Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN A.

Profil Usaha Unit penyulingan yang dijalankan oleh Bapak Heri Waluyoini belum mempunyai nama UKM karena baru mulai beroperasi sejak Agustus 2011, kira-kira sekitar 3 bulan. Tempat penyulingan ini beralamat di Tlobo Jenggrik, Jatiyoso, Karanganyar.Penyulingan yang dilakukan pun hanya terbatas pada 1 komoditas saja yaitu daun cengkeh. Awalnya Bapak Heri membangun tempat penyulingan dekat dengan rumahnya, namun masih menggunakan air PDAM. Setelah usaha berjalan, Pak Heri mengontrak tanah, persis di samping sungai dan membangun 2 tempat penyulingan yang baru dengan tujuan mudahnya mendapatkan air untuk pendingin dan juga proses serta jauh dari pemukiman warga. Ide berdirinya usaha penyulingan minyak ini berasal dari kakak Pak Heri yang sebelumnya pernah bekerja di tempat penyulingan minyak atsiri di daerah Palur, Karanganyar. Dengan pemesanan alat pada rekan kakak beliau yang pernah menjadi teknisi peralatan di pabrik yang sama. Pak Heri kemudian melihat adanya kesempatan untuk membuka tempat penyulingan di daerah Jatiyoso karena banyaknya pohon cengkeh yang tumbuh di sana sehingga memudahkan dalam pencarian bahan baku. Dengan kondisi yang demikian di daerah Tlobo Jenggrik tersebut banyak berdiri unit-unit penyulingan minyak atsiri daun cengkeh lainnyayang sudah lebih dulu berdiri maupun yang baru berdiri. Namun untuk jangka waktu satu tahun ini, terjadi gagal panen disebabkan banyak pohon cengkeh terserang hama pembunuh kayu cengkeh. Sehingga ada rencana untuk mengganti bahan baku menjadi nilam ketika bahan baku daun cengkeh sulit diperoleh, karena penyulingan harus terus berjalan. Disebutkan pula ketika panen daun cengkeh melimpah, maka

banyaktempat penyulinganyang melakukan proses penyulingan dengan frekuensi 2 kali dalam sehari. Usaha ini pun mendapat tanggapan yang bagus dari masyarakat sekitar dimana masyarakat sekitar bisa menjual daun-daun cengkeh yang

sudah rontok itu kepada Pak Heri. Dari hasil survey, kami dapat mengetahui harga untuk bahan baku daun kering yang dijual oleh masyarakat ke UKM-UKM penyulingan dengan harga tergolong murah yaitu berkisar Rp 1000,00 per kilo daun cengkeh. Untuk sekarang ini, jumlah pekerja yang ada sekitar 12 orang di mana 6 orang sebagai pencari daun cengkeh dan 6 orang sisanya bertugas saat proses penyulingan, dengan waktu kerja per shift sekitar 8 jam sehari. Waktu selama 8 jam merujuk pada sekali tahapan proses

penyulingan.Penyulingan berlangsung setiap hari.Dalam 1 hari biasanya dilakukan penyulingan sebanyak 2 kali, kira-kira sampai jam 10 malam. Dandang/ketel penyulingan yang digunakan sekitar 3 buah dengan diameter 1,5 meter dan tinggi 3 meter.

BAB II ISI A. Proses Produksi 1. Bahan Baku Bahan baku yang digunakan dalam penyulingan minyak atsiri ini adalah daun cengkeh kering. Diutamakan adalah yang kering.Walau pada kenyataannya daun cengkeh yang dibeli dan dikumpulkan masyarakat sekitar, diperoleh dari rontokan daun pohon-pohon cengkeh yang ada setiap hari baik saat panen maupun saat belum panen cengkeh, sesekali didapati daun cengkeh yang belum kering maupun ikutan daun lainnya. Untuk sekali penyulingan, bahan baku yang masuk sekitar 8 kwintal. Selain dari warga sekitar, juga adanya pengambilan daun cengkeh dari daerah Gunung Kidul seminggu sekali. 2. Pretreatment Bahan Baku Pretreatment bahan baku yang dilakukan adalah dengan

mengawul-awul atau menghambur-hamburkan daun cengkeh untuk menghilangkan tanah yang masih menempel pada daun. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar rendemen yang dihasilkan juga semakin banyak.Tidak ada pemilihan/sortasi dari daun yang masuk dalam ketel penyulingan, hal ini menunjukkan bahwa daun yang disuling merupakan daun campuran. 3. Persiapan Ketel Persiapan ketel dilakukan dengan mengalirkan air ke dalam ketel penyulingan untuk kemudian dimasak dan dihasilkan uap air yang akan digunakan untuk mengambil senyawa volatil yang ada pada bahan yang kemudian akan keluar dalam bentuk cairan (minyak). Dandang/ketel penyulingan mempunyai diameter 1,5 meter dan tinggi 3 meter. Angsang yang digunakan ada 2, di bawah dan di atas.Angsang di bawah berfungsi untuk menadah daun cengkeh yang masuk sedangkan angsang di atas berfungsi untuk memudahkan dalam mengeluarkan bahan sehabis penyulingan menggunakan katrol (agar tidak terlalu berat dibandingkan bila hanya memakai satu angsang).Jarak antara permukaan air dan angsang bawah adalah sekitar 30 cm. Tinggi air adalah sekitar 80 cm-1meter.

