Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Krisis keuangan di Asia sejak pertengahan tahun 1997 diyakini disebabkan oleh beberapa faktor. Pemicu awal krisis ini ditandai oleh penurunan nilai mata uang regional terhadap Dollar AS sejak tahun 1995. Hal ini ditambah dengan adanya guncangan ekternal seperti penurunan nilai ekspor sejak tahun 1996 di wilayah Asia yang membawa kecemasan terhadap pembiayaan neraca transaksi

berjalan yang defisit yang mengarah pada akumulasi pinjaman jangka pendek dan penurunan nilai mata uang. Penambahan pinjaman jangka pendek oleh sektor swasta mulanya memang tidak mengkhawatirkan, mengingat nilai valas yang stabil dan

kemampuan ekspor yang baik, akan mampu membayar pinjaman

BAB I PENDAHULUAN

tersebut. Namun saat kegiatan perekonomian menurun dan krisis mata uang mulai tampak, terjadi penekanan kemampuan

pembayaran pinjaman oleh sektor swasta domestik. Sampai pada pertengahan dekade 1990, modal dan hutang internasional masuk dengan deras ke dalam negara-negara di Asia. Namun pengalokasian yang lebih banyak pada sektor non-

perdagangan dan beresiko tinggi, seperti properti dan pasar saham, membuat tingkat pengembalian oleh penghutang domestik lebih sulit untuk dilakukan saat terjadi penurunan kegiatan ekonomi dan melonjaknya suku bunga domestik. Tertekannya tingkat kemampuan pengembalian oleh

penghutang domestik terlihat dari menurunnya peringkat kredit oleh para pemeringkat kredit internasional. Tingkat krisis di kawasan Asean yang semakin memanas meningkatkan resiko dan merusak sentimen pasar maupun kepercayaan investor. Maka aliran modal yang masuk berubah menjadi penarikan modal besar-besaran (masive capital outflow) oleh para investor. Serangan spekulatif terhadap sejumlah mata uang Asia,

kerapuhan mekanisme pasar serta kerapuhan sistem perbankan merupakan pemicu dari krisis, namun mendalamnya efek penularan

BAB I PENDAHULUAN

(contagion effect) sangat menentukan aliran arus balik modal yang menjadikan kerawanan pada pasar finansial di Asia. Tekanan yang berawal dari currency turmoil yang melanda Thailand segera menyebar ke Indonesia dan negara Asean lainnya sehubungan dengan karakteristik perekonomian yang mirip1. Pada awalnya upaya menstabilkan mata uang dan menahan tekanan spekulatif di pasar uang dan bursa saham di beberapa negara anggota Asean, seperti Indonesia dan Malaysia, dilakukan dengan melakukan intervensi langsung di pasar valas, menaikan suku bunga dan menerapkan beberapa pembatasan aliran uang serta kontrol devisa2. Namun intervensi di pasar valas telah menyebabkan cadangan devisa negara habis karena ekspor yang sedang melemah tidak dapat dijadikan andalan sebagai sumber pemasukan devisa. Melemahnya nilai tukar domestik telah

memberikan dampak serius pada kegiatan ekonomi riil, khususnya usaha yang tergantung pada bahan baku impor dan pembiayaan non-rupiah. Sedangkan tindakan pemerintah untuk menaikkan

tingkat suku bunga guna menopang nilai mata uang menyebabkan

Soedradjad Djiwandono. 11 Agustus 1998. The Rupiah One Year After The Float. Pointers for an address to be delivered at a luncheon organized by The Indonesian Australian Business Council. 2 Bank Negara Malaysia. Juni 1998. Krisis Asia Timur Penyebab, Kebijakan Penanggulangan, Pelajaran dan Wawasan., Kertas Kerja Pertemuan G-15.

