Anda di halaman 1dari 11

PEMETAAN PENCEMARAN AIR TANAH DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI METODE GEOLISTRIK WENNER DI DEKAT TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH RT 29/RW

07 DESA GLANGGANG, PAKISAJI, MALANG

Aldina Rifka Widianingrum Universitas Negeri Malang Email: de2x.niena@gmail.com

ABSTRAK: Air merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan manusia. Pemenuhan air didapat dari air tanah (ground water) dan penyediaan dari perusahaan air minum. Kuantitas dan kualitas air tanah sangat bergantung pada keadaan lingkungan dan kesadaran masyarakat terhadap pencemaran lingkungan. Sumber pencemar yang dominan terhadap air tanah adalah yang berasal dari limbah industri, pertanian dan rumah tangga. Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Daerah yang terletak di kawasan sekitar tempat pembuangan sampah sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan, karena limbah hanya dibuang sembarangan dan ditimbun begitu saja. Salah satu metode geofisika yang dapat digunakan dalam penelitian identifikasi tingkat pencemaran air tanah adalah metode geolistrik tahanan jenis atau metode resistivitas dengan metode akuisisi data Lateral Mapping. Penelitian geolistrik ini dilakukan di tempat pembuangan sampah yang terletak di sekitar permukiman warga Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.Tujuannya adalah menginterpretasi tingkat pencemaran air tanah pada areal yang diteliti. Software Res2dinv digunakan untuk interpretasi dan analisis data. Berdasarkan hasil interpretasi, didapat kedalaman lapisan tanah kandungan air tercemar dan sebaran pencemaran air tanah. Pada lintasan selatan-utara yang terletak di 080 0515,8 S 11203608,9 E dengan elevasi 395 meter, lapisan tanah kandungan air tercemar diduga mencapai kedalaman 1,27-2,49 meter dengan nilai resistivitas 5,56-13,7 m. Sedangkan lintasan timur-barat, lapisan tanah kandungan air tercemar diduga mencapai kedalaman 0,250-3,19 meter dengan nilai resistivitas 1,16-3,48 m.
Penyebaran pencemaran air tanah sudah mengarah ke permukiman warga atau ke selatan dengan radius 5 meter dari lokasi tempat pembuangan sampah. Nilai resistivitas yang rendah menunjukkan indikasi yang

kuat air tanah telah tercemar oleh sampah. Pencemaran air tanah ini terjadi karena kontaminasi rembesan sampah. Hal lain yang memperparah pencemaran air tanah di tempat pembuangan sampah adalah jenis tanahnya yaitu sediment pasir dan lapisan lempung. Tingkat pencemaran air tanah akan semakin parah apabila penumpukan sampah terus dilakukan.

PENDAHULUAN Air merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan manusia. Kebutuhan terhadap air dari tahun ke tahun selalu meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat. Manfaat air sangat luas bagi kehidupan manusia, misalnya untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, irigasi dan sebagainya. Pemenuhan air tersebut didapat dari air tanah (ground water) dan penyediaan dari perusahaan air minum. Ada dua sumber air yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia, yaitu air permukaan (surface water) dan air tanah (ground water) (Sulityanto, 2002). Secara global apabila dilihat dari volume yang dimilikinya, air tanah memiliki kuantitas yang paling besar dibandingkan dengan air permukaan. Air tanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan geologi dalam keadaan jenuh dan dengan jumlah yang cukup (identik dengan akuifer) (Bisri, 2008). Kuantitas dan kualitas air tanah juga dipengaruhi pada keadaan lingkungan dan kesadaran masyarakat terhadap pencemaran lingkungan. Sumber pencemar yang dominan terhadap air tanah adalah yang berasal dari limbah industri, pertanian dan rumah tangga. Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Daerah yang terletak di kawasan sekitar tempat pembuangan sampah sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan , karena limbah hanya dibuang sembarangan dan ditimbun begitu saja. Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial, penggunaan pestisida, masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan, kecelakaan kendaraan pengangkut minyak, zat kimia, air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping). Bahan buangan organik pada umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga dapat mengakibatkan semakin berkembangnya mikroorganisme dan mikroba patogen pun ikut juga berkembang biak. Hal ini dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit. Bahan

