Anda di halaman 1dari 6

SEJARAH PERKEMBANGAN PERKEMBANGAN SYARIAH PENDAHULUAN Menjelaskan tentang pengaruh islam terhadap perkembangan akuntansi pada masa Nabi

Muhammad SAW, masa kekhalifahan, dan masa sekarang. Dijelaskan bahwa perintah Allah SWT yang disampaikan melalui Nabi untuk mencatat transaksi yang bersifat tidak tunai dan kewajiban umat islam membayar zakat berimplikasi terhadap munculnya kebutuhan umat islam untuk mengembangkan dan menerapkan akuntansi. Praktik akuntansi tersebut semakin berkembang seiring dengan berkembangnya wilayah kekuasaan pemerintahan islam pada masa kekhalifahan. Beberapa bukti bahkan menunjukkan bahwa buku akuntansi yang dikarang oleh luca pacioli yang dikenal sebagai bapak akuntansi modern, merujuk pada praktik akuntansi yang diterapkan dan dikembanhgkan oleh masyarkat islam pada saat iyu.

PENGARUH ISLAM TERHADAP PERKEMBANGAN AKUNTANSI Akuntansi telah digunakan dalam bentuk perhitungan barang dagangan oleh para pedagang sejak mulai berdagang sampai pulang kembali. Perhitungan dilakukan untuk mengetahui untung atau rugi. Sementara itu, orang yahudi juga telah menggunakan akuntansi untuk transaksi utang-piutang mereka. Praktik akuntansi pada masa Rasulullah mulai berkembang setelah ada perintah dari Allah melalui Al-Quran untuk mencatat transaksi yang bersifat tidak tunai (al-Quran 2:282) dan untuk membayar zakat (Al-Quran 2:110; 177; 9:18; 22:78; 58:13). Perintah Allah untuk mencatat transaksi yang bersifat tidak tunai telah mendorong setiap individu untuk senantiasa menggunakan dokumen ataupun bukti transaksi. Adapun perint ah Allah untuk membayar zakat tlah mendorong umat islam saat itu untuk mencatat dan menilai asset merupakan konsekuensi logis dari ketentuan pemabyaran zakat yang besarnya dihitung berdasarkan persentase tertentu dari asset yang dimiliki seseorang yang telah memenuhi criteria nisab dan haul.

PRAKKTIK AKUNTANSI PEMERINTAHAN ISLAM Kewajiban zakat berdampak pada didirikannya institusi Baitulmal oleh Nabi Muhammad SAW yang berfungsi sebagai lembaga penyimpanan zakatt beserta pendaptan lain yamg diterima oleh

Negara. Hawari (1989) dalam Zaid (2001) mengungkapkan bahwa pemerintah Rasulullah SAW memiliki 42 pejabat yang digaji yang di terspesialisasi dalam peran dan tugas tersendiri. Adnan dan Labatjo (2006) memandang bahwa praktik akuntansi pada lembaga baitulmal di zaman Rasulullah baru berada pada tahap penyiapan personal yang menangani fungsi-fungsi lembaga keuangan Negara. Pada masa tersebut, harta dan kekayaan yang diperoleh Negara langsung mendistribusikan setelah harta tersebut diperoleh. Dengan demikian, tidak terlalu diperlukan pelaporan atas penerimaan dan pengeluaran Baitulmal. Hal yang sama berlanjut pada masa khalifah Abu Bakar as Siddik. Di zaman Khalifah Umar Bin Khatab penerimaan Negara dari zakat meningkat secara signifikan. Dengan demikian, kekayaan Negara yang disimpan di Baitulmal juga makin besar. Para sahabat merekomendasikan perlunya pencatatan untuk pertanggung jawaban penerimaan dan pengeluaran Negara. Selanjutnya, Kahlifah Umar Bin Khatab mendirikan unit khusus yang bernama Diwan (dari kata Dawwana =Tulisan ) yang bertugas membuat laporan keuangan Baitulmal sebagai bentuk akuntabilitas khalifah atas dana Baitulmal yang menjadi tanggungjawabnya. Selanjutnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz (681-720 M) mengembangkan realibilitas laporan keuangan berupa praktik pengeluaran bukti penerimaan uang. Kemudian, Khlifah Al Waleed bin Abdul Malik (705-715 M) mengenalkan catatan dan register yang terjilid dan tidak terpisah seperti sebelumnya. Evolusi perkembangan pengelolaan buku akuntansi mencapai tingkat tertinggi pada masa Daulan Abbasiah. Akuntansi diklasifiklasikan pada beberapa spesialisasi, antara lain akuntansi peternakan, akuntansi pertanian, akuntansi bendahara, akuntansi konstruksi, akuntansi mata uang, dan pemeriksaan buku (auditing). Pada masa itu, system pembukuan telah menggunakan model buku besar. Yang meliputi sebagai berikut: 1. Jaridah Al-Kharaj (mirip Receivable subsidiary Ledger), merupakan pembukuan pemerintah terhadap piutang pada individu atas zakat tanah, hasil pertanian, serta hewan ternak yang belum dibayar dan cicilan yang telah dibayar. Piutang dicatat dalam satu kolom dan cicilan pembayaran di kolom yang lain. 2. Jaridah An-Nafaqat (jurnal pengeluaran), merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat pengeluran Negara. 3. Jaridah Al-Mal (jurnal dana), merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran zakat.

