Anda di halaman 1dari 15

BAB I TINJAUAN KASUS

STATUS NUTRISI PADA PEMAKAI GIGI TIRUAN Hubungan antara keadaan gigi geligi, fungsi pengunyahan dan asupan gizi sangatlah penting. Faktor makanan berhubungan dengan penyebab dan pencegahan penyakitpenyakit, termasuk kanker, penyakit jantung koroner, katarak. Pasien lanjut usia pemakai gigi tiruan rentan terhadap penurunan kesehatan karena beberapa faktor termasuk fisiologis, psikososial, oral, fungsional, medis dan suplemen makanan. Pengarahan pola makan merupakan salah satu bagian perawatan yang diperlukan untuk pemakai gigi tiruan. Efek tidak adanya gigi pada gizi dan status kesehatan merupakan kasus kesehatan yang penting, tapi sering diabaikan. Penggunaan gigi tiruan lengkap dapat memiliki efek merugikan pada kesehatan mulut dan jaringan pendukung gigi tiruan. Menurunnya kemampuan mengunyah dapat mengarah pada perubahan pemilihan makanan untuk pasien dengan resiko status nutrisi yang terganggu, khususnya pada pasien lanjut usia yang menggunakan gigi tiruan lengkap Dampak kesehatan mulut pada gizi pemakai gigi tiruan Kesehatan mulut merupakan faktor penting bagi gizi seseorang. Terdapat potensi yang jelas bahwa kondisi mulut dan gigi memiliki efek merugikan pada gizi pasien. Berdasarkan studi, dilaporkan bahwa satu dari lima orang tua memiliki keadaan mulut yang menghalangi mereka memakan makanan yang mereka pilih, 15% membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghabiskan makanan mereka dan kenikmatan makanan tersebut berkurang karena kondisi mulut mereka, 5% menghindari makan makanan tertentu karena masalah pengunyahan. Gejala sisa dari perawatan dengan gigi tiruan penuh mungkin memiliki efek merugikan pada kesehatan mulut dan jaringan pendukung gigi tiruan. Efeknya dapat berupa efek langsung maupun tak langsung. Efek langsung dapat berupa : stomatitis, iritasi, hiperplasia, ulkus traumatik, flabby ridge, resorpsi residual ridge, ulserasi mukosa, persepsi rasa yang berubah, sindrom mulut terbakar dan tersedak. Efek tidak langsung berhubungan dengan berkurangnya kemampuan mengunyah disertai berkurangnya fungsi dan kapasitas keseluruhan dari tubuh. Berlanjutnya menu makanan yang tidak cukup dapat mengarah ke berkurangnya toleransi jaringan ,sehingga menyebabkan adaptasi gigi tiruan yang kurang baik.

