Anda di halaman 1dari 6

J.

Hidrosr Indonesia

Vol. 4

No.1

Hal.17 - 22

Jakarta, April 2009

ISSN 1907-1043

PEMETAAN TINGKAT KEPEKAAN LINGKUNGAN PESISIR DI KOTA SEMARANG


Mardi Wibowo Peneliti Bidang Hidrologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Naskah masuk: 5 Januari 2009; Revisi terakhir: 3 Maret 2009

Abstract
Coastal zone of Semarang area has big potencial in shery, tourism, industrial and service activities. In development of Semarangs coastal zone, is met much of environmental problems such as abration, land subsidence, sedimentation, water and land pollution and seawater intrusion. On the other hand, this area has limited carrying capacity and very sensitive to oil spill pollution and sedimentation. Therefore it is need index environmental sensitivity assessment/mapping with Geographical Information System (GIS) technology in Semarangs coastal zone. For Semarangs coastal zone development plan, should be: western part of Semarangs coastal zone is developed as shery cultivation; central part as industrial, residential area activity and eastern part as shery activity with special treatment and protection. Key words : degree environmental sensitivity, GIS technology

1. 1.1.

PENDAHULUAN Latar Belakang dll) dan lingkungan ekologi (habitat khusus, kawasan lindung, dll). Peta indeks kepekaan lingkungan sangat berperan dalam perencanaan ICZM (Integrated Coastal Zone Management) seperti sebagai dasar perencanaan kebijakan pemeliharaan lingkungan pesisir, konservasi dan perlindungan habitat/sumberdaya pesisir, pengendalian pencemaran dan perencanaan mitigasi untuk menghadapi bencana laut dan untuk rehabilitasi dan restorasi lingkungan, serta mampu untuk pengkajian dampak lingkungan yang strategis. Sejak tahun 1980-an pemetaan tingkat kepekaan lingkungan banyak memanfaatkan teknologi SIG (Sistem Informasi Geografis) karena mampu untuk menangani, menangkap, menyimpan, mengedit, mengambil, menganalisis, mengupdate, menampilkan dan mereproduksi informasi geogras.

Indeks kepekaan lingkungan pada dasarnya adalah mengukur kemudahan/potensi kehilangan nilai ekonomi, sosial, sik dan biologi dari lahan yang ada (Peterson, 2002). Indeks kepekaan lingkungan disusun untuk mengetahui tingkat karaktersitik dan features kepekaan/ sensitivitas dan kerentanan/vulnerabilitas sumberdaya yang ada di pesisir. Indeks kepekaan lingkungan pada awalnya (Tahun 1976) dilakukan khusus terhadap limpahan minyak untuk kepentingan perencanaan mitigasi bila terjadi tumpahan minyak. Tetapi sesuai dengan perkembangan permasalahan yang ada indeks kepekaan lingkungan ini terus berkembang sesuai dengan semakin banyaknya jenis zat pencemar. Indeks kepekaan lingkungan ini harus memperhatikan sumberdaya sik dan biologi (seperti : hutan bakau, terumbu karang, dll), lingkungan social dan ekonomi (lokasi wisata, kawasan akuakultur,
Korespondensi Penulis Telp/Fax. 62-21-316 9725; m_wibowo@webmail.bppt.go.id

17

Mardi Wibowo, 2009

Wilayah pantai Kota Semarang saat ini mengalami perkembangan yang sangat cepat dan dinamis baik dari aspek perubahan fisik lahan maupun dari aspek perkembangan kegiatan perkotaan. Perkembangan kegiatan ekonomi tersebut pada umumnya bersifat eksploitatif sehingga perlu diatur secara terpadu dan seimbang. Di lain pihak wilayah pantai/pesisir mempunyai daya dukung yang sangat terbatas dan mempunyai kepekaan/sensitivitas yang sangat tinggi terhadap tekanan pertumbuhan penduduk, polusi terutama dari industri, pembuangan berbagai macam limbah, budidaya perairan (tawar, payau dan laut), perhubungan laut, pariwisata dan kegiatan intensif lainnya. Oleh karena itu dalam perencanaan pengelolaan kawasan pesisir di Kota Semarang perlu adanya pengkajian tingkat kepekaan lingkungan pesisir terutama terhadap sumber pencemar yang banyak terjadi di Kota Semarang seperti sedimen dan tumpahan minyak khususnya di sekitar pelabuhan. 1.2. Tujuan dan Sasaran Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui tingkat kepekaan lingkungan pesisir di Kota Semarang terhadap berbagai macam sumber pencemar terutama tumpahan minyak dan sedimentasi. Sedangkan sasaran dari kegiatan ini adalah : a. Mengidentifikasi & menginventarisasi permasalahan dan kondisi eksisting yang ada di pesisir b. Mengidentifikasi potensi sumberdaya pesisir yang ada c. Menyusunan model indeks kepekaan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk peta konvensional maupun peta digital d. M e n y u s u n a n r e k o m e n d a s i u n t u k perencanaan, penataan dan pengelolaan pesisir serta prioritas perlindungan lingkungan pesisir. 1.3. Manfaat

a. Sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan pengelolaan pesisir Kota Semarang. b. Sebagai bahan pertimbangan awal untuk menetukan strategi yang tepat dalam mengendalikan dan menanggulangi dampak tumpahan minyak dan sedimentasi. 2. METODOLOGI

Secara umum untuk pengolahan data dalam penelitian pemetaan kepekaan lingkungan pantai ini adalah dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG). Gambaran tahapan pelaksanaan dalam pemetaan kepekaan lingkungan pantai dengan memanfaatkan teknologi SIG terlihat pada gambar 1. 3. PEMBAHASAN 3.1. Konsep Pemetaan Tingkat Kepekaan Lingkungan di Pesisir Kota Semarang Konsep ini disusun berdasarkan data-data yang terkumpul baik primer maupun sekunder dan harus banyak mempertimbangkan konsep model yang pernah disusun dan dikembangkan oleh para peneliti baik di dalam maupun di luar negeri. Berdasarkan literatur-literatur dari peneliti terdahulu dapat dikatakan bahwa parameter yang mempengaruhi kepekaan lingkungan pantai akibat adanya pencemar minyak dan sedimen relatif sama. Parameter-parameter yang dipakai dalam konsep model untuk pemetaan kepekaan lingkungan pantai di Kota Semarang ini adalah : a. Material/ batuan penyusun Semakin halus material/batuan penyusun semakin peka terhadap pencemaran karena pada umumnya batuan yang halus lebih mudah lapuk/ rusak dan kalau sudah tercemar akan semakin sulit untuk dibersihkan. Sehingga semakin halus material penyusunnya semakin besar nilai skor yang diberikan (Tabel 1). Tabel 1. Jenis material & skornya No 1 2 3 Material/Batuan Lanau lempungan Pasir lanauan Berbatu Skor 3 2 1

Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian ini adalah :

18

Mardi Wibowo, 2009

b. Bentuk garis pantai Semakin cekung bentuk garis pantai semakin peka terhadap pencemaran yang ada di laut. Karena pada umumnya garis pantai yang cekung akan menjadi semacam jebakan (trap) sehingga potensi pencemaran bisa semakin itensif, berbeda dengan pantai yang cembung dimana Tabel 2. Bentuk pantai dan skornya No 1 2 3 Bentuk pantai Cekung Relatif datar Cembung Skor 3 2 1

pantai, semakin besar pula kepekaan pantai tersebut terhadap adanya pencemaran. Sehingga daerah pantai yang mempunyai kecepatan amblesan besar akan mempunyai skor tingkat kepekaan yang lebih tinggi (Tabel 4.). e. Perkembangan garis pantai

Pantai yang mengalami perkembangan ke arah laut (abrasi) mempunyai kepekaan lingkungan terhadap pencemaran relatif lebih besar dibandingkan garis pantai yang cenderung begeser ke arah laut (akresi). Hal ini dikarenakan dengan adanya abrasi zat pencemar akan dapat lebih meresap ke dalam lahan pantai dibandingkan dengan pantai yang mengalami akresi, karena Tabel 5. Perkembangan garis pantai & skornya No 1 2 3 Pertumbuhan Garis Pantai Abrasi Relatif tetap Akresi Skor 3 2 1

benturan dari gelombang laut dapat mengurangi potensi pencemaran, sehingga bentuk pantai yang cekung mempunyai skor yang lebih besar daripada yang cembung (Tabel 2). c. Potensi Genangan Akibat Pasang Naik (Rob) Semakin besar potensi kemungkinan terjadinya rob di suatu pantai, semakin besar pula kepekaan pantai tersebut untuk terkena pencemaran Tabel 3. Potensi rob dan skornya No 1 2 3 Potensi Rob Sangat sering Sering Jarang Skor 3 2 1

