Anda di halaman 1dari 14

Asuhan Keperawatan dengan Stroke Hemoragik A.

Definisi Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak. (Brunner & Sudarth, 2002). Stroke/penyakit serebrovaskuler menunjukan adanya beberapa kelainan otak baik secara fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis dari pembuluh darah serebral atau dari seluruh sistem pembuluh darah otak. (Marilyn E. Doenges). Stroke Hemoragik (SH) adalah Stroke yang terjadi karena perdarahan Sub arachnoid, mungkin disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah tertentu, biasanya terjadi saat pasien melakukan aktivitas atau saat aktif. Namun bisa juga terjadi saat istirahat, kesadaran pasien umumnya menurun. Stroke Hemoragik adalah disfungsi neurologis fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena, dan kapiler (Djoenaidi Widjaja et.al, 1994). Perdarahan otak dibagi dua, yaitu : a. Perdarahan Intraserebri (PIS) Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk kedalam jaringan otak dan menimbulkan edema otak, membentuk massa yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebri yang disebabkan hipertensi sering dijumpai di daerah putamen, talamus, pons, dan serebellum. b. Perdarahan Subarakhnoid (PSA) Perdarahan subarakhnoid adalah suatu keadaan dimana terjadi perdarahan di ruang subarakhnoid yang timbul secara primer.

B. Etiologi dan Faktor Resiko Etiologi a. Trombosis adalah bekuan darah dalam pembuluh darah otak atau leher: Arteriosklerosis serebral. b. Embolisme serebral adalah bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain: endokarditis, penyakit jantung reumatik, infeksi polmonal. c. Iskemia adalah penurunan aliran darah ke area otak: Kontriksi ateroma pada arteri. d. Hemoragi Serebral adalah Pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang sekitar otak Faktor resiko pada stroke 1. Tidak dapat dirubah (Non Reversible) a. Jenis kelamin : Pria lebih sering ditemukan menderita stroke dibanding wanita. b. Usia : Makin tinggi usia makin tinggi pula resiko terkena stroke. c. Keturunan : Adanya riwayat keluarga yang terkena stroke 2. Dapat dirubah (Reversible) a. b. c. d. e. f. g. Hipertensi Penyakit jantung Kolesterol Tinggi Obesitas Diabetes Melitus Polisitemia Stress Emosional

3. Kebiasaan Hidup a. b. c. d. Merokok Peminum Alkohol Obat-obatan terlarang. Aktivitas yang tidak sehat: Kurang olahraga, makanan berkolesterol

C. Patofisiologi Perdarahan intrakranial meliputi perdarahan di parenkim otak dan perdarahan subarachnoid. Insidens perdarahan intrakranial kurang lebih 20 % adalah stroke hemoragik, dimana masing-masing 10% adalah perdarahan subarachnoid dan perdarahan intraserebral (Caplan, 2000). Perdarahan intraserebral biasanya timbul karena pecahnya

mikroaneurisma (Berry aneurysm) akibat hipertensi maligna. Hal ini paling sering terjadi di daerah subkortikal, serebelum, dan batang otak. Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola berdiameter 100 400 mikrometer mengalami perubahan patologi pada dinding pembuluh darah tersebut berupa lipohialinosis, nekrosis fibrinoid serta timbulnya aneurisma tipe Bouchard. Pada kebanyakan pasien, peningkatan tekanan darah yang tiba-tiba menyebabkan rupturnya penetrating arteri yang kecil. Keluarnya darah dari pembuluh darah kecil membuat efek penekanan pada arteriole dan pembuluh kapiler yang akhirnya membuat pembuluh ini pecah juga. Hal ini mengakibatkan volume perdarahan semakin besar (Caplan, 2000). Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena darah dan sekitarnya lebih tertekan lagi. Gejala neurologik timbul karena ekstravasasi darah ke jaringan otak yang menyebabkan nekrosis (Caplan, 2000). Perdarahan subarachnoid (PSA) terjadi akibat pembuluh darah disekitar permukaan otak pecah, sehingga terjadi ekstravasasi darah ke ruang subarachnoid. Perdarahan subarachnoid umumnya disebabkan oleh rupturnya aneurisma sakular atau perdarahan dari malformation (AVM). D. Manifestasi klinik Pada strok hemoragik (iskemik), gejala utamanya adalah timbulnya deficit neurologis secara mendadak atau subakut, didahului gejala prodormal, terjadi pada waktu istirahat atau bangun pagi dan kesadaran arteriovenous

