Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

MANAGEMENT AUTISME

Oleh : R Chandra Selandia Pembimbing : Dr.Tjipta Bahtera, Sp.A (K)

SUB.BAGIAN NEUROLOGI ANAK LABORATORIUM ILMU KESEHATAN ANAK FK UNDIP / RSUP Dr. KARIADI SEMARANG 2006

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas rahmat dan karuniaNya sehingga referat dengan judul Management Autisme dapat kami selesaikan. Referat ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi selama stase di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pada kesempatan ini tak lupa kami sampaikan terima kasih kepada : 1. Yang terhormat Dr. Budi Santoso, Sp.A (K), selaku Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang, yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan kepada kami untuk stase di bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP. 2. Yang terhormat Dr. Hendriani Selina, Sp.A (K), MARS, selaku Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang, yang telah memberikan bimbingan selama kami stase di bagian Ilmu Kesehatan Anak FK. UNDIP. 3. Yang terhormat Dr. Tjipta Bahtera, Sp.A (K), selaku pembimbing dalam penulisan referat ini, yang telah banyak memberikan arahan hingga selesainya referat ini, serta bimbingan selama kami stase di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang. 4. Seluruh staff di bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang, yang telah banyak memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan di bidang Ilmu Kesehatan Anak. 5. Seluruh sejawat Residen dan paramedis di bagian Ilmu Kesehatan Anak atas penerimaan dan kerja sama yang baik selama kami stase di bagian ini. Akhir kata penulis berharap semoga referat ini dapat menambah manfaat pengetahuan bagi kita semua. Kami menyadari tulisan ini jauh dari sempurna, sehingga saran dan kritik yang diberikan merupakan kehormatan bagi kami. Semarang, Juli 2006 Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................

ii

DAFTAR ISI ................................................................................................................. iii BAB I. BAB II. PENDAHULUAN ........................................................................................ AUTISME .................................................................................................... 1 3 3 4 5 7

II.1. DEFINISI ..................................................................................................... II.2. PREVALENSI ............................................................................................. II.3. ETIOLOGI ................................................................................................... BAB III. MANAGEMENT AUTISME .....................................................................

III.1. NON MEDIKAMENTOSA ....................................................................... 7 III.2. MEDIKAMENTOSA ................................................................................. 15 BAB IV. PENUTUP .................................................................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 19

BAB I PENDAHULUAN Autisme adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan perkembangan pervasive pada anak, yang mengakibatkan gangguan pada bidang bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.1 Dewasa ini terdapat kecenderungan peningkatan kasus-kasus autisme pada anak (autisme infantil). Umumnya keluhan utama yang disampaikan oleh orang tua adalah keterlambatan bicara, perilaku aneh dan acuh tak acuh, atau cemas apakah anaknya tuli.2 Mencoba memahami anak yang mengidap autisme berarti harus membayangkan anak yang terisolir dari dunianya. Anak yang tidak bisa membentuk ikatan emosional dengan orang-orang disekitarnya, sehingga tampak beda, aneh dan seakan terasing. Walau gejala autisme sangat beragam, namun kebanyakan dari mereka tidak mampu untuk mengerti apa yang dipikirkan, dirasakan dan diinginkan orang lain. Bahkan seringkali karena kecerdasan dan kemampuan bahasanya tidak berkembang sempurna, maka komunikasi dan hubungan sosialnya menjadi semakin sulit. Disamping itu tanda yang cukup menonjol adalah umumnya mereka melakukan aktivitas yang berulang-ulang (obsesif, stereotipik) seperti bicara dengan kalimat yang diulang-ulang, gerakan seperti menepuk-nepuk, memukul-mukul, bahkan kadang membenturkan kepalanya ke tembok.2 Gangguan ini ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Autisme terdapat pada semua negara di dunia, serta tidak memandang ras, etnis, agama maupun latar belakang sosial ekonomi.1,2 Secara global prevalensinya berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan pengidap autisme laki-laki lebih banyak dibandingkan wanita ( 4 kalinya). Pada wanita seringkali lebih berat dan ditemukan adanya riwayat keluarga dengan gangguan kognitif. Dalam klasifikasi penyakit, gangguan ini termasuk kelompok PPD (Pervasive Developmental Disorders) dan Autistic Spectum Disorders. Di Indonesia belum ada angka yang tepat mengenai angka kejadian autisme.3 Banyak penyandang autisme terutama yang ringan tidak terdiagnosis atau bahkan mendapat diagnosis yang salah. Hal

ini tentu saja merugikan anak tersebut. Di sisi lain, ada kekuatiran bahwa terjadi overdiagnosis dari autisme.4 Autisme bukanlah gangguan fungsional semata, namun didasari oleh gangguan organik dalam perkembangan otak.2 Beberapa studi mengemukakan terjadi gangguan neurobiologik yang meliputi tanda dan gejala neurologik yang samar, adanya perubahan neurokimiawi, kelainan neuroanatomi, faktor genetik dan kemungkinan berhubungan dengan beberapa penyakit atau keadaan seperti fenilketonuria, rubella, tuberosklerosis, sindroma Fragile-X dan sindroma Rett. Namun penyebab spesifik dari autisme pada 9095% adalah tidak diketahui.1 Sehingga penanganan maupun riset autisme ini melibatkan banyak bidang, baik kedokteran, pendidikan, psikologi, sosial dan sebagainya.2

