Anda di halaman 1dari 15

103

PENGARUH INTERAKSI GENOTIPE X LINGKUNGAN PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BEBERAPA KLON HARAPAN UBI JALAR (Ipomoea batatas (L.) Lam) Heri Kustanto Mahasiswa Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pascasarjana Unibraw Kuswanto dan Nur Basuki Dosen Fakultas Pertanian, Unibraw, Malang ABSTRAK Penampilan sifat pertumbuhan dan hasil ubi jalar akan berubah pada lingkungan yang berbeda. Pengetahuan interaksi genotipe x lingkungan sangat penting dalam pemuliaan tanaman yaitu untuk mengevaluasi genotipe-genotipe yang akan dilepas ke petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi genotipe x lingkungan pada sejumlah klon ubi jalar yang diuji pada sejumlah lingkungan yang berbeda. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2003 sampai dengan bulan Februari 2004 di lima daerah sentra ubi jalar di Malang, Blitar, Mojokerto, dan Magetan (Jawa Timur) dan di Karanganyar (Jawa Tengah). Perlakuan percobaan pada masing-masing lokasi berupa 17 klon ubi jalar yang ditanam dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Analisis interaksi genotipe x lingkungan menggunakan metode analisis ragam gabungan. Bila interaksi antara genotipe x lingkungan nyata, kemudian dilakukan analisis stabilitas dan adaptabilitas terhadap klon yang diuji. Stabilitas hasil dihitung berdasarkan regresi dari Eberhart dan Russell (1966). Sedangkan adaptasi suatu galur dinilai berdasarkan metode Finley dan Wilkinson (1963). Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi genotipe x lingkungan pada pertumbuhan dan hasil tanaman dari sejumlah klon ubi jalar yang diuji. Interaksi genotipe x lingkungan nyata pada sifat : panjang tanaman, jumlah cabang, berat umbi per hektar, jumlah umbi pertanaman, jumlah umbi layak jual, diameter umbi, panjang umbi, kadar serat, kadar pati dan indek panen tanaman. Sedangkan pada sifat bobot brangkasan segar tidak menunjukkan adanya interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. Didapat 2 galur yang mempunyai hasil umbi per hektar stabil yang dicirikan dengan nilai koefisien regresi (b) tidak berbeda nyata dengan satu dan simpangan regresi tidak berbeda nyata dengan nol, yaitu KTK-4 dan JP-14. Beberapa klon mampu berproduksi tinggi dan mempunyai adaptasi khusus, yaitu : (1) Di Karanganyar JP-40 dan JP-33; (2) Di Malang JP-23; (3) Di Blitar JP-29 dan JP-23; (4) Di Mojokerto JP-23; (5) Di Magetan JP-23. Klon-klon ini dapat digunakan sebagai klon spesifik wilayah. ABSTRACT The growth character performance and yield of sweet potato will vary among the different enviroment condition. Interaction genotype x environment is very important in plant breeding program, namely to evaluate genotypes which are

104

released to the farmers. The purpose of this research is knowing genotype x enviroment interaction of some sweet potato clones tested at different condition. This research was conducted from July 2003 to February 2004 at five central regions of sweet potato production, namely Malang, Blitar, Mojokerto, Magetan (East Java) and Karanganyar (Central Java). The treatment at each location is 17 clones of sweet potato planted using a Completely Rondomized Block Design with three replications. Genotype x environment interaction used Pooled Variant Analysis Method. If interaction genotype x environment is significant, so the stability and adaptability of clones tested can be analyzed. Analysis of stability has been calculated by the method of Eberhart and Russell (1966), whereas adaptations test by Finlay and Wilkinson (1963). The result of the research showed there are genotype x environment interaction of the growth and yield of some sweet potato clones tested. Interaction genotype x environment is significant in many characters, namely plant length, sum of branch, yield per hectare, sum of tuber per plant, sum of competent sold tuber, tuber length, tuber diameter, dietary fibre content, protein content and harvest index. The fresh weight of the plant doesn,t show genotipe x environment interaction. Two clones (KTK-4 and JP-14) had a stability in yield per hectare - charaterized by regression coefficient (bi) is not significant from 1.0 and regression deviation is not significant from null. Several clones can produce heightly and adapt spesifically, such as (1) JP-40 and JP-33 in Karanganyar; (2) JP-23 in Malang; (3) JP-29 and JP23 in Blitar; (4) JP-23 in Mojokerto; (5) JP-23 di Magetan. These clones can be used as clones which spesific location. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Produksi ubi jalar di Indonesia masih rendah. Dari total produksi ubi jalar didunia sebanyak 124 juta ton/th, sebagian besar berasal dari negara-negara Asia yaitu sebesar 118 juta ton/th. Negara produsen ubi jalar terbesar adalah Cina yaitu 109 juta ton/th, kemudian diikuti Indonesia (2,3 juta ton/th), Vietnam (2 juta ton/th), Jepang (1,3 juta ton/th), dan India (1,2 juta ton/th). Walaupun Indonesia merupakan produsen ubi jalar kedua di Asia namun jika dibandingkan dengan Cina produksi ubi jalar masih jauh tertinggal. Hasil rata-rata ubi jalar sampai tahun 2002 masih rendah yaitu 10, 3 ton/ha dari potensi hasilnya yang dapat mencapai 30-40 ton/ha. Sedangkan di negara-negara maju seperti Cina, Jepang dan Korea produksi dapat mencapai 20 ton/ha. Rendahnya hasil produksi ubi jalar ditingkat petani disebabkan oleh teknik bercocok tanam yang kurang baik. Untuk itu teknik budidaya tanaman di tingkat petani harus diperbaiki dengan mengalihkan ke teknologi tepat guna dan efisien. Rendahnya produksi ubi jalar juga disebabkan oleh penggunaan klon-klon lokal yang berdaya hasil rendah. Pengeseran klon-klon lokal dengan klon-klon unggul disuatu daerah merupakan salah satu upaya dalam peningkatan hasil ubi jalar. Dalam rangka pembentukan klon-klon unggul, pemuliaan ubi jalar memegang peranan yang sangat penting. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pemuliaan ubi jalar meliputi : (1) Hibrididasi untuk mendapatkan biji sebagai bahan seleksi; (2) Seleksi berdasarkan tanaman tunggal, yaitu biji yang berasal dari hibrididasi ditanam kemudian diseleksi satu per satu setiap individu; (3) Seleksi

