Anda di halaman 1dari 14

BAB VII

KOPLING
Kopling Poros
Ukuran terpanjang poros pada alat transportasi adalah 7 m agar didapatkan
poros yang lebih panjang maka poros dapat disambungkan dengan bantuan kopling.
Penggunaan kopling pada mesin adalah:
1. Untuk menyambungkan poros dari beberapa unit yang dibuat secara terpisah
seperti motor dan generator
2. Memberikan pleksibilitas mesin
3. Mengurangi beban kejutan pada transmisi antar poros
4. Melindungi mesin dari pembebanan berlebihan.
5. Merubah karakter getaran unit yang berputar.
Syarat-syarat Kopling :
1. Mudah memasang dan melepaskannya
2. Dapat mentransmisikan daya dengan penuh
3. Dapat menyanga poros dengan posisi yang tepat
4. Tidak ada bagian yang menonjol
A. Jenis-jenis Kopling
1. Kopling Kaku
Kopling kaku digunakan untuk menyambungkan dua poros yang sejajar,
beberapa tipe kopling kaku :
a. Kopling sleeve (lengan) atau kopling sarung
b. Kopling kompresi
c. Kopling flens
2. Kopling Fleksibel
Kopling fleksibel digunakan untuk menghubungkan sambungan angular dan
lateral. Beberapa macam kopling fleksibel:
a. Kopling tipe bushed pin
b. Kopling universal
c. Kopling oldham
B. Kopling Sleeve atau Kopling Muff
Kopling sleeve atau kopling muff adalah jenis kopling kaku yang paling
sederhana, dibuat dari baja cor. Pada kopling ini adalah silinder berlubang dengan
ukuran diameter dalam sama dengan ukuran poros. Kedua ujung poros
disambungkan kedalam kopling ini dengan bantuan pasak kepala gib, seperti pada
gambar dibawah. Gaya yang ditransmisikan oleh kopling ini dilakukan oleh sleeve
dan pasak. Oleh karena itu seluruh bagian harus kuat menahan beban puntiran.
Ukuran proposional kopling sleeve baja cor adalah
diameter terluar adalah mm d D 13 2 +
panjang sleeve adalah L = 3,5 d , d adalah diameter poros
233
Kopling 234 234
Gambar 7.1
Prosedur yang harus ditaati dalam perancangan kopling sleeve
(1) Kopling didesain berdasarkan ukuran ujung poros
T = Torsi yang ditransmisikan
F
s1
= Tegangan geser ijin bahan besi cor. Angka yang aman untuk tegangan
geser besi cor adalah 140 Kg/cm
2
Torsi yang ditransmisikan poros adalah

,
_

,
_

D
d
k k D f T
D
d D
f T
s s
) 1 (
16 16
4 3
1
4 4
1

(2) Desain untuk pasak kopling sama dengan pada artike13.8 pada (kurmi dan
gupta). Keterbalan dan lebar pasak kopling disediakan oleh persamaan. Panjang
kopling setidaknya sama dengan panjang sleeve. Pasak kopling biasa dibuat
dalam dua bagian, panjang setiap pasak pada setiap poros
2
5 , 3
2
d L
l
Pemeriksaan dengan perhitungan tegangan geser
2
d
x lxwxf T
s

Contoh 7.1 Desainlah sebuah muff kopling untuk menghubungkan dua buah
poros yang mentransmisiskan daya 50 hp pada 120 rpm. Tegangan geser ijin bahan
mild steel 300kg/cm
2
dengan teganagan tarik 800kg/cm
2
. Muff terbuat dari bahan
dengan tegangan geser ijin 150 kg/mm
2
. Asumsi torsi maksimum adalah 25% dari
torsi utama.
Diketahui:
P = 50 hp
N = 120 rpm
F
s
= 300 kg/cm
2
F
c
= 800 kg/cm
2
F
sl
= 150 kg/cm
2
Jawab :
kgm x T T
kgm
x
x
N
Px
T
mean
mean
5 , 372 298 25 , 1 25 , 1
298
120 2
4500 500
2
4500
max



a. Desain poros
cm cm
x
x
f
T
d
d f T
s
s
9 58 , 8
300
37250 16 16
16
3
3
max
3
max

b. Desain sleeve
cm x d L
cm x cm d D
5 , 31 9 5 , 3 5 , 3
5 , 19 3 , 1 9 2 3 . 1 2