buangan anorganik pada umumnya berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Apabila bahan buangan anorganik ini masuk ke air lingkungan maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam di dalam air, sehingga dapat mengakibatkan air menjadi bersifat sadah karena mengandung ion kalsium (Ca) dan ion magnesium (Mg). Selain itu ion-ion tersebut dapat bersifat racun seperti timbal (Pb), arsen (As) dan air raksa (Hg) yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Keberadaan Pb terjadi akibat adanya proses pengaliran leachate yang terbuang ke badan air juga mengakibatkan dampak negatif (Harmayani, 2007). Hasil penelitian Darmono (dalam Ganefati, 2008) menunjukkan bahwa keracunan Pb terjadi akibat penggunaan sumber air yang telah tercemar oleh Pb yang berasal dari pembuangan sampah. Keracunan terjadi oleh aadanya akumulasi Pb di dalam jaringan manusia sehingga mengganggu fungsi organ manusia. Masalah sampah harus ditanggani dengan serius, bila tidak hal ini ada berdampak pada kerusakan lingkungan, tidak hanya ekologi lingkungan tapi juga manusia terutama masyarakat sekitar. Di Desa Glanggang RT 29 RW 07, Kecamatan Pakisaji, Malang terdapat tempat pembuangan sampah yang terletak dekat dengan area pemukiman warga. Hal ini menyebabkan tingkat pencemaran air tanah di daerah tersebut cukup tingggi dan bisa membahayakan lingkungan di daerah tersebut. Apabila tingkat pencemaran air tanah cukup tinggi, diharapkan dilakukan pengolahan limbah sampah yang baik dan memberikan batas layak ditempati penduduk. Akan tetapi identifikasi pencemaran yang terjadi di bawah permukaan (pencemaran air tanah) lebih sulit untuk dideteksi dibandingkan dengan pencemaran pada air permukaan, karena air tanah berada pada lapisan permukaan tanah yang dalam dan kadang-kadang penyebab pencemaran tidak diketahui. Untuk itu tingkat pencemaran air tanah dapat diidentifikasi dengan menggunakan metode geofisika, dengan dasar bahwa air tanah normal tentu akan berbeda dengan air tanah tercemar. Salah satu metode geofisika yang dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan air tanah dan penyebaran akuifer adalah metode tahanan jenis (metode resisitivitas). Dari pemikiran inilah maka perlu dilakukan penelitian dengan judul Pemetaan Pencemaran Air Tanah dengan Menggunakan

Metode Geolistrik Wenner di Dekat Tempat Pembuangan Sampah RT 29/RW 07 Desa Glanggang, Pakisaji, Malang.

METODE Penelitian ini, data yang digunakan diperoleh dari pengukuran secara langsung dengan menggunakan alat OYO McOHM. Pengambilan data dilakukan di daerah tempat pembuangan sampah di Desa Glanggang RT 29 RW 07, Kecamatan Pakisaji, Malang yang terletak di 08o 05 15,0 S dan 1120 36 08,3 E dengan elevasi 402 meter. Pada tahap akuisisi data lapangan dilakukan dengan metode resistivitas konfigurasi Wenner menggunakan metode akuisisi data lapangan secara lateral Mapping. Proses pengolahan data pada konfigurasi Wenner menggunakan software Res2Dinv. Proses analisis dan interpretasi data dilakukan dengan menggunakan software Res2Dinv sehingga akan terlihat struktur lapisan bawah permukaan. Sebelum memasukkan data pada software Res2Dinv, terlebih dahulu mencari (Rho) dengan menggunakan software Microsoft Excel. Konfigurasi

yang digunakan adalah konfigurasi Wenner. Faktor geometri K dapat dihitung dengan menggunakan peersamaan : K=2a Sedangkan untuk harga resistivitas (Rho) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

Dari data pengukuran dan perhitungan yang telah dilakukan dengan metode konfigurasi Wenner diinversikan kemudian diinterpretasikan menggunakan software Res2Dinv sehingga dapat memperlihatkan informasiinformasi lapisan bawah permukaan di Desa Glanggang RT 29 RW 07, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