Sementara itu, jarak antara angsangbawah dan angsang atas adalah sekitar 80 cm. 4. Pemadatan Pemadatan yang dilakukan ada 2 cara, yang pertama yaitu dengan menginjak daerah pinggir dari daun yang sudah dimasukkan dalam ketel sebelum memanaskan air. Yang kedua dengan memanaskan air dahulu baru kemudian memasukkan daun cengkeh ke dalamnya.Pemanasan air diperkirakan selama 3 jam dengan api besar, untuk api kecil kira-kira selama 4 jam. Daun yang dimasukkan dalam ketel setelah adanya pemanasan air akan langsung ambles, dengan mudah memadat ke bawah, volume mengecil karena ada perlakuan panas. Namun karena waktu untuk menunggu air menguap lama, biasanya dilakukan cara pemadatan yang pertama yaitu dengan diinjak-injak oleh pekerja yang bertugas. 5. Proses Penyulingan Setelah bahan dimasukkan, air menguap, dan ketel ditutup, proses penyulingan sudah berjalan. Proses penyulingan atau destilasi dengan sistem kukus ini prinsipnya adalah uap air yang ada dapat mengekstrak minyak atsiri daun cengkeh khususnya zat eugenol dalam bentuk uap jenuh yang kemudian uap masuk ke dalam pipa diteruskan ke kolam pendingin yang berfungsi sebagai kondensor untuk mengembunkan uap air bersama minyak atsiri daun cengkeh mengalir ke bak penampung. Pemisahan antara air dan minyak atsiri hasil suling daun cengkeh akan secara otomatis terjadi karena berat jenis yang berbeda. Berat jenis minyak atsiri daun cengkeh yang lebih berat dari air membuat minyak terakumulasi di bawah tempat penampung sedangkan air

diatasnya.Sehingga dengan bak penampung seperti gambar dapat kita peroleh minyak atsirinya sedikit-demi sedikit.

Gambar 1. Bak Penampung Minyak Bak penampung sengaja dibuat hingga tiga tingkat dengan maksud penampungan minyak atsiri lebih optimal, tidak ada minyak atsiri terbuang.

Gambar 2. Bak Penampungan

6. Kontrol Air Dalam Ketel Selama proses penyulingan air harus tersedia cukup dalam ketel. Proses penyulingan dapat mengurangi volume air karena diuapkan oleh panas. Terdapat pipa yang dihubungkan dengan ketel yang berfungsi sebagai control kesedian air dalam ketel. Ketika air kurang dari batas yang diperlukan, dari pipa tersebut akan mengeluarkan asap. Sehingga air harus diisi dengan memutar keran. Air masuk dari pipa sambungan sumber air (ada dari PDAM maupun dari sungai) ke ketel, dan tandanya penuh adalah mengucurnya kelebihan air ke luar keran kecil yang sengaja dibuat di pinggir ketel dengan ketinggian tepat dimana volume air di dalam ketel cukup untuk berlangsungnya proses penyulingan 7. Tetesan Pertama Minyak Keluarnyaminyak tetesan pertama sekitar 1 jam dari dimulainya penyulingan. Tanda-tanda saat minyak yang dihasilkan sudah habis adalah minyak yang dikeluarkan menjadi sangat lembut, kira-kira 6-8 jam. 8. Randemen Randemen dapat dihitung dari perbandingan berat bahan yang masuk dengan berat minyak yang keluar untuk setiap satu kali penyulingan.Berat daun cengkeh dari daerah sekitar Desa Tlobo Jenggrik, yang masuk adalah sekitar 8 kwintal atau 800 kg sementara berat minyak yang dihasilkan sebesar 12 kg. Sehingga randemennya (12/800) x 100% = 1,5%. Sementara itu, untuk daun cengkeh dari daerah Gunung Kidul, dihasilkan minyak yang lebih banyak yaitu sekitar 24 kg sehingga randemen yang dihasilkan adalah (24/800) x 100% = 3%. B. Kondensor Panjang pipa kondensor yang digunakan adalah 8 x 6 meter, dengan jumlah 48 meter yang dibuat berkelok-kelok membentuk persegi panjang. Diameter pipa kondensor dari ketel berturut-turut adalah 3 inci; 2,5 inci; dan 1 inci. Diameter pipa kondensor ini dibuat semakin mengecil dengan tujuan agar minyak dan air yang keluar sudah turun suhunya dan lebih efektif dalam pengembunan.Pipa kondensor ini terbuat dari aluminium. Kualitas warna minyak atsiri yang dihasilkan dengan menggunakan pipa aluminium dan