BAB I PENDAHULUAN

tekanan terhadap perekonomian khususnya di sektor riil dan akan dapat semakin menjatuhkan harga saham di bursa. Akhirnya pihak yang berwenang pada masing-masing negara anggota Asean berupaya mencari jalan lain untuk bisa mengatasi krisis finansial yang terjadi. Reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan sektor perbankan menjadi pilihan untuk mengatasi kelemahan di kedua sektor ini. Di Indonesia, Thailand, dan Malaysia tindakan ini diwujudkan dalam penutupan bank-bank dan lembaga keuangan yang insolven, sedangkan lembaga keuangan yang masih bisa bertahan diperbaiki melalui rekapitalisasi dan merger. Di Indonesia untuk mengamankan cadangan devisa yang terus berkurang maka terjadi perubahan sistem nilai tukar dengan menghapus rentang intervensi dan menganut sistem tukar mengambang bebas (flexible exchange rate). Upaya pemerintah di tiap negara Asia yang terkena krisis moneter lebih difokuskan pada empat bidang utama dimana dua diantaranya yaitu, bidang moneter, dengan melakukan kebijakan moneter ketat untuk mengurangi penurunan atau depresiasi nilai mata uang domestik yang berlebihan, serta bidang perbankan yang ditempuh dengan kebijakan perbaikan kelemahan sistem perbankan

BAB I PENDAHULUAN

untuk memperbaiki dampak krisis dan menghindari krisis di masa yang akan datang3. Krisis di Asia memperlihatkan fluktuasi pada nilai tukar

domestik, suku bunga dan harga saham di tiap negara anggota Asean. Devaluasi Bath Thailand pada pertengahan tahun 1997 telah diikuti oleh beberapa negara anggota Asean lain. Fluktuasi ini terus terjadi saat upaya perbaikan krisis dilakukan. Hal ini tidak hanya terjadi sebagai dampak dari faktor fundamental ekonomi tapi juga didukung oleh aksi spekulan valas. Tabel 1.1 memperlihatkan perubahan nilai tukar di lima negara Asean periode 1996 2003. Gambar 1.1 memperlihatkan

pergerakan pada indeks harga saham di lima negara Asean periode 1995 Januari 2004. Sedangkan tabel 1.2 memperlihatkan

perubahan tingkat suku bunga deposito 3 bulanan dalam rata-rata tiap tahun 5 negara Asean periode 1996 2003.

Tabel 1.1 Nilai Tukar Nominal Domestik Terhadap Dollar (USD) di Lima Negara Anggota Asean Periode 1996 2003
3

Sabirin, Syahril. 2000. Upaya Pemulihan Ekonomi Melalui Strategi Kebijakan Moneter-Perbankan dan Independensi Bank Indonesia. Publikasi Bank Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN

Tahu n 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

Indonesi a 2,342 2,909 10,014 7,855 8,422 10,250 9,318 8,575

Malaysi a 2.52 2.81 3.92 3.80 3.80 3.80 3.80 3.80

Filipin a 26.22 29.47 40.89 39.09 44.19 50.99 51.77 54.20

Singapu ra 1.41 1.48 1.67 1.69 1.72 1.79 1.79 1.74

Thailan d 25.32 31.32 41.31 37.79 40.11 44.43 42.96 41.51

Sumber: ASEAN Finance and Macroeconomic Surveillance Unit

Grafik 1.1 Indeks Harga Saham Gabungan di Lima Negara Asean Periode 1995 Januari 2004

Sumber : Statistik Pasar Modal Biro PIR Bapepam Keterangan : Indonesia : IHSG Singapura : STI Malaysia : KLSE Thailand Filipina :SETI : PSE

Tabel 1.2

BAB I PENDAHULUAN

Tingkat Suku Bunga Rata-Rata Deposito 3 Bulanan di Lima Negara Asean Periode 1996 2003 Negara Indonesia Malaysia Filipina Singapur a Thailand 199 6 17.0 3 7.21 9.73 3.41 9.75 199 7 23.9 2 9.06 12.5 0 4.10 11.5 199 9 12.9 5 3.33 7.18 1.68 3.75 200 0 13.2 4 3.47 12.0 9 1.70 3.00 200 1 17.2 4 3.21 8.83 1.10 2.25 200 2 13.6 3 3.20 3.80 0.78 1.75 2003 7.14 3.00 5.34 0.42 1.00

