Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS IODO-IODIMETRI ( P4 )

Di susun oleh : 1. MOH. NUR KHASAN 2. JATI FIRMANTO 3. NUR ALFIAH 4. KARTIKO WICAKSONO 5. ATABIK YUSUF Asisten : 1. Rendy Nurhidayat 2. Tri Ayu Apriyani 3. Rizky Novasari (G1F010058) (G1F010059) (G1F010060) (GIF010061) (G1F008034)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2011

PERCOBAAN 4 IODO-IODIMETRI (P4 )

I.

TUJUAN Mahasiswa dapat menentukan kadar suatu senyawa obat dalam sampel

menggunakan prinsip reaksi oksidasi dan reduksi. II. PRINSIP PERCOBAAN Proses oksidasi dan reduksi atau redoks adalah perubahan elektron pada zat zat yang bereaksi. Oksidasi adalah peristiwa pelepasan elektron dan reduksi adalah peristiwa pengikatan elektron. Iodium adala oksidator lemah sedangakan iodida adalah reduktor kuat. Pada titrasi menggunakan iod ada dua istilah yang lazim digunakan yaitu iodimetri dan iodometri ALAT DAN BAHAN Alat yang di gunakan pada praktikum kali ini yaitu Buret , spatula , batang pengaduk , beaker glass , corong gelas , labu erlenmayer , pipet tetes , pipet ukur , labu ukur , statif dan klem , mortir, gelas arloji Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu kalium iodida , yodium , NaOH 1N, indikator jingga metil , Hcl encer, Na bikarbonat, larutan kanji, akuades, natrium tiosulfat 0.1 N, kloroform , K2Cr2O7 0.1 N , CuSO4, Asam Asetat , Vitamin C , Metampiron , Asam Sulfat encer. DATA PENGAMATAN I. DATA PENGAMATAN Kelompok 1 1. Larutan Baku A. Larutan Natrium tiosulfat 0,1 N V K2Cr2O7 = 1 ml

N K2Cr2O7 = 0,1 N V N2S2O3 1 = 31,7 ml V N2S2O3 2 = 31,7 ml V N2S2O3 3 = 32 ml N N2S2O3 1 = V K2Cr2O7 x N K2Cr2O7 = 1x 0,1 = 0,00315 N V N2S2O3 1 31,7

N N2S2O3 2 = V K2Cr2O7x N K2Cr2O7 = 1 x 0,1 = 0,00315 N V N2S2O3 2 31,7

N N2S2O3 3 = V K2Cr2O7x N K2Cr2O7 = 1 x 0,1 = 0,00312 N V N2S2O3 3 32

X = n = 0,00315 + 0,00315 + 0,00312 = 0,00942 N 3

2. Penetapan Kadar A. Penetapan kadar Cu dlam CuSO4 (Metode Yodometri) Kelompok 1 N Na2S2O3.5H2O = 0,003 N V sample = 3 ml V titran 1 = 6,25 ml V titran 2 = 6,4 ml Kadar Replikasi 1 = V titran 1 x N titran x BE zat Mr zat = 63,5 BE zat= 63,5 2

= 6,25 x 0,003 x 2 = 0,00125 %

3 x 1000 Kadar Replikasi 2 = V titran 2 x N titran x BE zat

= 6,4 x 0,003 x 2 = 0,00128 % 3 x 1000

X 0,00125 % 0,00128%

d ([x-x]) 0,015

d2 0,00025 0,00025

0,001265%

0,015

d = n SD =

= 0,03 = 0,015 2 = = 0,002

Jadi kadar sampel tembaga sulfat adalah 0,001265 % 0,002

C. Penetapan kadar metampiron Kelompok 4 N I2 = 0.1 N V titran 1 = 7,5 ml V titran 2 = 7,4 ml V titran 3 = 7,4 ml Kadar 1 = V titran 1 x N titran 1 x BE zat x 100 % BE metampiron = 16,67

mg sampel = 7,4 x 0,1 N x 16,67 x 100 % = 62,51 % 20 Kadar 2 = V titran 2 x N titran 2 x BE zat x 100 % m sampel = 7,4 x 0,1 N x 16,67 x 100 % 20 = 61,67 %

