Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH BIOLOGI TERAPAN DALAM BIDANG PETERNAKAN

Disusun oleh : Eni Indriati Gokhimaro Sirait Hasfiyati Hikmah Amelia Kustina Muhammad Suten Aji Rohayati Retno Wulansari Setyorini Umu Adhiyah 082453 081336 082457 082461 082472 080143 070749 070758 080653

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang maha Esa atas kelimpahan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar, meskipun masih banyak kekurangan dalam makalah yang kami buat ini. Kami membuat makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Biokimia, sekaligus untuk kami memperdalam ilmu Biologi Terapan khususnya Dibidang Peternakan sesuai dengan makalah yang kami buat. Isi makalah ini menyangkut tentang Peternakan, sesuai dengan apa yang di tugaskan kepada kami, kami harap dengan membaca makalah yang kami buat ini agar dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Dan kami sadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Serang , 14 Desember 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Biologi memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik untuk menyediakan barang dan jasa maupun memperbaiki kondisi lingkungan untuk tempat hidup manusia. pemanfaatan Biologi pada bidang peternakan pun sudah sedemikian besar. Dengan menerapkan pengetahuan cabang-cabang Biologi seperti zoologi, anatomi hewan, fisiologi hewan, genetika, biologi reproduksi, embriologi, dan biologi molekuler/rekayasa genetika, para peternak dan masyarakat yang lebih luas telah dapat menikmati hasilnya. Melalui penerapan ilmu-ilmu tersebut telah banyak dihasilkan ternak varietas unggul, diantaranya adalah ayam penghasil banyak telur, ayam pedaging, sapi pedaging, sapi penghasil banyak susu, dan domba pedaging. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang sangat besar. Manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan rasa, karsa dan daya cipta yang dimiliki. Salah satu bidang iptek yang berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi reproduksi. Teknologi reproduksi adalah ilmu reproduksi atau ilmu tentang perkembangbiakan yang menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk menghasilkan suatu produk (keturunan).

Dalam usaha perbanyakan ternak unggul tersebut kini telah banyak menggunakan teknik kawin silang (hibridisasi) dan teknik kawin suntik (inseminasi buatan). Dengan teknik inseminasi buatan, dapat dihasilkan keturunan sapi atau domba yang diharapkan tanpa mengenal musim kawin, serta tidak melibatkan sapi atau domba jantan. Teknik inseminasi buatan ini diikuti dengan teknik superovulasi, yakni teknik perbanyakan ternak unggul mare dengan serum cara menyuntikkan dan HCG hormon (human reproduksi chorionic berupa PMSG (pregnant gonadotrophin)

gonadotrophin). Hormon-hormon ini berfungsi merangsang terbentuknya sel telur dalam jumlah banyak sebelum sapi atau domba diinseminasi. Selain teknik inseminasi dan superovulasi, dewasa ini telah dikembangkan juga teknik kloning, transfer embio, hewan transgnenik dan fertilisasi in vitro. Yang dapat menghasilkan varietas ternak yang unggul.

B. Tujuan Memberikan informasi kepada pembaca mengenai penarapan ilmu biologi pada bidang peternakan, yaitu dengan cara teknik rekayasa genetika yang dilakukan dengan tujuan memperoleh ternak jenis unggul dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang relatif lebih cepat.

C. Manfaat 1. Mengetahui macam-macam terapan biologi di bidang peternakan. 2. Mengtahui berbagai macam teknik rekayasa genetika di bidang peternakan. 3. Mengetahui keunggulan dan kelemahan berbagai macam teknik rekayasa genetika di bidang peternakan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 INSEMINASI BUATAN

a. Pengertian Inseminasi Buatan Inseminasi buatan merupakan terjemahan dari artificial insemination yang berarti memasukkan cairan semen (plasma semen) yang mengandung sel-sel kelamin pria (spermatozoa) yang diejakulasikan melalui penis pada waktu terjadi kopulasi atau penampungan semen. inseminasi buatan adalah memasukkan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin wanita dengan menggunakan alat-alat buatan manusia dan bukan secara alami. Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik merupakan suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang

berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut insemination gun. Tujuan Inseminasi Buatan a) Memperbaiki mutu genetika ternak; b) Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ; c) Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama; d) Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur; e) Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin. b. Sejarah Inseminasi Buatan Penelitian ilmiah pertama dalam bidang inseminasi buatan pada hewan piarann dialkukan oleh ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia, yaitu Lazzaro Spallanzani pada tahun 1780. Dia berhasil menginseminasi amphibia, yang kemudian memutuskan untuk melakukan percobaan pada anjing. Anjing yang dipelihara di rumahnya setelah muncul tanda-tanda birahi dilakukan inseminasi dengan semen yang dideposisikan langsung ke dalam uterus dengan sebuah spuit lancip. Enam puluh hari setelah inseminasi, induk anjing tersebut melahirkan anak tiga yang kesemuanya mirip dengan induk dan jantan uang dipakai semennya. Dua tahun kemudian (1782) penelitian spallanzani tersebut diulangi oleh P. Rossi dengan hasil yang memuaskan. Semua percobaan ini membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan mengunakan inseminasi dan menghasilkan keturunan normal. Spallanzani juga membuktikan bahwa daya membuahi semen terletak pada spermatozoatozoa, bukan pada cairan semen. Dia membuktikannya dengan menyaring semen yang baru ditampung. Cairan yang tertinggal diatas filter mempunyai daya fertilisasi tinggi. Peneliti yang sama pada tahun 1803, menyumbangkan pengetahuannya mengenai pengaruh pendinginan terhadap perpanjangan hidup spermatozoatozoa. Dia mengamati bahwa semen kuda yang dibekukan dalam salju atau hawa dimusim dingin tidak selamanya membunuh spermatozoatozoa tetapi mempertahankannya dalam keadaaan tidak bergerak sampai dikenai panas dan setelah itu tetap bergerak selama tujuh setengah jam. Hasil penemuannya mengilhami peneliti lain untuk lebih mengadakan penelitian yang mendalam terhadap sel-sel