105

berdasarkan petak tunggal yaitu individu yang terpilih pada seleksi tanaman tunggal diperbanyak melalui stek batang dan ditanam dalam suatu petak, kemudian dipilih klon-klon terbaik; (4) Pengujian multilokasi yaitu pengujian klon-klon ubi jalar diberbagai lokasi (5) Penyebaran ke petani (Basuki, 1993). Pengujian multilokasi diperlukan karena adanya interaksi genotipe x lingkungan pada klon-klon ubi jalar. Evaluasi hasil klon-klon harapan diberbagai lokasi sangat penting karena produksi ubi jalar dapat berubah dari satu lingkungan ke lingkungan lain. Untuk itu penelitian pengaruh interaksi genotype x lingkungan pada pertumbuhan dan hasil tanaman beberapa klon harapan ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam) ini perlu dilakukan dalam usaha mendapatkan klon-klon unggul ubi jalar. 2. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi genotipe x lingkungan dari sejumlah klon ubi jalar yang diuji pada sejumlah lingkungan yang berbeda. 3. Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga terdapat interaksi genotipe x lingkungan pada pertumbuhan dan hasil tanaman sejumlah klon ubi jalar yang ditanam pada beberapa lingkungan yang berbeda. 4. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah untuk mendapatkan klon-klon ubi jalar unggul, yang mempunyai hasil yang tinggi dan stabil diberbagai lingkungan tumbuhnya. METODE PENELITIAN 1. Waktu dan Tempat Percobaan untuk mengetahui adanya interaksi genotipe x lingkungan pada sejumlah klon ubi jalar dilakukan pada bulan Juli 2003 sampai dengan bulan Februari 2004 di lima daerah sentra produksi ubi jalar di propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu : a. Lokasi I (Karanganyar, Jawa Tengah) b. Lokasi II (Malang, Jawa Timur) c. Lokasi III (Blitar, Jawa Timur) d. Lokasi IV (Mojokerto, Jawa Timur) e. Lokasi V (Magetan, Jawa Timur) 2. Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah 17 klon-klon unggul ubi jalar (berasal dari pemulia/peneliti Nur Basuki) yaitu : 1. KTK-1 8. JP-1 13. JP-27 2. KTK - 4 7. JP-5 14. JP-29 3. KTK -12 9. JP-8 15. JP-33 4. KTK -14 10. JP -14 16. JP-40 5. KTK -18 11. JP-23 17. JP-46 6. KTK-21 12. JP-26

106

3. Metode penelitian Perlakuan percobaan pada masing-masing lokasi berupa 17 klon ubi jalar yang ditanam dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. 4. Pelaksanaan Percobaan Persiapan lahan dan penanaman Pengolahan tanah dilakukan sebelum penanaman. Setelah tanah gembur kemudian dibuat plot 3 x 4 m. Penanaman dilakukan dengan mengunakan stek pucuk. Stek dibuat sepanjang 30 cm dan ditanam sedalam 10 cm. Jarak tanam yang digunakan untuk penelitian ini adalah 100 cm x 25 cm. Pemupukan Pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali, pemupukan I dilakukan pada saat tanam, dengan menggunakan urea 50 kg/ha (NH3+= 46%), SP-36 100 kg/ha (P2O5 = 36%) dan KCl 100 kg/ha (K2O = 60%). Sedangkan pemupukan II dilakukan pada umur 30 hari setelah tanam. Pupuk yang digunakan adalah urea 50 kg/ha (NH3+ = 46%). Penyiangan Penyiangan dilakukan 2 kali, yaitu penyiangan I pada umur 30 hari dan penyiangan II pada umur 60 hari. Pada saat penyiangan dilakukan juga pembumbunan tanaman. Pembalikan batang Pembalikan batang bertujuan mencegah kontak antara batang dengan tanah, yang dapat merangsang timbulnya akar-akar dari ruas. Pembalikan dilakukan bersamaan dengan penyiangan tanaman. Pengairan Pengairan dalam percobaan ini disesuaikan dengan kebiasaan petani yaitu pemberian air pada tanaman ubi jalar dilakukan setiap 10 hari sekali sejak tanam sampai ubi jalar berumur 60 hst (hari setelah tanam). Setelah ubi jalar berumur 60 hst, pengairan dilakukan setiap 21 hari sekali dan 1 bulan sebelum panen pemberian air dihentikan. Pengendalian hama dan penyakit Pengendalian hama dan penyakit tanaman pada penelitian ini tidak dilakukan karena tanaman dalam keadaan sehat dan bebas dari serangan hama dan penyakit. Panen Panen dilakukan pada saat umur tanaman 4,0 4, 5 bulan. Tahap-tahap kegiatan yang dilakukan pada panen ubi jalar ialah : Memotong batang dengan mengunakan sabit. Menggali atau mengeluarkan umbi dari dalam guludan Membersihkan umbi dari tanah dan kotoran lain.

