Anda di halaman 1dari 19

PEMANTAUAN KADAR IMUNOGLOBULIN M (lgM) DAN IMUNOGLOBULIN G (lgM) Chlamydia pneumoniae PADA PENDERITA ASMA DI RUMAH SAKIT UMUM

PUSAT H. ADAM MALIK MEDAN SITI NOORCAHYATI Program Pendidikan Dokter Spesialis Paru-1 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Asma sebagai kelainan saluran pernafasan kronik mempunyai prevalensi yang makin terus meningkat dalam dua hingga tiga dekade terakhir ini. 1.2.3 Sampai saat ini terjadi peningkatan terhadap angka morbiditas ataupun mortalitas asma di Indonesia dan hal tersebut menjadi masalah kesehatan yang cukup serius, walaupun pemahaman terhadap pengobatan asma bertambah baik. Prevalensi asma di Indonesia berkisar antara 2% hingga 4% atau 3 hingga 5 juta orang dan sebanyak 1% diantaranya memerlukan perawatan rumah sakit karena serangan asma akut yang berat, hal ini kemungkinan disebabkan oleh diagnosa yang terlambat serta penatalaksanaan yang tidak tepat. 4 . Menurut Haahtela T, secara klinis asma sering tidak terdiagnosa secara cepat dan keterlambatan ini merupakan suatu hal yang sangat bermasalah dalam penanganan penderita.
Dikutip dari 5

Teori dasar penyebab asma sangat komplek, melibatkan interaksi antara faktor genetik, paparan alergen dan faktor lingkungan (populasi udara, rokok, infeksi saluran pernafasan). 6 Infeksi viral dan Mycoplasma penumoniae ( M. penumoniae) telah menimbulkan implikasi terhadap makin meluasnya penyakit tersebut. Pengamatan pertama tentang hubungan antara infeksi Chlamydia penumoniae ( C. penumoniae) dengan semakin meluasnya asma dilakukan pada tahun 1986.1 Proses inflamasi kronik pada orang dewasa sering tidak diketahui penyebabnya. 7 Akhir- akhir ini C. pneumoniae merupakan penyebab penyakit pernafasan pada manusia yang menyebar secara endemik dan epidemik, diduga penularannya dari orang ke orang melalui sekret pernafasan dengan masa inkubasi beberapa minggu setelah penularan. 7,8,9 C. pneumoniae, diindentifikasi sebagai suatu bakteri patogen intraseluler pada manusia, dapat berperan dalam penyebab timb ulnya asma yang mungkin sebagai sensitisasi alergi ( allergic sensitization), 10 infeksi terbanyak didapati pada daerah pernafasan dan sering memperlihatkan gejala ringan atau tanpa gejala. 9,10,11,12,13,14 Keadaan infeksi akut pada saluran nafas bagian atas dan bawah dijumpai sekitar 70% hingga 90% kasus, 15 organisme ini akan menetap beberapa bulan pada saluran nafas atas yang dapat menjadi progresif sehingga memperburuk penyakit asma dimana keadaan ini akan berlanjut menjadi asma kronik. 1 4 Penelitian yang dilakukan di Australia, dari 170 penderita asma, didapati 80% terinfeksi C. pneumoniae,16,17 dan sekitar 40% hingga 60% dari populasi orang dewasa di seluruh dunia menunjukan bahwa infeksi C . penumoniae sebagai bakteri patogen pada manusia, umumnya menyebabkan infeksi yang berulang. 1,8,13 Menurut Monica Kraft dkk, menyatakan bahwa penelitian terbaru yang menunjukan infeksi kronik saluran pernafasan oleh C. penumoniae dapat

2003 Digitized by USU digital library

menyebabkan perburukan yang mungkin pada penderita asma tersebut dapat diobati berdasarkan penyebabnya. 18,19. C. pneumoniae sebagai penyebab infeksi akut dan kronik, sangat sulit untuk diambil sampelnya dari sekitar lokasi infeksi. Pemeriksaan serologi adalah suatu metode yang umumnya dipakai untuk mendiagnosis infeksi C. pneumoniae. 20 Uji Enzyme- linked immunosorbent assay ( ELISA) adalah suatu pemeriksaan serologi untuk mendeteksi antibodi C. penumoniae spesifik imunoglobulin M (IgM), imunoglobulin G (IgG), imunoglobulin A(IgA), melalui rDNA LPS ELISA dengan sensitifitas 80% dan spesifitas 94,3%. 12 Dari uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa C. penumoniae adalah merupakan salah satu pemicu pada penyakit asma yang dapat terlihat melalui peningkatan kadar IgM dan IgG spesifik C. pneumoniae dan oleh karena itu penulis ingin mengadakan suatu penelitian dengan memantau kadar IgM dan IgG C. pneumoniae melalui pemeriksaan serologi pada penderita asma di RSUP H. Adam Malik Medan, dengan judul : Pemantauan kadar M (IgM) dan imunoglobulin G (IgG) Chamydia penumoniae pada penderita asma di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. 1.2. Perumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan bahwa perlu adanya suatu pemantauan terhadap kadar IgM dan IgG C.penumoniae sebagai suatu pertanda pemicu eksaserbasi pada penderita asma. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan umum : Untuk memantau kadar IgM dan IgG pada penderita asma. 1.3.2. Tujuan Khusus: a. Untuk melihat hubungan antara klasifikasi asma terhadap IgM b. Untuk melihat hubungan antara klasifikasi asma terhadap IgG c . Untuk melihat hubungan antara lama keluhan terhadap kadar IgM d. Untuk melihat hubungan antara lama keluhan terhadap kadar IgG 1.4. Manfaat Penelitian a. Untuk mengungkapkan penyebab penyakit yang berulang pada penderita asma. b. Dengan hasil penelitian ini diharapkan akan d apat membantu penanganan permasalahan yang timbul pada penderita asma.

2003 Digitized by USU digital library

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Asma Bronkial Asma bronkial merupakan suatu keadaan dimana terjadinya gangguan saluran pernafasan yang dapat berkembang menjadi lebih berat dan sering berakibat fatal. 2,21 Ketepatan diagnosis dan penatalaksanaan merupakan suatu bagian terpenting dari upaya menghindari akibat fatal penyakit tersebut. 21 Penderita asma di seluruh dunia diperkirakan berkisar antara 100 hingga 150 jura orang 22,23 dan diperkirakan kematian asma di seluruh dunia mencapai 180.000 setiap tahunnya. Di Swiss penderita asma sekitar 8% dari populasi, di Jerman diperkirakan 4 juta orang menderita asma, di Jepang sekitar 3 juta orang penderita 23 dengan perincian 7% mengalami asma antara 15 hingga 20 juta orang . Pada tahun 1990 prevalensi asma diperkirakan 3% di Swedia, 4% di Amerika Serikat, 6% di Inggris dan 8,5% di Australia, 22 prevalensi < 1% dijumpai di Firlandia, Denmark, Afrika Selatan, Nigeria, Papua New Guinea dan pada daera h tertentu bisa 10%.24 Dalam tahun 1994 di Amrika Serikat diperkirakan asma sebanyak 14,6 juta dan pada tahun 1998 meningkat hingga mencapai 17 orang 25 dimana sekitar 450.000 penderita dianjurkan opname.22 Di Indonesia prevalensi asma diperkirakan 2% hingga 4% atau sekitar 3 hingga 5 juta orang dan 1% diantaranya memerlukan perawatan rumah sakit karena serangan asma akut yang berat.4 Australia merupakan negara mempunyai prevalensi lebih tinggi dibandingkan dengan negara negara lainnya.26 2.1.1. Definisi Menurut National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI), 1992, asma merupakan suatu inflamasi kronik dari saluran pernafasan yang melibatkan banyak sel, dimana pada individu yang rentan gejala ini berhubungan dengan luasnya inflamasi dan menyebabkan obt ruksi saluran pernafasan yang bervariasi derajatnya, keadaan ini sering bersifat reversibel secara spontan atau dengan pengobatan dimana proses inflamasi ini juga menyebabkan peningkatan respon saluran pernafasan terhadap berbagai rangsangan. 27 Global Initiative for Asthma (GINA) 1995 menyatakan, asma adalah suatu penyakit inflamasi kronik dari saluran pernafasan yang melibatkan banyak sel terutama sel mast, eosinofil dan limfosit T. Pada individu yang rentan, inflamasi ini menimbulkan keadaan berulang dari mengi (wheezing), sesak nafas (breathlessness), dada terasa tertekan (chest tightness) dan batuk ( cough) khususnya pada malam dan atau pagi hari, dimana gejala ini sering dihubungkan dengan luasnya inflamasi yang bervariasi dan sering membaik secara spontan atau dengan pengobatan, proses inflamasi ini juga menyebabkan terjadinya peningkatan respon saluran pernafasan terhadap berbagai rangsangan.2 2.1.2. Patofisiologi Patifisiologi asma terbagi kedalam ketiga fase. Pertama, munculnya asma ditandai adanya peningkatan respon dinding bronkial. Kedua, reaksi asma fase ini, berupa bronkokonstriksi, dimana terjadi : (1) rangsangan antigen terhadap dinding bronkial; (2) terjadinya proses degranulasi sel mest yang melepaskan histamin, kemotaktik, proteolik serta heparin; dan (3) bronkokonstriksi otot polos. Ketiga, reaksi asma fase lanjut, berupa inflamasi bronkial dimana terjadi : (1) sel- sel inflamasi melibatkan neutrofil, eosinofil; (2) pelepasan sitokin, bahan-bahan vasoaktif dan asam arakhidonat; (3) inflamasi sel- sel epitelial dan endotelial; (4) pelepasan interleukin 3 (IL- 3) dan IL-6, tumor necrotic factor (TNF), Interferongamma. 28

