Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Superkonduktor belakangan ini menjadi topik pembicaraan dan penelitian yang paling populer. Superkonduktor menjanjikan banyak hal bagi kita, misalnya, transmisi listrik yang efisien (tak ada lagi kehilangan energi selama transmisi). Memang saat ini penggunaan superkonduktor belum praktis, dikarenakan masalah perlunya pendinginan. Suhu kritis superkonduktor masih jauh di bawah suhu kamar. Superkonduktor adalah suatu material yang tidak memiliki hambatan di bawah suatu nilai suhu tertentu. Suatu superkonduktor dapat saja berupa suatu konduktor, semikonduktor ataupun suatu insulator pada keadaan ruang. Suhu di mana terjadi perubahan sifat konduktivitas menjadi superkonduktor disebut dengan temperatur kritis (Tc). Oleh karena itu perlu mengetahui bagaimana prinsip kerja dari bahan superkonduktor serta aplikasi dari penggunaan bahan superkonduktor terutama pada generator. 1.2 Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan yang timbul adalah sebagai berikut bagaimana prinsip kerja generator yang menggunakan prinsip bahan superkonduktor? 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memahami prinsip kerja generator yang menggunakan prinsip bahan superkonduktor.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Superkonduktor Superkonduktor pertama kali ditemukan oleh seorang fisikawan Belanda, Heike Kamerlingh Onnes, dari Universitas Leiden pada tahun 1911. Pada tanggal 10 Juli 1908, Onnes berhasil mencairkan helium dengan cara mendinginkan hingga 4 K atau 269oC. Kemudian pada tahun 1911, Onnes mulai mempelajari sifat-sifat listrik dari logam pada suhu yang sangat dingin. Pada waktu itu telah diketahui bahwa hambatan suatu logam akan turun ketika didinginkan dibawah suhu ruang, akan tetapi belum ada yang dapat mengetahui berapa batas bawah hambatan yang dicapai ketika temperatur logam mendekati 0 K atau nol mutlak. Beberapa ilmuwan pada waktu itu seperti William Kelvin memperkirakan bahwa elektron yang mengalir dalam konduktor akan berhenti ketika suhu mencapai nol mutlak. Dilain pihak, ilmuwan yang lain termasuk Onnes memperkirakan bahwa hambatan akan menghilang pada keadaan tersebut. Untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi, Onnes kemudian mengalirkan arus pada kawat merkuri yang sangat murni dan kemudian mengukur hambatannya sambil menurunkan suhunya. Pada suhu 4,2 K, Onnes mendapatkan hambatannya tiba-tiba menjadi hilang. Arus mengalir melalui kawat merkuri terus-menerus. Dengan tidak adanya hambatan, maka arus dapat mengalir tanpa kehilangan energi. Percobaan Onnes dengan mengalirkan arus pada suatu kumparan superkonduktor dalam suatu rangkaian tertutup dan kemudian mencabut sumber arusnya lalu mengukur arusnya satu tahun kemudian ternyata arus masih tetap mengalir. Fenomena ini kemudian oleh Onnes diberi nama superkondutivitas. Atas penemuannya itu, Onnes dianugerahi Nobel Fisika pada tahun 1913. 2.2 Pengertian Superkonduktor Superkonduktor merupakan bahan material yang memiliki hambatan listrik bernilai nol pada suhu yang sangat rendah. Artinya

superkonduktor dapat menghantarkan arus walaupun tanpa adanya sumber tegangan. Karakteristik dari bahan Superkonduktor adalah medan magnet dalam superkonduktor bernilai nol dan mengalami efek meissner. Resistivitas suatu bahan bernilai nol jika dibawah suhu kritisnya.

Gambar 1. Grafik hubungan antara resistivitas terhadap Suhu 2.3 Sifat Superkonduktor 2.3.1 Sifat Kelistrikan Superkonduktor Sebelum menjelaskan prinsip superkonduktor, akan lebih baik jika terlebih dahulu menjelaskan bagaimana kerja logam konduktor pada umumnya. Bahan logam tersusun dari kisi-kisi dan basis serta elektron bebas. Ketika medan listrik diberikan pada bahan, elektron akan mendapat percepatan. Medan listrik akan menghamburkan elektron ke segala arah dan menumbuk atom-atom pada kisi. Hal ini menyebabkan adanya hambatan listrik pada logam konduktor.