107

5. Pengamatan Pengamatan terhadap sifat-sifat yang diamati pada penelitian ini dilakukan sebelum dan sesudah panen. Sifat-sifat yang diamati sebelum panen adalah : Panjang tanaman, yaitu tanaman diukur dari pangkal batang sampai titik tumbuh terakhir dalam kondisi tanaman diluruskan. Pengukuran dilakukan sekali yang dilakukan menjelang panen. Jumlah cabang, kreteria cabang adalah minimum mempunyai 2 daun membuka sempurna. Pengamatan jumlah cabang dilakukan pada saat ubi jalar berumur 90 hst. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sedangkan sifat-sifat yang diamati sesudah panen yaitu : Bobot brangkasan segar (kg), yaitu menimbang seluruh bagian tanaman selain umbi. Hasil umbi per hektar (ton/ha) yaitu menimbang berat umbi per plot, kemudian dikonversikan ke hektar. Jumlah umbi per tanaman, yaitu menghitung jumlah umbi per tanaman. Jumlah umbi layak jual, menghitung jumlah umbi yang layak jual. Penilaian jumlah umbi layak jual didasarkan pada berat umbi, umbi dikategorikan layak jual apabila mempunyai berat > 100 gram. Panjang ubi (cm), pengukuran panjang umbi dilakukan dengan mengukur panjang semua umbi per tanaman. Hasil pengukuran kemudian dirata-ratakan. Diameter ubi (cm), pengukuran diameter umbi dilakukan dengan mengukur diameter semua umbi per tanaman. Hasil pengukuran kemudian dirata-ratakan Menghitung kadar pati (%) dan kadar serat (%) a. Menghitung kadar pati Penghitungan kadar serat dan kadar pati dilakukan dengan metode sederhana yaitu : Sampel umbi parut 50 g dicampur dengan air 200cc, kemudian dihancurkan selama 2-3 menit. Setelah dihancurkan kemudian disaring dengan menggunakan saringan 200 mash (saringan berdiameter 0.0075 mm). Selanjutnya hasil tersebut dituang secara perlahan pada corong penghisap yang diberi kertas Whatman (sebelumnya kertas sudah dioven dan diukur beratnya). Endapan yang tertinggal pada kertas (pati) dioven selama 48 jam pada suhu 80oC kemudian ditimbang sampai didapat berat kering konstan. b. Menghitung kadar serat Serat yang terdapat pada saringan 200 mash dituang secara perlahan pada corong penghisap yang sudah diberi kertas Whatman (kertas sebelumnya dioven dan ditimbang beratnya). Endapan yang tertinggal pada kertas saring dioven pada suhu 80oC selama 48 jam, kemudian dihitung berat kering konstan. Menghitung indek panen tanaman.
Indek panen = Bobot kering umbi Bobot kering umbi + Bobot kering brangkasan

108

6. Analisis statistik Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan metode analisis ragam gabungan. Bila interaksi antara genotipe x lingkungan nyata, kemudian dilakukan analisis stabilitas dan adaptabilitas galur/varietas yang iuji. Stabilitas hasil dihitung berdasarkan regresi dari Eberhart dan Russell (1966). Sedangkan adaptasi suatu galur dinilai berdasarkan metode Finley dan Wilkinson (1963). Penilaian adaptabilitas klon dengan menggunakan metode Finlay dan Wilcinson 1963 (dalam Sing dan Khaudary, 1977). Tingkat adaptasi suatu galur didasarkan pada nilai koefisien regresi (b) dari setiap galur, dimana : b = 1 berarti mempunyai adaptasi umum, dengan stabilitas rata-rata b > 1 berarti mempunyai adaptasi khusus terhadap lingkungan yang subur dengan tingkat stabilitas dibawah rata-rata b < 1 berarti mempunyai kemampuan adaptasi khusus terhadap lingkungan yang kurang subur, dengan stabilitas diatas rata-rata.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Panjang Tanaman Hasil analisis ragam gabungan terdapat interaksi genotipe x lingkungan yang nyata pada sifat panjang tanaman. Perbedaan panjang tanaman antar klon dan antar lokasi dapat dilihat pada Tabel 1.

