Anda di halaman 1dari 34

BAB

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi dapat membawa perubahan yang signifikan terhadap pembangunan maupun kehidupan yang lebih baik. Sejalan dengan itu peneliti akan membahas penanggulangan sampah domestik yang terdapat dilingkungan Pemko Medan saat ini. Seyogianya sampah yang selama ini dianggap tabu dan tidak bersahabat lagi terhadap lingkungannya, dengan menggunakan teknologi seharusnya sampah dapat diolah menjadi bahan yang berguna kembali. Pengolahan sampah dapat dilakukan dengan berbagai metode antara lain menjadikannya sebagai pupuk, bahan bakar, bahan kebutuhan bangunan dan menjadi bahan kertas. Namun demikian bahwa baik penanggulangan dari ancaman sampah bagi lingkungan hidup maupun usaha pemanfaatan, hal ini harus terus menerus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, lagi pula harus dibarengi dengan pengadaan biaya yang relatif besar. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas maka jelas bahwa lingkungan hidup adalah salah satu kebutuhan pokok manusia dan hal ini dengan tegas dinyatakan didalam GBHN RI sebagai berikut: GBHN pada hakekatnya pola umum pembangunan nasional. Pembangunan nasional ialah untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata dan spirituil berdasarkan Pancasila. Pada pola pembangunan daerah disebutkan: Pemerintah daerah melaksanakan pembangunannya perlu lebih meningkatkan kemampuan penduduk untuk

memanfaatkan serta memelihara kelestarian

berbagai sumber kekayaan alam,

mengatasi berbagai masalah yang mendesak dan membina lingkungan pemukiman yang sehat. Sampah domestik dan nondomestik terdiri dari berbagai unsur dan komponen sehingga besar kemungkinan memiliki potensi energi berupa bahan bakar. Sampah tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar dengan melakukan konsep penghancuran dan pengeringan. Perkembangan industri dan jumlah penduduk Pemko Medan begitu

besar dan terjadi peningkatan setiap tahun, kemungkinan produksi sampah kota juga meningkat. Potensi sampah dapat menggantikan kebutuhan minyak dan gas sesuai dengan kapasitasnya. Oleh karena itu kemampuan bakar dan kapasitas termal yang dihasilkan pelu ditentukan sebagai dasar pemanfaatan energi. Pengembangan teknologi penanggulangan sampah di negara-negara maju cukup pesat dan canggih, sedangkan harganya dipasaran sangat tinggi. Pengolahan teknologi sampah di Indonesia secarah umum dan Pemko Medan khususnya masih tradisional dan belum mengikuti sangat standard kesehatan.

B. Rumusan Masalah 1. Kehidupan manusia berkaitan erat dengan keadaan alam di sekelilingnya, terutama dari segi kenyamanan dan kesehatan. Akhir-akhir ini isu sampah menjadi topik pembicaraan dalam kelestarian alam, di mana kapasitas sampah begitu besar seiring dengan pertumbuhan penduduk manakala

penanggulangannya tidak sebanding. 2. Sampah domestik terdiri dari berbagai unsur dan komponen sehingga besar kemungkinan memiliki potensi tertentu seperti menjadikan kompos, produk daur ulang dan sebagai bahan bakar. 3. Sampah domestik dapat diolah menjadi bahan bakar dengan melakukan konsep penghancuran atau disebut Reduce Drived Fuel (RDF) sehingga nilai bakar meningkat 150%. 4. Sampah domestik Pemko Medan dengan kapasitas 4000 m 3 /hari dapat menggantikan minyak dan gas sesuai dengan kapasitasnya. 5. Bagaimanakah cara yang efektif pemanfaatan sampah domestik secara optimum dan ramah lingkungan.

C. Sasaran 1. Mendapatkan data potensi dari sampah kota sehingga menjadikan data base Pemerintah Daerah. 2. Menentukan nilai kalor sampah kota sehingga dapat dikonversikan menjadi produksi energi listrik negara.

3. Memudahkan dalam prencanaan pembangunan dan pengembangan sarana pengolahan sampah dengan kapasitas tertentu 4. Mendapatkan sumber bahan bakar alternatif yang powerfull sebagai antisifasi krisis bahan bakar minyak dan gas. 5. Mendapatkan teknologi pembakaran yang efektif dan ramah lingkungan. 6. Dapat membantu Pemerintah Daerah dalam promosi kebersihan dan kesehatan

D. Manfaat 1. Membantu Pemerintah mensosialisasikan kepada masyarakat secara luas pemanfaatan dan pengelolaan sampah domestik dengan teknologi tinggi. 2. Keleluasaan provokator mengajak masyarakat menolak kebijakan Pemerintah tersebut dapat secara dini dihindari. 3. Membantu Pemerintah mendapatkan database mengenai potensi sampah dan jenis teknologi yang sesuai dilakukan. 4. Masyarakat dapat memahami keberadaan sampah, mengetahui ancaman atau bahaya sampah. 5. Masyarakat menyadari peran sertanya dalam penanggulangan sampah,

sehingga prilaku konsisten pada diri masing-masing. 6. Terlaksananya penanggulangan sampah dengan baik terwujudlah program Pemerintah menyehatkan, membijakkan dan mensejahterakan rakyat.