BAB II AUTISME II.1. DEFINISI Autisme adalah gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup bidang sosial dan afek, komunikasi verbal dan non-verbal, imajinasi, fleksibilitas, lingkup interest (minat), kognisi dan atensi, ini merupakan suatu kelainan dengan ciri perkembangan yang terlambat atau yang abnormal dari hubungan sosial dan bahasa.1,2 Autisme secara tipikal ditandai sebagai bagian dari kelompok gangguan yang terdiri dari sindrom Asperger (AS) dan gangguan menetap / pervasive developmental disorders (PDD) lainnya. AS dibedakan dari gangguan autistik oleh keterlambatan yang bermakna secara klinik dalam perkembangan bahasa (1 kata pada umur 2 tahun), selain gejala-gejala kegagalan interaksi sosial dan tingkah laku, perhatian/aktifitas yang terbatas dan berulang yang menandai autism-spectrum disorders (ASDs). PDD digunakan untuk mengkategorikan anak-anak yang kriterianya kurang sesuai untuk autisme tetapi mereka sangat mendekati diagnosis autisme dengan 2-3 gejala autisme. Autisme infantil (autisme pada masa anak-anak) adalah PDD yang awitannya muncul sebelum umur 3036 bulan dan kegagalan pada interaksi sosial dan komunikasi berhubungan dengan pola tingkah laku yang terbatas, berulang (repetisi) dan stereotipi.5 Adapun gangguan-gangguan yang timbul pada penderita autisme dapat meliputi berbagai bidang, diantaranya:4 1. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non verbal. Terlambat bicara atau tidak dapat bicara. Mengeluarkan kata-kata yang tak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet. Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. Meniru (ekolalia) tanpa mengerti artinya. Kadang bicaranya monoton seperti robot dan mimik datar. 2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial. Menolak atau menghindar untuk bertatap mata.

Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering dikira mengalami ketulian. Merasa tidak senang bila dipeluk. Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang. Bila menginginkan sesuatu maka ia menarik lengan orang yang terdekat dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya. Bila didekati untuk bermain justru menjauh. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. 3. Gangguan dalam bidang perilaku dan bermain. Umumnya seperti tidak mengerti cara bermain. Anak dapat terlihat hiperaktif (tidak bisa diam, melompat, berputar), sehingga sering salah diagnosis dengan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Kadang anak terlalu diam (duduk diam dengan tatapan mata yang kosong). 4. Gangguan dalam bidang perasaan/emosi. Tidak ada atau kurangnya rasa empati. Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab yang nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan, bahkan bisa menjadi agresif dan destruktif. 5. Gangguan dalam persepsi sensoris. Mencium-cium, menggigit atau menjilat mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga. Tidak menyukai rabaan atau pelukan. Bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan. Merasa sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan tertentu. II.2. PREVALENSI Autisme terdapat pada semua negara di dunia, serta tidak memandang ras, etnis, agama, maupun latar belakang sosial ekonomi.2 Secara global prevalensinya berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan pengidap autisme laki-laki lebih banyak dibandingkan wanita (lebih kurang 4 kalinya). Pada wanita seringkali lebih berat dan ditemukan adanya

riwayat keluarga dengan gangguan kognitif. Di Indonesia belum ada angka yang tepat mengenai angka kejadian autisme.3 II.3. ETIOLOGI Autisme bukanlah gangguan fungsional semata, namun didasari oleh gangguan organik dalam perkembangan otak.2 penyebab spesifik dari autisme pada 90-95% adalah tidak diketahui.1 Sehingga penanganan maupun riset autisme ini melibatkan banyak bidang, baik kedokteran, pendidikan, psikologi, sosial dan sebagainya.2 Ada beberapa bukti yang sudah terkumpul untuk mendukung penyebab autisme:6 1. Faktor psikodinamik dan keluarga. 2. Kelainan organik-neurologik-biologik. 3. Faktor genetik. 4. Faktor imunologik. 5. Faktor perinatal. 6. Faktor neuroanatomi. 7. Faktor biokimia. Secara umum autisme disebabkan adanya gangguan perkembangan neurobiologik yang mengakibatkan adanya gangguan struktur maupun fungsi otak. Beberapa bagian otak yang diduga terlibat dalam autisme adalah amigdala, yaitu pusat pengendalian emosional terhadap rangsangan dari luar dan hipokampus yang penting dalam fungsi memori. sel-sel saraf yang terdapat di amigdala ditemukan bentuknya kecil, abnormal dan tampak lebih padat dibanding sel normal. Dari hasil penelitian juga ditemukan adanya sirkulasi darah yang lebih lambat pada beberapa bagian lapisan luar otak (korteks), dan menurunnya jumlah sel yang bertugas meneruskan sinyal-sinyal penghambat ferakan tubuh yang berpusat di otak kecil (serebelum) ke korteks. Dengan foto MRI didapat gambaran pengisutan (hipoplasi) serebelum dan sisterna limbik. Tandatanda ini mengarahkan para ahli pada suatu hipotesis, bahwa awal terjadinya autisme infantil adalah sebelum lahir.7 Akhir-akhir ini ditemukan bahwa pada otak penderita autisme, secara makroskopis ukuran otaknya lebih besar dibanding normal. Dicurigai pembesaran ini karena kegagalan proses perampingan/pemangkasan sel-sel saraf (apoptosis) yang tidak

