan produk hasil pertanian untuk tujuan pengangkutan atau distribusi adalah kayu, serat goni, plastik, kertas dan gelombang karton (Sitoresmi, 2001). Bahan kemasan yang umum untuk pengemasan produk hasil pertanian untuk tujuan pengangkutan atau distribusi adalah kayu, serat goni, plastik, kertas dan gelombang karton. Hasil-hasil pertanian yang dapat dimakan oleh manusia berasal dari sumber hewani dan nabati. Hasil pertanian itu dapat dikonsumsi dalam bentuk bahan mentah atau matang. Persiapan suatu hasil pertanian menjadi bentuk yang dapat dimakan melibatkan pengolahan. Di dalam proses pengolahan makanan terjadi perubahanperubahan fisik maupun kimiawi yang dikehendaki atau tidak dikehendaki. Disamping itu setelah melalui proses pengolahan, makanan tadi tidak tetap stabil, dia akan terus mengalami perubahan, sehingga sangat diperlukan pemilihan pengemasan yang tepat untuk itu sehingga masa simpan bahan pangan dapat ditingkatkan dan nilai gizi bahan pangan masih dapat dipertahankan. Praktikum kali ini dilakukan pengamatan terhadap kemasan bahan pangan, yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah membuat deskripsi singkat dari bahanbahan pengemas dan diuraikan perbedaan fisik setiap bahan pengemas tersebut. Selanjutnya ceritakan pula pangan yang sesuai untuk dikemas dalam kemasan yang terbuat dari bahan-bahan tersebut.

Irvan Ramadhani 240210100012 Tabel 5.1. Hasil pengamatan bahan pengemasan pangan No Bahan Pengemas Deskripsi Lapisannya tipis, warnanya putih buram, teksturnya halus, bagian bawah tertutup bagian atas terbuka, bergemerisik, ketebalannya 0,01 mm Ketebalannya 0,0125 mm, warnanya putih transparan, teksturnya mudah kusut, bagian bawah tertutup bagian atas terbuka, lebih kesat daripada jenis LDPE Ketebalannya 0,12 mm, warnanya transparan, lebih kaku dibandingkan dengan PP tipis, lebih besar ukurannya, bagian bawah tertutup Warnanya agak buram, bagian atas terbuka, bagian bawahnya tertutup, ketebalannya 0,03 mm Teksturnya lebih tebal, warnanya transparan, permukaannya halus, mudah dibentuk, tidak kaku, lebih kecil dari PVC, ketebalannya 0,10 mm Teksturnya lebih tipis, warnanya agak buram, ketebalannya 0,07 mm, permukaannya halus, bergemerisik, ukurannya lebih besar dari PET, lebih kaku dari PET Transparan, keras, mudah pecah, terdapat leher agak tinggi dan ulir tutp botol, badan berbentu tabung, alas lingkaran Transparan, keras, mudah pecah, terdapat leher pada jar yang pendek, berbentuk tabung, alas lebih kecil Transparan, keras, ukurannya lebih kecil, mudah pecah, alas lebih Sesuai untuk Produk Untuk mengemas bahan pangan buah karena permeabilitasnya tinggi Untuk mengemas bahan pangan yang kering

1.

LDPE

2.

PP tipis

3.

PP tebal

Untuk mengemas bahan pangan kering

4.

HDPE

Untuk mengemas bahan pangan

5.

PET

Untuk mengemas bahan pangan

6.

PVC

Untuk mengemas bahan pangan kering, kue kue, nasi dll Untuk mengemas bahan pangan berbentuk cair, minuman Untuk mengemas bahan pangan berbentuk cair, selai Untuk mengemas bahan pangan

7.

Botol

8.

Jar

9.

