Anda di halaman 1dari 7

Realisme Dalam buku Theories of International Relations (pada tulisan Jack Donelly tentang Realism), penekanan atas kekuatan

negara menjadi suatu bagian koinsiden dalam memahami bagaimana tata hubungan antar negara berlangsung. Hal ini selaras untuk memahami kebutuhan hampir semua negara (termasuki tiap pemimpin negara) yang sebetulnya memiliki kecenderungan realis dalam pengambilan kebijakan. Seperti didefinisikan Hans Morgenthau dalam memahami realisme, dimana tiap manusia punya kehendak bertahan hidup, yang membuatnya lebih mementingkan diri sendiri. Sikap selfish ini makin kuat jika manusia tersebut ialah seorang pemimpin negara, dimana tekanan / tanggungjawab yang diemban sebagai kepala negara, membenarkan dirinya untuk melakukan berbagai hal yang minimal bisa memakmurkan rakyatny sendiri, ditengah kemungkinan bahwa tiap negara (dan atau tiap pemimpin negara) berpikir serupa. Realisme menjanjikan suatu kompetitivitas antar manusia. Hal ini kaena kehendak bertahan hidup berarti kehendak untuk mendominasi lingkungannya, termasuk sesama manusia. Dengan timbulnya persaingan untuk mendominasi, kehendak untuk bertahan hidup mendorong manusia untuk berusaha memperoleh kekuasaan. Maka jika dikaitkan konteks negara, maka seorang kepala negara akan sangat membela kepentingan masyarakat lokal / pribumi setempat untuk menjaga dominasinya di tingkat domestik. Maka setiap masalah imigrasi (jika mengambil kasus spesifik) selalu dilatarbelakangi semangat realisme seorang kepala negara yang selalu merasa tak nyaman dengan keberadaan imigran (terlebih jika jumlahnya terus meningkat). Seringkali kerisauan pemimpin negara, secara sengaja atau tak disengaja, ditularkan pada kelompok pribumi dari negara itu, yang akhirnya memperumit isu imigrasi. Pandangan Morgenthau mengenai realisme, didukung Kenneth Waltz yang memberi fondasi dalam memahami realisme secara struktural. Menurut Waltz, negara adalah aktor terpenting dalam hubungan internasional dan negara ia;lah representasi aktor yang utuh tunggal & rasional, meski negara bukan aktor satu - satunya. Sistem internasional bersifat anarkis. Untuk melindungi kepentingannya sendiri dalam lingkungan itu, negara berusaha memaksimalkan kekuasaannya. Dengan berpijak peran negara sangat menentukan terkait implikasinya (yang sebetulnya tidak bisa digeneralisasi) dalam pergaulan internasional, pada dasarnya realisme mencerminkan seberapa besar kepercayaan diri aktor negara dalam memahami yang terjadi disekitarya. Dalam sejarah pergolakan antar manusia, bisa dilihat bahwa sejatinya, negara diarahkan sebagai akumulasi kekuatan kolektif untuk meraih power yang lebih besar, tekanan mempertahankannya, dan hasrat memperluas power yang mungkin diraih, dalam menghadapi kekuatan lain berupa aktor serupa bernama negara,