Kadar 3 = V titran 3 x N titran 3 x BE zat x 100 % m sampel = 7,4x 0,1 N x 16,67 x 100 % 25 = 61,67 % Kadar rata-rata=62,51+61,67+ 61,67 =61,95% 3 X 62,51% 61,67 % 61,67 % X 61,95% 61,95% 61,95% d ([x-x]) 0,56 0,28 0,28 d = n SD =

d2 0,3136 0,0784 0,0784

= 1,18 = 0,393 3 = = 0,28

Jadi rata-rata kadar sampel adalah 61,95 % 0,28

D. Penetapan kadar vitamin C Kelompok 2 N Iodium = 0,1 N V titran 1 = 2,8 ml V titran 2 = 2,75 ml V titran 3 = 2,8 ml Kadar 1 = V titran 1 x N titran 1 x BE zat x 100 % x faktor pengenceran mg sampel = 2,8 x 0,1 N x 88 x 100 % = 123,2 % 20 Kadar 2 = V titran 2 x N titran 2 x BE zat x 100 % x faktor pengenceran m sampel = 2,75 x 0,1 N x 88 x 100 % = 121 % 20 Kadar 3 = V titran 3 x N titran 3 x BE zat x 100 % x faktor pengenceran m sampel = 2,8 x 0,1 N x 88 x 100 % = 123,2 % 20 X 123,2 % 121 % 123,2 % 122,5% X d ([x-x]) 0,7 1,5 0,7 d2 0,49 2.25 0,49 BE zat = 88

d = n SD =

= 2,9 = 0,96 3 = = 1,271

Jadi kadar sampel asam askorbat adalah 122,5 % 1,271

Penetapan kadar metampiron Kelompok 3 N I2 = 0.1 N V titran 1 = 6 ml V titran 2 = 6,1 ml V titran 3 = 6 ml Kadar 1 = V titran 1 x N titran 1 x BE zat x 100 % mg sampel = 6 x 0,1 N x 16,67 x 100 % = 50,01 % 20 Kadar 2 = V titran 2 x N titran 2 x BE zat x 100 % m sampel = 6,1 x 0,1 N x 16,67 x 100 % 20 = 50,84 % BE metampiron = 16,67

Kadar 3 = V titran 3 x N titran 3 x BE zat x 100 % m sampel = 6 x 0,1 N x 16,67 x 100 %

20 = 50,01 % Kadar rata-rata=50,01+50,84+ 50,01 =50,28% 3 X 50,01% 50,84% 50,01% X 50,28 % 50,28 % 50,28 % d ([x-x]) 0,27 0,56 0,27 d = n SD =

d2 0,0729 0,3136 0,0729

= 1,10 = 0,366 3 = = 0,479

Jadi rata-rata kadar sampel adalah 50,28 % 0,479

III. IV.

PEMBAHASAN Teori Iodo-Iodimetri Dalam menganalisa suatu senyawa dalam hal ini adalah obat dapat digunakan

analisis secara kuantitatif (penetapan banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel) dan analisis secara kualitatif (identifikasi zat-zat dalam suatu sampel). Intinya tujuan analisis secara kualitatif adalah memisahkan serta mengidentifikasi sejumlah unsur (Day & Underwood, 1986). Diantara sekian banyak contoh teknik atau cara dalam analisis kuantitatif terdapat dua cara melakukan analisis dengan menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secara langsung dan tidak langsung. Cara langsung disebut iodimetri (digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara kuantitatif

pada titik ekivalennya). Namun, metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. Sedangkan cara tidak langsung disebut iodometri (oksidator yang dianalisis kemudian direaksikan dengan ion iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium thiosilfat standar atau asam arsenit) (Bassett, 1994). Dengan kontrol pada titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran. perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/kanji (Vogel, 1997). Iodium merupakan oksidator lemah. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang cukup kuat. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat (Day & Underwood, 1986).

Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia (Bassett, 1994). Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium thiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama (Day & Underwood, 1986). Karena harga E iodium berada pada daerah pertengahan maka sistem iodium dapat digunakan untuk oksidator maupun reduktor. I2 adalah oksidator lemah sedangkan

iodida secara relatif merupakan reduktor lemah. Jika Eo tidak bergantung pada pH (pH < 8.0) maka persamaan reaksinya I2 (s) + 2e- ? 2I- Eo= 0.535 V I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara relatif merupakan reduktor lemah. Kelarutannya cukup baik dalam air dengan pembentukan triodida [KI3]. I2 (s) + 2e- ? 2I- Eo= 6.21 V Dengan demikian iodium Eo= + 0.535 V merupakan pereaksi yang lebih baik daripada ion Cu(II). Akan tetapi bila ion iodida ditambahkan pada suatu larutan Cu(II), maka suatu endapan CuI terbentuk Iodium dapat dimurnikan dengan sublimasi. Ia larut dalam larutan KI dan harus disimpan pada tempat yang dingin dan gelap. Berkurangnya iodium dan akibat penguapan dan oksidasi udara menyebabkan banyak kesalahan dalam analisis. Dapat distandarisasi dengan Na2S2O3.5H2O yang lebih dahulu distandarisasi dengan K2Cr2O7. Reaksi : Cr2O72- + 14H+ + 6I- ? 3I2 +2Cr3+ + 7H2O Biasanya indikator yang digunakan adalah kanji/amilum. Iodida pada konsentrasi < 10 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi (Khopkar, 2002). Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberikan warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut seperti karbon tetraklorida atau kloroform dan kadangkadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam dari pada dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida (Day & Underwood, 1981).
-5

Jika larutan iodium dalam KI pada suasana netral maupun asam dititrasi dengan natrium thiosulfat maka: I3- + 2S2O32- ? 3I- + S4O62Selama reaksi zat antara S2O32- yang tidak berwarna adalah terbentuk sebagai S2O32- + I3- ? S2O3I- + 2IYang mana berjalan terus menjadi: S2O3I- + S2O32-? S4O62- +I3Jika suatu zat pengoksid kuat diolah dalam larutan netral atau (lebih biasa) larutan asam, dengan ion iodida yang sangat berlebih, yang terakhir bereaksi sebagai zat prereduksi, dan oksidan akan direduksi secara kuantitatif. Dalam hal-hal yang demikian, sejumlah iod yang ekivalen akan dibebaskan, lalu dititrasi dengan larutan standar suatu zat pereduksi, biasanya natrium thiosulfat (Bassett, 1994). Dua sumber sesatan yang penting dalam titrasi yang melibatkan iod adalah: 1. Kehilangan iod yang disebabkan oleh sifat mudah menguapnya yang

cukup berarti, dan 2. Larutan iodida yang asam dioksidasi oleh oksigen di udara:

4I- + O2 + 4H+ ? 2I2 + 2H2O

Hasil VS Pustaka Perbandingan data hasil praktikum dengan literatur : Hasil Analisis Praktikum 0,001265% 0,002 61,95% 0,28 & 50,28%0,479

Kelompok

Bahan Sampel

Persyaratan Farmakope

Tembaga II Sulfat

56%

Metampiron

79,39% -79,61%

Vitamin C

90% - 110% Dari kadar yang tertera dalam kemasan

122,5% 1,271

(Anonim.1995) Pada praktukum kali ini kelompok kami melakukan percobaan penentuan kadar vitamin C dengan menggunakan Metode Yodimetri. Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan didapatkan hasil bahwa kadar vitamin C yang kami uji memiliki kadar 122,5% 1,271. Hasil tersebut sangat berbeda jauh dari kadar yang tertera di label kemasan. Berdasarkan pernyataan Day & Underwood dalam bukunya Analisis Kimia Kuantitatif disebutkan bahwa untuk penentuan kadar senyawa vitamin C (C6H8C6) metode yang baik digunakan adalah metode Yodometri, jadi apabila penentuan kadar Vitamin C dianalisis menggunakan metode Yodimetri maka hasilnya akan kurang akurat. Oleh karena itu, nilai kadar vitamin C yang kami dapat dari hasil percobaan tidak sesuai dengan kadar yang tertera dalam label kamasan.