Vail

Irvan Ramadhani 240210100012 besar daripada tutup 10. 11. 12. Tumbler Hi-Lo Richooco Transparan, mudah pecah, alas lebih kecil disbanding tutup Kemasan sekunder, berbentuk balok, berbahan dari karton tebal Karton balok, ringan, tipis Teksturnya lebih tebal, ringan, kasar, mudah dilipat Kertas tebal, mudah dilipat, tidak tembus cahaya, mudah dirobek Silinder kaleng, bertutup, alumunium, tidak tembus cahaya Kaleng silinder, bertutup, ringan, tebal Silinder alumunium, kaleng, tebal Silinder alumunium, tipis, tidak tembus cahaya Kertas minyak, mudah dilipat, tipis, ringan, menyerap minyak Berserat, kaku, tebal, ringan, terbuat dari bahan alam yaitu daun jagung Alumunium foilemas, tipis ,ringan, tidak tembus cahaya Plastik tipis, kedap udara, tembus cahaya Tipis, berkilat, mudah dilipat, tidak tembus cahaya Tebal, kaku Lebih tebal, warna keruh Seperti kertas HVS putih bersih Tipis, tahan lemak Tipis, rapuh, agak kasar, keruh cair,kering Untuk bahan pangan yang kering maupun cair Untuk kemasan susu Unyuk kemasan sekunder bahan pangan yang padat Untuk kemasan primer bahan pangan yang padat Untuk produk padat Produk padatan yang rapuh contoh kue kue Kemasan sekunder, produk padat Produk cair Produk cair Kemasan primer, padat Kemasan primer, padat dan semi padat Coklat dan produk yang berbentuk padat Produk olahan untuk disimpan kembali Produk padat dan mudah rusak oleh sinar matahari Kemasan sekunder Kemasan sekunder Kemasan sekunder non pangan Kemasan sekunder Kemasan sekunder

13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

Karton lipat Kantung Monde Permen Tinplate : 2 pieces nescafe Tinplate : 3 pieces Bearbrand Dodol Wajik

21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.

Coklat krim Clingwrap Alumunium foil Kertas bond Kertas stensil Kertas fotocopy Kertas Glisin Kertas koran

Irvan Ramadhani 240210100012 Kemasan sekunder aqua Kemasan sekunder Kemasan sekunder Kemasan sekunder Kemasan sekunder burger di supermarket Kemasan untuk kue kue, bahan pangan kering

29. 30. 31. 32. 33.

Kertas kardus Kertas lapis Kertas serap Kertas emas Kertas kraf

Kaku, tebal Tipis, garis garis Kasar, tipis, mudah sobek Bagian depang emas, belakang berwarna abu abu Coklat kasar Seperti kardus, tipis, mudah dilipat, kotak kotak

34.

Kertas lipat

Sumber: Dokumen Pribadi (2011) Didalam pengemasan bahan pangan terdapat dua macam wadah, yaitu wadah utama atau wadah yang langsung berhubungan dengan bahan pangan dan wadah kedua atau wadah yang tidak langsung berhubungan dengan bahan pangan. Wadah utama harus bersifat non toksik dan inert sehingga tidak terjadi reaksi kimia yang dapat menyebabkan perubahan warna, flavour dan perubahan lainnya. Selain itu, untuk wadah utama biasanya diperlukan syarat-syarat tertentu bergantung pada jenis makanannya, misalnya melindungi makanan dari kontaminasi, melindungi

kandungan air dan lemaknya, mencegah masuknya bau dan gas, melindungi makanan dari sinar matahari, tahan terhadap tekanan atau benturan dan transparan (Winarno, 1983). Berdasarkan bahan dasar pembuatannya maka jenis kemasan pangan yang tersedia saat ini adalah kemasan kertas, gelas, kaleng/logam, plastik dan kemasan komposit atau kemasan yang merupakan gabungan dari beberapa jenis bahan kemasan, misalnya gabungan antara kertas dan plastik atau plastik, kertas dan logam. Masing-masing jenis bahan kemasan ini mempunyai karakteristik tersendiri, dan ini menjadi dasar untuk pemilihan jenis kemasan yang sesuai untuk produk pangan.

