Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN HASIL DISKUSI PRESENTASI MAHASISWA

MODUL 1 DASAR-DASAR PERAWATAN ANOMALI DENTOKRANIOFASIAL BLOK XVIII ESTETIKA DENTOKRANIOFASIAL


PENGARUH

GAYA ORTODONTI TERHADAP JARINGAN GIGI DAN GINGIVA

Disusun Oleh : Kelompok II

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2011
Kelompok II

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 9.

Sarah Rizky N. Selly Rahmadhani Lbs. Vivi Zayanthi R. Nst. Silvia Putri Dwi Maretna Tuty Dwi Hastuty Miranda P Sari Fauzi Shieny Lokanata

(090600024) (090600025) (090600026) (090600027) (090600028) (090600029) (090600030) (090600031) (090600032) (090600033) (090600034) (090600035) (090600036) (090600037) (090600038) (090600039) (090600040) (090600041) (090600042) (090600043) (090600044) (090600045) (090600046) (090600160) (090600163)

8.. Rifaidah Fajrina 10. Yurika 11. Sharon 12. Fathira Aini 13. Edo Nugraha 14. William wijaya 15. Cindy Denhara W 16. Qurrata Akyuni 17. Ruli Ardia Alfadila 18. Andy 19. Juliana Pardede 20. Calvin 21. Melfi August T 22. Nabillah khairiyyah 23. Tarra Dipa Sonia
24. M. Khairul Izwan

25. V Kumaran

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN NAMA KELOMPOK.. DAFTAR ISI. BAB 1 BAB 2 PENDAHULUAN PEMBAHASAN 2.1 Gaya.......................................................................................... -Jenis-jenis gaya........................................................................
2.2 Momen...................................................................................... 2.3 Kopel ........................................................................................ 2.4 Resultan..................................................................................... 2.5 Pusat resisten............................................................................. 2.6 Pusat rotasi................................................................................

ii iii 1

2 2 3 4 6 7 8 9 9 10 11 12 13

2.7

Pengaruh gaya terhadap jaringan gigi dan gingiva - Perubahan pada pulpa............................................................. - Perubahan pada email, dentin dan sementum......................... - Perubahan pada tulang alveolar.............................................. - Pengaruh terhadap gingiva.....................................................

- Perubahan pada ligamen periodonsium dan serabut-serabutnya 10

BAB 3

PENUTUP..

DAFTAR RUJUKAN

BAB I PENDAHULUAN Prinsip perawatan ortodonti dilakukan berdasarkan pemahaman bahwa bila suatu gaya diberikan cukup lama pada gigi, terjadi pergerakan gigi karena tulang di sekitar gigi mengalami proses perubahan yang disebut sebagai remodeling. Dalam mekanisme biologis pada pergerakan gigi secara ortodonti harus dipertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pergerakan gigi, pertimbangan penjangkaran, penyebab relaps, dan resorpsi akar. Semua prinsip biologis yang berhubungan erat dan mendasari pergerakan gigi secara ortodontik dapat dikarakteristikkan sebagai remodeling jaringan. Proses pergerakan gigi secara ortodonti ini adalah untuk mendapatkan perubahan dinamis dalam bentuk dan komposisi dari tulang dan jaringan lunak yang lebih baik. Gigi dan jaringan periodontal seperti dentin, sementum, ligamen periodontal dan tulang alveolar semuanya mempunyai mekanisme perbaikan aktif dan akan beradaptasi di bawah tekanan yang normal pada pemakaian piranti ortodonti. Pemakaian piranti ortodonti dalam perawatan ortodontik adalah bertujuan untuk memberikan gaya terhadap gigi dan jaringan sekitarnya supaya terjadi pergerakan yang diharapkan. Pada level paling dasar, gaya ekstrinsik yang diaplikasikan terhadap gigi akan menghasilkan area tekanan dan tarikan yang terlokalisir pada jaringan yang bersebelahan dengan gigi dan respon yang cepat sesuai dengan prinsip hokum Wolff tentang remodeling tulang. Ketika digunakan piranti cekat untuk mengaplikasikan tekanan mekanis pada gigi, pergerakan yang terprediksi akan menambah mobiliti gigi sementara (temporally mobility) dan kadangkadang sampai adanya resorpsi ringan yang dapat terlihat pada gambaran radiografis. Makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang jenis-jenis gaya yang dimanfaatkan di bidang ortodonti serta pengaruh gaya-gaya tersebut terhadap jaringan gigi dan gingiva sekitarnya.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Gaya Pergerakan gigi secara ortodonti tergantung pada aplikasi gaya yang diberikan. Nikolai