4.

Jaridah Al-Musadareen, merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat penerimaan denda atau sita dari individu yang tidak sesuai syariah, termasul dari pejabat yang korup. Adapun untuk pelaporan, telah dikembangkan berbagai laporan akuntansi, antara lain sebagai

berikut: 1. Al-Khitmah, menunjukkan total pendapatan dan pengeluaran yang dibuat setiap bulan. 2. Al-Khitmah Al-Jameah, laporan keuangan komprehensif yang berisikan gabungan antara llaporan laba rugi dan neraca (pendapatan, pengeluaran, surplus dan deficit, belanja untuk asset lancer maupun asset tetap). Yang dilaporkan di akhir tahun. Dalam perhitungan dan penerimaan zakat, utang zakat diklasifikasikan dalam laporan keuangan menjadi tiga kategori, yaitu collactable debts, doubtful debts, dan uncollectable debts. HUBUNGAN PERADABAN ISLAM DENGAN BUKU PACIOLI Pada tahun 1494, seseorang berkebangsaan italia yang bernama Luca Pacioli, menerbitkan buku dengan judul summa de arithmetica, proportioni et proportionalita (segala sesuatu tentang aritmetika, geometrid an proporsi). Melalui buku ini, Luca Pacioli dianggap sebagai orang pertama yang menggagas sistem buku berpasangan (double entri bookeeping), sebuah system baru dan dianggap sebagai revolusi dalam seni pencatatan dalam bidang ekonomi dan bisnis. Akan tetapi banyak pertentangan di kalangan peneliti tentang sejarah akuntansi di dalam buku summa de Arithmetica yang dibuat pacioli, diantaranya adalah: Have (1976) dalam Zaid (2001) beranggapan bahwa perkembangan akuntansi sebagaimana ditulis oleh luca pacioli tidaklah terjadi di Republik Italia kuno. Yang terjadi adalah italia mengetahui tentang akuntansi dan ilmu itu sampai pada mereka dari bangsa lain. Dalam buku luca pacioli tentang hanyalah bagian dari apa yang ada pada saat itu, yang beredar di antara guru dan murid sekolah aritmetika dan perdagangan. Dengan demikian, Luca Pacioli bukanlah penemu melainkan pencatat terhadap apa yang beredar saat itu. Wolf (1912) dalam Zaid (2001), mengemukakan bahwa pada akhir abad ke-15, eropa sedang terhenti perkembangannya dan tidak dapat diharapkan adanya kemajuan yang berarti dalam metode akuntansi. Heaps (1895) dalam Zaid (2001), mengemukakan bahwa bookkeeping pastilah dipraktikkan pertama kali oleh para pedagang dan ia beranggapan bahwa mereka berasal dari mesir.

Ball (1960) dalam Zaid (2001), menyatakan bahwa buku pacioli didasarkan pada tulisan Leonard of Piza, orang eropa pertama kali menrjemahkan buku Aljabar yang ditulis dalam bahasa arab, uang berisikan dasar-dasar bookkeeping.