1. Plastik
Bahan pembuat plastik dari minyak dan gas sebagai sumber alami, dalam perkembangannya digantikan oleh bahan-bahan sintetis sehingga dapat diperoleh

Irvan Ramadhani 240210100012 sifat-sifat plastik yang diinginkan dengan cara kopolimerisasi, laminasi, dan ekstruksi (Syarief, et al., 1989). Menurut Eden dalam Davidson (1970), klasifikasi plastik menurut struktur kimianya terbagi atas dua macam yaitu: 1. Linear, bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus (linear) maka akan terbentuk plastik thermoplastik yang mempunyai sifat meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan sifatnya dapat balik (reversible) kepada sifatnya yakni kembali mengeras bila didinginkan. 2. Jaringan tiga dimensi, bila monomer berbentuk tiga dimensi akibat polimerisasi berantai, akan terbentuk plastik thermosetting dengan sifat tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversible). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Bahan kemasan plastik dibuat dan disusun melalui proses yang disebabkan polimerisasi dengan menggunakan bahan mentah monomer, yang tersusun sambung-menyambung menjadi satu dalam bentuk polimer. Kemasan plastic memiliki beberapa keunggulan yaitu sifatnya kuat tapi ringan, inert, tidak karatan dan bersifat termoplastis (heat seal) serta dapat diberi warna. Bahan kemasan plastik dibuat dan disusun melalui proses yang disebabkan polimerisasi dengan menggunakan bahan mentah monomer, yang tersusun sambung-menyambung menjadi satu dalam bentuk polimer. Kemasan plastic memiliki beberapa keunggulan yaitu sifatnya kuat tapi ringan, inert, tidak karatan dan bersifat termoplastis (heat seal) serta dapat diberi warna. Kelemahan bahan ini adalah adanya zat-zat monomer dan molekul kecil lain yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi ke dalam bahan makanan yang dikemas. Berbagai jenis bahan kemasan lemas seperti misalnya polietilen, polipropilen, nilon poliester dan film vinil dapat digunakan secara tunggal untuk membungkus makanan atau dalam bentuk lapisan dengan bahan lain yang direkatkan bersama. Kombinasi ini disebut laminasi. Sifat-sifat yang dihasilkan oleh kemasan laminasi dari dua atau lebih film dapat memiliki sifat yang unik. Contohnya kemasan yang terdiri dari lapisan

Irvan Ramadhani 240210100012 kertas/polietilen/aluminium foil/polipropilen baik sekali untuk kemasan makanan kering. Lapisan luar yang terdiri dari kertas berfungsi untuk cetakan permukaan yang ekonomis dan murah. Polietilen berfungsi sebagai perekat antara aluminium foil dengan kertas. Sedangkan polietilen bagian dalam mampu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk direkat atau ditutupi dengan panas. Dengan konsep laminasi, masing-masing lapisan saling menutupi kekurangannya menghasilkan lembar kemasan yang bermutu tinggi (Winarno, 1994). Plastik berisi beberapa aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat fisiko kimia plastik itu sendiri. Bahan aditif yang sengaja ditambahkan itu disebut komponen non plastik, diantaranya berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap cahaya ultraviolet, penstabil panas, penurun viskositas, penyerap asam, pengurai peroksida, pelumas, peliat, dan lain-lain (Crompton, 1979). Menurut Erliza dan Sutedja (1987) plastik dapat dikelompokkan atas dua tipe, yaitu thermoplastik dan termoset. Thermoplastik adalah plastik yang dapat dilunakkan berulangkali dengan menggunakan panas, antara lain polietilen, polipropilen, polistiren dan polivinilklorida. Sedangkan termoset adalah plastic yang tidak dapat dilunakkan oleh pemanasan, antara lain phenol formaldehid dan urea formaldehid. Syarief et al., (1989) membagi plastik menjadi dua berdasarkan sifatsifatnya terhadap perubahan suhu, yaitu: a) termoplastik: meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan mempunyai sifat dapat balik (reversibel) kepada sifat aslinya, yaitu kembali mengeras bila didinginkan, b) termoset: tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversibel). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Pemanasan yang tinggi tidak akan melunakkan termoset melainkan akan membentuk arang dan terurai karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel, seperti jenis-jenis melamin. Pada kemasan plastik, perubahan fisiko kimia pada wadah dan makanannya sebenarnya tidak mungkin dapat dihindari. Industri pangan hanya mampu menekan laju perubahan itu hingga tingkat minimum sehingga masih memenuhi

