Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Secara umum harimau Sumatra dapat preferensi habitatnya mempunyai tiga kebutuhan dasar yaitu hewan mangsa yang cukup, sumber air ( Sunquist dan sunquist, 1989 ) dan tutupan vegetasi yang rapat ( Lyman et al, 2000 ). Sriyanto dan Rutiati ( 1997 ) menambahkan bahwa penurunan populasi hewan mangsa merupakan salah satu faktor yang mengancam kelangsungan hidup harimau Sumatra. Kajian tentang keanekaragaman satwa mangsa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua rangkaian kegiatan dalam upaya penyelamatan keberadaan harimau sumatera untuk jangka panjang kestabilan keberadaan harimau liar di habitatnya ( Sriyanto dan Rustiati,1997 ). Satwa mangsa merupakan salah satu kebutuhan utama harimau sumatera yang sangat menentukan kelestariannya. Sebagai kanivora sejati, harimau secara keseluruhan menggantungkan hidupnya pada keberadaan satwa mangsa sebagai sumber pakannya ( Kitchener, 1991 dalam Sriyanto, 2003 ) Ketersediaan satwa mangsa yang cukup di dalam habitatnya adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi agar satwa ini dapat terus hidup dan berkembang biak dengan baik. Harimau sumatera memiliki cukup bayak pilihan satwa mangsa untuk memenuhi kebutuhannya akan mangsa. Spesies kucing besar ini dapat memangsa seperti babi hutan, kijang, rusa, landak, monyet, maupun kancil. Akan tetapi, Schaller ( 1967 ) mengungkapkan pada dasarnya harimau memiliki kecendrungan terhadap jenis satwa mangsa tertentu sebagai makanan utamanya. Sebelum tahun 1990, Sumatera merupakan kawasan yang ditutupi oleh hutan primer dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Hingga saat ini, walaupun harimau kepadatan populasinya rendah, tetapi cukup terbesar disepanjang pulau sumatera. Kurang dari seperempat abad kemudian, sebagai hasil dari konservasi hutan primer menjadi lahan pertanian distribusi harimau menjadi terpecah dan hewan mangsa menyusut. Faktor penyebab penurunan

populasi harimau dan satwa mangsa yaitu kehilangan habitat yang menyebabkan mereka hidup terpencar - pencar dan terisolasi. Salah satu komponen penting habitat yaitu satwa mangsa harimau. Faktor lainnya yaitu perburuan liar, baik perburuan terhadap harimau maupun satwa mangsanya, pembukaan hutan untuk pemukiman dan perkebunan. Perkembangan populasi manusia semakin

mempersempit habitat hariamu dan jenis satwa mangsa, mengurangi hewan mangsanya maupun harimau itu sendiri. Hutan dan padang rumput mulai menghilang, menyusut dan terpencar pencar, populasi ungulata berkurang dengan cepat, baik dalam jumlah kelompoknya maupun penyebaranya. Harimau ditemukan pada delapan propinsi yang ada di sumatera, walaupun daerah yang memilii populasi paling tinggi adalah Sumatera Utara dan Lampung ( Santiapilai dan Ramono, 1993 ). Untuk mengatasi dan mengurangi laju penurunan keanekaragaman satwa mangsa harimau tergantung pada pelestarian hutan, dimana hariamu dapat bertahan hidup dan berkembangbiak di wilayah wilayah yang terdapat banyak mangsanya ( Seidensticker et al, 1999 ). Untuk itu diperlukan strategi yang jelas dan terpadu dalam konservasi harimau Sumatera di habitatnya. Untuk menunjang strategi tersebut salah satunya diperlukan data aktual mengenai kelimpahan satwa mangsa harimau Sumatera di TNKS. Kelimpahan satwa sebagai mangsa harimau Sumatera dapat diketahui dengan menginventariskan satwa mangsa harimau baik melalui perjumpaan langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan data yang akurat sehingga dapat mengetahui jenis, jumlah dan penyebaran satwa sebagai mangsa harimau Sumatera di Pesisir Selatan dan Solok Selatan Sumatra Barat, TNKS dan sekitarnya.

B. Tujuan Prakter kerja lapangan ini bertujuan untuk mengetahui keanakaragaman satwa mangsa harimau Sumatera yang meliputi jenis, jumlah dan penyebaran keanekaragaman satwa mangsa harimau Sumatera di Pesisir Selatan dan Solok Selatan Sumatra Barat TNKS dan sekitarnya.