E. Ruang Lingkup 1. Pengerjaan Justifikasi untuk menentukan persentase komposisi, jenis, dan kandungan nilai bakar sampah kota di kawasan Pemko Medan 2. Pengolahan sampah kota menjadi bahan bakar dengan sistem pengurangan kadar kelembaban dan menseragamkan ukuran potong sampah. 3. Mengukur kebolehbakaran (combustability) menggunakan sistem fluidisasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengolahan Sampah Secara Umum George, H dan Samuel (1999) menyebutkan penanggulangan sampah domestik ataupun nondomestik secara profesional dapat dilakukan secara bersepadu (integrated management of solid waste) antara lain daur ulang, pengomposan, pembakaran dan penimbunan. Ogada (1995) Penanggulangan sampah domestik dan nondomestik kebanyakan di negara maju menggunakan sistem pembakaran, terutama bagi negara yang kawasannya kecil. Contoh beberapa negara yang menggunakan sistem pelupusan sampah dengan pembakaran adalah Jepang lebih kurang 72%, Denmark 65% dan Sweden 55%.
60

50

Landfill Pertanian

% Pengolahan Sampah

40

30

Insinerasi
20

10

Buang ke laut
0

1980

1985

1990

1995 Tahun

2000

2005

2010

Grafik 1. Metode Penanggulangan Sampah Di Beberapa Negara

Singapura merupakan negara yang paling berproximate dengan Indonesia, di negara tersebut seluruh bahan buangan yang mempunyai sifat boleh bakar dilupuskan dengan sistem dibakar. Dari kajian literatur mengatakan bahwa dengan sistem pembakaran dapat mengurangkan volume bahan buangan atau sampah sebesar 90 %

sehingga kalau ada bahan yang beracun sudah mudah mengurusnya dalam tahap akhir (Calvin R. Bruner, 1993). Menurut Outerbirdge (1991) bahwa ciri-ciri sampah rumah tangga tidak sama pada setiap daerah dapat dilihat dari hasil kajiannya yaitu Negara berpenghasilan rendah menghasilkan sampah (0,4 0,6) kg/orang/hari, dan bahan organik 20-85%, Negara berpenghasilan menengah menghasilkan sampah (0,5 0,9) kg/orang/hari dan bahan organik 20-65 %, Negara berpenghasilan tinggi menghasilkan sampah (0,7 1,8 ) kg/orang/hari dan bahan organik 20-50 %. Chamhuri Siwar (2000), mengatakan bahwa secara umum komposisi sampah rumah tangga begitu kompleks sehingga sulit diolah. Komposisi tersebut antara lain : kertas, plastik, logam, kayu, botol, baterai, sisa makanan dan sayur-sayuran. Oleh karena itu peneliti akan membuat kajian-kajian baru dalam sistem penanggulangan sampah yang lebih sesuai dan terpakai menurut kawasan tertentu. Sistem pengolahan sampah yang ada diseluruh Indonesia pada umumnya masih menggunakan metode land fill, bahkan DKI Jakarta sebagai barometer kota-kota di Indonesia masih memakai metode land fill.

B. Masalah Sampah di Pemko Medan Pengamatan secara umum mengenai sampah dan pengolahannya di beberapa kawasan Indonesia, termasuk Kota Medan menunjukkan : 1. Persentase bahan organik tinggi (5070 %), sampah umumnya basah atau lembab. 2. Pengumpulan ulang, daur ulang dan pengolahan sampah yang lainnya tidak efisien dan belum terorganisir secara penuh. 3. Industri besar dan kecil tidak memberikan perhatian penuh dalam pengolahan sampahnya, sedang Pemerintah sendiri sulit untuk membiayai pengolahan sampah karena ada hal lain yang harus diprioritaskan. 4. Daur ulang sering ditangani oleh sektor informal, padahal pekerjaan ini penting. 5. Belum diterapkannya prinsip bahwa yang memproduksi barang harus mengolah sampah dari barang tersebut. (misalnya : pabrik baterai kering harus menerima dan mengelola baterai yang sudah tidak dipakai lagi). 6. Areal tempat penampungan sampah untuk menampungnya sudah semakin berkurang.

C. Bahan Bakar Bahan bakar ( fuel ) adalah segala bahan yang dapat dibakar. Di sekeliling kita banyak terdapat bahan yang dapat dibakar, misalnya : kertas, kayu, kain, minyak tanah, minyak makan, dan sebagainya. Bahkan batu pun dapat dibakar, yaitu batu bara yang sering juga di sebut orang sebagai mas hitam. Beberapa puluh tahun yang lalu batu bara sangat dominan dalam pemakaiannya. Batu bara sebagai sumber energi di manfaatkan untuk mengoperasikan ketel uap (steam boiler) pada industri-industri besar, kapal-kapal dagang maupun kapal perang, lokomotif uap dan PLTU ( pembangkit listrik tenaga uap ). Jutaan tahun lampau, sebagian besar daratan tertutup hutan belantara. Pohon dan berbagai tanaman mati serta terkubur oleh lumpur dan pasir. Lambat laun, lumpur dan pasir itu berubah menjadi serpih dan batu pasir. Pepohonan berubah menjadi batu bara lunak. Karena lumpur dan pasir yang menekannya terus bertambah, batu bara berada di antara lapisan batu pasir dan lapisan serpih. Kadang-kadang kita dapat menemukan fosil tanaman yang membentuk batu bara. Ada batu bara yang ditemukan dekat dengan permukaan tanah, tetapi sebagian besar terdapat jauh di dalam tanah dan harus di tambang. Mesin-mesin besar diperlukan untuk menggali batu bara di dekat permukaan bumi. Lapisan batu bara yang lebih dalam di gali oleh pekerja tambang dalam terowongan di dalam tanah. Minyak adalah bahan bakar lain yang ditemukan dalam batuan bumi. Minyak terbuat dari mahluk laut kecil yang hidup jutaan tahun lampau. Ketika mahluk itu mati, ia terbenam ke dasar laut terkubur dalam pasir dan lumpur. Jutaan tahun kemudian, ia berubah menjadi tetestetes minyak. Di beberapa tempat, batuan melengkung sedemikian rupa, hingga minyak terperangkap di dalam danau bawah tanah yang besar. Orang menemukan minyak ketika mengebor batuan itu. Seringkali bersama minyak terdapat gas, yang juga dapat dipakai untuk bahan bakar. Elpiji yang kita kenal, berasal dari gas alam ini. Gas juga suatu bahan bakar penting. Kadang-kadang minyak dan gas ditemukan dalam batuan dibawah laut. Bila lautnya dalam, orang membangun perlengkapan pembor terapung. Minyak dan gas dibawa ke darat dengan kapal, atau melalui pipa penghantar. Pipa-pipa itu ratusan atau ribuan kilometer panjangnya. Di

