Anda di halaman 1dari 9

METODE PENDAMPINGAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metode Pemberdayaan

Disusun oleh : Kelompok 9 Wendi Irawan Deria Hadianisa Januar Irfansyah Karnati 150310080137 150310080147 150310080168 150310080174 Agribisnis D

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

PENDAHULUAN Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya mempersiapkan masyarakat agar mampu mewujudkan kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan dalam suasana keadilan sosial yang berkelanjutan. Implementasi dari pemberdayaan itu sendiri sangat bervariasi, tergantung kebutuhan dari waktu ke waktu. Tren program pemberdayaan masyarakat saat ini adalah memposisikan masyarakat sebagai pelaku utama, sehingga masyarakat itu sendiri yang menentukan kebutuhan dan prioritas yang diinginkannya. Salah satu upaya memberdayakan adalah dengan meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pendampingan. Pendampingan pada dasarnya merupakan upaya untuk menyertakan masyarakat dalam mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki sehingga mampu mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Tenaga pendamping ditempatkan sebagai fasilitator, komunikator, motivator dan dinamisator Selain diarahkan untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan yang terkait dengan kebutuhan masyarakat, para pendamping diharapkan dapat membangun kemampuan dalam meningkatkan pendapatan, melaksanakan usaha yang berskala bisnis serta mengembangkan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan secara partisipatif.

PEMBAHASAN Pada hakekatnya pendampingan merupakan kegiatan membantu, mengarahkan, mendukung terhadap individu/kelompok masyarakat miskin dalam merumuskan masalah, merencanakan, melaksanakan dan melestarikan program pendampingan diperlukan agar potensi yang terdapat dalam masyarakat dapat dikembangkan secara optimal. (Gunawan Sumodiningrat, 2005). Menurut Ife (1995) peran pendamping pada umumnya mencakup : 1. Fasilitator. Berkaitan dengan pemberian motivasi, kesempatan, dan dukungan bagi masyarakat juga melakukan mediasi dan negosiasi, membangun konsensus bersama, serta melakukan pengorganisasian dan pemanfaatan sumber. 2. Pendidik. Sebagai agen yang memberi masukan positif dan direktif berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya serta bertukar gagasan dengan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang didampinginya. 3. Perwakilan masyarakat. Berkaitan dengan interaksi antara pendamping dengan lembaga-lembaga eksternal, bertugas mencari sumber, melakukan pembelaan, meningkatkan hubungan masyarakat, dan membangun jaringan kerja demi kepentingan masyarakat dampingannya. 4. Peran-peran teknis. Pendamping dituntut tidak hanya mampu menjadi manajer perubahan yang mengorganisasi kelompok, melainkan pula mampu melaksanakan tugas-tugas teknis sesuai dengan berbagai keterampilan dasar, seperti; melakukan analisis sosial, mengelola dinamika kelompok, menjalin relasi, bernegosiasi, berkomunikasi, memberi konsultasi, dan mencari serta mengatur sumber dana. Dalam kaitannya dengan masyarakat miskin, lima aspek pemberdayaan di atas dapat dilakukan melalui lima strategi pemberdayaan yang dapat disingkat menjadi 5P, yaitu: 1. Pemungkinan : menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat miskin berkembang secara optimal. 2. Penguatan : memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat miskin dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

