Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN Keperawatan adalah ilmu yang mempelajari penyimpangan atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang

dapat mempengaruhi perubahan, penyimpangan atau tidak berfungsinya secara optimal setiap unit yang terdapat dalam sistem hayati tubuh manusia, baik secara individu, keluarga, ataupun masyarakat dan ekosistem. Komunitas adalah sekelompok manusia yang saling berhubungan lebih sering dibandingkan dengan manusia lain yang berada diluarnya serta saling ketergantungan untuk memenuhi keperluan barang dan jasa yang penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Keperawatan kesehatan komunitas menurut ANA (1973) adalah suatu sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat. Praktik keperawatan kesehatan komunitas ini bersifat menyeluruh dengan tidak membatasi pelayanan yang diberikan kepada kelompok umur tertentu, berkelanjutan dan melibatkan masyarakat. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perawatan kesehatan komunitas adalah suatu bidang dalam ilmu keperawatan yang merupakan keterpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta masyarakat, serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan dengan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif, secara menyeluruh dan terpadu ditujukan kesatuan yang utuh melalui proses keperawatan untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal.

Desa Rempoah merupakan desa binaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Univarsitas Jenderal Soedirman (FKIK UNSOED). Dalam kesempatan kali ini penulis berkesempatan untuk melakukan pengkajian komunitas di RW 06 Desa Rempoah. Dari hasil pengkajian didapatkan data inti dan data subsistem komunitas. Pada dasarnya wilayah RW 06 merupakan wilayah yang baik dan dapat memberikan kenyamanan disegala aspek bagi warganya. Namun ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan berhubungan dengan kelalaian masyarakat karena mereka merasa telah memiliki lingkungan tempat tinggal yang nyaman. Dari riwayat komunitas didapatkan informasi bahwa pernah terjadi sesuatu yang meresahkan masyarakat Desa Rempoah secara umum. Beberapa waktu yang lalu ada sebuah pembobolan rumah yang dilakukan di siang hari. Walaupun kejadian tersebut tidak terjadi kembali, namun tidak dapat dipungkiri hal tersebut juga membuat resah warga RW 06. Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan keperawatan langsung (direction) terhadap individu, keluarga dan kelompok di dalam konteks komunitas serta perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat mempengaruhi individu, keluarga serta masyarakat. Dalam hal ini komunitas RW 06 perlu diberikan tindakan peningkatan derajat kesehatan berkaitan dengan keadaan lingkungn yang sudah baik secara keseluruhan. Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga, dan kelompok yang beresiko tinggi seperti keluarga penduduk di daerah kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau termasuk kelompok bayi, balita dan ibu hamil. Dalam meningkatkan derajat kesehatan komunitas RW 06 intervensi juga dilakukan kepada seluruh lapisan warga sehingga diharapkan suatu hasil yang berarti untuk warga RW 06 sendiri.

BAB II TINJAUAN TEORI Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, maka di selenggarakan upaya kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pengobatan (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang di selenggarakan secara berkesinambungan (Depkes RI,1992). Puskesmas adalah bagian yang integral melalui rencana pembangunan pelayanan kesehatan yang kemudian di kembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan (termasuk kesehatan) pada saat ini, yakni harus sesuai dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dan repelita di bidang kesehatan serta peraturan perundang-undangan lainnya (Suparto,A.K,2002). Masyarakat menaruh harapan yang besar kepada pusat-pusat pelayanan kesehatan contohnya puskesmas. Akan tetapi di sisi lain sekaligus mencurigainya. Dengan kata lain, masyarakat semakin kritis terutama sekali menyangkut kualitas pelayanan medis yang di berikan oleh institusi layanan kesehatan dan tenaga kesehatan . Oleh karena itu, sekali lagi di katakan, untuk lebih memaksimalkan perannya maka pihak-pihak yang berada di dalamnya harus berbenah diri dengan salah satu caranya adalah dengan melakukan perencanaan sebaik-baiknya (World Health Organization,1999) Sehat adalah keadaan utuh secara fisik, jasmani, mental, dan sosial dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Status kesehatan seseorang terletak antara dua kutub, yaitu sehat optimal dan kematian. Apabila status kesehatan kita bergerak kearah kematian maka kita berada dalam area sakit, dan apabila status kesehatan kita bergerak kearah sehat maka kita berada dalam area sehat. Jadi status kesehatan selalu dinamis dan berubah setiap saat. Pengertian paradigma sehat menurut Stepen R Covey dalam bukunya : The Seven Habits of Highly Effective People The word Paradigm comes from the Greek.