1|Page

Faktor-faktor yang mempengaruhi menu makanan dan status gizi Efek gigi tiruan pada status nutrisi berbeda-beda tiap individu. Rusaknya keadaan dalam mulut mempengaruhi makanan dan gizi karena perubahan kemampuan mengecap, menggigit, mengunyah dan menelan makanan. Gigi tiruan mempunyai efek yang merugikan pada kemampuan mengunyah. Para orang tua cenderung menggunakan lebih banyak kekuatan dan mengunyah lebih lama sebelum bisa menelannya. Berdasarkan studi, efisiensi mastikasi pada pengguna gigi tiruan penuh sekitar 80% lebih rendah daripada orang dengan gigi yang lengkap. Sensitivitas rasa akan menurun dan sulit untuk menemukan makanan dalam mulut karena palatum tertutup seperti pada kasus gigi tiruan penuh pada rahang atas dan masalah ini akan semakin parah pada kasus gigi tiruan penuh. Jika dibandingkan dengan persepsi sensoris orang dewasa bergigi atau pengguna gigi tiruan sebagian lepasan, perkiraan rasa, penerimaan tekstur makanan dan kemudahan mengunyah pada pengguna gigi tiruan lengkap adalah yang terendah. Ketidakmampuan membedakan kualitas sensori makanan mengurangi kenikmatan pasien untuk makan sehingga menyebabkan asupan kalori berkurang. Kenyamanan penggunaan gigi tiruan tergantung pada kemampuan atau efek pelumas dari saliva dalam rongga mulut. Xerostomia juga dapat mengganggu retensi gigi tiruan lengkap dan menyebabkan kesulitan dalam mengunyah dan menelan sehingga dapat mempengaruhi pemilihan makanan dan hal inilah yang berperan dalam terjadinya status gizi buruk. Masalah dalam pelumasan, pengunyahan, pengecapan, dan penelanan makanan berperan dalam manifestasi penuaan fisiologis dan psikologis. Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan sehubungan dengan xerostomia ini,seperti yang dilakukan oleh Rhodus dan Brown dilaporkan bahwa rasa dan persepsi makanan berkurang secara signifikan pada lansia yang memiliki xerostomia. Pada penelitian Locker pada populasi lansia, dilaporkan hampir seperlima partisipan mengalami kekeringan. Mereka mengeluhkan beberapa gejala, seperti rasa yang tidak enak pada mulut, sensasi terbakar pada lidah dan beberapa tempat pada mulut,rasa sakit yang timbul dari gigi tiruan dan sulit menelan. Penelitian juga mengindikasikan bahwa hilangnya gigi menyebabkan menurunnya fungsi pengunyahan bahkan setelah gigi tiruan dipakai. Menurunnya kemampuan pengunyahan menyebabkan perubahan pemilihan makanan dengan resiko rusaknya status gizi pasien. Beberapa orang mengatasi penurunan kemampuan pengunyahan dengan memilih makanan yang dimasak daripada makanan segar. Yang lainnya menyingkirkan beberapa jenis makanan dari menu mereka. Terdapat bukti bahwa orang menyesuaikan kehilangan gigi dengan mengubah pola makan untuk mengatasi kesulitan makan yang

2|Page

semakin meningkat walaupun fungsi mastikasi sudah digantikan dengan gigi tiruan. Keadaan pengunyahan selanjutnya berpengaruh pada kelainan gastrointestinal. Papas dkk. melaporkan bahwa pengguna gigi tiruan penuh mengkonsumsi kalori lebih kecil dan beberapa zat gizi dalam jumlah yang lebih rendah daripada orang yang menggunakan gigi tiruan sebagian atau yang tidak menggunakan. Greksa dkk. menyimpulkan yang memakai gigi tiruan penuh mengkonsumsi vitamin A dan C lebih sedikit daripada yang memiliki gigi. Norlen dkk. menyatakan wanita yang tidak bergigi asupan lemak yang tinggi dan konsumsi kopi yang lebih tinggi daripada yang memiliki gigi. Berbagai macam penelitian melibatkan faktor makanan dalam penyebab dan pencegahan penyakit-penyakit penting, termasuk kanker, penyakit jantung koroner, katarak. Pengukuran biokimia dari plasma askorbat dan plasma retinol berhubungan dengan status gigi-geligi. Namun, status gigi tidak secara signifikan berhubungan dengan pengukuran histologis dan biokimia untuk zat gizi kunci lainnya yang pasokannya bervariasi sesuai kesehatan mulut. Hubungan antara status gigi dan vitamin C sepertinya jelas dan penting untuk kesehatan umum. Jumlah plasma askorbat dan plasma retinol yang kurang ini dapat mengganggu kulit dan penglihatan. Berkurangnya vitamin C dapat dihubungkan dengan katarak. Penelitian menunjukkan bahwa laki-laki lansia tak bergigi memiliki prevalensi tipe II diabetes lebih tinggi daripada yang memiliki gigi atau yang tidak memiliki sebagian gigi. Laki-laki tak bergigi mengkonsumsi buah, sayuran dan serat lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki bergigi dan wanita tak bergigi memiliki konsumsi lemak lebih tinggi daripada wanita bergigi. Kurangnya konsumsi serat dapat mengarah pada bertambahnya resiko kolorektal adenoma. Makanan mengandung lebih sedikit sayuran dan kurang karotin serta serat berhubungan dengan bertambahnya resiko kanker dan penyakit jantung. Fungsi mulut yang kurang baik dapat menjadi faktor resiko untuk patologi gastrointestinal. Resiko penyakit jantung juga bertambah pada pasien tak bergigi. Johanansson dkk. membandingkan pola makan dan tingkat faktor resiko kardiovaskular pada individu usia menengah yang tak bergigi dan individu dengan usia dan jenis kelamin yang sama dengan gigi asli. Mereka melaporkan bahwa pasokan energi tidak berbeda dalam dua kelompok itu, tapi laki-laki dan perempuan tak bergigi makan lebih banyak makanan ringan/camilan manis dibandingkan dari yang memiliki gigi. Selanjutnya, laki-laki dan wanita tak bergigi menjadi lebih gemuk dan memiliki konsentrasi serum HDL-kolesterol lebih rendah. Penulis mendukung hipotesis bahwa individu dewasa tak bergigi memiliki lebih banyak faktor resiko penyakit jantung. Petunjuk pedoman nutrisi Pedoman pola makan, berdasarkan penilaian riwayat gizi dan makanan, pasien tak bergigi seharusnya menjadi bagian utuh dari perawatan komprehensif prostodontik.