+ +
Pengecekan tegangan geser pada muff
( ) ( )
2
4 4 4 4
4 4
/ 8 , 26
9 5 , 19
5 , 19 37250 16 16
16
cm kg
x x
d D
Td
f
D
d D
f T
sl
sl

,
_

c. Desain pasak
Elemen Mesin
Kopling 235 235
Dari tabel 13.1 (Machine Design, Khurmi & Gupta), lebar dan ketebalan pasak
untuk poros dengan diameter 90 mm, w = 28 mm, t = 16 mm
Panjang pasak pada setiap poros
cm
L
l 75 , 15
2
3 , 31
2

Pengujian tegangan geser pada pasak
2 max
/ 7 , 187
9 8 , 2 75 , 15
37250 2
. .
2
2
. .
cm kg
x x
x
d w l
T
f
d
f w l T
s
s mak

Pengujian berdasarkan patahan pada pasak


2
max
/ 657
9 6 , 1 75 , 15
37250 4
. .
4
2 2
cm kg
x x
x
d t l
T
f
d
x xf
t
l T
mak
s
c

C. Kopling Kompresi atau Clamp


Kopling ini diketahui sebagai bagian dari muff kopling, muff dibuat yang terdiri
dari dua bagian seperti pada gambar. Setengah bagaian muff terbuat dari besi cor.
Ujung poros dibuat terbatasi oleh masing-masing pasak. setengah bagian muff
dipasang secara tepat dari bawah dan setengah bagian yang lainnya ditempatkan
diatas.
Gambar 7.2
Kedua bagian dipasangkan bersamaan dengan pin mild steel atau baut. Jumlah
baut yang dipasangkan dua empat atau enam buah. Baut yang dipasangkan
mencapai muff yang dicetak. kopling jenis ini adalah dapat digunakan pada
pembebanan yang kerat pada kecepatan putaran yang moderat. Keunggulan dari
jenis kopling ini adalah penempatan posisi poros tidak perlu diubah pada perakitan
mesin. Perhitungan secara proposional kopling ini adalah
D = 2d+13mm, diamana L = 3,5 d
Pada clamp atau kopling kompresi, daya yang ditransmisikan poros dihasilkan
oleh pasak dan gesekan antara muff dan poros.
1. Desain muff dan pasak
Muff dan pasak didesain seperti pada kopling muff
2. Desain baut clamping
T = torsi yang ditransmisikan
d = diameter poros
d
b
= diameter efektif baut
n = jumlah baut
f
t
= tegangan geser ijin bahan baut
= koefisien gesek antara muff dengan poros
Elemen Mesin
Kopling 236 236
L = panjang muff
Gaya yang dipikul untuk setiap baut
=
t b
xf d
2
4

Gaya setiap baut pada kedua sisi


=
2 4
2
n
xf d
t b

Tekanan pada poros dan permukaan muff selama pembebanan


d L
n
x xf d
luas
gaya
P
t b
.
2
1
2 4
2


Gaya gesek diantara poros dan muff
uas xtekananxl F
n f d dL
Ld
n
f d
dL P F
t b
t b
8 2
1
2
1
2 4
2
1
2
2


Puntiran yang dapat ditransmisikan oleh kopling
d n f d
d
F T
t b
2
2
16 2


Contoh 7.2 Desainlah sebuah kopling clamp yang mentransmisiskan daya 40
HP pada 100 rpm. Tegangan geser ijin untuk bahan pors dan pasak adalah 400
kg/cm
2
jumlah baut yang menghubungkan kedua bagian adalah 6 buah. Tegangan
tarik ijin untuk bahan baut adalah 700 kg/cm
2
. Koefisien gesek antara muff dan
permukaan poros adalah 0,3
Diketahui:
P = 40 HP
N = 100 rpm
f
s
= 400 kg/cm
2

