Anda di halaman 1dari 15

SEORANG ANAK 13 TAHUN DENGAN MIOPIA RINGAN LAPORAN KASUS Penguji kasus Pembimbing Dibacakan oleh Dibacakan tanggal

: dr. Dina Novita, SpM : dr. Hapsari Budiastuti : Habibi Setiawan : 27 Mei 2011

I.

PENDAHULUAN Tajam penglihatan dipengaruhi oleh refraksi, kejernihan media refrakta dan saraf. Bila terdapat kelainan/gangguan pada komponen tersebut, akan dapat mengakibatkan penurunan tajam penglihatan. Salah satunya adalah mata dengan miopia. Miopia termasuk ke dalam kelainan refraksi yaitu suatu keadaan mata dimana sinar-sinar sejajar dari jarak tak terhingga dibiaskan didepan retina.1,2,3 Organisasi kesehatan dunia WHO menyebutkan setidaknya 45 juta penduduk dunia buta (3/60) dan 135 juta penduduk dunia low vision (6/18). Berdasarkan riset kesehatan dasar 2007, prevalensi nasional kebutaan di Indonesia yaitu sebesar 0,9% dimana gangguan refraksi menempati urutan ke-3 setelah katarak dan glaukoma.4

II.

IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Agama Alamat Pekerjaan : An. LIS : 13 tahun : Islam : Kauman Rt 01 Rw 02 Gunung Pati Semarang : Pelajar

III.

ANAMNESIS

(anamnesis dilakukan dengan penderita sendiri pada tanggal 25 Mei 2011 di poli mata) Keluhan Utama : Penglihatan kedua mata kabur

Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak 1 tahun yang lalu penderita merasakan pandangan kabur pada kedua mata. Pandangan kabur apabila membaca jarak jauh dan huruf terlihat membayang. Pandangan kabur terjadi perlahan-lahan, dan makin lama semakin kabur. Hal ini semakin diperberat ketika penderita duduk dibangku paling belakang, namun gejala berkurang ketika pasien duduk dibangku depan. Mata merah (-), nyeri/cekot-cekot (-), nrocos (-), silau (-), kotoran mata (-). Riwayat membaca ditempat gelap (+), membaca dengan tiduran (+). 1 bulan ini, penderita merasa sangat terganggu karena penglihatannya semakin kabur, kemudian penderita berobat ke Poli Mata RSDK. Riwayat Penyakit Dahulu :
-

Riwayat sakit kencing manis disangkal Riwayat trauma pada daerah mata disangkal Riwayat penyakit mata 1 tahun terakhir disangkal Riwayat memakai kacamata sebelumnya disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini Riwayat Sosial Ekonomi : Penderita adalah pelajar kelas 1 SMP. Bapak bekerja wiraswasta membuka bengkel motor dirumah. Ibu sebagai jamkesmas Kesan : sosial ekonomi kurang IV. PEMERIKSAAN ibu ramah tangga. Orang tua menanggung 3 anak yang belum mandiri. Biaya pengobatan di tanggung

PEMERIKSAAN FISIK Status Praesen (Tanggal 25 Mei 2011) Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Baik : Komposmentis : TD : 110/70 mmHg suhu : 36,80C RR : 23x/menit

nadi : 76x/menit Pemeriksaan fisik : Kepala : mesosefal Thoraks : cor paru Abdomen Ekstremitas Status Oftalmologi (Tanggal 25 Mei 2011)

: tidak ada kelainan : tidak ada kelainan

: tidak ada kelainan : tidak ada kelainan

Oculus Dexter 5/60 5/60 S -2,5 D 6/6 Tidak dilakukan Gerak bolamata bebas ke segala arah Tidak ada kelainan Edema (-), spasme (-) Edema (-), spasme (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema (-) Injeksi (-), sekret (-) Tidak ada kelainan

VISUS KOREKSI SENSUS COLORIS PARASE/PARALYSE SUPERCILIA PALPEBRA SUPERIOR PALPEBRA INFERIOR CONJUNGTIVA PALPEBRALIS CONJUNGTIVA FORNICES CONJUNGTIVA BULBI SCLERA

Oculus Sinister 6/60 6/60 S -2,5 D 6/6 Tidak dilakukan Gerak bolamata bebas ke segala arah Tidak ada kelainan Edema (-), spasme (-) Edema (-), spasme (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema(-) Injeksi (-), sekret (-) Tidak ada kelainan
3

Jernih Kedalaman cukup, Tyndal Efek (-) Kripte (+) Bulat, central, regular, d : 3mm, RP (+) N Jernih (+) cemerlang T(digital) normal Tidak dilakukan Tidak dilakukan Pemeriksaan Binokularitas : - DET - ACT :-/: kanan = kiri

