Anda di halaman 1dari 12

SINDROM ASPERGER

I. Pengertian Sindrom Asperger


Tulisan asli tentang gangguan Asperger pertama kali dipublikasikan di
Jerman oleh Hans Asperger (1942). Menurut Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders IV (1994, h.75) bahwa Asperger juga diklasifikasikan sebagai
gangguan perkembangan pervasif, yaitu suatu kondisi abnormal atau gangguan
perkembangan dalam interaksi sosial dan suatu keterbatasan dalam aktivitas dan
minat. Manifestasi dari gangguan itu sangat berpengaruh pada perkembangan
anak secara normal. International Classification of Disease revisi ke-10 (dalam
Kaplan, dkk, 1997, h.725) gangguan Asperger dinamakan sindroma Asperger
yang ditandai oleh gangguan sosial kualitatif, adanya pola perilaku yang terbatas,
tidak adanya keterlambatan bahasa dan kognitif yang bermakna.
Menurut Barnhill (2002, h.1) Asperger merupakan gangguan
perkembangan yang tampak lemah dalam relasi sosial, kelemahan dalam
komunikasi non verbal, pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas dan
berulang. Handojo (2003, h.18) menambahkan pula sindrom Asperger mirip
dengan Autisma dalam hal kurang mampu berinteraksi sosial tetapi masih mampu
berkomunikasi cukup baik. Anak sering menunjukkan perilaku tidak wajar dan
minat terbatas.
Attwood (2005, h.18) menyatakan pula bahwa Asperger merupakan suatu
gangguan perkembangan pada disfungsi struktur dan sistem dalam otak yang
mempunyai ciri utama kurangnya keterampilan-keterampilan sisoal, keterbatasan
kemampuan untuk melakukan percakapan timbal balik dan minat yang luar biasa
pada subjek tertentu.

II. Penyebab Asperger


Cumine (1999, h.4) menyatakan penyebab Asperger ada kemiripan dengan
gangguan Autis yaitu faktor herediter (genetika), faktor komplikasi proses
kehamilan atau persalinan, faktor neurochemical dan faktor neurological yang

1
akhirnya menimbulkan disfungsi otak. Menurut Attwood (2005, h.187) ada tiga
penyebab gangguan Asperger yaitu faktor genetika, peristiwa obstetric yang tidak
menguntungkan dan infeksi selama kehamilan atau masa awal bayi yang
mempengaruhi otak. Faktor herediter ditemukan anak-anak yang memiliki
saudara Asperger memiliki resiko puluhan kali untuk memiliki gangguan Asperger
dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mempunyai saudara yang memiliki
gangguan Asperger.
Hasil kajian Volkmar, dkk (dalam Attwood. 2005, h.188) mengenai
penyebab gangguan Asperger adanya lobus frontal (bagian berbentuk bulat dan
menonjol dengan ukuran terbesar serta terletak paling depan dari setiap bagian
otak) dan lobus temporal (bagian otak yang mengandung pusat pendengaran)
yang tidak berfungsi. Bahkan lobus frontal yang mengalami gangguan di awal
masa kecil mengakibatkan munculnya gangguan Asperger.

III. Ciri-ciri dan Karakteristik Sindrom Asperger


Stokes (2004, h.1) menyatakan bahwa ciri dan karakteristik anak yang
telah didiagnosa mengalami gangguan Sindrom Asperger umumnya mempunyai
gangguan yang hampir mirip dengan Autism dan digambarkan sebagai “high
functioning autism”. Tahun 1944 Hans Asperger, seorang dokter Austria,
menggambarkan suatu sindroma yang dinamakan “psikopati autistik”. Gambaran
awalnya adalah orang dengan intelegensia normal yang menunjukkan gangguan
kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik dan keanehan perilaku tanpa
keterlambatan dalam perkembangan bahasa. Lorna Wing menjelaskan ciri utama
Sindrom Asperger sesuai dengan deskripsi orisinal Hans Asperger (Attwood,
2005, h.20) sebagai berikut :
a. Ketiadaan empati dan interaksi satu arah
b. Tidak mempunyai kemampuan atau hanya mempunyai kemampuan kecil
untuk mengembangkan persahabatan
c. Ujarannya bersifat menonjolkan pengetahuan atau berulang
d. Keterbatasan komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah atau tubuh