2003 Digitized by USU digital library

Tabel 1. Mediator Sel Mast dan Pengaruhnya terhadap Asma Mediator Pengaruh terhadap asma Histamin LTC4 , D4 ,E4 Prostaglandin dan Thromboksan A2 Kontruksi otot polos Bradikinin Platelet-activating factor (PAF) Histamin LTC4 , D4 ,E4 Prostaglandin dan Thromboksan E2 Bradikinin Udema mukosa Platelet-activating factor (PAF) Chymase Radikal oksigen Histamin LTC4 , D4 ,E4 Sekresi mukus Prostaglandin Hidroxyeicosatetraenoic acid Radikal oksigen Enzim proteolitik Deskuamasi epitel bronkial Faktor inflamasi dan sitokin 2.1.2.1. Peran sentral inflamasi pada patofisiologi asma Pelepasan histamin dan leukotrien secara langsung dapat menimbulkan bronkospasme, pelepasan sitokin oleh sel mast, sel T, fibroblast, sel endotelial dan epitelial, mengaktifasi neutrofil, eosinofil dan makrofag, sehingga menimbulkan alergi inflamasi kronik yang dikarakteristikkan sebagai asma. Sitokin juga dapat memodulasi respon otot polos, permeabilitas vaskuler, merangsang neuron dan sekresi mukus dimana keadaan ini dapat mempengaruhi perubahan struktur paru. 30 2.1.2.2. Hubungan patologi saluran nafas terhadap fungsi paru Gangguan fungsi paru tebagi kedalam dua manifestasi : pertama, terjadinya peningkatan respon saluran pernafasan; kedua, terjadi keterbatasan saluran pernafasan ditandai adanya dengan bronkokontriksi akut, pembengkakan dinding saluran nafas, pembentukan sumbatan mukus kronik serta terjadi perubahan bentuk dinding saluran nafas (airway wall remodeling).2 Keadaan kronik adalah merupakan asma yang terulang, dikarenakan terjadinya peningkatan sekresi dan obstruksi bronkus yang terus menerus. Adanya keterbatasan bernafas ( respiration insufficiency) dan kesukaran bernafas ( respiratory distress), pada akhirnya akan berlanjut menjadi keadaan kronik yang terjadi dari adanya pembengkakan bronkial dan tidak adekuatnya pertukaran gas. 31 2.1.3. Mekanisme asma Mekanisme inflamasi jalan nafas pada asma melibatkan tahapan pelepasan mediator- mediator imunologik baik melalui mekanisme immunoglobulin E (IgE) dan limfosit T, maupun melalui mekanisme limfosit dan non (IgE) 2.1.3.1. Mekanisme IgE dan Limfosit T (IgE-dependent, T lymphocytedependent). Munculnya alergen dalam tubuh akan direspon oleh makrofag yang bekerja sebagai Antigen presenting cell (APC) yang kemudian akan diproses didalam sel APC dan selanjutnya alergen tersebut dipresentasikan ke sel limfosit T dengan bantuan molekul- molekul major histocompatibility complex (MHC class II), maka limfosit T akan membawa ciri antigen tertentu (spesifik), kemudian teraktivasi, berdeferensiasi dan berploriferasi. Subset limfosit T spesifik (Th2) dan produknya akan

2003 Digitized by USU digital library

mempengaruhi dan mengontrol limfosit B dalam memproduksi imunoglobulin. Adanya interaksi antara alergen pada limfosit B dengan limfosit T spesifik- alergen menyebabkan terjadinya perubahan sintesa dan produksi imunoglubin oleh limfosit B dari IgG dan IgM menjadi IgE spesifik alergen, sehingga sekali tersensitisasi dengan suatu alergen spesifik, maka pajanan ulang oleh alergen yang sama akan meningkatkan produksi IgE spesifik tersebut yang akan berkaitan dengan reseptorreseptor spesifik pada sel mast dan juga basofil serta beberapa sel lainnya seperti eosinofil, makrofag, platelet yang mempunyai reseptor IgE walaupun dengan afinitas rendah. Alergen akan berikatan pula dengan IgE spesifik pada permukaan sel- sel tersebut, sehingga terjadi ikatan alergen- IgE spesifik sel mast, basofil, sel- sel lainnya dengan reseptor IgE, sehingga sel teraktivasi dan berdegranulasi mengeluarkan mediator- mediator yang sudah tersedia (performed mediator )dan mediator- mediator segera terbentuk dengan adanya kejadian tersebut (newly generated mediator) yang semuanya bertanggung jawab terhadap proses inflamasi yang terjadi. 2.1.3.2. Mekanisme non IgE dan limfosit T ( IgE-non dependent, T lymphocyte-dependent). Setelah antigen dipresentasikan ke limfosit T, maka limfosit yang mempunyai berbagai kemampuan antara lain me nyebabkan akumulasi dan aktivasi leukosit terutama eosinofil yang merupakan sel inflamasi khusus pada asma. Limfokinlimfokin tersebut adalah Interleukin yaitu : IL- 3, Il- 4, IL- 5, IL- 9, Il- 13, Granulocytemacrophage colony stimulating factor (GM- CSF). Sel- sel inflamasi dan mediator yang dikeluarkannya akan saling berinteraksi sehingga terjadi proses inflamasi yang kompleks, degranulasi dari eosinofil akan mengeluarkan berbagai protein toksik yang merusak epitel jalan nafas dan merupakan salah satu penyebab hiperreaktivitas bronkus (Hbr).32 2.1.4. Diagnosis Diagnosis asma didasarkan pada : (a) riwayat; (b) pemeriksaan fisik; (c) uji penunjang diagnostik. Uji penunjang diagnostik dapat memperlihatkan adanya reversibilitas obstruksi saluran pernafasan yang p ada umumnya menggunakan alat spiometri atau peak flow meter. Pengukuran arus puncak ekspirasi (APE) dengan menggunakan alat peak flow meter mempunyai batasan yang masih signifikan sedangkan penggunaan dengan spirometri merupakan uji pengukuran yang lebih akurat. 27 Indikator asma berdasarkan APE : Peningkatan APE > 15% setelah inhalasi bronkodilator (short-acting2 agonist), atau setelah pemberian short-acting2 agonist ditambah kortikosteroid. Variabilitas APE dapat ditentukan dengan mengukur APE terendah (pagi) dan APE tertinggi (12 jam kemudian). Variasi nilai APE > 20% diantara dua pengukuran pada pasien yang mendapatkan bronkodilator (10% pada pasien yang tidak mendapatkan bronkodilator). Penurunan APE > 15% setelah latihan. 33 % Variabilitas = (APE tertinggi APE terendah) x 100 APE tertinggi Pengukuran dilakukan sebelum dan 10 menit setelah pemberian bronkodilator. 27