diperlukan lagi pada saat perkembangan otak berlangsung. Jawaban yang lebih pasti dan rinci atas pertanyaan dimana dan bagaimana bentuk gangguan otak anak autisme sampai sekarang belumlah ada.7 Pada pemeriksaan menggunakan PET ditemukan penurunan sintesis 5-HT di korteks dan thalamus. Namun di plasma maupun di platelet ditemukan peningkatan kadar serotonin yang bisa mencapai 25%. Diperkirakan bahwa gangguan metabolisme serotonin sangat berperan dalam patologi autisme. Menurunkan triptofan dengan menginhibisi pengambilan kembali 5-HT adalah salah satu usaha untuk memperbaiki simptom autisme.3 Peningkatan opioid endogen ada kaitannya dengan perilaku melukai sendiri dan ini akan berkontribusi ke simptom lain dari autisme melalui serotoninergik dan aksis hypothalamic-pituitary adrenal (HPA) secara tidak langsung sehingga terjadi sekresi proopiomelanokortin, kortisol dan oksitosin. Defisiensi melatonin menyebabkan gangguan tidur.3

BAB III MANAGEMENT AUTISME Pengelolaan anak dengan autisme infantil memerlukan pendekatan lintas sektoral, agar anak bisa berkembang optimal dan hidup mandiri.1 Yang perlu ditekankan bahwa tidak ada satu metode pun yang dewasa ini dapat menyembuhkan autisme, namun hanya mengembangkan potensi dasar anak le arah yang optimal.2 Penyembuhan seorang anak dimulai dengan diagnosa dini yang tepat. Diagnosa yang salah akan sangat merugikan anak tersebut, oleh karena dengan tatalaksana yang tidak tepat anak tak akan mendapatkan kemajuan yang diinginkan. Setelah seorang anak terdiagnosa dengan autisme, maka secepat mungkin harus dilakukan intervensi dini. Sangatlah penting bahwa anak mendapatkan stimulasi semaksimal mungkin dan keluar dari dunianya. Kemudian dilakukan assessment yang lengkap pada anak tersebut untuk mengetahui taraf gangguan perkembangan yang dideritanya, untuk kemudian mendapatkan terapi sesuai kebutuhannya.8 Secara garis besar penanganan autisme dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut: III.1. NON MEDIKAMENTOSA III.1.1. TERAPI PERKEMBANGAN / INTERVENSI DINI Para ahli menemukan bahwa anak autisme paling baik belajar pada lingkungan yang mengembangkan minat dan ketrampilan mereka dengan cara merujuk kebutuhankebutuhan mereka, berupa intervensi yang konsisten dan terstruktur sesuai tingkat perkembangan anak.1,2 Hal-hal yang esensial antara lain metode pembelajaran yang terstruktur untuk memberikan perhatian terhadap stimuli lingkungan, orang lain, imitation motorik dan verbal, penggunaan bahasa, bagaimana cara bermain dengan mainan dan cara berinteraksi sosial dengan yang lain. 1 Aktivitas latihan fisik di kelompok membantu mereka untuk mengembangkan keseimbangan tubuh, koordinasi dan ketrampilan motorik. Pada saat istirahat (snack time), pelatih mendorong interaksi sosial