2
e. Tampak kaku terhadap perubahan dan ketertarikan yang luar biasa terhadap
sesuatu
f. Kikuk, gerakan-gerakan yang tidak terkoordinasi dengan baik dan sikap tubuh
yang ganjil
Carina dan Christopher Gillberg (dikutip Attwood, 2005 h.10)
menjabarkan enam kriteria diagnostik yang didasarkan pada studi-studi mereka di
Swedia, yaitu :
1. Ketidakcakapan sosial, diperlukan dua dari empat kriteria sebagai berikut :
a. Tidak mampu berinteraksi dengan teman sebaya
b. Tidak memiliki hasrat untuk berinteraksi dengan teman sebaya
c. Tidak memiliki apresiasi terhadap isyarat-isyarat sosial
d. Perilakunya secara sosial dan emosi tidak tepat

2. Permasalahan komunikasi non verbal. Diperlukan satu dari lima kriteria


berikut ini :
a. Penggunaan sikap tubuh yang terbatas
b. Bahasa tubuh yang canggung / kaku
c. Ekspresi wajah yang terbatas
d. Perilaku yang tidak tepat
e. Tatapan yang aneh dan kaku

3. Minat yang terbatas, diperlukan satu dari tiga kriteria berikut ini :
a. Pengabaian aktivitas-aktivitas lainnya
b. Memiliki ketaatan yang repetitif
c. Lebih banyak menghafalkan daripada pemahaman makna

4. Rutinitas berulang, diperlukan satu dari dua kriteria berikut :


a. Rutinitas merugikan diri sendiri dalam berbagai aspek kehidupan
b. Ritunitas merugikan orang lain

3
5. Keanehan berbahasa, diperlukan tiga dari lima kriteria berikut ini :
a. Perkembangannya yang terlambat
b. Bahasanya tampak ekspresif dan sempurna
c. Bahasanya terlalu ilmiah dan formal
d. Intonasinya bunyi ganjil dan nada suaranya aneh
e. Pemahamannya sangat lemah termasuk salah tafsir makna harafiah atau
implisit

6. Kekikukan gerak :
a. Cara bergerak
b. Keterampilan-keterampilan bermain
c. Keseimbangan
d. Keterampilan tangan

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV


(1994, h.75) kriteria diagnostik untuk sindrom Asperger sebagai berikut :
a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti ditunjukkan oleh
sekurangnya dua dari berikut :
♫ Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku nonverbal multipel seperti
tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk
mengatur interaksi sosial
♫ Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai
menurut tingkat perkembangan
♫ Gangguan dalam ekspresi kesenangan dalam kegembiraan orang lain
♫ Tidak ada timbal balik sosial atau emosional

b. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan stereotipik,
seperti ditunjukkan oleh sekurangnya satu dari berikut :
♫ Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik dan
terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya

4
♫ Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual yang
spesifik dan nonfungsional
♫ Manerisme motorik stereotipik dan berulang (misalnya, menjentikkan atau
memuntirkan tangan atau jari, atau gerakan kompleks seluruh tubuh)
♫ Preokupasi persisten dengan bagian-bagian benda

c. Gangguan menyebabkan gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi


sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
d. Tidak terdapat keterlambatan menyeluruh yang bermakna secara klinis dalam
bahasa (misalnya, menggunakan kata tunggal pada usia 2 tahun, frasa
komunikatif digunakan pada usia 3 tahun)
e. Tidak terdapat keterlambatan yang bermakna secara klinis dalam
perkembangan kognitif atau dalam perkembangan keterampilan menolong diri
sendiri dan perilkau adaptif yang sesuai dengan usia lain (selain dalam
interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan masa anak-anak.
f. Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan perkembangan pervasif spesifik atau
skizofrenia.

