Anda di halaman 1dari 5

REVIEW JURNAL KLINIS

Peran Kepribadian Tahan Banting pada Gangguan Somatisasi Penulis Sumber : M. Noor Rochman Hadjam, Sri Mulyani Martaniah, Johana Endang Prawitasari, dan Masrun. : Anima, Indonesian Psychological Journal, 2004, Vol. 19, No. 2, 122-135. Topik : Somatisasi merupakan suatu proses yang melibatkan fisik (soma) untuk tujuan-tujuan psikologis atau tujuan pribadi. Gangguan somatisasi dapat terjadi karena ada factor predisposisi yaitu merupakan factor kerentanan biologis yang ada pada individu dan kondisi psikologisnya, seperti tingkat atau kondisi emosi yang tidak masak atau negatif, danya stressor pada kehidupan, abnormalitas neurologis, dll. Individu yang mengalami gangguan somatisasi menunjukkan adanya kaitan dengan kepribadian yang rentan terhadap stress, oleh karena itu muncul peranan kepribadian tahan banting (hardiness/ hardly personality) yang dapat digunakan sebagai perisai (buffer) dalam mengatasi stressor kehidupan pada gangguan somatisasi. Kepribadian tahan banting memiliki serangkaian ciri atau sikap yang membuat individu tahan terhadap tekanan karena kepribadian ini menunjukkan adanya komitmen yang merupakan lawan alienasi, kontrol merupakan ketidakberdayaan, dan menantang sebagai lawan dari takut atau situasi yang mengancam. Tujuan : Mengungkapkan peran kepribadian tahan banting (hardiness) sebagai perisai (buffer) dari dampak stressor kehidupan pada munculnya simptom patologis berupa gangguan somatisasi, serta menyusun model gangguan somatisasi. Hipotesis : Adanya simptom patologis yang berupa gangguan somatisasi disebabkan oleh adanya stressor pada kehidupan yang juga didukung adanya kerentanan biologs pada diri pelaku. Ada hubungan antara tipe kepribadian dalam kaitan timbulnya

gangguan somatisasi. Dalam hal ini kepribadian tahan banting dapat digunalan sebagai perisai untuk menekan serta mengontrol diri dalm mengahadapi stressor pada kehidupan yang akhirnya berdampak pada gangguan somatisasi. Metode : Subjek Penelitian berjumlah 106 pasien penderita gangguan somatisasi yang dirawat di rumah sakit, dengan beragam latar belakang, sebagian besar subjek adalah wanita. Prosedur Penyampaian terlebih dahulu pada dokter ahli penyakit dalam, penyakit saraf, dan ahli jiwa mengenai criteria penelitian, pasien-pasien yang direkomendasikan kemudian dijadikan subjek penelitian. Instrumen Adult Somatization Inventory (A.S.I), yang mengungkap seberapa tinggi somatisasi pada subjek pada subjek penelitian. Aspek-aspek yang terdapat pada alat ukur adalah gejala sakit umum, gejala gastrointestinal, gejala sakit organ seksual, serta gejala sakit saraf temu. Skor tinggi pada skala somatisasi menunjukkan tingginya gangguan somatisasi dan begitu pula sebaliknya. Skala somatisasi tersebut terdiri atas 35 pertanyaan dengan memakai 5 kategori jawaban, yaitu tidak terganggu sama sekali (1), sedikit terganggu (2), agak terganggu (3), terganggu sekali (4), sangat terganggu sekali (5). Dalam penelitian stresor pada kehidupan sehari-hari diungkap dengan menggunakan skala stres kehidupan (disusun oleh peneliti sendiri) yang terdiri atas tiga aspek, yaitu: peristiwa atau kejadian dalam kehidupan keluarga, dalam lingkungan sosial, dan dalam diri sendiri. Skala ini terdiri atas 40 pertanyaan dengan memakai 4 kategori yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S),

tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS). Nilai tinggi menunjukkan adanya stres yang tinggi. Pada penelitian kepribadian tahan banting diungkap dengan skala kepribadian tahan banting (disusun oleh peneliti), yang terdiri atas 6 aspek yaitu: komitmen, keterasingan, kontrol, ketidakberdayaan, tantangan, dan ancaman. Skala kepribadian tahan banting terdiri atas 50 pertanyaan dengan memakai 4 kategori yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS). Nilai tinggi menunjukkan adanya kepribadian tahan banting yang baik. Hasil : Deskrpsi Data Penelitian dan Analisis Univariat Dari hasil korelasi product moment didapat informasi bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ganggua somatisasi dengan stressor kepribadian. Faktor pada stressor kehidupan yang memilki keterkaitan terbesar dengan total gangguan somatisasi adalah stressor lingkungan sosial. Pada variable kepribadian tahan banting, terdapat hubungan antara gangguan somatisasi dengan kepribadian tahan banting. Analisis Faktor Konfirmatori Analisis faktor konfirmatori dilakukan pada variable somatisasi untuk memenuhi salah satu syarat uji persamaan structural. Keempat faktor yang dikonfirmasi yaitu gejala sakit umum, gejala gastro-intestinal, gejala gangguan saraf serta gejala gangguan fungsi seksual dapat diterima sebagai konstruk yang termasuk dalam gangguan somatisasi. Pada konstruk laten strensor kehidupan dan kepribadian tahan banting, semua konstruk empirik yang dikonfirmasi juga diterima, pada strensor kehidupan berurutan dari yang paling besar adalah strensor lingkungan, pribadi, dan keluarga. Pada kepribadian tahan banting berurutan dari yang terbesar nilainya adalah komitmen, kontrol, dan tantangan. Uji Persamaan Model

Melalui uji persamaan model ini didapatkan keterangan bahwa model yang digunakan dapat diterima. Isu yang turut dibawa dalam penelitian ini adalah stress buffering model yang menekankan pada adanya variable yang menjadi perantara efek stressor kehidupan sehari-hari terhadap kemunculan gejala-gejala patologisl. Hasil penelitian menujukkan bahwa stressor kepribadian dan kepribadian tahan banting sama-sama mampu menjelaskan gangguan somatisasi. Terdapat pula penjelasan bahwa gangguan somatisasi melalui mekanisme pengaruh tak langsung dengan standar kesalahan nilai gama, sehingga kepribadian tahan banting merupakan mediator dampak stressor kehidupan terhadap gangguan somatisasi. Dapat dibuktikan pula peranan kepribadian sebagai moderator yang ditinjau dari uji registrasi hierarki untuk melihat seberapa jauh interaksi antara stressor kehidupan dan kepribadian tahan banting dalam menjelaskan gangguan somatisasi. Pembahasan : Dengan memakai perspektif stress buffering model, penelitian ini membuktikan peran kepribadian tahan banting (hardiness) sebagai perisai (buffer) stressor kehidupan yang berupa kejadian-kejadian menekan dalam memunculkan gangguan somatisasi. Simpulan ini didapat dari terbuktinya peran kepribadian tahan banting sebagai mediator sekaligus sebagai moderator dampak stressor kehidupan pada gangguan somatisasi. Hasil penelitian menujukkan adanya hubungan negatif antara kepribadian tahan banting dengan gangguan somatisasi, karena kepribadian tahan banting memberikan pengaruh sebagai pelindung dalam hubungan antara stress dan penyakit. Individu yang memiliki kepribadian tahan banting ketika menemui kondisi lingkungan yang menekan dan mengancam, individu masih dapat bertindak secara proporsional, sehingga terhindar dari jatuh sakit. Dibuktikan pula pada penelitian bahwa faktor stressor kehidupan yang paling tinggi dalam menjelaskan gangguan somatisasi adalah stressor lingkungan. Semua faktor kepribadian tahan banting memiliki keterkaitan yang kuat dengan gangguan somatisasi terutama faktor komitmen. Faktor kepribadian tahan banting yang lain, yaitu kontrol dan tantangan, juga terbukti sebagai perisai yang kuat. Komentar :

Topik yang diangkat mengenai kepribadian tahan banting dan hubungannya dengan ganggaun somatisasi ini dirasa sangat pas. Keterkaitan keduanya yang pada akhirnya menimbulkan suatu solusi baru untuk penanganan gangguan somatisasi. Berusaha menerapkan kepribadian tahan banting dalam mengahadapi setiap stressor pada kehidupan bagi orang-orang yang kerap mengalami gangguan somatisasi, menjadi alternatif pilihan. Lewat jurnal penelitian ini, semua aspek yang berkaitan dengan stress dan somatisasi dikaji dan dihubungkan dengan pola kepribadian tiap individu secara gambalang dan jelas, serta detil dan menyeluruh. Pola metodologi yang digunakan pun berlapis-lapis dan memiliki kuantitasa dan kualitas yang lebih dari cukup, sehingga hasilnya pun dipercaya akurat, penyampaiannya pun detil dan lengkapa karena dilengkapai dengan tabel-tabel dan bagan. Walau hal ini agak sedikit membuat saya bingung karena banyakanya istilah statistik yang digunakan yang belum banyak saya kenal dan ketahui. Pembahasan jurnal ini cukup lengkap, akurat dan mendetil. Seluruh aspek yang merupakan hasil dari analisis dan penerapan metodologi diungkap secara jelas, bahkan hasil-hasil yang didapat pun ternyata menguatkan dan sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan. Segala hasil yang didapat dapat dibuktikan dengan metodologi yang dipakai.