kelamin dan fisiologi pembuahan. Dengan jasa yang ditanamkannya kemudian masyarakat memberikan gelar kehormatan kepada dia sebagai Bapak Inseminasi. Perkenalan pertama IB pada peternakan kuda di Eropa, dilakukan oleh seorang dokter hewan Perancis, Repiquet (1890). Dia menasehatkan pemakaian teknik tersebut sebagai suatu cara untuk mengatasi kemajiran. Hasil yang diperoleh masih kurang memuaskan, masih banyak dilakukan penelitian untuk mengatasinya, salah satu usaha mengatasi kegagalan itu, Prof. Hoffman dari Stuttgart, Jerman, menganjurkan agar dilakukan IB setelah perkawinan alam. Caranya vagina kuda yang telah dikawinkan dikuakkan dan dengan spuit diambil semennya. Semen dicampur dengan susu sapi dan kembali diinsemiasikan pada uterus hewan tersebut. Namun diakui cara ini kurang praktis untuk dilaksanakan. Pada tahun 1902, Sand dan Stribold dari Denmark, berhasil memperoleh empat konsepsi dari delapan kuda betina yang di IB. Mereka menganjurkan IB sebagai suatu cara yang ekonomis dalam pengunaan dan penyebaran semen dari kuda jantan yang berharga dan memajukan peternakan pada umumnya. Penanganan IB secara serius dilakukan di Rusia, sebagai usaha untuk memajukan peternakan. Peneliti dan pelopor terkemuka dalam bidang IB di Rusia adalah Elia I. Ivannoff. Tahun 1899 ia diminta Direktur Peternakan Kuda Kerjaaan Rusia, untuk menentukan kemungkinankemungkinan pemakaian IB. Dan dilah orang pertama yang berhasil melakukan IB pada sapi dan domba. Hasil spektakuler dan sukses terbesar yang diperoleh adalah di Askaniya-Nova (1912) yang berhasil menghasilkan 31 konsepesi yang 39 kuda yang di IB, sedang dengan perkawinan alam hanya diperoleh 10 konsepsi dari 23 kuda yang di IB. Tahun 1914, Geuseppe amantea Guru Besar fisiologi manusia di Roma, banyak mengadakan penelitian tentang spermatozoatologi, dengan hewan percobaan anjing, burung merpati dan ayam. Kemudian dia berhasil membuat vagina buatan pertama untuk anjing. Berdasar penemuan ini banyak peneliti lain membuat vagina buatan untuk sapi, kuda dan domba. Tahun 1926, Roemelle membuat yang pertama kali membuat vagina buatan untuk sapi, dan orang pertama yang membuat vagina buatan untuk domba dan kambing adalah Fred F. Mckenzie (Amerika Serikat) pada tahun 1931. Pada tahun 1938 Prof. Enos J. Perry mendirikan koperasi IB pertama di Amerika Serikat yang terletak di New Jersey.

Kemajuan pesat dibidang IB, sangat dipercepat dengan adanya penemuan teknologi pembekuan semen sapi yang disponsori oleh C. Polge, A.U. Smith dan A.S. Parkes dari Inggris pada tahun 1949. Mereka berhasil menyimpan semen untuk waktu panjang dengan membekukan sampai -79 0C dengan mengunakan CO2 pada (dry ice) sebagai pembeku dan gliserol sebagai pengawet. Pembekuan ini disempurnakan lagi, dengan dipergunakannya nitrogen cair sebagai bahan pembeku, yang menghasilkan daya simpan yang lebih lama dan lebih praktis, dengan suhu penyimpanan -169 0C. c. Teknik Inseminasi Sejarah inseminasi Penelitian ilmiah pertama dalam bidang inseminasi buatan pada hewan piarann dialkukan oleh ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia, yaitu Lazzaro Spallanzani pada tahun 1780. Dia berhasil menginseminasi amphibia, yang kemudian memutuskan untuk melakukan percobaan pada anjing. Anjing yang dipelihara di rumahnya setelah muncul tanda-tanda birahi dilakukan inseminasi dengan semen yang dideposisikan langsung ke dalam uterus dengan sebuah spuit lancip. Enam puluh hari setelah inseminasi, induk anjing tersebut melahirkan anak tiga yang kesemuanya mirip dengan induk dan jantan uang dipakai semennya. Dua tahun kemudian (1782) penelitian spallanzani tersebut diulangi oleh P. Rossi dengan hasil yang memuaskan. Semua percobaan ini membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan mengunakan inseminasi dan menghasilkan keturunan normal.

1. Teknik IUI (Intrauterine Insemination)

Teknik IUI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan melalui leher rahim hingga ke lubang uterine (rahim).
2. Teknik DIPI (Direct Intraperitoneal Insemination)

Teknik DIPI telah dilakukan sejak awal tahun 1986. Teknik DIPI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan langsung ke peritoneal (rongga peritoneum). Teknik IUI dan DIPI dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut bivalve speculum, yaitu suatu alat yang berbentuk seperti selang dan mempunyai 2 cabang, dimana salah satu ujungnya sebagai tempat untuk memasukkan/menyalurkan sperma dan ujung yang lain dimasukkan ke dalam saluran leher rahim untuk teknik IUI, sedangkan untuk teknik DIPI dimasukkan ke dalam peritoneal. Jumlah sperma yang disalurkan/diinjeksikan kurang lebih

sebanyak 0,52 ml. Setelah inseminasi selesai dilakukan, orang yang mendapatkan perlakuan inseminasi tersebut harus dalam posisi terlentang selama 1015 menit. Tahapan Inseminasi Buatan
a.

Seleksi Pejantan

Pejantan-pejantan unggul diseleksi dari program breeding terencana dipakai dalam penyediaan semen beku. Seekor pejantan unggul dapat menghasilkan 25.000 ekor anak per tahun melalui penggunaan semen beku, sehingga selama hidup dari seekor pejantan unggul dapat diperoleh 150.000 ekor anak (Sumbung, 2002).
b.

Penampungan Semen semen dapat dilakukan dengan cara menggunakan vagina buatan,

Penampungan

elektroejakulator, dan massage (pengurutan). Penampungan semen yang umum dan rutin dilakukan dalam kegiatan IB adalah menggunakan vagina buatan. Vagina buatan adalah selongsong karet yang keras dan kuat kemudian dilapisi dengan karet yang lembut dan diberi pelicin (vaselin), salah satu ujungnya dilengkapi dengan tabung untuk menampung semen. Metode penampungan semen dengan vagina buatan dilakukan dengan membuat pejantan berejakulasi dalam vagina buatan, kemudian semen ditampung di dalam tabung.
c.

Evaluasi Semen

Sesudah penampungan semen, dilakukan evaluasi semen berupa penilaian keadaan umum (volume, warna, dan konsistensi), motilitas (gerakan massa dan gerakan individual), konsentrasi dan penilaian morfologik (kelainan primer dan sekunder).
d.

Pengenceran Semen

Pengenceran semen dapat dilakukan dengan menggunakan bahan seperti buffer isotonik yang berisi karbohidrat sebagai sumber energi, protein pelindung, antibiotik, dan semen yang akan dibekukan ditambah dengan crioprotectan (glycerol atau dimethylsulphoxide). Semen sapi dapat diencerkan 10 75 kali, semen domba 5 10 kali, dan semen kambing 10 25 kali, tetapi semen babi dan kuda hanya 2 4 kali saja. Satu kali inseminasi diperlukan 10 15 juta spermatozoa motil pada sapi, 200 juta pada domba dan kambing, 500 juta pada babi, dan 1.500 juta pada kuda. Dengan dosis inseminasi ini dapat dihitung berapa banyak betina dapat diinseminasi dari seekor pejantan. Penyimpanan/ Pembekuan Semen Semen yang telah diencerkan yang tidak dapat langsung digunakan, dapat disimpan atau dibekukan. Semen dimasukkan ke dalam straw plastik volume 0,5 cc atau 0,25 cc (mini straw) kemudian dibekukan dalam nitrogen cair pada suhu 196oC di dalam kontainer.
e.