3|Page

Untuk mengembangkan kualitas pola makan, pasien yang sedang dalam perawatan prostodontik membutuhkan konseling diet. Tujuan utama konseling diet untuk pasien ini adalah untuk mengoreksi ketidakseimbangan dalam pasokan gizi yang mengganggu tubuh dan kesehatan mulut. Ini termasuk memperoleh riwayat gizi, mengevaluasi pola makan, mendidik pasien tentang komponen makanan yang penting untuk kesehatan mulut, memotivasi pasien untuk mengembangkan diet, dan follow up untuk mendukung usaha pasien untuk merubah prilaku makan. Pasien pemakai gigi tiruan yang lebih suka makanan lunak seperti donat, kue, kue kering dan biskuit, yang tinggi gula sederhana dan lemak, harus disarankan mengenai pentingnya buah,sayur, gandum dan sereal dalam pola makan teratur. Komponen penting kompleks karbohidrat adalah serat, yang memberikan fungsi normal usus, respon glikemik lebih rendah, dapat mengurangi kolesterol dan diduga mencegah penyakit divertikular. Tujuan nutrisi untuk pasien pengguna gigi tiruan adalah untuk memakan berbagai macam makanan, termasuk protein, produk susu, buah-buahan, sayuran, gandum dan sereal serta untuk membatasi pasokan garam, lemak dan gula. Harus didorong juga untuk mengkonsumsi air, jus dan susu. Perawatan gizi ini harus menjadi bagian yang utuh dari keseluruhan perawatan prostodontik. Pelayanan kesehatan komprehensif dari pengguna gigi tiruan membutuhkan komunikasi dan koordinasi pelayanan. Kompleksitas ini menuntut bahwa dokter gigi harus mengkonsul pada ahli gizi untuk memastikan kesehatan gizi yang baik dan perawatan yang efektif.

