Anda di halaman 1dari 7

PENGAMATAN VIRUS PADA BAKTERI DENGAN METODE PLAQUE

Oleh: Nama NIM Kelompok Rombongan Asisten : Anna Yulita : B1J008098 :5 :I : Ari Pringgo Aji

LAPORAN PRAKTIKUM VIROLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tinjauan Pustaka

Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Virus merupakan parasit obligat di dalam sel inang dan di luar inangnya menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menyandi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya (Anonymous, 2010). Virus mempunyai ukkuran sekitar 20-300 milimikron, jadi ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan bakteri yang berukuran 10 mikron. Virus tidak dapat diamati dengan mikroskop cahaya karena ukurannya yang relatif kecil tersebut. Virus hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop elektron. Virus dapat lolos dari saringan keramik, sedangkan bakteri tidak, sehingga cairan yang mengandung bakteri dan virus disaring dengan saringan keramik, bakteri dapat disarig,sedangkan virus tidak (Irianto, 2006). Selama berkembang biak di dalam sel inang, virus dapat menimbulkan penyakit. Virus menimbulkan penyakit-penyakit menular akut yang paling umum pada manusia, dan telah terhimpun semakin banyak bukti yang menyarankan bahwa mereka juga banyak menimbulkan penyakit kronis yang berbeda-beda. Satu orang rata-rata mengalami beberapa infeksi oleh virus dalam setahunnya dan jauh melebihi 200 infeksi di dalam masa hidupnya (Pelczar and Chan, 1986). Berdasarkan inang sebagai tempat perkembangbiakannya, virus dapat berkembang biak dalam sel bakteri, sel hewan dan sel tumbuhan tingkat tinggi (Teddy, 2008).

Bakteriofage merupakn contoh dari virus tang menyerang bakteri. Virus bakterial tersebar luas di alam, bagi kebanyakan (tidak semua) bakteri, ada fage. Mikroskop elektron telah memungkin ditentukannya cirri-ciri struktural virus bakteri. Bakteriofage merupakan kesatuan kesatuan biologis paling sederhana yang diketahui mampu mereplikasi diri (mengkopi-kopi dari dirinya), maka jasad renik ini telah digunakan secara luas dalam riset genetika, memiliki fase reproduksi baik secara litik (melisiskan sel bakteri) atau fase lisogenik. Fage-fage ini dapat diisolasi dengan mudah di laboratorium dengan teknik-teknik yang sesuai dalam cawan agar (Pelczar and Chan, 1986). C. Tujuan Tujuan dari praktikum Pengamatan Virus pada Bakteri dengan Metode Plaque adalah untuk mengetahui ada tidak dari zona jernih atau adanya plaque yang terbentuk di dalam media NA yang telah diinokulasi sampel dan bakteri E. coli.

II.

MATERI DAN METODE

A. Materi Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum adalah media NA cawan, cutton bud steril, pembakar spirtus, alkohol, korek api, wrapping, pipet ukur 1 ml, botol steril, tabung reaksi, sumbat, inkubator, air sampel yang diduga mengandung virus (limbah sapi, limbah ayam, limbah kambing, limbah ikan, dan limbah sapi menggenang). B. Metode Metode yang dilakukan dalam praktikum adalah sebagai berikut: 1. Sampel air dimasukkan ke dalam botol sampel. 2. Media pertumbuhan bakteri NA disiapkan. 3. Diambil cutton bud steril dan dicelupkan secara aseptis. 4. Dilawnkan secara aseptis cutton bud yang telah dicelupkan E. coli pada media NA cawan secara duplo. 5. Kemudian diinkubassi selam 2x24 jam pada suhu 30 C. 6. Diamati pembentukan plaque yang terjadi apaila terbentuk plaque pada koloni pertumbuhan bakteri maka diduga terdapat virus yang melisiskan sel bakteri.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil B. Pembahasan Plaque merupakan struktur visibel yang dibentuk oleh adanya kultur sel sepertikkultur bakteri dalam medium nutrien. Plaque (zona jernih) terbentuk karena adanya aktifitas virus bakteri yang mereplikasi dan merusak struktur sel pada bakteri (Anonymous, 2009). Virus bakteri mudah diisolasi dan dikultivasi pada biakan bakteri yang muda dan sedang tumbuh aktif dalam kaldu atau cawan agar. Melisisnya bakteri pada biakan cair menyebabkan suatu biakan yang keruh menjadi jernih, sedang pada biakan agar cawan akan nampak oleh mata telanjang daerahdaerah yang jernih (plaque). Persyaratan utama bagi isolasi dan kultivasi fag ialah harus adanya kondisi optimum untuk pertumbuhan organisme inangnya (Pelczar and Chan, 1986). Metode plaque diperkenalkan pada tahun1952 oleh Rennato Dulbecco. Plaque adalah uji virologis yang diperkenalkan untuk menghitung dan mengukur infektifitas bacteriophages. Uji plaque digunakan untuk melihat dan mencatat kematian sel dalam kultur sel yang terinfeksi. Ketika satu sel terinfeksi oleh satu virus maka akan menyebar dan menginfeksi ke sel di sekitarnya. Uji plaque lebih akurat bila pada konsentrasi rendah, tidak memakan waktu dan tekniknya tidak terlalu sulit (Anonim, 2009). Metode plaque, bakteriophage dicampurkan pada media padat yang telah dicairkan dan telah diberi suspensi. Media tersebut selanjutnya dituang pada cawan petri dan diinkubasi. Bakteriophage bermultiplikasi dan memusnahkan bakteri sehingga menyebabkan terbentuknya plaque yang visible. Tiap-tiap plaque dianggap sebagai satu virus sehingga konsentrasi suspensi virus yang dihitung dari jumlah plaque yang terbentuk disebut plaque Forming Unit (PFU) (Anonim, 2010). Metode plaque yang digunakan dalam praktikum ini dengan cara

