Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN Pasien bernama R dengan usia 20 tahun datang ke Bagian Anastesi dari bangsal Bedah RSUD Raden

Mattaher pada tanggal 26 Agustus 2011. Dari hasil pemeriksaan ditegakkan diagnosa Apendisitis . Dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada saat pra anastesi didapatkan pasien terrmasuk status ASA I. Setelah pemeriksaan direncanakan akan dilakukan Anastesi Regional. Operasi direncanakan tanggal 27 Agustus 2011 yang akan dilakukan oleh Ahli Bedah : dr. Amran Sinaga, Sp.B dan Ahli anastesi oleh dr. Sulistyowati, Sp.AN

BAB II LAPORAN KASUS I. IDENTITAS PASEIN Nama pasien Umur Berat Alamat II. a. b. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 26 Agustus 2011 Keluhan utama Nyeri perut bagian kanan bawah sejak 3 hari SMRS. Riwayat penyakit sekarang 3 hari SMRS hari sebelum masuk rumah sakit, pasien merasakan nyeri pada perut bagian kanan bawah dan badannya hangat. Nyeri dirasakan tidak menjalar. Nyeri bertambah bila untuk menekukan kaki. Nyeri bersifat kumat-kumatan.Pasien juga mengeluhkan mual dan muntah. Belum ada riwayat pengobatan apapun. Karena tidak ada perbaikan pasien dibawa ke RSUD Raden Mattaher jambi untuk menjalani rawat inap. Oleh dokter bedah didiagnosis appendisitis dan direncanakan operasi c. Riwayat penyakit dahulu Pasien baru pertama kali menderita penyakit seperti ini. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit asma. Pasien juga tidak memiliki riwayat alergi obat, HT, DM dan batuk lama. Pasien belum pernah menjalani operasi sebelumnya dan pasien belum pernah dirawat di rumah sakit. d. Riwayat penyakit keluarga Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa. Tidak ada riwayat penyakit asma, kencing manis dan hipertensi dalam keluarga. 2 :R : 16 tahun : 50 kg :.

III.

KEADAAN UMUM Kesadaran Keadaan umum Tekanan darah Nadi Suhu Respirasi : Compos Mentis : tenang : 120 / 80 mmHg : 80 x/menit : 36,5 oC : 20 x/menit

IV.

PEMERIKSAAN FISIK Kepala : Mata Hidung Telinga Mulut Leher Thorak : Pembesaran KGB (-) : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen : Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi Ektremitas : akral hangat (+), oedem (-) : dinding perut sejajar dengan dinding dada. : bising usus normal. : nyeri tekan (+) pada titik Mc Burney : tympani. : simetris, tidak ada ketinggalan gerak thorak. : vocal fremitus normal, nyeri tekan (-). : sonor : wheezing (-), bising jantung (-). : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : deviasi (-), epistaksis (-), : sekret (-), tragus pain (-) : lidah tidak kering, bibir tidak kering

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Laboratorium Hemoglobin Leukosit Trombosit GDS Ureum Kreatinin Protein total Albumin Globulin SGOT SGPT CT BT 2. Foto Thorak Cor dan Pulmo normal : 14,6 g% : 6.300 : 242.000 : 112 mg% : 36,2 mg% : 1,2 mg% : 6,1 g% : 4,3 g% : 1,8 g% : 27 U/L : 25 U/L : 2,5 : 3,5

VI.

KESIMPULAN Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, maka: Diagnosis pre operatif Status operatif Jenis operasi Jenis anestesi : Appendisitis : ASA I (pasien sehat secara jasmni dan rohani, tidak ada gangguan sistemik) : Appendiktomi : Regional (spinal)

VII.