2003 Digitized by USU digital library

2.1.5. Klasifikasi Menurut konsensus internasional, klasifikasi asma didasarkan pada etiologi, beratnya penyakit dan pola waktu terjadinya onstruksi saluran nafas. 2,4 Tabel 2. Klasifikasi Beratnya Asma (gambaran klinik sebelum pengobatan) Gejala Tahap 4 Persisten Berat - Gejala yang terus menerus - Pembatasan aktifitas fisik - Eksaserbasi sering Gejala malam Sering Fungsi Paru - VEP1 atau 60%prediksi - Variabilitas >30% - VEP1 atau 60%- <80% prediksi - Variabilitas >30% APE APE APE

Tahap 3 - Gejala harian Persisten sedang - Setiap hari menggunakan short acting 2 agonist. - Eksaserbasi menganggu tidur dan aktifitas. - Eksaserbasi 2x seminggu Tahap 2 - Gejala > 1x seminggu Persisten ringan tetapi < 1x sehari

>1x seminggu

APE

>2x sebulan

- VEP1 atau APE 80% prediksi - Variabilitas APE 20-30% - VEP1 atau APE 80% prediksi - Variabilitas APE <20%

Tahap 1 Intermitten

- Gejala intermitten 1x seminggu - Tanpa gejala dan APE normal diantara serangan. - Eksaserbasi singkat

< 2x sebulan

Michel mengklasifikasikan asma yaitu : (1) atopik (ekstrinsik); (2) nonatopik (instrinsik). 31 Kari J. Zahorik dan William W. Busse berdasarkan petunjuk National Inst itutes of Health (NIH) mengelompokkan asma kronik dengan persisten ringan, persisten sedang dan persisten berat. 34 2.2. Asma dan Infeksi Infeksi merupakan salah satu pemicu pada asma yang sering menyebabkan eksaserbasi sehingga asma sering menjadi sera ngan akut, kronik dan bahkan menjadi status asmatikus. Kuman-kuman yang dapat menyebabkan infeksi adalah Haemophilus influenza, Streptococcus haemoliticus, Streptococcus virridans, Staphylococcus aureus, Neisseria cataralis, Pneumococcus dan Basilli friedlander.35 . Tinjauan artikel terakhir dari jurnal American Medical Association menampilkan, asma pada awal masa remaja sering disebabkan infeksi Mycoplasma, Chlamydia dan Ureaplasma, bakteri ini merupakan bakteri unik yang hidupnya diluar sel dan sangat sulit untuk tumbuh pada media kultur. 36

2003 Digitized by USU digital library

2.2.1. Chlamydia 2.2.1.1. Epidemiologi. C.pneumoniae dapat menginfeksi saluran pernafasan manusia melalui sekret pernafasan yang penularannya dari orang ke orang secara endemik dan epidemik dimana menimbulkan suat u keadaan inflamasi dan infeksi kronik dari saluran pernafasan 6,7,9,37 yang dapat merupakan suatu penyebab dari timbulnya asma. 6 Pada seseorang yang terinfeksi C. pneumoniae akan terinfeksi selama hidupnya 8 dan sekitar 30% hingga 50% dari orang dewasa diseluruh dunia memiliki antibodi seropositif terhadap C. pneumoniae, 7 , 9 , yang banyak didapati pada kelompok umur 30 hingga 40 tahun.7 dan menurut Jeffry T, rata-rata yang terinfeksi C.pneumoniae didapati pada manusia 55 tahun (22 s/d 82 tahun). 38 Sekitar 50% antibodi organisme ini dapat dideteksi pada usia 20 tahun yang kemudian akan terus meningkat sekitar 75% pada usia tua, 8,37 umumnya lebih banyak diderita laki- laki (60%- 90%) dari wanita. 37 Pada tahun 1998, Toy dikutip dari 17 melaporkan hasil penelitiannya, didapatkan 80% dari 170 penderita asma di Australia, positif terinfeksi C. pneumoniae . Dinegara Asia lainnya, seperti Thailand juga dilaporkan hal yang sama. Fuongtong dkk, dikutip dari 17 melaporkan ditemukannya seroprevalensi yang tinggi terhadap C. pneumoniae pada pasien rinitis alergi dan ditemukannya peranan infeksi C. pneumoniae tersebut pada eksaserbasi asma. Penelitian yang dilakukan oleh Mangunnegoro dkk, dikutip dari 17 pada kasus- kasus asma eksaserbasi akut, ditemukan uji serologi yang positif terhadap C. pneumoniae sebanyak 80%. 2.2.1.2. Perkembangan siklus C. pneumoniae. Pada tahun 1984 berdasarkan hasil analisa DNA dan definisi ultrastruktur mikroskop elektron, ditemukan spesies ketiga Chlamydia, yaitu Chlamydia pneumoniae .17 Chlamydia terbagi menjadi tiga spesies yaitu : (1) Chlamydia trachomatis; (2) Chlamydia psittaci; (3) Chlamydia pneumoniae.9,37,39 Chlamydia merupakan bakteri gram negatif yang tidak memiliki mekanisme untuk menghasilkan energi metabolik dan tidak dapat me nsintesa ATP sehingga membuatnya menjadi bentuk seluler dimana sel host melengkapinya dengan energi yang cukup kaya, dengan demikian Chlamydia merupakan parasit obligat intraseluler ( obligate intracelluler) atau bakteri obligat intraseluler, 9,39 mempunyai siklus hidup bifasik yang unik ( biphasic life cycle) dengan dua bentuk morfologi yang berbeda. 8,17 Kedua bentuk perbedaan morfologi Chlamydia adalah sebagai berikut : 1. Partikel infeksius yang disebut sebagai elementary body (EB) atau badan elementer, suatu bentuk yang lebih kecil (30- 400nm) dan terdapat diluar sel (extracelluler) yang dapat menimbulkan infeksi. 2. Intrasitoplasmik, adalah bentuk yang dapat bereproduksi yang disebut Reticulate Body (RB) atau badan retikulat dengan bentuk yang lebih besar ( 800- 1000nm) dan terdapat didalam sel ( Intraceluller) yang tidak menimbulkan infeksi. 17,39,40 Siklus bifasik diawali dengan menempelnya infeksius EB ke mikrofili sel host yang rentan. EB secara aktif menembus sel host, EB didalam sel akan berdiam didalam fagosom dan mulai bereplikasi. EB yang tidak aktif secara metabolik, menjadi aktif dan membelah diri menjadi RB dimana RB tersebut dapat mensintesa DNA, RNA dan protein namun masih tergantung pada sel hostnya untuk suplai energi (ATP), keadaan ini disebut sebagai parasit energi. Selanjutnya RB kemudian membelah diri secara berulang didalam fagosom. Fagosom dengan RB didalamnya inilah disebut dengan badan inklusi. Setelah terjadi infeksi selam 18- 24 jam, RB kemudian kembali berorganisasi menjadi EB dan antara 48- 72 jam kemudian, sel yang terinfeksi akan pecah dan kemudian dilepaskan oleh EB. 17,40

