Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Indonesia menurut Jeffrey (1992) merupakan salah satu negara yang kaya akan jenis tumbuhan yang diperkirakan mencapai sekitar 25.000 jenis atau lebih dari 10% jenis flora dunia. Ditambah dengan jumlah jenis lumut dan ganggang yang berjumlah 35.000 jenis dimana 40% di antaranya merupakan jenis yang endemik atau hanya terdapat di Indonesia saja (Putra, 2005). Dewasa ini upaya memasyarakatkan penggunaan tumbuhan-tumbuhan lebih ditingkatkan, mengingat harga obat-obat kimiawi yang relatif mahal. Salah satu upaya pengembangan obat tradisional ini ialah dengan mengetahui terlebih dahulu komponen-komponen kimia aktif biologis apa saja yang terdapat di dalam tumbuhan tersebut melalui suatu penelitian yang sistematis dan ilmiah. Komponen kimia aktif biologis ini umumnya berada dalam bentuk metabolit sekunder salah satunya adalah alkaloid (Nassel, 2008). Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder terbanyak yang memiliki atom nitrogen, yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan dan hewan. Sebagian besar senyawa alkaloid

bersumber dari tumbuh-tumbuhan, terutama angiosperm. Lebih dari 20% spesies angiosperm mengandung alkaloid (Wink,

2008).

Alkaloid

dapat

ditemukan

pada

berbagai

bagian

tanaman, seperti bunga, biji, daun, ranting, akar dan kulit batang (Hartati, 2010). Pelawi (2009) telah mengisoalsi senyawa alkaloid pada biji buah pala (Myristica fragrans Houtt) dengan teknik maserasi dengan pelarut etanol dan dimurnikan dengan kromatografi kolom dengan eluen kloroform : etil asetat (70:30 v/v) mengandung kristal berwarna kuning sebanyak 73mg, titik lebur 8082 oC. Melinda, dkk, (2006) mengisolasi senyawa alkaloid dari biji alpukat (Persea americana Mill.) dan diteliti sebelumnya bahwa biji alpukat memiliki aktifitas antidiabetes. Ekstrak alkaloid beberapa jenis tanaman maupun hewan juga dilaporkan memiliki fungsi medis dalam bidang kesehatan. Taksol, alkaloid dari Taxus brevifolia merupakan suatu bahan aktif yang mempunyai aktivitas antitumor (Zhou, dkk, 2005). Alkaloid dari Hunteria umbellata dapat berfungsi sebagai zat antipiretik (mengurangi demam) dan analgesik (penghilang rasa sakit) (Igbe, dkk, 2009). Sementara itu, campothechin, alkaloid dari Nothapodytes foetida dan alkaloid dari Gelsemium sempervirens dapat berfungsi sebagai zat anti kanker (Srivastava dkk., 2005; Bhattacharyya dan Mandal, 2008). Alkaloid isoquinolin dari kulit Popowia perakensis dapat berfungsi sebagai zat anti malaria (Aziz dkk, 2009).

Tanaman gandaria (Bouea macrophylla Griff) merupakan tumbuhan asli Indonesia yang juga terdapat di semenanjung Malaysia dan Thailand. Di Indonesia tanaman ini banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Maluku (Alamendah, 2010). Buah gandaria mengandung air 86,6%; protein 0,04%; lemak 0,02%; karbohidrat 11,3%; serat 0,15%; abu 0,02%; kalsium 0,009%; fosfor 0,004%; besi 0,0003%; -karoten 0,023%; tiamin 0,00011%; riboflavin 0,00005%; niakin 0,0005%; dan vitamin C 0,1% (Subhadrabandhu, 2001). Tanaman gandaria masih sangat terbatas pemanfaatannya, yaitu hanya sebagai sumber buah-buahan. Kayu dari tumbuhan Gandaria ini banyak digunakan untuk membuat alat-alat pertanian, daunnya yang muda digunakan sebagai lalap, buahnya dapat langsung dimakan, dibuat rujak, asinan, dan sari buah-buahan, dipakai sebagai pengganti jeruk nipis atau asam (Fitrya, dkk, 2010). Sedangkan biji buah gandaria sering dibuang dan tidak dimanfaatkan masyarakat. Novalianti (2006) telah melakukan uji fitokimia pada kulit batang tumbuhan gandaria dan hasilnya menunjukkan bahwa kulit batang tumbuhan gandaria mengandung senyawa fenolat dan flavonoid, dimana senyawa fenolat memiliki kandungan tertinggi. Berdasarkan uji fitokimia tersebut, Fitrya, dkk (2010) melakukan isolasi senyawa fenolat dan diperoleh bahwa senyawa hasil isolasi ini merupakan senyawa golongan fenolat yang tersubtitusi gugus alifatik dan gugus karbonil. Selama ini belum ada informasi tentang kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat di dalam biji buah gandaria sehingga tidak dimanfaatkan

oleh masyarakat. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian terkait isolasi dan identifikasi senyawa metabolit sekunder khususnya senyawa alkaloid pada biji buah gandaria sehingga dapat meningkatkan pemanfaatan dan nilai ekonimisnya.

