Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Hidup seperti roda yang sedang berputar, melalui pertumbuhan dan perkembangan dalam suatu proses perjalanan hidup itu sendiri. Begitu pula dengan manusia hidup melalui suatu proses kehidupan mulai dari lahir sampai menua dimana pada tahap lanjut usia ini sering menjadi suatu masalah yang berujung pada kematian. Saat ini masalah usia lanjut (usila) mulai mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Hal ini merupakan konsekwensi logis berhasilnya pembangunan,yaitu dengan rendahnya angka kematian usila di indonesia. Menurut laporan data pendududk internasional yang dikeluarkan oleh Bureau of The Centus USA (1993) dilaporkan bahwa indonesia pada tahun 1990 sampai 2025 akan mempuyai kenaikan jumlah usia lanjut sebesar 414%, suatu angka paling tinggi diseluruh dunia. Sebagai perbandingan Kenya 347%, Brasil 225%, India 242%, Cina 220% dan jepang 129%. Pada tahun 2000, 2 diantara 3 usila di seluruh dunia yang berjumlah 600 juta, akan hidup dan bertempat tinggal di negara-negara berkembang. Sebelumnya angka ini pada tahun 1960 adalah 50% kenaikkan jumlah sebanyak ini terutama yang terjadi di Asia. Pertambahan penduduk usia lanjut di Indonesia dan Brasil diproyeksikan naik masing-masing melebihi 20 juta orang, sedangkan kira-kira setengah dari jumlah tersebut terjadi di Meksiko, Nigeria dan Pakistan. Indonesia diharapkan beranjak dari urutan ke-10 pada tahun 1980 menjadi urutan ke-5 atau ke-6 pada tahun 2020 sebagai negara yang banyak populasi usilanya (WHO,1989). Bahkan dengan terpecahnya USSR, Indonesia akan menduduki urutan ke-4 atau ke-5. Golongan usila menggunakan dana perawatan kesehatan lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang muda sehingga mengakibatkan kenaikan biaya perawatan kesehatan di rumah sakit ataupun di panti-panti rawat usila bagi yang mengidap penyakit kronik.

Disinilah, kita sebagai perawat mempunyai peranan penting untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan dan mengajarkan kegiatan yang bisa dilakukan oleh lansia itu sendiri. B. TUJUAN PENULISAN 1. Mengetahui perubahan-perubahan fisiologis yang Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu: terjadi pada lansia khususnya pada sistem persepsi sensori (penglihatan, pendengaran, pengecapan, penghiduan dan perabaan) 2. 3. Mengetahui Dapat dampak dari dan penyakit-penyakit asuhan khususnya pada sistem persepsi sensori akibat proses penuaan mengetahui menerapkan keperawatan pada lanjut usia yang mengalami perubahan-perubahan fisiologis pada sistem sensori 4. Gerontik C. METODE PENULISAN 1. Study kepustakaan, yaitu dengan mempelajari Adapun metode penulisan makalah ini dengan: berbagai literatur yang memuat tentang perubahan fisiologis sistem persepsi sensori pada lansia, dampak dan penyakit akibat proses penuaan serta asuhan keperawatannya 2. D. Diskusi kelompok SISTEMATIKA PENULISAN Dalam penyusunan makalah ini diawali dengan Kata Pengantar dan Daftar Isi. Bab I Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan. Bab II Tinjauan Teoritis meliputi: Perubahan Fisiologis Sistem Persepsi Sensori, Dampak dan Penyakit yang Ditimbulkan Akibat Proses Penuaan dan Asuhan Keperawatannya serta diakhiri dengan Daftar Pustaka. Memenuhi tugas mata ajar DKA 308 Keperawatan