Irvan Ramadhani 240210100012 syarat konsumen. Banyak ragam kemasan plastik untuk makanan dan minuman, beberapa contoh misalnya: polietilen, polipropilen, polistiren, poliamida, polisulfon, poliester, poliuretan, polikarbonat, polivinilklorida, polifenilinoksida, polivinilasetat, poliakrilonitril dan melamin formaldehid. Plastik diatas dapat digunakan dalam bentuk lapis tunggal, ganda maupun komposit, dengan demikian kombinasi dari berbagai ragam plastik dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan (Crompton, 1979). Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplatis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O2, CO2. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan (Winarno, 1987). Ryall dan Lipton (1972) menambahkan bahwa plastik juga merupakan jenis kemasan yang dapat menarik selera konsumen. a. Polyethylen Polietilen merupakan film yang lunak, transparan dan fleksibel, mempunyai kekuatan benturan serta kekuatan sobek yang baik. Dengan pemanasan akan menjadi lunak dan mencair pada suhu 110OC. Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang rendah serta sifat-sifat mekaniknya yang baik, polietilen mempunyai ketebalan 0.001 sampai 0.01 inchi, yang banyak digunakan sebagai pengemas makanan, karena sifatnya yang thermoplastik, polietilen mudah dibuat kantung dengan derajat kerapatan yang baik (Sacharow dan Griffin, 1970). b. Low Density Polyethylen (LDPE) Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60OC sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen, sedangkan jenis plastik HDPE mempunyai sifat lebih kaku, lebih keras, kurang tembus cahaya dan kurang terasa berlemak.

Irvan Ramadhani 240210100012 c. High Density Polyethylen (HDPE) Pada polietilen jenis low density terdapat sedikit cabang pada rantai antara molekulnya yang menyebabkan plastik ini memiliki densitas yang rendah, sedangkan high density mempunyai jumlah rantai cabang yang lebih sedikit dibanding jenis low density. Dengan demikian, high density memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Ikatan hidrogen antar molekul juga berperan dalam menentukan titik leleh plastic (Harper, 1975). d. Polypropilena Polipropilen sangat mirip dengan polietilen dan sifat-sifat penggunaannya juga serupa (Brody, 1972). Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap (Winarno dan Jenie, 1983). Monomer polypropilen diperoleh dengan pemecahan secara thermal naphtha (distalasi minyak kasar) etilen, propylene dan homologues yang lebih tinggi dipisahkan dengan distilasi pada temperatur rendah. Dengan menggunakan katalis NattaZiegler polypropilen dapat diperoleh dari propilen (Birley, et al., 1988). 2. Kertas Kemasan kertas merupakan kemasan fleksibel yang pertama sebelum ditemukannya plastic dan aluminium foil. Saat ini kemasan kertas masih banyak digunakan dan mampu bersaing dengan kemasan lain seperti plastik dan logam karena harganya yang murah, mudah diperoleh dan penggunaannya yang luas. Selain sebagai kemasan, kertas juga berfungsi sebagai media komunikator dan media cetak. Kelemahan kemasan kertas untuk mengemas bahan pangan adalah sifanya yang sensitif terhadap air dan mudah dipengaruhi oleh kelembaban udara lingkungan. Sifat-sifat kemasan kertas sangat tergantung pada proses pembuatan dan perlakuan tambahan pada proses pembuatannya. Kemasan kertas dapat berupa kemasan fleksibel atau kemasan kaku. Beberapa jenis kertas yang dapat digunakan sebagai kemasan fleksibel adalah kertas kraft, kertas tahan lemak

