Anda di halaman 1dari 26

Aplikasi Teori Ida Jean Orlando Nursing Procces Theory dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional

(MAKP) Tim A. Pendahuluan

Salah satu usaha untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan profesional adalah penataan sistem pemberian pelayanan keperawatan melalui pengembangan model praktik keperawatan yang ilmiah yang disebut dengan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP). Model ini sangat menekankan pada kualitas kinerja tenaga keperawatan yang berfokus pada profesionalisme keperawatan antara lain melalui penetapan dan fungsi setiap jenjang tenaga keperawatan, sistem pengambilan keputusan, sistem penugasan dan sistem penghargaan yang memadai. Model praktik keperawatan ini diyakini dapat menjadi salah satu daya ungkit pelayanan yang berkualitas, yang memungkinkan perawat profesional menata struktur (menentukan jumlah, jenis dan standar kebutuhan tenaga) serta menata proses pemberian asuhan keperawatan melalui hubungan perawat-pasien yang berkesinambungan sehingga memungkinkan perawat primer bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Di berbagai negara telah banyak dilakukan kegiatan untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui pengembangan MPKP, keuntungan dari penerapan MPKP dapat dilihat dari penurunan angka kejadian infeksi pada kateter urin, penurunan jumlah pasien yang mengalami dekubitus, angka perpindahan perawat menurun, adanya kepuasan pasien dan kepuasan perawat serta adanya hubungan perawat-pasien yang berkesinambungan. Pengembangan MPKP merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan kontribusi profesi keperawatan untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, melalui pengembangan MPKP ini masyarakat dapat melihat dan merasakan secara konkrit pemberian pelayanan keperawatan yang profesional. Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatankelompok klien melalui upaya kooperatif dan kolaburatif ( Douglas, 1984). Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat. Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan konsep berikut: a. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan tehnik kepemimpinan. b. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin. c. Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim. d. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh kepala ruang. Metode ini di gunakan bila perawat pelaksana terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan dan kemampuannya . 1

Ketua tim mempunyai tanggung jawab untuk mengkordinasikan seluruh kegiatan asuhan keperawatan dalam tanggung jawab untuk mengkoordinasikan seluruh kegiatan asuhan keperawatan dalam tanggung jawab kegiatan anggota tim. Tujuan metode penugasan keperawatan tim untuk memberikan keperawatan yang berpusat pada pasien. Ketua tim melakukan pengkajian dan menyusun rencana keperawatan pada setiap pasien, dan anggota tim bertanggung jawab melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah di buat.Oleh karena kegiatan dilakukan bersama-sama dalam kelompok, maka ketua tim seringkali melakukan pertemuan bersama dengan anggota timnya (konferensi tim) guna membahas kejadian-kejadian yang di hadapi dalam pemberian askep. Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda- beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 3 tim/ group yang terdiri dari tenaga professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu. B. Peran dan Tanggungjawab Peran kepala ruangan: 1. Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf 2. Membantu staf menetapkan sasaran dari unit/ruangan 3. Memberi kesempatan kepada ketua tim untuk pengembangan kepemimpinan 4. Mengorientasikan tenaga yang baru tentang fungsi metode tim keperawatan 5. Menjadi Narasumber bagi ketua tim 6. Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset keperawatan 7. Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka Tugas dan tanggung jawab ketua tim : 1. Bertanggung jawab terhadap pengelolaan asuhan keperawatan klien sejak masuk sampai pulang 2. Mengorientasikan klien yang baru dan keluarganya 3. Mengkaji kondisi kesehatan klien dan keluarganya 4. Membuat diagnose keperawatan dan rencana keperawatan 5. Mengkomunikasikan rencana keperawatan kepada anggota tim 6. Mengarahkan dan membimbing anggota tim dalam melakukan tindakan keperawatan 7. Mengevaluasi tindakan dan rencana keperawatan 8. Melaksanakan tindakan keperawatan terntu

9. Mengembangkan perencanaan pulang 10. Memonitor pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan oleh anggota tim 11. Melakukan/mengikuti pertemuan dengan anggota tim/tim kesehatan lainnya untuk membahas perkembangan kondisi pasien 12. Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok dan memberikan bimbingan melalui konfrensi 13. Mengevaluasi pemberian Askep dan hasil yang di capai serta pendokumentasiannya Tugas dan tanggung jawab anggota tim 1. 2. 3. Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan ketua tim Mendokumentasikan tindakan keperawatan yang dilakukan Membantu ketua tim melakukan pengkajian, menentukan diagnose keperawatan dan membuat rencana keperawatan 4. 5. 6. Membantu ketua tim mengevaluasi hasil tindakan keperawatan Membantu/bersama dengan ketua tim mengorientasikan pasien baru Mengganti tugas pembantu keperawatan bila perlu