CORNEA CAMERA OCULI ANTERIOR IRIS PUPIL LENSA FUNDUS REFLEKS TENSIO OCULI SISTEM CANALIS LACRIMALIS TEST FLUORESCEIN

Jernih Kedalaman cukup, Tyndal Efek (-) Kripte (+) Bulat, central, regular, d : 3mm, RP (+) N. Jernih (+) cemerlang T(digital) normal Tidak dilakukan Tidak dilakukan

- Distorsi test : V. RESUME Seorang anak umur 13 tahun datang ke poli mata RSDK dengan keluhan Sejak 1 tahun yang lalu tidak bisa membaca jarak jauh karena kabur dan melihat huruf membayang,kabur terjadi perlahan-lahan,dan makin lama semakin kabur. Gejala diperberat ketika duduk dibangku paling belakang dan berkurang ketika duduk di bangku depan. Mata hiperemis (-), nyeri/cekotcekot (-), lacrimasi (-), fotofobia (-), sekret mata (-). Riwayat baca ditempat kurang terang (+), membaca dengan tidur (+). 1 bulan ini,penderita merasa terganggu dengan penglihatannya kemudian penderita berobat ke Poli Mata RSDK. Pemeriksaan fisik : status praesens dan pemeriksaan fisik dalam batas normal. Status Oftalmologi : Oculus Dexter 5/60 6/60 S -2,5 D 6/6 Jernih Kedalaman cukup, Tyndal Efek (-) Kripte (+) VISUS KOREKSI CORNEA CAMERA OCULI ANTERIOR IRIS Oculus Sinister 6/60 6/60 S -2,5 D 6/6 Jernih Kedalaman cukup, Tyndal Efek (-) Kripte (+)
4

Bulat, central, regular, d : 3mm, RP (+) N Jernih (+) cemerlang

PUPIL LENSA FUNDUS REFLEKS

Bulat, central, regular, d : 3mm, RP (+) N. Jernih (+) cemerlang

VI. DIAGNOSA KERJA

ODS : Miopia ringan VII. TERAPI Resep kacamata sesuai dengan koreksi VIII. PROGNOSIS Quo ad visam Quo ad sanam Quo ad vitam Quo ad cosmeticam
IX. USUL USUL 1. Kontrol pemeriksaan visus setiap tahun

OD ad bonam Dubia ad bonam ad bonam ad bonam

OS ad bonam Dubia ad bonam ad bonam ad bonam

X.

EDUKASI
Menjelaskan pada penderita tentang penyakitnya bahwa penyakitnya

tersebut bisa perbaiki dengan memakai kacamata. Menjelaskan tidak boleh membaca sambil tiduran, tidak boleh membaca ditempat remang-remang/cahaya kurang.
Kecocokan dengan kacamata yang diresepkan sekarang bisa berubah

sewaktu-waktu karena pertambahan usia dan perubahan struktur bola mata

Menjelaskan

tentang pentingnya memakai kacamata koreksi dan

menjelaskan tentang komplikasi yang akan terjadi bila tidak memakai kacamata.

XI.

DISKUSI KELAINAN REFRAKSI Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media refrakta yang terdiri atas kornea, humor aquous, lensa, vitreous humor, dan panjangnya bola mata. Pada orang normal daya bias media penglihatan dan panjangnya bola mata seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media refrakta dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Secara keseluruhan status refraksi dipengaruhi oleh 5: 1. Kekuatan kornea ( rata-rata 43 D) 2. Kekuatan lensa kristalina ( rata-rata 21 D)
3. Panjang aksial (rata-rata 24 cm)

Mata normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di makula lutea pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh.2,3 Keadaan refraksi yang tidak demikian disebut ametropia atau kelainan refraksi.2 Ametropia atau kelainan refraksi dapat disebabkan karena hal-hal berikut 5:
1. Panjang aksial bola mata yang tidak normal, yang disebut ametropia

aksial. 2. 3. 4. Kecembungan kornea atau lensa yang tidak normal, yang disebut ametropia kurvatura. Indeks refraksi yang tidak normal, disebut ametropia indeks atau ametropia refraktif Posisi lensa yang tidak normal

Terdapat tiga tipe kelainan refraksi yaitu:


a. Hipermetropia

b. Astigmatisma c. Myopia
6

Kelainan refraksi bisa diketahui dengan melakukan pemeriksaan tajam penglihatan atau visus. HIPERMETROPIA Adalah keadaan mata yang tidak berakomodasi memfokuskan bayangan dibelakang retina. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan panjang sumbu (hipermetropia aksial), seperti yang terjadi pada kelainan congenital tertentu, atau penurunan indeks refraktif ( hipermetropia refraktif ), seperti afakia. Apabila hipermetropia nya tidak terlalu besar, maka orang yang berusia muda dapat memperoleh bayangan benda jauh yang tajam dengan melakukan akomodasi, seperti yang dilakukan mata normal sewaktu membaca. Derajat hipermetropia yang mungkin diidap seseorang tanpa menimbulkan gejala seperti sebagian besar keadaan klinis, bervariasi. Namun, derajat tersebut berkurang seiring usia karena meningkatnya presbiopia ( penurunan kemampuan berakomodasi ). Hipermetropia tiga dioptri mungkin dapat ditoleransi oleh seorang remaja tetapi pada usia yang lebih lanjut mungkin memerlukan kacamata, walaupun hipermetropianya tidak meningkat. 1