HASIL DAN PEMBAHASAN Akuisisi Data Geolistrik Salah satu cara untuk menggambarkan pola perlapisan bawah permukaan bumi yaitu dengan menggunakan metode geolistrik resistivitas, yaitu teknik pengukuran dengan menggunakan besaran tahanan jenis semu. Dengan metode ini dapat disajikan informasi tentang penyebaran pencemaran bawah permukaan tanah akibat rembesan akumulasi air dengan sampah dan juga memperlihatkan kondisi geologi bawah permukaan. Pengambilan data geolistrik dilaksanakan di tempat pembuangan sampah Desa Glanggang RT 29 RW 07, Kecamatan Pakisaji, Malang pada tanggal 7-8 Mei 2011. Data geolistrik resisitivitas Mapping yang didapat adalah arus yang mengalir (I) dan beda tegangan yang timbul (V), kemudian dari data tersebut diketahui harga tahanan jenisnya () serta jarak antar spasi yang menunjukkan nilai faktor geometri (K) . Dalam identifikasi sebaran pencemaran air tanaah digunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner Mapping karena rumusan matematis penghitungan tahanan jenis semu relatif lebih sederhana sehingga dapat mempermudah interpretasi

Pengukuran Nilai Resistivitas Menggunakan Konfigurasi Wenner -Mapping Teknik pengukuran yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Wenner Mapping. Tujuan dari pengukuran dengan menggunakan metode Wenner adalah untuk mengetahui parameter perlapisan batuan (resistivitas dan ketebalan ) secara horisontal. Pada konfigurasi ini jarak antar elektroda harus seragam. Jarak perpindahan yang digunakan adalah sama dengan jarak keempat elektroda pada setiap kedalaman.

Gambar 1 Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner Lateral Mapping

Analisis Resistivitas Semu Besarnya resistivitas semu sebanding dengan:

s Ks R
Resistivitas semu adalah resistivitas yang diperoleh akibat objek penelitian yang homogen. Resistivitas semu merupakan salah satu acuan yang diperlukan untuk menganalisa bawah permukaan tanah, baik itu ketebalan lapisan batuan maupun analisa gambaran bawah permukaan.

Analisis Data dan Pembahasan Dalam penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap, yaitu pengukuran pada lintasan dari timur-barat dan lintasan dari selatan-utara dengan menggunakan metode konfigurasi Wenner Maping. Pada pengukuran lintasan timur-barat, pengambilan data dilakukan dengan mengambil panjang lintasan sepanjang 48 meter sedangkan untuk pengukuran lintasan selatan-utara panjang lintasan sepanjang 30 meter. Pada lintasan selatan-utara

Gambar 2 Gambaran Keberadaan Lapisan Tercemar pada Lintasan Selatan-Utara.

Tabel 1 Analisis Kondisi Bawah Permukaan Pada Lintasan Selatan-Utara

Bentangan (meter) 1,5-5 5-15

Kedalaman (meter) 0.250-1.27 0.250-3.96

Tahanan jenis (ohm meter) 83.7-3114 5.56-33,9

Interpretasi batuan, mineral dan bahan pencemar Terdapat tanah lempung, pasir, kerikil, aspal, wastepaper (wet). Terdapat tanah lempung limbah domestik, tanah yang sudah terkontaminasi akibat dari pembuangan sampah, sisa logam.

15-24

0.250-3,96

5.56-511

24-28,5

0,250-2,49

5,56-83,7

Terdapat tanah lempung, pasir, kerikil, tanah yang sudah terkontaminasi akibat dari pembuangan sampah, sisa logam. Terdapat tanah lempung, tanah yang sudah terkontaminasi akibat pembuangan sampah,wastepaper (wet), sisa logam.

Pada lintasan timur-barat

Gambar 3 Gambaran Keberadaan Lapisan Tercemar pada Lintasan Timur-Barat

Tabel 2 Analisis Kondisi Bawah Permukaan pada Lintasan Timur-Barat

Bentangan (meter) 1.5-12

Kedalaman (meter) 0.250-3.19

Tahanan jenis (ohm meter) 31.1-93.1

12-22

0.250-4.80

10.4-279

22-27

0.250-4.80

31.1-833

27-34

0.250-4.80

1.16-93.1

34-48

0.250-3.19

93.1-2493

Interpretasi batuan, mineral dan bahan pencemar Terdapat tanah lempung, batu pasir, wastepaper (wet), bahan pencuci pakaian. Terdapat tanah lempung, pasir, wastepaper (wet), bahan pencuci pakaian, limbah domestik. Terdapat tanah lempung, pasir, kerikil, wastepaper(wet), bahan pencuci pakaian, aspal. Terdapat tanah lempung, sisa logam, wastepaper (wet), tanah yang sudah terkontaminasi akibat pembuangan sampah, bahan pencuci pakaian. Terdapat tanah lempung, pasir, wastepaper(wet), aspal, bahan pencuci pakaian.

Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini dilakukan pengukuran dalam 2 tahap, yaitu pengukuran pada lintasan dari timur-barat dan lintasan dari selatanutara dengan menggunakan metode konfigurasi Wenner Mapping. Untuk mendapatkan nilai resistivitas semu lapisan bawah permukaan dapat dilakukan

dengan menggunakan konfigurasi Wenner Mapping. Jarak spasi elektroda arus dan potensial (a) yang digunakan dalam pengukuran ini adalah 1, 3, 5, 7, 9 dan 11. Hasil interpretasi dengan Software Res2dinv: Pada lintasan selatan-utara Pada analisis data resistivitas yang terdapat pada gambar 4.1, terlihat kedalaman lapisan tanah kandungan air tercemar yang diduga berada pada kedalaman 1,27 -2,49 meter. Pencemaran air tanah akibat rembesan polutan dari tempat pembuangan sampah terjadi pada bentangan 20-25 meter dengan resistivitas 5,56-13,7 m. Sedangkan daerah yang terletak pada bentangan 5-18 meter di lintasan selatan-utara yang memiliki resistivitas rendah diduga merupakan rembesan polutan dari drainase yang terletak di sepanjang lintasan tersebut. Hal ini diduga mengingat nilai resistivitas air tanah fress adalah antara 10100 m (Feranie,dalam Loke 2009) dan air tercemar memiliki resisitivitas yang sangat rendah kurang dari 10 m diasosiasikan dengan adanya kontaminan leachate pada lapisan tersebut. Pencemaran pada lintasan ini terjadi karena tanah yang telah terkontaminasi akibat dari pembuangan sampah yang telah menumpuk. Pada lintasan timur-barat Pada analisis data resistivitas yang terdapat pada gambar 4.2, juga terlihat kedalaman lapisan tanah kandungan air tercemar yang diduga berada pada kedalaman 0,250-3,19 meter. Pencemaran air tanah terjadi pada bentangan 27-32 meter dengan resistivitas 1,16-3,48 m yang terletak di kedalaman 0,250-3,19 meter. Hal ini diduga mengingat nilai resistivitas air tanah fress adalah antara 10100 m (Loke, dalam Feranie 2009) dan air tercemar memiliki resistivitas yang sangat rendah yaitu kurang dari 10m diasosiasikan dengan adanya kontaminan leachate pada lapisan tersebut. Pencemaran pada lintasan ini juga terjadi karena tanah yang telah terkontaminasi akibat dari pembuangan sampah yang telah menumpuk. Dilihat dari lintasan selatan-utara yang terletak pada 080 0515,8 S 11203608,9 E dengan elevasi 395 meter, pencemaran air tanah telah menyebar sampai dengan radius 5 meter dari tempat pembuangan sampah dengan kedalaman antara 1,27-2,49 meter. Sedangkan lintasan timur-barat, penyebaran

pencemaran air tanah tidak seburuk lintasan selatan-utara yang terletak pada 08o 05 15,0 S - 1120 36 08,3 E dengan elevasi 402 meter.

Gambar 4 Sebaran Pencemaran Air Tanah

Dari pemodelan 2D data geolistrik terlihat penyebaran pencemaran air tanah mengarah menuju permukiman warga yaitu ke arah selatan atau menuju dataran yang lebih rendah yaitu daerah yang terletak 080 0515,8 S 11203608,9 E dengan elevasi 395 meter. Untuk lintasan selatan-utara, nilai resistivitas yang sangat rendah yaitu 5,56-13,7 m menunjukkan indikasi kuat, penumpukan sampah sudah mencemari air tanah sampai radius 5 meter dengan kedalaman antara 1,27-2,49 meter dari tempat pembuangan sampah. Hal lain yang sangat berperan memperparah polusi air tanah adalah jenis tanah pada daerah ini yaitu sediment pasir. Sedimen pasir mudah meresapkan polutan. Tingkat pencemaran air tanah ini akan semakin parah apabila penumpukan sampah terus dilakukan karena diduga di daerah tersebut terdapat lapisan lempung yang kedap setelah lapisan sediment pasir.