It was originally a scientific term. And is more commonly used today to mean a model, theory, concept, perception orientation, assumption or frame of reference. In the general sense, is the way see the world, not interm of our visual sense of sight, but in term of perceiving, understanding and interpreting. Sedangkan pada tahun 1950-an definisi WHO tentang sehat adalah keadaan sehat sejahtera fisik, mental, sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Namun pada tahun 1980an definisi WHO mengalami perubahan seperti yang tertera dalam UU Kesehatan No. 23/1992 dimana WHO memasukkan unsur hidup produktif sosial dan ekonomi di dalam pengertian tentang sehat. Dalam pembinaan dan pemberdayaan masyarakat yang sangat penting adalah bagaimana mengajak dan menggairahkan masyarakat untuk dapat tertarik dan bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri. Perubahan masalah kesehatan ditandai dengan terjadinya berbagai macam transisi kesehatan berupa transisi demografi, transisi epidemiologi, transisi gizi dan transisi perilaku. Transisi kesehatan ini padadasarnya telah menciptakan bebab ganda (double burden) masalah kesehatan. 1. Transisi demografi, misalnya mendorong peningkatan usia harapan hidup yang meningkatkan proporsi kelompok usia lanjut sermentara masalah bayi dan BALITA tetap menggantung. 2. Transisi epidemiologi, menyebabkan beban ganda atas penyakit menular yang belum pupus ditambah dengan penyakit tidak menular yang meningkat dengan drastis.
3. Transisi gizi, ditandai dengan gizi kurang dibarengi dengan gizi lebih. 4. Transisi perilaku, membawa masyarakat beralih dari perilaku tradisional

menjadi modern yang cenderung membawa risiko. Persepsi sakit dan kesakitan untuk setiap individu sangat berbeda dan sangat tergantung dari situasi dan kondisi seperti yang dijelaskan berikut ini : 1. Seseorang merasa sakit (kesakitan) setelah diperiksa dan dinyatakan menderita sakit. 2. Seseorang merasa sakit, tetapi setelah diperiksa ternyata individu tersebut tidak menderita sakit atau tidak mengalami penyakit.

3. Seseorang tidak merasa sakit, akan tetapi sebenarnya individu tersebut mengidap penyakit. 4. Seseorang tidak merasa sakit dalam tubuhnya. Perawatan kesehatan adalah bidang khusus dari keperawatan yang merupakan gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu sosial yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang sehat atau yang sakit secara komprehensif melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta resosialitatif dengan melibatkan peran serta aktif dari masyarakat. Peran serta aktif masyarakat bersama tim kesahatan diharapkan dapat mengenal masalah kesehatan yang dihadapi serta memecahkan masalah tersebut. Tanggung jawab perawat dalam sistem pelayanan kesehatan utama adalah: 1. Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan dan implementasi pelayanan kesehatan dan program pendidikan kesehatan. 2. Kerjasama dengan masyarakat, keluarga dan individu. 3. Mengajarkan konsep kesehatan dasar dan tehnik self care pada masyarakat. 4. Memberikan bimbingan dan dukungan pada petugas pelayanan kesehatan dan kepada masyarakat. 5. Koordinasi kegiatan kebijaksanaan tentang kesehatan masyarakat. Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat, saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest yang sama (WHO). Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama dengan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama (Riyadi, 2007). TUJUAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan keperawatan langsung (direction) terhadap individu, keluarga dan kelompok didalam konteks komunitas serta perhatian lagsung terhadap

kesehatan seluruh masyarakat dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat mempengaruhi individu, keluarga serta masyarakat. 1. Tujuan Umum Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara meyeluruh dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal secara mandiri. 2. Tujuan khusus a. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat. b. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah keperawatan. c. Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan asuhan keperawatan. d. Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan pembinaan dan asuhan keperawatan di rumah, di panti dan di masyarakat. e. Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindaklanjut dan asuhan keperawatan di rumah. f. Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di Puskesmas. g. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju keadaan sehat optimal. Strategi pelaksanaan keperawatan komunitas yang dapat digunakan dalam perawatan kesehatan masyarakat adalah :
1. Pendidikan Kesehatan (Health Promotion)

Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.

Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat. Menurut Notoatmodjo pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan di dalam bidang kesehatan (Mubarak, 2005).
2. Proses Kelompok (Group Process)

Bidang tugas perawat komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok masyarakat sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di dalamnya, yaitu: individu, keluarga, dan kelompok khusus. Perawat spesialis komunitas dalam melakukan upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan alternatif model pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan sosial, aksi sosial atau pengembangan masyarakat. Berkaitan dengan pengembangan kesehatan masyarakat yang relevan, maka penulis mencoba menggunakan pendekatan pengorganisasian masyarakat dengan model pengembangan masyarakat (community development) (Palestin, 2007).
3. Kerjasama atau Kemitraan (Partnership)

Kemitraan adalah hubungan atau kerjasama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat. Partisipasi klien/masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Kemitraan antara perawat komunitas dan pihak-pihak terkait dengan masyarakat digambarkan dalam bentuk garis hubung antara komponenkomponen yang ada. Hal ini memberikan pengertian perlunya upaya kolaborasi dibutuhkan masyarakat.
4. Pemberdayaan (Empowerment)

dalam untuk

mengkombinasikan mengembangkan

keahlian strategi

masing-masing peningkatan

yang

kesehatan

Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru. Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, dengan menjamin agar pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dapat terjangkau, dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan/ keperawatan. PERAN PERAWAT KOMUNITAS 1. Pendidik (Educator) Perawat memiliki peran untuk dapat memberikan informasi yang memungkinkan klien membuat pilihan dan mempertahankan autonominya. Perawat selalu mengkaji dan memotivasi belajar klien. 2. Advokat Perawat memberi pembelaan kepada klien yang tidak dapat bicara untuk dirinya. 3. Manajemen Kasus Perawat memberikan pelayanan kesehatan yang bertujuan menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas, mengurangi fragmentasi, serta meningkatkan kualitas hidup klien. 4. Kolaborator Perawat komunitas juga harus bekerjasama dengan pelayanan rumah sakit atau anggota tim kesehatan lain untuk mencapai tahap kesehatan yang optimal. 5. Panutan (Role Model)

Perawat kesehatan komunitas seharusnya dapat menjadi panutan bagi setiap individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat sesuai dengan peran yang diharapkan. Perawat dituntut berperilaku sehat jasmani dan rohani dalam kehidupan sehari-hari. 6. Peneliti Penelitian mengidentifikasi dalam serta asuhan keperawatan teori-teori dapat membantu yang mengembangkan keperawatan

merupakan dasar dari praktik keperawatan. 7. Pembaharu (Change Agent) Perawat kesehatan masyarakat dapat berperan sebagai agen pembaharu terhadap individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat terutama dalam merubah perilaku dan pola hidup yang erat kaitannya dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.

BAB III PEMBAHASAN Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat semua warga. Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif. Kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas, konstruktif dan produktif. Menurut Hendrik L. Blum ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Lingkungan terdiri

dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang berkaitan dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah, iklim, dan perumahan. Lingkungan dalam paradigma keperawatan berfokus pada lingkungan masyarakat, dimana lingkungan dapat mempengaruhi status kesehatan manusia. Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik, psikologis, sosial dan budaya dan lingkungan spiritual. Keperawatan komunitas mencakup berbagai bentuk upaya pelayanan kesehatan baik upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, maupun resosialitatif. Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan, peningkatan gizi, pemeliharaan kesehatan perorangan, pemeliharaan kesehatan lingkungan, olahraga teratur, rekreasi dan pendidikan seks. Upaya preventif untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan terhadap individu, keluarga kelompok dan masyarakat melalui kegiatan imunisasi, pemeriksaan kesehatan berkala melalui posyandu, puskesmas dan kunjungan rumah, pemberian vitamin A, iodium, ataupun pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui. Upaya kuratif bertujuan untuk mengobati anggota keluarga yang sakit atau masalah kesehatan melalui kegiatan perawatan orang sakit dirumah, perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut dari Pukesmas atau rumah sakit, perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis, perawatan buah dada, ataupun perawatan tali pusat bayi baru lahir. Upaya rehabilitatif atau pemulihan terhadap pasien yang dirawat dirumah atau kelompok-kelompok yang menderita penyakit tertentu seperti TBC, kusta dan cacat fisik lainnya melalui kegiatan latihan fisik pada penderita kusta, patah tulang dan lain sebagainya, kegiatan fisioterapi pada penderita stroke, batuk efektif pada penderita TBC, dll. Upaya resosialitatif adalah upaya untuk mengembalikan penderita ke masyarakat yang karena penyakitnya dikucilkan oleh masyarakat seperti, penderita AIDS, kusta dan wanita tuna susila. Dalam pengkajian pada komunitas RW 06 Desa Rempoah ini, dilakukan pengkajian untuk mengetahui data inti yang terdiri dari demografi, nilai, kepercayaan dan riwayat komunitas serta 8 data subsistem yang terdiri dari lingkungan fisik, pendidikan, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan, pelayanan sosial