109

Tabel 1. Panjang tanaman 17 klon ubi jalar di lima lokasi

Klon KTK-1 KTK- 4 KTK- 12 KTK- 14 KTK -18 KTK- 21 JP- 1 JP- 5 JP- 8 JP- 14 JP- 23 JP- 26 JP- 27 JP- 29 JP- 33 JP- 40 JP- 46 Rerata Kr.anyar 148.3 efg C 133.3 cdef C 127.8 bcde B 127.8 bcde B 118.5 abcd B 149.8 efg B 107.9 ab B 151.9 fg B 138.3 def BC 127.8 bcde BC 149.8 efg B 112.9 abc B 124.7 abcd C 126.3 bcd C 169.3 g B 103.3 a BC 148.3 efg C 133.28 Malang 106 cde AB 111.2 de BC 81.6 ab A 103.2 bcde AB 84.3 abc A 122.2 e A 82.61 ab A 106.2 cde A 91.48 bcd A 146.3 f C 114.1 de A 63.01 a A 100.2 bcd AB 85.05 abc AB 101.9 bcd A 68.97 a A 94.48 bcd B 97.80

Lokasi Blitar 97.29 abc AB 108.3 bc B 94.23 ab A 106.5 bc AB 96.15 ab AB 103.8 abc A 81.49 a A 119.8 cd A 154.2 e C 114.1 bc AB 116.2 bcd A 104 abc B 109.2 bc BC 103.6 abc B 150.2 e B 119.3 cd C 138.4 de C 112.74

Mojokerto 83.95 bc A 78.48 bc A 79.62 bc A 84.12 bc A 76.11 b A 111.89 d A 70.1 ab A 110.62 d A 84.65 bc A 99.26 cd A 110.78 d A 51.73 a A 82.94 bc A 69.14 ab A 118.15 d A 82.78 bc AB 69.78 ab A 86.12

Magetan 107 defg B 80.22 abc A 88.45 bcd A 98.87 cdef AB 76.5 abc A 117.9 fg A 88.02 bcd AB 127 g A 88.24 bcd A 93.73 bcde A 112.2 efg A 63.22 a A 93.02 bcde AB 73.46 ab A 110.4 defg A 76.88 abc A 99.1 cdef B 93.78

Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf kecil sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata antar klon atau diikuti oleh huruf besar sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda nyata antar lokasi menurut uji BNJ taraf p=0.05.

110

2. Jumlah Cabang Hasil analisis ragam gabungan pada jumlah cabang terdapat interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. Perbedaan jumlah cabang antar klon dan antar lokasi dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Jumlah cabang 17 klon ubi jalar di lima lokasi

Klon KTK-1 KTK- 4 KTK- 12 KTK- 14 KTK -18 KTK- 21 JP- 1 JP- 5 JP- 8 JP- 14 JP- 23 JP- 26 JP- 27 JP- 29 JP- 33 JP- 40 JP- 46 Rerata Kr.anyar 5.50 ab AB 6.00 ab A 5.40 ab A 5.50 ab A 5.80 ab A 5.00 a A 6.00 ab A 5.30 ab A 5.80 ab A 6.10 ab A 5.90 ab A 6.40 ab A 6.50 ab AB 6.70 b A 5.70 ab A 5.70 ab A 6.50 ab AB 5.90 Malang 6.80 bcd B 8.90 f B 7.00 bcde B 6.80 bcd A 5.70 ab A 7.70 cdef B 8.40 ef B 6.50 abcd A 6.20 abc AB 6.20 abc A 7.10 bcde AB 5.90 ab A 5.70 ab AB 7.80 def A 6.50 abcd A 5.20 a A 5.60 ab A 6.70

Lokasi Blitar 9.20 abc C 8.80 a B 8.80 a C 10.60 c B 8.40 a B 9.40 abc C 10.50 c C 8.40 a CD 8.90 ab C 9.30 abc B 8.10 a B 13.50 d C 8.40 a C 12.80 d C 10.40 bc B 10.50 c B 8.60 a B 9.70

Mojokerto 4.70 a A 6.80 d A 6.20 abcd AB 5.80 abcd A 5.10 ab A 5.90 abcd AB 5.90 abcd A 7.40 e BC 6.10 abcd AB 5.50 abcd A 6.50 bcd A 5.10 abc A 5.00 ab A 6.30 bcd A 5.10 abc A 6.60 cd A 5.30 abcd A 5.80

Magetan 8.50 Abc C 10.50 ef C 9.40 cdef C 11.20 g B 8.80 bcd B 9.30 cdef C 9.20 cdef BC 9.60 cdef D 7.40 ab BC 9.10 cde B 10.20 def C 10.60 ef B 7.20 a BC 9.60 cdef B 9.10 cde B 10.70 f B 8.80 bcd B 9.40

Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf kecil sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata antar klon atau diikuti oleh huruf besar sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda nyata antar lokasi menurut uji BNJ taraf p=0.05.