n = 6
f
t
= 700 kg/cm
2
= 0,3
Jawab:
kgm
x
x
n
Px
T 4 , 268
100 2
4500 40
2
4500


a. Desain untuk poros
3
16
d f T
s

cm
x
f
T
d
s
5 , 7
400
286400 16 16
3
3

b. Desain untuk muff
D = 2d +1,3 cm = 16,3 16,5 cm
Panjang total muff
L = 3,5 d = 3,5 x 7,5 = 26,25 cm
c. Desain untuk baut
Elemen Mesin
Kopling 237 237
cm
x x x x
x
nd f
T
d
nd f d T
t
b
t b
5 , 2 215 , 2
5 , 7 6 700 3 , 0
28640 16 16
16
2 2
2
2

D. Kopling Flens
Kopling flens adalah kopling yang terbuat dari dua buah flens yang terbuat dari
baja cor secara terpisah. Setiap flens diikatkan pada ujung poros. Flens yang
pertama berfungsi sebagai projek flens dan flens yang lainnya sebagai korespoding
flens. Hal ini membantu pemeliharaan kesejajaran diantara flens. Poros kedua flens
dihubungkan oleh baut dan mur. Kopling flens digunakan pada pembebanan berat
dengan poros yang panjang. Jenis-jenis kopling flens adalah:
1. Kopling flens tanpa perlindungan
2. Kopling flens dengan pelindung
3. Kopling flens kapal laut
Kopling flens tanpa perlindungan diperlihatkan pada gambar 7.3, setiap poros
dikuncikan pada boss dengan pasak counter shung dan flens dipasangkan oleh baut,
pada umumnya digunakan tiga atau enam baut. Penghunci dimiringkan pada sudut
yang tepat sepanjang dan mengelilingi poros untuk membagi pelemahan jalur pasak
Gambar 7.3
Untuk kopling flens dengan pelindung, seperti pada gambar baut yang menonjol
terlindungi flens pada kedua bagian kopling, untuk menghindari bahaya pada
pekerja.
Gambar 7.4
Ukuran kopling flens baja cor
diameter poros atau diameter dalam hub = d
Diameter luar hub D = 2d
Panjang hub = 1,5 d
Diameter pitch baut = 3 d
Ketebalan flens = 0,5 d
Ketebalan lingkaran pelindung flens = 0,25 d
Jumlah baut = 3 untuk d sampai dengan 40 mm
= 4 untuk d sampai dengan 100 mm
= 6 untuk d sampai dengan180 mm
Elemen Mesin
Kopling 238 238
Pada jenis kopling flens kapal laut ditempa dengan poros seperti pada gambar.
flens dipasangkan dengan baut yang ditab.
Gambar 7.5
Tabel 7.1 Pemilihan Jumlah Baut (IS : 3653 1996)
Diameter
poros
35
55
56 -
150
151
230
231 -
390
390
Jumlah baut 4 6 8 10 12
Ketebalan flens =
3
d
Baut yang diruncingkan = 1 in 20 sampai dengan 1 in 40
Diameter pitch baut = 1,6 d
Desain Kopling Flens
Berdasarkan pada gambar
d = diameter poros atau diameter dalam hub
D = diameter luar hub
d
1
= diameter nominal atau diameter luar baut
D
1
= diameter lingkaran baut
n = jumlah baut
t
f
= tebal flens
f
s
= tegangan geser ijin bahan baut, poros dan pasak
f
sl
= tegangan geser ijin bahan flens
f
c
= tekanan ijin pada bahan baut dan bahan pasak
(1) Desain Hub
Desain hub berdasarkan pada lengkungan poros

,
_

D
d D
f T
s
4 4
16

Diameter terluar hub biasa diambil dua kali diameter poros. Oleh karena kedua
hubungan itu pemeriksaan tegangan geser pada hub dapat di periksa.
Desain pasak
Pasak didesain dengan proposional dan dilakukan pemeriksaan tegangan geser
dan gaya penekanan. Bahannya disamakan dengan bahan poros. Panjang pasak
sama dengna panjang hub.
Desain Flens
Tegangan pada hub dengan pembebanan geseran dari torsi (T)
T = keliling hub x ketebalan flens x radius hub

sl f sl f
f t
D D
f t D T
4 2
. .