Kadar Tembaga II Sulfat, Vitamin C , Metampiron yang di dapat dari hasil praktikum tidak memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia. Ada beberapa faktorfaktor kesalahan yang menyebabkan tidak akuratnya hasil titrasi yang didapat antara lain sebagai berikut. 1. Tidak tepatnya metode titrasi yang digunakan. 2. Penggunaan skala buret yang tidak tepat 3. Kurang tepatnya pada saat pembuatan larutan Yodium, seperti pada saat penimbangan. 4.Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indicator 5. Kurang telitinya dalam melakukan proses titrasi.

Iodium hanya sedikit larut dalam air (0,00134 mol per liter pada

25 0C), tetapi

agak larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Larutan iodium standar dapat dibuat dengan menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam botol volumetrik. Iodium, dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada suatu larutan KI pekat, yang ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah penembahan iodium. Akan tetapi biasanya larutan distandarisasikan terhadap suatu standar primer, As2O3 yang paling biasa digunakan. (Underwood, 1986). Larutan standar yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium tiosulfat. Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi terhadap standar primer. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar primer untuk larutan natrium tiosulfat. Iodium murni merupakan standar yang paling nyata, tetapi jarang digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan penimbangan. Lebih sering digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan iodium dari iodida, suatu proses iodometrik (Underwood, 1986). Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung

(kadang-kadang dinamakan iodometri), adlaah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Potensial reduksi normal dari sistem reversibel: I2(solid) 2e 2I-

adalah 0,5345 volt. Persamaan di atas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan adanya iod padat; reaksi sel setengah ini akan terjadi, misalnya, menjelang akhir titrasi iodida dengan suatu zat pengoksid seperti kalium permanganat, ketika konsentrasi ion iodida menjadi relatif rendah. Dekat permulaan, atau dalam kebanyakan titrasi iodometri, bila ion iodida terdapat dengan berlebih, terbentuklah ion tri-iodida: I2(aq) + I- I3Karena iod mudah larut dalam larutan iodida. Reaksi sel setengah itu lebih baik ditulis sebagai: I3- + 2e 3Itri-

Dan potensial reduksi standarnya adalah 0,5355 volt. Maka, iod atau ion

iodida merupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang kalium permanganat, kalium dikromat, dan serium(IV) sulfat (Bassett, J. dkk., 1994). Dalam menggunakan metode iodometrik kita menggunakan indikator kanji dimana warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intens untuk zat-zat pelarut seperti karbon tetra korida dan kloroform. Namun demikan larutan dari kanji lebih umum dipergunakan, karena warna biru gelap dari kompleks iodinkanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitiv untuk iodin (Underwood, 2002). Reaksi antara as.askorbat dgn iodium dmana as.askorbat dioksidasi menjd as.dehidroaskorbat dan iodium direduksi menjd iodida

Penjelasan cara kerja dan fungsi perlakuan

Timbang seksama kurang lbh 100 mg sampel dilarutkn dl 50 ml air.Tambah 10 ml HCl 0.1N.Segera titrasi dgn I2 0.1 N dgn indikator kanji dgn sekali-kali dkocok hingga terjd warna biru mantap selama 2 mnt. Asam askorbat adalah oksidator lemah yg jk dreduksi dgn iodida berjalan lambat,mk agar reaksi berjalan sempurna dpt dtepuh dgn bbrapa cara yaitu memperbesar konsentrasi ion iodida atau memperbesar konsentrasi hidrogen.Penambahan HCl dsini utk memberikan suasana asam sehingga konsentrasi hidrogen bertambah besar..Penggunaan indikator kanji utk mendeteksi kelebihan iodium pd saat titrasi yg dtunjukkn dgn perubahan warna larutan menjd biru tua selama 1-2 mnt.Pengocokan bertujuan utk mempercepat bercampurnya antara titran,titrat dan indikator. PEMERIAN