Tugas dan tanggung jawab pembantu keperawatan 1. Membersihkan ruangan dan meja pasien 2. Menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk tindakan keperawatan 3. Membantu perawat dalam melakukan asuhan keperawatan 4. Membersihkan alat-alat yang telah digunakan 5. Mengurus pemberangkatan dan pemulangan pasien konsul 6. Mengatur urinal dan pispot ked an dari pasien. Dalam keperawatan tim, perawat profesional dapat mempraktekan kemampuan kepemimpinannya secara maksimal. Kepemimpinan perawat ini menjadi kunci keberhasilan praktek keperawatan dan menjamin asuhan keperawatan bermutu bagi pasien. Struktur model Tim Kepala ruangan

Ketua Tim - Ners


Angg.Tim : Ners, Pr Dipl, Per. Pembantu

Ketua Tim - Ners


Angg.Tim : Ners, Pr Dipl, Per. Pembantu

Pasien

Pasien

Strategi Kerja Dari Tim Saat pasien baru masuk di ruang rawat, pasien dan keluarga akan diterima oleh Ketua Tim dan diperkenalkan kepada anggota tim yang ada. Kemudian ketua tim akan memberikan orientasi tentang ruang, peraturan-peraturan ruangan, perawat bertanggung jawab (ketua tim) dan anggota tim. Ketua tim (dapat dibantu oleh anggota tim) melakukan pengkajian, kemudian membuat rencana keperawatan berdasarkan rencana keperawatan yang sudah ada setelah terlebih dahulu melakukan analisa dan modifikasi terhadap rencana keperawatan tersebut sesuai dengan kondisi pasien. Setelah menganalisa dan memodifikasi rencana keperawatan, ketua tim menjelaskan rencana keperawatan tersebut kepada anggota tim, selanjutnya anggota tim akan melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan tersebut dan rencana tindakan medis yang dituliskan pada format tersendiri. Tindakan yang telah dilakukan oleh anggota tim lalu didokumentasikan pada format yang tersedia. Bila anggota tim yang menerima pasien baru pada sore dan malam hari atau pada saat hari libur, pengkajian awal dilakukan oleh anggota tim terutama yang terkait dengan masalah kesehatan utama pasien, anggota tim membuat masalah keperawatan yang utama dan melakukan tindakan keperawatan dengan terlebih dahulu mendiskusikannya dengan penanggung jawab sore/malam/hari libur. Saat ketua tim ada, pengkajian dilengkapi oleh ketua tim, kemudian membuat rencana yang lengkap dan selanjutnya akan menjadi panduanbagi anggota tim dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Pada dinas pagi, ketua tim bersama anggota tim melakukan operan dari dinas malam (hanya pasien yang dirawat oleh tim yang bersangkutan), selanjutnya dengan anggota tim pagi melakukan konferens tentang permasalahan pasien, pembagian pengelolaan pasien untuk tiap anggota tim, dan mengkoordinasikan tugas yang harus dilakukan oleh anggota tim. Selain dengan anggota tim, ketua tim juga melakukan komunikasi langsung dengan dokter, ahli gizi dan tim keehatan lain untuk membahas perkembangan pasien dan perencanaan baru yang perlu dibuat. Selain itu mengidentifikasi pemeriksaan penunjang yang telah ada dan yang perlu dilakukan selanjutnya. Bila terdapat rencana baru atau ada tindakan tertentu yang harus dilakukan, maka ketua tim akan mengkomunikasikan kepada anggota tim untuk melaksanakannya. Jika terdapat tindakan spesifik yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh anggota tim maka ketua tim yang akan melakukan langsung tindakan 4

tersebut. Terutama dalam melakukan intervensi pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga akan dilakukan oleh ketua tim yang didasarkan atas hasil pengkajian pada kebutuhan peningkatan pengetahuan. Pendidikan kesehatan dapat dilakukan mandiri oleh ketua tim atau kolaborasi, misalnya dengan ahli gizi untuk penjelasan mengenai diet pasien yang benar. Selama anggota tim melakukan asuhan keperawatan pada pasien, ketua tim akan memonitor tindakan yang dilakukan dan member bimbingan pada anggota tim. Anggota tim selama melakukan asuhan keperawatan harus mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan pada format-format yang terdapat dipapan dokumentasi. Kemudian ketua tim akan memonitor dan mengevaluasi dokumentasi yang dibuat oleh anggota tim. Setiap hari ketua tim mengevaluasi perkembangan pasien dengan

mendokumentasikan pada format catatan perkembangan dengan metoda SOAP (data subjektif, data objektif, analisa dan perencanaan) catatan perkembangan pasien ini bagi anggota tim juga menjadi penuntun dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Bila ada pasien yang akan pulang atau pindah keunit perawatan lain, ketua tim akan membuat resume keperawatan sebagai informasi tentang asuhan keperawatan yang telah diberikan pada pasien selama dirawat, yang berisi masalah-masalah pasien yang timbul dan masalah yang sudah teratasi, tindakan keperawatan yang telah dilakukan dan pendidikan kesehatan yang telah diberikan. Pada penggantian dinas pagi-sore dilakukan peran anggota tim sore yang didampingi oleh ketua tim. Komponem utama yang diinformasikan dalam operan antara lain keadaan umum pasien, tindakan/intervensi yang telah dilakukan dan atau tindakan yang belum dilakukan, hal-hal penting yang harus diperhatikan oleh perawat dinas sore dan malam yang berkaitan dengan perencanaan keperawatan pasien yang akan dibuat oleh ketua tim. Selanjutnya bila perlu, ketua tim melengkapi informasi-informasi penting yang belum disampaikan kepada dinas sore. Anggota tim juga menulis laporan pagi/sore/malam pada format yang tersedia. Pendistribusian tim dalam kegiatan shift: Dibawah ini sebagai contoh system pendistribusian tim : Kegiatan shift Pagi Sore Malam TimI/Kt.Tim 2 anggota tim 2 anggota tim 2 anggota tim 8 pasien TimII/Kt.Tim 3 anggota tim 2 anggota tim 2 anggota tim 9 pasien TimIII/Kt.Tim 3 anggota tim 2 anggota tim 2 anggota tim 8 pasien