anak, misalnya dengan mengembangkan model penggunaan bahasa bagaimana cara minta tambahan snack, dan sebagainya. Jadwal yang konsisten membuat anak autisme dapat merencanakan aktivitas harian mereka berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh.2 Diperlukan perhatian yang optimal dari para pelatih, perbandingan antara pelatih dengan penyandang autisme yang diharapkan adalah 1:2 atau 1:1.1,8 III.1.2. TERAPI PERILAKU Gangguan perilaku pada autisme biasanya merupakan satu gejala yang membuat orangtua menyadari bahwa anaknya berbeda perkembangannya dengan anak lain seusianya. Selain hiperaktivitas, impulsivitas, gerakan stereotiik, cara bermain yang tidak sama dengan anak lain, juga adanya agresivitas, temper tantrum dan perilaku yang cenderung melukai diri sendiri. Kondisi ini sangat menguras tenaga maupun psikis orangorang disekitarnya.10 Pendekatan perilaku bertujuan untuk mengurangi stereotipi, kekakuan, agresifitas dan self injury behaviour. Terapi perilaku ini juga disesuaikan untuk masing-masing anak sesuai dengan gangguannya.1 Apapun metodenya sebaiknya sesegera dan seintensif mungkin, Sebaiknya memang dilakukan terpadu dengan terapi-terapi lain, apabila terdapat perilaku yang sulit dikendalikan, mungkin intervensi medikamentosa diperlukan terlebih dahulu, agar anak dapat diberi terapi yang lain.10 X Bila seseorang mendapat reward yang menyenangkan atas apa yang dilakukannya (aktifitas atau perilaku tertentu), maka akan cenderung untuk mengulangi atau melanjutkan perilaku / aktifitas tersebut. Dasar inilah yang dikembangkan menjadi suatu metode terapi oleh Dr. O. Ivar Lovaas sejak 28 tahun silam. Metode tersebut bercirikan sangat intensif dalam waktu, terstruktur dan melalui tahap-tahap ulangan dimana anak diberikan suatu perintah dan senantiasa mendapat reward bila mengerjakannya dengan benar. Metode ini dapat diterapkan dalam toilet training pada anak dengan autisme2 Untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan diatas, kita harus mencapai tujuan antara, yaitu berbagai kemampuan perilaku yang terdiri dari:9 Komunikasi dua arah secara aktif, artinya anak harus mampu memulai suatu topik pembicaraan lebih dahulu secara aktif. Sosialisasi ke dalam setiap lingkungan, dimulai dengan lingkungan keluarga dan

teman-temannya. Menghilangkan atau meminimalkan perilaku autistiknya. Kemampuan (pre)akademik, sesuai dengan perkembangan umur dan kecerdasan (IQ)nya. Kemampuan bantu diri (bina diri) yang memadai, sehingga mampu merawat diri sendiri secara mandiri. Untuk mencapai tujuan antara ini, dengan sendirinya setiap anak harus mampu menguasai kemampuan-kemampuan perilaku dasar, seperti: kepatuhan, kontak mata, menirukan, bahasa reseptif (kognitif) dan bahasa ekspresif. Dengan memiliki kemampuan-kemampuan dasar dari perilaku ini, diharapkan anak akan lebih mudah dan lancar menerima pelatihan perilaku yang semakin kompleks.9 III.1.3. TERAPI WICARA Keterlambatan dan abnormalitas dalam berbahasa dan berbicara merupakan keluhan yang sering diajukan para orangtua, hampir 100% mengalami hal ini. Komunikasi non verbal juga mengalami gangguan, sering tidak dapat menggunakan gerakan tubuh dalam berkomunikasi, seperti menggeleng, mengangguk, menunjuk, melambai dan mengangkat alis.10 Intervensi dalam bentuk terapi wicara perlu dilakukan, seperti diketahui bahwa tidak semua individu dengan autisme akan dapat berkomunikasi dengan cara verbal, sekitar 25-10% kemungkinan tetap non verbal. Terapi wicara yang diberikan pada individu dengan autisme berbeda dengan gangguan lain, sehingga diperlukan pengetahuan yang baik mengenai ciri-ciri bicara dan berbahasa anak autistik. Terapi ini harus diberikan sejak dini dan dengan intensif, bersama dengan terapi-terapi yang lain.10 III.1.4. TERAPI EDUKASI Hambatan pada individu dengan autisme terutama pada interaksi sosialnya. Hal ini akan berlanjut bila tidak segera ditangani pada usia sekolah, anak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, bersosialisasi dengan lingkungan barunya (teman, guru). Oleh karena itu sebaiknya anak sesegera mungkin dikenalkan dengan lingkungannya.10

Intervensi dalam berbagai bentuk pelatihan ketrampilan sosial, ketrampilan sehari-hari agar anak jadi mandiri (self care). Berbagai metode pengajaran telah diuji cobakan pada gangguan ini. Antara lain metode TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children). Dikembangkan oleh Eric Schopler pada awal tahun 1970an, merupakan suatu sistem pendidikan khusus untuk anak dengan autisme, di School of Psychiatry at the University of North Carolina in Chapel Hill. Metode ini merupakan suatu program yang sangat terstruktur yang mengintegrasikan metode klasikal yang individual, metode pengajaran yang sistematik, terjadwal dan dalam ruang kelas yang ditata secara khusus.10 III.1.5. TERAPI OKUPASI Ketrampilan motorik pada individu dengan autisme sering terganggu, baik motorik kasar maupun halus. Diperlukan intervensi terapi okupasi / fisik agar individu dengan autisme dapat melakukan gerakan, memegang, menggunting, menulis, melompat dengan terkontrol dan teratur sesuai kebutuhan saat itu.10 III.1.6. AIT (Auditory Integration Training) Banyak individu dengan autisme mengalami hipersensitivitas terhadap suara dan mengganggu pendengaran mereka, Mereka sering tampak menutup telinga dengan kedua tangan bila mendengar nada suara tertentu, yang untuk orang lain tidak menimbulkan masalah. Suara-suara tersebut dapat sedemikian menyakitkan, sehingga mereka dapat berteriak, menjerit tiba-tiba, tetapi setelah suara-suara tersebut hilang, mereka kembali biasa seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Contoh: suara pengering rambut, mesin cuci, penyedot debu, mixer, bahkan suara microwave.10 Pada intervensi AIT awalnya ditentukan suara yang mengganggu pendengaran dengan perangkat audiometer. Lalu diikuti dengan seri terapi yang memperdengarkan suara-suara yang direkam, tapi tidak disertai dengan suara yang menyakitkan. Selanjutnya dilakukan desensitisasi terhadap suara-suara yang menyakitkan tersebut.10 Berbagai jenis terapi lain telah dicoba dan dikembangkan seperti: holding therapy, brain gym, visual therapy, aversive therapy, dan lain-lain. Yang patut diingat

