Anda di halaman 1dari 24

Low back pain

PATOFISIOLOGI Pinggang merupakan pengemban tubuh dari toraks sampai perut. bagian belakang terdiri dari lumbal dan tulang belakang pada umumnya. Tiap ruas tulang belakang berikut diskus intervertebralis sepanjang kolumna vertebralis merupakan satuan anatomik dan fisiologik. Bagian depan berupa korpus vertebralis dan diskus intervertebralis yang berfungsi sebagai pengemban yang kuat dan tahan terhadap tekanan-tekanan menurut porosnya. Berfungsi sebagai penahan tekananadalah nukleus pulposus. Dalam keseluruhan tulang belakang terdapat kanalis vertebralis yang didalamnya terdapat medula spinalis yang membujur ke bawah sampai L 2. Melalui foramen intervertebralis setiap segmen medula spinalis menjulurkan radiks dorsalis dan ventralisnya ke periferi. Di tingkat servikal dan torakal, berkas serabut tepi itu menuju ke foramen tersebut secara horizontal. Namun di daerah lumbal dan sacrum berjalan secara curam ke bawah dahulu sebelum tiba intervertebralis yang bersangkutan. Hal tersebut dikarenakan medula spinalis membujur hanya sampai L 2 saja. Otot-otot yang terdapat di sekeliling tulang belakang mempunyai origo dan insersio. pada prosesus transversus atau prosesus spinosus. Stabilitas kolumna vertebrale dijamin oleh ligamenta secara pasif dan secara aktif oleh otot-otot tersebut. Ujung-ujung serabut penghantar impuls nyeri terdapat di ligamenta, otot-otot, periostium, lapisan luar anulus fibrosus dan sinovia artikulus posterior. ETIOLOGI Etiologi low back pain dapat dihubungkan dengan hal-hal sebagai berikut : 1. Proses degeneratif, meliputi: spondilosis, HNP, stenosis spinalis, osteoartritis. Perubahan degeneratif pada vertebrata lumbosakralis dapat terjadi pada korpus vertebrae berikut arkus dan prosessus artikularis serta ligamenta yang menghubungkan bagian-bagian ruas tulang belakang satu dengan yang lain. Dulu

proses ini dikenal sebagai osteoartrosis deforman, tapi kini dinamakan spondilosis. Perubahan degeneratif ini juga dapat menyerang anulus fibrosis diskus intervertebralis yang bila tersobek dapat disusul dengan protusio diskus intervertebralis yang akhirnya menimbulkan hernia nukleus pulposus (HNP). Unsur tulang belakang lain yang sering dilanda proses degeneratif ini adalah kartilago artikularis yang dikenal sebagai osteoartritis. 2. Penyakit Inflamasi LBP akibat inflamasi terbagi 2 yaitu,: artritis rematoid yang sering timbul sebagai penyakit akut dengan ciri persendian keempat anggota gerak terkena secara serentak atau selisih beberapa hari/minggu. Spondilitis angkilopoetika, dengan keluhan sakit punggung dan sakit pinggang yang sifatnya pegal-kaku dan pada waktu dingin dan sembab linu dan ngilu dirasakan. 3. Osteoporotik Sakit pinggang pada orang tua dan jompo, terutama kaum wanita, seringkali disebabkan oleh osteoporosis. Sakit bersifat pegal, tajam atau radikular. 4. Kelainan Kongenital Anomali kongenital yang diperlihatkan oleh foto rontgen polos dari vertebrae lumbosakralis sering dianggap sebagai penyebab LBP meskipun tidak selamanya benar. Contohnya adalah lumbalisasi atau adanya 6 bukan 5 korpus vertebrae lumbalis merupakan variasi anatomik yang tidak mengandung arti patologik. Demikian pula pada sakralisasi, yaitu adanya 4 bukan 5 korpus vertebrae lumbalis. 5. Gangguan Sirkulatorik Aneurisma aorta abdominalis dapat membangkitkan LBP yang hebat dan dapat menyerupai sprung back atau HNP. Gangguan sirkulatorik yang lain adalah trombosis aorta terminalis yang perlu mendapat perhatian karena mudah didiagnosa sebagai lumbal, namun motalitas tulang belakang bagian lumbal masih sempurna, walaupun hiperekstensi dapat menimbulkan perasaan tidak enak tidak memperlihatkan kelainan yang relevan. 2. Pada Herniasi Diskus Lumbal hiperfleksi dan Lordosis yang menonjol Tidak

ditemukan gangguan sensibilitas, motorik, dan refleks pada tendon Foto rontgen lumbosakral