proses pencucian yang yang terjadi di kawasan pantai akresi akan lebih efektif dibanding yang abrasi. Sehinggga garis pantai yang mengalami abrasi akan mempunyai skor kepekaan terhadap pencemaran relatif lebih tinggi dibandingkan yang mengalami akresi (Tabel 5) f. Habitat mangrove Habitat mangrove ini merupakan faktor utama dan penentu nilai dari fungsi konservasi. Sebenarnya fungsi konservasi ditentukan pula dengan adanya terumbu karang, padang lamun, kawasan lindung, bangunan bersejarah dan lainlain. Tetapi karena di Semarang yang ada hanya mangrove makanya fungsi konservasi hanya didasarkan kepada ada tidaknya habitat mangrove. Tabel 6. Ada tidaknya Mangrove & skornya No 1 2 3 Mangrove Non Mangrove Habitat Skor 3 2 1

baik pencemaran tumpahan minyak maupun sedimen. Sehingga daerah pantai yang sering terjadi rob mempunyai nilai skor yang lebih besar dibandingkan dengan daerah lain yang jarang terkena rob (Tabel 3). d. Kecepatan Amblesan Semakin besar kecepatan amblesan daerah Tabel 4. Amblesan & skornya No 1 2 3 Kecapatan Amblesan >0,2 m/th 0,15 - 0,2 m/th <0,15 m/th Skor 3 2 1

19

Mardi Wibowo, 2009

Dengan semakin padatnya populasi mangrove maka kepekaan lingkungan kawasan pantai tersebut dibandingkan dengan kawasan pantai yang tidak ada mangrovenya. Sehinggga kawasan pantai yang ada mangrovenya mempunyai skor kepekaan lingkungan terhadap pencemaran yang relatif lebih besar (lihat Tabel 6). g. Nilai ekonomis Dalam penentuan tingkat kepekaan lingkungan dari nilai ekonomis ini utamanya didasarkan pada tata guna lahan yang ada. Besarnya skor ditentukan pada tinggi rendahnya nilai ekonomis dari tiap penggunaan lahan. Semakin tinggi nilai sosial ekonomisnya semakin besar skor yang diberikan untuk tingkat kepekaannya terhadap adanya pencemaran. Dalam hal ini penentuan Tabel 7. Penggunaan lahan & skornya No 1 2 3 Penggunaan Lahan Kawasan Terbangun Tambak Sawah dan Tegalan Skor 3 2 1

Tabel 8. Kelas Kepekaan Pantai Kota Semarang No 1 2 3 Penggunaan Lahan Sangat Peka Peka Tidak Peka Jumlah Skor 8,9,10,11 12,13,14,15 16,17,18,19

penaganannya. Untuk mengklasifikasinya (membuat zonasi tingkat kepekaannya) perlu dibuat kelas-kelas berdasarkan nilai total yang ada di seluruh daerah penelitian. Proses klasikasi ini dilakukan berdasarkan kriteria seperti yang terlihat pada Tabel 8 berikut ini. 3.2. Tingkat Kepekaan Lingkungan Pantai Kota Semarang Berdasarkan konsep model dilakukanlah penampalan layer Peta Kelas : Batuan Penyusun, Bentuk Garis Pantai, Potensi Genangan (Rob), Kecepatan Amblesan, Perkembangan Garis Pantai, Habitat Mangrove (Fungsi Nilai Konservasi), Tata Guna Lahan (Fungsi Nilai Ekonomis). Dari hasil penampalan tersebut diperoleh layer peta dengan total 75 buah poligon dengan 10 jenis jumlah skor. Perlu ditekankan disini bahwa klasikasi kepekaan daerah pantai disini merupakan kepekaan relatif terhadap daerah Tabel 9. Luas tiap kelas kepekaan lingkungan pantai di Kota Semarang No 1 2 3 Kelas Kepekaan Tidak Peka Peka Sangat Peka Total Luas M2 19.370.802,36 20.900.610,03 8.288.183,63 48,559,596.016 % 38,39 43,03 17,07 100,00