biasanya tak menurun, kecuali bila embolus cukup besar. Biasanya terjadi pada usia 50 tahun. Menurut WHO, dalam Internasional Statistical Classification of Diseases and Related Health Problem10thRevision, strok hemoragik dibagi atas : 1. Perdarahan intraserebral (PIS) 2. Perdarahan subaraknoid (PSA) Strok akibat PIS mempunyai gejala prodormal yang tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi. Serangan seringkali siang hari, saat aktivitas, atau emosi/marah. Sifat nyeri kepala sangat hebat. Mual muntah sering terdapat pada permulaan serangan. Hemiparesis/hemiplagi biasa terjadi sejak permulaan serangan. Kesadaran biasanya menurun dan cepat masuk koma (65% terjadi kurang dari setengah jam, 23 % antara - 2 jam, dan 12 % terjadi setelah 2 jam, sampai 19 hari). Pada pasien dengan PSA didapatkan gejala prodormal berupa nyeri kepala hebat dan akut. Kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi. Ada gejala/tanda rangsangan meningeal. Edema papil dapat terjadi bila ada perdarahan subhialoid. Perdarahan subarachnoid umumnya disebabkan oleh rupturnya aneurisma sakular atau perdarahan dari malformation (AVM). E. Penatalaksanaan medis Pemeriksaan Diagnostik Angiografi Serebral : Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri, adanya titik oklusi/ ruptur. Scan CT : Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemik, dan adanya infark. Fungsi Lumbal : Menunjukan adanya tekanan normal dan biasanya ada trombosis, emboli serabral dan TIA, sedangkan tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menujukan adanya hemoragi suaraknoid arteriovenous

intrakranial. Kadar protein meningkat pada kasus trombosis sehubungan dengan adanya proses imflamasi. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik, malformasi arteriovena (MAV) EEG : Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin adanya daerah lesi yang spesifik. Sinar X tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang meluas; kalsifikasi karotis interna terdapat pada trombosis serebral. Ultrasonografi Doppler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah sistem arteri karotis), aliran darah / muncul plak (arteriosklerotik) F. Asuhan keperawatan Stroke Pengkajian 1. Aktivitas dan istirahat

Data Subyektif: a. Kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis. b. Mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) Data obyektif: a. Perubahan tingkat kesadaran b. Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis (

hemiplegia ) , kelemahan umum. c. Gangguan penglihatan 2. Sirkulasi

Data Subyektif: a. Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia. Data obyektif: a. Hipertensi arterial b. Disritmia, perubahan EKG c. Pulsasi : kemungkinan bervariasi d. Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal

3. Integritas ego Data Subyektif: a. Perasaan tidak berdaya, hilang harapan Data obyektif: a. Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesedihan , kegembiraan b. Kesulitan berekspresi diri 4. Eliminasi Data Subyektif: a. Inkontinensia, anuria b. Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus ( ileus paralitik ) 5. Makan/ minum Data Subyektif: a. Nafsu makan hilang b. Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK c. Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia d. Riwayat DM, peningkatan lemak dalam darah Data obyektif: a. Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring ) b. Obesitas ( faktor resiko ) 6. Sensori neural Data Subyektif: a. Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) b. Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. c. Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati d. Penglihatan berkurang e. Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama )

f. Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Data obyektif: a. Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif b. Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak seimbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) c. Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral ) d. Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata-kata, reseptif / kesulitan berkata-kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya. e. Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil f. Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik g. Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral 7. Nyeri / kenyamanan Data Subyektif: - Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Data Obyektif: - Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial 8. Respirasi Data Subyektif: - Perokok ( faktor resiko ) Tanda: a. Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas b. Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur c. Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi 9.Keamanan Data Obyektif: a. Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan

b. Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit c. Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali d. Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh e. Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap

keamanan, berkurang kesadaran diri 10. Interaksi sosial Data Obyektif: - Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi 11. Pengajaran / pembelajaran Data Subjektif : a. Riwayat hipertensi keluarga, stroke b. Penggunaan kontrasepsi oral 12. Pertimbangan rencana pulang a. Menentukan regimen medikasi / penanganan terapi b. Bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan , perawatan diri dan pekerjaan rumah (DoengesE, Marilynn,2000 hal 292) G. Diagnosa keperawatan Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral Imobilisasi berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler: kelemahan, parestesia, paralisis hipotonik. Ketidakmampuan dalam memenuhi kebuuhan nutrisi (pemenuhan intake) berhubungan dengan gangguan menelan.