Nyeri punggung yang onsetnya perlahan-lahan, bersifat tumpul atau terasa tidak enak, sering intermiten, wala kadang onsetnya mendadak dan berat. Diperhebat oleh aktivitas atau pengerahan tenaga serta mengedan, batuk atau bersin. Menghilang bila berbaring pada sisi yang tidak terkena dengan tungkai yang sakit difleksikan. Sering terdapat spasme refleks otot-otot paravertebrata yang menyebabkan nyeri sehingga membuat pasien tidak dapat berdiri tegak secara penuh. Setelah periode tertentu timbul skiatika atau iskialgia. 3. LBP pada Spondilosis Kompresi radiks sulit dibedakan dengan yang disebabkan oleh protrusi diskus, walaupun nyeri biasanya kurang menonjol pada spondilisis. Dapat muncul distesia tanpa nyeri pada daerah distribusi radiks yang terkena. Dapat disertai kelumpuhan otot dan gangguan reflex. Terjadi pembentukan osteofit pada bagian sentral dari korpus vertebra yang menekan medula spinalis. Kauda ekuina dapat terkena kompresi pada daerah lumbal bila terdapat stenosis kanal lumbal. 4. LBP pada Spondilitis Tuberkulosis Terdapat gejala klasik tuberkulosis seperti penurunan berat badan, keringat malam, demam subfebris, kakeksia. Gejala ini sering tidak menonjol. Pada lokasi infeksi sering ditemukan nyeri vertebra/lokal dan menghilang bila istirahat. Gejala dan tanda kompresi radiks atau medula spinalis terjadi pada 20% kasus (akibat abses dingin) Onset penyakit dapat gradual atau mendadak (akibat kolaps vertebra dan kifosis). Diawali nyeri radikular yang mengelilingi dada atau perut, diikuti paraparesis yang lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus, hiperrefleksia dan refleks Babinsky bilateral. Dapat ditemukan deformitas dan nyeri ketok tulang vertebra. Penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan motorik. 5. LPB pada Spondilitis Ankilopoetika Biasanya dirasakan pada usia 20 tahun. Tidak hilang dengan istirahat dan tidak diperberat oleh gerakan. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembatasan gerakan di sendi sakrolumbal dan seluruh tulang belakang lumbal. Laju endap darah meninggi. Terjadi osifikasi ligamenta interspinosa. PEMERIKSAAN 1. Riwayat penyakit dengan perhatian khusus pada lokasi dan penjalaran nyeri, posisi tubuh yang menimbulkan atau memperberat nyeri, trauma, ligitasi (medikolegal),
3

obat-obat penghilang nyeri yang dipakai dan jumlah yang dibutuhkan, kemungkinan keganasan. 2. Pemeriksaan fisis, dengan perhatian khusus pada tanda-tanda infeksi sistemis, tanda-tanda keganasan yang tersembunyi, nyeri tekan lokal atau pada insisura iskiatika, spasme otot, ruang lingkup gerakan, tes angkat tungkai lurus (Laseque), dan pemeriksan rektum (tonus sfingter dan prostat). 3. Pemeriksaan neurologis, dengan perhatian khusus pada afek dan alam perasaan, kelemahan otot, atrofi, atau fasikulasi, defisit sensorik termasuk perineum, refleks (tendon dalam, abdominal, anal, kremaster). refleks (tendon dalam, abdominal, anal, kremaster). 4. Pemeriksaan laboratorium yaitu foto rontgen polos (posterior, lateral, oblik) hitung darah lengkap dan laju endap darah, serum : kreatinin, kalsium, fosfat, alkali fosfatase, asam urat, fosfatase asam (pria), gula darah puasa. 5. Pemeriksaan khusus (misalnya sken tulang, gula darah 2-jam postprandial, sken magnetik resonan, sken tomografik, mielografi) bergantung pada hasil pemeriksaan rutin di atas. PENATALAKSANAAN Nyeri modalitas. jangka pinggang dapat obat disertai diatasi dengan dengan non pemberian steroid obat-obatan, (OAINS) efek istirahat samping dan untuk dan