darat, minyak mentah dan gas alam di olah menjadi bahan bakar dan bahan lain yang siap dipakai manusia. Bahan bakar hanya dapat terbakar bila sudah cukup panas. Kita sering menggunakan korek api untuk menyalakan api. Kepala korek api terbuat dari bahanbahan kimia. Batangnya terbuat dari kayu kering. Bila korek api ini digosokan ke sisi kotaknya, kepala korek api menjadi panas. Panas membuat bahan kimia di kepala korek terbakar. Api memanaskan batang korek sehingga ikut terbakar. Benda-benda yang kering lebih mudah dan lebih dapat terbakar. Sebagaimana telah diuraikan di atas untuk melakukan pembakaran di perlukan tiga unsur, yaitu: Bahan bakar Oksigen dari udara pembakaran Suhu untuk memulai pembakaran Panas yang timbul karena pembakaran bahan bakar tersebut disebut hasil pembakaran atau nilai bakar ( heating value atau calorific value of fuel ). Ada tiga jenis bahan bakar, yaitu : Bahan bakar padat ( solid fuel ) Bahan bakar cair ( liquid fuel ) Bahan bakar gas ( gaseus fuel ) Bahan bakar tersebut diatas dapat pula digolongkan dalam dua golongan, yaitu: 1. Bahan bakar alam ( natural fuel ) 2. Bahan bakar buatan ( prepared fuels ) Bahan bakar padat alami ( natural solid fuel ) antara lain ialah: Bahan bakar kayu ( wood ) Bahan bakar dari tanah gemuk ( peat ) Bahan bakar batu bara coklat ( lignite ) Bahan bakar batu bara bituminous ( seperti aspal ) Bahan bakar batu bara jenis antrasit ( anthrasite coal )

Bahan bakar padat ( buatan ) di antaranya : Bahan bakar arang kayu ( wood charcoal ) Bahan bakar kokas ( coke ) Bahan bakar briket ( briquette ) Bahan bakar tepung batu bara ( pulverised coal ) Bahan bakar ampas ( misalnya serabut kelapa sawit atau ampas tebu ) Bahan bakar tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit ( cangkang )

3. Bahan bakar cair alami yang terpenting ialah crude oil ( natural petroleum ), yaitu minyak mentah. Setelah melalui proses akan di peroleh : a) Bensin ( petrol or gasoline ) b) Kerosene ( kerosin = minyak tanah ) c) Minyak bakar ( fuel oils ) Gas alam sering diperoleh dari pemboran minyak tanah, di antaranya ialah : Gas methane ( CH
4

) bersama dengan gas enthane (C 2 H 6 )

Carbon monoksida ( CO ) Gas LNG, gas LPG.

Gas buatan, di antaranya ialah : Coal gas ( gas kota ) Produser gas Water gas, yaitu campuran antara hidrrogen dengan carbon monoksida. Mond gas Gas dapur tinggi ( blast furnace gas ) Coke oven gas Komposisi bahan bakar tersebut diatas, serta energi potensialnya dapat dilihat pada tabel 2.1 , 2.2, dan 2.3. Dari tabel tersebut akan terlihat bahan bakar mana yang gemuk dan mana yang kurus.

Tabel 2.1. Komposisi Batu Bara Padat Ultimate Analysis FUEL C 48,5 58,0 66,0 82,0 91,0 H2 6,0 6,3 5,0 5,0 3,0 O2 43,5 30,5 20,0 8,0 2,5 N 0,5 0,9 1,0 1,5 0,5 3,5 1,0 0,5 S A 1,5 4,0 3,5 3,5 2,5 HHV Kcal/kg 2.500 3.500 5.000 7.500 8.500

Wood Peat Lignit Bituminus Coal Antracite

Tabel 2.2. Komposisi Batu Bara Cair FUEL C Gasoline Parafine Diesel Oil Heavy Oil 85,4 86,3 86,3 86,1 H2 14,0 13,3 12,5 11,8 0,1 0,9 2,1 Ultimate Analysis S Sp. Gravity 0,74 0,79 0,87 0,95 HHV Kcal/kg 11.200 11.100 11.100 10.000

Tabel 2.3. Komposisi Bahan Bakar Gas FUEL H2 Coal Gas Town Gas Coke Oven gas 27 55 50 7 14 8 28 23 CO CH4 48 23 29 3 Ultimate Analysis C2H8 13 2,5 4 0,2 CO2 3 2 2 8 5 2 3,5 7 60 62 N2 HHV Kcal/kg 6.900 4.170 4.600 900 1.150

Blast Furnace Gas 4 Produser Gas 6

D. Proses Pembakaran Carbon adalah dari unsur-unsur yang dapat terbakar yang sangat penting dan adalah yang terpenting dari susunan hidro carbon. Oksidasi carbon agak lambat dan lebih sulit bila dibandingkan dengan unsur hidrogen dan sulfur. Walaupun carbon mempunyai suhu pembakaaran yang lebih rendah ( 407 o C ) dari zat cair, carbon adalah zat padat dengan temperatur tinggi dan pembakarannya relatif lambat. Sebagai konsekuensinya pada beberapa proses pembakaran yang teoritis, ini akan di asumsikan bahwa kedua unsur sulfur dan hidrogen terbakar dengan sempurna sebelum carbon terbakar. Selanjutnya ini akan di asumsikan bahwa semua carbon akan teroksidasi menjadi carbon monoksida ( CO ) sebelum setiap carbon berubah menjadi carbon dioksida ( CO 2 ). Reaksi kimianya adalah sebagai berikut : 2C + O 2 2CO + 2 Q
C.Co

= 110380kj/kg mol
2

Dalam reaksi ini 2 mol carbon ( 24,02 kg ) bereaksi dengan 1 mol oksigen ( 0 kg ) menghasilkan 2 mol carbon monoxide ( CO = 56,82 kg ).