10

dan kesehatan, komunikasi, ekonomi, dan rekreasi. Penapisan data pada pengkajian komunitas RW 06 menggunakan penapisan model Muke. Dalam model tersebut, penapisan dinilai berdasarkan 12 kriteria yang terdiri dari: 1. Sesuai degan peran perawat komunitas. 2. Jumlah yang beresiko 3. Besarnya resiko 4. Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan 5. Minat masyarakat 6. Kemungkinan untuk diatasi 7. Sesuai program pemerintah 8. Sumber daya tempat 9. Sumber daya waktu 10. 11. 12. 13. Sumber daya dana Sumber daya peralatan Sumber daya manusia Jumlah skor

Setiap kriteria diberi nilai dengan rentang antara 0-5 lalu dijumlahkan untuk setiap diagnosa. Nilai tertinggi yang didapatkan dijadikan sebagai diagnosa yang utama. A.
1.

Pengkajian Data Inti a. Riwayat/ Sejarah Wilayah Desa Rempoah merupakan desa yang terletak di kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Desa ini terdiri dari 6 RW dan 40 RT. Jumlah penduduk Desa Rempoah adalah 6.422 jiwa yang terdiri dari 3.281 penduduk laki-laki dan 3.141 penduduk perempuan. Setiap RW terdiri dari 4 RT. RW 06 merupakan salah satu bagian dari Desa

11

Rempoah. RW 6 Desa Rempoah terdiri dari 4 RT. Tiap RT terdiri dari 60 kepala keluarga. b. Demografi 1) Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin RW 06 terdiri dari 240 KK. Jumlah perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan terdapat lebih banyak jumlah perempuan. 2) Jumlah penduduk berdasarkan usia

Pada wilayah Rempoah RW 06 ini kebanyakan penduduknya adalah usia dewasa, jumlah anak bayi dan balita hanya sedikit, sebenarnya disini juga banyak anak usia remaja tetapi kebanyakan remaja pergi bekerja ke luar kota untuk bekerja.
c.

Suku Bangsa Kebanyakan penduduk yang berada di wilayah ini adalah suku Jawa Banyumas. Tipe keluarga kebanyakan extended family, karena banyak yang masih tinggal dengan orang tua ataupun sanak saudara yang lain. Kebanyakan populasinya homogen karena mempunyai suku yang sama yaitu suku Jawa.

d. Status Perkawinan Kebanyakan keluarga yang tinggal di wilayah ini sudah menikah dan berkeluarga. e. Nilai, Kepercayaan Agama Mayoritas agama yang dianut warga Desa Rempoah RW 6 adalah Islam. Terdapat masjid dan di RW 6. Rutinitas kegiatan keagamaan yang dilakukan warga adalah TPQ yang dilakukan tiap sore dan malam hari di Masjid. Selain itu juga tiap malam jumat selalu diadakan yasinan dan tahlilan. Kebudayaan yang masih dilakukan warga

12

Desa Rempoah adalah syukuran atau slametan jika warga baru mendirikan rumah, membeli mobil atau syukuran atas hasil panen. 2. a. Sub Sistem Lingkungan Fisik Keadaan masyarakat sekitar cukup ramah, apabila bertemu saling menyapa, antar tetangga masih saling mengenal. Jarak antar rumah tidak terlalu jauh hanya dibatasi pagar atau pekarangan. Kualitas udara masih bagus karena walaupun terdapat selokan tetapi tidak tercium bau selokan atau air yang terkontaminasi zat-zat tertentu. Tumbuh-tumbuhan yang ditanam juga subur kebanyakan tumbuhan yang ditanam adalah padi, tanah tidak terlihat gersang, untuk perumahannya lumayan bagus walaupun bukan perumahan mewah. Di desa ini pernah kemarau tapi Rw 6 tidak pernah kekurangan air karena sungainya tidak pernah surut Daerah yang ditanami tumbuh-tumbuhan biasanya hanya pekarangan saja, ataupun lahan kosong. Binatang yang biasa dipelihara di daerah ini adalah ayam, burung. Ternak kambing hanya terdapat di RT 2 RW 6 Desa Rempoah yakni sebanyak 5-6 ekor. Sedangkan ternak sapi tidak ada. Desa Rempoah RW 6 memiliki batas-batas sebagai berikut : Utara Selatan Timur Barat : : . : . : . Di wilayah Rempoah RW 06 sering mengadakan pertemuan rutin RT yang sering diadakan tiap bulan sekali yang berupa kegiatan arisan dan pengajian. Selain pertemuan RT juga ada posyandu balita dan posyandu lansia yang diadakan tiap bulan sekali. Di wilayah ini untuk keadaan iklimnya hampir sama dengan wilayah lain di Purwokerto yaitu masih

13

sering hujan. Di wilayah ini keadaan penduduknya tidak terlalu padat karena hanya terdapat 60 KK per RW.
b.