I.2 Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah seyawa alkaloid apa saja yang terdapat pada biji buah gandaria (Bouea macrophylla Griff)?

I.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis senyawa alkaloid pada biji buah gandaria (Bouea macrophylla Griff) .

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : 1. Mengembangkan pengetahuan dasar dalam isolasi dari bahan alam. 2. Sebagai bahan informasi ilmiah kepada masyarakat tentang kandungan dan struktur senyawa alkaloid pada biji gandaria. 3. Meningkatkan nilai ekonomis dan pemanfaatan biji gandaria.

DAFTAR PUSTAKA
Alamendah, 2010, Pohon Gandaria Flora Identitas Provinsi Jawa Barat, diakses dari http://www.tnol.co.id/id/my-blog/4908-pohon-gandaria-flora-identitasprovinsi-jawa-barat.html, pada tanggal 27 Oktober 2011. Aziz, S.S.S.A., Mukhtar, M.R., Hadi, A.H.A., Abdullah, N.R., dan Awang, K., 2009, Isoquinoline Alkaloids and Antimalarial Properties of Popowia Perakensis Extract, Jurnal Sains dan Matematik, Vol.1 No.2 (2009), Kuala Lumpur, 80-86. Bhattacharyya, S.S., Mandal, S.K., 2008, In Vitro Studies Demonstrate Anti-cancer Activity of an Alkaloid of a Plant (Gelsemiun sempervirens), Experimental Biology and Medicine, West Bengal, 1591-601. Fitrya., Lenny, A., dan Era, N., 2010, Isolasi Senyawa Fenolat dari Fraksi Etil Asetat Kulit Batang Tumbuhan Gandaria, Jurnal Penelitian Sains, Vol. 13 Nomer 1(C), Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, 13103-1013103-14. Hartati, I., 2010, Isolasi Alkaloid Dari Tepung Gadung (Dioscorea Hispida Dennst) Dengan Teknik Ekstraksi Berbantu Gelombang Mikro, Tesis, Program Studi Magister Teknik Kimia, Universitas Diponegoro, Semarang. Igbe, I., Ozolua, R.I., Okpo, S.O., Osahon, O., 2009, Antipyretic and Analgesic Effect of the Aqueous Extract of the Fruit Pulp of Hunteria umbellata K Schum, Tropical Journal of Pharmaceutical Research, 8(4), Benin City, 331-336. Melinda, U.D., Ruslan, K., Kusmardiyani, S., 2006, Isolasi Alkaloid dari Biji Alpukat (Persea americana Mill.), diakses dari Sekolah Farmasi ITB http://bahan-alam.fa.itb.ac.id, pada tanggal 3 Desember 2011.

Nassel, F.M., 2008, Isolasi Alkaloid Utama Dari Tumbuhan Lerchea interrupta Korth, Jurnal Percikan, Vol. 91, Jambi, 57-66. Novalianti, Arni, 2006, Isolasi Senyawa Fenolat Dari Fraksi Etil Asetat Biji Buah dan Kulit Batang Gandaria Bouea macrophylla (Griff) , Kimia FMIPA UNSRI, Sumatera Selatan. Pelawai, J.F., 2009, Isolasi Senyawa Alkaloida Dari Biji Buah Pala (Myristica Fragrans Houtt), Skripsi, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara, Medan. Putra, S.E., 2005, Bahan Alam, Ujung Tombak Riset Kimia di Indonesia, diakses dari www.chem-is-try.org , pada tanggal 25 Oktober 2011. Srivastava, S.K., Khan, M., Khanuja, S.P.S., 2005, Process for Isolation of Anticancer Agent Camptothecin from Nothapodytes foetida, US Patent No. 6893668, New Delhi. Subhadrabandhu, S., 2001, Under-Utilized Tropical Fruits Of Thailand, Food And Agriculture Organization of The United Nations Regional Office for Asia and The Pacific, Bangkok, 6-8. Wink, M., 2008, Ecological Roles of Alkaloids, dalam Wink, M., Modern Alkaloids, Structure, Isolation Synthesis and Biology,Wiley, Jerman. Zhou, D., Zhao, K., Ping, W., Jun, L., 2005, Study on Mutagensis of Protoplast from Taxol-Producing Fungus Nodulisporium sylviforme, The Journal of American Science, 1 (1), Heilongjiang, 55-62.