Anda di halaman 1dari 4

KEAMANAN NASIONAL I Keamanan berkaitan dengan masalah kelangsungan hidup (survival).

Keamanan sebuah negara dibagi dalam lima dimensi, yaitu politik, militer, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Tiap-tiap dimensi keamanan memiliki unit keamanan, nilai dan karakteristik survival dan ancaman yang berbeda-beda.1 Dalam pandangan realis, konsep keamanan nasional merupakan sebuah kondisi yang terbatas dari ancaman militer atau kemampuan suatu negara untuk melindungi negara bangsanya dari serangan militer yang berasal dari lingkungan eksternalnya. Satu-satunya instrumen untuk melindungi dan mempertahankan kepentingan keamanan nasional adalah dengan meningkatkan military power yang dimiliki suatu negara bangsa. Namun peningkatan military power suatu negara akan mendorong terciptanya dilema keamanan, artinya hubungan antar negara yang bersifat zero-sum game dalam perspektif keamanan tradisional bermakna bahwa setiap upaya negara untuk meningkatkan keamanan memiliki implikasi negatif terhadap keamanan negara lain yang akan menggangu keseimbangan atau kekuatan2. Hal ini mendorong negara untuk melakukan dua pilihan kebijakan, meningkatkan kekuatan militer atau membentuk aliansi dalam bentuk pakta pertahanan (collective defense) dengan negara lain. Keamanan nasional dipahami sebagai keamanan fisik teritorial, yaitu upaya melakukan penjagaan terhadap wilayah kedaulatan suatu negara agar tidak diinvasi, diagresi dan diokupasi oleh negara lain melalui instrumen militer. Keamanan nasional disusun untuk menghadapi berbagai ancaman yang mengancam keutuhan wilayah negara. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, sebuah negara memiliki kebijakan untuk memperkuat struktur dan kapasitas persenjataan, personal militer, dan menggelar

Barry Buzan. 1991. People, state and fear: An Agenda for International Security Studies in the Post-Cold War Era. Hempstead: Harvester Wheatsheaf.Hal.23. 2 Anak Agung Banyu Perwita dan Yayan Mochamad Yani.2005. Pengantar Hubungan Internasional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

pertahanan nasional yang dapat menangkal kekuatan militer asing yang akan menyerang negara bersangkutan.3 Keamanan Nasional II.
Dasar normatif realisme adalah keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara : ini merupakan nilai-nilai yang menggerakan doktrin kaum realis dan kebijakan luar negeri kaum realis. Dengan demikian, hubungan internasional merupakan sebuah arena struggle for power antar aktor negara dalam mencapai kepentingan nasionalnya dalam suasana kompetisi bahkan konflik. Dengan kata lain, terjadinya peperangan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan oleh karenannya, setiap aktor negara akan senantiasa mempertahankan eksistensinya melalui instrumen militer dalam kondisi self-help system dimana setiap aktor negara harus menyandarkan kekuatan militernya untuk melindungi keamanan nasionalnya.4 Disamping itu, industri militer muncul pula sebagai salah satu kekuatan ekonomi politik yang telah menopang sumber devisa utama negara-negara besar. Konsekuensinya, pengembangan militer yang sangat besar juga melanda dunia. Alhasil, perlombaan senjata antar negara menjadi isu utama dalam Hubungan Internasional. Perkembangan ini kemudian memunculakn konsep dilema keamanan. Pada periode ini, pemahaman terhadap konsep keamanan dan strategi sarat dengan dimensi kekuatan militer yang didukung dengan teknologi mutakhir. 5 Konsep keamanan (nasional) merupakan sebuah kondisi yang terbebas dari ancaman militer atau kemampuan suatu negara untuk melindungi negara-bangsanya dari serangan militer yang berasal dari lingkungan eksternalnya6 Kekuatan militer merupakan konsep utama dalam interaksi negara dalam hubungan Internasional. Suatu negara yang memiliki kekuatan militer yang lemah akan dapat dikontrol oleh negara lain yang memiliki kekuatan militer lebih kuat. Ketergantungan militer bahkan lebih buruk lagi, dengan adanya ketergantungan teknologi militer, suatu negara akan berada di posisi yang lebih rendah daripada negara yang memproduksi teknologi tersebut. Konsepnya sama seperti World System Theory milikWallerste

3
4

Agus Subagyo.2007. Diktat Mata Kuliah Studi Pertahanan. Cimahi: UNJANI

Op.cit 5 Ibid hal 28 6 Ibid hal 29

Pasca Perang Dingin keamanan tidak lagi diartikan secara sempit sebagai hubungan konflik atau kerjasama antar Negara ( interstate relations), tetapi juga berpusat pada keamanan untuk masyarkat. Artinya soal soal yang dulu dipandang sebagai urusan internal suatu Negara. Semakin pesatnya proses globalisasi dan perkembangan teknologi informasi menyadarkan para penempuh studi Hubungan Internasional bahwa makna keamanan telah berkembang pesat seiring dengan proses peradaban manusia. Akibatnya, penyelesaian keamanan yang lebih mengedepankan kekuatan militer dianggap hanya memberikan keamanan untuk sebagian orang, sementara di lain pihak sebagian lainnya merasa terancam penderitaan dan ketakutan7. Sebenarnya konsep keamanan merupakan konsep yang masih diperdebatkan karena mempunyai makna yang berbeda bagi aktor yang berbeda pemahamannya. Hal ini disebabkan konsep kemanan makin luas yang didorong dengan meningkatnya interdependensi dan semakin kompleksnya jaringan hubungan antar bangsa dalam era globalisasi. Menurut Arnold Wolfers8 Security, in any objective sense, measure the absence of threats to acquired values and in a subjective sense, the absence of fear that such values will be attacked. Definisi keamanan diatas menunjukan persamaan dalam hal kebebasan terhadap ancaman-ancaman (militer) namun, konsepsi diatas juga secara jelas mengindikasikan perbedaan referensi atau actor keamanan ( individual, nasional atau internasional). Secara tradisional, konsep keamanan selama ini memang hanya merujuk pada sifat ancaman yang bersifat militer semata dan memfokuskan pada aspek negara9. Menurut Buzan10, keamanan berkaitan dengan masalah kelangsungan hidup, isu-isu yang mengancam kelangsungan hidup suatu unit kolektif atau prinsip-prinsip yang dimiliki oleh kolektif tertentu akan dipandang sebagai ancaman yang eksistensial. Untuk itu diperlukan tindakan untuk memproitaskan isu tersebut agar ditangani sesegera mungkin dan menggunakan sarana-sarana yang ada untuk menangani masalah tersebut. Sumber ancaman ( Source of Threat) terhadap apa yang dikenal sebagai Keamanan Nasional menjadi semakin luas, bukan hanya meliputi ancaman dari dalam atau dari luar tetapi juga ancaman yang

7 8 9

Ibid. .Anak Agung Banyu Perwita& Yanyan Mochamad Yani. Bandung. Hal 120 Ibid Hal. 121 Ibid hal 121 10 Ibid hal 122

bersifat global tanpa bisa dikategorikan sebagai ancaman luar atau dalam. Dari pada itu, watak ancaman ( nature of threat) juga berubah menjadi multidimensial. Ancaman semakin majemuk, dan tidak bisa semata-mata dibatasi sebagai ancaman militer ideologi, politik, ekonomi dan budaya 11.

11

Kusnanto Anggoro. Keamanan Nasional, Pertahanan Negara dan Ketertiban Umum. 2003. CSIS: Jakarta. Hal 5