Elemen Mesin
Kopling 239 239
Ketebalan flens bisa diambil setengah diameter poros. Sehingga hubungan
tegangan geser pada flens dapat diperiksa.
Desain Baut
Baut mengalami tegangan geser ketika transmisi puntir terjadi. Jumlah baut
tergantung pada diameter poros dan diameter pitch baut (D
1
) 3d.
Beban setiap baut
s
xf d
2
1
4

Total beban setiap baut


xn xf d
s
2
1
4

Torsi yang ditransmisikan


2 4
1
2
1
D
x xf d
s

Dari persamaan ini, diameter baut (d


1
) dapat dihitung selama penekanan
Luas penekanan baut adalah f
t nd
1
Daya penekanan baut s f
f t nd
1
T =
2
) (
1
1
D
f t nd
s f
Dengan persamaan ini gaya tekan pada baut dapat diperiksa
Diameter luar flens
( ) D D D D D +
1 1 1
2
Ketebalan lingkaran flens = o,25 d
Contoh 7.3 Desain sebuah kopling baja cor (jenis protektif) untuk
menghubungkan dua buah poros 8 cm. Poros berputar pada 250 rpm, torsi yang
ditrasmisikan 430 kgm. Tegangan yang diijinkan:
Tegangan geser ijin untuk bahan baut, poros dan pasak = 500 kg/cm
2
Tekanan ijin bahan baut dan pasak = 1500 kg/cm
2
Tegangan geser ijin untuk baja cor = 80 kg/cm
2
Diketahui:
Diameter poros d = 8 cm
Kecepatan poros N = 250 rpm
Torsi yang ditranmisiskan = 430 kgm =43000 kgcm
Tegangan geser ijin bahan poros, baut dan pasak = f
s
= 500 kg/cm
2
Tegangan geser ijin baja cor = 80 kg/cm
2
Jawab:
Desain hub
Diameter luar hub
cm d D 16 ) 8 ( 2 2
mengingat lubang hub sama dengan diameter poros, kita harus memeriksa
bahan hub yaitu besi cor
( )
2
4 4
4 4
4 4
/ 57
8 16
16 16 43000
16
8 16
16
43000
16
cm kg
x x
f
f
D
d D
f T
sl
sl
sl

,
_

,
_

karena tegangan kurang dari 80kg/cm


2
maka bahan aman
a.Desain pasak
dari tabel 13.1 pasak proporsional untuk poros 8 cm adalah
Diameter pasak w = 22 mm = 2,2 cm
Ketebalan pasak t = 14 mm = 1,4 cm
Elemen Mesin
Kopling 240 240
Panjang pasak didasarkan pada tegangan geser dan besar penekanan
cm
x x
x
l
x x lx
d
f W l T
s
8 , 9
8 500 2 , 2
2 43000
2
8
500 2 , 2 43000
2
. .

Diketahui juga bahwa


cm
x x
x x
l
x x lx
d
x xf
t
lx T
s
11 24 , 10
8 1500 4 , 1
2 2 43000
2
8
1500
2
4 , 1
43000
2 2

b.Desain Flens
Ketebalan flens diambil setengah dari diameter poros
t
f
= 0,5d = 0,5(8) = 4 cm
Mengingat sambungan flens terhadap hub mengalami beban puntir kita harus
memeriksa tegangan geser pada flens
2
2
2
2
/ 7 , 26
4 16
2 43000
4
2
16
43000
4
2
cm kg
x x
x
f
x f
x
t x f
D
T
sl
sl
f sl

Tegangan geser pada flens kurang dari 80kg/cm


2
maka flens aman
Desain Baut
Diameter poros 8 cm maka jumlah baut 4
Diameter pitch baut adalah
D
1
= 3 d = 3( 8) = 24
506 . 1
24 4 500
2 4 43000
2
24
4 500
4
43000
2 4
1
2
1
1
2
1

x x x
x x
d
x x x d
D
n f d T
s

Standard terdekat dari baut adalah


d
1
= M 16
Pemeriksaan gaya tekan baut
2
1
1
/ 140
24 4 6 , 1 4
2 43000
4
24
4 6 , 1 4 43000
2
.
cm kg
x x x
x
f
xf x x
D
f t d n T
c
c
s f