Dalam perkembangan selanjutnya, anak yang mengidap sindrom Asperger


melewati masa-masa di sekolah dasar sebagai anak yang eksentrik (aneh) dan
menyendiri. Anak Asperger sering berhadapan dengan ejekan dan pengucilan oleh
teman-teman sebayanya sehingga anak Asperger mempunyai kecemasan yang
mendalam hingga memerlukan perawatan tertentu, bahkan selama masa remaja
pengidap Asperger akan kehilangan minat pada kontak sosial serta suka berbicara
dengan dirinya sendiri (Attwood, 2005, h.34).
Volkmar, dkk (1995, h.1) menyatakan bahwa sindrom Asperger
merupakan suatu sifat khusus yang ditandai dengan kelemahan kualitatif dalam
berinteraksi sosial. Seseorang penyandang sindrom Asperger dapat bergaul
dengan orang lain, namun tidak mempunyai keahlian berkomunikasi dan
mendekati oranglain dengan cara yang ganjil. Anak Asperger sering tidak
mengerti akan kebiasaaan sosial yang ada dan secara sosial akan tampak aneh,

5
sulit berempati, dan salah menginterpretasikan gerakan-gerakan. Pengidap
sindrom Asperger sulit dalam belajar bersosialisasi serta memerlukan suatu
instruksi yang jelas untuk dapat berinteraksi. Attwood (2005, h.192)
menambahkan bahwa anak Asperger kesulitan belajar menyesuaikan diri dengan
tuntutan bersosialisasi di sekolah, sehingga anak membutuhkan instruksi yang
tepat untuk membantu meringankan tekanan-tekanan yang dialaminya.
Selanjutnya, Stokes (2004, h.3) menggambarkan karakteristik relasi sosial
anak Asperger sebagai berikut :
a. Anak Asperger menunjukkan ketidakseimbangan timbal balik relasi sosial
sehingga interaksi ditampakkan sangat egosentris dalam memperoleh
keinginan, kebutuhan, harapan dan minatnya. Anak Asperger tampak pendiam,
menarik diri dan bahkan tidak berespon terhadap situasi sosial. Hal ini
menunjukkan rendahnya terhadap motivasi sosial dan terlihat sangat ekstrem
saat situasi menuntut adanya partisipasi anak dalam berelasi. Misalnya, saat
anak Asperger merayakan ulang tahun di rumah dan teman-temannya datang
berkunjung maka anak Asperger tersebut akan menemani sebentar lalu
berkata, “selamat malam” dan pergi ke kamar untuk beristirahat.

b. Umumnya anak dapat mengenal dan menginterpretasikan nuansa sosial dalam


berbagai situasi sosial tanpa diajari secara khusus. Anak Asperger kesulitan
mengenal dan menginterpretasikan berbagai macam situasi sosial bahkan
menerapkan keterampilan sosial secara tepat dalam berbagai situasi. Hal ini
disebabkan adanya proses belajar pada anak Asperger yang belum dapat
menerima dan menginterpretasikan informasi yang tampak abstrak.

c. Anak Asperger kesulitan menempatkan aturan sosial secara tepat sehingga


mereka tidak memahami aturan yang diterapkan secara spesifik dalam konteks
sosial.

6
d. Anak Asperger menunjukkan keterbatasan pengetahuan terhadap konsep
keterampilan berteman. Misalnya, anak Asperger dapat menyebutkan nama
teman tapi tidak dapat menunjukan teman di suatu tempat yang berbeda.

e. Anak Asperger kesulitan mengidentifikasikan, memahami dan


mengekspresikan berbagai emosi dalam situasi emosi orang lain dan diri
sendiri. Peraturan keadaan emosi sangat sulit dilakukan. Misalnya, dalam
keadaan sedih anak Asperger malah banyak tertawa.