BAB II TINJAUAN TEORITIS Proses penuaan pada persepsi sensori terdiri dari 5 panca indera, yaitu: 1) Penglihatan 2) Pendengaran 3) Pengecapan dan penghiduan 4) Perabaan. I. Perubahan fisiologis akibat proses penuaan pada persepsi sensori A. Penglihatan Dengan bertambahnya usia, banyak struktur dan fungsi yang mengalami perubahan salah satunya pada mata.Kelopak mata menjadi kurang elastis, bulu mata cenderung menjadi pendek dan jarang, sekitar kornea menjadi keabuabuan, kornea tampak kekuning-kuningan, konjungtiva tampak mengecil dan kekuning-kuningan dan juga membran ini bisa menjadi kering karena berkurangnya produksi air mata. Ukuran bola mata dan pupil semakin mengecil dan kehilangan kemampuan untuk berkontraksi.Ukuran pupil mengecil dan membatasi cahaya masuk kedalam mata, iris juga mengecil, lensa mata menjadi kaku dan padat sehingga mempengaruhi kemampuan mata untuk memfokuskan cahaya. B. Pendengaran Organ pendengaran dan keseimbangan dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu: telinga eksternal, bagian tengah telinga dan bagian dalam telinga. Bagian luar dan tengah telinga meliputi pendengaran, bagian dalam telinga meliputi tak hanya pendengaran tapi juga keseimbangan. Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan kanal pendengaran eksterna, suara yang masuk berasal dari luar masuk menuju gendang telinga.

Perubahan usia dalam bagian luar telinga dapat dilihat dari gendang telinga dimana terlihat lebih besar karena terjadi pembentukan cartilago masih terus ada/ terjadi dan terjadi kehilangan elasitas kulit.Lobus atau bagian dari daun telinga menjadi panjang dengan kerutan. Disekeliling atau batas luar daun telinga ditutupi seperti kawat rambut yang kasar. Pria mempunyai ukuran tragi yang besar disamping kanal luar. Tragi ini menjadi besar dan kasar. Kanal pendengaran sempit dan hasil dari suara menjadi gagal. Rambut halus yang berada didalam kanal menjadi kasar dan kaku. Penambahan serumen membuat kelenjar menjadi atropi dikarenakan serumen yang banyak itu menjadi kering. Dalam telinga bagian tengah, perubahan usia mempengaruhi membran timpani sehingga daya pendengaran semakin berkurang, tertarik masuk, terdapat warna abu-abu dalam membran timpani. Degenerasi dari ossicular joints dalam telinga tengah selalu ada. Akhirnya, hasil dari perubahan telinga dalam mengalami penurunan daya sensitivitas divestibular. Kehilangan pendengaran merupakan bukan bagian yang tidak normal dari proses penuaan dan harus dievaluasi. C. Pengecapan dan Penghiduan Pengecapan dan penghiduan kerjanya tertutup dengan yang lainnya, karena mereka memiliki anatomy tersendiri.Indera penghiduan terjadi respon bau yang masuk ke nervus olfaktori, yang terletak di bagian superior lubang nasal. Pengecapan merupakan fungsi kecap yang berada di mulut tetapi bersatu dengan indera penghiduan yang berkontribusi kuat pada persepsi pengecapan. Pengecapan rasa dibagi menjadi 4 tipe yaitu: asam, asin, manis dan pahit. Sensitivitas untuk substansi pahit paling tinggi, sensitivitas asin dan manis paling sedikit. Pengecapan asin dan manis terletak di ujung lidah, asam di tengah, dan pahit terletak di lidah bagian belakang. Perubahan umur pada indera penghiduan dan pengecapan berhubungan dengan perubahan di mukosa mulut, lidah dan patofisiologi di lubang hidung. Perubahan penghiduan terjadi di olfaktori dan gustatory karena kemunduran otak. Kemunduran itu terjadi di sel basal karena tidak dilanjutkan ke syaraf olfaktory yang merupakan proses terjadinya penghiduan. Selanjutnya, reseptor

olfaktory pada palatum mengalami kemunduran, mengakibatkan nervus olfaktory mengalami penurunan sensitivitas. Perubahan pada syaraf kranial, efek pada lansia : 1. 2. Olfaktory, terjadi penurunan pada jumlah reseptor sensori Efek: menurunnya sensitivitas terhadap bau atau penciuman aroma Facial, terjadi penurunan syaraf sensori motorik. Efek: 3. Kehilangan sensasi cita rasa Penurunan ekspresi wajah Penurunan salivasi dan menggigit makanan

Glosofaringeal, terjadi penurunan jumlah reseptor perasa, meningkatnya ambang reseptor stimulus terhadap rasa dan syaraf pergerakan melambat. Efek: Gangguan kemampuan membedakan rasa Gangguan reflek lambat Sulit bertutur atau mengeja kata dan sulit menelan

D.

