Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat

rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga laporan Lapangan Geologi Struktur ini dapat terselesaikan dengan baik. Maksud dari penyusunan laporan lapangan ini adalah sebagai salah satu syarat kelulusan pada mata kuliah Geologi Struktur yang merupakan mata kuliah yang diajarkan pada Universitas Hasanuddin. Penulis merasa bahwa laporan lengkap ini takkan bisa terselesaikan tanpa adanya bantuan dari pihak lain, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada : 1. Kedua orang tua yang tekah banyak memberi bantuan moril dan spirituil 2. Bapak Ir. Jamal R. Husain,MT selaku dosen pembimbing. 3. Seluruh team asisten Geologi Struktur 4. Rekan-rekan mahasiswa peserta mata kuliah Geologi Struktur Tentu saja dalam laporan ini masih banyak kekurangan oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua dalam membangun wawasan kita khususnya dalam bidang Geologi Struktur. Makassar, Juli 2005 Penyusun DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .....i HALAMAN TUJUAN..ii HALAMAN PENGESAHAN..iii KATA PENGANTAR..iv DAFTAR ISI.. ..v BAB I PENDAHULUAN I.1 Letak Geografis I.2 Geologi Regional...... I.5 Peneliti Terdahulu..

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.... I.5 Struktur Geologi.. I.5 Peneliti Terdahulu.. BAB III STRUKTUR GEOLOGI PULAU BATUKALASI.. III.1. Lipatan.... III.2. Sesar.. III.2. Kekar.. III.2. Mekanisme Struktur Geologi Pulau Batukalasi BAB IV KESIMPULAN.. LAMPIRAN Peta Geologi + Penamapang Geologi Peta Pola Kekar Data Pengukuran BAB I GEOLOGI REGIONAL I. Letak Geografis Daerah Penelitian Daerah Penelitian ( Pulau Batukalasi ) memiliki letak geografis yaitu 11903614 BT 1903620 BT dan 40634 LS 40638 LS. II. Geologi Regional II.1. Geomorfologi Lokasi Praktikum lapangan termasuk dalam lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat, Sulawesi, dimana daerah praktikum lapangan ini berada pada pulau yang terletak pada kabupaten Barru dengan morfologi yang relative datar dan berada pada morfologi pantai yang memanjang pada daerah sebelah barat Sulawesi Selatan. II.2. Stratigrafi Qac : Endapan Aluvium, Danau dan Pantai; lempung, lanau, lumpur, pasir dan kerikil di sepanjang sungai sungai besar dan pantai. Endapan pantai setempat mengandung sisa kerang dan batugamping koral. Tmcv : Anggota Batuan gunungapi ; batuan gunungapi bersisipan batuan sedimen laut; breksi

gunungapi, lava, konglomerat gunungapi, dan tufa berbutir halus hingga lapilli; bersisipan batupasir tufaan, batupasir gampingan, batulempung mengandung sisa tumbuhan, batugamping dan napal. Batuannya bersusunan andesit dan basal, umumnya sedikit terpropilitkan, sebagian terkersikkan, amigdaloidal dan berlubang-lubang, ditrobos oleh retas, sill dan stock bersusunan basal dan diorit; berwarna kelabu muda, kelabu tua dan coklat. Penarikan Kalium/Argon pada batuan basal oleh Indonesian Gulf Oil berumur 17,7 juta tahun, dasit dan andesit berumur 8,93 juta tahun dan 9,92 juta tahun (J.D.Obradovich, 1972), dan basal dari Barru menghasilkan 6,2 juta tahun (T.M. van Leeuwen, 1978). Beberapa lapisan batupasir dan batugamping pasiran mengandung moluska dan serpian koral. Sisipan tufa gampingan, batupasir tufa gampingan, batupasir gampingan, batupasir lempungan, napal dan batugamping mengandung fosil foraminifera. Berdasarkan atas fosil tersebut dan penarikan radiometri menunjukkan umur satuan ini adalah miosen tengahMiosen Akhir. Batuannya sebagian besar diendapkan dalam lingkungan neritik sebagai fasies gunungapi Formasi camba, menindih tidak selaras batugamping Formasi camba dan batuan Formasi Mallawa; sebagian terbentuk dalam lingkungan darat, setempat breksi gunugapi mengandung sepaian batugamping, tebal diperkirakan tidak kurang dari 4.000 meter. Tmsv : batuan gunungapi Soppeng; breksi gunungapi dan lava, dengan sisipan tufa berbutir pasir sampai lapili dan batulempung; dibagian utara lebih banyak tufa dan breksi, sedangkan dibagian selatan lebih banyak lavanya; sebagian bersusunan basal piroksin dan sebagian basal leusit, kandungan leusitnya semakin banyak ke arah Selatan; sebagian lavanya berstruktur bantal dan sebagian terbreksikan; breksinya berkomponen antara 5 cm 50 cm, warnanya kebanyakan kelabu tua sampai kelabu kehijauan. Batuan gunung api ini pada umumnya terubah kuat , amigdaloidal dengan mineral sekunder berupa urat karbonat dan silikat, diterobos oleh retas ( 0,5 m 1,0 m ) menindih tak selaras batugamping Formasi Tonasa dan ditindih selaras batuan Formasi camba; diperkirakan berumur Miosen Bawah. II.3. Struktur Geologi Struktur geologi pada daerah penelitian ditentukan berdasarkan gejala- gejala yang dijumpai di lapangan, berdasarkan gejala gejala tersebut , maka pada daerah penelitian struktur geologi yang berkembang adalah : 1. Struktur Perlipatan