Sumber: ASEAN Finance and Macroeconomic Surveillance Unit

Setelah mengamati kondisi perekonomian di kawasan negara anggota Asean sebelum, selama dan setelah krisis, maka fluktuasi nilai tukar domestik, suku bunga dan harga saham merupakan salah satu hal yang menarik untuk dicermati. Krisis moneter di kawasan Asia diperlihatkan oleh fluktuasi yang tinggi pada ketiga indikator moneter tersebut. Maka timbul pertanyaan apakah pergerakan pada salah satu variabel diatas memiliki pengaruh pada masing-masing variabel lainnya. Terdapat banyak argumen berkaitan dengan pandangan diatas. Bahkan Granger (2000) menyatakan, hubungan antara variabel bisa

BAB I PENDAHULUAN

dua arah4. Misalnya Granger menyatakan, fluktuasi pada nilai tukar akan dapat mengarah pada pergerakan harga saham, hal ini disebut juga pendekatan tradisional (traditional approach).

Sebaliknya pergerakan bursa saham dapat menyebabkan aliran modal yang berakhir pada fluktuasi nilai tukar. Ini dikenal dengan pendekatan portfolio (portfolio approach). Disamping itu variabel suku bunga juga ikut mempengaruhi fluktuasi harga saham dan nilai tukar. Suku bunga deposito menjadi salah satu tolak ukur masyarakat dalam menanamkan modalnya. Pemilik modal akan mengalokasikan kekayaannya pada aset berdasarkan tingkat return dan resiko yang ada pada suatu aset. Suku bunga deposito menjadi hal yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan perekonomian khususnya sektor riil serta aliran modal di suatu negara. Maka berdasarkan uraian di atas dan perkembangan

perekonomian di lima negara anggota Asean dari sejak awal krisis hingga saat ini, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : PENGUJIAN KAUSALITAS GRANGER ANTARA NILAI TUKAR, SUKU BUNGA DEPOSITO DAN HARGA SAHAM DI LIMA
4

Hooi-Hooi et all. 2003. Bivariate Causality Between Exchange Rate and Stock Price On Major Asian Countries. Departement Of Economics National University Of Singapore.

BAB I PENDAHULUAN

NEGARA ASEAN SEBELUM DAN SESUDAH KRISIS MONETER PERIODE 1995.1 2004.6

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan deskripsi yang dituangkan di atas, maka

pembahasan skripsi ini akan dibatasi pada beberapa pokok permasalahan sebagai berikut: 1 Bagaimanakah pengaruh nilai tukar domestik terhadap Dollar (USD) pada indeks harga saham dan suku bunga deposito sebelum dan sesudah krisis di lima negara anggota Asean ? 2 Bagaimanakah pengaruh indeks harga saham pada nilai tukar domestik terhadap Dollar (USD) dan suku bunga deposito sebelum dan sesudah krisis di lima negara anggota Asean ? 3 Bagaimanakah pengaruh suku bunga deposito pada nilai tukar domestik terhadap Dollar (USD) dan indeks harga saham sebelum dan sesudah krisis di lima negara anggota Asean ?

BAB I PENDAHULUAN

10

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui pengaruh nilai tukar domestik

terhadap Dollar (USD) pada indeks harga saham dan suku bunga deposito sebelum dan setelah krisis di lima negara anggota Asean periode 1995.1 2004.6 2. Untuk mengetahui pengaruh indeks harga saham pada nilai tukar domestik terhadap Dollar (USD) dan suku bunga deposito sebelum dan sesudah krisis di lima negara anggota Asean periode 1995.1 2004.6. 3. Untuk mengetahui pengaruh suku bunga deposito pada nilai tukar domestik terhadap Dollar (USD) dan indeks harga saham sebelum dan sesudah krisis di lima negara anggota Asean periode 1995.1 2004.6.

1.4 Manfaat Penelitian

BAB I PENDAHULUAN

11

Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi dua aspek yaitu aspek praktis dan aspek akademis. 1. Kegunaan praktis, penelitian ini dapat menghasilkan

implikasi yang lebih bernilai untuk para pembuat kebijakan dalam memecahkan permasalahan perekonomian Indonesia dalam bidang makroekonomi berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar, suku bunga deposito dan harga saham 2. Kegunaan akademis, sebagai referensi bagi penelitian yang lebih lanjut dan mendalam serta dapat memacu motivasi kepada peneliti lainnya untuk melakukan penelitian sejenis dengan

menggunakan metode yang lain.

