Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahan yang mendalam tentang sesuatu persoalan. Hal ini disebabkan karena manusia mempunyai tingkat yang berbeda dalam menyikapi situasi baru (Sadimanetal .,2005). Untuk itu siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Keadaan ini muncul karena proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang (Depdiknas, 2003b: 3-4). Pengetahuan awal dapat berpengaruh baik secara langsung maupun tidak terhadap proses pembelajaran. Dengan pengetahuan awal, secara langsung dapat

mempermudah proses pembelajaran dan mengarahkan hasil-hasil belajar yang baik. Pengoptimalan kejelasan materi-materi pelajaran dan peningkatan efisiensi

penggunaan waktu belajar dalam pembelajaran secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh pengetahuan awal ini (Santyasa, 2005a: 23). Penelitian meunjukkan bahwa pra konsepsi dan miskonsepsi dapat menuntun siswa dalam belajar. Keduanya sangat berpengaruh bagi usaha siswa menerima dan membangun pengetahuan mereka dari buku teks dan di dalam kelas. Miskonsepsi sebenarnya sangat berperan dalam penguasaan materi pelajaran (Suparno, 2005). Apalagi pelajaran kimia fisik, dimana dan siswa harus memadukan pengetahuan dalam

sosial, pengetahuan

pengetahuan

logika-matematik

menyelesaikan permasalahan (Indrawati, 2007). Kemampuan ini akan menyimpang jika miskonsepsi yang dialami oleh siswa sangat besar. Banyak miskonsepsi sangat riskan untuk diubah begitu saja (Suparno, 2005). Hal ini disebabkan oleh karena

setiap orang membangun pengetahuannya persis dengan pengalamannya (Border dalam Sadiaet al.,2004). Bila siswa tersebut ingin merefleksi diri untuk mengetahui sejauh mana miskonsepsi yang dialaminya maka dengan sendirinya siswa tersebut akan mencari jawaban atas kekeliruannya. Pada dasarnya siswa belajar dari dirinya sendiri dalam rangka mengkonstruksikan suatu konsep dalam pemahamannya mengenai pengetahuan tertentu. Siswa kan merasa jenuh jika hanya disuguhi cara pembelajaran yang monoton dan situasi ketika belajar hanya sebatas teori saja (Suparno, 2005). Kebosanan siswa dalam belajar, terutama kimia yang merupakan ilmu yang kompleks dapat teratasi jika guru mengadakan variasi dalam memberikan pembelajaran di kelas (Usman dalam Artani, 2007). Kesalahpahaman siswa dalam memahami suatu konsep akan

berpengaruh pada hasil belajar siswa tersebut. Pembelajaran IPA yang merupakan domain pada saat eksperimen-eksperimen memainkan peranan utama dalam proses belajar mengajar (Santyasa, 2005a: 24). Eksperimen akan menuntun siswa dalam pembangunan pengetahuan di dalam benaknya. Secara tidak

langsung pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan secara visual ini akan memberikan konflik kognitif yang mampu mengarahkan siswa pada rasa ingin tahu yang besar. Keingintahuan dapat menuntun siswa dalam pengembangan diri menjadi lebih baik (Sadiaet al .,2004). Tetapi jika pertanyaan yang timbul dalam benak siswatidak segera mendapat jawabannya maka dapat dipastikan akan ada kesenjangan konsep yang akan dialami oleh siswa tersebut (Kimet al ., 2005). Sebagai guru yang dapat memfasilitasi dan memberikan ruang gerak yang cukup bagi siswauntuk belajar maka guru tersebut harus mampu memberikan berbagai pilihan jalan keluar yang mengacu pada perbaikan konsep siswa yang keliru.Para siswa mengawali belajar formal tentang sains dengan ide-ide yangsudah ada tentang alam (Koes, 2003). Beberapa ide tersebut sejalan dengan konsep ilmiah, tetapi beberapa ide berbeda. Agar ide yang tidak sejalan dengankonsep ilmiah maka perlu diadakan perubahan konseptual. Siswa harus mengalami sendiri kejadian yang bertentangan dengan keyakinan mereka yang mereka miliki saat itu. Dengan demikian siswa akan merasa

kecewa karena konsepnya sendiri gagal untuk menjelaskan dengan baik beberapa hasil pengamatan yang baru. Untuk itu perlu konflik diterapkannya kognitif yang model mampu

pembelajaran perubahan

konseptual

dengan

menggoyahkanstabilitas miskonsepsi siswa (Sadia, 1997; Santyasa, 2005a; Suastra, 2002;Suparno, 2005). Dalam Suastra (2002) juga menyatakan model konflik kognitif menekankan bahwa guru-guru yang kontruktivis selalu mempertanyakan jawabansiswa, mereka menuntut penjelasan atas jawaban siswa yang dikemukakan dan mendorong siswa untuk merefleksikan pengetahuannya. Refutational text merupakan teks yang