Dalam penerapannya ada kelebihan dan kelemahannya yaitu (Nursalam, 2002): 1) Kelebihan : a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh. b. Mendukung pelaksanakaan proses keperawatan. c. Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberi kepuasan kepada anggota tim. 2) Kelemahan : Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk. Akuntabilitas dalam tim kabur Perawat tidak trampil berlindung pada perawat lain yang trampil

Tanggung Jawab Perawat Dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim (Nursalam, 2002) : a. Tanggung jawab anggota tim: 1) Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah tanggung jawabnya. 2) Kerjasama dengan anggota tim dan antar tim. 3) Memberikan laporan. b. Tanggung jawab ketua tim: 1) Membuat perencanaan. 2) Membuat penugasan, supervisi dan evaluasi. 3) Mengenal/ mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien. 4) Mengembangkan kemampuan anggota. 5) Menyelenggarakan konferensi. c. Tanggung jawab kepala ruang: 1) Perencanaan a) Menunjukkan ketua tim akan bertugas di ruangan masing- masing. b) Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya. c) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat, transisi dan persiapan pulang bersama ketua tim.

d) Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim, mengatur penugasan/ penjadwalan. e) Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan. f) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologis, tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien. g) Mengatur dan mengendalikan asuhan keparawatan: Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan. Membimbing penerapan proses keperawatan dan menilai asuhan keparawatan. Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah. Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk RS. h) Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri. i) Membantu membimbing terhadap peserta didik keprawatan. j) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan di rumah sakit. 2) Pengorganisasian a) Merumuskan metode penugasan yang digunakan. b) Merumuskan tujuan metode penugasan. c) Membuat rincian tugas tim dan anggota tim secara jelas. d) Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2 ketua tim dan ketua tim membawahi 2 3 perawat. e) Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dan lain- lain. f) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan. g) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik. h) Mendelegasikan tugas kepala ruang tidak berada di tempat, kepada ketua tim. i) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien. j) Identifikasi masalah dan cara penanganannya. 3) Pengarahan a) Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim. b) Membrikan pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik. 7

c) Memberikan motivasi dlam peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap. d) Menginformasikan hal hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan askep pasien. e) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan. f) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. g) Meningkatkan kolaburasi dengan anggota tim lain. 4) Pengawasan a. Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim dalam pelaksanaan mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. b. Melalui supervisi: Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki/ mengawasi

kelemahannya yang ada saat itu juga. Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua tim, membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan

(didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim. Audit keperawatan.

Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim Kepala Ruang Ketua Tim Staf Perawat Pasien/Klien Ketua Tim Staf Perawat Pasien/Klien Ketua Tim Staf Perawat Pasien/Klien

Team Nursing (Marquis & Huston, 1998,p. 149)

Kegiatan Perawat Dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim Terdapat 4 metode pemberian asuhan keperawatan yaitu metode fungisonal, metode kasus, metode tim dan metode keperawatan primer (Gillies, 1989).Dari keempat metode ini, metode yang paling memungkinkan pemberian pelayanan profesional adalah metode tim dan primer. Dalam hal ini adanya sentralisasi obat, timbang terima, ronde keperawatan dan supervisi (Nursalam, 2002). a. Sentralisasi Obat Kontroling terhadap penggunaan dan konsumsi obat, sebagai salah satu peran perawat perlu dilakukan dalam suatu pola/ alur yang sistematis sehingga penggunaan obat benar benar dapat dikontrol oleh perawat sehingga resiko kerugian baik secara materiil maupun secara non material dapat dieliminir. 1) Tujuan a) Tujuan Umum Meningkatkan mutu pelayanan kepada klien, terutama dalam pemberian obat. Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat secara hukum maupun secara moral. Mempermudah pengelolaan obat secara efektif dan efesien.

b) Tujuan Khusus Menyeragamkan pengelolaan obat. Mengamankan obat obat yang dikelola. Mengupayakan ketepatan pemberian obat dengan tepat klien, dosis, waktu, dan cara. 2) Tehnik pengelolaan obat kontrol penuh ( sentralisasi) Tehnik pengelolaan obat kontrol penuh ( sentralisasi) adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan diberikan pada pasien diserahkan sepenuhnya pada perawat. Pengeluaran dan pembagian obat sepenuhnya dilakukan oleh perawat. a) Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara operasional dapat didelegasikan pada staf yang ditunjuk. b) Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan obat. c) Penerimaan obat : Obat yang telah diresepkan dan telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada perawat dengan menerima lembar serah terima obat. 9