Perabaan Perubahan kepekaan perabaan sering bersamaan dengan proses penuaan,

namun derajat perubahannnya yang bervariasi. Biasanya perubahan sering terjadi pada kulit di telapak tangan dan kaki namun jarang terjadi pada kulit yang berambut. Ini mungkin disebabkan oleh degenerasi pada corpusle neirsuner yaitu sejenis ujung syaraf berkapsul yang berukuran kecil, yang ditemukan pada kulit telapak tangan dan kaki. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan orang tua terhadap rangsangan lokal dan juga dapat menurunkan kecepatan dalam bereaksi terhadap rangsangan yang datang. Perubahan ini dapat membuat orang lanjut usia mengalami injuri karena rangsangan yang datang tidak dapat segera dimengerti sebagai rangsangan. Macam perubahan pada indera perabaan, yaitu : 1. 2. 3. 4. Perubahan kepekaan pada sentuhan Perubahan kepekaan pada rangsang panas(thermal) Perubahan kepekaan pada rangsang nyeri Perubahan kepekaan pada rangsang getar

5.

Perubahan kemampuan seseorang untuk mengenal benda dengan menyentuh atau menggenggamnya (stereognosis).

II. Dampak Dan Penyakit Yang Timbul Pada Proses Penuaan A. 1. Penglihatan Kekeringan pada mata Kekeringan pada mata karena berkurangnya kualitas dan kuantitas produksi air mata sesuai dengan bertanbahnya usia. Gejalanya antara lain: pedih, perih dan gatal. 2. Presbiopia Presbiopia adalah masalah yang sering terjadi diatas umur 40 th. Presbiopia adalah masalah yang menyangkut ketidakmampuan untuk memfokuskan penglihatan yang jelas pada benda-benda yang dekat. Penyesuaian penglihatan terganggu karena lensa mata menyempit dan kehilangan elastisitas. Otot-otot cyiliari melemahkan lensa mata sehingga kemampuannya untuk berkontraksi menjadi terganggu. 3. Glaukoma Glaukoma adalah salah satu penyebab terbesar yang mengakibatkan kebutaan pada lansia. Glaukoma disebabkan karena penyumbatan kelenjar dan proses pengeringan aquous humor yang terletak pada bagian depan bola mata. Biasanya cairan aquous humor mengering sehingga menyebabkan sirkulasi ke mata menjadi terganggu. 4. Katarak Yaitu kekeruhan pada lensa mata, merupakan penyebab pentig melemahnya kemampuan melihat pada lanjut usia dan penyebab kebutaan di dunia. Katarak terjadi secara alami, tanpa rasa sakit. 5. Detached retina Suatu keadaan yang dialami oleh lanjut usia dimana retina berpindah dari posisi yang normal.Gejalanya: melihat bayangan lebih kecil. 6. Diabetik retinopati

Hanya terjadi pada lanjut usia yang menderita diabetes melitus dan menyebabkan terjadinya komplikasi. Pembuluh darah kecil ke retina menjadi bocor atau mudah ruptur sehingga menimbulkan perdarahan.

7.

Diplopia Yaitu penglihatan yang ganda, tidak normal dan indikasi dari gangguan sistem syaraf.

B. 1.

Pendengaran Tinnitus Tinnitus adalah kombinasi dari masalah yang konduktif pendengaran dan kehilangan sensori untuk mendengar. Dimana terjadi kehilangan sensasi saat mendengar suara bising dan teriakan. Setiap individu pada setiap umur dapat menunjukkan tanda-tanda tinnitus tetapi meningkat usia lanjut. Nervus Cochler mempunyai sel-sel reseptor rambut saat suara masuk. Penyebab tersering dari tinnitus adalah suara-suara yang berisik atau rusaknya sel-sel reseptor rambut pada nervus cochler dan terjadi perubahan organ pendengaran dan keseimbangan karena proses penuaan.