Irvan Ramadhani 240210100012 (grease proof). Glassin dan kertas lilin (waxed paper) atau kertas yang dibuat dari modifikasi kertas-kertas ini. 3. Gelas Wadah gelas dalam bentuk botol dikenalkan oleh seorang dokter untuk sistem distribusi susu segar yang bersih dan aman pada tahun 1884. Mekanisasi pembuatan botol gelas besar-besaran pertama kali tahun 1892. Wadah-wadah gelas terus berkembang hingga saat ini, mulai dari bejana-bejana sederhana hingga berbagai bentuk yang sangat menarik. Sebagai bahan kemasan, gelas mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan kemasan gelas adalah : Kedap terhadap air, gas , bau-bauan dan mikroorganisme Inert dan tidak dapat bereaksi atau bermigrasi ke dalam bahan pangan Kecepatan pengisian hampir sama dengan kemasan kaleng Sesuai untuk produk yang mengalami pemanasan dan penutupan secara hermetic Dapat didaur ulang Dapat ditutup kembali setelah dibuka Transparan sehingga isinya dapat diperlihatkan dan dapat dihias Dapat dibentuk menjadi berbagai bentuk dan warna Memberikan nilai tambah bagi produk Rigid (kaku), kuat dan dapat ditumpuk tanpa mengalami kerusakan Kelemahan kemasan gelas : Berat sehingga biaya transportasi mahal Resistensi terhadap pecah dan mempunyai thermal shock yang rendah Dimensinya bervariasi Berpotensi menimbulkan bahaya yaitu dari pecahan kaca.

4. Kaleng atau Logam Wadah logam dalam bentuk kotak atau cangkir emas digunakan pada zaman kuno sebagai lambing prestise. Teknik pengalengan makanan sebagai upaya pengawetan bahan pangan pertama sekali dikembangkan pada tahun 1809 yaitu

Irvan Ramadhani 240210100012 pada zaman pemerintahan Napoleon Bonaparte yaitu dari hasil penemuan Nicholas Appert. Aspek legislasi pengalengan makanan ditetapkan tahun 1810 yang dikenal dengan lart de conserver. Tahun 1810 Peter Duran dari Ingris menciptakan kaleng. Keuntungan wadah kaleng untuk makanan dan minuman : Mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi Barrier yang baik terhadap gas, uap air, jasad renik, debu dan kotoran sehingga cocok untuk kemasan hermetis. Toksisitasnya relatif rendah meskipun ada kemungkinan migrasi unsur logam ke bahan yang dikemas. Tahan terhadap perubahan-perubahan atau keadaan suhu yang ekstrim Mempunyai permukaan yang ideal untuk dekorasi dan pelabelan. Bentuk kemasan dari bahan logam yang digunakan untuk bahan pangan yaitu: bentuk kaleng tinplate kaleng alumunium bentuk alumunium foil Kaleng tinplate banyak digunakan dalam industri makanan dan komponen utama untuk tutup botol atau jars. Kaleng alumunium banyak digunakan dalam industri minuman. Alumunium foil banyak digunakan sebagai bagian dari kemasan bentuk kantong bersama-sama/dilaminasi dengan berbagai jenis plastik, dan banyak digunakan oleh industri makanan ringan, susu bubuk dan sebagainya. Tabel 5.2. Perbandingan Karakteristik Berbagai Bahan Pengemas Bahan pengemas Perbedaan Plastik & Kertas Tahan air, tidak mudah sobek, transparan, elastis Tidak tahan air, mudah sobek, tidak transparan, tidak elastis Tidak mudah sobek, transparan, tidak tahan panas tapi tahan Plastik & Foil Aluminium dingin, harga terjangkau, sulit disesuaikan dengan bahan pangan Mudah disobek, tidak transparan, tahan panas dan dingin, harga umumnya lebih mahal dari plastik, mudah disesuaikan dengan

Irvan Ramadhani 240210100012 bentuk bahan pangan Tidak tahan minyak, tidak tahan air, tidak tahan panas, harga Kertas & Foil Aluminium terjangkau, sulit disesuaikan dengan bentuk bahan pangan Tahan minyak, tahan air, tahan panas, harga umumnya lebih mahal dari kertas, dapat disesuaikan dengan bentuk bahan pangan Terbuat dari tinplate, tidak mudah pecah, elastis (mudah Kaleng tinplate & Botol penyok), tidak transparan, tidak dapat ditutup kembali setelah dibuka, lebih tipis, lebih mahal Terbuat dari gelas, mudah pecah, plastis, transparan, dapat ditutup kembali setelah dibuka, lebih tebal, lebih murah Kaleng Aluminium & Tinplate Lebih tebal, lebih cepat korosi, dapat dimanfaatkan kembali setelah digunakan Lebih tipis, tidak mudah korosi, tidak dapat dimanfaatkan kembali setelah digunakan

