Anda di halaman 1dari 13

OLEH KELOMPOK 5 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Abdul Basyir (06081011002) Afriyanti (06081011005) Indah Febryanta (06081011007) Bobi (06081011009) Ragil Mery Yaniska (06081011018) Slamet Prayogi (06081011027) Ana Inayati (06081011031)

Dosen Pengasuh : Dra. Murniati, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2010

BAB I PENDAHULUAN

Seiring dengan berkembangnya teknologi, masalah lingkungan yang mulai terasa adalah masalah kebisingan, terutama di lingkungan perkotaan. Kebisingan sangat erat kaitannya dengan kesehatan seseorang, yaitu dapat menyebabkan gangguan kesehatan seseorang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mereduksi bising, khususnya pada ruangan adalah dengan memasang material penyerap kebisingan (panel akustik). Tetapi material penyerap kebisingan (panel akustik) yang tersedia dipasaran saat ini kebanyakan masih relatif mahal dan kurang ramah lingkungan. Disisi lain, dewasa ini masalah lingkungan yang juga dirasakan semakin mengganggu adalah sampah, khususnya juga dilingkungan perkotaan. Selama ini sebagian besar usaha yang dilakukan dalam penangan sampah kota di Indonesia adalah bagaimana cara membuang sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Tetapi akan muncul masalah baru lagi ketika kemampuan TPA tidak sudah seimbang lagi dengan sampah yang dihasilkan. Permasalahan kebisingan menjadi hal yang biasa di Indonesia, tingkat

kebisingan di negara ini merupakan kebisingan yang semakin parah setiap tahunnya. Kebisingan dikota-kota besar dengan jumlah kendaraan yang semakin meningkat sehingga menyebabkan pembatasan ketidaknyamanan sehingga dalam beraktivitas. dalam Permasalahanpenyelesaikan permasalahan kebisingan yang terjadi di Gedung ini biasanya terlalu banyak sehingga memerlukan mempermudah permasalahanya. Polusi suara atau bising adalah salah satu isu lingkungan yang terjadi di wilayah perkotaan. Polusi suara adalah polusi yang tak terlihat. Indera pendengaran merupakan alat komunikasi manusia terpenting kedua setelah penglihatan. Indera penglihatan atau mata dapat dipejamkan untuk menghindari pandangan yang tidak menyenangkan sedangkan telinga selalu terbuka bagi semua bunyi yang ada, sehingga perlu dipikirkan untuk mengurangi atau mencegah semaksimal mungkin bunyi yang kurang menyenangkan. Prinsip utama desain akustik ruang dalam adalah memperkuat atau mengarahkan bunyi yang berguna serta menghilangkan atau memperlemah bunyi yang tidak berguna untuk pendengaran manusia.

Setiap aktifitas manusia disadari atau tidak, dapat menjadi sumber bising. Seiring perkembangan zaman manusia pun membutuhkan industri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun kebanyakan aktifitas dalam suatu industri terutama proses produksi, dapat menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu pekerja maupun masyarakat sekitarnya. Kebisingan adalah bentuk energi yang bila tidak disalurkan pada tempatnya akan berdampak serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Upaya pengawasan dan pengendalian kebisingan menjadi faktor yang menentukan kualifikasi suatu perusahaan dalam menangani masalah lingkungan yang muncul. Kebisingan merupakan salah satu aspek lingkungan yang perlu diperhatikan. Karena termasuk polusi yang mengganggu dan bersumber pada suara / bunyi. Oleh karena itu bila bising tidak dapat dicegah atau dihilangkan, maka yang dapat dilakukan yaitu mereduksi dengan melakukan pengendalian melalui berbagai macam cara. Kehidupan modern sepertinya jadi perjuangan yang tak berkesudahan untuk melawan hiruk-pikuk yang kian meningkat. Saat berada di rumah, telinga kita diisi oleh riuhnya suara binatang peliharaan, suara AC, televisi, dan banyak hal lain. Saat berada di jalan, kita juga mendengar keriuhan lain: proyek pembangunan, suara kendaraan umum yang menderu dan musik yang dinyalakan orang lain. Sekitar 16,8 persen dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan pendengaran pada 1996. Survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia terhadap 20.000 orang di tujuh provinsi itu mencatat bahwa sekitar 38 juta penduduk Indonesia terganggu pendengarannya. Melihat hasil penelitian dari berbagai ahli dan penemuan dalam kehidupan seharihari tentang dampak kebisingan atau pencemaran suara inilah seharusnya diambil langkah langkah yang tepat untuk menanggulangi salah satu polusi yang dianggap tidak begitu berdampak dibanding dengan polusi air, tanah dan udara yang sekarang ini dengan jelas terlihat dalam kehidupan kita seharihari.