dengan militer sebagai simbol kekuatan faktualnya. Jika mengaitkan kemungkinan faktor realis dari individu yang menjadi pemimpin tertinggi suatu negara dan besar kecilnya pihak ini mempengaruhi eskalasi konflik, artinya siapapun yang menitikberatkan peran pengambil keputusan dalam suatu negara, meyakini bahwa rasionalitas yang selayaknya dipahami adalah tiap negara lain merupakan ancaman eksistensi bagi negara tersebut. Artinya, realisme cenderung berkutat pada perspektif bagaimana tiap negara menggambarkan apakah mereka merasa aman atau tidak. Bisa dikatakan, sekuritisasi menjadi isu yang menyatukan tiap penduduk suatu negara dalam melihat seberapa besar negara memainkan isu tersebut dalam mengukur interaksinya dengan negara lain. Hal ini secara bersamaan sebetulnya menimbulkan perdebatan akan kelayakan suatu negara menentukan posisinya secara sepihak dalam memandang negara lain. Realisme mencapai pembenarannya saat muncul tokoh tokoh seperti Niccola Machiavelli, atau pada pengaruh yang terbangun dari pemikiran Hans J, Morgenthau dan George Keenan dalam memberi telaah terhadap politik pengambilan kebijakan dari seorang kepala negara. Yang ingin disampaikan realisme adalah bukti bahwa sejauh negara bisa mengakumulasi sebesar mungkin segala daya dan kapasitasnya, maka cara itu yang paling sederhana untuk mewujudkan seberapa besar power yang bisa direbut. Masalahnya, dinamika negara tidak hanya sekuritisasi, tapi juga berbagai dinamika internal negara itu. Realisme memberi andil atas gejala terbangunnya ketakutan seorang aktor negara yang kadang tidak mendasar dalam interaksi di tingkat negara. Seolah, aktor negara memiliki sudut pandang paling benar dalam memandang kebutuhan dari rakyat yang diawadhinya. Penyempurnaan atas realisme pada dasarnya mencoba menelaah seberapa mampu para pelaku realisme mengklasifikasi ancaman yang ada pada aktor negara. Karena, dikhawatirkan alat untuk menegaskan pembenaran untuk bersikap struggle for power semata hanya karena terlalu dilebih lebihkannya isu sekuritisasi, menjadi semacam pengalih perhatian terhadap faktual masalah yang terjadi. Kadang suatu aktor negara menempatkan isu imigrasi bukan hanya menjadi masalah internal negara yang dipimpinnya (dengan kekhawatiran berlebihan), tapi juga membawa isu imigrasi menjadi suatu masalah antarnegara Kenneth Waltz berusaha menelaah lebih detil penyebab faktual yang mendorong kebutuhan akan sekuritisasi domestik suatu negara dan alasan perlunya suatu pemimpin negara mengakumulasi power yang cenderung bertindak terlalu radikal merespon suatu masalah domestik. Waltz menilai bahwa dinamika kehidupan berbangsa menjadi semakin kompleks seirng berjalannya waktu. Pada linier waktu tersebut, muncul berbagai rantai aktivitas tiap negara yang bisa dikatakan tumpang tindih, bisa juga diartikan sebagai reaksi berantai, terhadap proses pengambilan keputusan oleh negara lain. Penelaahan tersebut bermuara pada keyakinan adanya semacam struktur dalam