(1985) menyatakan bahwa force (gaya) dapat didefinisikan sebagai suatu aksi pada suatu benda yang cenderung untuk merubah status diam atau bergeraknya benda tersebut. Force (gaya) merupakan suatu vektor yang memiliki jarak dan arah serta dapat dipisahkan menjadi dua komponen yang berbeda. Hal ini dapat mempermudah dalam menentukan efek dari gaya terhadap arah pergerakan gigi. Gaya berhubungan dengan area atau volume benda yang dikenainya. Bila area berkontak dengan gaya dan permukaan benda sangat kecil bila dibandingkan dengan seluruh permukaan benda, maka gaya itu disebut gaya terpusat. Sebaliknya bila area kontak sangat besar, gaya tersebut adalah gaya tersebar. Suatu gaya terpusat akan digambarkan sebagai vektor yang mempunyai : besaran, titik aplikasi dan arah. Jenis Gaya Menurut durasinya, gaya ortodonti dapat dibagi atas gaya yang terus menerus (continous force), gaya berkala (interrupted force), dan gaya terputus (intermittent force).
1. Continous force. Yaitu tekanan yang diberikan terus menerus dan untuk waktu yang

cukup lama sehingga gaya dapat dipertahankan untuk tidak menurun menjadi nol selama interval kunjungan pasien. Pengaplikasian continous force pada gigi memberikan hasil berupa remodeling tulang alveolar, reorganisasi ligamen periodontal serta pergerakan gigi.

2. Interrupted force. Yaitu gaya yang memiliki pola siklus selama waktu interval

kunjungan. Ligamen periodontal dapat direkonstruksi kembali sehingga terjadi suatu peningkatan dalam proliferasi sel yang cocok / sesuai untuk perubahan jaringan.

3. Intermitten force. Dihasilkan oleh alat ortodonti lepasan dimana gaya yang diberikan

pada gigi akan menjadi nol bila pasien tidak menggunakan alat ortodonti tersebut.

2.2

Momen

Momen merupakan komponen dari gaya (force) sebagai ukuran potential rotasi. Secara matematika, ukuran dari momen dapat dihitung dengan mengalikan besarnya kekuatan terhadap jarak yang diaplikasikan force. Jadi, momen = besar kekuatan x jarak (jarak yang tegak lurus dari pusat resistensi). Satuan ukuran momen adalah gram millimeter. Hal ini sangat relevan dengan bidang ortodontik karena sebuah gaya (force) tidak dapat diaplikasikan secara langsung terhadap resistance pusat gigi, yakni terletak sepanjang akar dan diaplikasikan pada mahkota. Ini akan menghasilkan momen yang akan mengakibatkan gigi berotasi.

(gambar: Direction: Clockwise or Counter-cw) 2.3 Kopel Kopel adalah sepasang gaya terpusat yang mempunyai besar yang setara dan arah yang identik, tetapi berlawanan sense dengan garis aksi yang tidak berhimpitan. Karena gaya ini mempunyai besar yang sama dengan arah yang berlawanan maka potensi akhir gaya ini dalam memindahkan suatu benda adalah sama dengan nol. Garis aksi kedua gaya ini sejajar tetapi tidak berhimpitin, sehingga sebagai akibatnya sistem gaya ini cenderung untuk merotasi benda. Dan karena gaya ini tidak berhubungan, gaya ini tidak dapat dikombinasi dan dengan demikian kopel tidak dapat disederhanakan. Sepanjang karakteristik kopel tidak berubah, gaya yang membangun kopel dapat dirubah tanpa mempengaruhi respon seluruh kopel. Perubahan pada salah satu gaya memerlukan perubahan yang setara pada gaya yang lain. Perubahan berikut dapat dilakukan tanpa mempengaruhi efek mekanikal kopel tersebut pada benda secara keseluruhan: 1. Gaya dapat digerakkan sepanjang garis aksi masing-masing

2. Gaya dapat diputar pada dataran kopel, dengan menjaga garis aksinya tetap sejajar dan jaraknya sejajar. 3. Besar gaya dapat dirubah dengan mempertahankan kesetaraan besar gaya dan momen kopel. Yang terakhir ini dapat dilakukan dengan membuat perubahan pada jarak antara kedua garis aksi gaya-gaya tersebut.