111

3. Bobot Brangkasan segar Dari analisis ragam gabungan tidak terdapat interaksi genotipe x lingkungan pada sifat bobot brangkasan segar. 4. Hasil Umbi Segar Per Hektar Analisis ragam gabungan pada sifat hasil umbi per hektar terdapat interaksi genotipe x lingkungan. Perbedaan hasil umbi per hektar antar klon dan antar lokasi dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Hasil umbi per hektar 17 klon ubi jalar di lima lokasi

Klon KTK-1 KTK- 4 KTK- 12 KTK- 14 KTK -18 KTK- 21 JP- 1 JP- 5 JP- 8 JP- 14 JP- 23 JP- 26 JP- 27 JP- 29 JP- 33 JP- 40 JP- 46 Kr.anyar 43.83 h C 31.24 ef C 33.37 f D 17.43 b B 41.37 gh C 29.22 de B 10.72 a D 27.05 cd C 28.38 cde C 29.08 de B 41.91 gh B 33.83 f C 40.17 g D 25.62 c A 44.26 hi C 47.28 i D 41.62 gh C Malang 24.10 c B 24.68 c AB 25.09 cd C 20.77 b C 30.29 ef B 33.11 f C 9.57 a CD 9.31 a AB 24.33 c B 27.13 cde B 40.83 g B 28.53 e B 27.83 de C 25.81 cd A 33.03 f B 30.33 ef B 33.41 f B

Lokasi Blitar 25.64 b B 36.48 f C 35.12 ef D 29.89 c D 43.80 g C 35.97 f C 5.86 a B 29.51 c C 32.23 cde D 34.00 def C 51.23 h D 44.11 g D 31.12 cd C 52.77 h C 44.39 g C 34.94 def C 41.23 g C

Mojokerto 25.85 ef B 25.23 ef B 18.24 c A 20.87 cd C 32.51 hi B 20.48 cd A 0.00 a A 10.94 b B 29.30 gh C 22.72 de A 46.91 j C 26.94 fg B 24.27 ef B 33.38 i B 32.15 hi B 30.30 hi B 33.11 i B

Magetan 18.53 de A 21.62 efg A 21.69 efg A 12.78 b A 15.20 bc A 22.33 g A 7.38 a B 7.50 a A 14.45 bc A 21.91 fg A 33.33 h A 19.28 defg A 16.92 cd A 22.60 g A 14.92 bc A 12.83 b A 18.69 def A

Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf kecil sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata antar klon atau diikuti oleh huruf besar sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda nyata antar lokasi menurut uji BNJ taraf p=0.05.

112

5. Jumlah Umbi Per Tanaman Analisis ragam gabungan pada sifat jumlah umbi per tanaman menunjukkan pengaruh interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. Perbedaan jumlah umbi per tanaman antar klon dan antar lokasi dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Jumlah umbi per tanaman 17 klon ubi jalar di lima lokasi

Klon KTK-1 KTK- 4 KTK- 12 KTK- 14 KTK -18 KTK- 21 JP- 1 JP- 5 JP- 8 JP- 14 JP- 23 JP- 26 JP- 27 JP- 29 JP- 33 JP- 40 JP- 46 Rerata Kr.anyar 3.53 bcde A 2.83 ab AB 4.20 cdef A 3.17 bc AB 3.53 bcde AB 4.70 ef B 1.63 a B 3.10 bc B 3.20 bcd A 3.87 bcdef AB 4.20 cdef A 3.37 bcd AB 2.90 b A 2.90 b A 4.90 f B 5.03 f B 4.47 def A 3.62 Malang 4.80 cd B 3.47 b AB 5.07 cdef AB 4.23 bc BC 4.43 bc BC 6.07 efg C 2.10 a B 1.73 a A 4.17 bc A 6.23 fg C 5.67 defg BC 3.87 bc B 4.90 cde B 5.00 cde B 5.83 defg B 6.40 g C 4.20 bc A 4.60

Lokasi Blitar 3.70 bc A 3.80 bcd B 5.73 ghi B 5.20 efgh C 5.30 fgh C 4.43 cdef B 1.40 a B 3.13 b B 4.07 bcde A 4.93 defg B 6.30 hi C 5.40 fgh C 5.00 defg B 6.33 hi C 6.07 ghi B 6.10 ghi BC 6.63 I B 4.91

Mojokerto 3.30 cde A 2.56 bc A 3.94 def A 3.26 bcde AB 3.97 def B 2.86 bcd A 0.00 a A 2.08 b AB 3.03 bcd A 3.45 cde A 4.77 f AB 3.30 cde AB 2.86 bcd A 3.97 def AB 3.13 bcde A 3.08 bcd A 4.29 ef A 3.17

Magetan 3.20 bcde A 2.40 abc A 4.29 e A 2.37 abc A 2.33 ab A 3.57 cde AB 1.50 a B 1.47 a A 3.43 bcde A 3.77 de AB 3.73 de A 2.37 abc A 2.73 bcd A 3.50 bcde A 2.37 abc A 2.67 abcd A 3.37 bcde A 2.89

Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf kecil sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata antar klon atau diikuti oleh huruf besar sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda nyata antar lokasi menurut uji BNJ taraf p=0.05. 6. Jumlah Umbi Layak Jual