= 32

Bila oksigennya cukup tersedia, maka carbon monoxide kemudian akan teroksidasi menjadi dioksid carbon dengan melepaskan energi tambahan. Persamaanya adalah sebagai berikut : 2 CO + O 2 2 CO
2

+2Q Q

CO.CO CO.CO 2

= 283180 kj/kg mol CO.

Jadi 2 mol Carbon monoxide ( 56,02 kg ) bereaksi dengan 1 mol oksigen ( 32 kg ) menghasilkan 2 mol carbon dioxide ( 88,02 kg ). Jadi dibutuhkan oksigen sebanyak : 2 x32 = 2,66 kg O 24,02
2

untuk pembakaran sempurna 1 kg carbon ( C ). Perbandingan tersebut dapat dipakai untuk mengevaluasi kebutuhan oksigen untuk bahan bakar Hidrocarbon. 22,66 kgO 2 / kg c Hidrogen mempunyai temperatur pembakaran yang tertinggi yaitu : 582 o C. Tetapi selama dia berbentuk gas hidrogen beroksidasi menjadi air seperti diperlihatkan dalam persamaan reaksi kimia di bawah ini : 2 H2 + O2 2 H2O + 2 QH = 286470 kj/kg mol H2 2 mol H 2 ( 4,032 ) bereaksi dengan 1 mol O 2 ( 32 ) menjadi 2 mol air (H 2 O = 36,032kg). Jadi kebutuhan oksigen untuk pembakaran 1 unit massa hidrogen adalah :

10

32 = 7,94 jadi 7,94 kg O 2 /kg H 2 4,032 Sulfur mempunyai temperatur pembakaran dari 243 o C, adalah yang terendah dari ketiga unsur yang dapat dibakar tersebut. Selama peristiwa oksidasi, dilepaskan energi seperti terlihat dalam persenyawaan kimia di bawah ini : : S+O Q
S 2

SO 2 + Q

= 296774 kj/kg.mol S

Ini berarti 1 mol S (32,06 kg ) bersenyawa dengan1 mol oksigen ( 32 kg ) memproduksi 1 mol sulfur dioksida ( 64,06 kg ). Jadi pembakaran 1 kg sulfur dibutuhkan oksigen seberat: 32 = 0,998 kg O 2 /kg C. 32.060

E. Nilai panas ( Heating value ) Nilai panas (kalor) kita definisikan sebagai energi panas yang dilepaskan pada waktu terjadi oksidasi unsur-unsur kimia yang terdapat dalam bahan bakar. Nilai panas (heating value) atau nilai kalor (calorific value) dari unsur-unsur carbon, hidrogen dan sulfur seperti disebutkan dalam persamaan kimia di atas adalah sebagai berikut : Nilai panas carbon : Q
C.CO

= 110380 kj/kg.mol C = 110380 12,01

= 9190,67 kj/kg C = 9190,67 x 0,2388 = 2194,73kkal/kg C Q CO.CO 2 = 283180 kj/kg.mol CO = 283180 28,010

= 10109,96 kj/kg CO = 2414,259 kkal/kg CO

11

atau: H(L)H(C)V H(C)V


c C

= Q

C.CO

+Q

CO.CO 2

= 8044,85kkal/kg

Dalam hal nilai panas ( kalor ) carbon tidak ada tertinggi dan terendah, karena tidak ada kehilangan energi panas selama terjadinya reaksi kimia. Nilai panas hidrogen : Q h 286470kj/kg.mol H 2 = 28470 = 142098,21 kj/kg H 2 2.016

= 33933 kkal/kg H 2 Dalam peristiwa oksidasi H 2 terbentuk H 2 O ( air ) yang dalam tempo relatif singkat berubah menjadi uap air ( H2 O ). Dalam peristiwa perubahan fasa ini dibutuhkan panas laten ( laten heat ) yang besarnya tergantung pada keadaan sekelilingnya ( suhu dan tekanan ). Dalam dapur ketel di estimasikan tekanan sama dengan 1 atmosfir mutlak, jadi panas laten air: LH2O = 539,8kkal/kg. ( Di lihat dari tabel atau diagram mollier pada 1 ata dan 100 o C). Nilai panas H 2 sebelum dikurangi panas pembentuk uap disebut N . Nilai panas kotor ( tertinggi ) atau gross ( higher ) heating value. Jadi : HHV LHV
h h

= 142097 kj/kg H 2 = 120067 kj/kg H 2 22030 = 2447,77 kj/kg H 2 9

Jadi panas laten L =

Harga-harga diatas sesuai dengan : HHV h = 33932 kkal/kg H 2 LHV h = 28672 kkal/kg H2 L = 4260 = 473,33 kkal/kg H 2 9

Dari harga L di atas dapat di ketahui bahwa tekanan dalam dapur di anggap di bawah 1 ata. Nilai bakar sulfur : Q Jadi : H ( L ) HV S
S

= 296774 kj/kg mol S = 296774 kj/kg mol S

12

Atau : H ( L ) HV S Atau : H ( L ) HV
S

= 9256,84 kj/kg S = 2210,53 kkal/kg s

Bila simbol unsur-unsur tersebut di atas di anggap sebagai persentase ( kadar ) berat dari unsur tersebut dalam bahan bakar maka dalam 1 kg batu bara terdapat: C kg carbon H 2 kg hidrogen S kg unsur P 2 kg oksigen H 2 O kg air A kg Abu ( ash ) Dibutuhkan oksigen minimum 2,66 kg atau 1, 865 m 3 std dan menghasilkan gas carbon dioksida 3,66 kg atau 1,865 m 3 std. **) 2H 2 + O 2 2 kg mol H 2 + 1 kg mol O 2 4,032 kg H 2 + 32 kg O 2 1 kg H 2 + 1 kg H 2 + 32 kg O 2 4,032 22,4 m 3 std O 2 4,032 2H
2