1.5 Kerangka Pemikiran 1.5.1 Nilai Tukar Nilai tukar adalah sejumlah mata uang asing yang bisa didapatkan dengan satu unit mata uang domestik. Dengan kata lain, nilai tukar menjelaskan daya beli mata uang domestik atas mata uang negara lain. Ketika terjadi kenaikan nilai mata uang domestik relatif terhadap mata uang negara lain maka dikatakan

BAB I PENDAHULUAN

12

mata uang domestik mengalami apresiasi, mata uang domestik kini dapat membeli lebih banyak mata uang lain. Sebaliknya, ketika mata uang domestik mengalami penurunan nilai relatif terhadap mata uang negara lain maka mata uang domestik dikatakan mengalami depresiasi, mata uang domestik kini hanya mampu membeli lebih sedikit mata uang negara lain. Berdasarkan definisi diatas maka nilai tukar mengacu pada harga relatif, sehingga nilai tukar seharusnya ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran relatif. Karena harga relatif melibatkan dua mata uang, maka nilai tukar seharusnya

berhubungan dengan permintaan dan penawaran dari kedua jenis mata uang tersebut.

1.5.2 Indeks Harga Saham Indeks harga saham mengukur kinerja keseluruhan dari saham yang masuk dalam indeks. Suatu indeks dapat digunakan dalam mengevaluasi bagaimana kinerja suatu saham atau reksa dana relatif terhadap saham lain yang ada dalam indeks.Total dari saham yang ada dalam indeks adalah seluruh saham yang

BAB I PENDAHULUAN

13

diperdagangkan,

atau

kelompok

saham

tertentu

berdasarkan

nilainya maupun jenis perusahaannya. Penghitungan indeks di bursa adalah indeks yang

menggunakan rata-rata tertimbang dari nilai pasar (market value weighted average index). Rumus dasar penghitungan adalah5:
Indeks = Nilai Pasar x100 Nilai Dasar

(1.1) Nilai pasar adalah kumulatif jumlah saham hari ini dikali harga pasar hari ini (kapitalisasi pasar), atau ditulis dengan formula: Nilai Pasar = ci ni .. .. (1.2)
i 1 N

Dimana:

c = Closing price (harga yang terjadi) untuk emiten ke-i. n = Jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks (jumlah saham yang tercatat) untuk emiten ke-i N = Jumlah emiten yang tercatat di bursa saham.

1.5.3 Suku Bunga Suku bunga merupakan pengembalian (return) dari

peminjaman saat ini dan biaya dari peminjaman saat ini. Atau suku bunga juga dapat diartikan sebagai pengembalian (return) dari pengeluaran di masa depan dan biaya dari pembayaran di masa depan. Lebih lanjut, tingkat suku bunga merepresentasikan time
5

PT Bursa Efek Jakarta. 2001. Panduan Pemodal Seri I : Investasi di Pasar Modal.

BAB I PENDAHULUAN

14

value of money dimana seseorang dapat menukarkan nilai beli (purchasing power) saat ini dengan nilai beli masa depan. Perubahan pada tingkat suku bunga dipengaruhi oleh perubahan pada permintaan dari dan/atau dana penawaran atas dana. Dimana dan

permintaan

dipengaruhi

oleh

pendapatan

produktifitas dari suatu investasi. Penawaran atas dana dipengaruhi oleh kelebihan dana pengeluaran (surplus spending unit) dari pihak rumah tangga, perusahaan, dan asing serta kebijakan pemerintah dalam ketersediaan cadangan pada lembaga keuangan. Hal-hal

yang mempengaruhi permintaan dan penawaran atas dana juga mempengaruhi pergerakan dari tingkat suku bunga. Pelaku ekonomi yang berniat untuk melakukan transaksi pinjam meminjam akan sangat memperhatikan tingkat suku bunga

nominal dan inflasi. Tingkat suku bunga nominal adalah tingkat bunga riil ditambah ekspektasi atas inflasi :
i = r + e

................................................................................