Pemberian

anti

inflamasi

diperlukan

waktu pendek

penjelasan

kemungkinan

interaksi obat. Tidak dianjurkan penggunaan muscle relaxan karena memiliki efek depresan. Namun pada pasien dengan depresi premorbid atau timbul depresi akibat rasa nyeri, penggunaan anti depresan campuran dianjurkan. antara Untuk pengobatan simptomatis lainnya, kadang memerlukan obat analgesik, antiinflamasi,OAINS,

dan penenang. Istirahat secara umum atau lokal banyak memberikan manfaat. Tirah baring pada alas keras dimaksudkan untuk mencegah melengkungnya tulang punggung. Modalitas dapat berupa kompres es, semprotan etil klorida, dan fluorimetan. Tidak semua nyeri dapat diatasi dengan

cara-cara di atas. Terkadang diperlukan tindakan injeksi anestetik atau antiinflamasi steroid pada tempat-tempat seperti pada faset, radiks saraf, epidural, intradural. Bahkan untuk beberapa kasus LBP dibutuhkan pembedahan. 1. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) NSAID dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yaitu golongan salisilat (diantaranya aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesium salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid), golongan asam arilalkanoat (diantaranya diklofenak, indometasin, proglumetasin, dan oksametasin), golongan profen/asam 2- arilpropionat (diantaranya ibuprofen, alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac), golongan asam fenamat/asam N-arilantranilat (diantaranya asam mefenamat, asam flufenamat, dan asam tolfenamat),golongan turunan pirazolidin (diantaranya fenilbutazon, ampiron, metamizol, dan fenazon), golongan oksikam (diantaranya piroksikam, dan meloksikam), golongan penghambat COX-2 (celecoxib, lumiracoxib), golongan sulfonanilida (nimesulide), serta golongan lain (licofelone dan asam lemak omega 3). Sebagian besar NSAID adalah asam lemah, dengan pKa 3-5, diserap baik pada lambung dan usus halus. NSAID juga terikat dengan baik pada protein plasma (lebih dari 95%), pada umumnya dengan albumin. Hal ini menyebabkan volume distribusinya bergantung pada volume plasma. NSAID termetabolisme di hati oleh proses oksidasi dan konjugasi sehingga menjadi zat metabolit yang tidak aktif, dan dikeluarkan melalui urin atau cairan empedu. NSAID merupakan golongan obat yang relatif aman, namun ada 2 macam efek samping utama yang ditimbulkannya, yaitu efek samping pada saluran pencernaan (mual, muntah, diare, pendarahan lambung, dan dispepsia) serta efek samping pada ginjal (penahanan garam dan cairan, dan hipertensi). Efek samping ini tergantung pada dosis yang digunakan. Obat ini tidak disarankan untuk digunakan oleh wanita hamil, terutama pada trimester ketiga. Namun parasetamol dianggap aman digunakan oleh wanita hamil, namun harus diminum sesuai aturan karena dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan hati. 2. Semprotan Etil klorida Etil klorida merupakan anestesi topikal secara aerosol dengan cara membekukan kulit. Ketika digunakan secara topikal pada kulit, Etil Kloride membentuk efek pendinginan pada permukaan kulit dengan cara menguap secara cepat. Dingin yang diciptakan oleh semprotan tersebut mengganggu kemampuan tubuh untuk merasakan sakit. Hal ini terjadi karena dingin mengurangi kecepatan antaran saraf dari serat C dan serat A-delta. Hal ini mengganggu input
5

nociceptive (rangsangan ke otak sehingga menimbulkan sensasi rasa sakit) ke sumsum tulang belakang. Proses ini mematikan sementara daerah tersebut. DAFTAR PROGRAM LATIHAN LBP Tujuan pemberian latihan pada LBP adalah : 1. Mengurangi hiperlordosis lumbal /memperbaiki postur tubuh 2. Membiasakan diri untuk melakukan gerakan -gerakan yang sesuai dengan biomekanik tulang punggung Secara operasional, pemberian latihan ini ditujukan untuk : 1. Mengurangi gaya yang bekerja pada tulang punggung dengan cara mengurangi berat badan 2. Memperkuat otot-otot yang kurang kuat, terutama otot dinding perut, otot gluteus maksimus dan medius, dan otot punggung 3. Meregangkan otot-oto yang memendek, terutama otot punggung dan otot hamstrings 4. Mengurangi posisi bahu dan punggung bagian atas yang terlalu menekuk ke depan 5. Mengurangi spasme otot-otot Beberapa hal penting sebelum melakukan latihan 1. Tidak ada penyakit lain yang membahayakan bila dilakukan latihan 2. Latihan harus dilakukan setiap hari, pagi dan sore dan selalu dimulai dengan intensitas yang ringan dan secara bertahap ditingkatkan 3. Latihan dilakukan pada dasar yang datar, dianjurkan dilantai dengan alas karpet 4. Posisi awal latihan adalah berbaring terlentang, lutut fleksi, kedua telapak kaki menempel lantai seluruhnya dan kedua lengan dan taangan rileks di samping tubuh 5. Setiap latihan diulangi 5x dan bertahap dinaikkan sampai 10 x , dilakukan dengan pelan-pelan dan hati-hati, tidak perlu tergesa-gesa dan jangan terlalu banyak dengan cara mengejan. Teknik Latihan Sikap dasar adalah telentang Pelvic Tilting