Gaya tekan terhadap baut kurang dari 1500 kg/cm


2
maka baut aman
Diameter luar flens = 2D1 D = 2(24) 16 = 32 cm
Elemen Mesin
Kopling 241 241
Ketebalan pelindung flens = 0,25 d = 1,25 (8) = 2 cm
Contoh 7.4 Sebuah kopling kapal lau digunakan untuk mentrasmisikan daya
3,75 MW pada 150 rpm. Tegangan geser ijin poros dan baut 50 N/mm
2
. Tentukanlah
diameter poros dan diameter baut.
Diketahui:
P = 3,75 MW = 3,75 x 10
6
N = 150 rpm
F
s
= 50 N/mm
2
Jawab:
a.Diameter poros
6
10 24 , 0
50 2
60 75 , 3
2
60
x
x
x
N
Px
T

mm
x
x x
d
d f T
s
300 2 . 290
50
16 10 24 , 0
16
3
6
3

b.Diameter baut
Dari tabel 7.1 jumlah baut untuk poros 300 mm adalah 10 buah
Diameter pitch baut D
1
= 1,6 d = 1,6 x 300 = 480 mm
mm
x
x
d
x x x d x
D
xnx xf d T
s
46 , 50
10 26 , 94
10 24 , 0
2
480
10 50
4
10 24 , 0
2 4
3
6
1
2
1
6
1
2
1

Kopling Fleksibel
Kopling fleksibel digunakan pada ujung poros yang tidak tepat sejajar, yang
dapat ditemukan pada penggerak utama pada genarator listrik. Disana digunakan
empat pasang bantalan untuk menahan posisi poros utama. Kopling ini juga dapat
ditemukan dalam berbagai permesinan seperti penghubung antara motor listrik
dengan mesin tool. Berbagai jenis kopling fleksibel :
1. Kopling fleksibel dengan bush pin
2. Oldham kopling
3. Kopling universal
Kopling Fleksibel dengan Bush Pin
Kopling fleksibel dengan bush pin diperlihatkan pada gambar. kopling ini
merupakan kopling flens kaku baut kopling diketahui sebagai pin. Karet atau kulit
digunakan untuk menutup celah pin. Kedua bagian kopling mirif secara konstruksi.
Pada kedua permukaan kopling disiapkan clerenc 5 mm. Pada keduanya memiliki
sambungan yang tidak kaku, pengerak menempati celah karet atau kulit yang
kompresibel.
Elemen Mesin
Kopling 242 242
Gambar 7.6
Dalam merancang kopling fleksibel dengan bush pin, perhitungan jenis kopling
flens kaku mengalami modifikasi. Magsud dari modifikasi adalah mengurang tekanan
beareing khususnya pada bagian celah karet atau kulit yang tidak melebihi 5 kg/cm
2
.
Agar tekanan bearing tetap kecil perlu memperhitungkan diameter pitch dan ukuran
pin.
l = panjang bush (celah) pada flens
d
2
= diameter bush (celah)
p
b
= tekanan bearing pada bush atau pin
n = jumlah pin
D = diameter lingkaran pitch pin
Pembebanan pada setiap pin,
xl xd p F
b 2

Pembebanan total pada bush atau pin


xlxn xd p Fxn
b 2

Torsi yang ditransmisikan oleh kopling
2
D
Fxnx T
=
2
2
D
xlxn xd p
b
Pada pemasangan flens sebelah kanan harus ditab pada kopling untuk
menghindari pembebanan bending. Jarak pin harus sekecil mungkin, sehingga
tegangan geser terdapat pada leher sambungan. Tegangan geser yang terjadi
selama puntiran pada setengah bagian kopling,
2
1
4
d
F
f
s