Thawing/ Pencairan Semen

Semen yang telah dibekukan dapat dicairkan kembali (thawing) pada temperature tertentu, kemudian langsung diinseminasikan ke dalam cervix atau corpus uteri. Semen yang sudah dicairkan tidak boleh dikembalikan lagi/ dibekukan tetapi harus segera dideposisikan pada saluran reproduksi betina. Sumber Sperma Ada 2 jenis sumber sperma yaitu: 1. Dari sperma suami Inseminasi yang menggunakan air mani suami hanya boleh dilakukan jika jumlah spermanya rendah atau suami mengidap suatu penyakit. Tingkat keberhasilan AIH hanya berkisar 10-20 %. Sebab-sebab utama kegagalan AIH adalah jumlah sperma suami kurang banyak atau bentuk dan pergerakannya tidak normal. 2. Sperma penderma Inseminasi ini dilakukan jika suami tidak bisa memproduksi sperma atau azoospermia atau pihak suami mengidap penyakit kongenital yang dapat diwariskan kepada keturunannya. Penderma sperma harus melakukan tes kesehatan terlebih dahulu seperti tipe darah, golongan darah, latar belakang status physikologi, tes IQ, penyakit keturunan, dan bebas dari infeksi penyakit menular. Tingkat keberhasilan Inseminasi AID adalah 6070 %. Penyiapan sperma Sperma dikumpulkan dengan cara marturbasi, kemudian dimasukkan ke dalam wadah steril setelah 2-4 hari tidak melakukan hubungan seksual. Setelah dicairkan dan dilakukan analisa awal sperma, teknik Swim-up standar atau Gradient Percoll digunakan untuk persiapan penggunaan larutan garam seimbang Earle atau Medi. Cult IVF medium, keduanya dilengkapi dengan serum albumin manusia. Dalam teknik Swim-up, sampel sperma disentrifugekan sebanyak 400 g selama 15 menit. Supernatannya dibuang, pellet dipisahkan dalam 2,5 ml medium, kemudian disentrifuge lagi. Sesudah memisahkan supernatannya, dengan hati-hati pellet dilapisi dengan medium dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37 C. Sesudah diinkubasi, lapisan media yang berisi sperma motile dikumpulkan dengan hati-hati dan digunakan untuk inseminasi. Pada teknik Percoll, sperma dilapiskan pada Gradient Percoll yang berisi media Medi. Cult dan disentrifugekan sebanyak 500 g selama 20 menit. 90 % dari pellet kemudian dipisahkan dalam

6 ml media dan disentrifugekan lagi sebanyak 500 g selama 10 menit. Pellet sperma kemudian dipisahkan dalam 0,5 atau 1 ml medium dan digunakan untuk inseminasi. Analisis Kualitas Sperma Pemeriksaan Laboratorium Analisis Sperma dilakukan untuk mengetahui kualitas sperma, sehingga bisa diperoleh kualitas sperma yang benar-benar baik. Penetapan kualitas ekstern di dasarkan pada hasil evaluasi sampel yang sama yang dievaluasi di beberapa laboratorium, dengan tahapan-tahapan: Pengambilan sampel, Penilaian Makroskopik, Penialain Mikroskopis, Uji Biokimia, Uji Imunologi, Uji mikrobiologi, Otomatisasi, Prosedur ART, Simpan Beku Sperma. Resiko Injeksi Sperma Dalam pembuahan normal, antara 50.000-100.000 sel sperma, berlomba membuahi 1 sel telur. Dalam pembuahan normal, berlaku teori seleksi alamiah dari Charles Darwin, dimana sel yang paling kuat dan sehat adalah yang menang. Sementara dalam inseminasi buatan, sel sperma pemenang dipilih oleh dokter atau petugas labolatorium. Jadi bukan dengan sistem seleksi alamiah. Di bawah mikroskop, para petugas labolatorium dapat memisahkan mana sel sperma yang kelihatannya sehat dan tidak sehat. Akan tetapi, kerusakan genetika umumnya tidak kelihatan dari luar. Dengan cara itu, resiko kerusakan sel sperma yang secara genetik tidak sehat, menjadi cukup besar. Belakangan ini, selain faktor sel sperma yang secara genetik tidak sehat, para ahli juga menduga prosedur inseminasi memainkan peranan yang menentukan. Kesalahan pada saat injeksi sperma, merupakan salah satu faktor kerusakan genetika. Secara alamiah, sperma yang sudah dilengkapi enzim bernama akrosom berfungsi sebagai pengebor lapisan pelindung sel telur. Dalam proses pembuahan secara alamiah, hanya kepala dan ekor sperma yang masuk ke dalam inti sel telur. Sementara dalam proses inseminasi buatan, dengan injeksi sperma, enzim akrosom yang ada di bagian kepala sperma juga ikut masuk ke dalam sel telur. Selama enzim akrosom belum terurai, maka pembuahan akan terhambat. Selain itu prosedur injeksi sperma memiliko resiko melukai bagian dalam sel telur, yang berfungsi pada pembelahan sel dan pembagian kromosom.

d. Keuntungan Dan Kerugian Inseminasi Buatan

Keuntungan IB a Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; b Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
c Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);

d Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama; e Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; f Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar; g Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin. Kerugian IB a Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan; b Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
c Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan

yang sama dalam jangka waktu yang lama; d Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).

2.2

TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO

a. Pengertian Transfer Embrio Transfer embrio adalah suatu proses dimana embrio dipindahkan dari seekor hewan betina yang bertindak sebagai donor pada waktu embrio tersebut belum mengalami implantasi, kepada seekor betina yang bertindak sebagai penerima sehingga resepien tersebut menjadi bunting. Transfer Embrio (TE) merupakan generasi kedua teknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi IB hanya dapat menyebarkan bibit unggul ternak jantan, sedang pada teknologi TE dapat menyebarkan bibit unggul ternak jantan dan betina. TE memungkinkan induk betina unggul memproduksi anak dalam jumlah banyak tanpa harus bunting dan melahirkan.

b. Sejarah Transfer Embrio Dimulai pada tahun 1890 dengan dilakukannya teknik Transfer Embrio pada Kelinci yang dilakukan oleh Heape. Kemudian pada tahun 1951 Willet dari USA mencoba melakukan TE pada Sapi dengan memanfaatkan embrio dari Rumah Potong Hewan. Pada tahun 1960 berhasil dilaksanakan koleksi embrio dan sekaligus transfer embrio dengan cara teknik abdominal surgery. Selanjutnya tahun 1965 salah seorang peneliti dari Jepang yaitu Prof. Sugie berhasil melaksanakan teknik By Pass Method yaitu merupakan teknik non surgery method. Pada tahun 1970 teknik TE mulai dikomersialkan di USA yang dilanjutkan akhir tahun 1970 teknik TE dengan non surgery method dengan recovery 6 transfer diterapkan di lapangan. Awal tahun 1980 Bilton telah berhasil melakukan freezing embrio, dan pada tahun 1989 telah lahir lebih dari 10000 Calf (anak sapi) di USA dan pada saat itu teknik TE dimulai di negara-negara berkembang. Pada tahun 1984 telah dilaksanakan program TE di Indonesia atas prakarsa Menteri Koperasi dan Kepala Bulog saat itu yaitu Bustanil Arifin, di peternakan sapi Cicurug Sukabumi. Saat itu pelaksanaan program TE tersebut dibawah koordinasi team TE dari USA (Granada Texas) dengan teknik pembedahan (surgery) pada fossa para lumbal. c. Langkah-Langkah Transfer Embrio 1. Seleksi Donor dan Resipien Seleksi dilakukan dengan tujuan agar hewan yang dijadikan sebagai donor maupun resipien merupakan hewan yang layak mendapat perlakuan terhadap teknologi transfer embrio. Calon donor yang akan dipakai harus diseleksi dengan kriteria sbb: - Memiliki genetik yang unggul (Genetik Superiority) - Mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi (High Reproductivity), sehat secara serologis bebas dari penyakit hewan menular terutama penyakit-penyakit reproduksi - Memiliki nilai pasar tinggi. Sejarah reproduksi diketahui, mempunyai siklus birahi normal dan kemampuan fertilitas tinggi Pada calon resipient diberikan persyaratan berikut : - Minimal sudah beranak atau dara yang mempunyai performans yang baik mempunyai berat badan minimal 300 kg penyakit menular terutama penyakit reproduksi. Sejarah reproduksi tidak menunjukkan gejala infertil, mempunyai siklus normal, tanda