C. Manfaat Manfaatnya yang diharapkan dari praktek kerja lapangan ini adalah adanya data dan informasi aktual mengenai keanekaragaman satwa mangsa harimau Sumatera di Pesisir Selatan dan Solok Selatan Sumatra Barat TNKS dan sekitarnya. Sehingga diketahui jenis mangsa, jumlah dan keanekaragaman satwa sebagai mangsa harimau Sumatera. Data tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam strategi konservasi keanekaragaman satwa mangsa harimau Sumatera di Pesisir Selatan dan Solok Selatan Sumatra Barat TNKS dan sekitarnya.

D. Ruang Lingkup Objek kerja praktek lapangan yang diambil adalah satwa mangsa harimau Sumatera di TNKS dan sekitarnya. Aspek yang diamati adalah mengenai keanekaragaman satwa harimau Sumatra. Untuk mengetahui jenis satwa sebagai mangsa harimau Sumatera diperlukan data jenis dan jumlah satwa sebagai mangsa harimau Sumatera yang diperoleh dari perjumpaan langsung maupun tidak langsung sehingga dapat diketahui keanekaragaman satwa sebagai mangsa

harimau di Pesisir Selatan dan Solok Selatan Sumatra Barat TNKS dan sekitarnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Keanekaragaman satwa mangsa harimau

Keluarga kucing besar merupakan karnivora spesialis yang cenderung menangkap mangsa dengan rata-rata kurang lebih empat jenis ( Kitchener, 1991 ). Beberapa dari kelompok ini merupakan hewan oportunis dalam preferensi hewan mangsa yang disukainya, dan ukuran maksimum hewan mangsanya berhubungan dengan ukuran tubuhnya. Total jumlah mangsa yang dimakan kucing besar lebih kurang seperlima berat tubuhnya ( Schaller, 1967 ) Kitchener ( 1991 ) menyatakan bahwa harimau Sumatera memangsa berbagai macam spesies hewan apapun yang dapat ditangkapnya termasuk burung, reptil, amfibi, ikan bahkan hewan invertebrata. Akan tetapi mamalia khususnya hewan ungulata merupakan penyusun terbesar dalam komposisi jenis pakan harimau. Griffith ( 1997 ) melaporkan bahwa hewan mangsa potensial yang disukai oleh harimau di Taman Nasional Gunung Leuser adalah rusa sambar,

babi hutan, muntjak, dan landak. Pada ketinggian di atas 600 meter, sebagian besar mangsa harimau adalah kijang dan kadang-kadang kambing hutan ( Seidensticker et al, 1999 )

B. Hubungan Antara Satwa Mangsa dan Harimau

Kepadatan populasi harimau di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh kualitas habitat dan ketersediaan satwa mangsa harimau tersebut. Kepadatan satwa mangsa merupakan faktor signifikan dalam menentukan ukuran teritori harimau betina, dan kondisi ini selanjutnya akan menentukan kepadatan populasi harimau secara keseluruhan ( Sherpa dan Makey, 1998 ). Sunquist ( 1981 ) dalam Seidensticker et al ( 1999 ) mengungkapkan bahwa penyusutan mangsa akan mengakibatkan semakin menurunnya tingkat keberhasilan berburu seekor harimau, pembuangan energi yang lebih besar untuk