Pin dan bush pada kopling sebelah kiri tidak kaku, karenannya gaya tangensial F
terfokus pada bagian pin yang membesar pin bush yang panjang bertindak sebagai
batang cntilever. Asumsi pembebanan F merata sepanjang bush, bending
maksimum pada pin adalah

,
_

+ 5 , 0
2
1
F M
Tegangan lengkung adalah
2
1
32
5 , 0
2
1
d
F
Z
M
f

,
_

+

Pin mengalami bending dan geseran, karena itu desain
harus diperiksa untuk pembebanan maksimum
Elemen Mesin
Gambar 3.7
Kopling 243 243
1
]
1

+ +
2 2
4
2
1
s
f f f
Tegangan geser maksimum pada pin
1
]
1

+
2 2
4
2
1
s
f f
Angka tegangan geser maksimum bervariasi antara 280-420 kg/cm
2
Contoh 7.5 Desainlah Kopling Fleksibel Dengan Bush Pin untuk
menghubungkan poros motor pada poros pompa untuk pelayanan pemeliharaan,
dengan kondisi
Daya yang ditransmisikan = 50 hp
Kecepatan poros motor = 1000 rpm
Diameter poros motor = 50 mm
Diameter poros pompa = 45 mm
Pembatasan beban pada bush karet 4,5 kg/cm
2
dan pada pin 250 kg/cm
2
Diketahui:
Daya yang ditransmisikan P= 50 hp
Kecepatan poros motor N= 1000 rpm
Diameter poros motor d= 50 mm
Diameter poros pompa = 45 mm
Tekanan bush karet p
b
= 4,5 kg/cm
2
Pembebanan pada pin f
s
= 250 kg/cm
2
Jawab:
Torsi yang ditransmisikan adalah
kgcm kgm
x
x
N
Px
T 3580 8 , 35
100 2
4500 50
2
4500


Kita pernah diskusikan bahwa kopling jenis flens kaku dengan diameter 50 mm
menggunakan 4 buah baut. Dalam kopling fleksibel jumlah pin diambil enam
buah.
n = 6
Diameter pin
cm
x
n
d
d 02 , 1
6
5 5 , 0 5 , 0
1

Diameter pin diambil 2 cm, agar karet tetap dapat menahan bebannya.
Panjang pin diambil sekurang-kurangnya 2 cm pada kopling sebelah kanan
berdasarkan pada standar mur. Diameter pin pada kopling sebelah kanan 2,4 cm.
Pada batasan yang lebih besar ketebalan bush yang tertekan 0,2 cm. Asumsi
ketebalan karet bush adalah 0,6 cm, karenanya diameter karet bush seluruhnya
cm x x d 4 6 , 0 2 2 , 0 2 4 , 2
2
+ +
Diameter lingkaran pin pitch
cm x x d d D 2 , 15 2 , 1 4 5 2 6 , 0 2 2
2
+ + + +
Beban dukung pada setiap pin adalah
l xl x xl xd p F
b
18 4 5 , 4
2

Torsi yang ditransmisikan kopling adalah
cm
x x
x
l
x lx
D
Fxnx T
4 , 4 36 , 4
2 , 15 6 18
2 3580
2
2 , 15
6 18 3580
2

F = 18 l =18 x 4,4 =79,2 kg


Elemen Mesin
Kopling 244 244
Arah tegangan selama puntiran murni pada salah satu bagian kopling
2
2 2
1
/ 2 , 25
2
4
2 , 79
4
cm kg
d
F
f
s


Pin dan karet tidak terpasang kaku pada flens sebelah kiri, gaya tangensial F
akan memberikan moment bending pada pin. Dengan asumsi gaya F terbagi rata
sepanjang bush, moment bending maksimum pada pin adalah
kgcm F M 214 5 , 0
2
4 , 4
2 , 79 5 , 0
2
1

,
_

+
,
_

+
Moment lengkung
2
2 2
1
kg/cm 273
2
32
214
32
5 , 0
2
1

,
_

+

x d
F
Z
M
f

Tegangan maksimum adalah
2
2 2
2 2
kg/cm 3 , 275
2 , 25 4 273 273
2
1
4
2
1

1
]
1

+
1
]
1

+ +
x
f f f
s
Tegangan geser maksimum pada pin
2
2 2
2 2
kg/cm 8 , 138
2 , 25 4 273
2
1
4
2
1