BAB I PEMBAHASAN

ILMU AKUSTIK Ilmu yang mempelajari tentang bunyi-bunyian beserta segala gejalanya disebut Akustik. Cabang-cabang ilmu akustik dapat disebutkan sbb : Akustik Arsitektur (Arcitectural Acoustics) Akustik Udara (Aero Acoustics) Akustik Bawah Air (Underwater Acoustics) Akustik Elektro (Electro Acoustics) Akustik Lingkungan (Environmental Acoustics) Pengendalian Bising Industri (Industrial Noise Control) Ultrasonik (Ultrasonics) Getaran (Vibration) Setiap cabang dari ilmu akustik ini dapat dipecah-pecah lagi menjadi cabangcabang yang lebih spesifik, misalnya Akustik Lingkungan, mempunyai cabang yang disebut Bising Lalu lintas (Traffic Noise), Kebisingan Bandara (Airport Noise); Ultronic mempunyai cabang Ultrasonik untuk industri dan Ultrasonik untuk kedokteran.

GELOMBANG AKUSTIK Gelombang akustik adalah gelombang mekanis yang berasal dari getaran mekanis. Gelombang akustik memerlukan medium (padat, cair, gas) untuk perambatnnya. Frekuensi Gelombang Akustik : Frekuensi menyatakan jumlah getaran per detik, Gelombang akustik mempunyai tiga pembagian daerah frekuensi, yaitu : f < 20 Hz Infrasonik

20 f < 20 KHz Sonic f 20 KHz Ultrasonic Daerah frekuensi lebih kecil dari 20 Hz tidak dapat diindera oleh telinga manusia. Cabang akustik yang akan dibahas pada makalah ini adalah akustik Lingkungan yakni Bising Lalu lintas (Traffic Noise), Kebisingan Bandara (Airport Noise).

PENCEMARAN OLEH SUARA Bunyi mencemarkan lingkungan apabila merupakan gangguan kepada penghuni lingkungan. Gangguan yang dialami manusia ada 2 macam,gangguan fisiologi dan psikologi. Bunyi sangat keras,seperti bunyi jet,helicopter,artileri,music rock,membuat tekanan yang keras sekali kepada alat pendengar,sehingga telinga dapat rusak karenanya. Oleh karena itu banyak orang yang tuli atau kurang pendengaran,sebab terlalu sering menderita sontakan getar bunyi yang terlalu keras. Juga karena bunyi yang keras tersebut terdengarnya mendadak,maka orang sering dikejutkan atau harus menahan kemarahan dan kejengkelan yang mengakibatkan gangguan jiwa dan badan,dan inipada hakikatnya lebih parah daripada tuli atau kurang pendengaran,karena mempengaruhi kesehatan dan watak orang. Bunyi tidak diinginkan yang sering disebut bising,atau berisik,atau bunyi terlalu keras,menimbulkan rasa kesal,menekan perasaan,atau mengejutkan. Reaksi tubuh terhadap itu menyebabkan perubahan kadar hormone di dalam darah,yang akan membangkitkan cepat,pembuluh sebagainya. Gangguan perasaan dan gangguan kesehatan mengakibatkan perubahanperubahan watak dan tingkah laku. Menurut Federal Noise Control Act of 1972, beberapa jenis kebisingan utama adalah: perubahan-perubahan darah jasmani,seperti denyut mata jantung makin menyempit,kejang-kejang,pupil membesar,dan