Fasilitas Kesehatan dan Sosial

Posyandu : Ada,yakni posyandu balita dan posyandu lansia. Poliklinik : Belum ada, namun sudah ada rencana dibangun polindes atas bantuan dari PNPM. Puskesmas : tidak ada, puskesmas mengikuti puskesmas wilayah kerja Baturraden. RS : tidak ada, warga yang sakit pergi ke puskesmas atau dokter, jika ada kemungkinan rujukan maka warga akan ke rumah sakit sesuai dengan rujukan dokter. Dari hasil pengkajian yang dilakukan di desa rempoah RT 02 RW 06 terdapat binaan posyandu yang diberi nama Posyandu Bina Kasih. Posyandu bina kasih ini diketuai oleh Ibu Diah. Ada 10 balita dan 10 lansia yang rutin datang ke pelayanan posyandu ini setiap tanggal 20 per bulannya. Dari hasil wawancara itu diketahui bahwa jumlah lansia terdapat sekitar 10-15 orang yang berusia 50 tahun ke atas. Dan jumlah balita lebih dari 50 bayi. Kegiatan posyandu akan ramai saat ada pemberian imunisasi rutin, sedangkan pada saat menimbang berat badan, mengukur lingkar kepala, hanya sedikit warga yang datang. Di desa ini ada satu bidan yang memberikan pelayanan kesehatannya pada masyarakat, yaitu Ibu bidan Munik. Kegiatan yang biasa dilakukan oleh bidan ini diantaranya adalah kegiatan menimbang berat badan bayi, memberikan pelayanan pada bumil dengan memberikan obat ketika ketuban mulai keluar.

14

Gerakan semacam Pemberdayaan Kesehatan Keluarga (PKK) di desa ini masih berjalan rutin dengan kegiatan seperti pengajian (yasinan dan tahlilan) dan arisan. Ketika arisan ada dana untuk makanan tambahan seperti bubur yang disiapkan oleh kades dengan anggaran dana yang berasal dari pembayaran kas anggota posyandu sebesar Rp. 500,001000,00/pertemuan. Masyarakat juga mempunyai jaminan persalinan (Jampersal) di balai desa. Ketika ada anggota warga yang sakit biasanya mereka akan pergi ke bidan atau dokter terdekat bukan ke polindes. Selain itu mereka berobat ke Puskesmas yang kemudian apabila permasalahannya kompleks akan dirujuk ke Rumah Sakit. Permasalahan yang biasanya dikeluhkan adalah Hipertensi (rata-rata hipertensi tinggi), asam urat, kebingungan saat balita mereka mengalami sakit batuk dan pilek. Selain itu masih terdapat kasus ASI eksklusif yang jarang dilakukan, masih ada juga masyarakat yang memberikan air tajin pada bayinya sebagai pengganti dari ASI. Alasan utama adalah bayi yang rewel akan diam setelah diberi makan, dan bayi akan lebih gemuk dibanding yang hanya diberi ASI eksklusif. Opsi pilihan yang lain masyarakat masih mempercayakan kesehatan pada dukun bayi. Di RW ini terdapat kader yang ditunjuk oleh kepala desa, jumlah kader yang ditunjuk adalah 5 orang dengan tugasnya masing-masing. Pekerjaan mereka selain menjadi kader adalah sebagai ibu rumah tangga. Untuk kader yang ditunjuk mengikuti acara di puskesmas atau di luar juga disediakan tunjangan pelatihan satu tahun sekali sebanyak Rp. 50.000,00 100.000,00. Beberapa pelatihan kader yang dilakukan di puskesmas diantaranya adalah pendidikan tentang cara pengisian SIP (1 tahun sekali) diajarkan tentang cara mengukur tekanan darah, pelatihan pengisian KMS atau Kartu Menuju Sehat yang kadang bisa berasal dari mahasiswa, memberikan

15

anjuran pada masyarakat agar memberikan ASI ekslusif pada bayinya. Untuk pelatihan kegiatan senam lansia sayang sekali belum bisa dilakukan, jadi di desa ini belum ada kegiatan senam lansia. Alat kesehatan yang digunakan di posyandu ini merupakan hasil investasi dari PNPM.
c. Ekonomi