Untuk menguatkan otot gluteus maksimus dan mencegah hiperlordosis lumbal Teknik : menekankan punggung pada alas sambil menegangkan otot perut dan kedua otot gluteus maksimus. Pertahankan selama 5-10 hitungan. Lutut ke dada Untuk meregangkan otot punggung yang tegang dan spasme Teknik : tarik lutut ke dada bergantian semaksimal mungkin tanpa menimbulkan rasa sakit, dipertahankan 5-10 detik, lakukan juga dengan kedua lutut. Meregangkan tubuh bagian lateral Untuk meregangkan otot lateral tubuh yang tegang Teknik ; dengan tangan di bawah kepala dan siku menempel pada alas, paha kanan disilangkan ke paha kiri kemudian tarik kesamping kanan dan kiri sejauh mungkin, lakukan juga dengan menyilangkan paha kiri di atas paha kanan. Straight LegRaising Untuk meregangkan dan menguatkan otot hamstring dan gluteus Teknik : satu lutut kanan di tekuk, kaki kiri di naikkan ke atas tanpa bantuan lengan dan tangan , dipertahankan 5-10 detik, ulangi sebaliknya Sit Up Untuk menguatkan otot perut dan punggung bawah Teknik : pelan-pelan menaikkan kepala dan leher sehingga dagu menyentuh dada, diteruskan dengan mengangkat punggung bagian sampai kedua tangan mencapai lutut (tangan diluruskan), sedangkan punggung bagian tengah dan bawah tetap menempel pada dasar idung ke lutut Untuk memperkuat otot perut dan meregangkan otot iliopsoas Teknik : dengan posisi menekuk , lutut secara bergantian ditarik sampai ke hidung, pertahankan 5-10 detik, lakukan pada lutut satunya. Gerakan gunting Untuk meregangkan dan menguatkan otot hamstring, punggung, gluteus dan abdomen Teknik : kedua tangan di belakang kepala, tarik kedua tungkai ke atas, kemudian kedua kaki disilangkan, tungkai ditarik ke muka belakang bergantian, lakukan 10 kali, kemudian ke samping kanan dan samping kiri Hiperestensi sendi paha
7

Untuk menguatkan otot gluteus dan punggung bawah serta meregangkan otot fleksor paha Teknik ; dengan posisi tengkurap, tungkai ditarik ke atas , ulangi pada kaki sebelahnya. Ada pun nasehat yang perlu diberikan pada penderita LBP sebagai berikut : a. Waktu berdiri - Jangan memakai sepatu dengan hak tinggi - Jangan berdiri waktu yang lama, selingi dengan jongkok - Berdiri dengan satu kaki diletakkan lebih tinggi untuk mengurangi hiperlordosis lumbal - Bila mengambil sesuatu di tanah, jangan membungkuk, tapi tekuklah lutut - Bila mengangkat benda berat, renggangkan kedua kaki lalu tekuklah lutut dan punggung tetap tegak dan angkatlah barang tersebut sedekat mungkin dengan 14 bWaktu berjalan - Berjalanlah dengan posisi tegak, rileks dan jangan tergesa-gesa c.Waktu duduk Pilihlah tempat duduk dengan criteria : Busa jangan terlalu lunak - Punggung kursi berbentuk huruf S - Bila duduk seluruh punggung harus sebanyak mungkin kontak dengan kursi Bila duduk waktu lama, letakkan satu kaki lebih tinggi dari yang satunya d. Waktu tidur -Waktu tidur punggung dalam keadaan mendatar ( jangan pakai alas dari per ) e. Olah raga - Hindari oleh raga beregu, satu lawan satu karena akan meningkatkan stress pada punggung - Dianjurkan oleh raga perorangan seperti renang dan jogging