adalah semua terapi pada dasarnya adalah baik, namun harus dipertimbangkan sesuai atau tidak sesuai dengan si anak.10 III.1.7. INTERVENSI KELUARGA Yang dimaksud keluarga disini bisa hanya keluarga inti (ayah + ibu, ayah atau ibu saja + anak-anak), namun dapat pula ditambah dengan anggota keluarga lain yang memiliki pengaruh pada pengasuhan seorang anak, bisa kakek atau nenek, paman atau bibi, dan lainnya.10 Pada dasarnya anak hidup dalam keluarga, perlu bantuan keluarga baik perlindungan, pengasuhan, pendidikan maupun dorongan untuk dapat tercapainya perkembangan yang optimal dari seoang anak, mandiri dan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. Untuk itu dibutuhkan keluarga yang dapat berinteraksi positif satu sama lain (antar anggota keluarga) dan saling mendukung. Oleh karena itu pengolahan keuarga dalam kaitannya dengan manajemen terapi menjadi sangat pentin, tanpa dukungan keluarga rasanya sulit sekali kita dapat melaksanakan terapi apapun pada individu dengan autisme.10 III.1.8. PERBAIKAN METABOLISME Gangguan pencernaan harus diperbaiki dengan menyeimbangkan lagi flora usus, dengan membasmi jamur atau kuman patologis yang ditemukan pada pemeriksaan feses. Kemudian sangat penting untuk memberi tambahan lacyobacillus untuk mencegah tumbuhnya jamur secara berlebihan. Multiple food allergi harus diperbaiki dengan diet yang ketat, hindari makan yang menyebabkan alergi pada anak tersebut.8 III.1.9. TERAPI DIET Anak-anak autisme pada umumnya menderita multiple food allergy. Hal ini akan terungkap bila dilakukan pemeriksaan darah untuk comprehensive food allergy. Protein dari susu sapi (casein) dan gandum (gluten) adalah rangkaian asam amino yang sulit dicerna. Bila pencernaan anak sempurna maka casein maupun gluten akan dilepas seluruh rantainya sehingga terjadilah asam amino yang kemudian diserap oleh tubuh guna pertumbuhan. Namun bila pencernaan tidak sempurna, maka rantai tersebut tak

lepas seluruhnya. Masih ada rantai pendek, 2 atau 3 asam amino yang bergandengan yang disebut peptide.8 Sebagiaan dari peptide masuk aliran darah, kemudian dikeluarkan dengan urin, namun sebagian masuk ke otak, menembus sawar otak. Di otak peptide tersebut disergap oleh opioid-receptor dan kemidian berfungsi seperti morphin. Hal ini mempengaruhi aspek perilaku, atensi, kognisi dan sensoris anak. Oleh karena itu tidak ada salahnya untuk tidak mengkonsumsi susu sapi dan tepung terigu. Anak dibiasakan makanan yang lebih sehat dan variatif sehingga kebutuhan gizi tetap terpenuhi.8 III.1.10. DETOKSIFIKASI LOGAM BERAT Logam berat yang neurotoksik dengan kadar yang tinggi seperti Hg dan Pb, harus dikeluarkan dengan cara detoksifikasi. Bila logam berat itu tidak dikeluarkan, maka kerusakan sel-sel otak akan teruis berlanjut. Sebelum melakukan detoksifikasi, seluruh metabolisme tubuh harus diperbaiki dahulu, terutama keadaan traktus gastrointestinal. Jenis detoks yang dilakukan sebaiknya yang tidak menimbulkan trauma pada anak dan dengan efek samping yang minimal, yaitu dengan dikonsumsi per oral saja. Lamanya detoks tergantung dari kadar keracunan si anak. Bila kadar keracunan berat maka bisa sampai 2 tahun lamanya.8 Di Indonesia hal ini sudah mulai dilakukan, namun baru beberapa bulan terakhir saja. Dimana pengeluaran logam berat yang dilakukan masih dalam taraf pengeluaran logam yang dalam tubuh sehingga belum bisa dilihat benar kemajuan yang dicapai pada anak. Pada taraf detoks berikutnya baru dikeluarkan logam berat dari otak. Menurut laporan di Amerika, detoks mempunyai efek yang sangat dramatis, terutama pada anakanak yang timbulnya gejala autisme dipacu oleh keracunan logam berat.8 III.1.11. TERAPI SENSORI INTEGRASI Terapi sensori integrasi adalah pengorganisasian informasi melalui sensorisensori (sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan gravitasinya, penciuman, pengecapan, penglihatan dan pendengaran) yang sangat berguna untuk menghasilkan respons yang bermakna.11