Perawat menuliskan nama pasien, register, jenis obat, jumlah dan sediaan dalam kartu kontrol dan diketahui oelh keluarga / klien dalam buku masuk obat. Keluarga atau klien selanjutnya mendapatkan penjelasan kapan/ bilamana obat tersebut akanhabis. Klien/ keluarga untuk selanjutnya mendapatkan salinan obat yang harus diminum beserta sediaan obat. Obat yang telah diserahkan selanjutnya disimpan oleh perawat dalam kotak obat. d) Pembagian obat Obat yang diterima untuk selanjutnya disalin dalam buku daftar pemberian obat. Obat obat yang telah disiapkan untuk selanjutnya diberikan oleh perawat dengan memperhatikan alur yang etrcantum dalam buku daftar pemberian obat, dengan terlebih dahulu dicocokkan dengan terapi di instruksi dokter dan kartu obat yang ada pada klien. Pada saat pemberian obat, perawat menjelaskan macam obat, kegunaan obat, jumlah obat dan efek samping. Sediaan obat yang ada selanjutnya dicek tiap pagi oleh kepala ruangan/ petugas yang ditunjuk dan didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat yang hampir habis diinformasikan pada keluarga dan kemudian dimintakan kepada dokter penanggung jawab pasien. e) Penambahan obat baru Informasi ini akan dimasukkan dalam buku masuk obat dan sekaligus dilakukan perubahan dalam kartu sediaan obat. Obat yang bersifat tidak rutin maka dokumentasi hanya dilakukan pada buku masuk obat dan selanjutnya diinformasikan pada keluarga dengan kartu khusus obat. f) Obat Khusus Sediaan memiliki harga yang cukup mahal, menggunakan rute pemberian obat yang cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup besar. Pemberian obat khusus menggunakan kartu khusus. Informasi yang diberikan kepada keluarga/ klien : nama obat, kegunaan, waktu pemberian, efek samping, penanggung jawab obat, 10

dan wadah obat. Usahakan terdapat saksi dari keluarga saat pemberian obat. 3) Pengelolaan obat tidak penuh ( desentralisasi) a) Penerimaan dan pencatatan obat Obat yang telah diambil oelh keluarga diserahkan pada perawat. Obat yang diserahkan dicatat dalam buku masuk obat. Perawat menyerahkan kartu pemberian obat kepada keluarga / pasien. Penyluhan tentang : rute pemberian obat, waktu pemberian, tujuan, efek samping. Perawat menyerahkan kembali obat pada keluarga / pasien dan menandatangani lembar penyuluhan. b) Pemberian obat Perawat melakukan kontroling terhadap pemberian obat. Dicek apakah ada efek samping, pengecekan setiap pagi hari untuk menentukan obat benar benar diminum sesuai dosis. Obat yang tidak sesuai/ berkurang dengan perhitungan diklarifikasi dengan keluarga. c) Penambahan obat Penambahan obat dicatat dalam buku masuk obat. Melakukan penyuluhan oabt baru sebelum diserahkan pada pasien.

d) Obat khusus Penyuluhan obat khusus diberikan oleh perawat primer. Pemberian obat khusus sebaiknya oleh perawat.

b. Timbang Terima Adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu ( laporan ) yang berkaitan dengan keadaan klien. 1) Tujuan a) Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien. b) Menyampaikan hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya. c) Tersusun rencana kerja untuk dinas berikutnya. 2) Langkah langkah a) Kedua shif dalam keadaan siap.

11

b) Shif yang akan menyerahkan perlu mempersiapkan hal apa yang akan disampaikan. c) Perawat primer menaympaikan kepada penanggung jawab shif yang selanjutnya meliputi ; kondisi, tindak lanjut, rencana kerja. d) Dilakukan dengan jelas dan tidak terburu buru. e) Secara langsung melihat keadaan klien. 3) Prosedur timbang terima a) Persiapan Kedua kelompok sudah siap. Kelompok yang bertugas menyiapkan buku catatan.

b) Pelaksanaan Timbang terima diloaksanakan setiap pergantian shif. Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komperhensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan, rencana tindakan yang sudah dan belum dilakukan serta hal penting lannya. Hal yang bersifat khusus dan memerlukan perincian yang lengkap dicatat secara khusus untuk kemudian diserahkan kepada perawat jaga berikutnya. Hal yang perlu diberitahukan dalam timbang terima: identitas dan diagnosa medis, masalah keperawatan, tindakan yang sudah dan belum dilakukan, intervensi

12

4) Alur timbang terima Pasien Diagnosa medis masalah kolaburatif Diagnosa Keperawatan

Rencana tindakan

Yang telah dilakukan

Yang akan dilakukan

Perkembangan keadaan klien

Masalah: Teratasi Belum Sebagian Baru Gambar Alur Timbang Terima

c. Ronde Keperawatan Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer atau konselor, kepala ruangan, perawat assosciate yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim. 1) Tujuan a) Menumbuhkan cara berpikir secara kritis. b) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien. c) Meningkatkan validitas data klien. d) Menilai kemampuan justifikasi. e) Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja. f) Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana perawatan. 13

2) Peran a) Ketua Tim dan Anggota Tim Menjelaskan keadaan dan data demografi klien. Menjelaskan masalah keperawata utama. Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan. Menjelaskan tindakan selanjutnya. Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil.

b) Peran Ketua Tim lain dan atau konselor Memberikan justifikasi Memberikan reinforcement. Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta tindakan yang rasional. Mengarahkan dan koreksi. Mengintegrasi teori dan konsep yang telah dipelajari.