Kebanyakan yang tinggal di wilayah ini adalah penduduk dengan tingkat ekonomi sedang. Mayoritas pekerjaan warga adalah bertani, diantaranya menanam jagung dan padi. Selain itu juga ada pula yang membudidayakan ikan. Selain dari itu hanya sedikit masyarakat yang mempunyai mata pencaharian sebagai pedagang. Wanita kadang ikut bekerja saat ada musim panen sebagai buruh tani. Penghasilan rata-rata mulai dari Rp. 600.000 dengan rata-rata pendapatan per hari yaitu Rp. 30.000,00. d. Keamanan dan Transportasi Di RW ini tidak terdapat fasilitas keamanan yang digunakan untuk menangani kebakaran, sanitasi dan air diatur oleh keluarga sendiri. Biasanya masyarakat melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor atau sepeda. Kendaraan pribadi yang umum dimiliki adalah sepeda motor atau sepeda walaupun beberapa warga ada yang memiliki mobil. Pelayanan keamanan yang tedapat di daerah ini tidak ada, poskampling jarang digunakan karena ronda malam jarang dilakukan. Ronda malam dilakukan jika terjadi situasi tidak aman. Bila terjadi pencurian barulah warga menghidupkan kembali ronda malam. Ronda malam dilakukan bertempat di teras rumah warga, biasanya tempatnya bergiliran berganti tempat di RW tersebut. Setelah itu biasanya hanya berjalan beberapa bulan, setelah situasi dirasakan sudah lebih aman dan terkendali, kegiatan ronda ini redup kembali. RW 6 Desa rempoah pernah ada riwayat pembobolan pintu rumah oleh pencuri yang dilakukan di siang hari. Sejak saat itu ronda

16

diaktifkan kembali. Namun setelah kegiatan berjalan lama hanya satu peronda saja yang aktif. e. Politik dan Pemerintahan Ada kegiatan politik yang dilakukan oleh penduduk RW 06, contohnya seperti pertemuan RT, RW, dan PKK yang diadakan tiap satu bulan sekali. Partai yang paling berpengaruh di wilayah ini adalah PKB. Partai PKB pernah mengadakan perbaikan mushalla. Kontribusi partai terhadap perkembangan RW 06 tidak ada, karena kader dari partai PKB tidak ada di RW 06. Selain itu, PNPM juga turut berkontribusi dalam perkembangan desa diantaranya adalah mengadakan bedah rumah, pembangunan jalan setapak dan yang saat ini sedang direncanakan adalah pembangunan polindes. f. Komunikasi Tempat khusus digunakan untuk berkumpul warga adalah di balai desa, tetapi jika pertemuan RT dan RW tempatnya bergantian di rumah warga. Kebanyakan warga mempunyai TV dan radio untuk mengetahui informasi di Indonesia atau sekedar untuk hiburan. Alat komunikasi yang digunakan untuk untuk menginformasikan acara adalah undangan, selebaran, atau famplet. Cara masyarakat menerima informasi : a. b.
c.

Dari mulut ke mulut Pengeras suara Undangan, Selebaran Pendidikan warga setempat rata- rata lulusan SMA, dari observasi

g.

Pendidikan yang di dapatkan warga desa rempoah rt/rw:02/06 tingkat pendidikan bagi laki- laki hanya sampai SMA, wanita SMP dan yang melanjutkan ke jenjang lebih tinggi hanya beberapa orang saja. Ada 10 orang yang hanya lulus SD dan SMP satu orang. Di desa ini terdapat TK. Kemudian bahasa

17

yang digunakan dalam kesehariannya menggunakan bahasa jawa (ngoko). Pelayanan pendidikan wajib 9 tahun sudah tercapai dengan baik. Sampai saat ini belum ada kendala masalah dengan pendidikannya hanya sedikit kendala dengan masalah keuangan untuk biaya sekolahnya saja. Pelayanan pendidikan di wilayah Desa Rempoah RW 6 ini sudah cukup baik yakni dekat dengan sarana pendidikan, diantaranya ada TK, SD 4 di RW 6, dan dekat dengan SMPN 1 di baturaden dan SMA 1 baturaden. h. Rekreasi Biasanya anak-anak bermain di sawah. Selain bermain rekreasi yang biasa dilakukan adalah melihat televisi ataupun mendengarkan radio. Setiap hari minggu ada beberapa anak yang jalan-jalan ke supermarket atau ziarah. Kegiatan ziarah rutin dilakukan tiap tahunnya. i. Analisis Komunitas a) Menetapkan Kebutuhan Komunitas Kebutuhan warga masyarakat RW 6 menurut Maslow adalah fisiologis, keamanan dan keselamatan, kasih sayang, harga diri, aktualisasi diri. Jika kebutuhan tersebut dapat dipenuhi maka kehidupan masyarakat dapat menjadi tenang, tenteram, dan sejahtera. b) Menetapkan Kekuatan Warga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan fisiologisnya dengan baik karena sebagian besar warga masyarakat di RW 6 memiliki penghasilan yang cukup. Hubungan antar warga juga baik karena setiap bertemu warga saling menyapa, warga juga ramah terhadap tetangga yang lain sehingga kebutuhan kasih sayang dapat dipenuhi, sikap saling menghormati dan menghargai antar warga juga membantu dalam pembentukan harga diri individu dan keluarga, hal ini sangat berhubungan dengan aktualisasi diri para warga RW 6. Bentuk aktualisasi diri RW 6 adalah adanya pertemuan rutin RT dan RW yang