Sumber: Dokumen Pribadi (2011) Setiap kemasan memiliki perbedaan bentuk dan fungsi masing-masing. Contohnya adalah platik dengan kertas. Untuk plastic tahan air sedangkan kertas tidak tahan air, oleh karena itu plastik sangat dianjurkan untuk mengemas bahan pangan dengan tingkat kadar air yang tinggi berbeda dengan kertas yang dianjurkan digunakan untuk mengemas bahan pangan yang kering. Perbedaan selanjutnya adalah plastik dengan alumunium foil. Plastik memiliki sifat tembus cahaya, oleh karena itu tidak dianjurkan mengemas bahan pangan yang mudah rusak akibat cahaya dikemas oleh plastik. Bahan pangan yang dapat rusak karena paparan sinar bisa dikemas menggunakan pengemas yang tidak tembus cahaya diantaranya adalah menggunakan alumunium foil. Kertas dan alumunium foil memiliki kelebihan dan kekurangan masingmasing. Pada kertas, harganya terbilang murah namun hanyabdapat digunakan untuk mengemas bahan pangan tertentu. Berbeda dengan alumunium foil yang dapat

Irvan Ramadhani 240210100012 digunakan untuk mengemas bahan pangan lebih beragam namun harganya terbilang mahal. Masing-masing jenis bahan kemasan ini mempunyai karakteristik tersendiri, dan ini menjadi dasar untuk pemilihan jenis kemasan yang sesuai untuk produk pangan. Menurut Syarief dkk (1989) karakteristik dari berbagai jenis bahan kemasan adalah sebagai berikut : 1. Kemasan Kertas tidak mudah robek tidak dapat untuk produk cair tidak dapat dipanaskan fleksibel

2. Kemasan Gelas Berat mudah pecah mahal non biodegradable dapat dipanaskan transparan/translusid bentuk tetap (rigid) proses massal (padat/cair) dapat didaur ulang

3. Kemasan logam (kaleng) bentuk tetap ringan dapat dipanaskan proses massal (bahan padat atau cair) tidak transparan dapat bermigrasi ke dalam makanan yang dikemas non biodegradable

Irvan Ramadhani 240210100012 tidak dapat didaur ulang

4. Kemasan plastik bentuk fleksibel transparan mudah pecah non biodegradable ada yang tahan panas monomernya dapat mengkontaminasi produk

5. Komposit (kertas/plastik) lebih kuat tidak transparan proses missal pengisian aseptis khusus cairan non biodegradable

Tabel 5.3. Deskripsi Bentuk Pengemas No Sampel Bentuk Deskripsi Gelas Tebal, transparan, terbuat dari kaca, memiliki leher yang mengecil dan terdapat ulir pada leher Tebal(tidak lebih tebal dari botol), transparan, terbuat dari kaca, berleher pendek tidak mengecil dan memiliki ulir Produk yang sesuai Bahan pangan cair. Contoh : sari buah Selai, manisan, prosuk pangan yang berbentuk bulat

Botol

Tabung berleher

Jar

Tabung berleher pendek

Vial

Tabung kecil Tabung tak berleher

Tumbler

Tebal, transparan, terbuat Obat-obatan, dari kaca, memiliki leher bahan kimia pendek yang tidak mengecil cair dan tidak terdapat ulir Tebal, transparan, terbuat Bahan pangan dari kaca, tidak memiliki serbuk.