Terapi sensori integrasi seperti yang dianjurkan oleh DR. Ayres, dilakukan dalam ruang terapi khusus. Dalam ruangan tersebut tersedia berbagai alat yang dapat memfasilitasikan aktifitas-aktifitas yang akan memberi masukan input-input sensorik, mendukung terjadinya respons adaptif dan memperbaiki fungsi batang otak dan talamus.10 Setiap anak memiliki masalah yang berbeda sehingga aktivitas yang diberikan pun berbeda dari anak yang satu dengan lainnya. Pemberian aktivitas disesuaikan dengan kondisi anak yang bersangkutan. Pada pendekatan sensori integrasi, okupasi terapi harus bekerja berdasarkan urutan perkembangan, stabilitas digunakan srbagai dasar untuk meningkatkan mobilitas. Urutan yang harus diikuti adalah:11 1. Kemampuan untuk mempertahankan dalam posisi awal. 2. Meningkatkan stabilitas pada posisi yang telah dicapai. 3. Kemampuan untuk bergerak dari posisi gerakan lurus. 4. Integrasi gerakan yang telah dikuasai dengan gerakan rotasi. Terapi sensori integrasi dapat memperbaiki fungsi otak anak-anak dengan autisme, sehingga perilaku anak-anak tersebut jadi membaik dan lebih adaptif. Setelah terapi sensori integrasi ini berhasil, anak dapat memproses berbagai informasi sensorik yang kompleks dengan lebih baik. Maka anak akan mampu menyimak dan merespons usaha orang tua atau pengasuhnya untuk melakukan interaksi sosial dan selanjutnya membantu perkembangan emosi dan kognitifnya. Tentu saja hal-hal tersebut akan memberikan pengaruh yang besar bagi kemampuan anak untuk melakukan berbagai aktifitas sehari-hari.10 Masalah regulasi seperti pola tidur, pola makan dan eliminasi, biasanya paling dahulu berkurang pada bulan-bulan pertama terapi. Perbaikan dalam fungsi yang mendasar ini seringkali diikuti dengan perbaikan kesahatan anak secara keseluruhan dan anak tampil lebih cerah, nada ekspresi muka jadi lebih bervariasi dan anak lebih terbuka untuk diajak berinteraksi; meskipun pada mulanya hanya berupa interaksi singkat pada tahap non verbal. Kemajuan dalam dorogan untuk melakukan interaksi ini biasanya mulai terlihat pada munculnya joint attention. Maka anak jadi lebih mudah diajari, karena menarik perhatian si anak menjadi lebih mudah.10

III.1.12. SNOEZELEN Snoezelen adalah sebuah aktivitas yang dirancang untuk mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP) melalui pemberian stimuli yang cukup pada sistem sensori primer seperti penglihatan, pendengaran, peraba, perasa lidah dan pembau, juga pada sistem sensori internal seperti vestibular dan proprioseptif dalam rangka mencapai maksud relaksasi atau aktivasi pada seseorang dengan tujuan memperbaiki kualitas hidupnya. Kondisi untuk mencapai sesi snozolen yang optimum:12 The right fundamental attitude. Anak yang akan melakukan aktivitas, sedangkan terapis melakukan aktivitas, mengobservasi dan memberikan arahan (bukan memaksa). The right guidance. Terapis bersikap respek dan memberikan dorongan atau membesarkan hati atau semangat anak. The right atmosphere. Menciptakan suasana yang cocok dengan kebutuhan anak. Offering stimuli in a selective way. Menciptakan stimuli yang aman dan menghilangkan stimuli yang kontradiksi dengan kebutuhan anak. The right direction. Durasi bergantung pada reaksi anak di ruang snoezelen. Repetition. Diperbolehkan bagi anak mengulang aktivitas dengan objek yang sama. The possibility to determine the speed. Anak memiliki waktu yang cukup untuk mengindetifikasi stimuli yang berbeda. III.1.13. OLAH MUSIK Aktivitas utama anak-anak pada umumnya adalah bermain. Lingkungan dan suasana yang menyenangkan dan familiar digunakan sebagai pendekatan yang mudah diterima oleh anak, yaitu menggabungkan kegiatan bermain dengan berolah musik.13 Dalam hal ini musik diperkenalkan melalui lagu atau bunyi, sehingga merangsang kemampuan pendengaran dan kemampuan verbal dengan menirukan lagu bunyi yang