H. Rencana asuhan keperawatan

Rencana tindakan untuk masing-masing diagnosa keperawatan Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi hasil MANDIRI jaringan kembali Tentukan faktor-faktor yang

Perubahan perfusi Tujuan: jaringan serebral b.d aliran terputusnya darah : Perfusi serebral normal Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran membaik Tanda-tanda vital normal Tidak peningkatan tekanan intrakranial terjadi

berhubungan dengan penurunan perfusi serebral dan potensial terjadinya intracranial Pantau status neurologis sesering mungkin dan bandingkan dengan keadaan standar Pantau tekanan darah, peningkatan

penyakit oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral,

edema serebral

bandingkan tekanan darah yang terbaca pada kedua lengan Pantau jantung, murmur Catat pola dan irama dari frekuensi dan irama adanya

auskultasi

pernapasan Evaluasi pupil. Catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksinya terhadap cahaya Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan dan dalam posisi anatomis Pertahankan tirah baring,

ciptakan lingkungan yang tenang, batasi kunjungan. Berikan

istirahat periodic antara aktivitas

dan perawatan. Cegah terjadinya mengejan saat defekasi dan pernapasan yang memaksa (batuk terus menerus) Kaji kedutan, kegelisahan yang meningkat, peka rangsang dan serangan kejang KOLABORASI Berikan oksigen sesuai indikasi Berikan obat sesuai indikasi

seperti: antikoagulan, vasodilator dan pelunak feses Imobilisasi berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler: kelemahan, parestesia, paralisis hipotonik. Meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena Mendemonstrasikan perilaku meungkinkan melakukan aktivitas yang Masalah teratasi Kriteria hasil: mobilisasi Kaji kemampuan luasnya secara kerusakan cara yang fungsional/ awal teratur. skala 0-4 Ubah posisi minimal setiap 2 jam dan jika memugkinkan bisa lebih sering bila diletakkan dan posisi bagian yang terganggu Melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua Tujuan: MANDIRI

dan dengan

Klasifikasikan

melalui

ekstremitas. Anjurkan melakukan latihan seperti latihan

quadrisep/gluteal, meremas bola karet, melebarkan jari-jari dan kaki/telapak Sokong ekstremitas dalam posisi

fungsionalnya, kaki selama

gunakan periode

papan flaksid.

Pertahankan posisi kepala netral Gunakan penyangga lengan ketika pasien pada posisi tegak Evaluasi pengguanaan kebutuhan alat bantu untuk pengaturan posisi dan pembalut selama periode paralisis spastic Tempatkan bantal di bawah aksila untuk melakukan abduksi tangan Tinggikan kepala dan tangan Tempatkan handroll keras pada telapak tangan dengan jari-jari dan ibu jari saling berhadapan Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi Pertahankan kaki pada posisi netral dengan gulungan trokanter Bantu untuk keseimbangan duduk Inspeksi kulit, terutama yang pada

daerah-daerah secara teratur

menonjol

Bangunkan dari kursi sesegera mungkin setelah tanda-tanda vital stabil Susun tujuan dengan pasien/orang terdekat dalam untuk berpartisipasi dan

aktivitas/latihan

mengubah posisi Menganjurkan pasien untuk

membantu pergerakan dan laithan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit untuk

menggerakkan daerah tubuh yang mengalami kelemahan KOLABORASI Konsultasikan dengan ahli

fisioterapi secara aktif, latihan resesif dan ambulasi pasien Bantulah dengan stimulasi

elektrik, seperti TENS sesuai indikasi Ketidakmampuan dalam memenuhi kebuuhan nutrisi (pemenuhan intake) berhubungan dengan gangguan menelan. Terjadi kenaikan BB maksimal 3 Kg dalam 2 bulan sampai mencapai BB ideal Klien mampu Nutrisi tubuh Tinjau ulang patologi/kemampuan menelan pasien secara individual, gangguan lidah, Kriteria hasil: Timbang berat badan secara seimbang (IMT ideal) Tujuan: MANDIRI

teratur sesuai kebutuhan Tingkatkan upaya untuk dapat melakukan proses menelan yang efektif, seperti : Bantu pasien dengan

mengontrol kepala - letakan pasien pada posisi duduk/tegak selama dan setelah makan - stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara

mempertahankan kenaikan BB ke arah ideal setelah perawatan di RS

manual - letakan makanan pada daerah

mulut yang tidak terganggu. Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan Kolaborasi Berikan cairan melalui IV

dan/atau makanan melalui selang

Daftar Pustaka
ocw.usu.ac.id/course/...brain.../bms166_slide_stroke_hemoragik.pdf Israr, yayan. 2008. Stroke. Faculty of Medicine University of Riau. Muttaqin, Arif. 2008. Buku ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika. Marilynn E, Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC http://nursingbegin.com/askep-stroke-hemorrhagic/