Irvan Ramadhani 240210100012 leher, bagian atas Contoh : Kopi membesar Karton Tipis, mudah dilipat, kemasan sekunder yang dapat digunakan sebagai Persegi panjang wadah, bisa dibuka dan Wafer ditutup kembali, terdapat titik potong yang berupa garis putus-putus Lebih tebal dari Richoco, setelah dibuka tidak dapat ditutup kembali, kemasan Persegi panjang sekunder, tidak mudah Susu bubuk dilipat, tidak terdapat titik potong seperti pada Richoco Kaleng Tabung lebar ke Tidak mudah penyok, Kue kering samping aluminium, 2 pieces Tidak mudah penyok, Tabung tinggi aluminium, 2 pieces, lebih Permen tebal dari monde Tinplate 2 pieces, agak tebal, tidak Tabung mudah penyok, bagian Susu steril langsing bawah datar, tidak tembus cahaya 3 pieces, mudah penyok, Bahan pangan Tabung bagian bawah agak cair. langsing tinggi mengecil, tidak tembus Contoh : Kopi cahaya susu Produk Kertas minyak, tipis, mudah di sobek, kemasan Persegi panjang primer, licin, mudah dilipat Dodol mengikuti bentuk bahan pangan Tebal, berserat, warna krem Limas persegi kecoklatan, mudah dilipat Wajit empat mengikuti bentuk bahan pangan, kemasan primer Bulat, bagian Tipis, mudah disobek, Coklat koin bawah datar mudah mengikuti bentuk

Richoco

Hi-Lo

7 8

Monde Permen

Bearbrand

10

Nescafe

11

Dodol

12

Wajit

13

Coklat

Irvan Ramadhani 240210100012 bahan pangan, aluminium foil, semirigit, kemasan primer, tahan panas dan dingin, bagian luar warna emas dan bagian dalam warna silver Sumber: Dokumen Pribadi (2011) Pemilihan jenis kemasan yang sesuai untuk bahan pangan, harus mempertimbangkan syarat-syarat kemasan yang baik untuk produk tersebut, juga karakteristik produk yang akan dikemas. Menurut Soekarto (1990) syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu kemasan agar dapat berfungsi dengan baik adalah : 1. Harus dapat melindungi produk dari kotoran dan kontaminasi sehingga produk tetap bersih. 2. Harus dapat melindungi dari kerusakan fisik, perubahan kadar air , gas, dan penyinaran (cahaya). 3. Mudah untuk dibuka/ditutup, mudah ditangani serta mudah dalam pengangkutan dan distribusi. 4. Efisien dan ekonomis khususnya selama proses pengisian produk ke dalam kemasan. 5. Harus mempunyai ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang ada, mudah dibuang dan mudah dibentuk atau dicetak. 6. Dapat menunjukkan identitas, informasi dan penampilan produk yang jelas agar dapat membantu promosi atau penjualan. Pemilihan jenis kemasan untuk produk pangan ini lebih banyak ditentukan oleh preferensi konsumen yang semakin tinggi tuntutannya. Misalnya kemasan kecap yang tersedia di pasar adalah kemasan botol gelas, botol plastik dan kemasan sachet, atau minuman juice buah yang tersedia dalam kemasan karton laminasi atau gelas palstik, sehingga konsumen bebas memilih kemasan mana yang sesuai untuknya, dan masing-masing jenis kemasan mempunyai konsumen tersendiri. Tingginya tuntutan konsumen terhadap produk pangan termasuk jenis kemasannya ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :

Irvan Ramadhani 240210100012 a. Faktor Demografi (umur), dengan adanya program pengaturan kelahiran dan dengan semakin baiknya tingkat kesehatan maka maka laju pertambahan penduduk semakin kecil tetapi jumlah penduduk yang mencapai usia tua semakin banyak. Hal ini mempengaruhi perubahan permintaan akan pangan. b. Pendidikan yang semakin meningkat, termasuk meningkatnya jumlah wanita yang mencapai tingkat pendidikan tinggi (universitas), menyebabkan tuntutan akan produk pangan yang berkualitas semakin meningkat. c. Imigrasi dari satu negara ke negara lain akan mempengaruhi permintaan pangan di Negara yang dimasuki. Misalnya migrasi kulit hitam ari Afrika dan Asia ke Eropa atau Amerika mempengaruhi jenis produk pangan di Eropa dan Amerika. d. Pola konsumsi di tiap negara, misalnya konsumsi daging sapi di Amerika lebih tinggi daripada di negara-negara Asia. e. Kehidupan pribadi (lifestyle). Saat ini jumlah wanita yang bekerja sudah lebih banyak, sehingga kebutuhan akan makanan siap saji semakin tinggi, dan ini berkembang ke arah tuntutan bagaimana menemukan kemasan yang langsung dapat dimasukkan ke oven tanpa harus memindahkan ke wadah lain, serta permintaan akan single serve packaging juga menjadi meningkat karena dianggap lebih praktis (Soekarto, 1990).

