Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI EKOLOGI PERAIRAN EKOSISTEM PERAIRAN TERGENANG

OLEH :

KELOMPOK 4
1. Irwan Ka Uman 2. Restu Putri Astuti 3. Prishardian Freda A. 4. Ratna Tomagola

(201010260311010) (201010260311023) (201010260311026) (201010260311030)

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN PETERNAKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2011

DAFTAR ISI
Daftar Isi .................................................................................................................i Kata Pengantar .................................................................................................................ii I. PENDAHULUAN . . II. PEMBAHASAN III. PENUTUP ... .....................................................................................

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahNya dalam pembuatan laporan resmi ekologi perairan dengan judul ekosistem perairan tergenang dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini berisi tentang kegiatan praktikum beserta pembahasan. Pada kesempaatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hany Handajani, S.Pi, M.Si selaku dosen mata kuliah ekologi perairan yang telah bersedia membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini. Selain itu kepada instruktur praktikum ekologi perairan Hariyadi, S.Pi, M.Si yang telah memberikan bimbingan pada saat pelaksanaan praktikum. Ungkapan terima kasih tak lupa kami haturkan kepada rekan rekan jurusan budidaya perairan Universitas Muhammadiyah Malang beserta semua pihak tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Tiada gading yang tak retak, tak ada yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan penulisan selanjutnya. Semoga laporan yang belum sempurna ini bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Malang, 17 November 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Ekosistem perairan air tawar dibedakan menjadi ekosistem lentik atau perairan menggenang dan ekosistem lotik atau perairan mengalir. Penelitian-penelitian badan air tawar mencakup kajian sifat-sifat fisika dan kimia air, tumbuhan serta hewan yang hidup di dalamnya serta tata cara mereka berinteraksi. Perairan tergenang meliputi danau, kolam, waduk, rawa, dan sebagainya. Danau atau situ merupakan satu dari tipe perairan darat dengan ciri utama tergenang dalam waktu tinggal yang lama, sehingga memungkinkan biota untuk hidup lebih lama dan berkembang. Perbedaan proses pembentukan dan ciri fisiknya, memungkinkan perairan ini memiliki parameter kimia yang beragam. (Lukman, 2007). Zonase perairan tergenang terbagi menjadi dua, yaitu zona benthos dan zona kolom air. Berdasarkan tingkat kesuburannya, perairan tergenang dapat dibedakan menjadi oligotrofik (miskin hara), meso. trofik (haranya sedang), eutrofik (kaya unsur hara). Melalui praktikum ini kami dapat mengetahui karakteristik suatu perairan tergenang yang sesuai dengan teori yang telah kami pelajari. Yaitu untuk mengkaji dan mengidentifikasi karakteristik perairan tergenang di Danau Universitas Muhammadiyah Malang melalui parameter fisika, kimia, dan biologi. Praktikum ini dilakukan agar teori tentang karakteristik perairan tergenang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau observasi lapang. Diharapkan agar mahasiswa program studi budidaya perairan dapat mengaplikasikan pemanfaatan danau yang berhubungan dengan budidaya perikanan dan konservasi alam.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan ekosistem perairan tergenang?
2. Apa saja faktor yang berpengaruh terhadap perairan tergenang? 3. Bagaimana dengan parameter fisika, kimia dan biologi di Danau Universitas

Muhammadiyah Malang?
4. Bagaimana peranan perairan tergenang terutama sungai di bidang budidaya perikanan?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian ekosistem perairan tergenang. 2. Untuk mengetahui dan memahami faktor yang berpengaruh terhadap perairan tergenang. 3. Untuk mengetahui parameter fisika, kimia dan biologi di Danau Universitas