Struktur perlipatan ini diketahui dari adanya variasi kemiringan pada batuan vulkanik ( Tufa ) dan umumnya berasosiasi dengan sesar geser yang bekerja pada daerah penelitian. 2. Struktur Sesar Struktur sesar yang dijumpai pada daerah penelitian yaitu struktur sesar geser, yang terbentuk pada batuan vulkanik. 3. Struktur Kekar Struktur kekar yang terbentuk pada daerah penelitian merupakan kekar sistematik BAB II TINJAUAN PUSTAKA Lipatan Lipatan merupakan hasil perubahan bnetuk suatu bahan , ditunjukan sebagai lengkungan pada unsure garis atau bidang dalam bahan tersebut ( Ragan , 1973 ) . Klasifikasi Lipatan Klasifikasi lipatan yang digunakan adalah klasifikasi Rickards dan klasifikasi lain yang mendukung . Rekontruksi lipatan Umumnya rekontruksi lipatan dilakukan berdasarkan hasil pengukuran ( cross section di lapangan ataupun merupakan hasil proyeksi blok diagram dengan merekontraksi cross section dan blok diagram akan memebrrikan gambaran pengertian mengenai geometri dan deformasi batuan .Adapun teknik-teknik geometri yang dapat membantu dalam merekontruksi suatu lipatan adalah dengan menggunakan metode Busk , Metode Kink, metode Higgins ,dan metode proyeksi orthografis proyeksi stereografis . 1. Metode Busk Pada umumnya digunakan untuk merekonstruksi penampang dari suatu lipatan dari suatu sayatan yang parallel dengan rounded ginges yang kecil . Dengan asumsi bahwa lapisan yang mengalami lipatan pada seluruh bagian yang menyentuh / menyinggung daerah bundaran lipatan atau diasumsikan dengan : 1. Bagian dari masing masing lapisan pada lipatan dalam suatu bidang profil dapat dibagi ke dalam suatu segmen masing-masing lipatan yang harmonic dan permukaan dari lapisan yang berdekatan dalam suatu profil merupakan daerah yang konsentrik pada radius yang berbeda , dengan kata lain bahwa metode Busk hanya dapat digunakan pada suatu lipatan

yang hampir dengan ketebalan yang konstan dan sumbu lipatan membagi sudut di antara dua sayap lipatan Kekar Kekar merupakan suatu rekahan yang relative tanpa mengalami pergeseran pada bidang rekahannya . Penyebab terjadinya kekar dapat disebabkan oleh gejala tektonik maupun non tektonik . Jadi di lapangan harus dapat dibedakan antara kedua jenis kekar tersebut . Klasifikasi kekar ada beberapa macam , tergantung dasar klasifikasi yang digunakan , diantaranya : 1) Berdasarkan bentuknya 2) Berdasarkan kerapatannya 3) Berdasarkan kecepatannya 4) Berdasarkan cara terjadinya ( genesanya ) Klasifikasi Kekar berdasarkan genesanya : a. Shear Joint ( kekar gerus ) yaitu kekar yang terjadi akibat adanya tegasan tekanan ( compressive stress ) . b. Tension Joint ( Tension stress ) dibedakan atas : Extension Joint yaitu kekar yang terjadi akibat pemekaran / tarikan Release Joint yaitu kekar yang terjadi akibat berhentinya gaya yang bekerja . Klasifikasi kekar berdasarkan kedudukan relatifnya yaitu : 1. Kekar menjurus ( strike joint ) kekar yang arah jurusnya sejajar atau hampir sajajar dengan jurus perlapisan batuan 2. Kekar kemiringan ( dip joint ) kekar yang arahnya sejajar dengan arah kemiringan lapisan . 3. Diagonal joint yaitu kekar yang jurusnya terletak di antara arah jurus dan kemiringan batuan yang berasosiasi dengannya . 4. Kekar perlapisan ( bedding joint ) kekar yang sejajar dengan bidang perlapisan batuan . Klasifikasi Kekar berdasarkan bentuknya yaitu : 1. Kekar sistematik yaitu keakar dalam bentuk berpasangan arahnya sejajar satu dengan yang lainnya . 2. Kekar non sistematik yaitu kekar yang tidak teratur biasanya melengkung dapat saling bertemu ( bersilangan ) di antara kekar lainnya