2003 Digitized by USU digital library

Fase Dorman

Metabolisme Badan Elementer

Perkembangan menjadi Badan retikulat

Masuk

Badan Elementer

Pelepasan Maturasi Badan Retikulat Gambar 1. Perkembangan Siklus dari Chlamydia. 2.2.1.3. Patofisiologi C. pneumoniae. Infeksi diawali dengan menempelnya Chlamydia pada membran luar dari sel host yang rentan, oganisme ini selanjutnya menghasilkan sitoplasmik pada sel- sel yang terinfeksi dan kemudian melepaskan sel mature secara berdampingan dengan sel yang terinfeksi. Cara penularannya berbeda pada ke tiga spesies, namun secara keseluruhan semuanya dapat menyebabkan penyakit sistemik secara hemotogen. 37 2.2.1.4. Identifikasi C. pneumoniae. Identifikasi dari infeksi akut C. pneumoniae sulit didapatkan, namun masalah yang jelas adalah terjadinya suatu infeksi kronik. 20 Dasar identifikasi infeksi C. pneumoniae dapat dilakukan dengan beberapa tehnik pemeriksaan laboratorium, yaitu : kultur, PCR ( polymerase chain reaction) dan serologi. 8,12 Secara langsung bakteri ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.9 Tehnik kultur (biakan) adalah metode pertama kali yang dilakukan untuk mendeteksi C. pneumoniae, yang dibiakkan dengan menggunakan sel Hela 229, McCoy, sel HL, Hep- 2 dan H 292, kemudian kultur tersebut dapat dikonfirmasikan dengan antibodi monoklonal yang spesifik dan dipulas (strain) dengan antibodi fluoresen. Spesimen untuk kultur C. pneumoniae dapat diambil dari usapan faring,

2003 Digitized by USU digital library

sputum, aspirasi bronkus, bronchoalveolar lavage dan cairan pleura, namun kultur ini membutuhkan waktu 3 sampai 7 hari dan cukup sulit untuk menumbuhkannya, 9,17 tehnik kultur memerlukan keahlian 12 serta memerlukan biaya yang cukup mahal 9,17 sehingga tidak digunakan secara rutin di laboratorium. 12 Spesimen yang berasal dari jalan nafas mempunyai sensitifitas sekitar 20% dengan spesifisitas yang cukup tinggi. 17 PCR adalah suatu pemeriksaan untuk mendeteksi spesifik DNA, 8 cara ini membutuhkan tenaga yang terampil. Sensitifitas dari PCR sekitar 20% hingga 60% menurut R.P Verkooyen dkk, pemeriksaan PCR yang didapatkan dari spesimen nasofaring dan spesimen sputum dilaporkan mempunyai sensitifitas 39,1% dan spesifitas 83,5% 12 namun penelitian yang dilakukan Gaydos dkk, tehnik PCR yang menggunakan ampikasi deteksi gene primer dengan enzim immunoassay (EIA)(PCR EIA) mempunyai sensitifitas sebesar 77% dan spesifisitas 99% yang lebih dapat dipercaya dari pada pemeriksaan serologi sebagai diagnosa yang cepat. Dikutip dari Serologi merupakan suatu pemeriksaan untuk melihat seberapa jauh keterlibatan adanya infeksi C. pneumoniae. 2 0 Uji serologi akhir- akhir ini digunakan secara rutin untuk diagnosa infeksi akut C. pneumoniae.12,17 Metode ini memberikan kesensitifan yang tinggi pada sebagian besar peneliti. 20 Microimmunofluerescence (MIF) adalah standar baku emas (gold standart) dari pemeriksaan serologi terhadap C. pneumoniae 12,17 yang lebih spesifik dan sensitif dibandingkan dengan kultur. 17 Uji ini memberikan perbedaan antara antibodi IgM, IgG dan IgA, 12,41 yang pada dasarnya menginterprestasikan infeksi primer atau infeksi berulang terhadap C. pneumoniae. Pada infeksi primer, suatu antibodi IgM muncul kurang lebih 3 minggu setelah penderita terinfeksi, titer IgM menurun dalam beberapa bulan (2 bulan) 8 dan biasanya tidak terdeteksi 2 sampai 3 bulan setelah infeksi akut. 41 Antibodi IgG tidak mucul pada infeksi primer sampai 6 hingga 8 minggu setelah timbulnya infeksi dan selanjutnya rendahnya titer IgG pada minggu ke 4 setelah infeksi primer, dan munculnya respon IgG pada minggu ke 8 tidak menyingkirkan adanya infeksi C. pneumoniae akut. Titer antibodi IgG dapat meningkat cepat mencapai 512 dalam waktu 1 hingga 2 minggu kemudian.8 Antigen IgG dan IgA dapat menetap dalam jangka waktu lama yang memberikan gambaran secara langsung adanya suatu keadaan yang persisten dengan kata lain infeksi kronik. Pada keadaan infeksi yang berulang hanya memperlihatkan peningkatan titer IgG dan IgA tanpa peningkatan IgM. 41 Penelitian lainnya mengatakan, peningkatan titrasi IgG secara tersendiri pada penderita usia tua tidak terjadi, dikarenakan titrasi IgG akan menetap pada infeksi yang berulang.
37

ELISA adalah suatu pemeriksaan serologi untuk mendeteksi antibodi C. pneumoniae spesifik IgG, IgM, IgA mel lui suatu rDNA LPS ELISA yang merupakan a struktur kimia murni dari kombinasi LPS, mengandung genus spesifik epitope dari spesies Chlamydia yang patogen untuk manusia. Uji serologi ini digunakan sebagai standar yang rutin yang mudah dilakukan dalam menentukan seroprevalensi C. pneumoniae dengan sensitifitas 80% dan spesifisitas 94,3%. 12 2.2.1.5. Peran bakteri obligat intraseluler. Infeksi akut dan kronik yang disebabkan patogen intraseluler dapat menyebabkan munculnya kolonisasi, infeksi tersebut dapat membahayakan serta mempengaruhi sel epitel silia bronkial terhadap neutrofil dan alveolar makrofag. Mekanisme penyebab terjadinya hiperresponsif bronkial : 1. Munculnya kolonisasi kronik dari bakteri. 2. Adanya respon imun lokal persisten terhadap aktifitas sitolitik dari CD8 limfosit dan atau produksi sitokin. 3. Adanya inflmasi kronik.