TINDAKAN ANESTESI 1. Keadaan pre operatif : Pasien menjalani puasa selama 6 jam sebelum operasi dimulai. Keadaan penderita tenang, kooperatif, tekanan darah 120 / 80 mmHg, nadi 80 kali / menit. 2. Jenis anestesi : Anestesi regional (spinal). 3. Premedikasi yang diberikan : Pasien diberikan Ondancetron (Cedantron) 30 mg (drip) dan Ranitidin 50mg (drip). 4. Anestesi yang diberikan : Dilakukan penyuntikan Bupivakain 15 mg + Clonidine Hydrochlorida 0,075 g dengan jarum spinal ke ruang subarachnoid antara kanalis spinalis VL 3 VL 4. 5. Pemeliharaan: Selama tindakan anestesi berlangsung, tekanan darah dan denyut nadi selalu dimonitor. Infus RL diberikan pada penderita sebagai cairan rumatan. Penggantian cairan yang hilang dilakukan dengan memberikan cairan RL, yang komposisinya sama dengan cairan plasma tubuh. Jumlah darah yang hilang digantikan dengan 2,5-4 kali cairan kristaloid. Untuk cairan rumatannya dihitung dengan rumus (4 ml/kgBB/jam x 10 kg pertama)+(2 ml/kgBB/jam x 10 kg kedua)+(1 ml/kgBB/jam x 10 kg selanjutnya). Berat badan pasien ini diperkirakan 50 kg, maka cairan rumatannya (4x10)+(2x10)+(1x30)= 90 ml/jam. Beberapa saat sebelum operasi selesai diberikan Ketorolac 30 mg + Tramadol 100 mg (drip) sebagai analgesik setelah operasi. 6. 7. Ruang recovery : Keadaan pasca operasi : Operasi selesai dalam waktu 30 menit.

Pasien dipindah ke ruang rumatan dan diawasi aktivitas motorik, sensorik dan kesadaran. Bila pasien tenang dengan Aldrette Score > 8 tanpa nilai nol, maka pasien dapat dipindah ke bangsal. Pada pasien ini, Aldrette Score bernilai 8, dengan rincian sebagai berikut: 1. Warna kulit merah muda (nilai 2) 2. Pasien dapat bernapas dalam dan teratur (nilai 2) 3. Tekanan darah + 20 % dari tekanan darah praanestesi (nilai 2) 4. Pasien bangun bila dipanggil (nilai 1) 5. Ekstremitas atas dapat digerakkan (nilai 1) 8. Program pasca operasi : Setelah pasien memiliki Aldrette Score > 8, pasien dikirim ke bangsal dengan catatan: - Awasi tanda vital secara ketat - Awasi kesadaran - Infus cairan Ringer Laktat 1500 mL/24 jam - Cek Hb pasca operasi - Tidur terlentang dengan bantal selama 24 jam - Jika pasien sadar penuh, minum bertahap - Lain-lain sesuai dokter bedah

BAB III PEMBAHASAN Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab nyeri abdomen akut yang paling sering. Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupuntidak disertai rangsang peritonieum lokal. Gajala apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum umum atau spinal, secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. Bila apendiktomi terbuka, insisi Mc.Burney banyak dipilih oleh para ahli bedah. Pada pasien ini diklasifikasikan pada ASA I (pasien sehat secara jasmni dan rohani, tidak ada gangguan sistemik. Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang ialah yang berasal dari The American Society Anesthesiologist (ASA). Klasifikasi ini bukan alat prakiraan risiko anastesia, karena dampak samping anestesia tidak dapat dipisahkan dari dampak samping pembedahan. Kelas I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia. Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang. Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik berat sehingga aktivitas rutin terbatas. 7

Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat. Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam. Pada kasus ini operasi appendiktomi dengan diagnosis pre-operatif appendisitis. Gejala yang paling menonjol adalah demam dan nyeri tekan pada regio abdomen kanan bawah (titik Mc Burney). Pada operasi pasien ini, teknik anestesi yang digunakan adalah anestesi regional (spinal). Sebagai premedikasi dipakai ranitidin dan Ondancetron (Cedantron). Cairan lambung 25 ml debgan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis asam. Untuk meminimalkan kejadian tersebut diberikan antagonis reseptor H2 histamin misalnya oral simetidin600mg atau oral ranitidin (zantac) 150 mg 1-2 jam sebelum jadwal operasi. Untuk mengurangi mual-muntah pasca bedah sering ditambah premedikasi suntikan intramuskular untuk dewasa droperidol 2,5 - 5 mg atau ondancetron 2-4 mg (zorfan, narfoz). Anastesi spinal dilakukan dengan penyuntikan Bupivakain 15 mg + Clonidine Hydrochlorida 0,075 g dengan jarum spinal ke ruang subarachnoid antara kanalis spinalis VL 3 VL 4. Induksi dilakukan dengan menggunakan Lidocaine (Lidodex) 1 cc dengan jarum spinal ke ruang subarachnoid antara kanalis spinalis VL 3 VL 4. Bupivacaine adalah obat anestetik lokal yang termasuk dalam golongan amino amida. Bupivacaine di indikasi pada penggunaan anestesi lokal termasuk anestesi infiltrasi, blok serabut saraf, anestesi epidura dan anestesi intratekal. Bupiivacaine kadang diberikan pada injeksi epidural sebelum melakukan operasi athroplasty pinggul. Obat tersebut juga biasa digunakan untuk luka bekas operasi untuk mengurangi rasa nyeri dengan efek obat mencapai 20 jam setelah operasi. Bupivacaine dapat diberikan bersamaan dengan obat lain untuk memperpanjang durasi efek obat seperti misalnya epinefrin, glukosa, dan fentanil untuk analgesi epidural. Kontraindikasi untuk pemberian bupivacaine adalah 8

anestesi regional IV (IVRA) karena potensi risiko untuk kegagalan tourniket dan adanya absorpsi sistemik dari obat tersebut. Bupivacaine bekerja dengan cara berikatan secara intaselular dengan natrium dan memblok influk natrium kedalam inti sel sehingga mencegah terjadinya depolarisasi. Dikarenakan serabut saraf yang menghantarkan rasa nyeri mempunyai serabut yang lebih tipis dan tidak memiliki selubung mielin, maka bupivacaine dapat berdifusi dengan cepat ke dalam serabut saraf nyeri dibandingkan dengan serabut saraf penghantar rasa proprioseptif yang mempunyai selubung mielin dan ukuran serabut saraf lebih tebal. Sedangkan cataprest yang berisi klonidin, dimana efeknya pada anestesi spinal ialah menghambat saraf sensoris yang bekerja pada prasinaps (menghambat pelepasan transmitter) dan postsinaps (meningkatkan hiperpolarisasi). Kombinasi Bupivacain dengan klonidin 0,075 g berpotensi meningkatkan intensitas dan durasi blok motorik. Hal ini disebabkan karena induksi pada agonis a-2 adrenoseptor di ventral horn dan memfasilitasi kerja anestesi local. Selama tindakan anestesi berlangsung, tekanan darah dan denyut nadi selalu dimonitor. Infus RL diberikan pada penderita sebagai cairan rumatan. Beberapa saat sebelum operasi selesai diberikan Ketorolac 30 mg + Tramadol 100 mg (drip) sebagai analgesik setelah operasi Pasien dipindah ke ruang rumatan dan diawasi aktivitas motorik, sensorik dan kesadaran. Bila pasien tenang dengan Aldrette Score > 8 tanpa nilai nol, maka pasien dapat dipindah ke bangsal. Pada pasien ini, Aldrette Score bernilai 8, dengan rincian sebagai berikut: Warna kulit merah muda (nilai 2), Pasien dapat bernapas dalam dan teratur (nilai 2), Tekanan darah + 20 % dari tekanan darah praanestesi (nilai 2), Pasien bangun bila dipanggil (nilai 1), Ekstremitas atas dapat digerakkan (nilai 1).
Peniaian Gerak bertujuan Gerak tak bertujuan Nilai 2 1

Pergerakan

Pernafasan

Warna kulit

Tekanan Darah

Kesadaran

Tidak bergerak Teratur, Batuk, menangis Depresi Perlu bantuan Merah muda Pucat Sianosis Berubah sekitar 20% Berubah 20-30% Berubah > 30% Sadar penuh Bereaksi tanpa rangsangan Tidak bereaksi