atau tidak memotong kekar lainnya dan berakhir pada bidang perlapisan Klasifikasi kekar berdasarkan genesa dan keaktifan gaya yang membentuknya yaitu : 1. Kekar orde pertama yaitu sebagai hasil langsung dari gaya pembentuk Kekar .Umumnya mempunayui bentuk dan pola yang teratur dan ukurannya relative besar . 2. Kekar orde kedua yaitu kekar sebagai hasil pengaturan kembali atau pengaruh gaya balik / lanjutan untuk mencapai kesetimbangan massa batuan . Analisa Kekar Secara skematis sebelum kita menganalisa kekar di lapangan kita harus menjalankan beberapa prosedur kerja antara lain sebagai berikut : Pengumupulan / pencatatan data kekar semakin banyak semakin akurat Pengelompokan data Penyajian data Analisa data dengan menggunakan metode statistic yang dilakukan Dengan : a. Diagram Kipas b. Histogram c. Diagram Kontur , dengan menggunakan proyeksi streografis dan proyeksi kutub Tujuan Analisa Kekar di lapangan : @ Menentukan kedudukan / arah umum dari kekar . @ Menentukan arah umum dari gaya Prosedur analisa menggunakan diagram kipas Hal ini digunakan untuk kekar kekar yang mempunyai kemiringan dan diukur nilai strike dan dipnya tetapi dalam diagram kipas hanya menggunakan nilai strike Gambar diagram kipasnya yaitu berupa setengah lingkaran dengan jari-jari sepanjang harga porsentase maksimum . Sesar Sesar merupakan suatu bidang rekahan atau zona rekahan yang telah mengalami pergeseran. Berdasarkan tipe geraknya (E.W. Spencer,1977), secara umum dibedakan atas : - sesar translasi, yaitu jenis sesar yang pergeserannya sepanjang garis lurus ( Gb. 8.1) - sesar rotasi , yaitu jenis sesar yang pergeserannya mengalami perputaran/terputar (Gb. 8.2) sifat suatu pergeseran dapat sepaparation (pergeseran semu) dan slip (pergeseran Separation merupakan jarak tegak lurus antara dua bidang yang tergeser dan diukur pada

bidang sesar yaitu A (Gb. 8.3). komponen separation dapat diukur sejajar strike sesar dan disebut strike separation yaitu, B (Gb. 10.3), atau diukur sejajar dengan arah dip sesar dan disebut dip separation, yaitu C (Gb. 8.3). Gambar 8.3 Gambar 8.4 Slip merupakan pergeseran relative pada sesar, diukur dari satu blok ke blok lainnya, merupakan pergeseran titik-titik yang sebelumnya berimpit. Total pergeseran relatifnya disebut dengan net-slip (Gb. 8.4) Dasar Analisis Macam keterakan berdasarkan gaya pembentukannya ada dua macam yaitu Irrotational Strain (pure shear) dan rotational Starin (simple shear). Pure shear disebabkan oleh tegasan tekanan atau tegasan tarikan, seperti model yang dikembangkan oleh moody dan hill ( Gb. 8.30) Model ini akhir-akhir ini dipertanyakan oleh banyak ahli karena memuat anggapan yang terlalu sederhana tentang adanya tegasan utama berarah utara selatan. Pencantungan tingkatan tingkatan orde pembentukan struktur tidak mengandung pengertian secara kronologis dalam artian pembentukan orde I kemudian diikuti orde orde selanjutnya ( orde 2, 3 dan selanjutnya ), melainkan suatu proses yang simultan. Pengertian orde disini hanya mengandung pengertian orde-orde berikutnya ( 2, 3 dst ) memiliki orientasi dan dimensi yang lebih kecil serta dibatasi oleh sesar sesar orde yang lebih tinggi, sedangkan tegasan gerus (shear stress) akan menyebabkan rotational strain/ simple shear seperti model dari harding, 1974; Sounder, Thomas et al,1973. Unsur unsure istilah dalam sesar (Gb.8.5) - Bidang sesar Merupakan suatu bidang sepanjang rekahan dalam batuan yang tergeserkan. - Dip sesar Merupakan sudut antara bidang sesar dengan bidang horizontal dan diukur tegak lurus jurus sesar, strike dan dip sesar menunjukkan kedudukan dari bidang sesar. - Hade Merupakan sudut antara garis vertical dengan bidang sesar, dan merupakan penyiku dari dip sesar. - Throw Merupakan komponen vertical dari slip/separation, diukur pada bidang vertical yang tegak