4|Page

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Setiap orang dalam berbagai macam usia dan latar belakang sosial memiliki variasi frekuensi kehilangan gigi, kemungkinan disebabkan perawatan gigi yang berbeda sebelumnya, maupun prilaku menyikat gigi masing-masing orang. Kehilangan gigi sebagian maupun seluruhnya dapat mempengaruhi fungsi fisik, psikologis, sosial, dan pengunyahan, serta kesehatan umum. Efek Keadaan Tak Bergigi Hilangnya gigi dapat menyebabkan perubahan baik secara estetik maupun biomekanik yang sifatnya merusak. Keadaan ini menjadi lebih parah pada keadaan dimana sudah tidak ada gigi-geligi dan semua ligament periodontal telah hilang. Kehilangan gigi-geligi juga dapat menyebabkan perubahan pada pola makan seseorang yaitu penurunan kemampuan mengunyah dan makan. Ini dapat menyebabkan pola makan yang tidak sehat yaitu sedikit buah dan sayuran tapi lemak dan gula semakin banyak. Dengan adanya penggunaan gigi tiruan, stabilitas dari gigi tiruan tersebut merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan mengunyah, dan merupakan salah satu parameter yang dibutuhkan untuk mengembangkan diet dan kualitas hidup. Terdapat buktibukti bahwa pasokan gizi pasien tak bergigi mengurangi fungsi sistem imun dan perbaikan tubuh, sehingga menjadi kondisi yang tepat untuk perkembangan penyakit sistemik. Penyakit sistemik, penyakit yang menyerang ke dalam tubuh, dan atau efek samping pengobatan penyakit juga memberikan dampak ke kawasan mulut. Bisa berupa peningkatan risiko penyakit rongga mulut, penurunan aliran ludah, mempengaruhi sensasi rasa dan bau, nyeri orofasial, pertumbuhan berlebihan ginggiva, resorpsi tulang alveolar, dan mobilitas gigi. Kehilangan gigi meningkat seiring dengan bertambahnya usia akibat efek kumulatif dari karies, penyakit periodontal, trauma atau kegagalan perawatan gigi. Kehilangan gigi mempunyai dampak emosional, sistemik dan fungsional. Dampak emosional dapat berupa kehilangan kepercayaan diri, keterbatasan aktivitas seperti mengunyah dan berbicara serta perubahan pada penampilan. Dampak sistemik dapat menyebabkan penyakit pada gastrointestinal terkait dengan kasus kesehatan rongga mulut yang buruk, penyakit

5|Page

kardiovaskular maupun osteoporosis. Dampak fungsional yaitu dapat berupa gangguan pada proses bicara dan pengunyahan. Terganggunya proses pengunyahan akibat kehilangan gigi dapat mempengaruhi pemilihan makanan sehingga terjadi perubahan terhadap pola asupan zat gizi sehingga dapat berpengaruh terhadap status gizi. Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan refleksi dari apa yang kita makan sehari-hari. Menurut Depkes RI tahun 2003 status gizi merupakan keadaan tubuh seseorang yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan absorpsi yang diukur dari berat badan dan tinggi badan dengan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Status gizi dikatakan baik bila pola makan kita seimbang. Artinya, banyak dan jenis makanan yang kita makan harus sesuai dengan kebutuhan tubuh. Dengan mempunyai status gizi yang baik memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang Pengaruh Nutrisi Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Nutrisi mempunyai pengaruh utama pada proses penuaan. Ini mempengaruhi environment serta fungsi normal sel-sel. Meskipun peran diet dan nutrisi dalam mempertahankan system pengunyahan belum dikethui secara mendalam, pengalaman klinis menunjukkan bahwa jaringan rongga mulut pasien lanjut usia sering bereaksi terhadap suplemen nurtrisi dan diet terselubung (diet tidak terprogram). Masalah tentang nutrisi sering berkaitan dengan factor fisik dan social. Pada umumnya makanan nutrisi mahal dan sulit menyediakannya. Karena itu, orang yang tinggal sendiri dan terikat pada pengahasilan tetap, cenderung menghindari makanan tinggi protein. Juga terlihat bahwa manula memiliki kecendrungan mengkonsumsi lebih banyak karbohidrat dan tepung dan sedikit protein. Penuruan sensasi pengecap dan pembau sering dihubungkan dengan kehilangan selera. Pada kebanyakan manula kesukaran yang dihadapi dalam mendapatkan makanan yang bergizi, serta merta menutupi minat dan semangat mereka. Selain itu, perubahan pada usus besar menurunkan kemampuan pencernaan dan absorbsi makanan yang dikomsumsi. Kekurangan protein adalah salah satu dari kelainan nutrisi yang paling sering dijumpai pada manula. Jumlah protein yang mencukupi perlu untuk mempertahankan dan memperbaiki jaringan lunak dan jaringan keras. Nitrogen dan asam amino yang diperoleh dari protein sangan diperlukan untuk sintesis hormone, enzim, plasma protein dan hemoglobin. Pada rongga mulut, kekurangan protein sering dikaitkan dengan degenerasi jaringan ikat gigiva, membrane periodontal dan mukosa pendukung basis gigi tiruan.