1. Kebisingan akibat industri 2. Kebisingan yang dihasilkan alat konstruksi. 3. Kebisingan akibat pesawat terbang. Kebisingan akibat pesawat terbang terjadi pada saat pesawat akan

lepas landas atau mendarat di bandar udara. Kebisingan pada pesawat terbang sangat tergantung dari perkembangan jenis pesawat dan jenis mesinnya. Contohnya, pesawat yang menggunakan mesin turbo jet mempunyai tingkat kebisingan yang lebih besar dari pesawat yang menggunakan mesin turbo fan. Setiap pesawat memberikan kontribusi kebisingan yang berbeda karena adanya perbedaan-perbedaan daya dorong pesawat dan keunikan karakter setiap jenis pesawat (Saenz danStephen, 1986). Kebisingan akibat pesawat pada umumnya berpengaruh pada awak pesawat dan penumpang, petugas lapangan terbang dan masyarakat yang bekerja atau tinggal disekitar lapangan terbang. (Harris, 1979). Pada umumnya memang belum memahami tatakrama menggunakan ponsel,

disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang. Untuk itulah ponsel harus dimatikan, tidak hanya diswitch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat. Berikut merupakan bentuk ganguan-gangguan yang terjadi di pesawat: Arah terbang melenceng, Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu, Gangguan penyebab VOR (VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar, Gangguan sistem navigasi, Gangguan frekuensi komunikasi, Gangguan indikator bahan bakar,

Gangguan sistem kemudi otomatis,

Semua gangguan diatas diakibatkan oleh ponsel. sedangkan gangguan lainnya seperti Gangguan arah kompas komputer diakibatkan oleh CD & game Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator)diakibatk an oleh gameboy Semua informasi diatas adalah bersumber dari ASRS. Dengan melihat daftar gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel. Kebisingan dengan baik. Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak diatas Jakarta) 4. Kebisingan akibat kereta api Bising kereta api pada umumnya diakibatkan oleh pengoperasian dari kereta api atau lokomotif tersebut, bunyi sinyal di perlintasan kereta api, bising di stasiun, dan pengerjaan serta pemeliharaan konstruksi rel. Tetapi sumber utama penyebab kebisingan kereta api adalah bunyi bising akibat roda dan gesekan antara roda dengan rel, serta bising yang ditimbulkan oleh sistem dan proses pembakaran pada kereta api tersebut. (Harris, 1979). 5. Kebisingan akibat lalu lintas. pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara

mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas

Salah satu sumber utama polusi suara atau kebisingan adalah bunyi lalu lintas kendaraan bermotor. Bunyi lalu lintas adalah bunyi yang tidak konstan tingkat suaranya. Tingkat gangguan bising dari bunyi lalu lintas dipengaruhi oleh

tingkat suaranya, kekerapan kehadirannya dalam satu satuan waktu, serta frekuensi bunyi yang dihasilkannya (Magrad, 1982). Bising lalu lintas ditimbulkan oleh bising yang dihasilkan dari kendaraan bermotor. Dimana bising kendaraan bermotor itu sendiri bersumber dari mesin kendaraan, bunyi pembuangan kendaraan, serta burryi yang dihasilkan oleh interaksi antara roda dengan jalan. Truk (kendaraan berat, termasuk bus) dan mobil merupakan sumber bising utama di jalan raya. (AASHTO, 1993) Mobil (kendaraan ringan) pada umumnya relatif tidak bising, tetapi karena jumlahnya yang banyak maka kebisingan yang dihasilkan menjadi cukup besar. Sumber bising utama dari mobil adalah bunyi pembakaran mesin serta bunyi gesekan antara ban dengan lapisan perkerasan jalan raya. Pada saat mesin mobil dinyalakan serta saat melakukan percepatan maksimum, bising terutama dihasilkan oleh bunyi mesin, sedangkan saat mobil melaju dengan kecepatan ringgi, sumber bising terbesar adalah bunyi gesekan roda dan perkerasan jalan (AASHTO, 1993). Truk (kendaraan berat), terutama yang bemesin diesel, karena ukuran dan tenaga yang dihasilkan oleh mesinnya, dapat menghasilkan tingkat bising lebih besar 15 dBA daripada mobil (kendaraan ringan). Bunyi pembakaran dalam mesin truk memberikan kontribusi bising yang besar terhadap kebisingan jalan raya, terutama saat truk melakukan percepatan, dan saat truk mencapai kecepatan diatas 80 km/jam (AASHTO, 1993). Kebisingan jalan raya {road traffic) memberikan proporsi frekuensi kebisingan yang paling mengganggu jika dibandingkan dengan kebisingan lapangan terbang (aircraft), anak-anak, manusia, hewan, kereta api maupun faktor-faktor lainnya (Croome, 1982). Kebisingan lalu lintas berada pada frekuensi 100 sampai 4000 Hz. Pada umumnya bunyi lalu lintas berada pada frekuensi 1000 Hz, sedangkan

kebisingan akibat ban dan knalpot (pembuangan) terjadi diatas dari 250 Hz. (AASHTO, 1993)