setiap pembunuhan oleh harimau, serta adanya pergerakan harimau yang lebih luas. Akibat ekologis ini akan menyebabkan gizi yang lebih rendah, persaingan intraspesifik dalam pembunuhan harimau serta berkurangnya perhatian terhadap anak harimau. Oleh sebab itu penyusutan mangsa harimau kemungkinan besar mempengaruhi daya tahan hidup harimau dalam semua tahap demografis. Seekor harimau yang memiliki tiga ekor anak harus membunuh 60-70 ekor mangsa ungulata di lingkungan hidupnya setiap tahun untuk dapat terus membesarkan anak-anaknya. Kepadatan mangsa yang lebih rendah jelas akan menekan daya tahan anak harimau. Harimau dan satwa mangsa memiliki hubungan yang dinamis dalam aktivitas memangsa dan dimangsa dalam rantai makanan di dalam ekosistem hutan. Sebagian besar kebutuhan makan harimau Sumatera diperoleh dari cervidae berukuran besar. Harimau betina dewasa membutuhkan daging 17082562 kg pertahun untuk hidup. Hal ini berarti seekor harimau betina dewasa dapat membunuh 122-183 ekor kijang setiap tahunnya. Adanya jenis satwa mangsa lain seperti babi hutan dan rusa dapat memungkinkan terjadinya perkembangbiakan rusa secara berkala ( Seidensticker et al, 1999). Hasil penelitian dari Karanth (1991) menunjukkan bahwa penyusutan satwa mangsa memiliki efek kuat terhadap dinamika populasi harimau. Oleh karena itu, penyusutan mangsa mungkin menjadi faktor utama menyusutnya populasi harimau liar. Potensi untuk mempertahankan populasi harimau yang kecil tetapi produktif tergantung terutama pada usaha mempertahankan kepadatan mangsa yang tinggi. Ungulata besar yang merupakan mangsa utama harimau memiliki kepadatan populasi yang tinggi pada hutan tropis yang sering diganggu oleh manusia. Oleh karena itu penyusutan habitat secara fisik bukanlah kendala bagi pemulihan populasi harimau di sebagian besar wilayah (Schaller, 1967 ; Sunquist, 1981 ; Seidensticker & McDougal, 1993; Karanth & Sunquist, 1995 ) Pengurangan jumlah satwa mangsa merupakan faktor penting yang menentukan kelangsungan hidup populasi harimau, namun faktor ini sering dilupakan oleh para ahli pelestarian hingga saat ini ( Karanth dan Stith, 1999 ). Hal ini terjadi karena beberapa alasan, pertama efek pengurangan jumlah satwa mangsa nyaris tidak kentara, tidak seperti perburuan harimau dan musnahnya

habitat secara drastis; kedua, penurunan kepadatan satwa mangsa tidak dirasakan karena tidak ada survey tentang kepadatan satwa mangsa yang dilakukan secara rutin. Kitchener ( 1991 ) juga melaporkan bahwa kajian jenis pakan dari kucing besar di hutan tropis yang ada telah sedikit, bahkan preferensi pakan sangat jarang diketahui khususnya pakan Harimau Sumatera. Satwa mangsa Harimau Sumatera belum dikaji secara mendalam. Diduga jenis-jenis satwa mangsa mempengaruhi dinamika dan ekologi Harimau Sumatera di area yang bersangkutan.

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah dan Status Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) pertama kali diusulkan menjadi taman nasional melalui Ketetapan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/x/1982, tanggal 10 Oktober 1982 dengan luas sekitar 1.480.000 ha. TNKS ditetapkan sebagai salah satu calon taman nasional bertepatan dengan kongres taman nasional sedunia III di Bali. TNKS merupakan gabungan kelompok hutan yang ada terutama hutan lindung, cagar alam, dan suaka margasatwa. Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dinyatakan secara resmi sebagai taman nasional pada tahun 1992. Kemudian menteri kehutanan dan perkebunan menetapkan luas taman nasional ini dengan SK No. 192/Kpts-II/1996 dengan luas sebesar lebih dari 1.368.000 ha. Setelah penataan batas, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 901/Kpts-II/1999 luas TNKS menjadi 1.375.349,867 ha. Sesuai dengan UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan ekosistemnya, alas an utama penetapan kawasan hutan sebagai Taman Nasional adalah untuk melindungi

keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya. Kawasan hutan TNKS sangat kaya akan biodiversity, pentingnya TNKS telah diakui di dunia internasional dengan ditetapkannya TNKS sebagai situs warisan ASEAN (ASEAN Heritage Site) pada tahun 1991. Pada awal 2004, TNKS, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sudah ditetapkan menjadi salah satu Cluster World Heritage Site. Pada tahun 2005, berdasarkan SK No.420/Menhut-II/2004, tanggal 19 Oktober 2004, tentang Perubahan Fungsi Sebagian Kawasan Hutan Produksi Tetap, dilakukan repatriasi terhadap kawasan Kelompok Hutan Sipurak Hook seluas 14,160 ha sehingga luas keseluruhan menjadi 1.389.549,867 ha yang meliputi 4 wilayah Propinsi yaitu Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan atau meliputi 12 (dua belas) wilayah Kabupaten dan Kota administratif (Kabupaten Kerinci, Merangin, Bungo, Pesisir Selatan, Solok, Solok Selatan,

Dharmasraya, Rejang Lebong, Bengkulu Utara, Muko-Muko Selatan, Musi Rawas dan Kotif Lubuk Linggau).

