Anda di halaman 1dari 7

Kondisi Produksi Garam di Kabupaten Pamekasan Pulau Madura merupakan pulau yang sudah jamak di sebut pulau garam,

hal ini karena memang Pulau Madura merupakan salah satu daerah penghasil garam terbesar di Indonesia. Pulau ini terletak di timur laut Jawa kurang lebih 7 sebelah selatan dari khatulistiwa diantara 112 dan 114 bujur timur. Luas Pulau Madura 4.887 Km2,. Panjangnya kurang lebih 190 Km dan jarak yang terlebar 40 Km. Pantai utara merupakan suatu garis panjang yang hampir lurus. Pantai selatannya di bagian timur mempunyai dua teluk yang besar terlindung oleh pulau-pulau, gundukan pasir dan batu-batu karang. Batas-batas administrasi Pulau Madura adalah: a. Batas sebelah utara: Laut Jawa b. Batas sebelah selatan: Selat Madura c. Batas sebelah timur: Laut Jawa d. Batas sebelah barat: Selat Madura Salah satu sentra produksi garam di Madura adalah di Kabupaten Pamekasan yang memiliki luas daerah 3.000 kilometer persegi, secara demografis memiliki jumlah penduduk 835.101 jiwa dengan kepadatan penduduk per Km2 cukup bervariatif. Secara Administratif Kabupaten Pamekasan terdiri dari 13 Kecamatan dan 189 Desa/Kelurahan. Beberapa kawasan di Kabupaten Pamekasan yang menjadi tempat produksi garam adalah kecamatan Tlanakan,Galis dan Pademawu. Selain produksi garam rakyat di Pamekasan juga ada PT. Garam yang beroperasi tepatnya di Kecamatan Galis. Lahan pegaraman kabupaten Pamekasan menduduki peringkat ketiga setelah kabupaten Sampang dan Sumenep, begitu juga dalam memproduksi bahan baku garam (Tabel 1). Bahan baku yang dihasilkan oleh petani garam diolah kembali oleh PT. Garam untuk dijadikan garam kosumsi yang layak di pasarkan. Produksi garam di Kabupaten Pamekasan meningkat dari tahun 2007 sampai tahun 2009. Dengan luasan tambak garam sebesar 975 hektar, kabupaten Pamekasan berhasil memproduksi garam sebesar 64.000 ton (2007) dengan masa produksi 4 bulan, meningkat menjadi 88.000 ton (2008) dengan masa produksi 4 bulan dan 99.000 ton (2009) dengan masa produksi 4,5 bulan. Peningkatan prduksi tersebut masih terlalu jauh untuk memenuhi kebutuhan garam di Indonesia, terbukti Indonesia

harus masih mengimpor dari Negara Australia dan India. Data Kementerian
Perdagangan mencatat, bahwa impor garam pada 2007 mencapai 1,8 juta ton, dengan perincian untuk garam industri 1,6 juta ton dan garam beryodium (garam konsumsi) 200.000 ton. Selanjutnya pada 2008 impor garam Indonesia sebanyak 1,78 juta ton, dengan perincian 1,58 juta ton garam industri dan 200.000 ton garam beryodium. Lalu pada 2009 volume impor garam tercatat hanya 1,57 juta ton, dengan perincian garam industri 1,4 juta ton dan garam konsumsi 117.000 ton.

Upaya untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam belum sepenuhnya terealisasikan. Fakta tersebut dapat dibuktikan dengan merosotnya produksi garam pada tahun 2010 sekitar 966.100 ton. Turunnya produksi garam pada tahun 2010 disebabkan karena curah hujan yang tinggi. Pada tahun 2011 produksi garam ditargetkan naik kembali sebesar 1,2 jutan ton. Menurut Menteri Perindustrian MS Hidayat kenaikan kebutuhan garam tahun 2015 diperkirakan naik menjadi 5 juta ton seiring meningkatnya pertumbuhan industri kimia dan pangan. Kebutuhan garam dari tahun ke tahun semakin meningkat sesuai dengan pertumbuhan masyarakat yang semakin meningkat. Tabel 1. Produksi garam di Pulau Jawa Kabupaten Luas (hektar) JAWA BARAT Cirebon Indramayu Karawang 2748 150.000 154.000 173.250 1716 2007 (4 bulan) 90.000 2008 (4 bulan) 90.000 2009 (4.5 Bulan) 101.250 2010 ? -