Dua gaya dengan besaran yang sama, parallel dan non-collinear dengan arah yang berlawanan

momen dalam satu arah dan additive

Jumlah dari momen = 50 g x 10 mm + 50 g x 10 mm = 1000 gm mm

momen dari kopel adalah besar gaya dikali jarak antara gaya tersebut (50 g x 20 mm) 2.4 Resultan Pada analisa gaya, beberapa gaya dapat dikombinasi sedemikian rupa sehingga efek mekaniknya tidak berubah, atau satu gaya dapat digantikan oleh beberapa komponen gaya yang mempunyai arah tertentu. Sepasang gaya yang mempunyai garis aksi yang bersilang dan mempunyai satu gaya tunggal sebagai hasil akhirnya: hasil akhir ini disebut resultan yang merupakan kombinasi dua gaya tunggal. Cara kombinasi ini disebut Parallelogram Law penambahan vektor. Dalam hal ini kedua vektor gaya-gaya tersebut merupakan sisi sebuah persegi panjang ( Paralellogram ) dan resultan yang terjadi adalah diagonalnya. Resultan akan mempunyai efek yang sama terhadap gerakan gigi seperti efek kedua gaya yang terpisah tersebut dan panjang diagonalnya merupakan besaran resultan tersebut. Gaya resultan terdiri dari tiga yaitu: 1. Common point of application

2. Different point of application

3. Resolving force into components

2.5

Pusat Resisten Pusat resisten merupakan suatu titik keseimbangan sempurna pada gigi yang mempunyai

titik analog pada pusat gravitasi dan ketahanan yang paling besar terhadap kekuatan orthodonti. Pusat resisten dari gigi yang berakar tunggal terletak antara 1/3 atau 1/2 dari panjang gigi tersebut. Pada gigi berakar dua atau lebih, pusat resisten terletak pada diantara akar-akar gigi yaitu 1 atau 2 mm dari daerah furkasi. Pusat resisten pada setiap gigi berbeda-beda, hal ini tergantung pada panjang dari akar gigi, posisi letak dari gigi tersebut dan perubahan tinggi tulang alveolar.

2.6

Pusat Rotasi Pusat rotasi merupakan suatu titik pusat pada suatu benda bila terjadi gerakan rotasi atau

memutar. Pusat rotasi dapat menyertai gigi maupun tidak. Pada saat pusat rotasi bergerak menuju apeks, akan menimbulkan pergerakan dari mahkota dan sebaliknya.

Pergerakan gigi dibedakan menjadi 3 yaitu: 1. Translasi Translasi yaitu gerakan yang terjadi ketika semua titik pada gigi digerakan pada jarak yang sama dengan arah yang sama. Translasi terjadi ketika gaya yang diaplikasikan terpusat pada garis aksinya dengan melalui pusat resisten. Gerakan translasi dapat dilihat pada ekstrusi, intrusi dan gerakan bodily pada ortodonti.
2. Rotasi murni

Gerakan yang terjadi ketika titik gerak baik di dalam maupun diatas benda tersebut bergerak dengan melingkar. Titik pusat rotasi terletak pada satu garis atau aksis yang menembus pusat resisten benda tersebut.
3. Kombinasi rotasi dan translasi (transversal)

Gerakan ini terjadi apabila gaya yang diberikan pada gigi tidak menembus pusat resisten gigi tersebut. Hal ini akan menyebabkan dorongan pada gigi dan gigi akan mengalami rotasi dengan bergerak ke kiri dan ke kanan. 2.7 Pengaruh gaya terhadap jaringan gigi dan gingiva Perawatan ortodonti dilakukan berdasarkan suatu prinsip bahwa bila suatu tekanan diberikan cukup lama pada gigi, terjadi pergerakan gigi karena tulang di sekitar gigi berubah atau remodeling. Elemen jaringan yang mengalami perubahan sewaktu pergerakan gigi, yang pertama adalah ligamen periodontal beserta sel-selnya, serat pendukung, kapiler dan persyarafan, sedang yang kedua adalah tulang alveolar dan sementum. Setiap gigi melekat pada tulang alveolar dengan perantaraan ligamen periodontal yang pada keadaan normal tebalnya lebih kurang 0,5 mm.