Anak-anak Asperger biasanya berbicara lancar saat mencapai usia lima


tahun, namun mereka sering mempunyai masalah dalam menggunakan bahasa
dalam konteks sosial (pragmatik) dan tidak mampu mengenali sebuah kata yang
memiliki arti yang berbeda-beda (semantik) serta khas dalam berbicara / prosodi
(tinggi rendahnya suara, serta tekanan dalam berbicara). Anak Asperger memiliki
perbendaharaan kata-kata yang lebih, dan sering tak henti-hentinya berbicara
mengenai suatu subjek yang disukai. Topik pembicaraan sering dijelaskan secara
sempit dan anak mengalami kesulitan untuk berpindah ke topik lain. Anak
kesulitan berbicara teratur. Penyandang sindrom Asperger dapat memotong
pembicaraan orang lain, membicarakan ulang pembicaraan orang lain,
memberikan komentar yang tidak relevan serta mengalami kasulitan dalam
memulai dan mengakhiri suatu pembicaraan. Cara berbicaranya kurang bervariasi
dalam hal tinggi rendahnya suara, tekanan dan iramam dan bila anak tersebut
telah mencapai usia lebih dewasa, cara bicaranya sering terlalu formal. Kesulitan
dalam berkomunikasi sosial dapat terlihat dari cara berdiri yang terlalu dekat
dengan orang lain, postur tubuh yang tidak normal, dan tidak dapat memahami
gerakan-gerakan dan eksresi wajah orang lain (Attwood, 2005, h.90).
Anak penyandang Asperger memiliki kemampuan intelegensi normal
sampai di atas rata-rata, dan terlihat berkemampuan tinggi. Kecakapan dalam
memperdalam ilmu pengetahuan dan sangat menguasai obyek yang disukai.
Namun, anak Asperger mempunyai kelemahan dalam hal pengertian dan
pemikiran abstrak serta dalam pengenalan sosial. Sebagai akibatnya, anak

7
Asperger mengalami kesulitan akademis, khususnya dalam kemampuan
memahami apa yang dibaca, menyelesaikan masalah, kecakapan berorganisasi,
pengembangan konsep, membuat kesimpulan dan menilai. Ditambah pula, anak
Asperger sering kesulitan untuk bersikap lebih fleksibal. Pemikirannya cenderung
labih kaku dan juga sering kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan
perubahanatau menerima kegagalan yang dialaminya, serta tidak siap belajar dari
kesalahan-kesalahannya (Attwood, 2005, h.148)

Diperkirakan bahwa 50%-90% dari anak Asperger menpunyai kesulitan


dalam koordinasi motoriknya, yaitu dalam hal melakukan gerakan yang
berpindah-pindah (locomotion), kecakapan bermain bola, keseimbangan,
kecakapan menggerakan sesuatu dengan tangan, menulis dengan tangan, gerak
cepat, persendian lemah, irama serta daya mengikuti gerakan-gerakan (Attwood,
2005, h.135).

Seorang penyandang Sindrom Asperger memilik kesamaan sifat dengan


penyandang autisme yaitu dalam menanggapi rangsangan sensori. Anak Asperger
menjadi hiper sensitif terhadap beberapa rangsangan tertentu dan akan terikat
pada suatu perilaku yang tidak biasa dalam memperoleh suatu rangsangan sensori
yang khusus (Attwood, 2005, h.170).