( 1.3) Maka tingkat suku bunga nominal akan selalu dipengaruhi oleh pergerakan inflasi. Sementara tingkat suku bunga riil adalah tingkat

BAB I PENDAHULUAN

15

bunga yang sudah disesuaikan dengan perubahan nilai beli atas uang (inflasi) 1.5.4 Teori Portfolio Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu aset, yakni6 : 1 Kekayaan (Wealth), jika kekayaan seseorang semakin meningkat maka ia memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk membeli aset. 2 Harapan Hasil (Expected Return), yakni harapan atas hasil yang didapatkan dari kepemilikan suatu aset. Pada saat seseorang menyimpan asetnya dalam mata uang domestik atau mata uang asing baik berupa giro, tabungan, deposito atau saham maka ia akan mempertimbangkan ekspektasi keuntungan yang bisa didapat dari mata uang domestik atau mata uang asing baik deposito atau saham. berupa giro, tabungan, ekspektasi terhadap

Apabila

melemahnya mata uang domestik semakin tinggi maka permintaan terhadap mata uang asing semakin meningkat.

Mishkin, Frederic. 2001. The Economics of Money Banking and Financial Market. Sixth Edition. Harper Collins.

BAB I PENDAHULUAN

16

Resiko

(Risk),

yaitu

tingkat

ketidakpastian

yang

dihubungkan dengan suatu aset relatif terhadap aset-aset lainnya.Biasanya aset yang memiliki tingkat resiko tinggi memiliki return yang cukup besar. Seorang risk averse akan cenderung menghindari kepemilikan aset yang

beresiko tinggi, sebaliknya seorang risk preferer akan cenderung memilih aset yang beresiko tinggi dengan return yang tinggi sebagai kompensasinya. 4 Likuiditas (Liquidity), yaitu seberapa cepat dan mudah suatu aset diubah dalam bentuk uang tunai (cash). Suatu aset akan semakin likuid jika memiliki banyak pembeli dan penjual serta biaya transaksi yang rendah. 1.5.5 Interest Parity Condition Salah satu hal yang mendasari fluktuasi mata uang adalah teori kesamaan tingkat bunga (interest parity theory). Teori paritas suku bunga mencerminkan terjadinya keseimbangan di pasar valuta asing. Pasar valas berada dalam keseimbangan jika deposito dari semua mata uang memberikan harapan hasil yang sama. Kondisi paritas suku bunga terbagi menjadi covered dan

uncovered. Perbedaan keduanya terletak pada risiko perubahan

BAB I PENDAHULUAN

17

nilai tukar yang dihadapi. Pada kasus uncovered paritas suku bunga, nilai tukar yang dipakai adalah nilai tukar yang

diekspektasikan, sedangkan untuk covered paritas suku bunga, yang dipakai adalah nilai tukar forward, yaitu nilai tukar yang disepakati untuk waktu yang akan datang. Nilai tukar forward bisa berbeda dari nilai yang diekspektasikan. Formulasi uncovered paritas suku bunga : i = i* + (EeRp/$ - ERp/$) / ERp/$
..........................

( 1.4)

Dari uraian diatas maka, arus dana dari suatu negara ke negara lain dipengaruhi oleh tingkat bunga yang berlaku. Adanya

perbedaan tarif bunga antar negara pada dasarnya memberi kesempatan untuk mengalirkan dana dari suatu mata uang tertentu ke mata uang yang lain. Oleh sebab itu, pergerakan arus dana antar dua mata uang dalam rangka mengambil manfaat dari adanya perbedaan tingkat bunga ditentukan oleh perbedaan kurs forward dan spot. Dalam pasar yang efisien tanpa adanya biaya transaksi, perbedaan tingkat bunga akan kurang lebih sama dengan perbedaan kurs spot dan forward. 1.5.6 Model Mundel Fleming7
7