B. Letak dan Luas Secara geografis kawasan TNKS terletak pada 1003118 102441 Bujur Timur dan 1713 32614 Lintang Selatan. Luas keseluruhan TNKS menjadi 1.389.549,867 ha setelah dimasukkannya kelompok hutan Sipurak hook. Kawasan hutan Ipuh-seblat secara administratif terletak di Provinsi Bengkulu dengan luas 831,02 km.

C. Kondisi Fisik Kawasan 1. Topografi Kondisi topografi TNKS adalah bergelombang, berlereng curam dan tajam dengan ketinggian 200 sampai dengan 3.805 meter dpl. Gunung kerinci merupakan puncak tertinggi dari pegunungan yang ada di kawasan TNKS.

Sedangkan topografi di kawasan Ipuh-seblat berupa dataran relative rendah, berbukit curam yang ketinggiannya berkisar 100-1000 mdpl dengan kelerengan sebagian besar 0-30. Jenis tanah di kawasan ini adalah berupa Latosol dan atau gabungan antara Latosol dengan podsolik Merah Kuning, sebagian lainnya adalah campuran Podsolik Merah Kuning dengan Litosol. Komposisi lainnya berupa Aluvial, Andosol, Regosol dan Organosol (Supriyanto et al. 2000).

2. Iklim Sebagai bagian dari iklim pulau Sumatera, TNKS memiliki iklim tropis basah dengan curah hujan yang relatif tinggi dan merata. Rata-rata curah hujan tahunan berkisar antara 3.000 mm. musim hujan berlangsung dari bulan September - Februari dengan puncak musim hujan pada bulan Desember. Sedangkan musim kemarau berlangsung dari bulan April Agustus. Suhu udara rata-rata bervariasi yaitu 28 C di dataran rendah, 20 C di Lembah Kerinci dan 9

C di puncak Gunung Kerinci. Sedangkan kelembaban udara mencapai 80% 100%. 3. Hidrologi Sebelum disahkan sebagai Taman Nasional, kawasan TNKS merupakan penyatuan dari Kawasan Cagar Alam Indera Pura dan Bukit Tapan, Suaka Margasatwa Rawasa Huku Lakitan, Bukit Kayu Embun dan Gedang Seblat, serta hutan lindung dan hutan produksi terbatas yang memiliki fungsi Hidrologis penting terhadap wilayah sekitarnya. Kelompok hutan tersebut merupakan daerah aliran sungai (DAS) utama, yaitu DAS Batang Hari, DAS Musi dan DAS wilayah pesisir bagian barat. DAS tersebut sangat vital peranannya terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bagi hidup dan kehidupan jutaan orang yang tinggal di daerah tersebut. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berukuran lebar di kawasan ini antara lain Air Ipuh, Air Seblat, Air Ikan, Air Retak, Air Teramang dan Air Berau. Kemudian juga terdapat sungai besar lainnya yaitu Air Seblat Merah, Tembulun Air Rami, Air Madu dan Air Lupu.

4. Aksesibilitas Kota terdekat dengan TNKS yang memiliki pelabuhan udara adalah Padang, Jambi dan Bengkulu. Perjalanan darat dari jambi ke Sungai Penuh (Lokasi kantor TN) dapat ditempuh dengan kendaraan umum (bus) melalui bangko selama 24 jam perjalanan. Selain itu dapat pula ditempuh melalui Padang, Lubuk Linggau dan Bengkulu. Kemudian dari Sungai Penuh, lokasi yang selanjutnya akan dituju dapat dicapai dengan kendaraan sewaan dari Sungai Penuh. Waktu tempu Sungai Penuh Ipuh 12 jam dengan kendaraan umum.

D. Kondisi Biologi Secara umum, TNKS memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi karena mempunyai keanekaragaman tipe habitat yang sangat kaya dan bervariasi mulai dari tipe hutan dataran rendah sampai dengan alpin. Kawasan ini merupakan bagian terbesar dari hutan hujan tropis dari sumatera bagian selatan.