hubungan antar negara, yang dinamikanya dipengaruhi keseimbngan tidaknya peran dari tiap tiap negara yang membentuk struktur tersebut. Dalam menghadapi tantangan domestik, seorang kepala negara yang realis, (menurut Waltz) justru sering menempatlan objek keresahan di tingkat domestik agar dibawa ke dalam isu antarnegara. Terlebih jika seorang kepala negara ini berada di kawasan yang memiliki arsitektur regionalisme yang amat rapi, dan jika kebetulan negara yang dipimpinnya memiliki keunggulan / amat disegani di kawasan itu, maka seringkali kebijakan di regionalisme tersebut amat dipengaruhi kebijakan negara / pemimpin negara tertentu yang secara berani / terbuka menyampaikan keresahan yang dijalaninya di tingkat domestik, agar direspon pula oleh negara lain melalui mekanisme dalam regionalisme tersebut. Kepala negara yang secara terbuka dan mungkin cenderung berlebihan dalam merespon suatu isu domestik (misal isu imigran) ialah tipikal kepala negara yang menekankan pentingnya dirinya menjalankan negara yang dipimpinnya berpijak pada realisme. Hubungan internasional adalah tentang perjuangan antara keinginan serta kepentingan yang saling bertentangan. Hal ini yang menyebabkan mengapa hubungan internasional selalu digambarkan sebagai konflik daripada sebagai kerjasama. Fokus utama realisme ialah mengenai international anarchy, power, politik keuasaan dan peperangan. Konflik dan persaingan antara negara-negara merupakan dua hal yang inheren/melekat dalam dunia internasional. Para realis selalu memusatkan pada kenyataan yang seringkali tidak menyenangkan, daripada yang ideal. Realisme berarti memercayai bahwa satu-satunya masyarakat politik adalah negara.1 Dalam politik luar negeri suatu negara, realisme dilihat dari pelaksanaan politik luar negeri bersifat unilateralis (unilateralism), nasionalis (nationalism), dengan strategi penangkalan (detterence), perimbangan kekuatan (balance of power), dan aliansi-aliansi pertahanan (defence alliances).2 Menurut Coloumbis dan Wolfe, power memiliki tiga unsur yakni daya paksa (force) yang dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan militer sebagai acaman eksplisit, pengaruh (influence) yang didefinisikan sebagai penggunaan alat-alat persuasi, dan unsur ketiga yakni wewenang (authority) yakni sikap sukarela yang dilakukan oleh aktor terhadap aktor dengan kepemilikan power lebih besar. Politik luar negeri Perancis utamanya masa kepemimpinan Nicolas Sarkozy didominasi pemikiran akan peran Perancis memposisikan ulang dalam politik internasional, utamanya di tingakt UE. Pada beberapa debat mengenai kecenderungan sikap realis Sarkozy yang mempengaruhi proses pengambilan kebijakan pemerintah (termasuk kebijakan luar negerinya), beberapa pendapat
1 2

Catatan Kuliah Teori Hubungan Internasional. Ibid.,

menyatakan bahwa kepemilikan power Perancis harus digunakan sebagai alat utama dalam melihat dunia masa kini. Menurut Sarkozy, masa kini Eropa (sejak dirinya menjadi Presiden) ialah Eropa yang terkepung arus imigran, apalagi jika melihat kasus kontemporer di Timur Tengah dan Afrika Utara (2011). Maka sejak awal dirinya menjabat Presiden, seiring juga pemenuhan janji kampanyenya terhadap kelompok pribumi Perancis yang cenderung (sebagian besar) tak suka imigran, maka dengan segala cara, baik di tingkat domestik maupun melalui kebijakan luar negerinya di ranah UE, Sarkozy amat kuat mendorong pengetatan keimigrasian. Maka dalam konteks UE, pengaruh / power yang besar yang dimiliki Perancis dalam keanggotaan, terlebih sebagai salah satu negara pendiri UE, Sarkozy ingin menekan semua anggota UE untuk mendukung semangat realis yang Sarkozy jalankan utamanya dalam menyikapi imigran. Hal ini juga bukan semata untuk menghambat arus imigran di Perancis, tapi karena Sarkozy berkeinginan agar Perancis kembali disegani dalam konstelasi politik internasional. Sarkozy yakin, semangat realis yang tampak pada tiap tujuan kebijakan yang diambilnya, akan membangun / mengahdirkan redefinisi tampilan Perancis ditengah komunitas internasional, bahwa dalam kepemimpinannya, Perancis kembali bangkit sebagai kekuatan / negara yang berani berpendapat dan mengambil kebijakan strategis yang memiliki efek amat luas. Sarkozy memakai UE sebagai panggung politik untuk menegaskan bahwa Perancis masa kini berani mengambil kebijakan yang pada dasarnya realis dalam banyak hal, untuk membuktikan bahwa Perancis tidak tenggelam ditengah ikut menguatnya pengaruh banyak negara dalam perpolitikan internasional masa kini. Sarkozy memakai isu imigrasi di dalam panggung Uni Eropa, untuk menunjukkan Perancis bisa mempengaruhi negara lain untuk ikut mendukung kepemimpinan Sarkozy dalam mengambil kebijakan kebijakan vital di UE. Politik Luar Negeri Politik luar negeri merupakan instrumen kebijakan yang dimiliki oleh pemerintah suatu negara berdaulat untuk menjalin hubungan dengan aktor-aktor lain dalam dunia politik internasional demi mencapai tujuan nasionalnya.3 Pengertian politik luar negeri pada dasarnya mencakup aspek-aspek berikut ini:4 1. Politik luar negeri menunjuk pada wilayah aktivitas pemerintahan berkenaan dengan hubunganhubungan di antara suatu sistem politik dengan sistem politik lain (dan atau pelaku-pelaku lain)
3 4