2003 Digitized by USU digital library

4. Adanya rangsangan produksi IgE dikarenakan reaktifitas saluran nafas dan bronkospasme. Tiga dari mekanisme diatas dapat menyebabkan timbulnya asma, dimana patogen intraseluler berperan dalam eksaserbasi awal dari asma, 10 pada individu yang rentan dapat menimbulkan infeksi yang persisten. 6 2.2.1.6. Hubungan Chlamydia pneumoniae dan asma kronik. C. pneumoniae adalah bakteri gram negatif yang merupakan parasit obligat intra seluler yang unik dalam siklus perkembangannya, umumnya patogen terhadap pernafasan dewasa maupun anak-anak. 6,42 Ciri- ciri biologik yang menonjol pada infeksi Chlamydia adalah keseimbangan mengakibatkan sakit yang lama dan sering berlangsung seumur hidup. 9 Berdasarkan tulisan Anthony dan Graham, penderita asma dengan infeksi virus ( Influenza, Rhinovirus, Respiratory syncytial virus) dan bakteri (M. pneumoniae) biasanya menderita serangan mengi beberapa minggu sebelumnya43 dan adanya riwayat hipersensitif terhadap antigen bakteri diduga ada hubungannya antara asma dan infeksi saluran pernafasan. 44 Peranan patogen intraseluler menunjukan terjadinya respon IgE spesifik terhadap infeksi C. pneumoniae, yang memungkinkan terjadinya suatu mekanisme, dimana infeksi C. pneumoniae dapat merupakan faktor pemicu alergi (allergic sensitization) 10,41 Munculnya suatu reaksi alergik yang spesifik terhadap suatu antigen ( antigen- spesifik) dapat meyebabkan pengeluaran mediator peradangan disertai pengumpulan sel- sel radang ke saluran pernafasan sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan epitel. 1,6 C. pneumoniae dapat bereaksi dalam jangka waktu lama dimana organisme ini adalah sebagai promotor proses peningkatan immunologi sel T selama infeksi berulang atau infeksi kronik yang akhirnya pada penderita asma dapat terjadi kerusakan vaskularisasi otot polos sehingga dengan demikian terjadi peningkatan hiperreaktifitas. 8,41 Aktivasi limfosit T dan sitokin berperan sebagai mediator dalam proses inflamasi yang persisten pada asma . IL- 4 adalah dasar dari limfosit B yang mengubah IgG ke IgE. 1 Hipotesa menurut Hahn dari hubungan antara Chlamydia dan asma adanya IgE spesifik C. pneumoniae dan sitokin dapat menghambat gerakan silia dan memugkinkan terlepasnya sel dengan peningkatan penetrasi aeroalergen C. pneumoniae melepaskan sitokin yang berpengaruh terhadap terjadinya patogenesis dari asma. 45 Cunningham dkk, dikutip dari 17 menduga adanya hubungan yang positif antara asma eksaserbasi akut pada anak- anak dengan infeksi kronik C. pneumoniae. Pada tahun 1998 di Jepang, Miyashita dkk, dikutip dari 17, mengemukakan bahwa C. pneumoniae merupakan pemicu dari eksaserbasi akut pada pasien asma dewasa. Rossanna dkk dikutip dari 1 menyatakan bahwa munculnya manifestasi klinik dengan penyakit pernafasan yang terus menerus merupakan adanya hubungan terhadap infeksi C. pneumoniae. Menurut Hahn, infeksi kronik C. pneumoniae telah menunjukan penyebab timbulnya asma pada dewasa. 46 Hubungan asma dengan adanya peningkatan antibodi IgG yang spesifik terlihat sangat kuat pada kondisi asma nonatopik yang berlangsung lama. Penelitian tersebut memberikan gambaran infeksi kronik sebagai faktor penyebab, dimungkinkan bahwa Chlamydia mempunyai peranan penting untuk terjadinya inflamasi kronik yang cenderung pada penderita asma ringan yang pada akhirnya menjadi asma kronik berat, dimana inflamasi dan perbaikan berulang dari asma kronik tersebut mengarah kepada terjadinya perubahan permanen dari struktur dinding saluran nafas ( remodeling). Proses tersebut ditandai oleh hiperplasia otot polos, hipertropi dan penebalan dari membran basalis. Peningkatan dari sejumlah sel otot polos meningkatkan respon kontraktil dan obstruksi irreversibel saluran nafas. 47 Bukti lain tentang hubungan Chlamydia dengan asma didasarkan dari laporan kasus pada penelitian epidemiologi, dimana percobaan mencari dasar penyebab dilakukan secara random, percobaan kontrol dan penjelasan mekanisme

2003 Digitized by USU digital library

10

dari patogenesis yang didapati sebelum memberikan penentuan pengobatan. 14 Penelitian yang dilakukan oleh David L Hahn dengan pengobatan antimikrobal selama rata-rata 4 minggu ( 3 hingga 9 minggu) dengan oral doxycyline 2x100 mg, azithromycin 1000 mg dalam 1x seminggu atau erythromycin 1000 mg perhari pada penderita asma sedang hingga asma berat dan asma kronik yang stabil, memberikan perbaikan yang bermakna. 46 Penelitian lain yang dilakukan oleh Kabat terhadap penderita asma persisten berat dengan pemberian terapi makrolid (roksitromisin 2x150 mg) selama 6 minggu, terjadi penurunan yang sangat bermakna terhadap kadar IgG, neutrofil dan LED, dimana tingginya kadar IgG, LED, neutrofil menandakan adanya suatu infeksi kronik yang kemungkinan disebabkan adanya infeksi kuman, pada penelitian ini juga terjadi respon terhadap peningkatan faal paru yang lebih besar dan respon yang lebih cepat terhadap berkurangnya serangan asma yang teradi setiap hari terlihat pada akhir pengobatan, 48 hal yang sama juga dinyatakan oleh Monica Kraft, bahwa penderita asma yang diobati dengan clarithromycin memperlihatkan peningkatan FEV1 yang bermakna. 19 Black dkk mengamati sejumlah pasien dengan kontrol yang buruk dari asma, memperlihatkan perbaikan yang banyak setelah diobati dengan golongan makrolid. 10 Pada penderita C. pneumoniae Asthma Roxithromycin Multinational (CARM study) yang melibatkan 4 negara ( Australia, Selandia Baru, Italia dan Argentina) meneliti 861 pasien dimana dimana 61% memperlihatkan uji serologi yang positif terhadap C. pneumoniae dan menunjukan adanya hubungan antara derajat beratnya asma dengan titer dari C. pneumoniae. 17 Hasil penelitian yang dilakukan P.J Cook dkk, tidak memperlihatkan adanya perbedaan yang bermakna antara hubungan seroprevalensi C. pneumoniae terhadap asma akut dan asma kronik, namun titertiter tersebut menandakan adanya infeksi sebelumnya yang mana ditemukan pada 34,8% dari jumlah penderita dengan asma kronik. 49 Helsonki dikutip dari 49 memperlihatkan adanya hubungan peningkatan seroprevalensi C. pneumoniae dengan peningkatan insiden serangan asma pada semua kelompok umur.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan selama kurun waktu 6 (enam) bulan dimulai Januari 2002 sampai Juni 2002 3.2. Bahan dan materi Pada penelitian ini bahan/materi yang diteliti adalah berupa sampel penderita asma. Pengambilan sampel penderita asma ini dapat dikategorikan sebagai purposive sampling dimana sampel yang dipilih relevan dengan bentuk penelitian. Adapun jumlah sampel yang diambil sebanyak 35 (tiga puluh lima) orang penderita asma yang berobat jalan pada RSUP H. Adam Malik Medan. Kriteria dan klasifikasi pasien untuk dapat dijadikan sebagai sampel penelitian adalah sebagai berikut : a. Kriteria penerimaan : Asma persisten ringan, asma persisten sedang dan asma persisten berat. Fot o toraks normal ( tidak menggambarkan penyakit paru lainnya dan tidak ada pembesaran jantung). Pasien dengan persentase prediksi APE 60% - 80% dan persentase variabilitas antara 20%- >30% setelah pemberian uji bronkodilator. Bersedia diikutkan dalam penelitian.