Kekayaan jenisnya sangat tinggi dan telah mewakili seluruh tipe habitat yang terdapat di Sumatera bagian selatan. Menurut Rizwar et al.(2001) dan Supriyanto et al. (2000), bahwa jenis flora yang ada di TNKS (kawasan Ipuh-Seblat) diantaranya adalah: Shorea sp., Macaranga gigantean, Calamus sp., Artocarpus sp., Dyera sp., Hopea sp., Mallotus sp., Bamboosa sp. Dan lain-lain. Sedangkan fauna yang ada diantaranya adalah: gajah (Elephas maximus), ayam hutan(Galus galus), kuau raja (Argusianus argus), siamang (Hylobathes syndactylus), babi jenggot (Sus barbatus), babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), harimau (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), kura-kura darat (Tryonix sp.), gagak (Corvus sp.), kambing hutan (Capricornis sumatrensis), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kucing mas (Catopuma temminkii), kelinci sumatera (Nesolagus netscheri), macan dahan (Neofelis nebulosa), binturong (Arctictis binturong), dan lain-lain.

BAB IV METODE

A. Tempat dan Waktu

Kegiatan kerja praktek lapangan ( Kp ) ini laksanakan di Pasisir Selatan dan Solok Selatan kawasan TNKS dan sekitarnya selama 2 Bulan ( Juli Agustus).

B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah : 1. Peta kawasan 2. Global Positioning System ( GPS ) Garmin 12 XL 3. Kompas 4. Buku panduan jejak mamalia ( buku apa yang dipakai ) 5. Buku catatan 6. Alat tulis 7. Meteran 8. Kamera digital 9. Jam tangan

C. Metode Pengambilan Data

1. Studi Literatur Studi literatur merupakan langkah awal dalam mengumpulkan data untuk mendukung data primer yang dilakukan dengan mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku maupun sumber tulis lainnya yang berkaitan dengan tujuan kerja praktek. 2. Olientasi Lapangan Orentasi lapangan bertujuan untuk mengenal secara sekilas wilayah penelitian serta menentukan letak jalur pengamatan yang akan digunakan pada suatu tipe vegetasi 3. Observasi Lapangan

Observasi lapangan atau pengamatan langsung di lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer berupa jenis dan jumlah satwa mangsa harimau sumatera selama pengamatan. Data yang diambil menggunakan dua cara yaitu melalui perjumpaan langsung dan tidak langsung. Untuk perjumpaan tidak langsung data yang diperoleh melalui jejak satwa mangsa harimau yang ditinggalkan baik berupa tapak, feses, cakar, sarang dan suara. Setiap parameter yang ditemukan dilapangan didelenasi di atas peta kerja berdasarkan koordinator yang diperoleh. Metode yang digunakan pada pengamatan langsung ini yaitu metode transek garis (Line Transect). Metode transek garis yaitu suatu pengamatan populasi satwa liar melalui pengambilan contoh dengan bentuk unit contoh berupa panjang lintasan pengamatan. Teknik inventarisasi satwa liar dengan

menggunakan metode transek garis pada dasarnya sama dengan metode transek jalur. Perbedaannya terletak pada lebar jalur pengamatan, yakni pada metode ini lebar kanan-kiri jalur pengamatan tidak ditentukan. Peletakan transek dilakukan mengikuti penggungan bukit atau jalur lintasan harimau. Arah transek disesuaikan dengan kondisi lapangan agar diperoleh peluang perjumpaan yang lebih besar. Pengambilan data dengan ini dapat dilakukan melalui perjumpaan tidak langsung, yakni melalui jejak yang ditinggalkan baik berupa tapak, cakar,

feses,sarang maupun suara. Perjumpaan tidak langsung tersebut dicatat ukurannya,perkiraan umur, dan keterangan lain yang berkaitan.

D. Metode Pengolahan Data

Transek sepanjang lebih kurang 40 km dalam grid cells 289 km (17 km x 17 km) dengan proporsi hutan 100 %, mengikuti punggungan bukit atau jalur jalur satwa yang akan di survey. Transek selanjutnya dibagi ke dalam bagian/segmen dengan panjang 200m per segmen dan perjumpaan terhadap jejak hewan mangsa pada setiap segmen dicatat. Kelimpahan satwa mangsa dihitung sebagai proporsi segmen yang masing-masing terdapat tanda, dimana :

Kelimpahan : Jumlah segmen ditemukan satwa mangsa X 100% Jumlah total segmen

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Jenis Satwa sebagai Pakan Harimau Sumatera