113

Analisis ragam gabungan menunjukkan pengaruh interaksi genotipe x lingkungan yang nyata pada sifat jumlah umbi layak jual. 7. Panjang Umbi Hasil analisis ragam gabungan menunjukkan interaksi genotipe x lingkungan yang nyata pada sifat panjang umbi. 8. Diameter Umbi Hasil analisis gabungan menunjukkan interaksi genotipe x lingkungan yang nyata pada sifat diameter umbi. 9. Kadar Serat Hasil analisis ragam gabungan terhadap sifat kadar serat menunjukkan adanya interaksi antara genotipe x lingkungan yang nyata. 10. Kadar Pati Hasil analisis ragam gabungan terhadap kadar pati menunjukkan adanya pengaruh interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. 11. Indek Panen Analisis ragam gabungan terhadap indek panen menunjukkan pengaruh interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. 12. Analisis stabilitas Analisis stabilitas dilakukan bila terdapat interaksi genotipe x lingkungan. Berdasarkan analisis gabungan terlihat bahwa terdapat interaksi genotipe x lingkungan pada sifat-sifat panjang tanaman, jumlah cabang, berat umbi per hektar, jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi layak jual, panjang umbi, diameter umbi, kadar serat, kadar pati dan indek panen tanaman. Sedangkan bobot brangkasan segar tidak menunjukkan interaksi genotipe x lingkungan. P e m b a h a s a n Umum Analisis ragam gabungan sifat panjang tanaman dan jumlah cabang menunjukkan interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. Panjang tanaman dan jumlah cabang setiap klon ubi jalar selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dipengaruhi oleh lingkungan. Panjang tanaman dan jumlah cabang akan bervariasi sesuai dengan lingkungan tumbuhnya Menurut Ashari et. al (1997) perlakuan klon dan lokasi penanaman ubi jalar menimbulkan interaksi genotipe x lingkungan yang nyata terhadap panjang tanaman dan jumlah cabang. Panjang tanaman dan jumlah cabang akan bervariasi kadang lebih banyak atau kadang lebih sedikit. Analisis ragam gabungan pada sifat bobot brangkasan segar menunjukkan tidak adanya interaksi genotipe x lingkungan yang nyata sehingga tidak bisa diuji stabilitasnya.

114

Tabel 5. Hasil analisis stabiblitas sifat-sifat yang diamati


Panjang tanama Jumlah n cabang stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil tidak stabil stabil stabil stabil tidak stabil stabil tidak stabil stabil stabil tidak stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil Umbi Layak jual tidak stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil tidak stabil stabil tidak stabil tidak stabil tidak stabil stabil Panjang Diameter Kadar umbi umbi serat stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil tidak stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil tidak stabil tidak stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil Kadar pati stabil stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil stabil stabil tidak stabil stabil tidak stabil stabil stabil stabil stabil tidak stabil Indek panen stabil stabil stabil tidak stabil tidak stabil stabil tidak stabil tidak stabil stabil stabil stabil stabil stabil stabil Stabil Stabil Stabil

Klon KTK-1 KTK- 4 KTK12 KTK14 KTK -18 KTK21 JP- 1 JP- 5 JP- 8 JP- 14 JP- 23 JP- 26 JP- 27 JP- 29 JP- 33 JP- 40 JP- 46

Analisis stabilitas hasil umbi per hektar menunjukkan bahwa KTK-4 dan JP-14 merupakan varietas yang stabil. Hasil umbi per hektar untuk KTK-4 diatas rata-rata dan lebih tinggi dibandingkan dengan varietas kontrol yaitu JP-1 dan KTK1. Sedangkan untuk JP-14 lebih rendah dibandingan dengan rata-rata, lebih rendah dibandingkan KTK-1 tetapi jauh lebih tinggi dibandingkan JP-1. Dengan demikian KTK-4 dan JP-14 walaupun mempunyai hasil umbi yang stabil tetapi kurang baik direkomendasikan sebagai klon baru karena hasil umbinya tidak jauh berbeda dengan nilai rata-rata. Nilai bi KTK-4 dan JP-14 kurang dari 1, hal ini menunjukkan bahwa klon ini beradaptasi khusus pada lingkungan yang kurang subur, dengan stabilitas dibawah rata-rata. KTK-4 menunjukkan hasil yang stabil pada sifat panjang tanaman, jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi layak jual, diameter umbi, panjang umbi, kadar serat, kadar pati dan indek panen. JP-14 mempunyai sifat stabil pada sifat jumlah cabang, jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi layak jual, panjang umbi, diameter umbi, kadar serat, kadar pati dan indek panen. Suatu