Gambar. 4. Mata Hipermetropia ASTIGMATISMA. Pada astigmatisma, mata menghasilkan suatu bayangan dengan titik atau garis fokus multiple. Pada astigmatisma regular, terdapat dua meridian utama dengan
7

orientasi dan kekuatan konstan di sepanjang bukaan pupil, sehingga terbentuk dua garis focus. Astigmatisma didefinisikan berdasarkan posisi garis-garis focus ini dalam hubungan nya dengan retina. Apabila meridian-meridian utamanya saling tegak lurus dan sumbu-sumbunya terletak didalam 20 derajat horizontal dan vertical, maka astigmatisma ini dibagi lagi menjadi astigmatism with the rule ( astigmatisma direk ), dengan daya bias yang lebih besar terletak di meridian vertical. Dan astigmatism against the rule ( astigmatisma inversi ),dengan daya bias yang lebih besar terletak di meridian horizontal. Astigmatisma biasanya disebabkan oleh kelainan bentuk kornea. Lensa kristalina juga dapat berperan.

Gambar 5. Astigmatisma MIOPIA Miopia atau rabun jauh adalah kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki mata tanpa akomodasi jatuh didepan retina.2 Tipe dari myopia:
1.

Miopia aksial

Bertambah panjangnya diameter antero-posterior bola mata dari normal. Pada orang dewasa penambahan panjang aksial bola mata 1 mm akan menimbulkan perubahan refraksi sebesar 3 dioptri. Myopia aksial disebabkan oleh beberapa faktor seperti : 1. Menurut Plempius (1632), memanjangnya sumbu bolamata tersebut disebabkan oleh adanya kelainan anatomis.
2. Menurut Donders (1864), memanjangnya tekanan otot pada saat

konvergensi.6

Gambar 6. Diameter bola mata pada miopia dan bayang jatuh di depan retina.

2.

Miopia refraktif

Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumensen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Pada miopia refraktif, menurut Albert E. Sloane dapat terjadi karena beberapa macam sebab, antara lain : 1. Kornea terlalu cembung (<7,7 mm)
2. Terjadinya hydrasi/penyerapan cairan pada lensa kristalina sehingga

bentuk lensa kristalina menjadi lebih cembung dan daya biasnya meningkat. Hal ini biasanya terjadi pada penderita katarak stadium awal (imatur)
3. Terjadi peningkatan indeks bias pada cairan bolamata (biasanya terjadi

pada penderita diabetes melitus).6 Beberapa hal yang mempengaruhi resiko terjadinya miopia, antara lain: 1. Keturunan. Orang tua yang mempunyai sumbu bolamata yang lebih panjang dari normal akan melahirkan keturunan yang memiliki sumbu bolamata yang lebih panjang dari normal pula.
2. Ras/etnis. Ternyata, orang Asia memiliki kecenderungan miopia yang lebih

besar (70%-90%) dari pada orang Eropa dan Amerika (30%-40%). Paling kecil adalah Afrika (10%-20%).
3. Perilaku. Kebiasaan melihat jarak dekat secara terus menerus dapat

memperbesar resiko miopi. Demikian juga kebiasaan membaca dengan penerangan yang kurang memadai.6
9

Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam :


a. Miopia ringan, dimana myopia kecil daripada 1-3 dioptri b. Miopia sedang, dimana myopia lebih antara 3-6 dioptri c. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri

Klasifikasi miopia berdasarkan umur : 1. Congenital (sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak) 2. Youth-onset miopia (<20 tahun)
3. Early adult-onset miopia (20-40 tahun) 4. Late adult-onset miopia (>40 tahun).

Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk :


a. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa b. Miopia progresif, myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat

bertmbah panjangnya bola mata.


c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan

ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa = miopia maligna = miopia degeneratif. Miopia degeneratif atau myopia maligna bila miopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli terbentuk stafiloma, dan pada bagian temporal papil terdapat atrofi korioretina. Atrofi retina berjalan kemudian setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina.2 Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila melihat dekat, sedangkan apabila melihat jauh kabur atau disebut pasien adalah rabun jauh. Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Seorang miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil). Pasien miopia mempunyai pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap maka penderita akan terlihat juling kedalam atau esoptropia.
10

Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopik kresen yang gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus fundus mata miopia, sklera, dan koroid. Pada mata dengan miopi tinggi akan terdapat pula kelainan pada fundus okuli seperti degenerasi makula dan degenerasi retina bagian perifer. Pengobatan pasien dengan miopia adalah dengan memberikan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Sebagai contoh bila pasien dikoreksi dengan S -3,0 memberikan tajam penglihatan 6/6, bila diberi S -3,25 juga memberikan tajam penglihatan 6/6 maka sebaiknya diberi lensa koreksi S -3,0 agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik sesudah koreksi.2,3 Pada keadaan Anisometropia yaitu dimana mata mempunyai kelainan refraksi yang tidak sama pada mata kanan dan mata kiri yang melebihi 2,5-3 D. Anisometropia akan mengakibatkan perbedaan tajam penglihatan aniseikonia dimana besar bayangan antara mata kanan-kiri berbeda / tidak sama besar dikarenakan adanya perbedaan visus sehingga terjadi gangguan fusi dan otak menjadi bingung. Diagnosis Miopia Untuk mendiagnosis miopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan pada mata, pemeriksaan tersebut adalah : 1. Refraksi Subyektif Diagnosis miopia dapat ditegakan dengan pemeriksaan refraksi subyektif, seperti yang telah diterangkan sebelumnya metode yang digunakan adalah dengan metode trial and error jarak pemeriksaan 6 m dengan menggunakan kartu Snellen. 2. Refraksi Obyektif Yaitu menggunakan retinoskopi, dengan lensa kerja sferis +2,00D pemeriksa mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan retinoskop (against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis negatif sampai tercapai netralisasi. 3. Autorefraktometer (komputer) Yaitu menentukan miopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan komputer.6

11

Gambar 2. Visus normal, mata Miopia, dan mata miopia yang sudah dikoreksi.6

Terapi Koreksi terhadap miopia dapat dilakukan diantarannya dengan : Kacamata Kacamata masih merupakan metode paling aman untuk memperbaiki refraksi. Lensa kontak Lensa kontak yang biasanya digunakan ada 2 jenis yaitu, lensa kontak keras yang terbuat dari bahan plastik polimetilmetacrilat (PMMA) dan lensa lunak. Lensa kontak keras secara spesifik diindikasikan untuk koreksi astigmatisma ireguler, sedangkan lensa kontak lunak digunakan untuk mengobati gangguan permukaan kornea. Salah satu indikasi penggunaan lensa kontak adalah untuk koreksi miopia tinggi, dimana lensa ini menghasilkan kualitas bayangan lebih baik dari kacamata. Namun ada komplikasi dari penggunaan lensa baik dari mengakibatkan iritasi kornea atau pembentukan pembuluh darah kornea. Oleh karena itu harus dilakukan pemeriksaan berkala pada pemakai. Bedah keratoretraktif Bedah keratorefraktif mencakup serangkaian metode untuk mengubah kelengkungan permukaan anterior bola mata.
Lensa intraokuler 12

Pasien ini didiagnosis sebagai myopia ringan dengan dasar pemikiran sebagai berikut: 1. Anamnesis: - Penderita anak perempuan berusia 13 tahun - Penglihatan kedua mata kabur apabila membaca jauh, kabur terjadi secara perlahan-lahan dan semakin lama semakin kabur. - Tidak ada keluhan mata hiperemis, nyeri / cekot-cekot, lacrimasi, fotofobia maupun secret pada mata. - Gejala diperberat jika penderita duduk dibangku paling belakang dan berkurang ketika penderita duduk dibangku depan - Terdapat riwayat membaca di tempat kurang terang dan membaca dengan tiduran 2. Pemeriksaan oftalmologis: - Visus VOD = 5/60 S -2,5 D 6/6 VOS = 6/60 S -2,5 D 6/6 - ODS : Kornea jernih COA kedalaman cukup, Tyndal efek (-) Lensa jernih Fundus reflex (+) cemerlang Dalam kasus ini, penderita diberikan terapi berupa kacamata sesuai dengan koreksinya. Kontrol setiap tahun karena kemungkinan adanya perubahan struktur maupun kemampuan akomodasi mata. Memberikan edukasi agar penderita tidak membaca sambil tiduran ataupun ditempat dengan pencahayaan yang kurang.

13

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan DG, Taylor A, Paul R. Oftalmologi umum edisi 14.

Jakarta : Widya Medika,2000


2. Ilyas S. Kelainan refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta:

Balai penerbit FK UI,2004


3. Ilyas S. Optik dan refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata untuk

dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: Balai penerbit Sagung Seto,2002 4. www.wartamedika.com 5. Univ. Sumatra Utara [repository] 2008. Avalaible from: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3438/1/09E01854.pdf
6. ifan050285.wordpress.com/2010/03/22/miopia/

7. drshafa.wordpress.com/2010/03/09/miopia

15