Harimau yang hidup di alam bebas umurnya bisa mencapai 10-15 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan makanannya, 3-6 hari sekali harimau berburu mangsa, seperti : rusa, babi hutan, kerbau liar, kijang, tapir dan hewan kecil, misalnya kancil dan landak. Menurut Kitchener (1991) menyatakan bahwa

harimau memangsa berbagai macam spesies. Satwa apapun yang dapat ditangkapnya termasuk burung, reptil, ampibi, ikan dan bahkan hewan invertebrata merupakan mangsa yang dapat dikonsumsi oleh harimau. Akan tetapi sebagaimana jenis dari kucing besar lainnya, harimau merupakan karnivora spesialis yang cenderung untuk menangkap beberapa jenis satwa mangsa dengan rata-rata kurang lebih 4 jenis mamalia khususnya hewan ungulata yang merupakan penyusun terbesar dalam komposisi jenis mangsa harimau. Jenis satwa ungulata yang menjadi penyusun utama makanan harimau sumatera yaitu babi hutan,rusa sambar, kijang dan kambing hutan.

B. Kelimpahan Satwa Sebagai Mangsa Harimau sumatera

Berdasarkan hasil kerja praktek di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat Sumatera (TNKS). Tiap lokasi memiliki nilai kelimpahan yang berbedabeda karena dipengaruhi oleh jumlah satwa dan panjang jalur transek. Jumlah dan jenis satwa mangsa harimau yang dijumpai bervariasi pada setiap lokasi penelitian.Berikut ini akan dibahas kelimpahan satwa sebagai mangsa harimau sumatera di dalam kawasan TNKS. Lokasi kerja praktek yang berada di dalam TNKS memiliki tipe vegetasi hutan primer dan skunder, dimana jalur sel masing - masing mempunyai total transek 289 km. Berikut ini akan dibahas kelimpahan satwa pakan harimau sumatera di dalam kawasan TNKS tempatnya di Sumatera Barat.

1. Sel 2 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 2 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 30 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 13 jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan :13 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 30 jalur

Kelimpahan :

13

x 100 %

= 4.81 %

9 x 30 Pada sel nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 4.81 %. 2. Sel 3 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 3 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 19 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 11 jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan :11 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 19 jalur

Kelimpahan :

11 x

100 %

= 4.58 %

9 x 19 Pada sel nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 4.58 %.

3. Sel 6 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 6 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 62 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 42jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan : 42 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 62 jalur

Kelimpahan :

42

x 100 %

= 7.52 %

9 x 62 Pada sel nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 7.52 %. 4. Sel 7 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 7 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 23 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 17 jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan :17 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 23 jalur

Kelimpahan :

17

x 100 %

= 8.21 %

9 x 23 Pada sel nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 8.21 %.

5. Sel 9 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 9 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 45 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 35 jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan : 35 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 45 jalur

Kelimpahan :

35 x 100 % = 7.05 % 9 x 45

Pada sel 29 nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 7.05 %. 6. Sel 10 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 10 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 17 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 12 jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan : 12 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 17 jalur

Kelimpahan :

12

x 100%

= 3.33 %

9 x 17 Pada sel 10 nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 3.33 %

7. Sel 29 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 29 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 55 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 34 jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan : 34 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 55 jalur

Kelimpahan :

34

x 100%

= 6.86 %

9 x 55 Pada sel 29 nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 6.86 % 8. Sel 39 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 39 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 3 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 2 jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan : 2 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 3 jalur

Kelimpahan :

2 x 100 % = 7.40 % 9 x3

Pada sel 29 nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 7.40 %

9. Sel 46 Lokasi kerja praktek yang bearada di dalam kawasan TNKS yaitu sel 46 yang memiliki tipe vegetasi hutan primer, dimana titik pengamatan satwaliar dibuat sebanyak 30 jalur pada sel ini. Pada lokasi ini ditemukan 26 jenis satwa pakan harimau dengan jenis mamalia. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kelimpahan satwa pakan harimau sumatera diperoleh hasil seperti dibawah ini : Jumlah segmen ditemukan satwa pakan : 26 ekor Jumlah semua sel yang diamati : 9 sel Jumlah total segmen : 30 jalur

Kelimpahan :

26 x 100 % = 9.62 % 9 x 30

Pada sel 29 nilai jumlah yang di hasilkan dengan rumus kelimpahan di atas, maka jenis satwa sebagai pakan harimau sumatera yang memiliki nilai kelimpahan sebesar 9.62 %.