birahi terlihat jelas, intensitas lendir birahi normal dan transparan dan mempunyai interval birahi antara l8 -24 hari.

Sapi resipien tidak harus mempunyai mutu genetik yang baik dan berasal dari bangsa

yang sama, tetapi harus mempunyai organ dan siklus reproduksi normal, tidak pernah mengalami kesulitan melahirkan (distokia). 2. Penyerentakan Berahi Donor dan Resipien Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha yang bertujuan untuk mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan resipien. Sinkronisasi estrus umumnya menggunakan hormon prostaglandin F2 (PGF2) atau kombinasi hormon progesteron dengan PGF2. Namun dalam penggunaannya terutama pada resipien sebelum dilakukan treatment PGF2 ini harus terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan secara pelpasi rektal untuk memastikan adanya Korpus luteum (Corpus luteum). Hal ini disebabkan daya guna preparat hormon PGF2 ini adalah melisiskan Korpus luteum. Prosedur yang digunakan adalah:
a.

Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2 satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan. Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2 dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari. Penyuntikan PGF2 pada ternak resipien harus dilakukan satu hari lebih awal dari

b.

pada donor. Keadaan ini disebabkan karena pada ternak donor yang telah diberi hormon

gonadotropin, berahi biasanya lebih cepat yaitu 36 60 jam setelah penyuntikan PGF2, sedangkan pada resipien berahi biasanya timbul 48 96 jam setelah penyuntikan PGF2.

3. Superovulasi Donor Sapi adalah ternak uniparous (ternak yang hanya menghasilkan satu keturunan dalam satu masa kebuntingan), sehingga biasanya hanya sebuah sel telur terovulasi setiap siklus berahi. Superovulasi (menghasilkan banyak sel telur yang diovulasikan) pada donor dapat dilakukan dengan pemberian obat penyubur yakni hormon gonadotropin berupa PMSG atau FSH. Standar obat yang sering digunakan untuk superovulasi adalah Pregnant Mares Serum Gonadotropin (PMSG). Penyuntikan hormon gonadotropin akan meningkatkan perkembangan folikel pada ovarium (folikulogenesis) dan pematangan folikel sehingga diperoleh ovulasi sel telur yang lebih banyak. Penyuntikan dengan Follicle Stimulating Hormone (FSH) menghasilkan CL dan daya hidup embrio yang lebih baik daripada perlakuan PMSG. 4. Inseminasi Buatan Donor yang telah dirangsang dengan superovulasi, dikawinkan umumnya dengan cara inseminasi buatan (IB) dengan memakai semen pejantan unggul. Dosis semen ditingkatkan agar jumlah sel telur yang dibuahi lebih banyak. IB yang baik dilaksanakan 6 sampai 24 jam setelah timbulnya berahi. Berahi pada sapi ditandai oleh alat kelamin luar (vagina) berwarna merah, bengkak dan keluarnya lendir jernih serta tingkah laku sapi yang menaiki sapi lain atau diam apabila dinaiki sapi lain. Pada program TE, IB dilakukan dengan dosis ganda dimana satu straw semen beku biasanya mengandung 30 juta spermatozoa unggul. Umumnya IB dilakukan dua kali dengan tenggang waktu 12 jam. Yang perlu diperhatikan adalah biasanya efek atau pengaruh superovulasi tersebut memberikan kepekaan yang tinggi sehingga faktor kebersihan (hygiene) harus diperhatikan dalam artian prosedur dilakukan dengan aseptik. 5. Panen/ Koleksi Embrio Koleksi embrio dapat dilakukan 2 cara atau metode, yaitu : 1. Tanpa pembedahan (Non surgery/non operatif/Transcervical) 2. Dengan pembedahan (Surgery/operatif ) pada Fossa Para Lumbal (kiri/kanan) Pemanenan embrio melalui pembedahan dilakukan pada ternak ternak kecil seperti kambing dan domba, sedangkan untuk ternak besar seperti sapi, kerbau dan kuda kedua cara tersebut dapat dipakai. Cara tanpa pembedahan pada ternak besar sekarang ini lebih populer, karena sarana dan pelaksanaannya lebih sederhana dan resikonya lebih kecil dibandingkan dengan cara pembedahan. Metode Non surgery lebih popular di Eropa, Jepang, Asia (Indonesia) dan Brazil, sedangkan metode surgery biasa digunakan di USA. Tahap Pelaksanaan

Adapun tahap pelaksanaan koleksi embrio terdiri dari : 1. Tahap persiapan hewan donor 2. Tahap persiapan peralatan dan bahan 3. Tahap pelaksanaan koleksi embrio Tahap persiapan hewan donor Hewan donor yang dapat digunakan adalah donor pada 7 8 hari post berahi dan persiapan tersebut meliputi : Ditempatkan dalam kandang pemaksa
Rambut pada pangkal ekor yang panjang digunting

o Lakukan pencucian dengan sabun antiseptik o Lakukan pembilasan dengan alcohol 70%
Lakukan anestise Epidural dengan menggunakan 2 5 ml Lidocain Chloride 2 %

o Pada ruang antar vertebra yaitu tulang sacrum terakhir tulang coccygea pertama Faeces dikeluarkan dari dalam rectum hingga kosong Dalam rectum ada udara, dikeluarkan dengan menggunakan pompa isap Vulva dan vagina o Dicuci bersih dan dikeringkan dengan handuk o Sterilisasi atau desinfeksi dengan alkohol 70 % Tahap persiapan alat dan bahan Alat-alat yang diperlukan adalah : Cervical expander, yaitu alat untuk membuka canalis cervicalis Mucus remover, yaitu alat untuk membersihkan canalis cervicalis dari lendir atau mucus Foley catheter (two way) berukuran 16 20 G (tergantung ukuran canalis cervicalis) terdiri dari 3 saluran yaitu : o Saluran masuk media flushing o Saluran keluar media hasil flushing o Saluran penggembung balon kecil Tabung media Tabung penampung hasil flushing embrio Injeksi spuit :