2003 Digitized by USU digital library

11

b. Kriteria penolakan : Wanita hamil. Pasien yang menderita penyakit jantung. Tidak bersedia untuk ikut dalam penelitian. 3.3. Rancangan penelitian Penelitian ini adalah merupakan suatu uji diagnostik yang bersifat deskriptif analitik untuk menilai hubungan kadar IgM dan IgG C. pneumoniae terhadap terjadinya eksaserbasi pada penderita asma. 3.4. Pelaksanaan penelitian Dalam pelaksanaan penelitian, penulis terlebih dahulu melakukan seleksi pemeriksaan pasien yang berobat ke poliklinik paru yang memenuhi kriteria menjadi subjek dimana foto toraks dalam batas normal, kemudian dilakukan pemeriksaan faal paru dengan Mini Wright Peak Flow Meter dan uji bronkodilator dengan inhalasi short acting 2 agonist ( R/ Ventolin amp) yang merupakan salah satu kriteria penegaka n asma untuk diikutkan dalam penelitian. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan uji serologi dari kadar IgM dan IgG yang spesifik terhadap C. pneumoniae. Pada pemeriksaan uji serologi ini, pasien dikirim ke laboratorium klinik Prodia Medan untuk diambil serum darah dari pasien, yang selanjutnya pemeriksaan dilakukan di pusat penelitian pengembangan di Jakarta. 3.5. Variabel yang diminati Variabel yang diminati dan dipelajari dalam penelitian ini adalah penderita dengan pengelompokan asma persisten ringan, sedang, berat dan hasil uji serologi penderita tersebut. Adapun yag dimaksud dengan kelompok Asma persisten ringan adalah gejala lebih dari 1 kali seminggu tetapi kurang dari 1 kali sehari, eksaserbasi mungkin mengganggu aktivitas tidur, asma malam lebih dari 2 kali sebulan, APE 80% dari prediksi dan variabilitas 20- 30 %. Asma persisten sedang adalah dengan gejala harian, eksaserbasi mengganggu tidur dan aktivitas, asma malam lebih dari 1 kali seminggu, APE >60% dan <80% dari prediksi dengan variabilitas > 30%. Untuk selanjutnya penderita tersebut diatas akan diamati hasil kadar IgM dan IgG C. pneumoniae. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil penelitian 4.1.1. Karakteristik penderita Telah dilakukan pemeriksaan kadar IgM dan IgG terhadap 35 penderita yang terdiri dari usia <30 tahun, 30- 40 tahun dan >40 tahun dengan hasil terlihat pada tabel 3. Tabel 3. Distribusi umur berdasarkan kadar IgM dan IgG IgM (n=35) IgG (n=35) (+) (%) (-) (%) (+) (%) (-) (%) Umur (tahun) < 30 1 2,86 2 5,72 3 8,58 0 30- 40 0 6 17,16 6 17,16 0 >40 1 2,86 25 71,4 18 51,48 8 22,78 Jumlah 2 5,72 33 94,28 27 77,22 8 22,78

2003 Digitized by USU digital library

12

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa didapatkan kadar IgM positif pada usia <30 tahun sebanyak 1 orang (2,86%) dan > 40 tahun sebanyak 1 orang (2,86%). Sedangkan untuk kadar IgG positif terbanyak didapatkan pada usia > 40 tahun sebanyak 18 orang (51,48%). Tabel 4. Distribusi jenis kelamin berdasarkan kadar IgM dan IgG IgM (n=35) IgG (n=35) (+) (%) (-) (%) (+) (%) (-) Jenis Kelamin Pria Wanita Jumlah

(%)

2 2

0 5,72 5,72

18 15 33

51,48 42,80 94,28

14 13 27

40,04 37,18 77,22

2 6 8

5,72 17,16 22,78

Dari tabel diatas didapati penderita wanita dengan kadar IgM positif pada 2 orang (5,72%) dan kadar IgG positif pada 13 orang (37,18%). Pada penderita pria dengan kadar IgM positif didapati 0% dan kadar IgG positif pada 14 orang (40,04%). Penderita yang diteliti pada penelitian ini juga dikelompokkan atas lamanya keluhan yaitu < 1 bulan, 1- 2 bulan dan > 2 bulan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5. Distribusi lamanya keluhan berdasarkan kadar IgM dan IgG IgM (n=35) IgG (n=35) (+) (%) (-) (%) (+) (%) (-) Keluhan : < 1 bulan 0 0 0 1-2 bulan 2,86 0 1 2,86 >2 bulan 1 2,86 33 94,28 26 74,36 8 Jumlah 2 5,72 33 94,28 27 77,22 8

(%) 0 0 22,78 22,78

Dari tabel diatas terlihat bahwa kadar IgM positif terdapat pada penderita dengan lama keluhan 1-2 bulan sebanyak 1 orang (2,86%) dan dengan lama keluhan > 2 bulan sebanyak 1 orang (2,86%) ,kadar IgG pos itif yang terbanyak adalah penderita dengan lama keluhan > 2 bulan sebanyak 26 orang (74, 36%). 4.1.2. Hasil pemeriksaan kadar IgM dan IgG Pada penelitian ini, untuk melihat ataupun memantau terhadap adanya hubungan antara klasifikasi asma dengan kadar IgM dan IgG dipakai statistik dengan uji Chi Square, yang dinilai berdasarkan nilai Cut of Index (COI) dari kadar IgM dan IgG. Tabel 6. Hubungan klasifikasi asma terhadap kadar IgM dan IgG IgM (n=35) IgG (n=35) (+) (%) (-) (%) (+) (%) ((%) ) Klasifikasi asma : Persisten Ringan 1 2,86 13 37,18 9 25,72 5 14,30 Persisten Sedang 0 8 22,78 8 22,78 1 2,86 Persisten Berat 1 2,86 12 34,32 10 28,60 2 5,72 Jumlah 2 5,714 33 94,28 27 77,14 8 22,85 6 3 7 Statistik : Uji Chi Square

2003 Digitized by USU digital library

13

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah penderita dengan kadar IgM positif didapatkan pada penderita asma persisten ringan sebanyak 1 orang ( 2,86%), persisten berat sebanyak 1 orang (2,86%). Berdasarkan statistik uji Chi Square diperoleh nilai p=0,531 (p>0,05), menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara kadar IgM dengan beratnya penyakit. Penilaian terhadap kadar IgG positif didapati pada 9 orang (25,72%) dengan persisten ringan, 8 orang (22,78%) dengan persisten sedang dan 10 orang (28,60%) dengan persisten berat. Berdasarkan statistik uji Square diperoleh nilai p=0,320 (p>0,05), menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kadar IgG dengan beratnya penyakit. Untuk selanjutnya dapat dilihat hubungan antara lamanya keluhan terhadap kadar IgM dan IgG Tabel 7. Hubungan lama keluhan terhadap kadar IgM dan IgG Lama Jumlah Kadar IgM Kadar IgG Keluhan Penderita Koefisien Nilai Koefisien Nilai (bulan) Korelasi Signifikan Korelasi Signifikan 1- 576 35 0,368 0,030 - 0,335 0,049

Statistik : Uji Spearmans rho Dari tabel diatas dengan menggunakan statistik uji Spearmans rho, untuk kadar IgM didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara lamanya keluhan dengan kadar IgM dengan koefisien korelasi yang positif dan untuk kadar IgG didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara lamanya keluhan dengan kadar IgG dengan koefisien korelasi yang negatif. 4.2. Pembahasan C. pneumoniae telah dikenal lebih dari 10 tahun yang lalu, 13 infeksi kronik dari C. pneumoniae telah dibuktikan pada saat munculnya C. pneumoniae yang menginfeksi paru, umumnya memperlihatkan adanya mengi, hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya infeksi kronik yang menyebabkan asma cenderung menjadi suatu keadaan kronik . 49 Menurut Hahn, infeksi kronik C. pneumoniae telah menunjukan penyebab timbulnya asma pada orang dewasa. 46 Walaupun diagnosis infeksi C. pneumoniae sangat sulit, masalah yang jelas dapat dipastikan adanya infeksi kronik sebagai faktor penyababnya. C. pneumoniae dengan mudah mencapai paru dan jika terjadi peradangan kronik dari Chlamydia yang menetap, dapat merupakan faktor terpenting terhadap komplikasi yang berat yang menghubungkan adanya hubungan dengan sistem sirkulasi yang lebih luas untuk tempat penyebaran. 20 Uji serologi dengan menggunakan ELISA adalah salah satu uji untuk mendiagnosis C. pneumoniae melalui serum penderita yang mana menurut R.P Verkooyen dkk menyatakan bahwa pemeriksaan dengan uji ELISA mempunyai nilai sensitifitas 87% dan spesifisitas 100%. Hasil penelitian terhadap pemantauan kadar IgM dan IgG C. pneumoniae pada penderita asma yang berobat ke poliklinik paru RSUP Haji Adam Malik Medan yang melibatkan 35 penderita asma persisten ringan, sedang, dan berat, mengalami keluhan sesak nafas, batuk berulang. Dari penelitian ini didapati seropositif C. pneumoniae pada kelompok umur 30 hingga 40 tahun sebanyak 17,16%, penderita terbanyak didapati pada usia >40 tahun dengan seropositif C. pneumoniae (54,34%). Jumlah penderita laki- laki dengan serpositif C. pneumoniae sebanyak 14 orang (40,04%) dan wanita 15 orang (42,9%). Menurut Hahn dkk, mengatakan sekitar 30% hingga 50% dari orang dewasa diseluruh dunia memiliki antibodi seropositif terhadap C. pneumoniae yang banyak didapati pada kelompok umur 30