2.

Kehilangan pendengaran Kehilangan pendengaran bukan merupakan bagian yang normal dari proses penuaan dan seharusnya lebih lanjut dievaluasi untuk pengobatan yang tepat. Kehilangan pendengaran konduktif hasil dari gangguan dari trasmisi suara melalui kanal pendengaran eksternal dan telinga bagian tengah. Kondisi dimana terjadi kehilangan pendengaran konduktif karena serumen yang tersumbat, OMA dan otosclorosif (fiksasi tulang pendengaran). Kehilangan syaraf sensori pendengaran hasil dari kerusakan labirin telinga, syaraf pendengaran atau otak sehingga gelombang suara tidak diterjemahkan dengan benar.

3.

Presbycusis Kehilangan syaraf sensori pendengaran, khasnya kehilangan pendengaran secara bilateral, menghasilkan masalah pendengaran dengan nada-nada nyaring. Penyebab presbycusis belum diketahui secara pasti. Namun

penyebab lainnya yaitu: infeksi, injuri kepala, stroke, diabetes, penyakit jantung, faktor herediter dan bunyi yang berisik yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Gejala yang dialami oleh penderita yaitu: Kepala miring kearah orang yang bicara Melengkungkan tangan ke belakang telinga supaya dapat mendengar lebih jelas C. 1. Bicara dengan keras Memperhatikan ucapan atau bibir pembicara Tidak merespon ketika berbicara

Pengecapan Dan Penghiduan Pengecapan: Xerostomia Xerostomia adalah salah satu kondisi umum yang mempengaruhi pengecapan meliputi penurunan produksi saliva akibat mukus yang padat dan mulut yang kering. Penurunan produksi saliva ini karena perubahan di mulut dan orofaring yang bercampur dengan makanan yang menimbulkan masalah napsu makan dan nutrisi pada usia lanjut. Faktor penyebab penurunan aliran saliva meliputi penyakit umum seperti: DM, Nefritis dan Anemia pernicious dan terjadi pada kondisi menopause.

2. 3. 4.

Ageusia (hilangnya daya pengecapan) Hipogeusia (Berkurangnya kepekaan pengecapan) Disgeusia (Distorsi daya pengecapan) Penghiduan:

1. 2. 3. D. 1.

Anosmia (hilangnya daya penghiduan) Hiposmia (berkurang daya menghidu) Disosmis (distorsi daya menghidu) Perabaan Terjadi penurunan untuk bereaksi terhadap rangsang panas dan dingin yang mengakibatkan orang lanjut usia tidak mampu mengkoping atau mengatasi diri dengan suhu lingkungan yang ekstrim, khususnya suhu

yang rendah (kenshallo, 1977). Sehingga orang lanjut usia cenderung beresiko mengalami hipotermi (watts, 1971). 2. Perubahan kepekaan pada rangsang nyeri tergantung ketebalan dan elastisitas dari kulit. Penurunan pada rangsang nyeri membuat orang lanjut usia menjadi tidak waspada (Awareness), sehingga jika terjadi gangguan pada jantung atau abdomen tidak bisa didiagnosa dengan akurat karena mereka tidak merasakan nyeri. 3. kehilangan sensasi getar dimulai kira-kira pada usia 50 tahun dan sering kali terjadi pada ekstermitas bawah dari pada ekstermitas atas (Kenshalo, 1977). Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan yang tidak dapat dideteksi pada sirkulasi mikro di tungkai bawah atau pada spinal cord bagian bawah. III. Asuhan Keperawatan Pada Lansia A. 1. Pengkajian Penglihatan Ketajaman penglihatan Adakah penglihatan yang ganda, kabur dan silau jika melihat cahaya yang terang 2. Mata terasa pedih, perih dan gatal, kemerahan pada mata Adakah infeksi pada mata Adakah bayangan penglihatan, melihat bayangan lebih kecil Apakah menderita penyakit DM, gangguan pada syaraf Ada rasa gatal, penuh dan susah mendengar Pada otoskopik menunjukan bagian luar kanal telinga mengalami obstruksi oleh serumen Tidak tampak membran timpani Apakah mempunyai masalah pendengaran, nyeri telinga, infeksi telinga, masalah gigi, bunyi dering di telinga dan ada terasa ada tekanan Kapan terdengar adanya suara mendengung setiap saat