JAWA TENGAH Pati Rembang Demak

JAWA TIMUR PT Garam Sampang Pamekasan Sumenep Bangkalan Gresik 5190 4246 975 1214 70 328 200.000 189.000 64.000 99.000 25.000 216.000 180.000 88.000 94.000 24.000 300.000 230.000 99.000 105.750 4000 27.000

Permasalahan yang timbul saat ini adalah bahwa kebutuhan garam nasional cenderung mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pertumbuhan penduduk dan industri. Sedangkan lahan areal pegaraman semakin terbatas karena banyak lahan pegaraman dijadikan lahan pergudangan dan perumahan sedang pembukaan lahan baru memerlukan biaya tinggi, hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap produksi nasional. Permasalahan lain dari garam Indonesia termasuk juga yang dihasilkan dari Kabupaten Pamekasan adalah kualitas garam yang dihasilkan masih rendah. Apalagi untuk memenuhi Kebutuhan garam industri dengan spesifikasi NaCl diatas 97%, kadar Ca dan Mg dibawah 400 ppm. Untuk garam industri 100% masih diimpor karena garam rakyat masih tidak memenuhi spesifikasi dengan alasan akan merusak peralatan dan maintenance menjadi tinggi karena kadar Magnesium (Mg) yang relatif tinggi disamping kadar NaCl nya yang masih rendah. Dunia usaha, karena beberapa alasan, cenderung lebih banyak menggunakan garam sebagai bahan baku/penolong yang bersumber dari impor. Hal inilah yang membuat pemerintah melakukan upaya pengaturan tata niaga garam melalui kebijakan impor garam dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 20/M-DAG/PER/9/2005 diperbaharui dengan SK Menteri Perdagangan Nomor 44 tahun 2008 dengan tujuan untuk memberikan perlindungan yang wajar bagi petani garam sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya, sementara di sisi lain diharapkan agar dunia usaha dapat lebih banyak menggunakan

garam produksi dalam negeri sebagai bahan baku/penolong selain yang bersumber dari impor. Namun dalam kenyataannya, masih banyak pelanggaran dari peraturan tata niaga garam tersebut. Diduga perusahaan/importir membeli garam rakyat tidak sesuai dengan data yang sebenarnya dan pelanggaran tata niaga garam lainnya dengan modus melakukan pembelian garam rakyat dengan harga grade 2 (K2) untuk garam rakyat yang notabene sebenarnya sudah masuk dalam kategori grade 1 (K1) sehingga mengakibatkan petani garam memproduksi garamnya tidak memperhatikan kualitas. Buat apa memproduksi K1 jika harganya tetap dianggap K2. Inilah yang akan membuat garam rakyat selalu sulit bersaing dengan garam impor secara kualitas, meskipun secara teknologi sebenarnya petani garam telah mampu untuk memproduksi garam dengan kualitas yang mendekati spesifikasi garam impor. Akibatnya adalah meskipun kebutuhan secara nasional masih jauh dari terpenuhi namun garam rakyat masih sulit untuk terjual dengan harga yang baik. Ironi ini diperparah dengan sikap dari pengusaha industri garam yang lebih menyukai garam impor meskipun secara kualitas sama dengan garam rakyat. Perlu ditingkatkan dan diingatkan kembali untuk lebih mencintai produk asli Indonesia.