Gambar 2. Keadaan normal Atom Kisi pada logam Pada bahan superkonduktor terjadi juga interaksi antara elektron dengan inti atom. Namun elektron dapat melewati inti tanpa mengalami hambatan dari atom kisi. Efek ini dapat dijelaskan oleh Teori BCS. Ketika elektron melewati kisi, inti yang bermuatan positif menarik elektron yang bermuatan negatif dan mengakibatkan elektron bergetar.

Gambar 3. Keadaan Superkonduktor Atom Kisi pada logam Jika ada dua buah elektron yang melewati kisi, elektron kedua akan mendekati elektron pertama karena gaya tarik dari inti atom-atom kisi lebih besar. Gaya ini melebihi gaya tolak-menolak antar elektron sehingga kedua elektron bergerak berpasangan. Pasangan ini disebut Cooper Pairs. Efek ini dapat dijelaskan dengan istilah Phonons. Ketika elektron pertama pada Cooper Pairs melewati inti atom kisi. Elektron yang mendekati inti atom kisi akan bergetar dan memancarkan Phonon. Sedangkan elektron lainnya menyerap Phonon. Pertukaran Phonon ini mengakibatkan gaya tarik menarik antar elektron. Pasangan elektron ini akan melalu kisi tanpa gangguan dengan kata lain tanpa hambatan. 2.3.2 Sifat Kemagnetan Superkonduktor Sifat lain dari superkonduktor yaitu bersifat diamagnetisme sempurna. Jika sebuah superkonduktor ditempatkan pada medan magnet, maka tidak akan ada medan magnet dalam superkonduktor. Hal ini terjadi karena superkonduktor menghasilkan medan magnet dalam bahan yang berlawanan arah dengan medan magnet luar yang diberikan. Efek yang sama dapat diamati jika medan magnet diberikan pada bahan dalam suhu normal kemudian didinginkan sampai menjadi superkonduktor. Pada suhu kritis, medan magnet akan ditolak. Efek ini dinamakan Efek Meissner.

Gambar 4. Diamagnetik Sempurna 2.3.3 Sifat Quantum Superkonduktor Teori dasar Quantum untuk superkonduktor dirumuskan melalui tulisan Bardeen, Cooper dan Schriefer pada tahun 1957. Teori dinamakan teori BCS. Ini adalah bentuk lain dari pasangan partikel yang mungkin dengan Teori BCS. Teori BCS menjelaskan bahwa : a. Interaksi tarik menarik antara elektron dapat menyebabkan keadaan dasar terpisah dengan keadaan tereksitasi oleh energi gap. b. Interaksi antara elektron, elektron dan kisi menyebabkan adanya energi gap yang diamati. Mekanisme interaksi yang tidak langsung ini terjadi ketika satu elektron berinteraksi dengan kisi dan merusaknya. Elektron kedua memanfaatkan keuntungan dari deformasi kisi. Kedua elektron ini beronteraksi melalui deformasi kisi. c. London Penetration Depth merupakan konsekuensi dari Teori BCS. d. Teori BCS memprediksi suhu kritis 2.4 Efek Meissner Ketika superkonduktor ditempatkan di medan magnet luar yang lemah, medan magnet akan menembus superkonduktor pada jarak yang sangat kecil dan dinamakan London Penetration Depth. Pada bahan superkonduktor umumnya London Penetration Depth sekitar 100 nm. Setelah itu medan magnet bernilai nol. Peristiwa ini dinamakan Efek Meissner dan merupakan karakteristik dari superkonduktor. Efek Meissner adalah efek dimana superkonduktor menghasilkan medan magnet. Efek Meissner ini sangat kuat sehingga sebuah magnet dapat melayang karena ditolak oleh superkonduktor. Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar. Apabila medan magnetnya terlalu besar, maka efek

Meissner

ini

akan

hilang

dan

material

akan

kehilangan

sifat

superkonduktivitasnya.

Gambar 5. Efek Meissner

Gambar 6. London Penetration Depth 2.5 Suhu dan Medan Magnet Kritis Suhu kritis adalah suhu yang membatasi antara sifat konduktor dan superkonduktor. Jika suhu suatu bahan dinaikan, maka getaran electron akan bertambah sehingga banyak Phonons yang dipancarkan. Ketika mencapai suhu kritis tertentu, maka Phonons akan memecahkan Cooper Pairs dan bahan kembali ke keadaan normal. Contoh grafik Hambatan terhadap suhu pada bahan YBa2Cu3O7 sebagai berikut,