Pendengaran

Apakah suara itu berubah saat latihan, olahraga Apakah suara itu muncul di telinga kanan, kiri atau indra telinga Suara terdengar kadang-kadang atau terus menerus Berapa lama mendengar suara bising di telinga Riwayat keluarga yang mengalami artritis, anemia, diabetes, tekanan darah meningkat, dan kehilangan pendengaran Konsumsi obat aspirin, ibuprofen untuk sakit kepala dan pil diet Bagaimana bunyi suara itu Kapan terjadi serangan Hilang sensasi humor, mudah cemberut, tegang dan suara keras Mengucapkan kembali Apa yang kau katakan? Riwayat perokok, penurunan barat badan dan pemakaian gigi palsu Sensitivitas rasa (asam, asin, manis dan pahit) Respon atau reaksi terhadap makanan dan waktu makan Bibir tampak kemerahan, inflamasi, pecah-pecah, kering, dan kemungkinan adanya perdarahan. Area lidah kemerahan Membran mukosa pada palatum, sekitar mulut dan gusi tampak kering, kemerahan dan edema Berkurangnya produksi saliva.

3.

Pengecapan dan Penghiduan

4.

Perabaan Ada 2 (dua) komponen yang harus diperhatikan dalam memberi asuhan keperawatan yaitu rangsangan sentuhan pada klien dan menggunakan sentuhan sebagai komunikasi. Dengan demikian tujuan harus tercapai dengan mempertimbangkan kemampuan klien pada rangsangan baik sentuhan, temperature, nyeri, getar, dan pengenalan pada benda. Sensasi perabaan Minta klien untuk menutup kedua matanya, kemudian perawat melakukan pemeriksaan dengan menggunakan kapas yang disentuhkan pada kulit. Perawat meminta klien menyebutkan sensasi

apa yang dirasakan oleh klien. Perawat juga dapat menggunakan pada benda yang tumpul atau tajam. Hati-hati dengan benda yang tajam karena dapat melukai klien. Sensasi nyeri Klien menutup kedua matanya, kemudian perawat menusukkan jarum pada klien dengan hati-hati. Minta klien menyebutkan apa yang dirasakan, intensitas, lokasi, dan berapa lama rangsangan tersebut dirasakan. Tanyakan pada klien pengobatan apa yang telah dilakukan untuk meredakan nyeri. Perawat perlu memperhatikan nilai-nilai budaya yang dianut oleh klien serta kepercayaannya. Sensasi getar Perawat menggunakan garpu penala dan klien diminta untuk menutupkan kedua matanya. Perawat memukulkan garpu dan menempelkannya pada siku, lutut, jari-jari tangan atau jari-jari kaki. Kemudian, minta klien untuk mengatakan kapankah getaran mulai dirasakan dan berhenti. Sensasi panas Dilakukan dengan mengunakan air hangat dan dingin yang dimasukkan ke dalam botol atau gelas dan disentuhkan pada kulit klien. Minta klien untuk menyebutkan apa yang dirasakan. Hindari untuk menggunakan air panas atau mendidih (panas yang ekstrim). Stereognosis Berikan benda-benda yang sudah dikenali oleh klien, seperti koin, kursi, penjepit kertas, atau kapas. Kemudian letakkan di dalam genggaman tangan klien. Minta klien untuk menyebutkan benda apa yang ada di dalam genggamannya. B. 1. 2. 3. 4. Diagnosa Keperawatan Perubahan persepsi sensori ; penglihatan b.d kekeruhan pada lensa Nyeri b.d meningkatnya tekanan intra okuler Resti injuri b.d perubahan ketajaman penglihatan Perubahan sensori: pendengaran b.d penumpukan serumen, kehilangan syaraf sensori pendengaran

5. 6. 7. 8. 9.