o Pengisap media hasil flushing o Penekan/pengisap balon pada foley catheter Sedangkan bahan-bahan yang diperlukan terdiri dari : Modified Dulbeccos Phosphat Buffered Saline (M-PBS) dengan komposisi: - PBS (-) 9,8 g - Metal salt (NaCl dan Ca Cl2) 1,0 ml (PBS +) - Glucose/Dextrose 1,0 g - Sodium Pyruvate 0,036 g - Penicilline 100.000 IU - Streptomycin 100 mg - Bovine Serum Albumin (BSA) 3,0 mg Larutan ini dibuat dalam volume 1 Liter. Tahap pelaksanaan Koleksi Embrio Teknik Transcervical Pelaksana atau teknisi bekerja dengan tangan kiri di dalam rektum, yang bertujuan untuk : 1. Estimasi jumlah korpus luteum, folikel dan ukuran ovarium 2. Manipulasi atau menuntun pemasukan alat ke dalam cervix dan uterus 3. Manipulasi pelaksanaan koleksi embrio Cervical expander dimasukkan ke dalam vagina hingga ke dalam lumen cervix. Dianjurkan memakai mucous remover untuk mengeluarkan lendir yang terdapat banyak di dalam lumen cervix. Disesuaikan dengan ukuran lumen cervix, masukkan two way Foley catheter hingga masuk ke dalam cornua uteri Catheter memanipulasi ke dalam uterus (cornua superovulasi terjadi). Balon terletak 5 cm di bawah bifurcatio uteri. Hati-hati jangan sampai melukai pada saat memasukan catheter Pegang uterus dalam posisi lurus Isi balon catheter dengan udara 10 15 x sehingga ketegangan balon cukup Ketegangan balon sedemikian rupa sehingga menekan dinding uterus, sehingga media flushing tidak akan masuk ke dalam corpus uteri Hati-hati dalam memanipulasi ketegangan balon karena dapat menyebabkan ruptura endometrium sehingga terjadi perdarahan. Volume udara balon untuk Heifer adalah 12 16 ml, sedangkan untuk Calves adalah 16 20 ml.

Melalui inlet tube masukkan media flushing (M-PBS) pada suhu 37 C dalam botol sebanyak 1 Liter. Tekan uterus hingga mencapai ukuran seperti dalam keadaan bunting 40 60 hari. Uterus di masase dan diaduk media yang masuk, melalui pemijitan per rectal sehingga ova atau fertilized egg terlepas dari endometrium Drainage atau pencucian sebanyak 8 10 kali sebanyak 400 500 ml peruterus Hasil flushing kemudian dilakukan isolasi embrio dengan cara filtrasi (Emcon, Immuno system) Diperoleh 40 50 ml flushing (70 Filter) dan tetap dalam filter Tuangkan ke dalam gelas petri (2 3 buah) Lakukan isolasi atau pencarian embrio dengan bantuan mikroskop stereoskopik (invected microscope) Waktu untuk memanen embrio yang terbaik pada saat berumur 7 hari. Pada umur ini embrio berada pada fase blastosis belum diimplantasikan pada dinding uterus (endomentrium). 6. Penilaian dan Penyimpanan Embrio Seluruh embrio yang terkoleksi harus diuji secara individual di bawah mikroskop dengan pembesaran 100 200 kali mengenai tahap perkembangan sel, bentuk dan kualitas embrio. Embrio yang terkoleksi harus mempunyai tahap perkembangan yang sama. Kualitas embrio dibedakan berdasarkan kondisinya, jumlah, kekompakan sel, degenerasi sel dan jumlah serta ukuran gelembung. Embrio yang telah diklassifikasikan disimpan dalam medium penyimpanan pada temperatur ruang (15C - 25C) sebelum ditransplantasikan ke resipien atau dibekukan. Embrio harus disimpan dalam keadaan hidup dalam larutan nutrisi selama periode antara koleksi dari donor dan transfer ke resipien. Embrio sapi dan ternak pelihara lainnya tahan disimpan selama 2 hari pada temperatur 37C atau dalam lemari es tanpa menurunkan daya hidupnya. Oviduct kelinci dan domba dapat pula dipakai sebagai inkubator biologis untuk penelitian. Untuk tujuan praktisnya, pembekuan dalam nitrogen cair pada temperatur -196C merupakan pilihan utama untuk menyimpan selama waktu yang dikehendaki atau untuk ditransportasikan. Keberhasilan pembekuan embrio tanpa menurunkan daya hidupnya merupakan salah satu faktor yang mempermudah tersebar luasnya penggunaan teknologi TE ini. Klasifikasi embrio yang didapat pada pembilasan didasarkan pada penampilan umum morphologis dengan kriteria :

1. Kualitas embrio A (sangat baik) Stadium embrio sesuai dengan yang diantisipasi (morula, blastosis dini atau blastosis) tidak cacat, bentuk bundar spherical, ikatan blastomer erat dan kompak, bentuk simetris dan warna agak gelap. 2. Kualitas embrio B (baik) Stadium perkembangan 16-32 sel, tampak sedikit cacat seperti keluarnya salah satu blastomer dari ikatan dan bentuk asimetris. 3. Kualitas embrio C (cukup) Stadium perkembangan agak retarded satu sampai dua hari dari stadium yang diantisipasi (8-16 sel), cacat, beberapa blastomer keluar, ukuran blastomer tidak sama besar atau asimetris.
4. Kualitas embrio D (jelek) dan tidak layak di transfer. Sel degenerasi total, sel terlalu

muda (2 8 sel). 7. Transfer Embrio Ke Resipien Transfer embrio dapat dilakukan dengan pembedahan dan tanpa pembedahan. Metode pembedahan dilakukan dengan jalan membuatan sayatan di daerah perut (laparotomi) baik sayatan sisi (flank incici) atau sayatan pada garis tengah perut (midle incici). Metode tanpa pembedahan dilakukan dengan memasukkan embrio kedalam straw kemudian ditransfer kedalam uterus resipien dengan menggunakan cassoue gun insemination. Ada tiga (3) Faktor penting yang harus diperhatikan guna keberhasilan pelaksanaan transfer embrio adalah : a. Kualitas embrio yang akan di transfer; umur,kwalitas, jenis embrio (bela/segar) metode pembekuan adanyakontaminasi atau infeksi pada embrio. b. keterampilan petugas dalam mentranfer antara lain kemampuan mendeposisikan embrio secara tepat (sepertiga apexcornua uteri) dan cepat, tidak terjadi luka pada uterus, dan sapi tenang/tidak stres. c. Respon sapi resipien terhadap sinkronisasi, kondisi pakan yang digunakan, kondisi tubuh dengan BCS (Body Condition Skor) sedang (2,8-3,5) tidak ditemukan peradangan, kondisi ovarium dan CL normal dan penjagaan sapi jangan sampai stres. Penanganan setelah Transfer Embrio Setelah dilakukan transfer embrio, sebaiknya dilakukan pendugaan atau evaluasi kebuntingan, dimana angka kebuntingan (Pregnancy rates) tidak dapat dikaitkan dengan prosentase daya