3. Perlindungan : melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang (apalagi tidak sehat) antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah. 4. Penyokongan : memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat miskin mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya agar tidak terjatuh ke dalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan. 5. Pemeliharaan : memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Prinsip-prinsip pendampingan yang dapat digunakan sebagai panduan dalam upaya pemberdayaan masyarakat meliputi : Prinsip Berkelompok Kelompok tumbuh dari, oleh dan untuk kepentingan masyarakat. Selain dengan anggota kelompoknya sendiri, kerjasama juga dikembangkan antar kelompok dan mitra kerja lainnya agar usaha mereka berkembang, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta mampu membentuk kelembagaan ekonomi. Prinsip Keberlanjutan Seluruh kegiatan penumbuhan dan pengembangan diorientasikan pada terciptanya sistem dan mekanisme yang mendukung pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Berbagai kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan yang memiliki potensi untuk berlanjut di kemudian hari. Prinsip Keswadayaan Masyarakat diberi motivasi dan didorong untuk berusaha atas dasar kemauan dan kemampuan mereka sendiri dan tidak selalu tergantung pada bantuan dari luar. Prinsip Kesatuan Keluarga Masyarakat tumbuh dan berkembang sebagai satu kesatuan keluarga yang utuh. Kepala keluarga beserta anggota keluarga merupakan pemacu dan pemicu kemajuan usaha. Prinsip ini menuntut para pendamping untuk memberdayakan seluruh anggota keluarga masyarakat berperan serta dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

Prinsip Belajar Menemukan Sendiri Kelompok dalam masyarakat tumbuh dan berkembang atas dasar kemauan dan

kemampuan mereka untuk belajar menemukan sendiri apa yang mereka butuhkan dan apa yang akan mereka kembangkan, termasuk upaya untuk mengubah penghidupan dan kehidupannya. Ada beberapa metode pendampingan yang disesuaikan dengan keadaan

masyarakatnya : 2. Gaya Mengarahkan digunakan jika kondisi masyarakat tidak mau dan tidak mampu melakukan 3. Gaya partisipatif digunakan jika kondisi masyarakat tidak mau tetapi mampu melakukan 4. Gaya Konsultatif digunakan jika kondisi masyarakat mau melakukan tetapi tidak mampu 5. Gaya Delegatif digunakan jika kondisi masyarakat mau dan mampu melakukan Manfaat Pendampingan : 1. Menciptakan kemandirian (self reliance) masyarakat, agar dapat merencanakan, melaksanakan dan melestarikan program 2. Memberdayakan (empowering) masyarakat untuk menghadapi tantangan dan peluang bisnis (dengan menciptakan unit usaha mikro agar dapat mencukupi kebutuhan sendiri) 3. Meningkatkan kemampuan (capacity building) masayarakat dengan memberikan pengetahuan, keahlian serta akses terhadap informasi 4. Mengembangkan pengawasan sosial (Social control) masyarakat terhadap program pembangunan dengan meningkatkan cara pengelolaan dana secara transparan 5. Memperluas kesempatan (creating opportunities) masyarakat berpartisipasi dalam program pembangunan melalui wahana yang ada 6. Meningkatkan kesejahteraan individu/kelompok yang didampingi 7. Menjadikan pendampingan sebagai kegiatan profesional yang mampu menjadi sumber pendapatan bagi para pendamping

Contoh Metode Pendampingan PROGRAM PENDAMPINGAN KELOMPOK TANI PADI Salah satu cara untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan petani adalah melalui program pendampingan. Sesunguhnya pendampingan petani bukanlah sesuatu hal yang baru. Namun akhir-akhir ini istilah pendampingan petani muncul ke permukaan karena adanya berbagai krisis dan tantangan yang dihadapi oleh sektor agrokompleks. Sejak kegiatan penyuluhan agrokompleks digalakkan di Indonesia, program penyuluhan dapat dianggap serupa dengan program pendampingan karena penyuluh agrokompleks tinggal dan hidup di antara petani, memahami dan ikut membantu petani memecahkan persoalannya. Ide penyuluhan pertanian ini sejalan dengan konsep penyuluhan menurut Mosher (1978) yang dengan eksplisit menyatakan adanya kegiatan pendampingan. Penyuluhan adalah process of working with rural people through out-of-school education, along those lines of their current interest and need which are closely related to gaining a livelihood, improving the physical level of living of rural families, and fostering rural community welfare. Perbedaaan antara penyuluhan dan pendampingan yaitu bahwa penyuluh agrokompleks belum tentu seorang ahli tapi lebih tepat adalah penyampai informasi, sementara pendamping disyaratkan memiliki klasifikasi sebagai seorang ahli atau setidaknya lebih memahami persoalan dari pada petani. Baik penyuluh maupun pendamping disyaratkan untuk memiliki kontak yang intens dengan petani. Kegiatan pendampingan terhadap masyarakat lebih banyak diawali oleh LSM melalui program-program pembangunan masyarakat. Community workers adalah mereka yang tinggal dan bekerja di tengah masyarakat sasaran dengan tujuan utama adalah mensukseskan program pembangunan melalui pemberdayaan (empowerment) masyarakat. Dengan cara ini maka target dan tujuan bisa dicapai pada waktunya dan bahkan dapat dipercepat. Pemberdayaan masyarakat dengan cara ini memiliki kesan bahwa kelompok sasaran (petani) dimanjakan. Kesan ini barangkali benar bila pendamping atau pekerja masya-rakat tidak tekun menatap pada tujuan akhir. Namun

