Anda di halaman 1dari 2

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai pada Sungai-Sungai Besar di Dunia Pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) sangat penting

dilakukan, dan sangat relevan pada kondisi beberapa tahun terakhir, karena peningkatan jangka panjang proyek-proyek perairan sangat penting dilakukan untuk kesejahteraan manusia. Pengelolaan daerah aliran sungai merupakan suatu upaya dalam mempertahankan atau meningkatkan unsur hidrologis, tanah, dan unsur biotik dalam suatu rencana proyek pembangunan. Dasar dari perubahan yang terjadi adalah dikarenakan peningkatan populasi manusia dan hewan, sehingga lebih banyak lahan yang dibutuhkan untuk tempat tinggal, tingkat konsumsi yang meningkat, dan hutan dialih fungsikan sebagai lahan pertanian. Peningkatan populasi tersebut tidak mungkin untuk mengembangkan dan melaksanakan kebijakan pengelolaan DAS yang berkelanjutan selama jangka panjang. Dua pelaksanaan utama untuk pengelolaan DAS adalah memperhatikan banyaknya sedimentasi dan perubahan pola debit sungai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya pengelolaan DAS dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Seluruh sungai di dunia memiliki sedimen namun konsentrasinya berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian Sungai Haihe di Cina memiliki konsentrasi sedimen tertinggi yaitu 40.500 ppm dan sungai Zaire di Zaire memiliki konsentrasi terendah yaitu 34 ppm. Hasil penelitian di 3 sungai India diperoleh hasil bahwa kandungan suspensi padat lebih besar daripada suspensi terlarut. Diduga agregat dari sedimen tersebut dibawa oleh sungai-sungai di seluruh dunia tersebut menuju ke laut. Pembangunan bendungan dapat mengurangi kecepatan aliran sungai sehingga sedimen yang terbentuk pada bendungan tersebut semakin banyak. Akibat menumpuknya sedimen pada bendungan, air yang mengalir keluar akan terkurangi sedimennya. Sungai dengan air tanpa sedimen menyebabkan alirannya kembali cepat sehingga meningkatkan erosi. Berdasarkan hal tersebut maka tingkat sedimentasi berhubungan dengan tingkat erosi. Meskipun demikian, masalah sedimentasi merupakan masalah yang perlu untuk diteliti ulang karena ada tiga faktor yang mempengaruhinya antara lain curah hujan; informasi mengenai hidrologi, meteorologi, geologi, dan data penggunaan lahan; serta proyek irigasi. Negara beriklim tropis lebih rentan terkena erosi daripada negara beriklim sedang karena energi kinetik hujan di negara tropis lebih besar daripada energi kinetik hujan di negara beriklim sedang. Curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir dan menyebabkan debit air meningkat. Peningkatan debit air menyebabkan sedimen yang dibawa semakin banyak. Kurangnya informasi mengenai hidrologi, meteorologi, geologi, dan data penggunaan lahan menyebabkan tidak dapat diprediksinya tingkat erosi pada beberapa negara. Adanya beberapa proyek irigasi yang tidak terprediksi mengakibatkan jumlah erosi tidak dapat diprediksi. Berdasarkan penelitian di India, lahan dengan rumput lebih rentan terkena erosi daripada lahan tanpa rumput karena keberadaan hewan ternak di lahan berumput akan lebih banyak sedangkan kuku-kuku hewan ternak tersebut akan melonggarkan partikel tanah sehingga lebih mudah terjadi erosi. Perubahan pola penggunaan lahan di sekitar DAS dapat mempengaruhi debit sungai. Faktor-faktor yang mempengaruhi debit sungai antara lain faktor geo-hidrologi, meteorologi dan agro-ekologi. Karena banyak faktor yang mempengaruhi karakteristik debit sungai, sangat sulit untuk menentukan perubahan spesifik yang mungkin telah terjadi karena praktek pemanfaatan lahan di daerah aliran sungai. Pengelolaan DAS ditekankan untuk mengurangi jumlah sedimen di daerah tangkapan air. Manajemen ini dapat meningkatkan daerah tutupan hutan di area hulu DAS, mengembangkan dan menerapkan penggunaan lahan yang sesuai kebijakan dan mencegah penggembalaan ternak yang berlebihan. Berdasarkan hasil pengamatan di beberapa negara ketika aforestasi telah dipraktikkan, sedimen masih dihasilkan oleh proses alam dan dipercepat oleh irigasi. Satu dari alternatif untuk mengontrol sedimen dan air adalah dengan menggunakan cek dam atau dam pengendali. Dam pengendali atau cek dam adalah bendungan kecil dengan konstruksi sederhana, dibuat pada alur jurang atau sungai kecil. Tanggul penghambat berfungsi untuk mengendalikan sedimen dan aliran permukaan yang berasal dari daerah tangkapan di sebelah atasnya. Pembuatan cek dam ini telah berhasil di daerah pedesaan di beberapa negara seperti India,Cina, Sri Lanka, Meksiko dan Amerika Serikat. Pada dasarnya cek dam dapat menyediakan penyimpanan air banjir, yang dapat digunakan selanjutnya untuk irigasi dan ternak. Bendungan-bendungan ini tidak hanya mengendalikan aliran air, tetapi juga sedimen dibawa oleh air banjir. Dengan penurunan aliran kecepatan air, tingkat erosi

tanah juga berkurang. Selain itu, karena kecepatan aliran sungai berkurang sedimen dari air banjir dapat disimpan dalam bendungan tersebut. Keuntungan dari pembangunan cek dam ini adalah selain sebagai pengontrol sedimen dan aliran air juga sebagai penyedia air untuk kebutuhan air minum dan rumah tangga. Kelemahan dari pembangunan cek dam adalah perlunya pemeliharaan termasuk pengerukan sedimentasi untuk mengoptimalkan fungsi cek dam sebagai pengontrol air dan sedimentasi. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS sangat penting dilakukan untuk pertimbangan proyek-proyek pembangunan air yang berkelanjutan. Proses pengelolaannya tidak mudah, banyak faktor yang diperlukan dalam proses pencapaian keberhasilannya, antara lain aforestasi, kontrol penggunaan lahan praktik, dan lebih menekankan struktur skala kecil, misalnya mengontrol pengawasan bendungan untuk konservasi tanah dan air yang lebih baik. Penggunaan lahan merupakan salah satu faktor utama yang menjadi dasar permasalahan diseluruh negara. Sehingga pemerintah harus lebih menekankan pada program aforestasi. Kelompok 10 : 1. Dinia Rizqi D. 2. Yuyun Ika Ch. 3. Winda Rahayu 105090100111005 105090100111015 105090113111001