Metampiron

: Metampiron mengandung tidak kurang dari 99.0% dan

tidak lebih dari 101% C13H16N3NaO4S. Serbuk Hablur ; putih atau putih kekuningan Natrium Tiosulfat : Natrium Tiosulfat mengandung tidak kurang dari 99% Na2S2O3 dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian berupa hablur besar tidak berwarna atau serbuk hablur kasar. Dalam udara lembab meleleh basah; dalam hampa udara pada suhu dia atas 33o merapuh. Sangat mudah larut dalam air dan praktis tidak larut dalam etanol 95%. Kalium Iodida : Kalium Iodida mengandung tidak kurang dari 99% dan

tidak lebih dari 101,5% KI dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian berupa hablur heksahedral; transparan atau tidak berwarna , opak dan putih atau serbuk butiran putih dan higroskopik. Sangat mudah larut dalam air , larut dalam etanol dan mudah larut dalam gliserol. Iodium : Iodium mengandung tidak kurang dari 99,5% I.

Pemerian berupa keping atau butir , berat , mengkilat , seperti logam ; hitam kelabu ; bau khas. Sangat sukar larut dalam air , larut dalam etanol dan gliserol dan mudah larut dalam karbonsulfida. Larut dalam kloroform dan tetraklorida. Natrium Hidroksida : Natrium hidroksida mengandung tidak kurang dari 97,5% alkali dihitung dari jumlah sebagai NaOH , dan tidak lebih dari 2,5% Na2CO3. Pemerian berupa bentuk batang , butiran , massa hablur atau keping , kering , keras ,

rapuh , dan menunjukkan susunan hablur ; putih , mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap karbondioksida. Sangat mudah larut dalam air dan etanol Vitamin C : Asam askorat mengandung tidak lebih dari 99% .

Pemerian berupa serbuk atau hablur ; putih atau agak kuning ; tidak berbau ; rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lamabat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering , mantap di udara , dalam larutan cepat teroksidasi. Mudah larut dalam air , agak sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam kloroform , eter , dan benzen. Kloroform : Kloroform adalah triklometana , mengandung etanol 1

% v/v sampai 2% v/v sebagai zat penstabil. Pemerian berupa cairan , mudah menguap ; tidak berwarna ; bau khas ; rasa manis dan membakar. Sukar larut dalam air ; mudah larut dalam etanol , eter , dan sebagian besar pelarut organik , mudah larut dalam minyak astiri dan minyak lemak. Asam Sulfat Encer : Asam sulfat encer mengandung tidak kurang dari

9,5% dan tidak lebih dari 10,5% H2SO4 Asam Klorida : Asam klorida mengandung tidak kurang dari

35% dan tidak lebih dari 38% HCl. Pemerian berupa cairan , tidak berwarna , berasap , bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air , asap dan bau hilang. Larutan yang sangat encer masih bereaksi asam kuat terhadap kertas lakmus p. Tembaga Sulfat : Pemerian berupa prisma tri klinik , serbuk

hablur , biru .Mudah larut dalam air dan gliserol dan sangat sukar larut dalam etanol

Kesimpulan 1. 2. 3. 4. 5. Pembakuan natrium tiosulfat didapat rata rata normailitas natirum tio sulfat setelah dilakukan replikasi 3 kali adalah 0,00942 N Perhitungan rata-rata kadar CuSO4 setelah dilakukan replikasi 2 kali adalah 0,001265 0,02 Perhitungan rata-rata kadar Asam Askorbat atau Vitamin C setelah dilakukan replikasi 3 kali adalah 122,5% 1,271 Perhitungan rata-rata kadar metampiron kelompok 3 setelah dilakukan replikasi 3 kali adalah 50,28 0,479 Perhitungan rata-rata kadar metampiron kelompok 4 setelaah dilakukan replikasi 3 kali adalah 61,95 % 0,28

Daftar Pustaka

Khopkar, S. M., (2003), Konsep Dasar Kimia Analitik, Penerbit. Universitas Indonesia, Jakarta Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI. Jakarta. Underwood, A.L dan Day A.R. 1986. Analisa Kimia Kuantitatif edisi ke empat. Erlangga, Jakarta. Basset,J . 1994 . buku aaran vogel kimia analisis kuantitatif anorganik edisi keempat. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta Anonim . 1995 . Farmakope Indonesia Edisi IV . Departemen Kesehatan Republik Indonesia . jakarta