STANDAR DAN KRITERIA KEBISINGAN LALU LINTAS Tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh lalu Iintas selalu berubah setiap wakru, sehingga diperlukan sebuah standar dan kriteria kebisingan yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kebisingan sebuali lingkungan, sebagai dasar perhitungan teknik untuk disain kontrol kebisingan, dan sebagai dasar evaluasi kontrol kebisingan secara berkala (Lord, Gatley dan Evensen, 1980). Standar kebisingan adalah sebuah metode, prosedur, atau spesifikasi yang berhubungan dengan aspek-aspek kebisingan (metode pengukuran, efek bising pada manusia, level yang diijinkan). Sedangkan kriteria kebisingan adalah ukuran kuantitatif (besaran) atau hubungan, yang digunakan untuk menggambarkan pengaruh ringkat kebisingan, variasi perubahan, lamanya bising berlangsung dan menjadi ukuran dari gangguan yang ditimbulkan terhadap manusia. (Lord, Gatley dan Evensen, 1980) Pada umiunnya standar dan kriteria kebisingan ditetapkan oleh komite perdagangan dan industri, lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pihak pemerintah yang berkepentingan dan bergerak di bidang akustik. Badan yang membuat standar kriteria kebisingan antara lain American Assocation of State Highway and Transportation Offwials (AASHTO), National Cooperative Highway Research Program (NCHRP), The Federal HighwayAdministration (FHWA). Standar dan kriteria untuk mengevaluasi kebisingan lingkungan dibuat untuk kepentingan kesehatan dan kesejahteraan manusia, sehingga pada kondisi lingkungan yang berbeda digunakan besaran dan skala yang berbedajuga (Lord, Gatley dan Evensen,1980). Besaran dan skala yang dipakai contohnya Noise and Number Index (NNI) dipakai untuk mengevaluasi kebisingan pada lapangan terbang, Corrected Noise Level (CNL) unruk kebisingan didaerah industri dan instalasi, Leq dB(A) untuk kebisingan lalu lintas, kereta api, tempat-tempat konstruksi dan daerah pengurangan (Croome, kebisingan, Tingkat dan Lw dB(A) untuk kebisingan oleh lalu lalu lintas lintas. akan 1982) bising yang dihasilkan

menunjukkan variabilitas perubahan tingkat suara terhadap waktu yang besar. Oleh karena itu dibutuhkan perhitungan statistik yang dapat mencakup variabilitas yang besar tersebut. Alat standar untuk pengukuran kebisingan adalah sound level meter (SLM). SLM dapat mengukur tiga jenis karakter respon frekuensi, yang ditunjukkan dalam skala A, B, dan C. Skala C dapat menangkap suara dengan frekuensi dari 50 sampai 5000 Hz, sedangkan skala A dan B hanya akan menangkap suara dengan frekuensi 1000 Hz keatas. Skala A ditemukan paling mewakih batasan pendengaran manusia dan respons telinga terhadap bising, termasuk bising lalu lintas serta bising yang dapat menimbulkan kekilangan pendengaran. Skala A dinyatakan dalam satuan dBA. (AASHTO, 1974; Croome, 1977; Lord, Gatley, dan Evensen, 1980).

CARA MENGATASI PENCEMARAN SUARA a. Cara pertama untuk menghilangkan atau mengurangkan gangguan kebisingan ialah dengan mematikan atau melemahkan sumbernya. b. Dengan cara menghambat perambatan getar bunyi,bunyi dapat dicegah kedatangannya di suatu tempat yang diinginkan. Tidak semua bahan mudah menghantarkan getar. Udara,air dan benda padat yang kenyal mudah menghantarkan,tetapi bahan yang remah atau rapuh seperti karton,kayu,serabut,batu bata,dan sebagainya akan melemahkan getar yang sampai kepadanya. Bahan-bahan ini disebut peredam bunyi yang dipakai untuk menghambat jalan dan berpantulnya bunyi. c. Ada kemungkinan bahwa orang tidak dapat melakukan cara pertama dan kedua,misalnya orang yang pekerjaannya selalu harus bergaul dengan bunyi yang tidak menyenangkan,seperti mereka yang melayani senjata berat atau mereka yang bekerja di dalam pabrik yang penuh suara bising. Dalam hal ini orang dapat mengurangi gangguan bunyi dengan menghambat supaya getar suara tidak sampai masuk ke dalam telinga,dengan cara menutup telinga dengan jari,dengan kapas atau dengan peredam bunyi lainnya.