0 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 1 0

Jika jumlah > 8 pasien dapat dipindahkan ke ruangan Setelah pasien memiliki Aldrette Score > 8, pasien dikirim ke bangsal dengan catatan: Awasi tanda vital secara ketat, awasi kesadaran, Infus cairan Ringer Laktat 1500 mL/24 jam, cek Hb pasca operasi, Tidur terlentang dengan bantal selama 24 jam, Jika pasien sadar penuh, minum bertahap, dan lain-lain sesuai dokter bedah

10

BAB III TINJAUAN PUSTAKA Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anestesi spinal/ subaraknoid juga disebut sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal. Hal hal yang mempengaruhi anestesi spinal ialah jenis obat, dosis obat yang digunakan, efek vasokonstriksi, berat jenis obat, posisi tubuh, tekanan intraabdomen, lengkung tulang belakang, operasi tulang belakang, usia pasien, obesitas, kehamilan, dan penyebaran obat. Pada penyuntikan intratekal, yang dipengaruhi dahulu ialah saraf simpatis dan parasimpatis, diikuti dengan saraf untuk rasa dingin, panas, raba, dan tekan dalam. Yang mengalami blokade terakhir yaitu serabut motoris, rasa getar (vibratory sense) dan proprioseptif. Blokade simpatis ditandai dengan adanya kenaikan suhu kulit tungkai bawah. Setelah anestesi selesai, pemulihan terjadi dengan urutan sebaliknya, yaitu fungsi motoris yang pertama kali akan pulih. Di dalam cairan serebrospinal, hidrolisis anestetik lokal berlangsung lambat. Sebagian besar anestetik lokal meninggalkan ruang subaraknoid melalui aliran darah vena sedangkan sebagian kecil melalui aliran getah bening. Lamanya anestesi tergantung dari kecepatan obat meninggalkan cairan serebrospinal. Tabel Anastesi spinal yang paling sering digunakan Anastesi lokal Lidocain (Xylobain, Lignokain ) 2% plain 5% dalam dekstrosa 7,5% Bupivakain (Markain) 0,5% dalam air Berat Jenis 1.006 1.033 1.005 11 Sifat Isobarik Hiperbarik Isobarik Dosis 20-100 mg (2-5 ml) 20-50 mg (1-2 ml) 5-20 mg (1-4 ml)

0,5% dalam dekstrosa 8,25%

1.027

Hiperbarik

5-15 mg (1-3 ml)

Indikasi Anestesi spinal dapat diberikan pada tindakan yang melibatkan tungkai bawah, panggul, dan perineum. Anestesi ini juga digunakan pada keadaan khusus seperti bedah endoskopi, urologi, bedah rectum, perbaikan fraktur tulang panggul, bedah obstetric, dan bedah anak. Anestesi spinal pada bayi dan anak kecil dilakukan setelah bayi ditidurkan dengan anestesi umum. Kontraindikasi Kontraindikasi mutlak meliputi infeksi kulit pada tempat dilakukan pungsi lumbal, bakteremia, hipovolemia berat (syok), koagulopati, dan peningkatan tekanan intracranial. Kontraindikasi relatf meliputi neuropati, prior spine surgery, nyeri punggung, penggunaan obat-obatan preoperasi golongan AINS, heparin subkutan dosis rendah, dan pasien yang tidak stabil, serta a resistant surgeon. Persiapan Pasien Pasien sebelumnya diberi informasi tentang tindakan ini (informed concernt) meliputi pentingnya tindakan ini dan komplikasi yang mungkin terjadi. Pemeriksaan fisik dilakukan meliputi daerah kulit tempat penyuntikan untuk menyingkirkan adanya kontraindikasi seperti infeksi. Perhatikan juga adanya scoliosis atau kifosis. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah penilaian hematokrit. Masa protrombin (PT) dan masa tromboplastin parsial (PTT) dilakukan bila diduga terdapat gangguan pembekuan darah. Perlengkapan Tindakan anestesi spinal harus diberikan dengan persiapan perlengkapan operasi yang lengkap untuk monitor pasien, pemberian anestesi umum, dan tindakan resusitasi. Jarum spinal dan obat anestetik spinal disiapkan. Jarum spinal memiliki permukaan yang rata dengan stilet di dalam lumennya dan ukuran 16G sampai 12