6|Page

Kekurangan protein sering juga dikaitkan dengan percepatan dan kemunduran tulang alveolus dan linggir.

Perawatan Gizi bagi pemakai Gigi Tiruan Kehilangan gigi, ataupun gigi tiruan yang menyakitkan saat dipasang dapat menghalangi pasien untuk memakan makanan favorit mereka, juga membatasi pasokan gizi yang penting. Berkurangnya kemampuan mengunyah, takut tersedak, dan iritasi mukosa saat sisa makanan masuk ke bawah gigi tiruan dapat mempengaruhi pemilihan makanan dari pemakai gigi tiruan tersebut. Gejala klinis malnutrisi sering dapat diamati lebih dahulu pada rongga mulut.Karena adanya penggantian sel yang cepat (setiap 3 sampai 7 hari) dalam mulut, pasokan nutrisi sehari-hari yang seimbang dibutuhkan untuk perbaikan epitelium rongga mulut. Nutrisi yang kurang dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan angular cheilitis, glossitis, dan penyembuhan jaringan yang lambat. Status gigi-geligi dapat mempengaruhi kemampuan makan dan selanjutnya kualitas diet. Pada orang tua, masalah kesehatan mulut dapat mengarah pada berkurangnya berat badan, dan indeks massa tubuh yang kurang. Pedoman pola makan, berdasarkan penilaian riwayat gizi dan makanan, pasien tak bergigi seharusnya menjadi bagian utuh dari perawatan komprehensif prostodontik. Dukungan dari nutrisi akan mengembangkan toleransi mukosa terhadap gigi tiruan baru dan mencegah penolakan terhadap gigi tiruan.

Pengaruh keadaan gigi-geligi pada Asupan Makanan


7|Page

Pemilihan makanan untuk orang tua lanjut usia berhubungan dekat dengan keadaan gigi dan efiensi pengunyahan. Walaupun gigi yang masih lengkap tidak selamanya bisa menjaga kesehatan gizi, kehilangan gigi membuat orang tua memilih makanan rendah nilai gizinya. Umur, fungsi mulut, adekuat saliva dan jumlah dari gigi yang beroklusi dalam mulut menentukan kemampuan mengunyah tiap individu. Bila dibandingkan dengan gigi asli, orang dengan gigi tiruan penuh lepasan membuat kemampuan mengunyah menurun. Pengguna gigi tiruan harus mengunyah lebih kuat dan lebih banyak untuk bisa menelan makanan. Bahkan dengan mengunyah lebih banyak, kebanyakan gigi tiruan tidak bisa menghancurkan makanan menjadi partikel kecil sama halnya dengan gigi asli. Tekstur dan kekerasan makanan lebih menentukan penerimaan makanan pada pasien pengguna gigi tiruan daripada rasa dan baunya. Pada umumnya, pasokan makanan keras ( sayuran mentah atau buah, daging berserat, roti kering, biji-bijian, dan kacang-kacangan) berkurang, dan pasokan makanan lunak (daging sapi, roti, sereal,kue kering, buah kaleng, dan sayur-sayuran) meningkat. Perubahan pemilihan makanan ini apakah berdampak negatif terhadap status gizi pasien, tergantung pada kepadatan nutrisi pada makanan pengganti, tapi makanan lunak lebih rendah nutrisinya dan rendah serat. Contohnya, mengganti steak dengan daging sapi memberikan gizi yang sama, tapi mengganti saus apel untuk salad sayur memberikan pasokan gizi yang lebih rendah. Kenyamanan dalam menggunakan gigi tiruan tergantung pada kemampuan pelumasan saliva dalam mulut. Bila mukosa mulut kering, akan sulit mengunyah,retensi gigi tiruan berkurang, dan terasa nyeri pada mukosa serta terjadi ulserasi. Aliran saliva membantu pengunyahan, pembentukan bolus makanan,penelanan, dan pencernaan,karena merupakan kontributor utama kenyamanan makan. Tujuan pengunyahan adalah untuk mengurangi ukuran sehingga makanan bisa ditelan dan untuk meningkatkan permukaan makanan yang tampak untuk enzim pencernaan. Seseorang dengan kemampuan mengunyah yang tidak baik sering menelan makanan dengan ukuran yang lebih besar.