Mankiw, Grgory. 2000. Teori Makroekonomi. Edisi empat. Erlangga. Jakarta

BAB I PENDAHULUAN

18

Model mundel Fleming merupakan model analisis permintaan agregat dengan asumsi perekonomian terbuka kecil dengan

mobilitas sempurna. Maka tingkat suku bunga domestik, r, harus sama dengan tingkat suku bunga dunia r*. Secara matematis : r = r* .......................... (1.5) Persamaan diatas menunjukan asumsi bahwa aliran modal internasional cukup memadai untuk mempertahankan tingkat bunga domestik sama dengan tingkat bunga dunia. Namun demikian, karena beberapa alasan tingkat suku bunga di berbagai negara di dunia berbeda. Ada dua hal yang dapat menyebabkan perbedaan tersebut, yaitu resiko negara dan perubahan yang diharapkan dalam kurs. Maka tingkat suku bunga dalam

perekonomian terbuka kecil ditentukan oleh tingkat bunga dunia r* ditambah premi resiko (): r = r* + ........................... (1.6) Implikasinya kehilangan adalah, ekpektasi depan bahwa mata uang akan uang

nilainya

dimasa

menyebabkan mata

tersebut kehilangan nilainya pada saat ini. Dalam jangka pendek,

BAB I PENDAHULUAN

19

biasanya resiko dalam suatu negara akan menyebabkan mata uang mengalami depresiasi.

1.6 Metode Penelitian 1.6.1 Ruang Lingkup Penelitian Analisis penelitian dibatasi pada pengaruh antar variabel. Variabel-variabel yang diteliti adalah variabel nilai tukar riil domestik terhadap Dollar (USD), indeks harga saham, dan suku bunga deposito riil. Penelitian ini dilakukan pada 5 (lima) negara anggota Asean yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Adapun data yang digunakan adalah data bulanan dengan periode penelitian 1995.1 2004.6. 1.6.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah data sekunder yang bersumber dari : International Financial Statistics dari IMF Indikator makroekonomi dari ASEAN Bursa Efek Jakarta

BAB I PENDAHULUAN

20

Berbagai sumber lainnya yang relevan seperti jurnal, internet, buletin, buku, artikel, surat kabar, majalah dan hasilhasil penelitian yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan. 1.6.3 Metode Analisis Penelitian pada skripsi ini menggunakan metode analisis deskriptif-kuantitatif. Metode analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan analisis tabel dan grafik, berdasarkan data sekunder yang diperoleh, sementara metode analisis kuantitatif dilakukan dengan membuat persamaan regresi model ekonometrika dengan metode time serries untuk menggambarkan ada atau tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

Program yang digunakan dalam pengolahan data adalah Excel dan Eviews 4.1. Metode pengujian dalam penelitian ini adalah pengujian

kausalitas Granger. Sebelumnya sangat dianjurkan melakukan pengujian-pengujian pengujian kausalitas awal pada data akan dengan lebih harapan hasil

Granger

dapat

dipercayai.

Pengujian-pengujian awal yang dianjurkan untuk dilakukan adalah

BAB I PENDAHULUAN

21

pengujian stasioneritas, pengujian kointegrasi, dan pendeteksian adanya gangguan autokorelasi. 1.6.3.1 Tes Stasioneritas Pengujian stasioneritas data yang akan dianalisis, dilakukan dengan menggunakan pengujian uji akar (unit root test). Uji stasioneritas penting untuk dilakukan karena jika data time serries yang diteliti tidak bersifat stasioner, maka regresi yang berkaitan dengan data time serries biasanya mengandung R 2 yang relatif

tinggi dan DW stat yang rendah. Dengan kata lain, kita menghadapi masalah spurious regression8. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut: Misalnya model time series memiliki bentuk seperti berikut: 1. Yt = Yt 1 + i Yt i + u t
i =1 m

(tanpa

intercept) .......................(1.7) 2. Yt = 1 + Yt 1 + i Yt i + u t
i =1 m

(dengan

intercept) .....................(1.8) 3. Yt = 1 + 2t + Yt 1 + i Yt i + t
i =1 m

(intercept

dan

trend

waktu)...(1.9)
8

Gujarati, Damodar. 2003. Basic Econometrics. Fourth Edition. Mcgraw Hill.pp 806-807