dengan 30G. obat anestetik lokal yang digunakan adalah prokain, tetrakain, lidokain, atau bupivakain. Berat jenis obat anestetik lokal mempengaruhi aliran obat dan perluasan daerah teranestesi. Pada anestesi spinal jika berat jenis obat lebih besar dari berat jenis CSS (hiperbarik), maka akan terjadi perpindahan obat ke dasar akibat gravitasi. Jika lebih kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari area penyuntikan ke atas. Bila sama (isobarik), obat akan berada di tingkat yang sama di tempat penyuntikan. Pada suhu 37oC cairan serebrospinal memiliki berat jenis 1,003-1,008. Perlengkapan lain berupa kain kasa steril, povidon iodine, alcohol, dan duk steril juga harus disiapkan. Jarum spinal. Dikenal 2 macam jarum spinal, yaitu jenis yang ujungnya runcing seperti ujung bamboo runcing (Quincke-Babcock atau Greene) dan jenis yang ujungnya seperti ujung pensil (whitacre). Ujung pensil banyak digunakan karena jarang menyebabkan nyeri kepala pasca penyuntikan spinal.

Tipe Quincke

Tipe Whitacre

Teknik Anestesi Spinal Berikut langkah-langkah dalam melakukan anestesi spinal, antara lain: 1. Posisi pasien duduk atau dekubitus lateral. Posisi duduk merupakan posisi termudah untuk tindakan punksi lumbal. Pasien duduk di tepi meja operasi dengan kaki pada kursi, bersandar ke depan dengan tangan menyilang di depan. Pada posisi dekubitus lateral pasien tidur berbaring dengan salah satu sisi tubuh berada di meja operasi. 2. Posisi permukaan jarum spinal ditentukan kembali, yaitu di daerah antara vertebrata lumbalis (interlumbal). 13

3. Lakukan tindakan asepsis dan antisepsis kulit daerah punggung pasien. 4. Lakukan penyuntikan jarum spinal di tempat penusukan pada bidang medial dengan sudut 10o-30o terhadap bidang horizontal ke arah cranial. Jarum lumbal akan menembus ligamentum supraspinosum, ligamentum interspinosum, ligamentum flavum, lapisan duramater, dan lapisan subaraknoid.

5. Cabut stilet lalu cairan serebrospinal akan menetes keluar. 6. Suntikkan obat anestetik local yang telah disiapkan ke dalam ruang subaraknoid. Kadang-kadang untuk memperlama kerja obat ditambahkan vasokonstriktor seperti adrenalin.

14

Komplikasi Komplikasi anastesi spinal dibagi menjadi komplikasi dini dan komplikasi delayed. Komplikasi tindakan : 1. Hipotensi berat: Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. Pada dewasa dicegah dengan memberikan infus cairan elektrolit 1000ml atau koloid 500ml sebelum tindakan. 2. Bradikardia : Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia,terjadi akibat blok sampai T-2 3. Hipoventilasi : Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas 4. Trauma pembuluh saraf 5. Trauma saraf 6. Mual-muntah 7. Gangguan pendengaran 8. Blok spinal tinggi atau spinal total

15

Komplikasi pasca tindakan: 1. Nyeri tempat suntikan 2. Nyeri punggung 3. Nyeri kepala karena kebocoran likuor 4. Retensio urine 5. Meningitis

Komplikasi intraoperatif: 1). Komplikasi kardiovaskular Insiden terjadi hipotensi akibat anestesi spinal adalah 10-40%. Hipotensi terjadi karena vasodilatasi, akibat blok simpatis, yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan arteriola sistemik dan vena, makin tinggi blok makin berat hipotensi. Cardiac output akan berkurang akibat dari penurunan venous return. Hipotensi yang signifikan harus diobati dengan pemberian cairan intravena yang sesuai dan penggunaan obat vasoaktif seperti efedrin atau fenilefedrin. Cardiac arrest pernah dilaporkan pada pasien yang sehat pada saat dilakukan anestesi spinal. Henti jantung bisa terjadi tiba-tiba biasanya karena terjadi bradikardia yang berat walaupun hemodinamik pasien dalam keadaan yang stabil. Pada kasus seperti ini, hipotensi atau hipoksia bukanlah penyebab utama dari cardiac arrest tersebut tapi ia merupakan dari mekanisme reflek bradikardi dan asistol yang disebut reflek BezoldJarisch.