diperdengarkan. Selanjutnya, anak mendapatkan stimulasi untuk melakukan gerakan sesuai dengan irama lagu (melatih koordinasi tubuh). Suasana musikal yang dihasilkan dapat membantu terciptanya komunikasi dan interaksi sosial.13 III.1.14. TERAPI OROFARING Pada penderita autisme organ sensoris tidak mampu melakukan proses registrasi dan modulasi informasi sensoris pada tahapan yang nyaman untuk anak. Anak ini akan belajar melalui informasi yang tidak terorganisir. Umpan balik sensoris tidak adekuat, membentuk lingkaran misinformasi yang akan mempengaruhi proses belajar oromotor, menghasilkan gerakan primitif dan kadangkala abnormal.14 Problem oromotor yang disebabkan oleh gangguan sensory processing hanyalah salah satu masalah yang dihadapi oleh penderita autisme, selain masalah defisit kognitif, komunikasi, sosial dan tingkah laku. Sehingga penanganan problem oromotor dapat dipisahkan dan harus terintegrasi dengan penanganan autisme secara keseluruhan. Tujuan penatalaksanaan problem oromotor adalah mempertahankan nutrisi peroral secara optimal, menghasilkan respon perilaku adaptif yang lebih fleksibel, terorganisir, terampil dan produktif. Kemampuan menghasilkan respon adaptif merupakan tanda independensi terhadap perubahan lingkungan.14 Ada berbagai pendekatan terapi yang dapat diaplikasikan, diantaranya: Metode Farber (1982), Moris dan Klein (1987), Ayres (1989), Glass dan Wolf (1992). Apapun jenis terapi yang akan diberikan hendaknya didasari pada pemahaman yang mendalam terhadap ilmu neuroanatomi dan neurofisiologi.14 III.2. TERAPI MEDIKAMENTOSA Obat hanyalah terapi pendamping, bukan yang utama. Perlu dinyatakan bahwa belum ada obat yang dapat menyembuhkan autisme.7,15 Obat dibutuhkan hanya untuk membantu mengatasi masalah-masalah yang timbul yang tidak dapat diatasi dengan metoda non obat, seperti hiperaktivitas, agresivitas, menyakiti diri dan insomnia.8 Atau bila metoda intervensi non obat dikombinasikan dengan obat, diharapkan intervensinya dapat maksimal.7 Obat-obat yang sering dipakai adalah: III.2.1. STIMULAN15,16

Inatensi mungkin merupakan satu gejala yang mengganggu proses belajar. Harus dibedakan antara inatensi yang merupakan bagian dari gejala autisme dengan inatensi sebagai gejala gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Deksamfetamin dan Levoamfetamin. Metilfenidat. Dapat meningkatkan atensi dan mengurangi distraktibilitas. Dosis: 0,3 mg/kg. III.2.2. AGONIS RESEPTOR ALPHA ADRENERGIK10,15 Agonis reseptor alpha adrenergik (Klonidin) dilaporkan dapat menurunkan agresivitas, temper tantrum, impulsivitas dan hiperaktivitas. Mulai dengan dosis rendah: 0,025-0,05 mg 2 kali/hari dinaikkan secara bertaap sampai dosis maksimum 0,3-0,6 mg/hari dalam 3-4 kali/hari. III.2.3. BETA ADRENERGIK BLOCKER10,15 Beta adrenergik blocker (Propanolol) dipakai dalam mengatasi agresivitas terutama yang disertai dengan agitasi dan anxietas. Dosis: 1-5 mg/kg/hari atau lebih. III.2.4. POTENT LONG ACTING OPIOID ANTAGONIST10,15 Potent long acting opioid antagonist (Naltrekson) memiliki potensi untuk mengatasi perilaku melukai diri sendiri dan ritual, dosis: 0,5-2 mg/kg/hari. III.2.5. SPESIFIK SEROTONIN REUPTAKE INHIBITOR (SSRI)7,10,13 SSRI digunakan untuk mengatasi perilaku stereotipik seperti perilaku yang melukai diri sendiri, resisten terhadap perubahan hal-hal rutin, ritual obsesif dengan anxietas yang tinggi. Pemberian SSRI dimulai dari dosis terkecil dan secara bertahap dinaikkan sampai mencapai dosis terapeutik. Fluoxetine. Fluvoksamin.

III.2.6. NEUROLEPTIK7,10,15,16 Neuroleptik tipikal potensi rendah (Thioridazine). Dapat menurunkan agreivitas dan agitasi. Dosis: 0,5-3 mh/kg/hari, dibagi dalam 2-3 kali/hari. Neuroleptik tipikal potensi tinggi (Haloperidol dan Pimozide). Dalam dosis kecil: 0,25-3 mg/hari, dapat menurunkan agresivitas, hiperaktivitas, iritabilitas dan stereotipik. Neuroleptik atipikal (Risperidon). Bila digunakan dalam dosis yang direkomendasikan: 0,5-3 mg/hari dibagi dalam 2-3 kali/hari, dapat dinaikkan 0,25 mg setiap 3-5 hari sampai dosis inisial tercapai 1-2 mg/hari dalam 4-6 minggu, akan tampak perbaikan pada hubungan sosial, atensi dan gejala obsesif. III.2.7. ANTI EPILEPSI7 Anti epilepsi (Asam valproat) digunakan bila penderita autisme mengalami epilepsi (1/3 kasus autisme mengidap epilepsi). III.2.8. NOOTROPIK7 Nootropik (Pirasetam) digunakan untuk memperbaiki gangguan perkembangan bahasa, karena terbukti obat ini mampu memperbaiki fungsi hemisfer kiri otak.