PENUTUP Kesimpulan Dari hasil interpretasi pengolahan data Res2dinv, pada analisis data resistivitas yang terdapat di lintasan selatan-utara, lapisan tanah kandungan air tercemar akibat rembesan polutan dari tempat pembuangan sampah diduga berada pada kedalaman 1,27-2,49 meter pada bentangan 20-25 meter dengan nilai

resistivitas 5,56-13,7 m. Pada analisis data resistivitas yang terdapat di lintasan timur-barat, lapisan tanah kandungan air tercemar diduga berada pada kedalaman 0,250-3,19 meter pada 27-32 meter dengan nilai resistivitas 1,16-3,48 m. Pencemaran ini terjadi karena tanah telah terkontaminasi akibat dari pembuangan sampah yang sudah menumpuk. Pencemaran air tanah telah menyebar sampai dengan radius 5 meter dari tempat pembuangan sampah yang terletak di 080 0515,8 S 11203608,9 E , elevasi 395 meter dengan kedalaman antara 1,272,49 meter, mengarah ke selatan atau mengarah ke permukiman warga. Nilai resistivitas yang sangat rendah menunjukkan indikasi kuat air tanah telah tercemar. Tingkat pencemaran akan semakin parah apabila penumpukan sampah terus dilakukan.

DAFTAR RUJUKAN Bisri,M.2008.Air Tanah.Malang:Tirta Media. Daristan, Irlia Risandila. 2009. Pemodelan Keberadaan Tanah Berongga Dengan Menggunakan Metode Geolistrik (Penelitian Laboratorium). Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Program Sarjana Negeri Malang Feranie, Selly dkk.2009. Zona Migrasi Pencemaran Air Di Sekitar TPA Babakan Ciparay Kabupaten Bandung Dengan Menggunakan Metode Geolistrik Tahanan Jenis Dan Analisis Geokimia Impresum. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia (online)(diakses pada tanggal 27 November 2010). Ganefati, Sri Puji dkk.2008.Pengolahan Leachate Tercemar Pb Sebagai Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan TPA.Jurnal Tek.Ling., Vol. 9, No. 1, (Online), ( http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/91089297.pdf diakses tanggal 20 Juli 2011). Harmayani, Kadek Diana & IG. M. Konsukartha. 2007. Pencemaran Air Tanah Akibat Pembuangan Limbah Domestik di Lingkungan Kumuh (Studi Kasus Banjar Ubung Sari, Kelurahan Ubung). Jurnal Permukiman Natah 5(2):62108. Mayasari,Diah Ratna.2005.Penentuan Resistivitas Rembesan Limbah Tekstil dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner:Penelitian Laboratorium.

Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Qomaruddin,Ahmad.2008.Analisis Sebaran Kontaminasi Leachate Bawah Permukaan Tanah Dengan Metode Resistivitas (Studi Kasus di Supit Urang, Kec.Sukun, Kab.Malang). Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Rahayu,Suparni Setyowati.2009.Limbah Industri.(online).(http://ChemIs_Try.org, diakses pada tanggal 30 Agustus 2010) Res2Dinv ver 3.5.Imaging Geoelectrical 2D &3D. 2008. Malaysia: Geotomo Software. Santosa, Djoko.2002.Pengantar Geofisika.Institut Teknologi Bandung : Bandung. Satriyo,Paminto Ganda Nur.2008.Analisa Bawah Permukaan Tanah Dengan Menggunakan Metode unakan Metode Geolistrik Konfigurasi SchlumbergerGeolistrik Konfigurasi Schlumberger (Studi Kasus Bekas TPA Gadang Malang). Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Sulityanto,Aris.2002.Pemodelan Air Tanah Daerah Pagerbarang Tegal Jawa Tengah.Tesis tidak diterbitkan.Bandung:Program Pasca Sarjana Institu Teknologi Bandung. Syamsudin.2007.Penentuan Struktur Bawah Permukaan Bumi Dangkal Dengan Menggunakan Metode Geolistrik Tahanan Jenis 2D (Studi Kasus Potensi Tanah Longsor di Panawangan, Ciamis).Tesis tidak diterbitkan.Bandung : Program Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung. Telford, W. M., L. P. Geldart and R. E. Sheriff, 1990. Applied Geophysics: Second Edition, Cambridge University Press, USA, 522-538. Trisnawati,Heni.2009.Pemodelan Pola Rembesan Limbah Domestik Dengan Menggunakan Metode Geolistrik. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Wahab, Aminul. 2008. Pemetaan Distribusi Intrusi Air Laut Dengan Menggunakan Metode Geolistrik. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Program Sarjana Universitas Negeri Malang.