Dapat diketahui bahwa kelimpahan satwa sebagai pakan harimau sumatera yang paling tinggi di sel 46 yang diteliti, dimana pada sel ini tipe vegetasi hutan primer yang memilki kondisi tegakan pohon dan vegetasi yang masih bagus. Factor lain yang mempengaruhinya yaitu aktifitas gangguan manusia dan struktur tanah cukup mempengaruhi untuk menemukan jejak satwa, pada lokasi ini lebih sedikit di bandingkan lokasi lain yang memiliki tipe vegetasi hutan sekunder. Pada kerja praktek ini perjumpaan dengan tapir umumnya berdasarkan jejak atau secara tidak langsung, hal ini dikarenakan tapir merupakan jenis satwa yang hidup soliter dan aktif terutama pada malam hari juga pagi hari dan menjelang petang. Aktivitas nocturnal (aktif pada malam hari) dan soliter mungkin akibat tekanan perburuan.

C. Penyebaran Satwa Sebagai Pakan Harimau Sumatera Jenis dan jumlah satwa sebagai pakan harimau sumatera yang dijumpai berbeda pada tiap lokasi kerja praktek, karena setiap satwa pakan harimau memiliki pilihan jenis pakan yang berbeda sehingga tipe habitat yang digunakan setiap jenis satwa pakan harimau tersebut juga berbeda. Dari hasil praktek yang dilakukan di 9 lokasi yang terletak di dalam kawasan TNKS diketahui bahwa penyebaran tapir lebih banyak terdapat di lokasi TNKS yang bertipe vegetasi hutan primer. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi vegetasi di lokasi ini masih bagus dan hampir tidak ada manusia. Penyebaran Tapir hamper merata di 9 lokasi praktek. Hal ini karena tapir merupakan jenis satwa nocturnal yang ketika mencari makan selalu bergerak dalam jalur zig zag (Anonimus, 1982). Perilaku tapir tersebut menyebabkan jejak tapir lebih mudah di jumpai karena secara proporsi tapir mampu memanfaatkan ruang habitat yang lebih luas. Penyebaran satwa sebagai pakan harimau sumatera dapat dilihat pada gambar 1.

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

24

25

26

27

28

29

30

31

32

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86

87

88

89

90

91

92

93

94

95

96

97

98

99

100

101

102

103

104

105

106

107

Gambar 1. Peta Sebaran Satwa Sebagai Pakan Harimau Sumatera Dengan melihat kelimpahan satwa sebagai pakan harimau di tiap tipe vegetasi di lokasi yang berada di dalam kawasan TNKS, maka dapat mengindikasikan bahwa keberadaan harimau akan banyak ditemukan di tipe

vegetasi tersebut. Hal ini dapat dilihat pada peta sebaran harimau, dimana terlihat jelas bahwa daerah territorial harimau sumatera banyak ditemukan pada tipe hutan primer dibandingkan dengan hutan sekunder. Keberadaan harimau di lokasi tersebut diperkuat juga dengan ditemukannya jejak harimau beriring dengan jejak

satwa pakan harimau serta ditemukannya air yang digunakan oleh harimau sumatera dan cover harimau sumatera di lokasi kerja praktek tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa satwa sebagai pakan harimau yang terdapat di tipe vegetasi hutan primer dan sekunder dapat menyediakan pakan yang dibutuhkan oleh harimau sumatera sehingga dapat mendukung kelangsungan hidup harimau sumatera di alam harimau dapat bertahan hidup dan berkembangbiak di wilayah-wilayah yang terdapat banyak satwa mangsanya (Seidensticker et al. 1999).

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Jenis stwa sebagai pakan hariamau sumatera (Panthera tigris sumaterae Pcock. 1929) yang terdapat di 9 sel prakrek sebanyak 12 jenis satwa yang terdiri dari 9 jenis mamalia, 1 jenis aves (burung), 2 primata dan 1 jenis reptilian. 2. Penyebaran satwa sebagai pakan harimau sumatera yang paling banyak di dalam kawasan adalah tapir. 3. Pakan harimau sumatera yang terdapat pada keempat lokasi cukup melimpah sehingga dapat mendukung kelangsungan hidup harimau karena harimau dapat bertahan hidup dan berkembangbiak pada wilayah-wilayah yang terdapat banyak satwa pakan harimau.

B. Saran 1. Perlu dilakukannya kegiatan monitoring secara berkala terhadap pakan harimau sumatera yang ada di alam untuk mengetahui kelimpahannya. 2. Perlu ditingkatkan tindakan pengamanan yang intensif dan rutin karena semakin maraknya kegiatan illegal seperti perburuan liar baik terhadap harimau maupun satwa pakan harimau.