3) Persiapan a) Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde. b) Pemberian inform consent kepada klien/ keluarga. 4) Pelaksanaan a) Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan. b) Diskusikan antar anggota tim tentang kasus tersebut. c) Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau perawat konselor/ kepala ruangan tentang masalah klien serta tindakan yang akan dilakukan. d) Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan.

14

5) Langkah langkah PP Penetapan pasien


Persiapn pasien: - inform consent. - hasil pengkajian/ intervensi data

Tahap praronde Proposal

Penyajian data

- Apa yang menjadikan masalah - Cross cek data yang ada - Apa yang menyebabkan masalah yang tersebut - Bagaimana pendekatan ( proses, SAK,SOP)

Validasi data Diskusi karu, PP, perawat konselor Tahap ronde pada bed pasien MASALAH TERATASI Analisis data Aplikasi hasil analisa dan diskusi

Gambar Langkah langkah ronde keperawatan

6) Pasca ronde Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menetapkan tindakan yang perlu dilakukan. 7) Supervisi Tujuan & instrumen supervisi KARU PENDELEGASIAN Kinerja : 1. Pelaksanaan Askep. 2. Dokumentasi 3. Timbang terima 4. Sentralisasi Obat 5. Ronde Keperawatan Ketua Tim
R : Responsibility A : Accountability A : Authority Kwalitas: 1. Peningkatan kualitas 2. Keuntungan 3. Exsistensi RS. 4. Kepuasan kerja 5. Kepuasan pelanggan 6. Standart

3 F: FAIR FEAD BACK FOLLOW UP

15

Gambar Alur supervisi

d. Perencanaan pulang 1) Definisi Perencanaan pulang adalah masalah multidisiplin atau interaksi. Ini adalah proses dimana profesional perawatan kesehatan, pasien dan keluarga mereka berkolaborasi untuk memberikan dan mengatur kontunuitas perawatan yang diperlukan pasien. Perencanaan harus berpusat pada masalah pasien, yaitu pencegahan, terapeutik, rehabilitatif dan perawatan biasanya. Ini juga harus termasuk kebutuhan non medis. Perencanaan pulang juga dapat diartikan sebagai mekanisme untuk memberikan perawatan kontinu, informasi tentang kebutuhan kesehatan berkelanjutan setelah pulang, perjanjian evaluasi dan instruksi perawatan diri. 2) Proses rencana pemulangan Proses rencana pemulangan meliputi : Mengkaji dan mendiagnosis kebutuhan rencana pemulangan Mengidentifikasi masalah utama Menyusun rencana dan menyusun tujuan untuk pasien Membagi dan menguji rencana sesuai kebutuhan Mengukur hasil Mengevaluasi program dan membuat perubahan sesuai kebutuhan Mendokumentasikan tindakan Evaluasi rencana. 3) Manfaat Membuat Perencanaan Pulang Rencana pemulangan diperlukan oleh Badan Regulasi dan Akreditasi seperti Joint Commission on Acreditation of Healthcare Organization (JCAHO) Ini di perlukan oleh bimbingan kerja sosial nasional dan Negara bagian Rencana antisipasi dan dokumentasikan menurunkan jumlah berulangnya dan penyangkalan retroaktif dari asuransi, medicare dan medicaid Menurunkan jumlah kekambuhan, penerimaan kembali di Rumah Sakit, dan kunjungan ke ruangan kedaruratan yang tidak perlu kecuali untuk beberapa diagnosis Menjamin penggunaan yang tepat tenaga perawatan kesehatan, penggunaan optimal simber- sumber dan pelayanan, dan memotong duplikasi pelayanan 16

Membantu pasien memahami kebutuhan untuk setelah perawatan dan biaya pengobatan Menjamin sumber- sumber komunitas dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga

4) Hal- hal yang mempengaruhi perencanaan pulang Keberhasilan program rencana pemulangan tergantung pada enam variabel yaitu : Derajat penyakit/ kesehatan pada kontinum Hasil yang diharapkan dari perawatan Durasi perawatan yang dibutuhkan Jenis- jenis pelayanan yang diperlukan Komplikasi tambahan (mis perluasan pelayanan) Ketersediaan sumber- sumber