115

genotipe yang stabil dan berdaya hasil tinggi sangat diperlukan petani yang berlahan sempit untuk mengurangi kegagalan panen akibat perubahan faktor lingkungan yang tidak dapat diperkirakan (Kasno, 1992). Menurut Subandi et al. (1979) pembentukan kultivar unggul perlu diperhatikan stabilitas hasil secara sistematis. Klon-klon yang tidak stabil mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai klon yang spesifik wilayah. JP-40 dan JP 33 mempunyai hasil yang sangat tinggi di Karanganyar yaitu sebesar 47,28 ton/ha dan 44,26 ton/ha bila dibandingkan dengan rata-rata 33.32 ton/ha. JP-40 menunjukkan sifat stabil pada sifat jumlah cabang, jumlah umbi per tanaman, panjang umbi, diameter umbi, kadar serat, kadar pati dan indek panen. JP-33 menunjukkan sifat stabil pada sifat jumlah cabang, panjang tangkai umbi, diameter umbi, kadar serat, kadar pati dan indek panen. Klon ini sangat berpotensi dikembangkan di Karanganyar. JP-23 di Malang mempunyai hasil umbi per hektar 40,83 ton/ha dan jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata 26,36 ton/ha. Klon ini sangat baik dipergunakan sebagai klon spesifik wilayah Malang. Di Blitar JP-29, JP-23 mempunyai hasil masing-masing 52,77 ton/ha dan 51,23 ton/ha. Hasil ini jauh lebih besar dibandingkan rata-rata 35,78 ton/ha dan kontrol (JP-1 dan KTK-1). Klon-klon ini sangat baik dipergunakan sebagai klon spesifik wilayah di Blitar. Di Mojokerto JP23 menunjukkan hasil per hektar 46,91 ton/ha. Klon ini mempunyai hasil umbi di atas rata-rata dan lebih tinggi dibanding kontrol. Klon ini dapat dipergunakan sebagai klon spesifik lokasi untuk Mojokerto. Sedangkan di Magetan JP-23 mempunyai hasil per hektar 33,33 ton/ha. Klon ini mempunyai hasil umbi per hektar lebih besar dibandingkan rata-rata 17,76 ton/ha dan kontrol. Klon ini dapat dipergunakan untuk klon spesifik wilayah di Magetan. Secara umum JP-23 memiliki hasil rata-rata disemua lokasi yang tinggi yaitu 42, 84 ton/ha. JP-23 menujukkan stabil pada sifat panjang tanaman, jumlah cabang, jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi layak jual, panjang umbi, kadar serat, kadar pati dan indek tanaman. Klon ini selain bisa dipergunakan untuk klon spesifik wilayah juga dapat digunakan untuk sumber genetik untuk penelitianpenelitian selanjutnya karena mempunyai produksi yang over. Selain JP-23, JP-29 menghasilkan produksi umbi per hektar tertinggi di Blitar dan menunjukkan stabil pada sifat diameter umbi, kadar serat, kadar pati dan indek panen. Seperti pada pengujian yang telah dilakukan dimana hanya didapat dua klon yang stabil pada karakter hasil umbi per hektar. Jalaludin dan Horrison (1993) menyatakan bahwa untuk mendapatkan hasil yang tinggi dan stabil sangat sulit direalisasikan karena karakter hasil selalu dikendalikan oleh banyak gen. Selain itu gen-gen pengendali tersebut juga terletak pada kromosom yang berbeda. Pada sifat jumlah umbi per tanaman terdapat perbedaan antar lokasi. Dari data pengamatan dapat dilihat bahwa di Malang dan di Blitar mempunyai jumlah umbi per tanaman paling banyak, jumlah umbi ini banyak dipengaruhi oleh pengaturan air yang lebih baik, di Malang dan Blitar drainase lebih baik di bandingkan daerah lain sehingga faktor inilah yang menyebabkan kedua lokasi tersebut mempunyai jumlah umbi per tanaman yang lebih banyak. Jumlah umbi selain ditentukan oleh faktor genetik juga banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Menurut Rahayuningsih dan Hartojo (1999) lingkungan terutama kelembaban tanah sangat mempengaruhi jumlah umbi per tanaman. Pada kondisi kekurangan air jumlah umbi dapat menurun. Menurut Ashari et. al (1994) Klon yang sama apabila ditanam pada lokasi yang berbeda akan menghasilkan jumlah umbi yang berbeda pula.