1
]
1

+
1
]
1

+
x
f f
s
Rancangan aman selama tegangan maksimum utama dan tegangan
maksimum geser dibawah batas kekuatan bahan.
Kopling Oldham
Digunakan untuk mengabungkan dua buah poros yang tidak sejajar. Kopling ini
terdiri dari dua buah flens dengan slot dengan bagian tengah yang mengambang
dengan dua buah puntiran T
1
dan T
2
sudut kanan, bagian tengah yang mengembang
yaitu pin yang melewati flens dan bagian yang mengambang.
Gambar 7.8
Torsi T
1
terpasang pada slot flens A dan memberikan ruang agar dapat bergerak
secara lelatif terhadap poros, T
2
terpasang pada slot flens B agar dapat bergerak
secara vertikal. Hasil dari kedua komponen gerak akan memfasilitasi gerakan yang
tidak sejajar.
Elemen Mesin
Kopling 245 245
Kopling Universal
Gambar 7.9
Sebuah Kopling universal atau pengait digunakan untuk menghubungkan dua
buah poros yang membentuk sudut kecil. Inklinasi kedua poros konstan tetapi pada
perkteknya bervariasi ketika terjadi transmisi dari poros pertama ke poros kedua.
Pengunaan kopling universal dapat ditemukan pada transmisi dari kotak roda gigi ke
differensial pada mobil. Pada beberapa kasus kita gunakan dua buah kopling
pengait, ujung pertama ditempatkan pada ujung poros propeler dan ujung yang
lainnya pada ujung differensial. Kopling pengait universal digunakan untuk
mentransmisikan daya pada mesin multi bor. Kopling ini juga digunakan sebagai
sambungan menyudut pada miling mesin.
Dalam merancang kopling universal diameter poros dan diameter pin
diperhitungkan seperti pada pembahasan kopling dibawah.
T = torsi yang ditransmisikan poros
d = diameter poros
d
p
= diameter pin
f
s
& f
sl
= teganagan geser ijin pada bahan poros dan pin
3
16
d f T
s

3
16
s
f
T
d

Pada penggunaan kopling single hook, perhitungan perbandingan putarannya


adalah


Sin Cos
Cos N
N
Cos
Sin Cos
N
N
. 1
. . 1
2
1
2 2
1

dimana,
N = Kecepatan poros pengerak rpm
N
1
= Kecepatan poros yang digerakan rpm
= Sudut inklinasi poros
= Sudut poros penggerak terhadap posisi pin poros penggerak
pada plane kedua poros
Kecepatan maksimum poros penggerak
( )
Cos
N
N
maksimum

1
Kecepatan minimum poros
( )
Cos N N
imum
.
min 1

Dari kedua persamaan diatas dapat diketahui kecepatan putaran poros
penggerak bervariasi dari kecepatan minimum sampai dengan kecepatan
maksimum.
Elemen Mesin
Kopling 246 246
Contoh 7.6 Kopling universal digunakan untuk menghubungkan dua poros mild
steel, yang mentransmisikan daya sebesar 500 kgm. Dengan asumsi poros
hanya mentransmisikan torsi, tentukan diameter poros dan diameter pin.
Tegangan geser ijin bahan poros dan pin adalah 600 kg/cm
2
dan 280 kg/cm
2
Diketahui:
T = 500 kgm = 50000 kgcm
Tegangan geser ijin bahan poros f
s
= 600 kg/cm
2
Tegangan geser ijin bahan pin f
sl
= 280 kg/cm
2
Jawab:
3
16
d f T
s

cm
x
d 5 , 7
600
000 . 50 16
3

Diameter pin menggunakan persamaan


cm
x x
x
d
x x d x
xd xf d x T
p
p
s p
4 92 , 3
5 , 7 280 2
4 000 . 50
5 , 7 280
4
2 000 . 50
4
2
2
2

Elemen Mesin