skor dari nilai eknomis tiap jenis penggunaan lahan ini sangat relatif dan sulit untuk ditentukan. Dan untuk menentukannya dilakukan dengan metodologi angket (atau Participatory Rapid Appraisal/ PRA). Berdasarkan hal tersebut maka penskoran terhadap tiap tata guna lahan yang ada di Kota Semarang terlihat seperti pada Tabel 7 di bawah ini. Kemudian untuk menentukan tingkat kepekaan lingkungan pesisir terhadap pencemaran tumpahan minyak maupun sediment dilakukan dengan melakukan penampalan (overlay) dengan rumus penjumlahan skor dari tiap layer parameter yang dipakai. Rumus yang dipakai adalah : Nilai Total = Skor Batuan + Skor Bentuk Pantai + Skor Potensi Rob + Skor Amblesan + Skor Abrasi + Skor Mangrove + Skor Nilai Ekonomi Semakin besar Nilai Total suatu kawasan maka semakin peka kawasan tersebut terhadap adanya proses pencemaran, sehingga diperlukan perhatian yang lebih untuk pencegahan dan

Sumber : Hasil pengolahan, 2006

pantai lain dalam lingkup daerah penelitian dan tidak dapat dibandingkan dengan air tanah di luar daerah penelitian secara langsung. Layer peta ini kemudian direklasikasi sesuai dengan kriteria yang ada pada Tabel 8 untuk memperoleh Peta Kepekaan Lingkungan Pantai di Kota Semarang.

20

Mardi Wibowo, 2009

Luas tiap kelas dan penyebarannya terlihat pada Tabel 9 dan Gambar 2. Berdasarkan pada Peta Kepekaan Lingkungan Pantai (Gambar 2) dan Tabel 9. terlihat bahwa sebagian besar lingkungan pantai di Kota Semarang tergolong peka terhadap adanya pencemaran tumpahan minyak maupun sedimen yang ada di laut, yaitu mencapai 20.900.610,03 m2 atau sekitar 43,04 % dari total lingkungan pantai di Kota Semarang. Kawasan pantai yang tergolong dalam kelas ini sebagian besar tersebar di bagian timur dan tengah dari Pantai utara Kota Semarang. Sedangkan lingkungan pantai yang mempunyai kepekaan terhadap pencemaran sangat tinggi (tergolong sangat peka) tersebar di bagian tengah daerah penelitian terutama di sekitar pelabuhan Tanjung Emas dan daerah sebelah timurnya. Luas keseluruhan kawasan pantai yang tergolong dalam kelas ini adalah 8.288.183,63 m2 atau sekitar 17,07% dari total lingkungan pantai di Kota Semarang. Lingkungan pantai di Kota Semarang yang relatif tergolong tidak peka terhadap adanya pencemaran di laut meliputi luasan sekitar 19.370.802,36 m2 atau sekitar 39,89% dari total luas daerah penelitian. Kawasan pantai yang tergolong tidak peka ini sebagian besar tersebar di bagian barat dari pantai utara Kota Semarang dan berada sedikit masuk ke daratan. Berdasarkan uraian tersebut di atas, secara umum dapat dikatakan bahwa kawasan pantai utara Kota Semarang bagian barat relatif tidak peka terhadap adanya pencemaran minyak dan sedimen yang terjadi di laut dibandingkan dengan kawasan pantai di bagian timur peta yang peka terhadap pencemaran, apalagi dibandingkan dengan kawasan pantai bagian tengah yang relatif sangat peka. 3.3.1. Rekomendasi Dalam rangka penerapan konsep pembangunan berkelanjutan untuk pengembangan kawasan pesisir, tingkat kepekaan lingkungan pantai terhadap adanya pencemaran minyak dan sedimen di laut mempunyai peranan yang sangat