2003 Digitized by USU digital library

14

hingga 40 tahun, 7 menurut Jeffry T, rata- rata yang terinfeksi C. pneumoniae didapati pada usia 55 tahun (22 hingga 82 tahun). 38 dan kepustakaan lainnya mengatakan jumlah laki- laki (60%- 90%) lebih banyak dari wanita. 37 Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dari penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti, namun pada penelitian ini jumlah seropositif C. pneumoniae terbanyak didapati pada wanita. Hasil penelitian hubungan antara distribusi lama keluhan dengan kadar IgM dan IgG, didapati kadar IgM positif pada penderita dengan lama keluhan 1 hingga 2 bulan hanya 1 orang (2,86%), lebih dari 2 bulan sebanyak 1 orang (2,86%). Kadar IgG positif dengan keluhan 1 hingga 2 bulan didapati pada 1 orang (2,86%) dan 26 orang (74,36%) dengan lama keluhan lebih dari 2 bulan. Penelitian Grayston dkk dikutip dari 8 sebagian kecil dari pasien didapati antibodi IgM yang dapat menetap lebih dari setahun. Dari hasil penelitian ini didapati hanya 1 orang dengan kadar IgM yang masih terdeteksi pada lamanya keluhan lebih dari 2 bulan. Pada hasil pemeriksaan kadar IgG d idapati hasil yang positif pada 1 orang dengan lamanya keluhan 1 hingga 2 bulan dimana kepustakaan yang ditulis oleh Thomas dkk mengatakan antibodi IgG tidak muncul pada infeksi primer sampai 6 hingga 8 minggu setelah serangan dan selanjutnya rendahnya titer IgG pada minggu ke 4 setelah infeksi primer, tidak menyingkirkan adanya infeksi C. pneumoniae akut. 8 Dari hasil penelitian ini tidak menyingkirkan adanya infeksi akut pada kadar IgG yang terdeteksi dari lamanya keluhan antara 1 hingga 2 bulan. Dalam kepustakaan disebutkan bahwa C. pneumoniae dapat menginfeksi manusia melalui sekret pernafasan yang penularannya secara endemik dan epidemik dari orang ke orang terutama melibatkan saluran pernafasan, 7,9,37 sehingga dapat dikatakan bahwa C. pneumoniae dapat menyerang penderita asma tanpa memandang klasifikasi dari asma dan dapat menyerang setiap orang, namun di Indonesia belum ada data yang menyatakan bahwa infeksi C. pneumoniae menyebar secara endemik dan epidemik. Hasil penelitian yang dilakukan P.J Cook dkk, tidak memperlihatkan adanya perbedaan yang bermakna antara hubungan seroprevalensi C. pneumoniae terhadap asma akut dan asma kronik. 49 Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai hubungan antara kadar IgM da IgG terhadap klasifikasi asma, dengan menggunakan uji Chi Square dapat disimpulkan bahwa tidak didapati adanya hubungan yang bermakna antara beratnya penyakit dengan kadar IgM dan IgG. Menurut F Blasi dkk, 4 1 pada infeksi primer didapati peningkatan titer IgM dimana kadar IgM tidak terdeteksi selama 2 hingga 3 bulan setelah infeksi akut, hal ini dapat diartikan bahwa ada hubungan antara peningkatan kadar IgM terhadap lamanya keluhan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian dimana berdasarkan statistik uji Spearmans rho, menyatakan nilai p=0,030 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat hubungan yang bermakna dengan korelasi positif antara peningkatan IgM dengan lamanya keluhan, sedangkan hasil penelitian dari hubungan antara lamanya keluhan terhadap kadar IgG, berdasarkan uji Spearmans rho didapati nilai p=0,049 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lamanya keluhan terhadap kadar IgG dengan koefisein korelasi negatif yang menandakan bahwa terdapatnya penurunan kadar IgG. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kabat terhadap penderita asma persisten berat dengan pemberian terapi makrolid ( Roksitromisin 2x150 mg) selama 6 minggu, terjadi penurunan yang sangat bermakna terhadap kadar IgG, neutrofil dan LED, dimana tingginya kadar IgG, LED, neutrofil menandakan adanya suatu infeksi kronik yang kemungkinan disebabkan adanya infeksi kuman. 48 Pada penelitian ini belum dapat dipastikan apakah penurunan kadar IgG didasarkan oleh karena pemberian antibiotik.

2003 Digitized by USU digital library

15

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Pada penelitian ini didapati jumlah penderita terbanyak dengan seropositif C. pneumoniae pada usia > 40 tahun adalah 54,34% dan penderita wanita 15 orang (40,04%) lebih banyak dari pria. Penderita dengan kadar IgM positif, menandakan adanya infeksi primer didapati hanya 2 orang (5,72%) dan penderita denga kadar IgG positif yang menandakan adanya infeksi kronik didapati pada 27 orang (77,22%). Tidak ada hubungan yang bermakna antara kadar IgM dan IgG terhadap klasifikasi asma dimana C. pneumoniae dapat menginfeksi manusia melalui sekret pernafasan penderita yang ditularkan dari orang ke orang sehingga memungkinkan dapat mengenai semua penderita asma. Pemantauan hubungan antara lamanya keluhan terhadap kadar IgM mempunyai hubungan yang bermakna dengan koefisein korelasi positif, menandaka n adanya peningkatan kadar IgM hingga bulan ke 2 setelah seseorang terinfeksi. Hubungan lamanya keluhan terhadap kadar IgG mempunyai koefisien korelasi yang negatif menandakan terjadinya penurunan kadar IgG, hal ini bisa dikarenakan penggunaan obat antibiotik. 5.2. Saran Perlu dilakukan pemeriksan terhadap kadar IgM dan IgG spesifik C. pneumoniae melalui uji serologi pada penderita asma yang sering mengalami eksaserbasi, hal ini dapat membantu penanganan pada penderita secara tepat. Perlu pemberian antibiotik golongan makrolid dalam jangka waktu tertentu, hal ini bertujuan untuk menghilangkan penyebab inflamasi oleh infeksi yang disebabkan C. pneumoniae. DAFTAR PUSTAKA 1. Peeling RW, Brunham RC. Chlamydia as pathogens : New spesies and new issues.Laboratory centre for disease control health. Departement of medical microbiology, Canada, 307- 319. 2. Sheffer A, Bartal M, Bousquet J et al. Global strategy for asthma management and prevention NHLBI/WHO workshop. Lenfant C, Khaltaev N, Global initiative for asthma. Na tional Heart Lung ang Blood institute, 1993 : 1- 175. 3. Barnes NC, Crompton GK. Asthma . brambilla C, Costabel U, Naeje R, Roisin RR, Stockley RA, Pulmonary disease. London McGraw- hill. 1999: 65- 82.