2 kg mol H 2 O 36,032 kg H 2 O 36,032 kg H 2 O 4,032 44,8 m 3 std O 2 4,032

Jadi pada setiap pembakaran sempurna 1 kg H 2 dibutuhkan 7,94 kg oksigen 5,56 m3 std menghasilkan air sebanyak 8,9365 kg 11,11 m3 std. ***) S + O
2

SO 2 1 kg mol SO 2 64,06 kg SO 2

1 kg at S + 1 kg mol O 2 32,06 kg S + 32 kg O 2

1 kg S + 1 kg S +

32 kg O 2 32,06 22,4 m 3 std O 2 32,06

64,06 kg SO 2 32,06 22,4 m 3 std O 2 32,06

Jadi setiap pembakaran 1 kg belerang dibutuhkan oksigen minimum seberat 0,998 kg atau 0,6987 m 3 std dan menghasilkan 1,998 kg atau 0,6987m 3 std gas SO 2

13

(dioksid belerang). Jadi kebutuhan oksigen minimum untuk pembakaran 1 kg bahan bakar. Dalam udara terdapat oksigen seberat 23,2% atau sebanyak 21%, jadi kebutuhan udara untuk pembakaran I kg udara adalah: Wa,th = WO2 kg / kg 23,2%

Atau dengan volume, Va, th = VO2 3 m .std / kg 21%

Atau secara lebih terperinci menurut perhitungan berdasarkan komposisi bahan bakar, Wa, th = 2,66.C + 7,94.H 2 + 0.6897 S O2 kg / kg 0,232

Atau berdasarkan volume, Va, th = 1,865.C + 5,56.H 2 + 0,998.S 0,7.O2 3 m .std / kg 0,21

Perbandingan grafimetris (massa) udara teori dan bahan bakar, A/F A/F, th = 2,66.C + 7,94.H 2 + 0.6897 S O2 kg / kg 0,232

Atau berdasarkan volume, A/F Va, th = 1,865.C + 5,56.H 2 + 0,998.S 0,7.O2 3 m .std / kg 0,21

F. Teknologi Pengolahan Sampah Domestik Sampah terdiri dari berbagai bahan seperti organic dan anorganik, bahan tersebut susah dibakar karena termasuk bahan yang unik dan tidak sama komposisinya sangat tergantung kepada sumber tempat, waktu dan kondisi. Koya Takeda et.al (2000) telah melakukan pengolahan sampah domestik secara Refuse Drived Fuel (RDF) dengan berbagai tahapan yang dilakukan sehingga mendapatkan hasil yang sangat memuaskan dimana nilai bakar sampah sebelum diolah 6110

14

kJ/kg dan setelah diolah nilai bakar sampah tersebut menjadi 17,500 kJ/kg. Sampah domestik ini dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif pada pembangkit tenaga listrik. Menurut teori pembakaran perolehan energi bisa diperkirakan seperti persamaan-persamaan berikut (Syamsir Muin 1988), 1. Perolehan Heat, Qf

Qf = Wf .LHV .k 1.
2. Perolehan energi listrik, NT

N T=

Ws.H .r m . c . g 860

. 2.

Dimana : Wf = Jumlah Bahan Bakar

LHV = Nilai Kalor H k = Enthalpi = Efisiensi Ketel

15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


Penelitian penanggulangan sampah domestik Pemko Medan dilakukan secara intensif untuk mendapatkan data maupun solusi yang baik. Setelah mendapatkan datadata yang diperoleh di lapangan, selanjutnya dilakukan pengumpulan sampah untuk dijadikan sample mendapatkan nilai bahan bakar sampah (LHV). Lokasi sample di TPS Teladan Timur. Alasan pengambilan sampel di TPS tersebut karena jaraknya yang cukup dekat dengan lokasi kampus dan juga keadaan sampahnya tidak jauh beda dengan TPA Namu Bintang. Alat pembakar sistem fluidisasi yang direkayasa ditunjukkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Pembakar Sistem Fluidisasi

16

Langkah-Langkah Melakukan Penelitian A. Langkah-Langkah Kerja 1. Sampah dikumpulkan dalam satu tempat yang sudah ditentukan. Sampah dibagi-bagi dalam beberapa onggokan secara random dengan jumlah yang sesuai sehingga terwakili setiap jenis komposisi. Semakin banyak jumlah onggokan adalah semakin tepat hasil analisa. 2. Satu dari bagian sampel sampah yang terwakili diambil untuk dianalisa
3.

Sampah yang akan dihancurkan, ditunjukkan pada lokasi TPS Gambar 3.2.

4. Sampah yang sudah hancur tersebut dibagi-bagi lagi secara random, sehingga dapat juga mewakili sampel yang ada. 5. Dilakukan pengayakan untuk mendapatkan ukuran yang diinginkan, bahan yang kasar dimasukkan kembali untuk dihancurkan. 6. Ambil beberapa specimen untuk dianalisa. Semakin banyak jumlah percobaan dilakukan hasilnya adalah semakin tepat. Data-data yang diperlukan antara lain komposisi, kelembaban dan nilai kalor dari setiap specimen.