Dokumentasi Asuhan keperawatan (Ratna Sitorus, 2001) Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Karena adanya dokumentasi yang baik informasi mengenai keadaan kesehatan pasien dapat diketahui secara berkesinambungan. Disamping itu dokumentasi merupakan dokumen legal tentang pemberian asuhan keperawatan. Secara lebih spesifik dokumentasi berfungsi sebagi sarana komunikasi antar profesi kesehatan, sumber data untuk pemberian asuhan keperawatan, sumber data untuk penelitian, sebagai bukti pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan asuhan keperawatan, dan sarana untuk pemantauan asuhan keperawatan. Dokumentasi dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien. Dokumentasi berdasarkan pemecahan masalah terdiri dari format pengkajian, rencana keperawatan, catatan tindakan keperawatan dan catatan perkembangan pasien. Pada model PKP juga terdapat format dokumentasi seperti disebutkan diatas, namun pada model ini dikembangkan standar rencana keperawatan berdasarkan literatur. Penetapan standar rencana keperawatan ini diharapkan dapat membuat efisiensi waktu bagi perawat. Catatan tindakan keperawatan juga dibuat lebih spesifik untuk memungkinkan pendokumentasian semua tindakan keperawatan. Catatan perkembangan pasien juga dilakukan setiap hari yang bertujuan menilai tingkat perkembangan pasien. Rencana 17

keperawatan dan catatan perkembangan pasien dilakukan oleh PP dan catatan tindakan dilakukan oleh PP dan PA atau sesuai perannya masing- masing. Konsep Nursing Procces Theory Ida Jean Orlando A. Paradigma Keperawatan Teori Proses Keperawatan Orlando Asumsi Orlando terhadap paradigma keperawatan hampir seluruhnya terkandung dalam teorinya. Sama dengan teori-teori keperawatan pendahulunya asumsinya tidak spesifik, namun demikian Schmieding (1993) mendapatkan dari tulisan Orlando mengenai empat area yang ditekuninya : 1. Perawat Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku pasien, reaksi perawat dan tindakan perawatan yang dirancang untuk kebaikan pasien 2. Manusia Manusia bertindak atau berperilaku secara verbal dan nonverbal, kadang-kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya membutuhkan pertolongan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak dapat melakukannya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong dirinya dalam memenuhi kebutuhannya. 2. Sehat Orlando tidak medefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas dari ketidaknyamanan fisik dan mental dan merasa adekuat dan sejahtera berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat.

4. Lingkungan Orlando berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang terjadi ketika perawat dan pasien berinteraksi, dan keduanya mempersepsikan, berfikit, dan merasakan dan bertindak dalam situasi yang bersifat segera. Pasien dapat mengalami

18

distress terhadap lingkungan therapeutik dalam mencapai tujuannya, perawat perlu mengobservasi perilaku pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress.

B. Konsep Utama Dalam Teori Proses Keperawatan Orlando


PERSON A PERSON B
ACTION PERCEPTION THOUGHT ACTION PERCEPTION THOUGHT FEELING REACTION

Reaction Secret

Reaction Secret

C. REACTION

FEELING

Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik antara pasien dan perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi. Dan sebagai orang pertama yang mengidentifikasi dan menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan dan hal-hal kritis penting dari partisipasi pasien dalam proses

keperawatan. Proses aktual interaksi perawat-pasien sama halnya dengan interaksi antara dua orang . Ketika perawat menggunakan proses ini untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, Orlando menyebutnya sebagai nursing procces discipline. Itu merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien. Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu fungsi perawat profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal atau kesegaraan, disiplin proses keperawatan serta kemajuan. 1. Tanggung jawab perawat Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa aman ketika dalam mendapatkan pengobatan atau dalam pemantauan. Perawat harus mengetahui kebutuhan pasien untuk membantu memenuhinya. Perawat harus mengetahui benar peran profesionalnya, aktivitas perawat profesional yaitu tindakan yang dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna mencapai tujuan dalam membantu pasien. Ada beberapa aktivitas spontan dan rutin yang bukan aktivitas profesional perawat yang dapat dilakukan oleh perawat, sebaiknya hal ini dikurangi agar perawat lebih terfokus pada aktivitas-aktivitas yang benar-benar menjadi kewenangannya. 19

2. Mengenal perilaku pasien Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan pasien maupun perilaku nonverbal yang ditunjukkan pasien. 3. Reaksi segera Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu pasien , berfikir dan merasakan. 4. Disiplin proses keperawatan Menurut George (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan sebagai interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tindakan yang tepat. 5. Kemajuan / peningkatan Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan produktif.

D. Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses Keperawatan Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa disiplin proses keperawatan dalam nursing procces theory dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang disampaikan kepada

perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan. (Tomey, 2006 hlm 434). Disiplin proses keperawatan didasarkan pada proses bagaimana seseorang bertindak. Tujuan dari proses disiplin ketika digunakan antara perawat dan pasien adalah untuk membantu pemenuhan kebutuhan pasien. Peningkatan perilaku pasien merupakan indikasi dari pemenuhan kebutuhan sebagai hasil yang diharapkan. 1. Perilaku Pasien Disiplin proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan perilaku pasien . seluruh perilaku pasien yang tidak sesuai dengan permasalahan dapat dianggap sebagai ekpresi yang membutuhkan pertolongan, ini sangat berarti pada pasien tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami. Orlando menekankan hal ini pada prinsip pertamanya dengan diketahuinya perilaku pasien , atau tidak diketahuinya yang seharusnya ada hal tersebut menunjukan pasien membutuhkan suatu bantuan.