Kebutuhan gizi dan keadaan orang usia lanjut Terdapat perbedaan yang besar antara kebiasaan makan dan pasokan makanan untuk orang lanjut usia. Kebutuhan nutrisi untuk orang dewasa bervariasi tergantung status gizi dan tingkat aktivitas fisik. Kebutuhan energi berkurang sejalan dengan usia karena

8|Page

berkurangnya metabolisme dan aktivitas fisik. Karena penuaan, massa tubuh digantikan dengan lemak. Karena itu, asupan kalori yang dibutuhkan menjadi labih rendah. Saat asupan kalori rendah, penting untuk mengkonsumsi makanan berzat gizi tinggi seperti kacang-kacangan, sup sayuran, buah-buahan, produk susu rendah lemak, serta roti gandum dan sereal. Ini menyediakan vitamin, mineral dan serat yang cukup. Pasien pemakai gigi tiruan yang lebih suka makanan lunak seperti donat, kue, kue kering dan biskuit, harus disarankan tentang pentingnya buah, sayur, gandum, dan sereal. Kekurangan nutrisi khususnya vitamin pada lansia dapat menimbulkan gejala-gejala pada rongga mulut. Berikut adalah tabel gejala-gejala kekurangan nutrisi pada rongga mulut. Nutrisi yang kurang Protein Gejala di rongga mulut

Aliran saliva berkurang Kelenjar parotis membesar Vitamin B kompleks, zat Pada bibir : besi Cheilosis Angular stomatitis Angular scars Inflamasi Pada lidah : Edema lidah magenta Atrofi papilla filiformis Sensasi terbakar Rasa sakit Pucat Vitamin C Mukosa mulut edema Tender gingival Perdarahan spontan gingival Perdarahan pada papilla interdental Suplemen vitamin dan Herbal Mengkonsumsi berbagai jenis makanan merupakan cara terbaik untuk memperoleh keseimbangan nutrisi yang dibutuhkan untuk kesehatan. Diet yang bervariasi juga mengurangi resiko penyakit kronis. Bioavailabilitas vitamin dan mineral juga dipengaruhi oleh penyakit yang sudah ada, oabt-obatan, pasokan serat, status emosional,dan stress. Obat-obatan juga dapat mempengaruhi pencernaan dan penyerapan. Orang yang menelan

9|Page

aspirin beberapa kali sehari lebih membutuhkan zat besi, vitamin C, dan asam folat. Orang yang mengkonsumsi kortikosteroid dan obat diuretik membutuhkan lebih banyak kalsium. Suplemen herbal mempunyai efek langsung pada hasil pencabutan gigi sebelum insersi gigi tiruan. Obat-obatan Herbal merupakan obat yang mempunyai efek samping dan harus digunakan dengan hati-hati.

Dibawah ini merupakan faktor resiko untuk malnutrisi pada pasien pemakai gigi tiruan : Makan kurang dari 2 kali sehari Sulit mengunyah dan menelan Berat badan naik atau turun secara tiba-tiba lebih dari 10 lb dalam 6 bulan terakhir Pasien dalam perawatan kemoterapi atau radioterapi Gigi tiruan longgar atau luka di bawah gigi tiruan Lesi oral (glossitis, Cheilosis, atau lidah terbakar) Mandibula teresorbsi parah Pecandu alkohol dan obat-obatan Tidak mampu membeli makanan, memasak, atau memberi makan diri sendiri