Askep RENCANA KEPERAWATAN Perubahan Kenyamanan : nyeri bd refleks spasme otot Data Subjektif : Komunikasi (verbal atau penggunaan kode) tentang nyeri yang dideskripsikan. Objektif : Perilaku yang sangat hati-hati, perlindungan. Memusatkan diri. Mempersempit fokus (perubahan persepsi waktu, gangguan proses berpikir). Perilaku distraksi (mengerang, menangis, mondar-mandir, mencari orang lagi, gelisah). Raut wajah kesakitan (mata kuyu, terlihat lelah, meringis) Perubahan tonus otot (tidak bergairah sampai kaku) Respons-respons autonom (diaforesis, perubahan tekanan darah dan nadi), dilatasi pupil, perubahan frekwensi napas. Kriteria hasil : Individu akan 1. Memperlihatkan bahwa orang lain membenarkan nyeri itu ada. 2. Memperlihatkan pengurangan nyeri setelah melakukan tindakan penurunan rasa nyeri yang memuaskan. Anak-anak akan, berdasarkan usia dan kemampuannya : 1. Mengidentifikasi sumber-sumber nyeri. 2. Mengidentifikasi aktivitas yang akan meningkatkan dan menurunkan nyeri. 3. Menggambarkan rasa nyaman dari orang-orang lain selama mengalami nyeri. Intervensi :
9

1. Tingkatkan pengetahuan 1. Jelaskan sebab-sebab nyeri kepada individu, jika diketahui. 2. Menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung, jika diketahui. 3. Jelaskan pemeriksaan diagnostik dan prosedur secara detail dengan menghubungkan ketidaknyamanan dan sensasi yang akan dirasakan, dan perkiraan lamanya terjadi nyeri. 2. Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi rasa takut. 3. Hubungkan penerimaan anda tentang respons individu terhadap nyeri. 1. Mengenali adanya rasa nyeri. 2. Mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai nyeri. 3. Memperlihatkan bahwa anda sedang mengkaji nyeri karena anda ingin mengerti lebih baik (bukan untuk menentukan apakah nyeri tersebut benar-benar ada). 2. Kaji keluarga untuk mengetahui adanya kesalahan konsep tentang nyeri atau penanganannya. 3. Bicarakan alasan-alasan mengapa individu dapat mengalami peningkatan atau penurunan nyeri (mis; keletihan meningkatkan nyeri, distraksi menurunkan nyeri). 1. Berikan dorongan anggota keluarga untuk saling menceritakan rasa prihatinnya secara pribadi. 2. Kaji apakah keluarga menyangsikan nyeri dan bicarakan pengaruhnya pada individu yang mengalami nyeri. 3. Anjurkan keluarga untuk tetap memberikan perhatian walaupun nyeri tidak diperlihatkan. 4. Berikan kesempatan kepada individu untuk istirahat selama siang dan waktu tidur yang tidak terganggu pada malam hari. 5. Bicarakan dengan individu dan keluarga penggunaan terapi distraksi, bersamaan dengan metode lain untuk menurunkan nyeri. 6. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut, bernapas dengan teratur. 7. Ajarkan penurunan nyeri noninvasif

1. Relaksasi

Intruksikan teknik-teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri.

Tingkatkan relaksasi pijat punggung, masase, atau mandi air hangat. Ajarkan teknik relaksasi khusus (mis; bernapas perlahan, teratur, dan napas dalam-kepalkan tinju-menguap)

2. Stimulasi kutan

Bicarakan dengan individu berbagai metoda stimulasi kulit dan efekefeknya pada nyeri.

Bicarakan setiap metoda berikut ini dan tindakan kewaspadaannya: Botol air panas Bantalan pemanas listrik Mandi rendam air hangat Kantung panas lembab Hangatnya sinar matahari Selimut dari plastik diatas area yang sakit untuk menahan panas tubuh (mis;lutut, siku)

Bicarakan setiap metoda berikut dan tindakan kewaspadaannya: Handuk dingin (diperas) Rendaman air dingin Kantung es Kantung jeli dingin Masase es

Jelaskan manfaat terapeutik dari preparat mentol dan masase/pijat punggung.

2. Berikan individu pengurang rasa sakit yang optimal dengan analgesik. 3. Setelah pemberian pengurang rasa sakit, kembali 30 menit kemudian untuk mengkaji
11

efektifitasnya. 4. Berikan informasi yang akurat untuk meluruskan kesalahan konsep pada keluarga (mis; ketagihan, ragu-ragu tentang nyeri). 5. Berikan individu kesempatan untuk membicarakan ketakutan, marah, dan rasa frustrasinya di tempat tersendiri, pahami kesukaran situasi. 6. Berikan dorongan individu untuk membicarakan pengalaman nyerinya. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidakaktifan sekunder terhadap nyeri Data yang harus ada Perubahan respons terhadap aktivitas Pernapasan : Dispnoe Takipnoe Sesak napas Nadi Lemah Frekwensi menurun Frekwensi meningkat Tekanan darah Gagal meningkat dengan aktivitas Diastolik meningkat 15 mmHg