tahan embrio (embryo survival). Angka kebuntingan dan daya tahan embrio dapat dideteksi pada awal masa kebuntingan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dibawah kondisi ideal, lebih dari 80 % embrio survive setelah ditransfer pada resipien yang telah mengalami Penyerentakan berahi terlebih dahulu. Angka kebuntingan tertinggi pada Sapi, Domba dan Kambing adalah melalui transfer satu embrio ke dalam masing-masing tanduk uterus resipien. Sehingga kelahiran kembar sering terjadi. Lain halnya pada Babi, melalui transfer 6 10 embrio pada masing-masing sisi akan menghasilkan litter size normal, karena hanya sekitar 1,5 embrio yang ditransfer yang akan menghasilkan keturunan yang sehat saat dilahirkan. d. Manfaat Transfer Embrio Beberapa manfaat dari teknologi transfer embrio adalah: 1. Untuk meningkatkan populasi ternak unggul. Seekor sapi betina hanya mampu menghasilkan 7 keturunan selama hidupnya, sedangkan dengan penerapan TE maka seekor sapi betina mampu menghasilkan 448 keturunan selama hidupnya. 2. Import dan eksport embrio sebagai ganti ternak dewasa sehingga biasanya menjadi lebih ekonomis. Transfer embrio juga memungkinkan hewan melahirkan anak dari spesies lain, misalnya kuda melahirkan zebra, domba melahirkan kambing seperti yang terjadi di Louisville Zoo. 3. Manfaat lainnya adalah memperoleh keturunan dari induk yang kurang fertile. 4. Meningkatkan populasi ternak yang seragam dan unggul. 5. Embrio yang dihasilkan dapat dibekukan, agar dapat digunakan kapan waktu. 6. Pemberian genetik lebih cepat dan efektif. 7. Dapat memproduksi bayi kembar 8. Penggunaan gen baru lebih cepat terutama menyangkut resisten penyakit. e. Keunggulan Transfer Embrio Keunggulan teknologi transfer embrio dibandingkan inseminasi buatan adalah: 8. Perbaikan mutu genetik pada IB hanya berasal dari pejantan unggul sedangkan dengan teknologi TE, sifat unggul dapat berasal dari pejantan dan induk yang unggul.
9. Waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh derajat kemurnian genetik yang tinggi

(purebred) dengan TE jauh lebih cepat dibandingkan IB dan kawin alam. 10. Dengan teknik TE, seekor betina unggul mampu menghasilkan lebih dari 20 30 ekor pedet unggul per tahun, sedangkan dengan IB, hanya dapat menghasilkan satu pedet per tahun.

11.

Melalui teknik TE dimungkinkan terjadinya kebuntingan kembar, dengan jalan

mentransfer setiap tanduk uterus (cornua uteri) dengan satu embrio.

2.3

FERTILISASI IN VITRO PADA HEWAN

a. Pengertian Fertilisasi in vitro Fertilisasi in vitro adalah istilah umum yang mengacu pada proses dimana sel telur dari induk betina dibuahi oleh sel sperma di luar rahim. In vitro berasal dari bahasa latin yang berarti dalam kaca, akan tetapi istilah tersebut sekarang digunakan untuk menggambarkan prosedur biologis yang dilakukan di luar tubuh. Secara umum, proses fertilisasi dapat berlangsung secara internal (di bagian anterior oviduct) maupun eksternal. Fertilisasi eksternal secara alami berlangsung di lingkungan air pada hewan dari kelompok ikan dan amfibi. Fertilisasi eksternal buatan berlangsung secara in vitro dalam medium menyerupai lingkungan fertilisasi internal atau eksternal alami yang dilakukan dengan campur tangan manusia. Fertilisasi in vitro telah dilakukan pada beragam hewan, termasuk manusia.

b. Sejarah fertilisasi in vitro Teknik ini dikembangkan sekitar abad ke 19. Dikembangkan pada tahun 1978 oleh Dr. Steptoe, seorang Ginekolog dan Dr Edwards, Ph.D. di Inggris, yang dan suaminya, John) Sedangkan teknik-teknik fertilisasi telur pada ternak dan embrio ditumbuhkan (kultur) di laboratorium, ditemukan sekitar tahun 1980. Anak sapi pertama yang diproduksi oleh fertilisasi in vitro (IVF) lahir pada tahun 1982. IVF merupakan salah satu terobosan besar pada sapi yang melibatkan pemahaman bagaimana memperlakukan sperma sapi dengan bahan kimia. Hal ini memungkinkan sperma untuk membuahi telur dalam tabung tes, bukannya di dalam uterus sapi dimana bahan kimia alami yang di produksi memberikan kemampuan sperma untuk membuahi telur.
d. Teknik fertilisasi In Vitro

berhasil menghasilkan bayi

pertama hasil fertilisasi in vitro dari sebuah pasangan suami istri. (Lesley Brown

Fertilisasi biasanya melibatkan kontrol hormonal dari proses ovulasi. Akan tetapi IVF (In Vitro Fertilization) , embrio dapat dihasilkan diluar uterus induk betina,dengan cara melakukan

operasi pengangkatan oosit (sel telur) dari ovarium dan pembuahan oleh sperma dalam sebuah medium cairan. Telur dibuahi ini kemudian ditransfer ke rahim dengan tujuan memperbesar persentase sebuah kehamilan pada ternak. Sifat dan jumlah induk dapat diatur. Setelah embrio terbentuk, kemudian embrio tersebut ditanam (diimplantasikan) dalam uterus milik betina untuk membantu mempercepat peningkatan populasi ternak yang unggul. Embrio sebelum diimplantasikan dapat di simpan dalam jangka waktu tertentu pada nitrogen cair bersuhu -196 C Langkah Kerja : Tahapan teknik klona embrio (fertilisasi In Vitro) pada hewan ternak, misalnya sapi adalah sebagai berikut : Pertama sel telur yang diambil dari sapi betina dibuahi dengan sperma dari sapi jantan terbaik. Pembuahan dilakukan di cawan petri. Kedua, sel telur yang telah dibuahi akan membentuk kumpulan sel-sel. Pada tahap ini embrio muda tersebut dipisah-pisahkan menjadi beberapa bagian. Setiap bagian embrio merupakan klon yang secara genetic identik (meskipun gennya separuh berasal dari induk sapi jantan dan separuhnya berasal dari induk sapi betina). Ketiga, embrio-embrio tersebut kemudian ditanamkan pada rahim sapi-sapi betina dewasa lainnya. Keempat , embrio-embrio akan tumbuh menjadi anak-anak sapi yang siap dilahirkan dengan sifat yang sama dengan induknya

e. Keuntungan Dan Kerugian Keuntungan : Untuk mengembangkan dan memperbanyak bibit unggul

mempercepat peningkatan populasi ternak yang unggul Diperoleh sperma dan sel telur yang berkualitas Meningkatkan nilai ekonomi ternak Kerugian : Biaya operasional fertilisasi in vitro mahal Banyak para petrnak yang masih belum paham akan proses fertilasasi in vitro