BAB I PENDAHULUAN

22

Dengan menggunakan tabel yang sesuai dengan salah satu model time series diatas maka hipotesa yang akan diuji : Ho : 0 , model tersebut tidak stasioner H 1 : < 0 , model tersebut stasioner Null hypothesis yang menyatakan tidak adanya sifat stasioner dalam model akan ditolak, apabila nilai t-statistik yang diperoleh berkaitan dengan koefisien regresi model ini lebih kecil dari nilai ttabel pada tingkat signifikan tertentu. 1.6.3.2 Tes Kointegrasi Teori kointegrasi telah dikembangkan oleh Engel dan Granger. Tes ini penting untuk menghindari masalah spurious regresion. Jika suatu variabel tidak stasioner, variabel tersebut masih dapat diregres dengan catatan terkointegrasi. Adapun pengujian

kointegrasi menyangkut elemen residual dari suatu model regresi sehingga variabel-variabel dalam suatu model dinyatakan punya hubungan jangka panjang. Misalnya dalam model regresi berikut :
DR t = 0 + 1 ER t + 2 SP + u t

...........

(1.10)

BAB I PENDAHULUAN

23

Melalui pengujian Dicky-Fuller akan ditemukan bahwa ER dan SP yang merupakan variabel random walk, bersifat non stasionary. Dengan ini, model diatas yang disebut model regresi kointegrasi ditaksir dengan prosedur regresi biasa kemudian diuji apakah elemen residualnya yaitu u t bersifat stasioner:
u t = 1u t 1 ...........................................................................

(1.11) ER dan SP saling berkointegrasi (cointegrated) apabila elemen residual dari model regresi kointegrasi bersifat stasioner. 1.6.3.3 Tes Autokorelasi Tes yang digunakan untuk menguji ada atau tidaknya

autokorelasi pada penelitian ini adalah Breusch-Godfrey (BG) test atau sering juga disebut Lagrange Multiplier (LM) test. Tes ini merupakan salah satu tes autokorelasi yang bisa dilakukan pada regresi dimana terdapat lag dari dependen variabel sebagai variabel independen dan lebih direkomendasikan untuk jumlah observasi yang cukup besar9. Disamping itu LM test dapat

dilakukan pada derajat aurokorelasi lebih dari nol. Misalnya AR (1), AR(2) dan seterusnya.
9

Gujarati, Damodar.2003. Basic Econometrics. Fourth Edition. Mcgraw Hill.p 681.

BAB I PENDAHULUAN

24

Misalnya dari persamaan 1.10 diasumsikan bahwa residualnya mengikuti autokorelasi derajat 2 atau AR(2) :
u t = 1u t 1 + 2 u t 2 + t ..........................................................

(1.12) Maka residual dari persamaan (1.10) diregres terhadap semua variabel independen lainnya serta nilai lag dari residual pada persamaan (1.12) sebagai regresor tambahan dalam model :
u t = 1 + 2 ER t + SPt + 1u t 1 + 2 u t 2 + t ................................ (1.13)

Null hypothesis pada LM test diatas adalah Ho = 1 = 2 = 0 atau tidak terdapat autokorelasi pada derajat 2. Penentuan ditolak atau tidaknya Null hypothesis mengikuti tabel chi square dengan sebagai derajat kebebasannya. Jika nilai ( n ) R 2 yang didapat dari persamaan (1.13) lebih besar dari nilai chi square maka null hypothesis ditolak, dengan kata lain terdapat masalah autokorelasi. 1.6.3.4 Tes Kausalitas Granger Tes kausalitas Granger digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang secara teori memiliki hubungan. Prinsip dasar dari pengujian Granger pada penelitian ini adalah untuk membantu menjelaskan hubungan antara SP (harga saham Stock

BAB I PENDAHULUAN

25

Price), ER (nilai tukar Exchange Rate), DR (suku bunga depositoDeposit Interest Rate). Jika dalam suatu penelitian diketahui tiga variabel SP, ER, dan DR maka akan ditentukan apakah : Antara variabel SP dan ER (1) variabel SP ditentukan oleh variabel ER, (2) variabel ER ditentukan oleh variabel SP, (3) terdapat hubungan dua arah antara variabel SP dan ER, atau (4) kedua variabel tersebut saling independen. Antara variabel SP dan DR (1) variabel SP ditentukan oleh variabel DR, (2) variabel DR ditentukan oleh variabel SP, (3) terdapat hubungan dua arah antara variabel SP dan DR, atau (4) kedua variabel tersebut saling independen Antara variabel ER dan DR (1) variabel ER ditentukan oleh variabel DR,