Perubahan pada pulpa Efek gaya ortodonti pada pulpa biasanya relatif tidak ada, kecuali terjadinya hiperemia pada pulpa yang menyebabkan pasien tidak merasa nyaman selama pemakaian ortodonti. Bila digunakan gaya yang terlalu besar, dapat mengakibatkan nekrosis pulpa. Schwarz menganjurkan untuk menggunakan kekuatan yang tidak sampai menyumbat aliran darah dalam menggerakan gigi. Kekuatan yang dianjurkan itu adalah tidak lebih dari 20 26 gram/cm2 (tekanan darah kapiler). Kekuatan lebih dari itu tidak hanya akan menyebabkan hyalinisasi bahkan dapat terjadi resorpsi akan atau kematian pulpa. Perubahan pada email, dentin dan sementum Gaya ortodonti akan mempengaruhi sementum dimana lapisan sementoid akan rusak (diresorbsi), tetapi kerusakan ini akan diperbaiki oleh sementoblas jika perawatannya sudah berakhir atau pada waktu antara dua kunjungan. Pada gaya yang sangat besar, sementum akan rusak dan terlihat resorbsi dentin. Bila resorbsi ini sedikit saja, dentin akan diperbaiki oleh sementoblas, tetapi substansinya seperti sementum, tidak seperti dentin. Pada enamel tidak pernah ditemukan kelainan disebabkan oleh gaya ortodonti, hanya pada penggunaan ortodonti cekat bekas perlekatan braket dapat terlihat poreus.

Perubahan pada ligamen periodonsium dan serabut-serabutnya Periodontium adalah jaringan penyangga gigi, fungsinya adalah sebagai peredam kejut terhadap tekanan pengunyahan. Gigi dikatakan dalam keadaan seimbang bilamana semua resultan dan momen gaya dari tekanan pengunyahan sama dengan 0 (nol). Jika semua tekanan yang mengenai mahkota gigi menimbulkan keseimbangan, maka jaringan periodontium tidak perlu mengadakan reaksi untuk mencapai keseimbangan pada mahkota gigi maka keseimbangan dicapai dengan kemampuan reaktif periodontium, proses untuk mencapai keseimbangan ini berlangsung terus menerus selama hidup secara fisiologi. Perawatan ortodontik aktif pada dasarnya adalah adanya kemampuan jaringan periodontium untuk mengadakan remodeling. Prinsipnya adalah bahwa aktivasi sel yang melakukan remodeling menyebabkan gigi berpindah tempat, sedangkan kekuatan mekanik adalah merupakan rangsangan yang mengaktifkan sel tersebut.