2.4

KLONING

a. Pengertian kloning Secara definisi, klon adalah sekelompok organisme hewan maupun tumbuh-tumbuhan yang dihasilkan melalui reproduksi aseksual dan berasal dari satu induk yang sama. Setiap anggota dari klon tersebut mempunyai susunan dan jumlah gen yang sama dan kemungkinan besar fenotipnya juga sama. b. Sejarah Kloning pada hewan dilakukan mula-mula pada amfibi (kodok), dengan mengadakan transplantasi nukleus ke dalam telur kodok yang dienukleasi. Sebagai donor digunakan nukleus sel somatik dari berbagai stadium perkembangan. Ternyata donor nukleus dari sel somatik yang diambil dari sel epitel usus kecebong pun masih dapat membentuk embrio normal. Sejak Wilmut et al. berhasil membuat klon anak domba yang donor nukleusnya diambil dari sel kelenjar susu domba dewasa, maka terbukti bahwa pada mammalia pun klon dapat dibuat. Atas dasar itu para ahli berpendapat bahwa pada manusia pun secara teknis klon dapat dibuat. Untuk menekankan hal di atas, berikut ini beberapa urutan (daftar) sejarah kloning: 1. Tahun 1938, seorang genolog (ahli tentang gen) berkebangsaan Jerman, Hans Samyan mengadakan sebuah eksperimen penggabungan benih sel (embrio) seekor katak dengan sel indung telur (ovary) yang dicabut (dicopot/dibuang) sel benihnya. 2. 3. Tahun 1944, sebuah keberhasilan dalam mengadakan pembuahan (fertilisasi) di luar rahim. Tahun 1949, penemuan metode penggunaan gliserol untuk memelihara/menjaga sperma, dengan cara dibekukan (dikentalkan).

4. 5. 6.

Tahun 1951, sebuah keberhasilan dalam menciptakan kehamilan pada seekor sapi, dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim sapi yang lain. Tahun 1952, kelahiran seekor domba dengan menggunakan sperma yang dibekukan/dikentalkan. Tahun 1952, sebuah keberhasilan awal dalam proses kloning seekor katak. Ini merupakan usaha pertama dalam masalah kloning dengan menggunakan sel-sel gen (cells of gene) dengan menggunakan sel tubuh yang sudah dewasa, seperti yang terjadi pada domba 'Dolley'.

7.

Tahun 1953, pembuahan (fertilisasi) sel telur wanita pertama dengan menggunakan sperma yang telah dibekukan/dikentalkan yang diperoleh dari sebuah bank sperma. Kemudian wanita tersebut mengandung--hamil sebagaimana biasa wanita hamil--dan akhirnya melahirkan seorang anak.

8. 9.

Tahun 1959, kelahiran seekor kelinci melalui proses bayi tabung. Tahun 1962, seorang researcher (al baahits, peneliti), Jhon Garden, mengkloning katak pertama-yang berhasil dengan sempurna- dari seekor brudu (cebong, anak katak) yang sudah dewasa.

10. Tahun 1970, keberhasilan proses kloning dua ekor tikus dari gen yang dibuahi (feritized gene). 11. Tahun 1972, kelahiran domba pertama dari gen yang dibuahi dan dibekukan/dikentalkan. 12. Tahun 1978, kelahiran bayi tabung pertama, yang diberi nama Louis Brown di Inggris melalui usaha Dr.Setbeto dan Dr.Edward. 13. Tahun 1979, keberhasilan kloning kambing untuk pertama kalinya, dari sel sperma dan sel telur (ovum) melalui proses kloning secara aseksual. 14. Tahun 1984, kelahiran bayi Australia pertama, Zewiy dari sel telur yang dibuahi dan dibekukan. 15. Tahun 1993, keberhasilan proses percobaan kloning pertama pada gen manusia di universitas George Washington di Amerika dari sperma yang telah sempurna dan dibuahi dari beberapa sel sperma yang fertil dan memiliki sel telur (ovum) oleh usaha Dr. Scilman dan Dr. Haul. Namun, bayi tersebut hanya dapat hidup selama enam hari. 16. Tahun 1996, kesuksesan awal dalam kloning tanpa melalui proses seksual.Tahun ini juga awal lahirnya kloning domba 'Dolley'. Kelahiran anak kembar pertama dari kera 'Rezos' yang diberi nama 'Neto' dan 'Deto'. Keduanya merupakan hewan mammalia (menyusui) yang mirip dengan manusia.

Keberhasilan ini diumumkan pada bulan Maret tahun 1997-beberapa minggu setelah keberhasilan kloning domba 'Dolley'. c. Prinsip kloning Bahwa setiap sel makhluk hidup memiliki kemampuan totipotensi, yang artinya setiap sel memiliki kemampuan untuk menjadi individu. d. Langkah-langkah kloning Langkah kloning dimulai dengan pengambilan sel puting susu seekor domba. Sel ini disebut sel somatis (sel tubuh). Dari domba betina lain diambil sebuah ovum (sel telur) yang kemudian dihilangkan inti selnya. Proses berikutnya adalah fusi (penyatuan) dua sel tersebut dengan memberikan kejutan listrik yang mengakibatkan terbukanya membran sel telur sehingga kedua sel bisa menyatu. Dari langkah ini telah diperoleh sebuah sel telur yang berisi inti sel somatis. Ternyata hasil fusi sel tersebut memperlihatkan sifat yang mirip dengan zigot, dan akan mulai melakukan proses pembelahan.

e. Manfaat kloning Secara garis besar kloning bermanfaat:


1. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan . Manfaat kloning terutama dalam rangka

pengembangan biologi, khususnya reproduksi-embriologi dan diferensiasi. 2. Untuk mengeliminisir variasi faktor genetis hewan dengan sifat unggul. Bila terjadi variasi genetis pada hewan yang memiliki sifat unggul maka memungkinkan keturunanketurunannya akan menghilangkan sifat tersebut. 3. Untuk mengembangkan dan memperbanyak bibit unggul Seperti telah kita ketahui, pada sapi telah dilakukan embrio transfer. Hal yang serupa tentu saja dapat juga dilakukan pada hewan ternak lain, seperti pada domba, kambing dan lainlain. Dalam hal ini jika nukleus sel donornya diambil dari bibit unggul, maka anggota klonnya pun akan mempunyai sifat-sifat unggul tersebut. Sifat unggul tersebut dapat lebih meningkat lagi, jika dikombinasikan dengan teknik transgenik. Dalam hal ini ke dalam nukleus zigot dimasukkan gen yang dikehendaki, sehingga anggota klonnya akan mempunyai gen tambahan yang lebih unggul.

4. Menolong pasangan infertil mempunyai turunan. Manfaat yang tidak kalah penting adalah

bahwa kloning dapat membantu/menyembuhkan pasangan infertil mempunyai turunan. Secara medis infertilitas dapat digolongkan sebagai penyakit, sedangkan secara psikologis ia merupakan kondisis yang menghancurkan, atau membuat frustasi. Salah satu bantuan ialah menggunakan teknik fertilisasi in vitro. (in vitro fertilization = IVF). Namun IVF tidak dapat menolong semua pasangan infertil. Misalnya bagi betina yang tidak dapat memproduksi sel telur atau jantan yang tidak dapat menghasilkan sperma, IVF tidak akan membantu. f. Kerugian kloning
1. Menurunkan keanekaragaman makhluk hidup.