Data yang mungkin ada : Pucat atau sianosis Kekacauan mental Kelemahan Keletihan

Vertigo

Kriteria hasil Individu akan : 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktifitas 2. Memperlihatkan kamajuan (ketingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin) 3. Memperlihatkan penurunan tanda-tanda hipoksia terhadap aktifitas (nadi, tekanan darah, pernapasan) 4. Melaporkan reduksi gejala-gejala intoleransi aktivitas Intervensi 1. Kaji respon individu terhadap aktivitas 1. Ukur nadi, tekanan darah, pernapasan saat istirahat 2. Ukur tanda vital segera dan 3 menit setelah istirahat. 3. Hentikan aktivitas klien bila :

Keluhan nyeri dada, dispnoe, vertigo, kekacauan mental Frekwensi nadi menurun Tekanan sistolik menurun Tekanan diastolik meningkat 15 mmHg Frekwensi pernapasan menurun

4. Kurangi intensitas, frekwensi, lamanya aktivitas bila

Frekwensi nadi lebih dari 3 menit untuk kembali frekwensi awal (atau 6 denyut lebih cepat dari frekwensi awal).

Frekwensi pernapasan meningkat berlebihan setelah aktivitas. Terdapat tanda-tanda hipoksia.

2. Meningkatkan aktivitas secara bertahap 1. Untuk klien yang pernah tirah baring lama, mulai melakukan rentang gerak sedikitnya 2 kali sehari.
13

2. Rencanakan waktu istirahat sesuai dengan jadwal sehari-hari klien. 3. Berikan kepercayaan kepada klien bahwa mereka dapat meningkatkan status mobilitasnya. 4. Beri penghargaan pada kemajuan yang dicapai. 5. Beri kesempatan klien membuat jadwal aktivitas dan sasaran pencapaian. 6. Tingkatkan toleransi dengan membiarkan klien melakukan aktivitas yang lebih lambat, lebih banyak istirahat, atau dengan banyak bantuan. 7. Secara bertahap tingkatkan aktivitas diluar tempat tidur 15 menit setiap hari, tiga kali sehari. 8. Izinkan klien untuk mengatur frekwensi ambulasi. 9. Anjurkan klien untuk memakai alas kaki yang nyaman. 3. Ajarkan klien metoda penghematan energi untuk aktivitas. 1. Luangkan waktu untuk istirahat. 2. Lebih baik duduk daripada berdiri saat melakukan aktivitas, kecuali hal ini memungkinkan. 3. Saat melakukan suatu aktivitas, istirahat setiap 3 menit selama 5 menit untuk membiarkan jantung pulih. 4. Hentikan aktivitas jika keletihan atau terlihat tanda-tanda hipoksia. 4. Instruksikan klien untuk konsulasi kepada dokter atau ahli terapi fisik untuk program latihan jangka panjang. 5. Rujuk kepada perawat komunitas untuk tindak lanjut jika diperlukan Risiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek-efek iritan mekanika atau tekanan sekunder terhadap tirah baring Data mayor Gangguan kornea, integumen, atau jaringan membran mukosa atau invasi struktur tubuh (insisi, ulkus dermal, ulkus kornea, lesi oral Data minor

Lesi Edema Eritema Kekeringan membran mukosa Leukoplakia Lidah kotor

Kriteria hasil Individu akan : 1. Mengidentifikasi penyebab kerusakan jaringan mekanik. 2. Berpartisipasi dalam perencanaan untuk meningkatkan penyembuhan luka. 3. Memperlihatkan kemajuan penyembuhan luka jaringan. Intervensi 1. Anjurkan mobilitas pada tingkat yang paling tinggi untuk menghindari periode tekanan yang lama. 2. Untuk kerusakan neuromuskular 1. Ajarkan klien/orang terdekat tindakan yang tepat untuk mencegah tekanan, robekan, gesekan, maserasi. 2. Ajarkan untuk mengenali tanda-tanda awal kerusakan jaringan 3. Ubah posisi sedikitnya setiap 2 jam. 4. Dengan sering tingkatkan perputaran tubuh dengan pengangkatan minor dalam berat badan. 3. Jaga kulit tetap bersih dan kering. 4. Hindari pengelupasan epidermis saat melepas plester. 5. Gunakan alat yang menyebarkan tekanan jika diperlukan 6. Batasi posisi kepala pada klien berisiko tinggi sampai kurang dari 30. Hindari penggunaan tempat tidur yang bagian lututnya dapat terlipat.
15