Aleksius Jemadu, Op.Cit. Hlm 61 Laura Neack dan Patrick J. Haney, 1995, Generational Change in Foreign Policy Analysis dalam Foreign Policy Analysis: Continguity and Change in its Second Generation. New Jersey: Prentice Hall. Hlm 1-15

dalam politik internasional. 2. Politik luar negeri (seperti politik domestik) diformulasikan dalam batas-batas wilayah negara, tetapi (tidak sama dengan politik domestik) diarahkan pada dan harus diimplementasikan pada lingkungan eksternal dari negara 3. 4. Politik luar negeri terdiri dari keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang melibatkan hubungan-hubungan diantara satu negara dengan yang lainnya. Politik luar negeri pada dasarnya adalah serangkaian keputusan yang dibuat oleh sekelompok orang (para pembuat keputusan) yang diproses melalui suatu sistem yang dapat diidentifikasi dalam negara Politik luar negeri merupakan suatu hal yang sangat penting karena berperan sebagai instrumen utama setiap pemerintah negara untuk memanfaatkan setiap peluang pencapaian tujuan-tujuan nasional di lingkungan eksternalnya serta mengatasi atau mengurangi kendala atau hambatan tercapainya tujuan-tujuan tersebut.5 Menguraikan politik luar negeri suatu negara dapat dilakukan melalui abstraksi-asbtraksi, generalisasi, klarifikasi, perbandingan dan evaluasi, serta mencari sebab-sebab dari fenomena politik luar negeri tersebut.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi politik luar negeri suatu negara dapat dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu faktor yang berasal dari luar negara tersebut (faktor eksternal), serta faktor yang berasal dari dalam negara yang bersangkutan (faktor internal). Faktor eskternal yang dapat mempengaruhi negara dalam menentukan politik luar negerinya antara lain: bagaimana sistem internasional yang ada, karakteristik dari hubungan internasional yang sedang berlangsung, serta tindakan dari aktor lain dalam politik internasional.7 Setiap negara, terlepas dari sistem politik domestik, sejarah, maupun budayanya, berada dalam suatu sistem internasional yang mengakibatkan pilihan mereka menjadi terbatas, sehingga tidak dapat menerapkan politik luar negeri yang sesuai dengan keinginannya. Banyak pemikir berargumen bahwa politik luar negeri suatu negara merupakan reaksi terhadap kondisi-kondisi eksternal dan tindakan aktor lain, sehingga dapat dikatakan bahwa politik luar negeri merupakan produk dari sistem internasional. 8 Di sisi lain, faktor internal yang dapat mempengaruhi politik luar negeri dari suatu negara mencakup karakteristik sistem politik domestik, peran warga negara dan interest group dalam sistem politik domestik, organisasi kepemerintahan, serta individu pemimpin negara tersebut.9
5 6

8 9

Aleksius Jemadu, Op.Cit. Hlm 61 Sufri Yusuf. 1989. Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri: Sebuah Analisis Teoretis dan Uraian tentang Pelaksanaannya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hlm 111 Ryan K. Beasley, Juliet Kaarbo, dkk. 2002. Foreign Politcy in Comparative Perspective: Domestic and Internationall Influences on State Behavior. USA: Congressional Quarterly, Inc. Hlm 8 Ibid. Ibid.