menginokulasikan sampel air dari berbagai limbah ternak ke dalam media NA pada cawan petri yang kemudian diinkubasi selama 2 x 24 jam. Uji positif apabila terbentuk plaque yang ditandakan dengan adanya zona jernih di sekitar koloni partumbuhan bakteri maka diduga terdapat virus yang melisiskan sel bakteri. Media pertumbuhan bakteri yang digunakan adalah NA sedangkan bakteri yang berada pada

air limbah sampel dimungkinkan E. coli sehingga plaque (zona jernih) kurang terlihat jelas. Kelebihan metode plaque adalah metode ini mudah dilakukan dan murah. Sedangkan kekurangan metode plaque adalah metode ini masih (sutarti, 1994). Hasil dari data yang diperoleh menunjukkan air limbah yang menjadi sampel terdapat virus, hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya zona jernih yang terdapat pada media yang diinokulasikan bakteri E. coli. Pada media yang hanya diinokulasikan sampel limbah tidak terbentuk zona jernih. Jika terdapat zona jernih kemungkinan dalam limbah tersebut terdapat virus tetapi jika tidak ada zona jernih yang terbentuk berarti pada limbah yang menjadi sampel tidak ditemukan virus. Air sampel yang digunakan berasal dari limbah pembuangan ternak kambing, limbah pembuangan ternak sapi, limbah pembuangan ternak ayam, dan limbah ikan. Tujuan dari perbedaan jenis limbah yang digunakan agar diketahui ada tidaknya virus dari sampel tersebut dan beda jenis virus yang ada. Pada limbah cair sapi dimungkinkan terdapat virus small pox, sapi gila atau pun lainnya. Sampel limbah cair dari ternak ayam bias terdapat Virus Avian Influenza atau Newcastle Disease Virus. Virus pada ikan misalnya Carp Interstitial Nephritis and Gill Necrosis Virus (CNGV), Cyprinid Herpesvirus (KHV) (Suwarno, 2006). Perkembangbiakan virus atau dalam siklus hidupnya virus memerlukan lingkungan sel yang hidup. Oleh karena itu, virus menginfeksi sel bakteri, sel hewan, atau sel tumbuhan untuk bereproduksi. Menurut Irianto (2006) ada dua macam cara virus menginfeksi sel hospes, yaitu secara litik dan secara lisogenik. a. Infeksi secara litik Infeksi secara litik melalui fase-fase sebagai berikut ini: 1. Fase adsorpsi dan infeksi Fag akan melekat atau menginfeksi bagian tertentu dari dinding sel hospes, daerah itu disebut daerah reseptor (receptor site = reseptor spot). Daerah ini khas bagi fag tertentu, dan fag jenis lain tidak dapat melekat di tempat tersebut. Virus tidak memiliki enzim untuk metabolisme, tetapi memliki enzim lisozim yang berfungsi merusak atau melubangi dinding sel hospes. Sesudah dinding sel hospes terhidrolisis oleh lisozim, maka seluruh isi fag masuk kedalam hospes. Fag kemudian merusak dan mengendalikan DNA hospes. 2. Fase replikasi (fase sintesa)

DNA fag mengadakan replikasi (menyusun DNA) menggunakan DNA hospes sebagai bahan, serta membentuk selubung protein. Maka terbentuklah beratusratus molekul DNA baru virus yang lengkap dengan selubungnya. 3. Fase pembebasan virus (fag-fag baru)/ fase lisis Sesudah fag dewasa, sel hospes akan pecah (lisis), sehingga keluarlah virus atau fag yang baru. Jumlah virus baru ini dapat mencapai sekitar 200. b. Infeksi secara lisogenik 1. Fase adsorpsi dan infeksi Fag menenpel pada tempat yang spesifik. Virus melakukan penetrasi pada hospes kemudian mengluarkan DNAnya kedalam tubuh hospes. 2. Fase penggabungan DNA virus bersatu dengan DNA hospes membentuk profag. Dalam bentuk profag, sebagian besar gen berada dalam fase tidak aktif, tetapi sedikitnya ada satu gen yang selalu aktif. Gen aktif berfungsi untuk mengkode protein reseptor yang berfungsi menjaga agar sebagian gen profag tidak aktif. 3. Fase pembelahan Bila sel hospes membelah diri, profag ikut membelah sehingga dua sel anakan hospes juga mengandung profag didalam selnya. Hal ini akan berlangsung terus-menerus selama sel bakteri yang mengandung profag membelah.