PENGARUH ATAU AKIBAT KEBISINGAN Jenis-jenis dan akibat-akibat kebisingan Tipe Kehilangan pendengaran Akibat-akibat badaniah Akibatakibat fisiologis Gangguan emosional Gangguan Akibat-akibat psikologis gaya hidup Gangguan pendengaran Gangguan tidur atau istirahat, hilang Uraian Perubahan ambang batas sementara akibat kebisingan Perubahan ambang batas permanen akibat kebisingan Rasa tidak nyaman darah atau stress

meningkat,tekanan kepala,bunyi dering

meningkat,sakit

Kejengkelan, kebingungan

konsentrasi waktu bekerja, membaca dsb. Merintangi kemampuan mendengarkan TV, radio, percakapan, telpon dsb.

PENGARUH PADA SISTEM TRANSPORTASI Jika dikaitan dengan sistem transportasi, polusi suara tentu akan memberikan dampak yang tidak baik. Dampak yang terjadi lebih pada dampak secara makro. Kebanyakan orang berpikir bahwa penyumbang terbesar polusi suara adalah sistem

transportasi dan komponen- komponennya. Selanjutnya, polusi suara yang ada akan membuat orang berpikir bahwa sistem transportasi yang ada tidak layak diterapkan karena menimbulkan efek yang buruk yakni polusi itu sendiri. Sehingga diperlukan suatu kebijakan baru untuk mengganti sistem yang tidak layak ini.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Polusi suara atau kebisingan dapat didefinisikan sebagai suara yang tidak dikehendaki dan mengganggu manusia. Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup. Sehingga seberapa kecil atau seberapa haluspun suara jika tidak diinginkan akan disebut bising dan mengganggu. Polusi suara di Indonesia terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, agaknya perlu mendapatkan tanggapan serius dari pemerintah. Seperti kita ketahui, polusi suara banyak bersumber dari suara bising kendaraan-kendaraan bermotor. Untuk itu diperlukan suatu regulasi untuk mengatur keberadaan kendaraan-kendaraan ini sehingga keberadaanya di masa mendatang tidak lagi menjadi pengganggu. Jika diberlakukan standar emisi gas buang pada kendaraan, seharusnya diberlakukan juga standar intensitas kebisingan untuk masing-masing tipe dan ukuran kendaraan. Berdasarkan peraturan standar emisi gas buang, bila kendaraan sudah melebihi ambang batas yang ditentukan, maka kendaraan itu sudah tidak layak jalan. Seharusnya, hal yang sama juga berlaku dalam hal intensitas kebisingan. Jika hal ini tidak ditangani secara serius, akan menimbulkan masalah yang dampaknya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. Selain itu, polusi suara yang timbul juga akan berpengaruh pada kelangsungan sistem transportasi dikarenakan polusi yang timbul akan membuat orang menyalahkan sistem transportasi yang diterapkan.

Pemerintah

hendaknya

juga berperan dalam pengelolaan

polusi suara.

Seperti halnya di luar negeri yang memilih musik sebagai solusi, hendaknya di negara kita juga bisa diterapkan hal serupa.Jika hal ini diterapkan, selain dapat menghilangkan gangguan yang timbul akibat polusi suara, juga dapat membuat suatu terobosan untuk mengubah polusi menjadi hiburan. Apabila suatu suara mengganggu sedang membaca atau mendengarkan music, maka suara itu adalah kebisingan bagi orang itu meskipun orang-orang lain mungkin tidak terganggu oleh suara tersebut. Meskipun pengaruh suara banyak kaitannya dengan faktor-faktor psikologis dan emosional, ada kasus-kasus dimana akibat-akibat serius seperti kehilangan pendengaran terjadi karena tingginya tingkat kenyaringan suara pada tingkat tekanan suara berbobot A atau karena lamanya telinga terpasang terhadap kebisingan tersebut. Apabila tingkat kenyaringan dari suatu suara, pada suatu titik tertentu, suara tidak lagi terdengar. Tingkat ini juga berbeda sesuai dengan frekuensi. Tingkat ini diindikasikan sebagai tingkat minimum yang bisa terdengar. Tingkat minimum yang bisa terdengar pada 20 dB atau lebih dipandang sebagai kesulitan pendengaran.