kesan ini akan dengan sendirinya hilang apabila pendamping menyadari bahwa apapun yang dilakukan adalah dalam konteks tujuan akhir untuk memberdayakan masyarakat petani. Kriteria dan Karakteristik Pendamping Pekerjaan sebagai pendamping bukan merupakan suatu tugas yang mudah. Pendampingan adalah suatu keahlian dan dapat dianggap sebagai suatu misi. Tiga syarat sebagai pendamping (facilitator) pada pekerjaan pembangunan pertanian, yaitu : (1) (2) Pendamping harus memiliki kompetensi dan kapasitas kognitif serta pengetahuan yang dalam dan luas di bidangnya; Pendamping memiliki komitmen profesional, motivasi serta kematangan seperti yang ditujukan dalam pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan sebelumnya; dan (3) Pendamping memiliki kemauan yang sangat kuat untuk membagi apa yang dianggapnya baik bagi sesamanya (orang lain). Selain syarat-syarat ini, pendamping perlu memiliki kemampuan untuk dapat berfungsi sebagai (1) pemrakarsa, (2) penunjuk jalan, (3) pendorong, (4) pendamai, (5) pengumpul fakta, dan (6) pemberi fakta. Bila mereka bekerja dalam kelompok maka pendamping harus dapat bekerjasama, memiliki kesamaan persepsi tentang tugas dan tanggung jawab mereka. Agar supaya fungsi sebagai fasilitator dapat berjalan dengan baik maka kemampuan berikut perlu dimiliki: (1) mengumpulkan data, (2) analisis dan identifikasi masalah, (3) melakukan interaksi atau membangun hubungan dengan setiap kalangan, (4) kemampuan berorganisasi, (5) kemampuan menata proyek, dan (6) kemampuan memberikan pelatihan

PENUTUP Pendampingan merupakan upaya untuk menyertai masyarakat dalam

mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki sehingga mampu mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Kegiatan pendampingan merupakan upaya berkelanjutan yang dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Pendamping merupakan salah satu motivator bagi pengembangan masyarakat. Tenaga pendamping merupakan mitra kerja bagi kelompok tani, penyuluh pertanian dan petugas lapangan di daerah. Dengan demikian tenaga pendamping sangat perlu dipertahankan dalam upaya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani di pedesaan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim . 2004. Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Studi Kasus Rumah Tangga Miskin di Indonesia. Bandung: STKSPress Suharto, Edi. 1997. Pembangunan, Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Spektrum Pemikiran. Bandung: Lembaga Studi Pembangunan-STKS Primahendra, R. 2002. Panduan Pendampingan untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta. Saragih, Bungaran, Sajogya, dkk. 2001. Pembangunan Pertanian Melalui Pemberdayaan Masyarakat Desa. Owin Jamasy dkk (ed). Bina Swadaya. Jakarta. PIDRA. 2002. Konsep Pemberdayaan Masyarakat. Proyek PIDRA, Badan Bimas Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian. Jakarta.