20

Perilaku pasien dapat verbal dan non verbal. Inkonsistensi antara dua perilaku ini dapat dijadikan faktor kesiapan perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien. Perilaku verbal yang menunjukan perlunya pertolongan seperti keluhan, permintaan, pertanyaan, kebutuhan dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku nonverbal misalnya heart rate, edema, aktivitas motorik: senyum, berjalan, menghindar kontak mata dan lain sebagainya. Walaupun seluruh perilaku pasien dapat menjadi indikasi perlunya bantuan tetapi jika hal itu tidak dikomunikasikan dapat menimbulkan masalah dalam interaksi perawat-pasien. Tidak efektifnya perilaku pasien merupakan indikasi dalam memelihara hubungan perawat-pasien, ketidakakuratan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasien yang diperlukan perawat, atau reaksi negatif pasien terhadap tindakan perawat. Penyelesaian masalah tidak efektifnya perilaku pasien layak diprioritaskan. Reaksi dan tindakan perawat harus dirancang untuk menyelesaikan perilaku seperti halnya memenuhi kebutuhan yang emergenci 2. Reaksi Perawat Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat , reaksi ini terdiri dari 3 bagian yaitu pertama perawat merasakan melalui indranya, kedua yaitu perawat berfikir secara otomatis, dan ketiga adanya hasil pemikiran sebagai suatu yang dirasakan. Contoh perawat melihat pasien merintih, perawat berfikir bahwa pasien mengalami nyeri kemudian memberikan perhatian Persepsi, berfikir, dan merasakan terjadi secara otomatis dan hampir simultan. Oleh karena itu perawat harus belajar mengidentifikasi setiap bagian dari reaksinya. Hal ini akan membantu dalam menganalisis reaksi yang menentukan mengapa ia berespon demikian. Perawat harus dapat menggunakan reaksinya untuk tujuan membantu pasien. Displin proses keperawatan menentukan bagaimana perawat membagi reaksinya dengan pasien. Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan penggunaan dalam hal berbagi beberapa observasi dilakukan dan dieksporasi dengan pasien adalah penting untuk memastikan dan memenuhi kebutuhannya atau mengenal yang tidak dapat dipenuhi oleh pasien pada waktu itu . Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan perawat dalam mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu ; a. Perawat harus segera menemui pasien dan konsisten terhadap perilaku verbal dan nonverbalnya kepada pasien

21

b. Perawat harus dapat mengkomunikasikannya dengan jelas terhadap apa yang akan diekspresikannya c. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk perbaikan atau klarifikasi. 3. Tindakan Perawat Setelah memvalidasi dan memperbaiki reaksi perawat terhadap perilaku pasien, perawat dapat melengkapi proses disiplin dengan tindakan keperawatan, Orlando menyatakan bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh perawat dengan atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu tidakan profesional perawatan. Perawat harus menentukan tindakan yang sesuai untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien. Prinsip yang menjadi petunjuk tindakan menurut Orlando yaitu perawat harus mengawali dengan mengekplorasi untuk memastikan bagaimana mempengaruhi pasien melalui tindakan atau kata-katanya. Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu : tindakan otomatis dan tindakan terencana. Hanya tindakan terencana yang memenuhi fungsi profesional perawat. Sedangkan tindakan otomatis dilakukan bila kebutuhan pasien yang mendesak, misalnya tindakan pemberian obat atas intruksi medis. Dibawah ini merupakan kriteria tindakan keperawatan yang direncanakan: a. Tindakan merupakan hasil dari indetifikasi kebutuhan pasien dengan memvalidasi reaksi perawat terhadap perilaku pasien. b. Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk memenuhi kebituhan pasien. c. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara lengkap d. Perawat membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan

pasien ketika melakukan tindakan. Tindakan otomatis tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Beberapa contoh tindakan otomatis tindakan rutinitas, melaksanakan instruksi dokter, tindakan perlindungan kesehatan secara umum. Semua itu tidak membutuhkan validasi reaksi perawat 4. Fungsi profesional Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat perawat dalam

menyelesaikan fungsi profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak adekuatnya perawatan pasien. Perawat harus tetap menyadari bahwa aktivias termasuk profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan pasien. 22