mengandung materi pelajaran. Teks ini dapat memberikan gambaran yang jelas tentang miskonsepsi yang dialami siswa dan penjelasan yangdapat mengatasi kesenjangan pengetahuan tersebut (Santyasa, 2005a). Dengan demikian refutational text dapat membangkitkan konflik kognitif siswa sehingga pembelajaran perubahan konseptual berjalan dengan baik.Posner (dalam Suparno, 2005) menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran ada dua proses yang disebut asimilasi dan akomodasi. Dalam asimilasi, siswa menggunakan konsep-konsep yang telah ada untuk menghadapi gejala baru dengan dengan suatu perubahan kecil yang berupa penyesuaian. Sedangkan dalam akomodasi, siswa siswa harus mengganti atau mengubah konsep-konsep pokok mereka yang lama karena tidak cocok lagi dengan persoalan baru. Proses asimilasi dan akomodasi merupakan konsep awal darimodel pembelajaran perubahan konseptual. Pembelajaran kontruktivis

mememandang perlunya menggali pengetahuan awal siswa untuk mengetahuikeadaan konsepsi siswa. Penggalian pengetahuan awal merupakan prosesasimilasi yang kemungkinan konsep siswa masih mengalami miskonsepsi.

BAB II KAJIAN TEORI


A. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual Pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang sesungguhnya berasal dari pengetahuan yang secara spontan diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan. Sementara pengetahuan baru dapat bersumber dari intervensi di sekolah yang keduanya bisa konflik, kongruen, atau masing-masing berdiri sendiri. Dalam kondisi konflik kognitif, siswa dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu: (1) mempertahankan intuisinya semula, (2) merevisi sebagian intuisinya melalui proses asimilasi, dan (3) merubah pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan baru. Perubahan konseptual terjadi ketika siswa memutuskan pada pilihan yang ketiga. Agar terjadi proses perubahan konseptual, belajar melibatkan pembangkitan dan restrukturisasi konsepsi-konsepsi yang dibawa oleh siswa sebelum pembelajaran (Brook & Brook, 1993). Ini berarti bahwa mengajar bukan melakukan transmisi pengetahuan tetapi memfasilitasi dan memediasi agar terjadi proses negosiasi makna menuju pada proses perubahankonseptual (Hynd, et al,. 1994). Proses negosiasi makna tidak hanya terjadi atas aktivitas individu secara perorangan, tetapi juga muncul dari interaksi individu dengan orang lain melalui peer mediated instruction. Costa (1999:27) menyatakan meaning making is not just an individual operation, the individual interacts with others to construct shared knowledge. Model pembelajaran perubahan konseptual memiliki enam langkah pembelajaran (Santyasa, 2004), yaitu: (1) Sajian masalah konseptual dan kontekstual, (2) konfrontasi miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut, (3) konfrontasi sangkalan berikut model-model demonstrasi, analogi, atau contoh-contoh tandingan,

(4) konfrontasi pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah, (5) konfrontasi materi dan contoh-contoh kontekstual, (6) konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna. Sistem sosial yang mendukung model ini adalah: kedekatan guru sebagai teman belajar siswa, minimnya peran guru sebagai transmiter pengetahuan, interaksi sosial yang efektif, latihan menjalani learning to be. Prinsip reaksi yang dapat dikembangkan adalah: peranan guru sebagai fasilitator, negosiator, konfrontator. Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan atau tertulis melalui pertanyaan-pertanyaan resitasi dan konstruksi. Pertanyaan resitasi bertujuan memberi peluang kepada siswa memangil pengetahuan yang telah dimiliki dan pertanyaan konstruksi bertujuan memfasilitasi, menegosiasi, dan mengkonfrontasi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan baru. Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, peralatan demonstrasi atau eksperimen yang sesuai, model analogi, meja dan korsi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu. Dampak pembelajaran dari model ini adalah: sikap positif terhadap belajar, pemahaman secara mendalam, keterampilan penerapan pengetahuan yang variatif. Dampak pengiringnya adalah: pengenalan jati diri, kebiasaan belajar dengan bekerja, perubahan paradigma, kebebasan, penumbuhan kecerdasan inter dan intrapersonal .

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa : A. Model pembelajaran perubahan konseptual memiliki enam langkah pembelajaran (Santyasa, 2004), yaitu: (1) Sajian masalah konseptual dan kontekstual, (2) konfrontasi miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut, (3) konfrontasi sangkalan berikut model-model demonstrasi, analogi, atau contoh-contoh tandingan, (4) konfrontasi pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah, (5) konfrontasi materi dan contoh-contoh kontekstual, (6) konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna. B. Prinsip reaksi yang dapat dikembangkan adalah: peranan guru sebagai fasilitator, negosiator, konfrontator. Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan atau tertulis melalui pertanyaan-pertanyaan resitasi dan konstruksi. C. Tujuan utama penggunaan model pembelajaran ini adalah sikap positif terhadap belajar, pemahaman secara mendalam, keterampilan penerapan pengetahuan yang variatif. Dampak pengiringnya adalah: pengenalan jati diri, kebiasaan belajar dengan bekerja, perubahan paradigma, kebebasan, penumbuhan kecerdasan inter dan intrapersonal