lurus dengan jurus sesar - Heave Merupakan komponen horizontal dari/separation, diukur pada bidang vertical yang tegak lurus dengan jurus sesar - Hanging wall dan foot wall Merupakan blok yang terletak diatas bidang sesar dan dibawah bidang sesar. Gambar 8.5 Klasifikasi Sesar : Penamaan dari suatu sesar adalah tergantung dari dasar klasifikasi yang digunakan, diantaranya sebagai berikut ; 1. Berdasarkan orientasi pola tegasan utama yang menyebabkannya (Anderson, 1951). - Thrust fault Jika tegasan utama maksimum dan intermediate adalah horizontal (Gb. 8.6) - Normal fault Jika pola tegasan utama maksimum adalah vertical (Gb. 8.7) - Wrench fault (strike slip fault), Jika pola tegasan utama maksimum dan minimum adalah horizontal (Gb. 8.8). Gambar 8.6 Gambar 8.7 Gambar 8.8 Menurut Billing, 1977 istilah Thrust fault digunakan untuk sesar naik dengan slip sesar 450 reverse fault, dan apabila dip sesar relative landai disebut overthrust fault. Sedangkan sesar normal yang kemiringan bidangnya kecil (low angle) disebut detachment fault. 2. Berdasarkan separation dan slip (1955) a. Separation : Dip separation : - Normal separation fault (Gb. 8.3) - Reverse separation fault - Thrust separation fault Strike separation :

- Left lateral separation fault (Gb. 8.3) - Right lateral separation fault Combined dip and strike separation : misalnya Normal left laterar separation fault. b. Slip Dip Slip : - Normal slip fault (gerakan angka 4 pada (Gb. 8.4)) - Reverse slip fault - Thrust slip fault Strike slip : - Right lateral slip fault - Left lateral slip fault ( gerakan angka 2 pada (Gb. 8.4) Oblique slip : - Normal right leteral slip fault (gerakan angka 5 pada (Gb. 8.4) - Reverse left lateral slip fault ( gerakan angka 1 pada (Gb. 8.4) Dan variasi lainnya 3. Berdasarkan besar rake dari net slip (Billings, 1977) - strike slip fault jika net slip sejajar dengan strike sesar tidak ada komponen dip slip, besarnya rake net slip 00. - Dip slip fault, Jika rake net slip adalah 900 sehingga tidak ada komponen strike slip. - Diagonal slip fault jika rake net slip lebih besar 00 dan lebih kecil 900, sehingga disini mempunyai komponen strike slip dan komponen dip slip. Peneliti Terdahulu Secara umum daerah penelitian dan sekitarnya telah diteliti oleh beberapa peneliti terdahulu, antara lain : Yan Sopaheluwakan, ( 1979 ) Sartono dan Astadireja ( 1981 ) Rab Sukamto ( 1982 ) Rab Sukamto dan Simandjuntak ( 1983 )

Nurmaan ( 1991 ) M.Saleh Sahabuddin ( 1994 ) Wakita K.,dkk ( 1994 ) Zulfan Rahimi ( 1998) BAB III STRUKTUR GEOLOGI PULAU BATUKALASI III. 1 Lipatan Pada daerah penelitian dijumpai adanya lipatan dimana BAB IV KESIMPULAN Dari praktikum lapangan pada Pulau Batukalasi dapat ditarik kesimpulan yaitu antara lain : Daerah penelitian mengalami perlipatan , kemudian tersesarkan yakni mengalami sesar geser dan setelah itu terkekarkan. Daerah penelitian tersusun oleh endapan alluvial dan batuan vulkanik. Pada daerah penelitian tegasan utama yang bekerja memiliki arah N 3200 E.