7. Gunakan metoda untuk menampung inkontinensia usus atau kandung kemih. 8. Ajarkan aplikasi yang tepat dari kantong stoma. 9. Gunakan teknik kantong stoma untuk menahan drainase dari fistula/ulkus. 10. Anjurkan sabun ringan yang tidak merubah pH kulit. 11. Ajarkan menggunakan sarung tangan/baju pelindung apabila menggunakan produk kimia dalam lingkungan pekerjaan. Kerusakan integritas jaringan kulit Definisi Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kerusakan jaringan epidermis dan dermis. Faktor yang berhubungan (Lihat kerusakan integritas jaringan) Data mayor Gangguan jaringan kulit epidermis dan dermis Data minor Pencukuran kulit Eritema Lesi Pruritus

Kriteria hasil Individu akan : 1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab untuk ulkus karena tekanan. 2. mengidentifikasi rasional untuk pencegahan dan pengobatan. 3. berpartisipasi dalam rencana pengobatan yang dianjurkan untuk meningkatkan penyembuhan luka. 4. Memperlihatkan kemajuan penyembuhan luka ulkus dermis.

Intervensi 1. Identifikasi tahap perkembangan ulkus dekubitus 1. Tahap I : Eritema yang tidak memutih dari kulit yang utuh. 2. Tahap II : Ulserasi pada epidermis dan/atau dermis. 3. Tahap III : Ulserasi meliputi lemak sub kutan 4. Tahap IV : Ulserasi menembus otot rangka atau struktur penunjang. 2. Cuci area yang kemerahan dengan lembut menggunakan sabun ringan, bilaslah seluruh area dengan bersih untuk menghilangkan sabun dan keringkan. 3. masase dengan lembut kulit sehat disekitar area yang sakit untuk merangsang sirkulasi; jangan masase area jika tampak kemerahan. 4. Lindungi permukaan kulit yang sehat dengan satu atau kombinasi berikut. 1. Oleskan lapisan tipis cairan coplymer skin sealant. 2. Tutup area dengan balutan film permeable lembab. 5. Tingkatkan masukan protein dan karbohidrat untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif; timbang individu setiap hari dan tentukan kadar albumin serum setiap minggu untuk memantau status. 6. Pikirkan rencana penatalaksanaan luka tekan dengan menggunakan prinsip-prinsip penyembuhan luka : 1. Kaji status luka tekan (warna, bau, jumlah drainase dari luka dan sekeliling kulit) 2. Bersihkan jaringan nekrotik (kolaborasi dengan dokter) 3. Bilas dasar ulkus dengan cairan salin steril. 4. Lindungi tepi luka yang sedang granulasi dari trauma. 5. Tutup luka tekan dengan balutan steril sehingga dapat mempertahankan lingkungan di atas dasar ulkus tetap lembab (mis; balitan film, balutan kassa lembab). 6. Hindari agen-agen magnesium).
17

yang

dapat mengeringkan

(lampu

pemanas,

cream

7. Pantau tanda-tanda klinis dari infeksi luka. 7. Kunsulkan dengan perawat spesialis atau dokter untuk pengobatan luka tekan tahap IV. 8. Rujuk ke agensi keperawatan komunitas jika diperlukan tambahan bantuan di rumah. Risiko kerusakan jaringan kulit Kriteria hasil Individu akan : 1. Mengekspresikan hasrat untuk ikut serta dalam pencegahan luka tekan. 2. Menggambarkan etiologi dan tindakan-tindakan pencegahan. 3. Memperlihatkan integritas kulit bebas dari luka tekan. Intervensi 1. Pertahankan kecukupan masukan cairan untuk hidrasi yang adekuat ( + 2500 ml/hari, kecuali ada kontraindikasi). Periksa membran mukosa dalam mulut terhadap kelembaban dan periksa berat jenis urine. 2. Tetapkan jadwal untuk pengosongan kandung kemih (mulai dengan setiap 2 jam). Jika individu mengalami kekacauan mental, tetapka bagaimana pola kontinens dan lakukan intervensi sebelum terjadi inkontinens. Jelaskan masalah kepada individu dan pastikan kerjasama untuk perencanaan. 3. Apabila terjadi inkontinens, cuci perineum dengan cabun cair yang tidak merubah pH kulit dan oleskan pelindung untuk daerah perineal (pembersih). 4. Berikan dorongan latihan rentang gerak dan mobilitas gerak badan, bila mungkin. 5. Ubah posisi atau instruksikan individu untuk berbalik atau mengangkat badan setiap 30 menit sampai 2 jam, tergantung pada faktor penyebab lain dan kemampuan kulit untuk pulih dari tekanan. 6. frekwensi dari jadwal mengubah posisi tubuh harus ditingkatkan jika ada area yang memerah yang tampak tidak hilang dalam 1 jam. 7. Pertahankan tempat tidur sedatar mungkin untuk mengurangi kekuatan gesekan; batasi posisi fowlers hanya 30 menit pada suatu waktu. 8. Gunakan jumlah staf yang cukup untuk mengangkat pasien di tempat tidur atau kursi