BAB IV PENUTUP Pemahaman mengenai etiologi, diagnosis dan penatalaksanaan autisme pada anak-anak selalu berubah secara dramatis sejak 2 dekade terakhir. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa diagnosis dini autisme merupakan hal penting yang akan mempengaruhi outcome dari penatalaksanaan autisme. Pada individu dengan autisme diperlukan bantuan manajemen terapi yang komprehensif dan terpadu antar disiplin ilmu yang terkait, agar dapat tercapai target terapi seperti yang diharapkan. Mengingat masing-masing individu dengan autisme adalah unik, tidak ada yang sama satu dengan yang lain (kembar sekalipun), maka pendekatan manajemen terapi yang diberikan juga sebaiknya disesuaikan dengan masingmasing kondisi anak. Dukungan keluarga sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan terapi. Sebaiknya tidak menunda pemberian terapi, sedini mungkin, agar anak dapat menerima yang sesuai dan adekuat sehingga dapat berkembang seoptimal mungkin. Tidak ada kata terlambat, lebih baik terlambat daripada tidak diterapi sama sekali.

DAFTAR PUSTAKA
1. Rahmawati D. Gangguan Berbahasa dan Bicara Pada Anak Dengan Autisme Infantil: Kumpulan Makalah Simposium Neuropediatri The Child Who Does Not Speak. Penerbit FK Undip Semarang, 2002: 15-23. 2. Hartono B. Aspek Medik Autisme Infantil. Media Medika Indonesiana, Vol.33, No.4, Penerbit FK Undip Semarang, 1998: 209-213. 3. Purba JS. Patogenesis Autisme Menuju Tatalaksana Holistik dan Terintegrasi. Dalam: Penatalaksanaan Holistik Autisme. Jakarta. 2000: 321-325. 4. Hardiono P. Autisme: Bagaimana Mengenal dan Menegakkan Diagnosis. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2002: 47-62. 5. Faradz SMH. Genetic Evaluation of Autism with Special Reference to Fragile-X Syndrome. Dalam: Konferensi Nasional Autisme I. Jakarta. 2003: 8-14. 6. Edi TMSO. Diagnosis Dini Autisme. Dalam: Penatalaksanaan Holistik Autisme. Jakarta. 2000: 9-12. 7. Hartono B, Rahmawati D, Muhartomo H. Masalah-Masalah Neurobehaviour pada Infantil. Dalam: Seminar dan Workshop on Fragile-X, Mental Retardation, Autism and Related Disorders. Semarang. 2002: 104-112. 8. Budhiman M. Penanganan Autisme Secara Komprehensif. Dalam: Seminar dan Workshop on Fragile-X, Mental Retardation, Autism and Related disorders. Semarang. 2002: 46-60. 9. Handojo Y. Manajemen Tata Laksana Terapi Perilaku Anak Dengan Kebutuhan Khusus (Autisme). Dalam: Penatalaksanaan Holistik Autisme. Kongres Nasional Autisme Indonesia Pertama. Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. 2003: 153-163. 10. Widyawati I. Manajemen Multidisplin Pada Individu Autisme. Dalam: Konferensi Nasional Autisme I. Jakarta. 2003: 61-66.

11. Setiyono A. Terapi Sensori Terintegrasi. Dalam: Penatalaksanaan Holistik Autisme. Kongres Nasional Autisme Indonesia Pertama. Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. 2003: 35-41. 12. Gunadi T. Snoezelen. Dalam: Penatalaksanaan Holistik Autisme. Kongres Nasional Autisme Indonesia Pertama. Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. 2003: 43-51. 13. Setyowatie FFS. Olah Musik Bagi Anak Dengan Kebutuhan Khusus (Autisme). Dalam: Penatalaksanaan Holistik Autisme. Kongres Nasional Autisme Indonesia Pertama. Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. 2003: 185-203. 14. Wahyuni LK. Penatalaksanaan Problem Oromotor Pada Autisme. Dalam: Penatalaksanaan Holistik Autisme. Kongres Nasional Autisme Indonesia Pertama. Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. 2003: 43-51. 15. Bryson SE, Rogers SJ, Fombonne E. Autism : Early Detection, Intervention, Education, and Psychopharmacological Management. Can J Psychiatry, Vol 48, No 8, September 2003 : 506-514. 16. Supargo A. Farmakoterapi Pada Autisme. Dalam: Penatalaksanaan Holistik Autisme. Kongres Nasional Autisme Indonesia Pertama. Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. 2003: 43-51.