Analisis politik luar negeri yang dilihat dari perspektif pengaruh faktor internal menekankan bahwa adanya perbedaan dalam sistem politik domestik, budaya, maupun pemimpin dapat mempengaruhi negara untuk menjalankan politik luar negeri yang berbeda dengan negara lain, walaupun lingkungan internasional yang dihadapi sama.10 Pada kenyataanya, baik faktor eksternal maupun faktor internal sama-sama berkontribusi dalam mempengaruhi politik luar negeri suatu negara. Politik Internasional Penggunaan istilah politik internasional sering kali disamaartikan dengan istilah hubungan internasional, padahal keduanya mempunyai pengertian yang berbeda. Politik internasional sesungguhnya merupakan bagian dari hubungan internasional. Pembahasan mengenai politik internasional secara umum mempelajari mengenai hubungan-hubungan, aksi-reaksi, tindakan dan respon dalam bidang politik yang dilakukan oleh dua negara atau lebih, dimana negara harus memperjuangkan kekuatannnya demi tetap bertahan dan berjaya baik dalam negaranya maupun di mata dunia. Menurut Aleksius Jemadu dalam bukunya Politik Global dalam Teori dan Praktik, politik internasional merupakan hasil interaksi antara minimal dua negara melalui politik luar negerinya masing-masing.11 Politik internasional memberikan perhatian terhadap sistem internasional, deterrence (pencegahan), dan perilaku para pembuat keputusan dalam situasi konflik antar negara. Politik internasional berhubungan dengan konsekuensi pertentangan politik luar negeri di lingkugan dunia yang kompetitif ini.12 Dalam dunia politik internasional, negara-negara mempunyai pola-pola perilaku tertentu dalam menanggapi satu sama lain. Terdapat tiga teori tentang pola cara negara-negara saling menanggapi dalam politik internasional, yaitu:13
1.

Teori keseimbangan kekuasaan (The Balance of Power Theory) Gagasan inti dari teori keseimbangan kekuasaan adalah asumsi bahwa keseimbangan politik sekelompok negara bisa dipelihara jika kekuatan terbagi diantara mereka sedemikian rupa sehingga tidak satu pun negara atau kelompok negara yang unggul secara permanen di atas negara lain, sehingga setiap negara tetap merdeka.

2. Teori keamanan bersama Teori keamanan bersama mempunyai prinsip bahwa untuk mempertahankan perdamaian, diperlukan usaha pembentukan tanggung jawab bersama serta menghimpun
10 11 12 13

Ibid. Hlm 13 Aleksius Jemadu. 2008. Politik Global dalam Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Hlm 61 Carlton Clymer Rodee, Carl Quimby Christol, dkk. 2006. Introduction to Political Science. USA: McGraw-Hill, Inc. Hlm 499 Ibid. Hlm 549

sumber-sumber dari beberapa negara. 3. Teori polarisasi kekuasaan Ada dua model dalam teori pembagian kekuasaan dalam dunia internasional berdasarkan teori polarisasi kekuasaan, yaitu model bipolar (dua kutub) dan model multipolar (banyak kutub). Model bipolar terjadi bila terdapat dua kekuatan besar yang memiliki satelit (pendukung) masing-masing, yang kemudian membagi dunia menjadi dua kelompok besar. Model multipolar terjadi bila ada kelompok / kekuatan besar lain yang muncul sehingga pembagian dunia tidak hanya terpusat kepada dua kekuatan besar saja.
4.

Teori pencegahan dan detente Dalam politik internasional, tujuan politik pencegahan (deterrence) adalah menahan perilaku yang agresif dari suatu negara karena rasa takut akan adanya pembalasan dari negara lain. Di sisi lain, detente adalah politik untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan bersama yang terpisah dari dua pihak atau lebih, yang bertujuan untuk meredakan ketegangan diantara mereka dan menghindari kemungkinan terjadinya krisis.