4. Supriyanto B, Yunus F, Pradjnaparamitha, Sundari H, Makino S. pendekatan baru dalam penatalaksanaan asma. Medi Media Asia, Jakarta ;1999:1- 6. 5. Stempel DA. Is asthma as irreversible lung disease?. Amrican college of allergy, Asthma & immunology annual meeting; 1999. http://www.medscape.com/medscape/cno/1999/ACAAI/Story.cfm?story-id=883. 6. Esposito S, Principi N. Asthma in children. Paediatric Departement I, University of Milan, Italy, Peadiatr Drugs, 2001;3(3) : 159- 168.

2003 Digitized by USU digital library

16

7. Hahn DL, Dodge RW, Golubjatnikov R. assosiation of chlamydia pneumoniae (Strain TWAR) infection with wheezing, asthma bronchitis and adult-onset asthma. JAMA, 1991, 266; 2: 225- 30 8. File TM, Tan JS. Clamydia pneumoniae Pneumonia.respiratory critical care medicine 21(4), Thieme medical, 2000:285- 294 http://www.cfs.inform.dk/Mycoplasma/clamydia.pneumonia00.html 9. Brooks GF, Butel JS, Ornston LN, Jawetz E, Melnick JL, Adelberg EA. Klamidia Setiawan I, Mikrobilogi kedokteran, ed 20. Jakarta : EGC, 1996 : 340- 50 10.mayaud C, Mangiapan G. Role of intracelluler pathogens in respiratory tract infections. Saikku P, Mayaud C. New concepts in the role of intracelluler pathogens in chronic diseases. Australia : The european society of clinical microbiology and infection diseases, 1998;4 :4 S14-22. 11.Cassel GH, Infection causes of chronic inflammatory disease and cancer, Lilly reseach laboratories, Emerging infectious diseases 4, USA 1998 ;3 : 475- 87. 12.Verkooyen RP, Willemse D, Casteren H, et al. evaluation of PCR, Culture and Serology for Diagnosis of Chlamydia pneumoniae respiratory infections, Journal of clinical microbiology. American society for microbiology, 1998 ; 36 ; 8 :2301- 7 http://www.imd-lab.com/chlampneu.htm 13.Hahn DL. Defining the relationship between c. pneumoniae and chronic asthma Journal of respirology diseases, 2000. http://www.findarticles.com/cf_0/m0BSO/9_21/66354777/print.html 14.Cook PJ, Honeybourne D. Chlamydia pneumoniae. Departement of Thoracic Medicine, Dudley Road Hospital, Birmingham, Journal of antimicrobial chemotherapy, 1994, 859- 73 15.Nannini Jr, Luis J. Morbidity and Mortality From Acute Asthma. Hall JB, Corbridge TC, Rodrigo C, Rodrigo GJ, Acute Asthma . Chicago : McGraw Hill Companies, 2000 : 11- 21. 16.Chandra G, Safiriani A. Chlamydia pneumoniae : Peranannya paa penyakit kronis (asma dan aterosklerosis). Medika, 1999;8:516- 20 17.Boushey HA. The role of infection in asthma. American Lung Association/American Thoracic Society International Conference, 1999. http ://www.medscape.com/medscape/cno/1999/ALA_ATS/Story.cfm?story_id=555 18.Kraft M. Asthma : etiology and Inflammation. Global leader in Lung, Allergic and Immune Diseases. 19.Saikku P. Diagnosis of Chlamydia pneumoniae. Saikku P, Mayaud C. New cancepts in the role of intracelluler pathogens in chronic diseases. Australia : The european society of clinical microbilogy and infection disease, 1998;4:4 S7-13

2003 Digitized by USU digital library

17

20.Fiel SB, Manggunnegoro H. Menyorot ancaman penyakit asma, 1996;2:1- 4.

Medika ;

21.Smith DH, Weiss K, Sullivan SD. Epidemiology and costs of acute asthma, Hall JB, Corbridge TC, Rodrigo C, Rodrigo GJ, Acute Asthma. London : Mc Graw- Hill, 2000:1- 9 22.WHO Fact Sheet N 206. Bronchial asthma. Revesed january 2000. 23.Widjaja A. Penatalaksanaan Asma Bronkial. Strategi penanggulangan asma mutakhir. Bali : Konker IX PDPI, 2001 : 1-10. 24.National Institute of Allergy and Infectious Diseases, National Institute of Health, Asthma and allergy statistic. Bethesda : Departement of Health and Human service, 1999 :1- 3. 25.Bauman A. Lates statistical trends. National asthma compaign. Australia. http://www.nationalasthma.org.au/cam/trends.html 26.Asthma management hand book. National asthma compaign. M elbourne, 1996 :1- 75. 27.http://www.fpnotebook.com/LUN9.html. 28.Continuing medical education. Asthma inflamtion : ani mportant role emerging for leukotrienes and cytokines. Asthma progress in Immunophysiology and epidemiology of asthma. http://www.ama-assn.org/med-sci/course/asthma/pathopsy.htm 29.Michel FB, Delooz HH. Long-term and emergency treatment of bronchial asthma. Upjohn company, 1989 : 1- 11. 30. Dianiati KS. Patogenesis asma. Mangunnegoro H, Yunus F, Patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan. PDPI dan Pharmacia, Upjohn. Jakarta , 1- 21 31.Lenfant C, Khaltaev N et al. Global strategy for asthma management and prevention NHLBI/WHO workshop. Global initiative for asthma. National Heart Lung and Blood Institute, 1995 : 1- 46 32.Zahorik KJ, Busse WW. Chronic asthma. Hall JB, Corbridge TC, Rodrigo C, Rodrigo GJ, Acute Asthma. Singapore: McGraw-Hill, 2000 : 232- 45 33.Dina HM. Infeksi dan asma. Simposium infeksi paru dan simposium penatalaksanaan kegawatan paru. Konferensi kerja VI Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Ujung Pandang : 1992 : 30- 41. 34.Mirkin G, Late-onset asthma is caused by infection. 2000 35.http://www.medicine.com/images/redbluebutton.jpg 36.Kirchner JT. Clinical characteristics of chlamydia pneumonia. American family physician, 2000.

2003 Digitized by USU digital library

18

37.Becker Y. Chlamydia 38.http://www.geocities.com/HotSpring/Oasis/5559/depelopmentalcycle.htm 39. Blasi F, Tarsia P, Arosia C, Fagetti L, Allegra L, Epidemiologi of chlamydia pneumoniae. Saikku P, Mayaud C, New concepts in the role of intracelluler pathogen in chronic diseases. Australia : The european society of clinical microbiology and infectious diseases, 1998;4 :4 S1-6. 40.CookPJ. Antimicrobial therapy for chlamydia pneumoniae :its potensial role in atheroslerosis and asthma. Journal of antimicrobial chemotherapy. The British society for antimicrobial chemotherapy, 1999:44:145- 8 41.Seaton A, Crompton G. Asthma : clinical features. Seaton A, Seaton D, 4th ed, Respiratory diseases. USA : Blackwell Science, 2000 ;2 : 922-93 42.Epidemiology of asthma and allergy http://www2.qimr.edu.au/davidD/asthma2.html 43.Hahn DL. Treatment of chla mydia pneumoniae infection in adult asthma : a before-after trial. The journal of family practice, 1995,41;4 :345- 51. 44.Rodel J, Woytas M, Groh A, Schmidt KH, Hartmann M, Lehmann et al. Production of basic fibroblast growth factor and interleukin 6 by human smooth muscle cell following infection with chlamydia pneumoniae. Infection and Immunity, American society for microbiology. 2000; 68;6 :3635- 41 45.Kabat. Perbedaan pengobatan makrolit dengan sefadroksil pada asma persisten berat. Konas VIII PDPI, Majalah PDPI, 1999;17- 21. 46.Cook PJ, Devies P, Tunnicliffe W, Ayres JG, Honeybourne D, Wisw R. Chlamydia pneumoniae and asthma. Depatement of respiratory medicine, Birmingham heartlands hospital, Thorax, 1998;53: 254-259.

2003 Digitized by USU digital library

19