Disiplin proses keperawatan adalah serangkaian tindakan dengan suatu perilaku pasien yang membutuhkan bantuan. Perawat harus bereaksi terhadap perilaku pasien dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan. Perawat membagi aspek reaksinya dengan pasien, meyakinkan bahwa tindakan verbal dan nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan mengidentifikasi reaksi sebagai dirinya sendiri, perawat mengunjungi pasien untuk memvalidasi reaksinya dan perawat membantu pasien dengan menggunakan proses yang sama agar komunikasi lebih efektif . Selanjutnya tindakan yang sesuai untuk menyelesaikan kebutuhan adalah saling menguntungkan antara pasien dan perawat. Setelah perawat bertindak , perawat segera katakan kepada pasien jika tindakannya berhasil . Secara keseluruhan interaksi , perawat meyakinkan bahwa perawat bebas terhadap stimulasi tambahan yang bertentangan dengan reaksinya terhadap pasien. E. Analisis Teori Orlando. a. Kejelasan (Clarity ) Pada buku pertamanya The dynamic Nurse patien relation ship function,process and principles of professional nursing practice (1961),Orlando memperkenalkan konsep dengan jelas.Ia secara konsisten menggunakan terminologi yang sama pada teorinya. Pada buku keduanya The Discipline and teaching of nursing prosess ; an evaluative study (1972) Ia menggambarkan kembali proses keperawatan yang berhati-hati adalah proses keperawatan yang disiplin. Yang lain selain perubahan ini,Orlando secara konsisten menggunakan kata yang sama untuk komponen prosesnya. Orlando menggambarkan konsep yang minimal pada mulanya dan kemudian

mengembangkannya di seluruh buku. Perkembangan dari teorinya mengharuskan pembaca untuk lebih familiar dengan kedua buku. Meskipun tulisannya jelas dan ringkas,beberapa kali pengulangan memudahkan pemahaman. b. Kesederhanaan ( simplicity ) Karena teori Orlando berhubungan dengan sedikit konsep dan hubungan antar masing-masing konsep,maka teorinya sederhana. Teorinya juga dapat dilihat secara sederhana, sebab ia dapat membuat beberapa pernyataan prediksi dan tidak hanya menggambarkan dan menjelaskan .kesederhanaan dari teori Orlando menguntungkan pada panggunaan penelitian. Walker dan Avant ( 1995) menggunakan teori Orlando sebagai satu contoh dari grand nursing teori ; meskipun tidak semua grand teori berada pada level abstrak yang 23

sama.mereka menetapkan bahwa grand nursing teory memberikan pandangan secara global,tetapi berdasarkan atas sifatnya yang umum dan keabstrakannya ,banyak dari grand teori tidak dapat diuji pada kondisi sekarang. Teori Orlando juga digambarkan memberikan sebagai praktis teori . praktis teori

kerangka kerja untuk menetapkan kapan menerapkan pedoman,

menggambarkan arti untuk digunakan, dan menetapkan tujuan yang akan digunakan untuk mengevaluasi hasil (George,1995). c. Keadaan Umum ( Generality ) Orlando mengilustrasikan kontak perawat pasien pada keadaan pasien sadar, dapat berkomunikasi dan memerlukan pertolongan. Meskipun tidak fokus pada pasien yang tidak sadar ataupun berkelompok .Aplikasi dari teorinya tetap dapat dikerjakan dengan mudah. Perilaku non verbal adalah unsur dari perumusannya ,oleh karena itu perawat dapat fokus pada hal ini untuk menentukan kebutuhan pasien dan

mengobservasi perubahan perilaku non verbal setelah tindakan perawatan. d. Ketepatan Empirik ( empirical Precision ) Pada buku Orlando yang kedua The discipline and Teaching of nursing process ; an evaluative study (1972), adalah laporan dari proyek penelitiannya untuk menguji ketepatan rumusan perawatannya. Program pelatihan ini berdasarkan rumusannya sudah berjalan selama 3 tahun sebelum proyek penelitian dimulai. Perawat dilatih untuk menggunakan proses keperawatan secara disiplin pada hubungan perawat pasien. Tujuan dari proyek adalah untuk mengevaluasi keefektifan disiplin proses perawatan pada kontak perawat di tempat kerja dan keefektifan program pelatihan, keefektifan ditentukan oleh ada atau tidak hasil yang bermanfaat , yang dinilai oleh 2 penilai dari luar yang dapat dipercaya .Penilai ini membandingkan antara perilaku awal dari subjek dengan perilaku akhirnya e. Konsekuensi untuk diturunkan ( Derivable Consequences) Teori Orlando tetap efektif dan efisien dalam mencapai hasil yang bernilai segera mengidentifikasi kebutuhan pasien dan kemampuan perawat untuk menentukan kebutuhan pasien adalah kemajuan dari praktek keperawatan. Keteraturan proses perawatan membuat perawat dapat melihat pasien dari sudut pandang keperawatan daripada orientasi penyakit medisnya. Menggunakan teori Orlando menguntungkan pasien, meningkatkan profesionalisme perawat dan memajukan profesi perawat. 24

F. Analisis Fenomena keperawatan Praktisi keperawatan dalam melaksanakan fungsinya perlu menerapkan teori atau model yang sesuai dengan situasi tertentu. Pada kondisi awal, kombinasi dari beberapa teori atau model dapat dipertimbangkan, tetapi jika dipergunakan secara konsisten dapat dilakukan analisa atau evaluasi terhadap efektivitasnya. Dengan menggunakan berbagai teori dan model keperawatan, maka fokus dan konsekuensi praktek keperawatan dapat berbeda.

25

Aplikasi Teori Ida Jean Orlando Nursing Procces Theory dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim

26