stainless steel sama, yaitu bening. Penggunaan alumunium karena harganya lebih murah walaupun lebih awet jika menggunakan stainless steel.Jika ada penyumbatan pada pipa kondensor berbahan dasar aluminium, maka harus dilakukan pembongkaran dan pemasangan ulang.Sedangkan bila memakai stainles steel akan sulit dilakukan pembongkaran ketika terjadi penyumbatan. Prinsip kondensor adalah uap air yang membawa senyawa volatil dari daun cengkeh akan masuk dalam pipa kondensor yang kemudian akan didinginkan dalam kolam pendingin berisi air dingin sehingga uap dan senyawa volatil akan mengembun menjadi tetesan air. C. Minyak Minyak yang dihasilkan langsung tidak diberikan perlakuan lanjutan terkait pemurnian. Hasil minyak yang didapatkan langsung didistribusikan ke Sari Daun. Sebuah perusahaan lebih besar yang memang memiliki fungsi sebagai pengumpul minyak-minyak atsiri hasil suling UKM warga sekitar Jatiyoso hingga Karanganyar. Yang mana nantinya dikatakan oleh Bapak Heri, minyak atsiri yang dikumpulkan akan diteruskan penjualannya pada berbagai industri di daerah Purwokerto dominannya. Dari harga bahan baku Rp 1.000,00 per kilogramnya, 800 kg daun cengkeh dapat menghasilkan hingga 12 kg minyak atsiri daun cengkeh dengan harga jual di Sari Daun berkisar Rp 110.000,00 per kilogram minyak. D. Pemasaran Pemasaran dilakukan dengan mendistribusikan minyak daun cengkeh ke Sari Daun. Sari Daun sendiri merupakan pengumpul dari minyak-minyak atsiri yang ada. Tidak ada batasan-batasan untuk menjual minyak di sana. Biasanya seminggu sekali, minyak akan didistribusikan ke Sari Daun atau menjual dengan menunggu info dari Sari Daun. E. Pembersihan Alat Pembersihan ketel penyulingan dilakukan seminggu sekali karena kadang adanya tanah yang ikut masuk dalam proses penyulingan, mengendap, dan kemudian menjadi kerak di bawah ketel. Pembersihan dilakukan secara manual yaitu menggunakan sekop dan ember.Untuk pipa-pipa kondensor, tidak dilakukan pembersihan.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Tempat penyulingan minyak cengkeh milik Bapak Heri Waluyo beralamatkan di Tlobo Jenggrik, Jatiyoso, Karanganyar. 2. Mendirikan tempat penyulingan minyak daun cengkeh ini karena di daerah Jatiyoso memiliki banyak komoditas pohon cengkeh. 3. Dalam ketel berukuran diameter 1,5 m dan tinggi 3 m, diberi 2 angsang yang bertujuan untuk memudahkan ketika pembongkaran setelah selesai penyulingan. 4. Pemadatan bahan baku dilakukan dengan cara diinjak-injak bagian pinggirnya dan mendapatkan randemen minyak yang lebih tinggi. 5. Tetesan pertama keluar sekitar 1 jam setelah dimulainya penyulingan dan berakhir setelah kira-kira 6-8 jam . 6. Randemen minyak cengkeh dari karanganyar 1,5% dan 3% minyak dari daerah Gunung Kidul. 7. Pipa kondensor terbuat dari alumunium yang mudah dibongkar

pasang bila terjadi penyumbatan dan ukurannya yang semakin bawah semakin mengecil. 8. Penyulingan ini tidak dilakukan pemurnian. 9. Alat dibersihkan secara manual menggunakan air dan sekop.

B. Saran 1. Perlunya dikoordinir pembentukan asosiasi pengusaha minyak atsiri yang juga merangkul UKM-UKM kecil hingga menengah untuk menjaga stabilitas harga. 2. Perlunya kegiatan-kegiatan terkoordinir memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada warga sekitar daerah penghasil minyak atsiri daun cengkeh mengatasi ketidaktahuan tentang apa itu minyak yang selama ini mereka produksi, dan untuk apa kegunaannya, berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Heri dan beberapa warga yang menuturkan betapa rasa ingin tahunya akan fungsi dan kegunaan minyak atsiri.

MAKALAH TEKNOLOGI REMPAH DAN MINYAK ATSIRI PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH

(Tlobo Jenggrik, Jatiyoso, Karanganyar)

DISUSUN OLEH :

1. FEBRIA KEMALA SARI 2. FREDERICA ARIESTA R. 3. FENNY 4. HANA EKA PRIHANTI 5. IDA AYU SUKMAWATI 6. MEI ARUM SARI

H0909026 H0909034 H0909027 H0909038 H0909074 H0909047

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011