Gambar 7. Grafik Hambatan terhadap Suhu Medan magnet kritis adalah batas kuatnya medan magnet sehingga bahan superkonduktor memiliki medan magnet. Jika medan magnet yang diberikan pada bahan superkonduktor, maka bahan superkonduktor tak akan mengalami efek meissner lagi.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Generator Sinkron Generator sinkron (sering disebut alternator) adalah mesin sinkron yang digunakan untuk mengubah daya mekanik menjadi daya listrik. Generator sinkron dapat berupa generator sinkron tiga fasa atau generator sinkron AC satu fasa tergantung dari kebutuhan. 3.1.1 Konstruksi Generator Sinkron Pada generator sinkron, arus DC diterapkan pada lilitan rotor untuk mengahasilkan mdan magnet rotor. Rotor generator diputar oleh prime mover menghasilkan medan magnet berputar pada mesin. Medan magnet putar ini menginduksi tegangan tiga fasa pada kumparan stator generator. Rotor pada generator sinkron pada dasarnya adalah sebuah elektromagnet yang besar. Kutub medan magnet rotor dapat berupa salient (kutub sepatu) dan dan non salient (rotor silinder). Gambaran bentuk kutup sepatu generator sinkron diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 8 Rotor salient (kutub sepatu) pada generator sinkron Pada kutub salient, kutub magnet menonjol keluar dari permukaan rotor sedangkan pada kutub non salient, konstruksi kutub magnet rata dengan permukaan rotor. Rotor silinder umumnya digunakan untuk rotor dua kutub dan empat kutub, sedangkan rotor kutub sepatu digunakan untuk rotor dengan empat atau lebih kutub. Pemilihan konstruksi rotor tergantung dari kecepatan putar prime mover, frekuensi dan rating daya generator. Generator dengan kecepatan 1500 rpm ke atas pada frekuensi 50 Hz dan rating daya sekitar 10MVA menggunakan

rotor silinder. Sementara untuk daya dibawah 10 MVA dan kecepatan rendah maka digunakan rotor kutub sepatu. Gambaran bentuk kutup silinder generator sinkron diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 9 Gambaran bentuk (a) rotor Non-salient (rotor silinder), (b) penampang rotor pada generator sinkron Arus DC disuplai ke rangkaian medan rotor dengan dua cara: 1. Menyuplai daya DC ke rangkaian dari sumber DC eksternal dengan sarana slip ring dan sikat. 2. Menyuplai daya DC dari sumber DC khusus yang ditempelkan langsung pada batang rotor generator sinkron. 3.1.2 Prinsip Kerja Generator Sinkron Jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan magnet homogen, maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan tersebut. Medan magnet bisa dihasilkan oleh kumparan yang dialiri arus DC atau oleh magnet tetap. Pada mesin tipe ini medan magnet diletakkan pada stator (disebut generator kutub eksternal / external pole generator) yang mana energi listrik dibangkitkan pada kumparan rotor. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan pada slip ring dan karbon sikat, sehingga menimbulkan permasalahan pada pembangkitan daya tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini, digunakan tipe generator dengan kutub internal (internal pole generator), yang mana medan magnet dibangkitkan oleh kutub rotor dan tegangan AC dibangkitkan pada rangkaian stator. Tegangan yang dihasilkan akan sinusoidal jika rapat fluks magnet pada celah udara terdistribusi sinusoidal dan rotor diputar pada kecepatan konstan. Tegangan AC tiga fasa dibangkitan pada mesin sinkron kutub internal pada tiga kumparan stator yang diset

sedemikian rupa sehingga membentuk beda fasa dengan sudut 120. Bentuk gambaran sederhana hubungan kumparan 3-fasa dengan tegangan yang dibangkitkan diperlilhatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 10 Gambaran kumparan 3-fasa dan tegangan yang dibangkitkan Pada rotor kutub sepatu, fluks terdistribusi sinusoidal didapatkan dengan mendesain bentuk sepatu kutub. Sedangkan pada rotor silinder, kumparan rotor disusun secara khusus untuk mendapatkan fluks terdistribusi secara sinusoidal. Untuk tipe generator dengan kutub internal (internal pole generator), suplai DC yang dihubungkan ke kumparan rotor melalui slip ring dan sikat untuk menghasilkan medan magnet merupakan eksitasi daya rendah. Jika rotor menggunakan magnet permanen, maka tidak slip ring dan sikat karbon tidak begitu diperlukan. 3.2 Elektromagnet dari Bahan Superkonduktor Elektromagnetika merupakan penggabungan listrik dan magnet. Sewaktu mengalirkan listrik pada sebuah kawat dapat diciptakan medan magnet. Listrik dan magnet benar-benar tidak terpisahkan kecuali dalam superkonduktor tipe I yang menunjukkan Efek Meissner (bahan superkonduktor dapat meniadakan medan magnet sampai pada batas tertentu). Ini bisa dibuktikan dengan cara meletakkan kompas di dekat kawat tersebut. Jarum penunjuk pada kompas akan bergerak karena kompas mendeteksi adanya medan magnet. Elektromagnetika sudah banyak dimanfaatkan dalam membuat mesin motor, kaset, video, speaker (alat pengeras suara), dan sebagainya.