IV. Terapi – terapi Sindrom Asperger


Banyak pendekatan-pendekatan dan terapi-terapi yang dapat digunakan untuk
menangani permasalahan anak yang menderita sindroma asperger, antara lain :
1. Ketrampilan sosial dan komunikasi
Penderita Asperger mempunyai kecenderungan menggantungkan diri pada
aturan yang kaku dan rutinitas. Keadaan ini dapat digunakan untuk
mengembangkan kebiasaan yang positif dan meningkatkan kualitas hidup.
Strategi menyelesaikan masalah diajarkan untuk menangani keadaan yang
sering terjadi, situasi sulit seperti terlibat dengan hal baru, kebutuhan sosial
dan frustrasi. Dibutuhkan latihan untuk mengenal situasi sulit dan memilih

8
strategi yang pernah dipelajari untuk situasi seperti itu. Dan ada strategi-
adalah sebagai berikut :
 Behavioral Modification. Program Behavioral Modification dilakukan
untuk melatih anak agar bersikap lebih layak dan dapat diterima secara
sosial. Dalam program ini yang diintervensi adalah : rutinitas harian,
pengendalian temper tantrum, komunikasi, aspek emosi.
 Terapi komunikasi, Ketrampilan sosial dan komunikasi sebaiknya
diajarkan oleh ahli komunikasi untuk berbicara pragmatis. Keadaan ini
dapat dilakukan dalam terapi dua orang atau terapi kelompok kecil. Terapi
komunikasi meliputi: perilaku nonverbal yang sesuai (cara memandang
untuk interaksi sosial, memonitor dan mencontoh perubahan suara),
membaca kode verbal dari perilaku nonverbal orang lain , social
awareness, perspective talking skill, interpretasi yang benar untuk
komunikasi yang berarti ganda.
 Kelompok self support. Kelompok self support dapat membantu penderita
Asperger. Pengalaman kecil pada kelompok self-support memberi kesan
bahwa individu dengan gangguan Asperger menikmati kesempatan
tertentu dengan orang lain. Ia dapat mengembangkan hubungan di sekitar
aktivitasnya dengan orang lain untuk membagi perhatian. Perhatian khusus
dibuat untuk menciptakan kesempatan sosial melalui kelompok minat.
Mereka membutuhkan kasih sayang, kelembutan hati, kepedulian,
kesabaran dan pengertian. Jika mereka mendapatkannya, sedikitnya dapat
lebih terlibat dalam masyarakat
2. Orang tua
Orang tua berperan sangat besar dalam penatalaksanaan gangguan
Asperger. Beberapa strategi yang menolong orangtua untuk menghadapi
anaknya :
 Buatlah pembicaraan yang sederhana sesuai dengan tingkat pengertian
mereka
 Buatlah instruksi yang sederhana untuk pekerjaan yang rumit dengan
menggunakan daftar atau gambar.

9
 Mencoba mengkonfirmasi apakah mereka mengerti apa yang dibicarakan
atau ditanyakan. Jangan membuat pertanyaan yang cukup dijawabYes/No.
 Jelaskan bahwa mereka harus menatap saat berbicara dengan orang lain,
beri semangat, pujian untuk prestasi, khususnya pada saat mereka
menggunakan ketrampilan sosial tanpa disuruh.
 Untuk anak kecil yang tampaknya tidak mau mendengar, berbicara dengan
dinyanyikan akan lebih bermanfaat.
 Berilah pilihan yang dibatasi dua atau tiga pilihan