penting, terutama untuk menyusun perencanaan pembangunan wilayah pesisir dan tata ruang wilayah pesisir. a. Untuk rencana pengembangan wilayah di Kota Semarang, sebaiknya kawasan pantai bagian barat dikembangkan untuk sektor budidaya perikanan tambak, rawa disertai dengan penanaman mangrove di sepanjang pantai sebagai area penyangga. Keberadaan kawasan industri di Daerah Beji perlu dipertimbangkan, karena selain tidak sesuai dengan daya dukung lahan juga dapat berpengaruh terhadap produktivitas lahan untuk kegiatan perikanan. Pada dasarnya hutan mangrove ini dapat pula dikembangkan untuk kegiatan wisata lingkungan. b. Bagian tengah pantai Semarang sebaiknya dikembangkan untuk kegiatan industri, perkotaan dengan segala fasilitasnya, karena memang sebelumnya telah banyak berkembang untuk kegiatan tersebut dan sudah relatif lengkap sarana dan prasarannya. Khusus untuk wilayah ini perlu juga disediakan ruang terbuka hijau sebagai penyangga daya dukung lingkungan. c. Bagian timur pantai Semarang sebaiknya dikembangkan untuk perikanan dengan perlakuan dan perlindungan khusus yang lebih terencana. Karena di kawasan ini daya dukung lingkungannya relatif rendah dan sudah banyak kawasan industri. Sehingga diharapkan industri lebih memperhatikan kondisi lingkungan di sekitarnya. d. Khusus untuk pengembangan kawasan industri, perkotaan dengan faktor-faktor pendukungnya perlu ada persyaratanpersyaratan khusus yang harus dipenuhi karena secara umum termasuk kawasan yang sangat peka terhadap adanya pencemaran sedimen dan tumpahan minyak di laut.

21

Mardi Wibowo, 2009

4.

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA 1. , 1998, Studi Penyusunan Indeks Kepekaan Lingkungan Wilayah Pesisir Selat Lombok, Pusat Lindungan Lingkungan dan Pembinaan Keselamatan Kerja, PERTAMINA, Jakarta. 2. , 2003, Profil Pesisir dan Kelautan Jawa Tengah, Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Tengah, Semarang 3. ., 2003, Pengkajian Abrasi dan Kawasan Sabuk Hijau di Pantura Jawa Tengah, Badan Penelitian & Pengembangan Propinsi Jawa Tengah Tahun 2003 4. , 2000, Prol Wilayah Pantai dan Laut Kota Semarang, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Pemerintah Kota Semarang, Semarang 5. , 2006, Perencanaan Kawasan Pantai Kota Semarang Fakta dan Analisis, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Pemerintah Kota Semarang, Semarang 6. Fisher, B., dkk, 1997, The Development of a Spatio-Temporal Environmental Sensitivity Index Using GIS, Jurnal REER Research Volume 7, No. 3-4 September-December 1997, Royal Melbourne Institute of Technology, Melbourne. 7. Peterson, J., dkk., 2002, Environmental Sensitivity Index Guidelines Version 3.0, NOAA Technical Memorandum NOS OR&R 11, Hazardous Materials Response Division, Ofce of Response and Restoration, NOAA Ocean Service 8. Saxena, M.R., dkk, 2004, Remote Sensing and GIS Based Approach for Environmental Sensitivity Studies A Case Study From Indian East Coast, National Remote Sensing Agency, Department os Space, Hyderabad, India. 9. Tridech, S., dkk, 2004, Using Coastal Environment Sensitivity Index Map as Tool For Integrated Coastal Zone Management, Marine Environment Division, Water Quality Management Bureau, Pollution Control Department, Bangkok.

a. Wilayah pantai/ pesisir Kota Semarang mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan khususnya di sektor perikanan khususnya darat, industri pengolahan hasil perikanan, transportasi (pelabuhan) dan sektor wisata bahari. b. Dalam pengembangannya pantai Kota Semarang banyak menghadapi permasalahan khususnya lingkungan seperti abrasi pantai, amblesan tanah, rob, sedimentasi, pencemaran lingkungan, intrusi air laut, dll. c. Wilayah pantai/ pesisir Kota Semarang mempunyai daya dukung yang sangat terbatas dan mempunyai kepekaan/sensitivitas yang sangat tinggi terhadap tekanan pertumbuhan penduduk, polusi terutama dari industri, pembuangan berbagai macam limbah, budidaya perairan (tawar, payau dan laut), perhubungan laut, pariwisata dan kegiatan intensif lainnya d. Dalam perencanaan pengelolaan kawasan pesisir di Kota Semarang perlu adanya pengkajian tingkat kepekaan lingkungan pesisir terutama terhadap sumber pencemar yang banyak terjadi seperti sedimen dan tumpahan minyak khususnya di sekitar pelabuhan. e. Untuk rencana pengembangan wilayah di Kota Semarang, sebaiknya kawasan pantai bagian barat dikembangkan untuk sektor budidaya perikanan, bagian tengah untuk kegiatan industri, perkotaan dengan segala fasilitasnya, sedangkan bagian timur untuk perikanan dengan perlakuan dan perlindungan khusus yang lebih terencana.

22

Mardi Wibowo, 2009