18

diadakan setiap satu bulan sekali dan adanya warga masyarakat dan yang menjadi kader kesehatan. Tetapi ada hal yang belum terpenuhi yaitu keamanan lingkungan dan rekreasi warga RW 6. Keamanan lingkungan kurang terpenuhi karena pernah terjadi pembobolan pintu yang dilakukan siang hari di wilayah tersebut. Warga juga tidak pernah melakukan rekreasi. Untuk rekreasi warga hanya melihat televisi sebagai hiburan sehingga hal ini dapat menimbulkan kejenuhan warga terhadap rutinitas dalam bekerja. Padahal lokasi desa Rempoah dekat dengan tempat wisata yakni lokawisata Baturraden. Namun warga merasa bosan untuk berekreasi ke Baturraden. c) Mengidentifikasi Pola Respon Kesehatan Pengetahuan warga masyarakat mengenai kesehatan cukup baik, karena warga sangat sadar akan pentingnya kesehatan, contohnya seperti banyak warga yang tidak membuang sampah sembarangan, nuansa rumah yang bersih dan hijau karena di sekitar pekarangan rumah banyak ditanami tumbuh-tumbuhan. Sampah pada awalnya dibuang di sungai, namun setelah datang mahasiswa untuk memberikan edukasi akhirnya sekarang sampah dibuang di blumbungan kebun untuk dibakar. Selain itu hal ini dapat dilihat dari usia harapan hidup warga Rempoah yang dapat mencapai usia > dari 55 tahun bahkan ada 80 tahun. Apabila sakit warga langsung mengakses pelayanan kesehatan baik yang ada di wilayah Pamijen atau di luar Pamijen. d) Mengidentifikasi Kesehatan Para warga mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan, hal ini dipengaruhi tingkat pengetahuan masyarakat yang tinggi dari para mahasiswa yang sering dating dan mengadakan penyuluhan tentang kesehatan di wilayah tersebut. Sehingga mereka banyak memanfaatkan fasilitas kesehatan apabila sakit. Apabila warga Kecenderungan Penggunaan Pelayanan

19

sakit biasanya mengunjungi Bidan Desa, Dokter sekitar, Puskesmas, atau pelayanan kesehatan di luar wilayah.

B. Data DO :

Analisis Data Problem Etiologi resiko ketidakefektifan Hipertensi yang manajemen kesehatan diri hidup menderita hipertensi sebanyak 27 orang,

karena tidak

Pola sehat

1. warga

(kebiasaan mengkonsumsi ikan asin) dan Pengetahuan yang kurang . kesehatan

2.

kebiasaan warga mengkonsumsi ikan asin,

3. sebagian

besar

warga tamat SD,

20

DS : 1. menurut 6 bahwa penuturan banyak kader posyandu RW warga lansia yang menderita hipertensi hingga berlanjut ke asam urat, DO : 1. kurangnya manajemen siskamling tepat siskamling kejadian pembobolan, 2. belum terwujudnya polindes medis darurat. 3. Tidak bencana, DS : 1. menurut pada penuturan beberapa Ketua RW 6 bahwa minggu yang lalu adanya system penanganan untuk mendukung system yang karena hanya Ketidakefektifan komunitas koping Kurangnya pendukung komunitas dan System komunitas yang tidak efektif ( kurangnya system system system bencana medis darurat, transportasi, perencanaan dan system layanan dalam

berjalan setelah ada

keamanan desa )

21

telah warga dilakukan siang pencuri warga merasa nyaman rumah meninggalkan hari

terjadi yang pada oleh sehing setempat tidak apabila dalam

pembobolan rumah

keadaan kosong.

C.