Irvan Ramadhani 240210100012 VI. KESIMPULAN

1. Kemasan adalah suatu benda yang digunakan untuk wadah atau tempat yang dikemas dan dapat memberikan perlindungan sesuai dengan tujuannya. 2. Kemasan yang dapat membantu mencegah/mengurangi kerusakan,

melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan dan getaran. 3. Didalam pengemasan bahan pangan terdapat dua macam wadah, yaitu wadah utama atau wadah yang langsung berhubungan dengan bahan pangan dan wadah kedua atau wadah yang tidak langsung berhubungan dengan bahan pangan. 4. Jenis kemasan pangan yang tersedia saat ini adalah kemasan kertas, gelas, kaleng/logam, plastik dan gabungan dari beberapa jenis kemasan lain. 5. Masing-masing jenis kemasan memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda. 6. Bahan kemasan yang digunakan harus sesuai dengan bahan pangan yang akan dikemas.

Irvan Ramadhani 240210100012 DAFTAR PUSTAKA

Bierley, A.W., R.J. Heat and M.J. Scott. 1988. Plastic Materials Properties and Aplication. Cations. Chapman and hall Publishing. New York. Buckle, K.A, R.A. Edwards, G.H. Fleet, dan M. Wootton. 1985. Ilmu Pangan. Penerjemah: Hari Purnomo dan Adiono. Penerbit Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta Brody, A.L. 1972. Aseptic Packaging of Foods. Food Technology. Aug. 70-74. Crompton, T.R. 1979. Additive Migration from Plastic into Food. Pergamon Press. Oxford. Davidson A. 1970. HandBook of Precision Engineering. Mc Graw Hill Book CO. Great Britain. Erliza dan Sutedja. 1987. Pengantar Pengemasan. Laboratorium Pengemasan, Jurusan TIP. IPB Bogor. Harper. 1975. Handbook of Plastic and Elastomer. Westing House. Electric Corporation. Baltimore. Maryland. Ryall, A.L. dan Lipton, W.J. 1972. Handling, Transportation and Storage of Fruits and Vegetables. The AVI Publishing. Co. Westport. Sacharow, S. and R.C. Griffin. 1980. Principle of Food Packaging. The AVI Publishing. Co. Inc. Westport. Connecticut Sitoresmi. 2010. Pengemasan Bahan Pangan. http://toorestpoenya.blogspot.com Diakses pada tanggal 22 Mei 2011, Pukul 17:03 WIB Soekarto. S.T. 1990. Peranan Pengemasan dalam Menunjang Pengembangan Industri, Distribusi dan Ekspor Produk Pangan di Indonesia. Jakarta. Syarief. R., S. Santausa dan Isyana. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. PAU Pangan dan Gizi. IPB Bogor. Winarno, F.G. dan Jennie. 1982. Kerusakan Bahan Pangan dan Pencegahannya. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Irvan Ramadhani 240210100012 JAWABAN PERTANYAAN 1. Apa bedanya alumunium foil dengan clingwrap? Jawaban : Alumunium foil bersifat tahan panas, sedangkan clingwrap tidak tahan panas dan biasa digunakan untuk membungkus buah atau sayur yang dikemas dalam Styrofoam. 2. Apa bedanya botol dengan jar? Jawaban : Botol pada umum,lehernya berbentuk mengecil. Biasanya diisi dengan air minuman. Sedangkan Jar,lehernya berbentuk melebar, biasanya digunakan untuk menyimpan makanan dalam skala kecil.