Pada saat permukaan alveolar diresorbsi, maka perlekatan serabut-serabut akan lepas. Kraw dan Enlow mengatakan bahwa berkas-berkas serabut kolagen dalam matrix organik tulang alveolus yang diresorpsi akan menyusun diri pada arah yang sama atau bergabung dengan principal fiber, dengan cara seperti itu maka kesinambungannya dengan tulang akan tetap terjaga. Serabut-serabut kolagen tadi akan berlaku sebagai serabut Sharpeys yang baru. Perubahan pada tulang alveolar Bila kekuatan dikenakan pada gigi, maka akan timbul daerah yang tertekan dan daerah yang tertarik. Daerah yang tertekan tulang diresorpsi; daerah yang tertarik tulang akan diaposisi. Daerah yang tertekan akan terjadi sesuai dengan arah kekuatan yang dikenakan, kekuatan akan menekan gigi ke dinding tulang alveolus dan membran periodontalis akan terjepit diantara gigi dan dinding alveolus, dalam waktu singkat akan terjadi resorpsi tulang di daerah itu. Daerah yang berlawanan, gigi akan menjauhi dinding alveolus. Melebarnya ruang membran periodontalis akan menimbulkan tarikan di daerah itu dan terjadi aposisi tulang. Bila tekanan yang diberikan terlampau kuat sehingga menyebabkan pembuluh darah tertutup,sehingga nutrisi tidak ada, maka terjadi perubahan ke arah kemunduran jaringan (regresi), sel-sel dan serabut-serabut periodontium akan menghilang dan mengalami degenerasi hyalin. Ini disebut dengan undermining resorbtion,dimana resorbsi tidak langsung pada permukaan tulang tetapi mulai dari bone marrow (substantia spongiosa). Sedangkan jika diberikan tekanan ringan akan menimbulkan frontal resorbtion, dimana pembuluh darah dalam membrana periodontalis tidak tersumbat, maka resorpsi tulang terjadi langsung pada permukaan tulang. Pengaruh terhadap gingiva Gaya ortodonti secara langsung tidak mempengaruhi gingiva akan tetapi dapat terjadi gingivitis bila pasien tidak menjaga kebersihan gigi dan mulutnya sewaktu pemakaian ortodonti.

BAB III PENUTUP

Tujuan perawatan ortodonti adalah untuk memperoleh dan mempertahankan keadaan normal dan aktivitas fisiologik yang sebenarnya dari gigi dan jaringan lunak mulut, serta mendapatkan penampilan dentofasial yang baik secara estetika yaitu dengan mengoreksi susunan gigi yang berjejal, mengoreksi penyimpangan rotasional dan apikal dari gigi-geligi, mengoreksi hubungan antar insisal serta menciptakan hubungan oklusi yang baik . Pergerakan gigi secara ortodonti tergantung pada aplikasi gaya yang diberikan. Force (gaya) merupakan suatu vektor yang memiliki jarak dan arah serta dapat dipisahkan menjadi dua komponen yang berbeda. Menurut durasinya, gaya ortodonti dapat dibagi atas gaya yang terus menerus (continous force), gaya berkala (interrupted force), dan gaya terputus (intermittent force). Perawatan ortodonti dilakukan berdasarkan suatu prinsip bahwa bila suatu tekanan diberikan cukup lama pada gigi, terjadi pergerakan gigi karena tulang di sekitar gigi berubah atau remodeling. Efek gaya ortodonti pada pulpa biasanya relatif tidak ada, kecuali terjadinya hiperemia pada pulpa yang menyebabkan pasien tidak merasa nyaman. Bila digunakan gaya yang terlalu besar, dapat mengakibatkan nekrosis pulpa. Gaya ortodonti juga dapat mempengaruhi email,dentin dan sementum. Pada gaya yang sangat besar, sementum akan rusak dan terlihat resorbsi dentin. Bila resorbsi ini sedikit saja, dentin akan diperbaiki oleh sementoblas. Pada email tidak pernah ditemukan kelainan disebabkan oleh gaya ortodonti, hanya pada penggunaan ortodonti cekat bekas perlekatan braket dapat terlihat poreus. Perawatan ortodontik aktif pada dasarnya adalah adanya kemampuan jaringan periodontium untuk mengadakan remodeling. Prinsipnya adalah bahwa aktivasi sel yang melakukan remodeling menyebabkan gigi berpindah tempat, sedangkan kekuatan mekanik adalah merupakan rangsangan yang mengaktifkan sel tersebut. Bila kekuatan dikenakan pada gigi, maka akan timbul daerah yang tertekan dan daerah yang tertarik. Daerah yang tertekan tulang diresorpsi; daerah yang tertarik tulang akan diaposisi. Bila tekanan yang diberikan terlampau kuat akan menimbulkan undermining resorbtion. Sedangkan jika diberikan tekanan ringan akan menimbulkan frontal resorbtion. Gaya ortodonti secara langsung tidak mempengaruhi gingiva akan tetapi dapat terjadi gingivitis bila pasien tidak menjaga kebersihan gigi dan mulutnya sewaktu pemakaian ortodonti.