Makhluk hidup hasil kloning akan menghasilkan organisme yang mempunyai susunan dan jumlah gen yang sama dan kemungkinan besar fenotipnya juga sama, karena organisme hasil kloning hanya berasal dari gen salah satu induk saja. 2. Memiliki resiko mudah terkena infeksi oleh penyakit yang sama dari induknya terutama kelainan genetis atau masalah yang lain. 3. Menghentikan evolusi alamiah makhluk hidup, karena tidak terjadinya keanekaragaman makhuk hidup. Keragaman makhluk hidup merupakan suatu elemen yang diperlukan oleh alam. 2.5 HEWAN TRANSGENIK

a. Pengertian Transgenik Transfer gen (transgenik) artinya penyatuan stabil dari suatu gen dari spesies lain atau bangsa ternak lain dalam satu spesies, sehingga gen itu berfungsi pada ternak penerima dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ternak transgenik adalah seekor ternak DNA keturunannya telah ditingkatkan melalui penambahan atau penggantian DNA dari sumber lain melalui rekombinan DNA.
b. Sejarah Transgenik

Hewan yang telah berhasil dikembangkan menjadi hewan transgenik adalah mencit sebagai hewan pioneer yang pertama kali dibuat. Saat ini telah dikembangkan ke tikus, kelinci, domba, sapi dan babi.

Riwayat tikus transgenik dimulai ketika Palmitter pada tahun 1981 memasukan gen thymidine kinase dari virus herpes ke dalam sel telur tikus yang telah dibuahi (zygot).Beberapa makalah tentang tikus transgenik telah dipublikasikan oleh Palmitter (1986), Jaenisch (1988) dan Hanahan (1989). Gordon dkk pada tahun 1983 telah mengembangkan tehnik yang lebih baik dan fleksibel yaitu dengan menyuntikkan gen yang akan diamati secara langsung ke dalam pronucleus telur tikus yang telah dibuahi (zigot). Metode untuk membuat tikus transgenik makin disempurnakan oleh Hogan dkk pada tahun 1994. c. Langkah-langkah Transgenik 1.
2.

Seleksi donor Betina donor diinduksi superovulasi menggunakan injeksi gonadotropin. Superovulasi ternak donor (untuk mendapatkan banyak embrio) Koleksi zigot (embrio satu sel) Mikro injeksi DNA pada embrio Kultur embrio sampai fase blastosis Ditransfer pada ternak resipien

3. 4. 5. 6. 7.

d.

Keuntungan Transgenik Meningkatkan produktivitas ternak Pada beberapa negara komposisi genetik dari ternak domestik dimanipulasi untuk kepentingan manusia. Pada tahun-tahun terakhir, perkembangan teknologi rekombinan DNA menjadi dasar penting untuk mengisolasi single gen, menganalisa dan memodifikasi struktur nukleotida dan mengcopi gen yang telah diisolasi dan mentransfer hasil copian pada genome. Saat ini medically human proteins diproduksi dalam jumlah besar dalam susu domba transgenik. Di bidang peternakan tranfer gen bertujuan untuk meningkatkan produktivitas ternak seperti konversi pakan, rataan pertambahan babet badan, mereduksi kandungan lemak, meningkatkan kualitas daging, susu, wool secara cepat sehingga dapat mengurangi biaya produksi yang harus ditanggung konsumen (Pursel dan Rexroad, 1993). Karakter dari produktivitas ternak dikontrol oleh sejumlah gen yang dapat dipisahkan dari genom. Hasil pemetaan genom dari suatu spesies ternak membantu dalam pemilihan satu atau beberapa gen yang diinginkan dan menguntungkan secara ekonomi.

Meningkatkan kesehatan ternak Aplikasi dari teknologi transgenik juga digunakan untuk memperbaiki kesehatan ternak. Beberapa pendekatan dilakukan untuk meningkatkan resistensi ternak terhadap suatu penyakit dan pembentukan antibodi. Resistensi penyakit bisa terjadi secara alami maupun induksi antibodi. Tikus mengandung gen allel autosom dominan Mx1 yang tahan terhadap virus influenza. Interferon menstimulasi produksi protein Mx yang menjadi promotor ketahanan terhadap infeksi virus. Pada sapi transgenik Immunoglobin A (lgA) terdeteksi dalam serum sekitar 650 g/ml. Pada domba transgenik IgA dijumpai pada limposit. Bioreaktor untuk produk-produk biomedis Ternak transgenik memegang peran panting dalam menghasilkan produk-produk untuk pengobatan penyakit. Ribuan orang mengambil keuntungan dari produk-produk biomedik yang dihasilkan. Dari ternak transgenik. Contoh : insulin untuk pengobatan penyakit diabetes dan oksitoksin untuk merangsang kelahiran.

e.

Kerugian Transgenik Meskipun banyak potensi dan manfaat yang dapat diambil dari hewan transgenik, akan tetapi proses yang dilibatkan dalam pengembangan hewan transgenik di laboratorium berpotensi atau memiliki dampak yang buruk terhadap masa depan hewan yang dilibatkan. Proses yang terjadi dalam pengembangan galur transgenik baik di laboratorium maupun di hewan ternak secara potensial memiliki dampak utama terhadap hewan yang diamati. Area tertentu dimana masalah dapat terjadi adalah pada proses eksperimental yang berhubungan dengan produksi in vitro dan transfer embrio serta selama gestasi dan kelahiran hewan yang dimanipulasi. Pada hewan ternak, dibandingkan dengan IB, prosedur yang digunakan sebelum dan sesudah mikroinjeksi (contohnya kultur in vitro dan transfer embrio) mungkin memperpanjang gestasi, meningkatkan bobot lahir dan menyebabkan insiden kesulitan lahir dan kehilangan perinatal yang lebih tinggi.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Perkembangan IPTEK di bidang reproduksi ternak dapat diaplikasikan di subsektor peternakan untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas ternak baik secara kualitas maupun kuantitas, antara lain teknologi inseminasi buatan (IB), transfer embrio (TE), fertilisasi in vitro, pembentukan ternak transgenik, cloning. Pemanfaatan teknologi reproduksi ternak tersebut memerlukan dukungan peralatan yang memadai dan dana yang cukup serta tenaga ahli yang terampil, sehingga menjadi kendala negara-negara berkembang seperti Indonesia. Aplikasi kemajuan mutakhir di bidang biologi reproduksi yang banyak dilaksanakan oleh petani peternak di Indonesia baru sampai pada tahap inseminasi buatan (IB) dan transfer embrio (TE).

DAFTAR PUSTAKA http://www.conceptiontime.com/in-vitro-fertilization-ivf/definition-of-in-vitro-fertilization-ivf/ http://www.ivf1.com/ivf/ http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/1565/Bab%20III%201999msd.pdf? sequence=7 http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/40212/B88asu_abstract.pdf?sequence=2