3. Pendidikan. Sangat bermanfaat jika anak dimasukkan ke sekolah yang


memahami kesulitan anak dan orangtuanya. Guru harus menyadari bahwa
muridnya mempunyai gangguan perkembangan dan berbeda dari murid lain.
Ketrampilan, konsep, prosedur yang teratur, strategi kognitif dan norma-
norma perilaku dapat diajarkan dengan efektif. Beberapa prinsip umum
sekolah agar dapat diaplikasikan pada anak dengan gangguan Asperger :
 Rutinitas kelas harus konsisten, terstruktur, dan sebisa mungkin dapat
diramalkan. Mereka harus dipersiapkan terlebih dahulu. Termasuk jadwal
istirahat, hari libur dan sebagainya.
 Aturan diterapkan dengan seksama. Beberapa anak kaku dengan aturan.
Pedoman dan aturan diterangkan dengan jelas, akan lebih menolong jika
melalui tulisan.
 Guru mengambil kesempatan pada bidang yang menjadi perhatian anak
saat mengajar. Anak akan belajar dengan baik dan memperlihatkan
motivasi dan perhatian yang besar bila sesuai dengan yang dijadwalkan.
 Banyak anak gangguan Asperger berespon baik secara visual dengan alat
seperti : jadwal, chart, list, gambar, dsb.
 Secara umum mengajar dengan konkrit. Hindari gaya bahasa yang sulit
dimengerti seperti sarkasme, idiom dan sebagainya.
 Pastikan bahwa staf lain seperti guru olahraga, sopir bus, petugas
perpustakaan dan kafetaria mengetahui keadaan anak.

10
4. Pekerjaan. Dalam pekerjaan, manfaatkan kemampuan mereka untuk dapat
mandiri. Kemandirian dalam berbagai bidang menjadi prioritas. Penderita
gangguan Asperger dilatih dan ditempatkan pada pekerjaan yang mendapat
dukungan dan perlindungan dengan demikian mereka tidak akan mengalami
gangguan psikologik. Sebaiknya pekerjaan mereka tidak melibatkan tuntutan
sosial yang intensif, tekanan waktu atau membutuhkan perubahan cepat.
Jangan ditempatkan pada situasi baru yang membutuhkan pemecahan masalah

5. Terapi lain.
 Diberikan psikoterapi dan terapi okupasi. Psikoterapi suportif dapat
menolong penderita agar dapat beradaptasi dengan perasaan sedih,
frustrasi dan ansietas. Keadaan yang langsung terfokus pada pemecahan
masalah lebih berguna daripada pendekatan ber-orientasi tilikan (nsight)
 Terapi okupasi sangat dibutuhkan, diberikan oleh seorang terapis yang
berpengalaman, untuk melatih koordinasi gerakan
6. Nutrisi. Nutrisi dapat menolong anak dengan gangguan Asperger. Makanan
bebas gluten dan kasein sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan pada hipotesis
opioid pada autisme. Mega dosis vitamin dan mineral dianjurkan pada
penatalaksanaan ganggu-an spektrum autisme. Diet bebas fenol dan salisilat,
gula, zat aditif, jamur/fermentasi dianjurkan dengan menggunakan rotasi diet
7. Integrasi sensorik. Integrasi sensorik dilakukan pada anak gangguan
spektrum autisme dengan tujuan untuk memperbaiki sistem registrasi dan
modulasi dari berbagai input sensorik, memfasili-tasi fungsi regulasi,
memfasilitasi proses dari berbagai input sensorik, dan membantu
perkembangan praksis dan ketrampil-an untuk memecahkan masalah

V. Prevalensi Sindrom Asperger


Menurut Volkmar, prevalensi gangguan Asperger adalah 1 di antara 10.
Kepustakaan lain menyebutkan 20-25 setiap 10.000 orang anak. Angka kejadian
gangguan Asperger dengan kriteria diagnosis Gillberg & Gillberg (1989) atau

11
dengan kriteria ICD-10 terlihat meningkat. Gillberg & Gillberg memperkirakan
peningkatan pada angka 0,26%. Pada tahun 1991 suatu penelitian menyebutkan
prevalensi gangguan Asperger 2,6-3 setiap 1000 anak. Menurut Wing (1978)
gangguan Asperger menunjukkan rasio laki-laki banding perempuan sebanyak
15:4, sedangkan menurut Wolff & Barlow(1979) adalah 9:1. Asperger pada anak
usia 7-16 tahun adalah 0,71 % ; laki-laki 0,97% dan perempuan 0,44%.

12