10

Gambar 11. Elektromagnet David Goodwin dari Office of High Energy and Nuclear Physics di Amerika adalah orang yang mengusulkan ide electromagnetic propulsion ini. Jika dialirkan listrik pada magnet yang super dingin tersebut dapat diamati terjadinya getaran (vibration) selama beberapa nanodetik (1 nanodetik = 10-9 detik) sebelum magnet itu menjadi superkonduktor. Menurut Goodwin, walaupun getaran ini terjadi hanya selama beberapa nanodetik saja, tetap dapat memanfaatkan keadaan unsteady state (belum tercapainya keadaan tunak) ini. Jika getaran-getaran yang tercipta ini dapat diarahkan ke satu arah yang sama maka akan didapat kekuatan yang cukup untuk melempar sebuah pesawat ruang angkasa. Kekuatan ini tidak hanya cukup untuk melempar secara asal-asalan, tetapi justru pesawat ruang angkasa bisa mencapai jarak maksimum yang lebih jauh dengan kecepatan yang lebih tinggi dari segala macam pesawat yang menggunakan propellant. Untuk menerangkan idenya, Goodwin menggunakan kumparan kawat (solenoid) yang disusun dari kawat magnet superkonduktor yang dililitkan pada batang logam berbentuk silinder (Gambar 11). Kawat magnetik yang digunakan adalah logam paduan niobium dan timah. Elektromagnet ini menjadi bahan superkonduktor setelah didinginkan menggunakan helium cair sampai temperatur 4 K (-269oC). Pelat logam di bawah solenoida berfungsi untuk memperkuat getaran yang tercipta. Supaya terjadi getaran dengan frekuensi 400.000 Hz, perlu diciptakan kondisi asimetri pada medan magnet. Pelat logam (bisa terbuat dari bahan logam aluminium atau tembaga) yang sudah diberi tegangan ini diletakkan secara terpisah (isolated) dari sistem solenoida supaya

11

tercipta kondisi asimetri. Selama beberapa mikrodetik sebelum magnet mulai berosilasi ke arah yang berlawanan, listrik yang ada di pelat logam harus dihilangkan. Tantangan utama yang masih harus diatasi adalah teknik untuk mengarahkan getaran-getaran yang terbentuk pada kondisi unsteady ini supaya semuanya bergerak pada satu arah yang sama. 3.3 Generator Superkonduktor Superkonduktor akan menolak medan magnet. Sebagaimana diketahui, apabila suatu konduktor digerakkan dalam medan magnet, suatu arus induksi akan mengalir dalam konduktor tersebut. Prinsip inilah yang kemudian diterapkan dalam generator. Akan tetapi, dalam superkonduktor arus yang dihasilkan tepat berlawanan dengan medan tersebut sehingga medan tersebut tidak dapat menembus material superkonduktor tersebut. Hal ini akan menyebabkan magnet tersebut ditolak. Fenomena ini dikenal dengan istilah diamagnetisme dan efek ini kemudian dikenal dengan efek Meissner. Penggunaan superkonduktor yang sangat luas tentu saja dibidang listrik. Generator yang dibuat dari superkonduktor memiliki efisiensi sebesar sekitar 99% dan ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan generator yang menggunakan kawat tembaga. Penggunaan Superkonduktor Suhu Tinggi (HTS) teknologi, generator dapat memberikan yang cepat, dukungan daya reaktif. generator HTS membantu untuk menjaga jaringan listrik berjalan lancar dalam menghadapi pola baru arus listrik yang dibawa oleh deregulasi pembangkit listrik di seluruh dunia. Generator mengubah energi input rotasi mekanik, seperti yang dari turbin uap atau gas, menjadi listrik. Hal ini dengan memutar bidang rotor, yang menghasilkan tegangan pada konduktor armature stasioner. Bidang generator dapat diproduksi dengan gulungan tembaga atau magnet permanen. Dalam mesin besar, pertimbangan mekanis dan keinginan untuk bervariasi tingkat lapangan yang dihasilkan biasanya mendukung penggunaan gulungan tembaga lebih dari magnet permanen.