Upaya untuk Meningkatkan Produksi dan Kualitas Garam Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam di Pamekasan adalah sebagai berikut: 1. Mempercepat proses evaporasi air laut Garam rakyat diproduksi secara tradisional dengan menggunakan metode penguapan dan tenaga panas matahari. Musim kemarau di Kabupaten Pamekasan berkisar antara 4 sampai 4,5 bulan. Sehingga mempunyai masa produksi yang pendek. Ketergantungan terhadap panas matahari bisa dibantu dengan beberapa teknologi yaitu: evaporasi dengan energy panas solar/listrik atau batu bara, menggunakan teknologi vakum untuk membantu proses penguapan, teknologi osmosis balik dan teknologi desalinasi.

2. Penggunaan aditive garam Saat ini telah ditemukan sebuah inovasi baru guna mempercepat proses pengkristalan garam serta meningkatkan kualitasnya. Teknologi baru tersebut yaitu dengan menambahkan garam solusi (ramsol) ke dalam air laut yang akan dijadikan garam sehingga proses produksi lebih cepat dan dengan demikian dalam suatu volume lahan dapat menghasilkan produksi garam yang berlipat ganda. Fungsi lain dari aditive ramsol ini yaitu juga untuk membersihkan air laut dari kotoran2 mineral yang tidak dikehendaki, sehingga memberikan warna putih yang cerah. Mineral-mineral pengotor seperti Mg dan Ca akan berikatan terlebih dahulu dengan ramsol dan diendapkan lebih awal sehingga garam yang dihasilkan diharapkan mengandung NaCl yang lebih tinggi. 3. Perbaikan peminihan dan perbaikan meja kristalisasi Salah satu kekurangan dari metode penggaraman yang ada di Kabupaten Pamekasan yaitu kurang optimalnya proses penguapan air laut yang ada di peminihan dan meja kristalisasi. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya air laut yang terbuang karena proses penyerapan ke dalam tanah. Hasil obeservasi di lapang menunjukkan bahwa sebagian besar lahan peminihan di tambak garam rakyat belum dilakukan proses sorkot dan guluk (proses pemerataan lahan dan proses pengerasan dasar tambak. Masih banyak dijumpai bahwa air laut di tempat peminihan kurang bersih dan banyak pengotor seperti lumut dan lumpur. Air tua yang dihasilkan dari sisa proses pembuatan garam biasanya oleh petani dibuang atau ada yang mencampurnya kembali dengan air laut yang memiliki kadar Be rendah. Padahal air tua tersebut masih bisa digunakan kembali untuk proses pembuatan garam pada musim berikutnya. Air tua bisa ditampung dalam bak atau tangki sehingga pada saat proses pembuatan garam musim berikutnya sudah tersedia dan langsung dipakai tanpa menunggu proses penuaan air laut. Proses ini bisa mempercepat siklus produksi garam.

4. Pencucian sedehana untuk meningkatkan kualitas Masih banyaknya mineral pengotor dalam garam rakyat menyebabkan kualitasnya masih rendah. Upaya untuk mengurangi mineral pengotor dalam garam yaitu bisa dilakukan pencucian garam seperti yang telah dilakukan di daerah Cirebon Jawa Barat dengan menggunakan alat pemurni garam sederhana. Alur kerja dari mesin pencuci sederhana tersebut adalah sebagai berikut:

5. Penerapan strandar kualitas garam rakyat Strandar kualitas garam rakyat di Kabupaten Pamekasan saat ini hanya berdasarkan pada hasil pengamatan secara visual saja yaitu pada warna garam, belum diterapkan pada kandungan yang ada dalam garam sesuai dengan SNI No 01-3556-REV2000, sehingga para pengusaha garam masih bisa mempermainkan harga dari garam rakyat. Banyak garam rakyat yang sudah bisa memproduksi garam kualitas bagus grade 1 (KW1), namun karena tidak

ada strandar yang dimiliki secara nyata (hasil analisa secara laboratorium) maka para pembeli tetap menghargai garam rakyat sebagai grade 2 (KW2). Sehingga dampak dari permainan harga ini adalah para petani enggan untuk memproduksi garam KW 1 apabila harganya tetap sama dengan KW2.