Dalam sejarah Islam, lebih satu abad sebelum buku luca pacioli diterbitkan, telah ada manuskrip tentang akuntansi yang ditulis oleh Abdullah bin Muhammad bin Kiyah Al Mazindarani dengan judul Risalah Falakiyah Kitab As Siyaqaat pada tahun 1363 M. beberapa kaidah dalam manuskrip tersebut yang terkait dengan praktik double entry adalah sebagai berikut: 1. Harus mencatat pemasukan di halaman sebelah kanan dengan menncatat sumber-sumber pemasukan tersebut. 2. Hasrus mencatat pengeluaran di halaman sebelah kiri dan menjelaskan pengeluaran-pengeluaran tersebut. Beberapa ahli sejarah barat menyimpulkan bahwa masyarakat uang dimaksud oleh Luca Pacioli dalam bukunya adalah masyarakat dan bahkan pemerintah italia. Pendapat ini dipandang bertentangan dengan fakta terkait mengenai tidak operasionalnya angka romawi untuk digunakan Dallam praktik akuntansi yang sedemikian maju. Sementara, masyarakat muslim pada saat itu telah mengembangkan penggunaan angka nol, yang kemudian disebut dalam dunia akademik sebgai angka arab,

mengembangkan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu ilmu pada saat itu yang paling menonjol adalah ilmu matematika yang dikenal dengan bidang aljabar. BERBAGAI PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN AKUNTANSI SYARIAH Islam memiliki beberapa transaksi maupun kejjadian-kejadian ekonomi unik yang tidak dapat dipraktikkan dalam bisnis konvensional, antara lain transaksi pembayaran zakat, transaksi usaha yang menggunakan skema bagi hasil, skema sewa, dan lain sebagainya. Atas dasar itu, muncullah kajian dan pemikiran untuk mengembangkan akuntansi dalam perspektif islam atau biasa disebut dengan istilah Islamic Accounting dalam bahasa Inggris dan Akuntansi Syariah dalam bahasa Indonesia. Hameed (2000) menyatakan bahwa ada tiga pendekatan yang berkembang dikalangan pakar akuntansi dalam perspektif Islam dalam merumuskan bentuk akuntansi syariah, yaitu pendekatan induktif berbasis akuntansi kontemporer, pendekatan deduktif dari sumber ajaran islam, dan pendekatan hibrid.

1. Pendekatan Induktif Berbasis Akuntansi Kontemporer. Pendekatan Induktif Berbasis Akuntansi Kontemporer biasa disingkat dengan pendekatan Indukktif. Berdasarkan Accounting and Aauditing Organization for Islamic Financial Institution AAOIFI (2003), penndekatan ini menggunakan tujuan akuntansi keuangan Barat yang sesuai dengan organisasi bisnis orang islam dan mengeluarkan bagian yang bertentangan dengan ketentuan syariah. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip Ibaha (mubah) yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terkait dengan bidang muamalah (aktivitas duniawi) boleh dilakukan sepanjang tidak ada larangan yang menyatakan. Pendekatan induktif dipelopori oleh AAOIFI dan diikuti oleh organisasi profesi akuntan di berbagai Negara, termasuk Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Tujuan akuntansi syariah berdasarkan pendekatan ini adalah untuk pengambilan keputusan dan memelihara kekayaan institusi. Sementara tujuan pendekatan ini menuurut IAI dalam kerangka dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Lembaga Keuangan Syariah (KDPP-LKS) tahun 2007 paragraf 30: menyediakan informmasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan eputusan ekonomi.

2. Pendekatan Deduuktif dari Sumber Ajaran Islam. Pendekatan ini diawali denga menentukan tujuan berdasarkan prinsip-prinsip ajaran islam yang terdapat dalam Al-Quran dan sunnah. Kemudian, tujuan yang sudah ditentukan tersebut digunakan untuk mengembangkan akuntansi kontemporer. Argument yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa pendekatan ini akan meminimalisasi pengaruh pemikiran sekuler terhadap tujuan dan akuntansi yang dikembangkan. Adapun argument yang menentang bahwa pendekatan ini sulit untuk dikembangkan dalam bentuk praktisnya.

3. Pendekatan Hibrid Pendekatan ini didasarkan atas prinsip syariah yang sesuia dengan ajaran islam dan

persoalan masyarakat yang akuntansi syariah mungkin dapat membantu menyelesaikan. Argument yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa suatu metodologi islam harus memperhatikan relevansinya dengan masalah masyarakat yang telah diidentifikasi dan di analisis dari sudut pandang Islam. Tujuan dari pendekatan ini menurut Hameed (2000) adalah mewujudkan

pertanggungjawaban islam.