Gambar 3.2. Lokasi Sampah Kota TPS Teladan Timur

17

Spesifikasi Alat Pembakar 1. Bahan Bakar 2. Kapasitas 3. Temperatur 4. Diameter Reaktor 5. Tinggi Reaktor 6. Sumber Sampah : Sampah Kota : 150 Kg/Jam : 800 -900 Oc : 32 Cm : 1500 Mm : Sampah Kota

Alat Penghancur Sampah ditunjukkan pada Gambar 3.3

Gambar 3.3. Peralatan Pencacah Sampah

18

B. Alat-Alat Pendukung Penelitian 1. Mesin Pencecah. 2. Mesin Pengayak. 3. Boom Kalori Meter. 4. Timbangan Digital. 5. Oven Heat Hech Furnace. 6. Thermometer

Gambar. 3.4 Boom Kalori Meter

19

Gambar 3.5. Oven Heat Hech Furnace.

20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian dapat diuraikan secara bertahap sesuai dengan langkah prosedur kerja yang telah diatur sebelumnya. Dalam hal ini pengumpulan data-data dilakukan dengan dua cara yaitu: Perolehan data berdasarkan survey langsung kelapangan Perolehan data berdasarkan penelitian di laboratorium.

A. Hasil Penelitian 1. Hasil survey Lapangan Berbicara tentang kebijakan pengolahan sampah domestik haruslah dilihat dari beberapa factor pendukung yang terlibat, antara lain: Jumlah penduduk Kapasitas produksi sampah Penanggulangan sampah Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Data-data yang berhubungan dengan faktor di atas dapat diuraikan secara umum.

Luas wilayah dan jumlah penduduk tahun 2004 Pemko Medan mempunyai 21 Kecamatan dengan 151 desa serta luas wilayah 26,510 Ha. Berdasarkan data-data penduduk maka dewasa ini diperkirakan jumlah penduduk Kota Medan adalah 1,965,242 Jiwa. Adapun kondisi sampah dan timbunan sampah dan sampah terangkut/hari adalah : 1. Timbunan sampah per orang/hari 2. Timbunan sampah kota Medan 3. Timbunan sampah kota terbangun 4. Sampah terangkut per hari : : : : 0,6 kg/jiwa 6,157 m 3 4,926 m 3 4,390 m 3 /hari ( 1400 ton/hari)

21

Penanggulangan sampah Pemko Medan Pengumpulan sampah yang menyangkut penyapuan jalan dan pembabatan rumput dilaksanakan oleh 1245 orang pekerjanya seharian lepas. Pengangkutan sampah menggunakan truk dengan daya angkut rata-rata maksimum 3 trip/hari. Kemampuan setiap truk sampah adalah 2 ton berarti setiap truk dapat mengangkut sampah ketempat pembuangan 6 ton perhari, sehingga dengan jumlah 1000 ton sampah setiap hari seharusnya diangkut 170 truk. Sedangkan alat Bantu lain nya berupa alat berat untuk menyendok sampah dan meratakan sampah. Untuk tempat pembuangan di Paya jati dan Simpang kuala diadakan 3 buah traktor yang menggunakan roda rantai model D6 atau D4. Berhubung keterbatasan keuangan Pemko Medan mengadakan prasarana dan infra struktur lainnya, sebaiknya ada pihak swasta ikut serta dalam pengelolaan secara serius dan profesional.

Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Memperhatikan adanya gangguan kesehatan penduduk disekitar lingkungan TPA dengan system open dumping keadaan ini tidak mungkin dipertahankan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perlu pemikiran dan kebijakan yang professional bagaimana menanggulangi pengolahan sampah Pemko Medan yang baik. Apabila hal ini masih mengalami kesulitan maka cara lain adalah mencari lokasi TPA yang baru dan jauh dari perkotaan, usaha ini memerlukan perhatian dan kerja sama dengan Pemerintah daerah lain dan berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Lokasi TPA di Pemko Medan sampai hari ini masih terdapat pada dua kawasan, seperti ditunjukkan dalam tabel 2.

Tabel 2. Kondisi Tempat Pembuangan Akhir Sampah Kota Medan


Namo Bintang : 176.396 m2 Luas Kawasan Jarak Lokasi : A. Pemukiman 500 M 5Km(SeiTuntungan) B. Sungai C. Pantai 25 Km (Belawan) D. Lapangan Terbang 10 Km (Polonia) E. Pusat Kota 15 Km Desa Terjun Luas Kawasan : 137.563 m2 Jarak Lokasi : F. Pemukiman 500 M G. Sungai 4 Km (Sei Deli) H. Pantai 6 Km (Belawan) I. Lapangan Terbang 23Km ( Polonia) 14 Km J. Pusat Kota

22

Lokasi : A. Kelurahan B. Kecamatan C. Dati II

Namo Bintang Pancur Batu Kab. Deli Serdang

Lokasi : A. Kelurahan B. Kecamatan C. Dati II

Terjun Medan Marelan Kota Medan

2. Hasil Penelitian Laboratorium a. Persediaan Sampel Sampah diambil dari TPS Teladan Timur dan dilakukan justifikasi secara manual dengan mengasingkan setiap jenis yang terdapat pada sampah hasilnya berupa persentase seperti berikut : daun-daunan = 23,93%, plastik = 8,17%, bahan logam= 4,26%, kaca= 8,64%, kertas = 8,25% dan sisa makanan 46,74%. Untuk lebih jelasnya dapat ditunjukkan dalam Grafik 1. Hasil justifikasi ini dilakukan pada keadaan cuaca cerah bukan musim hujan. Sampah tersebut terlebih dulu dipilih dimana bahan yang mampu dihancurkan saja dikumpulkan kedalam bak penampung dan langsung dimasukkan ke Pencacah 1. Sedangkan sisanya bahan-bahan yang tidak mampu

terpotong ataupun tidak mempunyai nilai bakar diasingkan seperti logam dan kaca dipisahkan.Tahapan pengolahan sampah dengan menggunakan alat pencacah atau penghancur dilakukan sebagai berikut: Pencacah 1 Berfungsi menghancurkan sampah tahap awal, secara kasar dengan ukuran pemotongan antara 1-2 inci. Hasil pemotongan dimasukkan keayakan untuk memisahkan bahan yang sudah terpotong dengan ukuran yang telah sesuai dan yang belum. Bahan yang belum terpotong tadi dimasukkan kembali untuk dicacah lagi sehingga ukurannya sudah sesuai dengan yang diinginkan. Hasil pemotongan yang sudah sesuai dengan ketentuan dikumpulkan di dalam bak penampung Sampah yang dicacah diharapkan dapat memotong halus sehingga ukurannya menjadi 0,5-0,1 inci. Hasil pemotongan diayak dan bagi bahan yang belum sesuai dengan ketentuan dicacah ulang sehingga mendapatkan hasil yang sesuai.

