Anda di halaman 1dari 3

Interaksi obat pada penanganan diabetes

Diabetes melitus adalah penyakit pada orang yang kelenjar pankreasnya gagal menghasilkan insulin dalam jumlah cukup, atau yang tubuhnya tak dapat menggunakan insulin dengan baik. Insulin adalah hormon yang membawa gula dari darah ke sel tubuh yang membutuhkannya yang mengubahnya menjadi energi. Pada pasien diabetes melitus, gula tetap berada dalam darah (dan keluar melalui urin) dan tidak dibawa ke sel untuk digunakan. Karena tak ada gula, sel harus membakar lemak dan protein lebih dari biasanya. Pemecahan lemak dan protein secara berlebihan ini akan membebaskan produk-buangan asam ke dalam darah. Diabetes yang tak ditangani atau diawasi dengan baik dapat menimbulkan efek merugikan dalam jangka panjang clan dapat menyebabkan krisis metabolik dan koma diabetik. Gejala diabetes adalah rasa lapar yang berlebihan (tubuh menyadari kebutuhannya yang meningkat akan bahan bakar), banyak kencing, rasa haus yang amat sangat (tubuh harus menggantikan kehilangan cairan karena kencing), lesu, letargi, mengantuk, kehilangan bobot badan. Biasanya penderita diabetes, dalam keadaan berpuasa, mempunyai kadar gula darah di atas 130 mg/100 ml dan setelah makan kadarnya di atas 170 mg/ml.

Patofisiologi DM tipe 1 (IDDM) terjadi pada 10% dari semua kasus diabetes. Secara umum, DM tipe ini berkembang pada anak-anak atau pada awal masa dewasa yang disebabkan oleh kerusakan sel pankreas akibat autoimun, sehingga terjadi defisiensi insulin absolut. Reaksi autoimum umumnya terjadi setelah waktu yang panjang (9-13 tahun) yang ditandai oleh adanya parameter-parameter sistem imun ketika terjadi kerusakan sel . Hiperglikemia terjadi bila 80%-90% dari sel rusak. Penyakit DM dapat menjadi penyakit menahun dengan resiko komplikasi dan kematian. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya autoimun tidak diketahui, tetapi proses itu diperantarai oleh makrofag dan limfosit T dengan autoantibodi yang bersirkulasi ke berbagai antigen sel (misalnya antibodi sel islet, antibodi insulin) DM tipe 2 (NIDDM) terjadi pada 90% dari semua kasus diabetes dan biasanya ditandai dengan resistensi insulin dan defisiensi insulin relatif. Resistensi insulin ditandai dengan

peningkatan lipolisis dan produksi asam lemak bebas, peningkatan produksi glukosa hepatik, dan penurunan pengambilan glukosa pada otot skelet. Disfungsi sel mengakibatkan gangguan pada pengontrolan glukosa darah. DM tipe 2 lebih disebabkan karena gaya hidup penderita diabetes (kelebihan kalori, kurangnya olahraga, dan obesitas) dibandingkan pengaruh genetik. Diabetes yang disebabkan oleh faktor lain (1-2% dari semua kasus diabetes) termasuk gangguan endokrin (misalnya akromegali, sindrom Cushing), diabetes melitus gestational (DMG), penyakit pankreas eksokrin (pankreatitis), dan karena obat (glukokortikoid, pentamidin, niacin, dan c(-interferon). Gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa terjadi pada pasien dengan kadar glukosa plasma lebih tinggi dari normal tetapi tidak termasuk dalam DM. Gangguan ini merupkan faktor resiko untuk berkembang menjadi penyakit DM dan kardiovaskular yang berhubungan dengan sindrom resistensi insulin. Komplikasi mikrovaskular berupa retinopati, neuropati, dan nefropati sedangkan komplikasi mikrovaskular berupa penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit vascular periferal.

Banyak penderita dapat ditangani hanya dengan mengatur kebiasaan makan dan bobot badan saja. Sebagian memerlukan pengobatan secara oral. Penderita diabetes berusia muda dan penderita dewasa yang tak dapat diobati hanya dengan sediaan oral atau pengaturan makan, membutuhkan suntikan insulin setiap hari. Baik pil maupun insulin dapat menurunkan kadar gula darah. Pil bekerja dengan merangsang pankreas untuk menghasilkan lebih banyak insulin atau dengan menambah kemampuan tubuh menggunakan insulin. Suntikan insulin menutupi langsung kekurangan insulin dalam tubuh. Oral : Diabinese (klorpropamida) Dymelor (asetoheksamida) Suntikan : Insulin Orinase (tolbutamida) Tolinase (tolazamida)

Pasien dan dokter harus selalu memantau kadar gula dalam darah dan urin pada setiap pengobatan yang menggunakan senyawa yang berinteraksi dengan obat diabetes pasien bersangkutan. Untuk mendapatkan kadar gula darah yang mantap, dosis obat diabetes harus diatur pada saat obat lain tersebut diberikan. Di samping itu, setelah pengobatan berhenti, dosis obat diabetes harus disesuaikan kembali. Penderita diabetes, terutama yang menggunakan obat lain yang mungkin berinteraksi, sebaiknya selalu membawa permen atau sediaan glukosa seperti Monojel atau Glutose, untuk digunakan pada keadaan darurat manakala kadar gula darah turun mendadak.
INTERAKSI OBAT

1. Interaksi yang dapat meningkatkan efek obat diabetes a. Obat diabetes (oral) - Alopurinol (Zyloprim)= asam urat b. Obat diabetes (oral) Aspirin = penahan sakit c. Obat diabetes (oral) - Kloramfenikol (Chloromycetin, Mychel) = antibiotic d. Obat diabetes (oral) Insulin e. Obat diabetes (oral) Fenilbutazon (Azolid, Butazolidin) = radang 2. Interaksi yang dapat mengurangi efek obat diabetes a. Obat diabetes (oral dan insulin) Amfetamin = obat penenang, tidur b. Obat diabetes (oral dan insulin)- metaproterenol = Penyakit asma c. Obat diabetes (oral clan insulin) fenipropalonamin (Sediaan flu/ batuk yang mengandung senyawa pelega hidung) = penyakit flu d. Obat diabetes (oral dan insulin) Kortikosteroida = alergi kulit e. Obat diabetes (oral dan insulin) Pil pelangsing (tanpa resep) yang mengandung fenilpropanolamin f. Obat diabetes (oral dan insulin) Laxic (Diuretika) = penyakit hipertensi