Konseling gizi pasien dalam perawatan prostodontik Kualitas diet pasien pengguna gigi tiruan dapat ditingkatkan dengan konseling gizi. Satu harapan pasien yang menginginkan gigi tiruan baru adalah supaya mereka dapat memakan lebih banyak macam makanan. Pasien seperti ini kemungkinan lebih cepat mengerti pada saran untuk mengembangkan komposisi diet mereka. Pasien yang akan memakai gigi tiruan harus diamati dengan teliti mengenai faktor resiko nutrisinya sejak dari kunjungan pertama sehingga konseling dan follow up dapat berjalan selama proses perawatan. Tujuan utama dari konseling diet bagi pasien prostodontik adalah untuk memperbaiki ketidakseimbangan pasokan makanan yang dapat mengganggu tubuh dan rongga mulut. Dokter gigi tidak mendiagnosis spesifik defisiensi nutrisi, tapi untuk menentukan kecukupan gizi dari diet pasien.

Untuk menyediakan perawatan nutrisi bagi pengguna gigi tiruan ikuti beberapa tahap ini :

10 | P a g e

Catat riwayat nutrisi dan catatan akurat mengenai asupan makanan dalam periode 3 sampai 5 hari atau isi formulir frekuensi makan Evaluasi diet, nilai resiko nutrisi Ajarkan mengenai komponen diet yang akan mendukung mukosa mulut, kesehatan tulang, dan kesehatan tubuh Bantu pasien memperoleh tujuan mengingkatkan diet Follow up untuk mendukung pasien dalam usahanya mengubah kebiasaan makan

Petunjuk Nutrisi untuk pasien dalam perawatan prostodontik : 1. Makan bermacam-macam makanan 2. Membuat diet (menu makanan) terdiri dari karbohidrat kompleks (buah-buahan, sayuran, roti gandum, dan sereal) 3. Makan paling kurang lima porsi buah dan sayuran secara teratur 4. Pilih ikan, unggas, daging , telur, dan kacang polong setiap hari 5. Makan empat porsi makanan kaya kalsium secara teratur 6. Batasi pasokan produk roti yang tinggi lemak dan gula sederhana 7. Makan delapan gelas air, jus atau susu secara teratur

11 | P a g e

BAB III PEMBAHASAN

Berdasarkan jurnal yang kami dapatkan dengan judul Nutritional Status in Denture Wearers, Kami mendapatkan beberapa informasi mengenai pentingnya kesehatan mulut khususnya individu yang sudah tak memiliki gigi dan dalam perawatan gigi tiruan penuh bagi nutrisi tubuh. Kesehatan mulut ini dapat sangat berpengaruh pada kesehatan, bahkan berhubungan dengan penyakit-penyakit sistemik yang cukup berbahaya. Ini semua sangat berhubungan dengan asupan nutrisi dari pasien tersebut, karena asupan nutrisi inilah yang berperan dalam sistem pertahanan dan perbaikan tubuh. Berdasarkan Landasan teori yang kami dapatkan dari beberapa sumber, penjelasan yang ada di dalamnya tidak berbeda dengan pembahasan jurnal yang kami dapatkan. Keduanya secara khusus membahas mengenai dampak yang bisa ditimbulkan akibat perubahan fungsi mastikasi yang pada akhirnya dapat merubah pola makan seseorang menjadi lebih buruk. Penekanan pada materi ini adalah karena digantinya gigi-geligi yang sudah tidak ada ini dengan gigi tiruan menyebabkan menurunnya kemampuan mastikasi, mengecap, menggigit, dan menelan makanan. Ini dapat menyebabkan pasien pemakai full denture ini sulit untuk menghancurkan makanan sampai menjadi cukup kecil agar mudah dicerna, sehingga makanan-makanan tersebut sering tidak dikunyah dengan baik sebelum ditelan. Ini dapat berpengaruh pada kelainan sistem pencernaan. Selain itu, karena makanan sulit dikunyah, pasien seringkali menghindari makanan-makanan keras seperti sayuran mentah atau buah, daging berserat, roti kering, biji-bijian dan kacang-kacangan yang kaya nutrisi dan beralih pada makanan-makanan lunak yang pada umumnya tinggi lemak dan gula sederhana. Dalam jurnal juga disinggung sedikit tentang kekeringan saliva atau lebih dikenal sebagai xerostomia. Disini dijelaskan bahwa gigi tiruan tidak dapat mendapatkan retensi yang baik akibat kelainan ini. Akibatnya, pasien menjadi kurang nyaman menggunakan gigi tiruan tersebut dan akhirnya membuat pasien kesulitan dalam melakukan mastikasi dan penelanan makanan. Hal ini sesuai dengan teori bahwa lubrikasi saliva sangat penting