Isolasi sosial b.d sulitnya berkomunikasi dengan keluarga atau teman, kehilangan pendengaran Perubahan pemeliharaan kesehatan b.d kurang pengetahuan mengenai pencegahan tinnitus Gangguan harga diri b.d kehilangan pendengaran Perubahan persepsi sensori: pengecapan b.d penurunan produksi saliva Perubahan membran mukosa b.d xerostomia penurunan rangsangan nyeri, panas, sentuhan, getar dan stereognosis b.d penurunan fungsi persyarafan dan proses penuaan

10. Perubahan persepsi sensori: sensasi taktil yang ditandai dengan

11. Resti injuri b.d penurunan rangsangan nyeri dan panas C. 1. Intervensi Keperawatan Penglihatan Kurangi kemungkinan jatuh dari tangga atau lantai licin Ruang terang tapi tidak silau Gunakan alat bantu seperti jam dengan tombol yang dapat diraba, radio sebagai pengganti surat kabar, tulisan dengan huruf yang besar Gunakan alat bantu: kaca mata dan periksa kecocokan kaca mata tiap 6 bulan 2. Dekatkan benda-benda yang dibutuhkan klien Kaji pendengaran klien Ajari klien untuk melatih pendengarannya, latihan membaca perkataan dan alat bantu pendengaran Beri fasilitas komunikasi Beri penyuluhan pada klin dan keluarga cara parawatan pencegahan yang berhubungan dengan masalah pendengaran Beri posisi tidur dengan kepala ditinggikan dengan 2 bantal Lakukan irigasi telinga Ajarkan tehnik relaksasi Anjurkan klien untuk menjauhi suber-sumber kebisingan Pendengaran

3.

Pengecapan dan Penghiduan Klien dapat mengungkapkan peningkatan sensasi terhadap rasa Klien dapat menunjukan dengan jelas integritas jaringan mukosa lembab, warna merah muda dan permukaanya lembut Klien dapat mengungkapkan ketidaknyamanan pada daerah mulut Klien dapat menyebutkan faktor penyebab, tanda dan gejala, serta parawatanya pada xerostomia Klien dapat mendemonstrasikan secara benar cara membersihkan mulut Hindari penggunaan garam yang berlebihan untuk meningkatkan rasa Tanyakan makanan yang disukai klien Atur segala sesuatu yang meningkatkan rasa makanan, penampilan dan penyajian makanan Berikan lingkungan yang nyaman, indah dan tenang Gunakan indera penciuman sebelum mencoba makanan Periksa kemungkinan adanya gas yang bocor Berikan tekstur kasar pada pegangan, misalnya pada pegangan tangga ataupun perkakas atau perabotan rumah tangga Hindari untuk menggunakan sendok atau garpu dari plastik. Menggunakan perabotan rumah tangga yang berat atau dari logam akan membuat orang tua lebih awas atau lebih waspada karena terasa lebih berat dan sensasi sentuhan akan lebih efektif Penggunaan tekstur kasar dapat juga digunakan pada pakaian, kain tenun dan dekorasi pada rumah Gunakan sentuhan seperti mengelus punggung, memijat, menyisir rambut dan menggosok tubuh pada waktu mandi Berikan kehangatan dengan selimut atau baju hangat Mengajarkan tehnik relaksasi dan melatih pernapasan untuk mengatasi rasa nyeri

4.

Perabaan

Berikan diit dengan makanan yang mengandung lemak tryptophan untuk meningkatkan serotonin Ajak klien untuk mendiskusikan rasa nyeri, dampak dari gangguan fungsional, cara mengatasi nyeri dan keberhasilan yang telah dialami klien Menurut de wever (1977 ), dengan perawat meletakan tanganya diatas dengan klien, dapat membuat klien menjadi nyaman, begitu pula dengan memberikan sentuhan pada wajah klien. Hal ini dapat menjaga hubungan perawat dengan klien menjadi lebih baik dan membantu klien untuk dapat bersespon terhadap lingkungan

DAFTAR PUSTAKA Lueckenotte, Annette. 1996. Gerontologic Nursing. Mosby; year book Nugroho, Wahyudi. 1995. Perawatan Lanjut Usia. EGC; Jakarta Yurick. Robb. Spier. Ebert. The Age Person and The Nursing Proses Applet OnCentury-Crofis/ Norwolkconnecticut.