daripada menarik atau mendorong permukaan kulit. 9. Instruksikan individu untuk mengangkat dirinya dengan menggunakan lengan kursi setiap 10 menit jika mungkin atau bantu individu bangkit dari kursi setiap 10-20 menit, tergantung pada faktor-faktor risiko yang ada. 10. Amati adanya eritema dan kepucatan, dan lakukan palpasi untuk mengetahui adanya kehangatan dan jaringan seperti spon pada setiap perubahan posisi. 11. Jangan gosok area kemerahan atau menggosok diatas tonjolan tulang. 12. Tingkatkan masukan karbohidrat dan protein untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif; timbang individu setiap hari dan tentukan kadar albumin serum setiap minggu untuk memantau status. 13. Instruksikan individu dan keluarga tentang teknik-teknik spesifik yang digunakan dirumah untuk mencegah ulkus akibat tekanan. ASUHAN KEPERAWATAN HERNIA NUKLEUS PULPOSUS A.. Konsep Dasar HNP A.Pengertian Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002) Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990) B. Patofisiologi Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma *jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang
19

seperti mengangkat) kartilago dapat cedera. Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal. Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior. Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan. C. Manifestasi Klinis Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh). D. Pemeriksaan Diagnostik 1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang 2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal. 3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I 4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena. E. Penatalaksanaan

1. Pembedahan Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik. Macam : a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra. d. Disektomi dengan peleburan. 2. Immobilisasi Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace. 3. Traksi Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban. 4. Meredakan Nyeri Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid. B. Konsep Dasar Keperawatan A. Pengkajian 1. Anamnesa Keluhan utama, riwayat perawatan sekarang, Riwayat kesehatan dahulu,
21

Riwayat kesehatan keluarga 2. Pemeriksaan Fisik Pengkajian terhadap masalah pasien terdiri dari awitan, lokasi dan penyebaran nyeri, parestesia, keterbatasan gerak dan keterbatasan fungsi leher, bahu dan ekstremitas atas. Pengkajian pada daerah spinal servikal meliputi palpasi yang bertujuan untuk mengkaji tonus otot dan kekakuannya. 3. Pemeriksaan Penunjang B. Diagnosa Keperawatan yang Muncul 1. Nyeri b.d Kompresi saraf, spasme otot 2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus 3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual 4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan tindakan pengobatan. C. Intervensi 1. Nyeri b.d kompresi saraf, spasme otot a. Kaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus / yang memperberat. Tetapkan skala 0 10 b. Pertahankan tirah baring, posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi, posisi telentang c. Gunakan logroll (papan) selama melakukan perubahan posisi d. Bantu pemasangan brace / korset e. Batasi aktifitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan

f. Ajarkan teknik relaksasi g. Kolaborasi : analgetik, traksi, fisioterapi 2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus a. Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif c. Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan setelah rehap perubahan posisi. Periksa keadaan kulit dibawah brace dengan periode waktu tertentu. d. Catat respon emosi / perilaku pada immobilisasi e. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti tongkat. f. Kolaborasi : analgetik 3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual a. Kaji tingkat ansietas pasien b. Berikan informasi yang akurat c. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah seperti kemungkinan paralisis, pengaruh terhadap fungsi seksual, perubahan peran dan tanggung jawab. d. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya. e. Libatkan keluarga 4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis a. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis dan pembatasan
23

kegiatan b. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri, mengangkat dan menggunakan sepatu penyokong c. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya. d. Anjurkan untuk menggunakan papan / matras yang kuat, bantal kecil yang agak datar dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari posisi telungkup. e. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama f. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti nyeri tusuk, kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan.

DAFTAR PUSTAKA
1. www.scribd.com Books - Fiction Young Adult 2. www.askep-askeb.cz.cc/.../asuhan-keperawatan-hnp-hernia-nukleus 3. sedetik.multiply.com/.../ASUHAN_KEPERAWATAN_PADA_KLIEN_DENGAN_L OW_BACK_PAIN 4. GOOOGLE.COM 5. WIKIPEDIA.COM