Penentuan masalah keperawatan

1. Resiko ketidakefektifan manajemen kesehatan diri di komunitas RW 06 Desa

Rempoah, Kecamatan Baturraden b.d Hipertensi karena Pola hidup tidak sehat ( kebiasaan mengkonsumsi ikan asin) dan Pengetahuan kesehatan yang kurang . 2. Ketidakefektifan koping komunitas di komunitas RW 06 kec. Rempoah purwokerto b.d Kurangnya layanan pendukung dalam komunitas dan System komunitas yang tidak efektif ( kurangnya system medis darurat, system transportasi, system perencanaan bencana dan system keamanan desa ).

D. Kriteria Penapisan

22

Dx. Kep Dx. 1 Dx. 2

Kriteria penapisan 1 2 3 4 3 5 4 4 2 5 4 4

5 3 3

6 5 5

7 3 2

8 4 2

9 4 3

10 3 3

11 2 3

12 3 3

13 43 39

Keterangan: 1. Sesuai degan peran perawat komunitas. 2. Jumlah yang beresiko 3. Besarnya resiko
4. Kemungkinan untuk

pendidikan kesehatan 5. Minat masyarakat 6. Kemungkinan untuk diatasi 7. Sesuai program pemerintah 8. Sumber daya tempat 9. Sumber daya waktu 10. Sumber daya dana 11. Sumber daya peralatan 12. Sumber daya manusia 13. Jumlah skor

23

No. 1.

Diagnosa Tujuan resiko ketidakefektifan manajemen Setelah kesehatan diri di komunitas RW 06 tindakan kec. Rempoah purwokerto

Intervensi dilakukan 1. keperawatan an

memberik penkes

Rasionalisasi 1. warga mengetahui

dapat

b.d pada masyarakat selama mampu kesehatan

mengenai penyakit hipertensi

tentang penyakit hipertensi mulai dar penyebab dan cara pencegahanya

Hipertensi karena Pola hidup tidak 2 x 24 jam diharapkan sehat ( kebiasaan mengkonsumsi ikan masyarakat asin) dan Pengetahuan kesehatan yang meningkatkan kurang . manajemen diri.

2. Tujuan khusus: Diharapkan masyarakat mampu: 1. meningkatkan pengetahuan warga kesehatan 2. mengetahui dapat mengaplikasikan pola hidup yang sehat dan tentang benar

mengajark untuk

2. warga mengurangi ntingkat komplikasi hipertensi

dapat

an pola hidup yang mengurangi memperparah hipertensi dari aktivitas pengaturan diet 3. si memotiva warga untuk pola mulai dan pengaturan

dari yang

diderita

3. untuk mencegah penyakit lain yang dan

melakukan mengadakan

membuat warga untuk melakukan pola hidup sehat

hidup sehat dengan

senam sehat sekali 4. untuk

aerobic minimal

bersama atau jalan setiap satu bulan menyaran 4. posyandu merupakan tempat terdekat dimiliki masyarakat sehingga posyandu digunakan sebagai tombak memantau kesehatan masyarakat meningkatkan kesehatan masyarakat dan ujung dalam dapat pelayan yang

kan kepada warga mengoptimalkan fungsi sebagai posyandu tempat

pengoptimalan kegiatan kesehatan warga dijalankan (kegiatan pemeriksaan untuk ibu dan juga juga hamil, balita, lansia, bayi, dan dan yang

tempat

pengoptimalan

kesehatan masyarakat) 5. kan menyaran dan 5. agar mencegah terjadinya keparahan penyakit hipertensi diderita ke yang dari dapat

memotivasi kepada warga yang sudah terkena hipertensi untuk memeriksakan dirinya puskesmas terdekat atau pusat kesehatan lainya yang

BAB III PENUTUP

Keperawatan kesehatan komunitas menurut ANA (1973) adalah suatu sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat. Kesehatan di wilayah RT 04 RW 02 sudah cukup baik sehingga ada beberapa diagnosa keperawatan yang kita tetapkan untuk dapat meningkatkan kesehatan wilayah tersebut, diantaranya:
1. Resiko ketidakefektifan manajemen kesehatan diri di komunitas RW 06 kec. Rempoah purwokerto b.d Hipertensi karena

Pola hidup tidak sehat (kebiasaan mengkonsumsi ikan asin) dan Pengetahuan kesehatan yang kurang .
2. Ketidakefektifan koping komunitas di komunitas RW 06 kec. Rempoah purwokerto b.d Kurangnya layanan pendukung

dalam komunitas dan System komunitas yang tidak efektif (kurangnya system medis darurat, system transportasi, system perencanaan bencana dan system keamanan desa).