Anda di halaman 1dari 5

PEMBAHASAN 2.

1 Pengertian Hukum Acara Perdata Hukum acara perdata merupakan ilmu pengetahuan mengenai Hukum Formil Perdata yakni ilmu pengetahuan tentang peraturan hukum yang mengatur bagaimana cara memelihara dan mempertahankan hukum perdata materi atau peraturan yang mengatur bagaimana cara mengajukan suatu perkara perdata kepada pengadilan perdata dan bagaimana cara hakim perdata memberikan putusan. Hukum acara perdata ini merupakan ilmu pengetahuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa akademis, terutama mahasiswa yang berkecimpung dalam masalah hukum Syari ah (agama) maupun umum. Menurut Rr. Rina Antasari, SH, M.Hum, mengenai kalimat dalam kata Hukum Acara Perdata dipergunakan sebagai terjemahan asli dari bahasa belanda Burgerlijke Proses Recht sedangkan menurut Prof. Sudigno memberikan batasan yakni: Hukum Acara Perdata adalah kumpulan aturan yang mengatur bagaimana cara menjamin ditaatinya hukum perdata dengan perantara hukum. Hukum Acara Perdata adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana cara memelihara dan mempertahankan hukum perdata materil atau peraturan yang mengatur bagaimana cara mengajukan suatu perkara perdata kemuka pengadilan perdata dan bagaimana cara hakim perdata memberikan putusan (Cst, Kansil. Dkk, 2006). Hukum Acara Perdata adalah rangkaian peraturan-peraturan yang membuat bagaimana orang harus bertindak terhadap dan dimuka pengadilan dan cara bagaimana pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan hukum perdata. {Wirjono, 1982} 2.2 Sejarah Hukum Acara Perdata Berawal pada tahun 1950 pada Pasal 102 Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) Republik Indonesia menetukan tentang Hukum Acara Perdata antara lain, bahwa Hukum Acara Perdata diatur dengan Undang-Undang dalam Kitab-Kitab Hukum, kecuali jika perundang-undangan sudah menganggap perlu untuk mengatur ulang dan merubah beberapa hal yang ada didalam Undang-Undang itu tersendiri. Berhubung dengan adanya peraturan-peraturan peralihan yang berturut-turut tersebut diatas, maka untuk mengetahui

Hukum Acara Perdata yang sekarang berlaku di Indonesia, orang harus mulai meninjau kembali akan keadaan pada masa Belanda dan perubahan-perubahan yang diadakan pada masa-masa yang berikutnya sampai sekarang dan juga termasuk masa setelah terjadinya Reformasi. Pada Masa Belanda Pada masa belanda ada Raad Van Justitie dan Residentiegerecht sebagai hakim sehari-hari untuk orang-orang Eropa dan yang disamakan dengan mereka, sedang bagi orang Indonesia asli dan yang disamakan dengan mereka maka Lendraadlah yang menjadi hakim sehari-hari didampingi oleh beberapa badan-badan untuk perkara-perkara kecil seperti Pengadilan Kabupaten, Pengadilan Distrik dan lain-lain. Pada Masa Jepang Lenyapnya Raad Van Justitie dan Residentiegerecht sebagai hakim sehari-hari untuk orangorang Eropa dan yang disamakan dengan mereka maka diadakanlah sebuah pengadilan sehari-hari untuk semua orang yang termasuk didalamnya adalah bangsa Pribumi (Indonesia), Timur Asing (Arab, China, dan bangsa timur lainnya), yaitu pada Pengadilan Negeri {Tihoo Hooin} sebagai pelanjutan dari Landraad yang dahulu ada. Pada pokoknya selama masa Jepang tidak adanya perubahan dalam segi hukum terutama dalam Hukum Acara Perdata. Dan Hukum Acara Perdata yang berlaku adalah Hukum Acara Perdata buatan dari Belanda yang termuat dalam Herziene Inlandesch Reglement dan beberapa produk hukum lainnya yang itu merupakan salah satunya. Pada Masa Republik Indonesia Pada pokonya tidak ada suatu perubahan penting mengenai perihal Hukum Acara Perdata di Indonesia hal ini dikarenakan Indonesia belum bisa membuat hukum sendiri. Akan tetapi ada juga beberapa perubahan yan tejadi dalam perkembangannya yang mengenai permasalahan pernikahan yang mana pernikahan tersebut yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia yang beragama Islam diatur dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam). Selain itu juga sesuai dengan sifat dasar dari hukum yaitu

dinamis, maka Hukum Acara Perdata yang ada di Indonesia ikut juga terjadi perubahan dalam segala bidang yang ada. 2.3 Sumber Hukum Acara Perdata Di Indonesia Sumber Hukum Acara Perdata tertulis yang ada di Indonesia dimulai ada pada Tahun 1848 yakni: Reglement Op De Burgelijke Rechtvordering (BRVRV) Het Islandsch Reglement (HIR) Untuk daerah-daerah lain diluar Jawa dan Madura diadakan peraturan-peraturan tersendiri untuk tiap-tiap daerah masing-masing. Yurisprudensi Disamping itu beberapa sumber diatas ada juga yang bersumber lain yang dapat dijadikan sebagai sumber Hukum Acara Perdata yang ada di Indonesia seperti KUH Perdata, KUH Dagang, Undang-Undang No. 1 tahun 1974, beberapa Yurisprudensi, Perjanjian Internasional, Doktrin dan lain-lain. 2.4 Asas-Asas Hukum Acara Perdata Asas-asas yang digunakan dalam Hukum Acara Perdata : 1. Merupakan prinsip yang harus dilaksanakan dalam beracara 2. Hakim bersikap menunggu 3. Hakim bersifat pasif 4. Peradilan terbuka untuk umum 5. Hakim mengadili kedua belah pihak 6. Pemeriksaan dalam dua tingkat 7. Pengawasan putusan pengadilan melalui kasasi 8. Putusan hakim harus disertai alasan 9. Berperkara dikenai biaya 10. Tidak ada keharusan mewakilkan dalam beracara 11. Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa 12. Proses peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan 13. Hak menguji tidak dikenal 14. Asas objektivitas

KESIMPULAN

Hukum acara perdata merupakan suatu cara penerapan dalam melaksanakan Hukum Materil dari segi Hukum Perdata dalam menyelesaikan perkara-perkaa yang berkenaan dengan Hukum Perdata itu sendiri dan Hukum Perdata dan Hukum Acara Perdata yang ada di Indonesia telah banyak mengalami perubahan dalam hal kodifikasi hukum dalam beberapa masa dan berbagai versi. Sumber hukumnyapun juga terdapat beberapa perubahan, yang disesuaikan menurut masa diberlakukannya sumber hukum tersebut.

DAFTAR PUSTAKA CST, Kansil, dkk. 2006. Modul Hukum Perdata (termasuk asas-asas hukum perdata). Jakarta: Pradiya Paramita. Huzaimah, Arne, Jumanah, dkk. 2007. Modul Pendidikan Kemahiran Hukum. Palembang: IAIN Raden Fatah Pers. Harahap, Muhammad Yahya. SH. 2007. Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika. Makarao, Taufik. 2004. Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata. Jakarta: Rineka Cipta. Mertokusumo, Sudigno. 2002. Hukum Acara Perdata Indonesia.

Yogyakarta: Liberty. Projodikoro, Wirjono. 1982. Hukum Acara Perdata Di Indonesia. Bandung: Sumur. Sumber lain: KUHPerd. KUHAPerd. http://legalitas.org http://id.wikipedia.org http://zanikhan.multiply.com