Muhammadiyah Malang. 4. Untuk mengetahui peranan perairan mengalir terutama sungai di bidang budidaya perikanan. 1.4 Manfaat Manfaat yang didapat dalam praktikum ini adalah menambah wawasan tentang ekosistem perairan tergenang untuk kelangsungan kehidupan organisme perairan sehingga kita dapat mengaplikasikan hal tersebut di bidang perikanan dan konservasi alam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ekosistem Peraian Tergenang Ekosistem perairan tergenang (lentic) merupakan bagian dari habitat air tawar. Air tergenang, atau habitat lentik ( berasal dari kata lenis yang berarti tenang ) seperti danau, kolam, rawa atau pasir terapung (E. P. Odum,1996). Berdasarkan banyaknya intensitas cahaya yang masuk ke dalam danau maka danau dapat dibedakan menjadi tiga zonasi yaitu; zona litoral, zona limnetik, dan zona profundal. Zona litoral merupakan daerah perairan yang dangkal dengan penetrasi cahaya sampai ke dasar sehingga merupakan habitat dari tumbuhan air dan binatang daerah litoral. Zona limnetik adalah daerah air terbuka sampai kedalaman penetrasi dimana fotosintesis seimbang dengan respirasi, zona ini merupakan habitat dari plankton,nekton dan terkadang neuston. Zona profundal adalah daerah dasar air yang dalam yang tidak tercapai oleh sinar matahari, sehingga merupakan habitat dari bentos. Zona-zona tersebut ternyata memiliki fungsi ekologi yang amat penting dalam ekosistem danau, Zona litoral dan limnetik merupakan daerah produsen penghasil energi, sedangkan zona profundal merupakan zona daur ulang (pengurai) hewan air yang sudah mati. 2.2 Parameter Fisika 2.2.1. Kecerahan Dalam hal ini kecerahan merupakan parameter fisika yang berhubungan dengan fotosintesis karena pengaruh penetrasi cahaya yang masuk ke dalam situ. Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yangdapat mengendap, seringkali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya, bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktivitas (E. P. Odum, 1971) Banyaknya cahaya yang menembus perairan danau atau waduk dan perubahan intensitas dengan bertambahnya kedalaman memegang peran penting dalam menentukan produktivitas primer. Kedalaman cahaya yang menembus perairan biasanya diukur dengan menggunakan secchi-disk. Cahaya dalam ekosistem perairan mempunysi pengaruh sangat besar karena merupakan sumber energi untuk proses fotosintesis organisme berklorofil. Tumbuhan dan fitoplankton merupakan produsen primer dan sumber nutrisi bagi zooplankton dan hewan - hewan perairan lainnya. Cahaya juga

merupakan faktor penting dalam hubungannya dengan distribusi dan tingkah laku zooplankton. Penetrasi cahaya matahari kedalam perairan selain dipengaruhi oleh sudut datang cahaya juga dipengaruhi oleh bahan-bahan tersuspensi. Turbiditas atau kekeruhan dapat disebabkan oleh kandungan biota tersuspensi atau karena bahan organik dan materi tanah yang terlarut di dalam air. Kekeruhan ini akan menyebabkan munculnya batas-batas fotosintesis. Turbiditas atau kekeruhan dapat diukur dengan turbidimeter portable atau dengan mengukur TSS ( Total Suspended Solid ). 2.2.2. Suhu Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. Lapisan-lapisan suhu yang berbeda terdapat dalam habitat perairan. permukaan air cenderung menjadi lebih cepat panas dibanding air di bawahnya. Diantara kedua lapisan ini terdapat wilayah peralihan yang tipis yang dinamakan Termoklim. Air di atas termoklin dinamakan epilimnion, sedangkan yang lebih dingin yaitu yang berada di bawahnya disebut Hipolimnion. Dalam setiap badan air yang besar dan dalam seperti danau atau waduk, kedua lapisan suhu ini dapat berfungsi sebagai sistem-sistem yang benar-benar berbeda, sehingga sangat penting untuk menggambarkan secara hati -hati wilayah suhu ini di danau, waduk atau kolam yang besar dan dalam. Sesuai dengan anggapan bahwa setiap kajian mengenai sistem air tawar harus melibatkan pengukuran suhu pada berbagai kedalaman, untuk menentukan keberadaan termoklim. 2.2. 3 Salinitas 2.2. Parameter Kimia 2.2.1. Derajat Keasaman (pH) Derajat keasaman (pH) merupakan parameter kimia yang menunjukan salinitas atau derajat keasaman dari suatu perairan dimana biota air dapat hidup didalamnya, pH yang ideal berkisar antar 6,5-8,5. Dimana setiap organisme air memiliki toleransi pH yang berbeda. Larutan atau air dikatakan asam jika pH-nya < 7, dikatan basa jika pH-nya > 7, sedangkan jika pH-nya = 7 maka larutan tersebut dikatakan seimbang.