12

Manfaat dari generator HTS Meningkatkan efisiensi mesin mencapai 99%, mengurangi kerugian sebanyak 50% dari generator konvensional Penyimpan Energi Mengurangi polusi per unit energi yang dihasilkan Turunkan biaya siklus hidup Enhanced grid stabilitas Mengurangi biaya modal Mengurangi biaya instalasi

Keuntungan Generator HTS yaitu Efisiensi Generator kehilangan daya dalam gulungan rotor dan di bar dinamo. Dengan menggunakan kawat superkonduktor untuk belitan bidang, kerugian ini bisa dibilang dihilangkan. Bidang diciptakan pada dinamo oleh rotor tidak dibatasi oleh karakteristik kejenuhan besi dan armatures dibangun tanpa gigi besi. Ini menghapus kerugian yang dialami pada gigi dinamo. Ruang ditambahkan untuk tembaga di dinamo dimungkinkan pemindahan gigi dinamo lebih lanjut untuk mengurangi kerugian. Generator HTS akan menghasilkan tenaga listrik dengan kerugian lebih rendah dari generator konvensional setara mereka. Sebuah 1.000 MW generator superkonduktor (ukuran khas di power plant) dapat menyimpan sebanyak $ 4 juta per tahun dalam mengurangi kerugian per generator. Bahkan peningkatan efisiensi kecil menghasilkan penghematan dolar besar. Setengah dari satu persen perbaikan menyediakan utilitas atau IPP dengan kapasitas tambahan untuk dijual dengan nilai terkait hampir $ 300.000 per 100 generator MVA. Permintaan di seluruh dunia untuk generasi listrik tambahan yang semakin meningkat. Pusat Informasi Energi Nasional memprakirakan bahwa dunia akan membutuhkan 500.000 MW dari kapasitas pembangkitan listrik tambahan selama sepuluh tahun mendatang. Sebuah generator HTS merupakan 1 / 3 volume keseluruhan generator konvensional setara. Misalnya, dalam pembangkit listrik di

13

mana ekspansi sulit (misal: kapal atau kekuasaan lokomotif), generator superkonduktor dapat meningkatkan kapasitas pembangkit tanpa menggunakan ruang tambahan. Lebih kecil, ringan HTS generator menggunakan desain "udara inti", menghilangkan banyak baja struktural dan magnetik setara konvensional. Konstruksi, pengiriman, dan instalasi semua disederhanakan dan lebih murah. Keuntungan utama dari generator HTS diturunkan reaktansi dinamo. Manfaat ini sangat dapat berdampak pertimbangan stabilitas utilitas. Salah satu implikasi adalah pengurangan jumlah cadangan berputar (kapasitas pembangkitan tidak terpakai tapi berputar) yang diperlukan untuk memastikan sistem tenaga stabil secara keseluruhan. Manfaat lain adalah bahwa generator HTS memiliki kemampuan yang signifikan untuk koreksi faktor daya tanpa menambahkan reaktor sinkron atau kapasitor pada sistem tenaga.

Gambar 12 Generator Superkonduktor

14

BAB IV KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan analisis di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Aplikasi dari superkonduktor antara lain digunakan dalam bidang kelistrikan yaitu generator dan kabel transmisi listrik, bidang transportasi yaitu kereta maglev, bidang komputer yaitu superkomputer 2. Superkonduktor akan menolak medan magnet. Sebagaimana diketahui, apabila suatu konduktor digerakkan dalam medan magnet, suatu arus induksi akan mengalir dalam konduktor tersebut. Prinsip inilah yang kemudian diterapkan dalam generator.

15

DAFTAR PUSTAKA http://archive.kaskus.us/thread/4044212 diakses pada tanggal 6 Mei 2011 http://www.forumsains.com/fisika/superkonduktor/?wap2 diakses pada tanggal 6 Mei 2011 http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1987/04/11/ILT/mbm.198 70411.ILT31181.id.html diakses pada tanggal 6 Mei 2011 http://www.infosuperkonduktor.co.cc/2011/05/sejarah-danaplikasi.html diakses pada tanggal 6 Mei 2011 http://bemteunnes.wordpress.com/2008/04/12/speed-drop/ diakses pada tanggal 6 Mei 2011