23

Sampah yang telah sesuai dengan ketentuan tadi dimasukkan ke dalam bak penampung dan dialirkan udara kering dengan suhu (40 5) o C selama 3-4 jam pastikan semua bahan terkena udara kering.

b. Hasil Nilai Kalor Bahan Bakar Nilai kalor sampah domestik ditentukan dengan dua cara yaitu secara langsung menggunakan Bomb Calorimeter dan analisa perhitungan.

Hasil Analisa Nilai Kalor Menggunakan Bomb Calori Meter Sampah yang sudah dijustifikasi sebelum dilakukan treatmen ditentukan nilai kalornya menggunakan Bomb Calorimeter mengikuti prosedur dan langkah kerja yang tersedia. Dari specimen sampah yang belum ditreatmen diperoleh nilai kalornya HHV = 9300 kJ/kg dan LHV = 6050kJ/kg. Hasil analisa nilai kalor dengan Bomb Calorimeter sangat bergantung kepada beberapa hal yaitu persiapan specimen, persediaan oksigen, suhu selinder sebelum

24

pembakaran, suhu nyala setelah terjadi pembakaran. Dari analisa specimen setelah ditreatmen yaitu setelah keluar dari pencacah, diperoleh nilai kalor HHV = 15,540 kJ/kg dan LHV = 12,300 kJ/kg.

Hasil Nilai Kalor Sampah Berdasarkan Perhitungan Sampah yang sudah ditreatmen dilakukan analisa komposis kimia C, H, N, O, S di Laboratorium. Hasil komposisi kimianya adalah C= 32.2%, H=5.25 %, N=1.8%, O=26.5%, S=0,25%, Abu= 22.25% dan H 2 O=11.2%. Dari persamaan Dulong Petit dapat dihitung Nilai Kalor sampah masing-masing adalah HHV = 13.749,3 kJ/kg dan LHV = 12.346,4 kJ/kg. Perbedaan nilai kalor sampah yang ditentukan secara perhitungan dan secara analisa Bomb Calorimeter ternyata 2 %, perbedaan ini tidak terlalu jauh masih dapat diterima. Hasil analisa nilai kalor sampah ditunjukkan dalam tabel 3.

Tabel 3. Kondisi Sampah Sebelum dan Sesudah Treatmen Specimen Sampah Sampah Sebelum Treatmen Sampah Setelah ditreatmen Densitas Kg/m 3 2,5 0,65 30 11,2 Moisture % HHV kJ/kg 9300 15,540 LHV kJ/kg 6050 12,300

Kondisi Lokasi sampah kota, metode penghancuran sampah dan Aplikasi pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar dapat dilihat di dalam Lampiran 1, Lampiran 2 dan Lampiran 3.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Dari data-data hasil penelitian dapat memberikan banyak informasi untuk pengembangan teknologi pengolahan sampah Pemko Medan, terutama pengolahan secara termal.Adapun data-data yang diperoleh antara lain: Kapasitas sampah Pemko Medan perhari Sifat fisik sampah

25

Jenis-jenis komponen dari sampah Sifat kimia sampah Dari data ini menunjukkan bahwa keadaan sampah Pemko Medan tergolong

kelas sampah negara berpendapatan rendah sesuai yang dinyatakan oleh Outerbridge (1991) didalam kajian literatur. Calvin R. Bruner, (1993) menurut teori pembakaran bahwa sisa abu hasil pembakaran relatif antara 10-20 % sedangkan 90% bahan bakar akan terbakar menjadi gas emisi. Dari analisa bahan bakar sampah domestik juga menunjukkan bahwa nilai abu pembakaran begitu rendah, jadi dari sisi limbah /padat abu tidak menjadi masalah.

C. Perolehan Energi Sampah Domestik Kondisi dilapangan menunjukkan dari kapasitas yang dibuang ke TPA adalah sebanyak 1000 ton/hari. Sedangkan bahan sampah yang bisa dijadikan bahan bakar 752.900 kg/hari (yaitu bahan yang bisa dibakar bahan yang bisa terbakar). Sifat kimia sampah menunjukkan dari kapasitas 752.900 kg/hari menghasilkan LHV = 12,300 kJ/kg dan HHV= 15,540 kJ/kg. Data-data pendukung tersebut bisa merupakan input dalam perkiraan perolehan heat, suhu pembakaran dan power listrik. Sebagaimana perkiraan energi yang dinyatakan oleh Syamsir A, Muin (1988), Hasil simulasi dapat ditunjukkan dalam Grafik 2. dan 3. Dari perolehan ini secara teori sudah bisa melihat manfaat atau Pemko Medan. Potensi kimia keuntungan yang diperoleh dari sampah domestik

sampah dapat dikonversikan menjadikan energi termal sebanyak, Qf = 9,29 x 10 9 kJ/jam. Jika dikonversikan lagi energi termal menjadi energi listrik, secara teori akan memperoleh power sebesar 6 MW. Perolehan ini dapat memberikan konstribusi langsung atas permintaan listrik Pemko Medan. D. Pengolahan Alternatif Sampah Domestik Pemko Medan Pengolahan sampah Pemko Medan bisa dilakukan secara termal yaitu merubahnya sebagai bahan alternatif mendapat energi. Kemudian sesuai dengan kajian literature yang dinyatakan oleh George, H dan Samuel (1999) pengolahan sampah Pemko Medan bisa dilakukan secara terpadu (Integreted Managemant Solid Waste).