16

Pencegahan hipotensi dilakukan dengan memberikan infuse cairan kristaloid (NaCl,Ringer laktat) secara cepat sebanyak 10-15ml/kgbb dlm 10 menit segera setelah penyuntikan anesthesia spinal. Bila dengan cairan infuse cepat tersebut masih terjadi hipotensi harus diobati dengan vasopressor seperti efedrin intravena sebanyak 19mg diulang setiap 34menit sampai mencapai tekanan darah yang dikehendaki. Bradikardia dapat terjadi karena aliran darah balik berkurang atau karena blok simpatis,dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4 mg IV.

2). Blok spinal tinggi atau total Anestesi spinal tinggi atau total terjadi karena akibat dari kesalahan perhitungan dosis yang diperlukan untuk satu suntikan. Komplikasi yang bisa muncul dari hal ini adalah hipotensi, henti nafas, penurunan kesadaran, paralisis motor, dan jika tidak diobati bisa menyebabkan henti jantung. Akibat blok simpatetik yang cepat dan dilatasi arterial dan kapasitas pembuluh darah vena, hipotensi adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada anestesi spinal. Hal ini menyebabkan terjadi penurunan sirkulasi darah ke organ vital terutama otak dan jantung, yang cenderung menimbulkan sequel lain. Penurunan sirkulasi ke serebral merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadi henti nafas pada anestesi spinal total. Walau bagaimanapun, terdapat kemungkinan pengurangan kerja otot nafas terjadi akibat dari blok pada saraf somatic interkostal. Aktivitas saraf phrenik biasanya dipertahankan. Berkurangnya aliran darah ke serebral mendorong terjadinya penurunan kesadaran. Jika hipotensi ini tidak di atasi, sirkulasi jantung akan berkurang seterusnya menyebabkan terjadi iskemik miokardiak yang mencetuskan aritmia jantung dan akhirnya menyebakan henti jantung. Pengobatan yang cepat sangat penting dalam mencegah terjadinya keadaan yang lebih serius, termasuk pemberian cairan, vasopressor, dan pemberian oksigen bertekanan positif. Setelah 17

tingkat anestesi spinal berkurang, pasien akan kembali ke kedaaan normal seperti sebelum operasi. Namun, tidak ada sequel yang permanen yang disebabkan oleh komplikasi ini jika diatasi dengan pengobatan yang cepat dan tepat. Komplikasi respirasi 1. Analisa gas darah cukup memuaskan pada blok spinal tinggi, bila fungsi paru-paru normal. 2. Penderita PPOM atau COPD merupakan kontra indikasi untuk blok spinal tinggi. 3. Apnoe dapat disebabkan karena blok spinal yang terlalu tinggi atau karena hipotensi berat dan iskemia medulla. 4. Kesulitan bicara,batuk kering yang persisten,sesak nafas,merupakan tandatanda tidak adekuatnya pernafasan yang perlu segera ditangani dengan pernafasan buatan. Komplikasi postoperative: 1). Komplikasi gastrointestinal Nausea dan muntah karena hipotensi,hipoksia,tonus parasimpatis berlebihan,pemakaian obat narkotik, reflek karena traksi pada traktus gastrointestinal serta komplikasi delayed, pusing kepala pasca pungsi lumbal merupakan nyeri kepala dengan ciri khas terasa lebih berat pada perubahan posisi dari tidur ke posisi tegak. Mulai terasa pada 24-48jam pasca pungsi lumbal,dengan kekerapan yang bervariasi. Pada orang tua lebih jarang dan pada kehamilan meningkat.

18

DAFTAR PUSTAKA 1. Said A.Latief dkk. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua. Jakarta : Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2002 2. Mansjoer, Arif. dkk. Kapita Selekta Kedokteran edisi III. Jakarta. 2002 3. R. Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi dua. Jakararta : Penerbit EGC. 2004 4. Anonim. Anestesiologi. Diakses dari http/www.doktermuda.wordpress.com. d

19