116

Jumlah umbi per tanaman dapat digunakan salah satu sifat yang baik dalam penentuan stabilitas tanaman. Dari analisis stabilitas terdapat klon yang stabil dan tidak stabil. Klon yang stabil mempunyai nilai bi yang berbeda-beda. KTK-1, KTK4, KTK-12, JP-1, JP-5, dan JP-8 mempunyai nilai bi < 1 yang berarti mempunyai adaptasi khusus terhadap lingkungan yang kurang subur dengan tingkat stabilitas diatas rata-rata. Sedangkan KTK-14, KTK-18, JP-14, JP-23, JP-26, JP-27 mempunyai nilai bi > 1 berarti mampu beradapatasi khusus terhadap lingkungan yang subur, dengan stabilitas dibawah rata-rata. Jumlah umbi layak jual menunjukkan pengaruh interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. Rahayuningsih dan Hartojo (1999) mengemukakan bahwa jumlah umbi besar dipengaruhi oleh cekaman kekeringan. Kekurangan air meningkatkan jumlah umbi kecil dan mengurangi jumlah umbi besar. Pengaturan air terutama di musim hujan merupakan faktor yang penting dalam memperbesar jumlah umbi layak jual. Hal ini sangat penting terutama pada fase pengisian umbi, ketersediaan air yang optimal akan memberikan hasil yang lebih menguntungkan. Analisis ragam gabungan pada sifat diameter umbi dan panjang umbi menunjukkan adanya interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. Menurut Adriyaswar et. al (1994) diameter umbi dan panjang umbi dipengaruhi oleh bentuk umbi masing-masing klon, bentuk umbi dipengaruhi oleh genetik. Namun faktor kesuburan dan struktur tanah serta iklim juga mempengaruhi bentuk dan diameter umbi. Hasil analisis gabungan pada sifat kadar serat dan kadar pati menunjukkan adanya interaksi genotipe x lingkungan yang nyata. Menurut Ashari et al. (1997) suatu klon yang sama pada genotipenya menghasilkan kadar serat dan kadar pati yang berbeda apabila ditanam pada lokasi yang berbeda pula. Seringkali tanaman menghasilkan kadar serat dan kadar pati tinggi bila ditanam pada suatu lokasi namun apabila ditanam pada lokasi yang lain kadar serat dan kadar pati tersebut akan turun. Beberapa klon menunjukkan kadar serat dan kadar pati yang konsisten. Hasil analisis gabungan menunjukkan interaksi genotipe x lingkungan yang nyata pada sifat indek panen tanaman. Nilai indek dari keseluruhan lokasi cukup tinggi, hal ini disebabkan oleh tingkat kesuburan dan pemupukan yang cukup (Adriyaswar, 1994). Indek tanaman merupakan rasio pemanfaatan unsur hara. Klon klon yang mempunyai indek tanaman yang stabil perlu dipreoritaskan sebagai klon baru yang akan dilepas. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut : Klon-klon ubi jalar yang diuji menunjukkan adanya interaksi genotipe x lingkungan pada pertumbuhan dan hasil tanaman. Didapat 2 galur yang mempunyai hasil umbi per hektar stabil, yaitu KTK-4 dan JP-14. Meskipun hasil umbi kedua klon ini tidak jauh berbeda dengan rata-rata, klon-klon ini bisa dilepas sebagai klon yang mempunyai adaptasi luas. Klon-klon yang mempunyai hasil umbi per hektar tinggi tetapi tidak stabil berpotensi untuk dikembangkan sebagai klon yang

117

spesifik wilayah, yaitu: (1) Di Karanganyar JP-40 dan JP-33; (2) Di Malang JP-23; (3) Di Blitar JP-29 dan JP-23; (4) Di Mojokerto JP-23; (5) Di Magetan JP-23. 2. Saran Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disarankan : Mengingat ubi jalar sangat peka terhadap kondisi lingkungan, maka untuk mendapatkan informasi mengenahi stabilitas dan adaptabilitas yang lebih banyak perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Adanya penyuluhan dan penyebaran klon-klon baru ke petani, sehingga klon-klon unggul tersebut dapat lebih dimanfaatkan oleh petani. DAFTAR PUSTAKA Adriyaswar, Mulyadi, dan M. Yusuf, 1994. Pengujian Daya hasil beberapa Klon dan Varietas Ubijalar di tanah Andosol Gadut, Bukittinggi. Balittan. Sukarami. Ashari, S, N. Basuki dan N.R. Ardiarini. 1997. Karakter Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Klon Ubi Jalar di Dua Lokasi. Agrivita 19 (1) : 1-5. Basuki, N. 1993. Pemuliaan Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L) Lam) untuk wilayah lahan kering. Laporan Penelitian Universitas Brawijaya. Malang. Bradbury, J.H.1988. Chemical Composition of Tropical Root Crops and Its Implication for Nutrion. Pp 159-170 In R.H. Howeler (ed), Eight symposium of Int. Soc. For. Trop. Root Crops. Bangkok Thailand. Eberhart, S.A. and W.A. Russell, 1966. Stability parameters for comparing varieties. Crop Sci. 6 : 36-40. Finlay, K.W. and G.N. Wilkinson. 1963. The analysis of adaptation in plant breeding programme. Aust. J. Agric. Res 14 : 742-754. Jalaludin dan S.A. Harrison. 1993. Repeatibility of stability Estimator for Grain Yield in Wheat. Crop Sci. 33 : 720-725. Kasno, A. 1986. Hubungan Interaksi Genotipe x Lingkungan Pada Penampilan Galur-galur Kacang Tanah pada Uji Daya Hasil Lanjutan. Seminar Balittan. Bogor. Rahayuningsih, S.A, 1997. Paduan Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Ubi Jalar. Monagraf. Balitkabi. Malang. Subandi, M.R. Hikam, A. Sudjana, M.M Dahlan and A. Rifin. 1979. Mean and stability for yield of early and late varieties of corn in varying environments. Cont. CRIA. 51:24p Tjintokohadi, N.L. Ningsih, II G. Mok dan M. Yusuf. 1994. Evaluasi Awal Plasma Nutfah Ubi Jalar di lahan Masam di Sitiung dan Martapura, Sumatra. Edisi Khusus Balittan. Malang 3 : 191-195. Zuraida, N, Minantyorini dan A. Dimyati, 1994. Seleksi Klon Ubi jalar Berdasarkan Sifat Kualitatif Umbi. Balittan. Malang.