Anda di halaman 1dari 5

ISOLASI ANTOSIANIN DARI KETAN HITAM (Oriza Sativa L Forma Glutinosa) Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2007-12-10 13:27:51

Oleh : Widhya Aligita (NIM: 107 03 046), S1 - Department of Pharmacy Dibuat : 2007-09-00, dengan 8 file Keyword : Oriza Sativa L Forma Glutinosa; black glutinous rice; poaceae; anthocyanin; isolating anthocyanin; isolate. Subjek : Pharmacy Kepala Subjek : School of Pharmacy Abstrak: Ketan hitam merupakan salah satu spesies yang termasuk ke dalam suku Poaceae yang memiliki nilai ekonomis yang penting. Ketan hitam telah diketahui mengandung senyawa golongan antosianin, yang memiliki beberapa aktivitas farmakologi, salah satunya adalah aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi antosianin dari ketan hitam. Serbuk simplisia diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut metanol yang mengandung 1% asam hidroklorida pekat. Ekstrak pekat difraksinasi secara kromatografi kolom dengan fase diam selulosa dan fase gerak butanol-asam asetat glasial-air (4:1:5; lapisan atas). Isolat dikaraterisasi dengan KLT menggunakan penampak bercak spesifik, spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak, dan spektrofotometri infra merah. Isolat memberikan warna biru pada pelat KLT ketika diberi uap amonia, memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 278 nm, 322 nm dan 541 nm, dan spektrum serapan inframerah menunjukkan adanya gugus -OH, -CH, >C=C< aromatik, dan C=O. Isolat yang diperoleh diduga merupakan antosianin terasilasi jenis sianidin 3 - glikosida dengan pola hidroksilasi tersubstitusi pada posisi 3. Ketan beralih ke halaman ini.

Beras

Beras

Beras, putih, panjang, biasa Nilai khasiat per 100 g Tenaga 370 kkal 1530 kJ

Karbohidrat - Gula 0.12 g - Serat pangan 1.3 g Lemak Protein Air Tiamina (Vit. B1) 0.070 mg Riboflavin (Vit. B2) 0.049 mg Niasin (Vit. B3) 1.6 mg Asam pantotenat (B5) 1.014 mg Vitamin B6 0.164 mg Asam folat (Vit. B9) 8 g Zat besi 0.80 mg Fosforus 115 mg Kalium 115 mg |Kalsium 28 mg Magnesium 25 mg Seng 1.09 mg

79 g

0.66 g 7.13 g 11.62 g 5% 3% 11% 20% 13% 2% 6% 16% 2% 3% 7% 11%

Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi) dan 'lemma' (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras. Beras dari padi ketan disebut ketan.

Daftar isi

[sembunyikan]

1 Anatomi beras 2 Kandungan beras 3 Macam dan warna beras 4 Aspek pangan 5 Aspek budaya dan bahasa 6 Produksi padi (gabah kering giling) 10 negara terbesar tahun 2007 (dalam juta metrik ton) 7 Produksi beras indonesia (dalam ribuan ton) 8 Impor beras indonesia (dalam ribuan ton) 9 Galeri gambar 10 Rujukan

[sunting] Anatomi beras


Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari

aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit, endosperma, tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.

[sunting] Kandungan beras


Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:

amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket

Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

[sunting] Macam dan warna beras

Berbagai macam beras dan ketan di Indonesia. Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia. Beras "biasa" yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras. Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu. Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam. Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin. Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam. Beberapa jenis beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya 'Cianjur Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.

[sunting] Aspek pangan


Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin. Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras. Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong. Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio

(1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg). Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang. Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

[sunting] Aspek budaya dan bahasa


Beras merupakan bagian integral, dapat dikatakan menjadi penciri dari budaya Austronesia, khususnya Austronesia bagian barat. Istilah Austronesia lebih merupakan istilah yang mengacu pada aspek kebahasaan (linguistik). Pembedaan padi, gabah, merang, jerami, beras, nasi, atau ketan, merupakan salah satu ciri melekatnya "budaya padi" pada masyarakat pengguna keluarga bahasa Austronesia, dan dengan demikian juga bagian dari budaya Austronesia. Sejumlah relief pada candi-candi di Jawa juga memperlihatkan aspek "budaya padi" pada masyarakat setempat pada masa itu.