26

Dari hasil analisa sampah menunjukkan bahwa proses pengkomposan layak dilakukan dengan modal relatif murah. Pada dasarnya tempat pengolahan sampah ini tidak memerlukan areal yang terlalu luas, namun dapat dibuat sebagai satu kawasan perkampungan yang hijau. Maksudnya dapat dijadikan sebagai areal peternakan dan pertanian dengan dilengkapi sistem pengolahan listrik sendiri.
3000000.000

2500000.000

2406205.531 2138849.361

2000000.000 Ws (Kg/jam)
1871493.191 1604137.020 1336780.850

1500000.000
1069424.680 802068.510

1000000.000

500000.000

534712.340 267356.170

0.000 0

0.000

100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 900000 1000000 Wf (Kg.bb/jam)

Grafik 3. Hubungan Bahan Bakar (Wf) Vs Uap Dihasilkan (Ws)


3000000.00 6000000.00 5390716.26 Kapasitas Uap Yang Dihasilkan (Ws), kg/jam 2500000.00 5000000.00 2406205.53 4791747.79 2138849.36 4192779.31 2000000.00 1871493.19 3593810.84 1500000.00 1604137.02 2994842.37 1336780.85 2395873.89 1069424.68 1796905.42 802068.51 500000.00 1197936.95 534712.34 598968.47 267356.17 0.00
0

4000000.00

3000000.00

1000000.00

2000000.00

1000000.00

0.00
100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 900000

0.00 Jumlah Bahan Bakar (Wf), kg/jam

Grafik 4. Hubungan Wf, Ws dan Nt

Daya Yang Dihasilkan (Nt), Watt/jam

27

BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan 1. Penanggulangan sampah Pemko Medan ternyata masih perlu dibenahi secara serius dan professional oleh pemko Medan dan juga jajaran yang terkait lainnya termasuk masyarakat awam dan juga masyarakat akademik. Setelah peneliti mengadakan survey lapangan maupun data yang diperoleh dari laboratorium banyak yang bisa dijadikan input dan informasi bagi pengelola sampah yang ada di kawasan Pemko medan. Faktor-faktor pendukung pengolahan sampah begitu kuat antara lain: Masih banyak kawasan kosong dan aman yang bisa dijadikan lokasi TPA. Sampah itu sendiri memiliki banyak potensi yang masih berharga, seperti bahan yang bisa di daur ulang, bahan yang mengandung nutrisi bagi tumbuhan atau ternak dan bahan yang mengandung gas dan energi. 2. Berdasarkan data hasil penelitian diperoleh bahan anorganik 29,31%, bahan organik 70,69%. Potensi energi atau nilai kalor (LHV) sampah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yaitu nilai LHV sebelum ditreatment adalah 6050 kJ/kg dan LHV setelah ditreatment adalah 12,300 kJ/kg. Dari hasil simulasi energi sampah sebanyak 752.900 kg/hari dapat dikonversikan menjadi energi panas 9,29 x 10 9 kJ/jam. Jika dikonversikan lagi energi termal menjadi energi listrik akan memperoleh power sebesar 6 MW. Perolehan ini dapat memberikan konstribusi langsung kepada masyarakat pengguna di kawasn Pemko Medan. Secara umum dapat dinyatakan bahwa pengolahan sampah di kawasan Pemko Medan layak dilakukan dengan system termal. 3. Pengolahan sampah alternatif dapat juga dilakukan secara terpadu (Integreted Managemant Solid Waste). Pada dasarnya tempat pengolahan sampah ini tidak memerlukan areal yang terlalu luas, namun dapat dibuat sebagai satu kawasan Perkampungan Hijau. yaitu dapat dijadikan sebagai satu areal penghasil kompos, peternakan dan pertanian dengan dilengkapi sistem pengolahan listrik menggunakan bahan bakar sampah itu sendiri.

28

B. Rekomendasi 1. Pemko Medan sebaiknya mempunyai perencanaan yang matang dalam pemilihan metode pengolahan sampah kota, dengan melibatkan pihak akademisi sebagai tim peneliti. 2. Adanya tindak lanjut dari pihak Pemko Medan setelah mengetahui berapa besar potensi energi yang dihasilkan dari bahan bakar sampah. Bekerjasama dengan pihak investor membangun pengolahan sampah kota menjadi bahan bakar. 3. Penelitian pengolahan sampah domestik sebaiknya dilanjutkan ketahap yang lebih realistik, seperti alat penghasil uap, turbin, dan alat pengontrol udara gas buang hasil pembakaran sampah.

29

DAFTAR PUSTAKA
Chamhuri Siwar. Environmental Management. Proceedings National Seminar on Environment Issues and Challenges in Malaysia., UKM, Bangi (2000). Outherbirdge (1991). Limbah Padat di Indonesia (penterjemah: Mochtar Lubis & Hira Jhamtani Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Calvin R. Bruner, 1993. Hazardous Waste Incineration. New York: McGraw-Hill, Inc. Calvin R. Brunner, P.E., D.E.E, (1993) Hazardous Waste Incineration. New York: McGraw-Hill, Inc. 11, pp 249-262. George, Hillary dan Samuel Integrated Solid Waste Management Engineering Principles and Management Issues. (1999) Ogada TPM. Combustion and emission characteristics of sewage sludge in a bubbling fluidised bed combustor. Ph.D. Dissertation, Technical University of Hamburg, Hamburg, 1995. Syamsir Muin, 1988 Pesawat Mesin Konversi Energi I, Jakarta: PT. Rajawali.

30

LAMPIRAN A

31

32

LAMPIRAN B

33

34