12 | P a g e

untuk menjaga retensi gigi tiruan,serta menjaga kondisi di bawah gigi tiruan agar tetap nyaman bagi pasien. Beberapa penelitian yang melibatkan faktor makanan sebagai penyebab dan pencegahan penyakit-penyakit penting juga dipaparkan dalam jurnal ini. Dalam hal ini yang cukup jelas yaitu adanya hubungan antara vitamin C yang berhubungan dengan terjadinya katarak karena berkurangnya plasma askorbat dan plasma retinol dapat mengganggu kulit dan penglihatan. Ada pula pengaruh adanya gigi-geligi terhadap prevalensi Diabetes tipe II, dimana lansia yang tak bergigi lebih tinggi prevalensinya untuk mengidap diabetes. Ini dimungkinkan karena asupan gizi yaitu lansia yang tak bergigi akan lebih sering mengkonsumsi makanan-makanan lunak yang sebagian besar mengandung gula sederhana yang bisa menumpuk dan mengarah pada diabetes tipe II. Hubungan dengan penyakit kardiovaskular yaitu karena pengguna gigi tiruan lebih cenderung memakan makanan lunak, dalam hal ini camilan snack daripada yang memiliki gigi asli sehingga lebih tinggi resiko penyakit jantung.

13 | P a g e

BAB IV KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan kami di atas, kami mendapatkan kesimpulan bahwa penggunaan gigi tiruan memang penting untuk memulihkan sistem mastikasi yang menurun akibat hilangnya gigi-geligi. Walaupun begitu, perawatan dengan gigi tiruan ini tidak akan bisa memperoleh hasil yang diharapkan jika tidak diikuti dengan pemasukan nutrisi yang penting bagi pemakainya, khususnya bagi orang berusia lanjut (lansia). Bagi para dokter gigi, melakukan konseling diet (pola makan) bagi pasien kita merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dalam perawatan prostodontik ini. Dengan bantuan nutrisi-nutrisi yang penting dan seimbang bagi pasien dapat membantu tercapainya perawatan yang efektif sehingga pasien bisa merasa nyaman tanpa adanya gangguangangguan yang dapat mengarah ke penyakit sistemik lainnya. Kelainan yang terjadi dalam tubuh kita banyak berasal dari rongga mulut kita, dalam hal ini berhubungan dengan pasokan nutrisi yang merupakan kunci pertahanan dan perbaikan tubuh kita. Pemberian nutrisi yang penting adalah kunci untuk menghindari kelainan-kelainan tersebut.

14 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Eckert.Jacob.Fenton.Mericske.Stern. Prosthodontic Treatment for Edentulous Patients Zarb-Bolender Twelfth Edition.CV.Mosby. 2000. Tarigan,S. Pasien Prostodonsia lanjut usia : Beberapa pertimbangan dalam perawatan. Medan, Sumatera Utara. 2005. Darita,S. Hubungan Status Gizi Dengan Kehilangan Gigi.Universitas Sumatera Utara. 2011. R.E. Nowjack-Raymer,A. Sheiham.Association of Edentulism and Diet and Nutrition in US Adults. J Dent Res 82(2):123-126, 2003 Townshend,L. Denture wearers Oral Health affect systemic health. Dental Tribune UK Edition. 2010 Republika Online, 2010, Masalah Gigi dan Mulut Lansia [online] http://republika.co.id:8080/koran/105/101065/Masalah_Gigi_dan_Mulut_Lansia, diakses tanggal 18 September 2011) PasarKreasi.com, 2011, Efek Dari Kehilangan Gigi [online] http://www.pasarkreasi.com/news/pdf/edutainment/1033, diakses tanggal 18 September 2011)

15 | P a g e