2.2.2 Dissolved Oxygen Menurut Satino (2011), sumber utama oksigen terlarut berasal dari atmosfer dan proses fotosintesis tumbuhan hijau. Oksigen dari udara diserap melalui difusi langsung atau agitasi permukaan air oleh angin dan arus. Jumlah oksigen yang terkandung dalam air tergantung pada struktur komunitas, suhu, konsentrasi garam terlarut, dan intensitas cahaya matahari. Dalam air tanpa gangguan vegetasi yang tebal, aktivitas fotosintesis tumbuhan menghasilkan pertambahan jumlah oksigen terlarut, yang mencapai maximum pada sore hari dan mencapai titik minimum pada pagi hari ( titik kritis bagi organisme aquatik) . Kenaikan dan penerunan konsentrasi oksigen dalam sehari dinyatakan sebagai pulsa oksigen. Oksigen berkurang dari badan air oleh adanya pernafasan biota, penguraian bahan organik, masuknya air bawah tanah yang miskin O2, adanya zat besi, dan kenaikan suhu. Gelembung gas lain melalui air juga secara efektif menghilangkan oksigen terlarut. Penurunan oksigen terbesar terjadi pada saat gabungan dari sebab-sebab tersebut terjadi secara serentak. Tumbuhan dan hewan air menunjukkan adaptasi yang luas dalam memperoleh oksigen yang diperlukan, dan untuk menyelamatkan masa kritis kekurangan oksigen. 2.2.3 Nitrat 2.2.4 Nitrit 2.2.5 Amoniak 2.2.6 Fosfat Fosfat dalam ekosistem perairan digunakan oleh phytoplankton untuk pertumbuhan. Perairan kondisi kandungan fosfat rendah, phytoplankton akan mengeluarkan enzim alkaline fosfatase yang akan mengikat fosfat bebas menjadi fosfat organik. Sumber fosfat dalam perairan menggenang dapat berasal dari sungai yang membawa fosfat dari erosi, limbah pertanian, rumah tangga dan limbah industri. Fosfat dalam ekosistem perairan tidak diperlukan dalam jumlah yang besar seperti oksigen, nitrogen maupun karbon, tetapi fosfat sering menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan plankton. Kondisi ini disebabkan karena fosfat dalam ekosistem perairan tidak pernah ditemukan dalam bentuk gas sehingga tidak ada fiksasi seperti pada nitrogen dan juga fosfat sangat reaktif membentuk ikatan yang kuat di dalam substrat. 2.4. Parameter Biologi 2.4.1. Plankton

Plankton adalah organisme yang berkuran kecil yang hidupnya terombang-ambing oleh arus. Mereka terdiri dari makhluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan (fitoplankton).Plankton terbagi menjadi Fitoplankton dan Zooplankton. Fitoplankton terdiri atas ganggang, diatom, dan dinoflagelata. Zooplankton biasanya terdiri atas rotifera, cladocera, copepoda. Menurut Nybakken (1992) zooplankton ialah hewan-hewan laut yang planktonik sedangkan fitoplankton terdiri dari tumbuhan laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesis. Plankton merupakan makanan alami larva organisme perairan. Sebagai produsen utama di perairan adalah fitoplankton, sedangkan organime konsumen adalah zooplankton, larva, ikan, udang, kepiting, dan sebagainya. Komposisi plankton berbeda antara satu habitat perairan dengan habitat perairan lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal dan juga dari musim ke musim. Variasi ini juga tergantung pada berbagai faktor antara lain: kedalaman, suhu, pH, transparasi, turbiditas, dan ketersediaan sumber nutrisi. 2.4.2. Nekton Nekton merupakan organisme yang dapat bergerak dan nerenang dengan kemauan sendiri (dengan demikian dapat menghindari jaring plankton) contohnya seperti ikan, amfibi, serangga air besar dll (E. P. Odum, 1998) 2.4.3. Neuston Organisme yang tinggal atau beristirahat di atas permukaan air, yang pergerakannya tidak di pengaruhi oleh pergerakan arus (E. P. Odum, 1998) 2.4.4. Tumbuhan Air Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan di dalam air. Yang berfungsi sebagai produsen penghasil energi. Tumbuhan air dapat dikelompokkan menjadi terrestrial plants adalah tumbuhan air yang seluruh organ tubuhnya belum tertutup oleh air, emerged plants adalah tumbuhan air yang akarnya berada dalam air dan bagian lainnya berada dipermukaan air, floating plants adalah tumbuhan air yang bagian akar dan batangnya berada dalam air , sedangkan daunnya mencuat ke permukaan air, dan submerged plants adalah tumbuhan air yang seluruh bagian tubuhnya berada dalam air (E. p. Odum, 1959)

BAB III

METODOLOGI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Parameter Fisika Kimia Biologi Perairan Tergenang Parameter Warna Fisika Suhu Kedalaman Kecerahan Tipe Substrat Kuat Arus pH Salinitas DO Nitrat Fosfat Amonium Kimia Biologi Nitrit Plankton Bentos Perifiton Nekton Neuston Unit c cm cm m/s Ppt Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Stasiun 4 Kecoklatan 25,3 34,6 21
Pasir, Kerikil, dan Batu

0,8658 7 2 Tidak ada data 75+(Warna Merah Muda) 0,75 (Warna Biru Keabu-abuan) 0 0,50 (Warna Merah Muda) Diatome (Cyclotella operculata) Terdapat kerang (Gastropoda) Tidak ada data Tidak ada Terdapat serangga air

4.2 Pembahasan 4.2.1 4.2.2 4.2.3 Parameter Fisika Paramater Biologi Paramater Kimia

(Purba,Michael.1994Dasar-dasar Kimia .Erlangga.Jakarta). (erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/ekologi-air-tawar). (Sugiarti Suwingnyo dan Majariana Krisanti, Avertebrata Air).
Satino