BAB I PENDAHULUAN

26

(2) variabel DR ditentukan oleh variabel ER, (3) terdapat hubungan dua arah antara variabel ER dan DR, atau (4) kedua variabel tersebut saling independen Dalam penggunaan metode Granger, dibentuk dua model regresi atas dua perangkat data time series, yaitu : Pengujian kausalitas Granger antara SP dan ER Apakah ER mempengaruhi SP : SP z ( 1.14) Apakah SP mempengaruhi ER :
ER z t = o + t ER z t i + j SP z t j + vt ......
i =1 j =1 r s

= 0 +

i SP z t i + i ER j Y z t j + u i
i =1 j =1

(1.15) Pengujian kausalitas Granger antara SP dan DR

Apakah DR mempengaruhi SP :

BAB I PENDAHULUAN

27

SP 1.16)

= 0 +

i SP z t i + i DR j Y z t j + u i .. (
i =1 j =1

Apakah SP mempengaruhi DR :
DR z t = o + t DR z t i + j SP z t j + vt .....
i =1 j =1 r s

(1.17) Pengujian kausalitas Granger antara ER dan DR Apakah DR mempengaruhi ER :


ER z t = o + t ER z t i + i DR z t j + vt .. (1.18)
i =1 j =1 r s

Apakah ER mempengaruhi DR :
DR z t = o + t DR z t i + j ER z t j + vt ... (1.19)
i =1 j =1 r s

Dimana : SP z ER z DR z z SP z t 1 : Indeks harga saham negara z periode sebelumnya


t

: Indeks harga saham (Stock Price) negara z : Nilai tukar nominal (Exchange Rate) negara z : Suku bunga deposito riil (Deposit Interest Rate)negara

BAB I PENDAHULUAN

28

ER z t 1

: Nilai tukar nominal negara z periode sebelumnya

DR z t 1 : Suku bunga deposito riil negara z periode sebelumnya u t dan v t : error terms ; m = n = r = s dan tidak saling berkorelasi z : 1,2,3,4,5 (lima negara anggota Asean, 1 = Indonesia, 2 = Malaysia, 3 =Singapura, 4 =Filipina, 5 = Thailand) Dalam melakukan pengujian adanya hubungan kausalitas antara kedua variabel tersebut dikenal dua macam metode yaitu : 1. Melihat koefisien-koefisian regresi secara keseluruhan model regresi linier dan menguji t stat yang didapat. Misalnya pada

persaman (1.14) dan (1.15) terbagi atas kondisi : a) Kausalitas satu arah dari SP t ke ER t

terjadi jika

j = 0 dan
j =1

j =1

b) Tidak ada hubungan antara ER t ke SP t

0 terjadi jika j = dan


j= 1

j =1

=0

c) Kausalitas satu arah dari ER t ke SP t

BAB I PENDAHULUAN

29

terjadi jika j 0 dan


j =1

j =1

=0

d) Kausalitas dua arah antara ER t dan SP t

terjadi jika

j 0 dan
j =1

j =1

Langkah pengujian : Persamaan model Granger diregresi sehingga memperoleh nilai t


sta t

dari variabel independennya. t stat

yang diperoleh dibandingkan

dengan nilai t tabel . Ho = Variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen H 1 = Variabel independen mempengaruhi variabel dependen Kondisi Ho ditolak jika t stat > t tabel 2. Menggunakan dua model . regresi yaitu regresi tanpa

pembatasan (unrestriction regresion) dan regresi dengan pembatasan (resticted regresion). Model persamaaan tanpa pembatasan
Er z t = o + t ER z t i + j SP z t j + vt . (1.20)
i =1 j =1 r s

BAB I PENDAHULUAN

30

Model dengan pembatasan Er z t = o + t ER z t i + vt ..... (1.21)


i =1 r

Langkah pengujian : Regresikan masing-masing model sehingga mendapatkan 2 macam nilai residual sum of square (RSS) yaitu RSS R dan RSS U . R Dalam pengujian Granger dengan menggunakan pembatasan kita perlu mengacu pada definisi kausalitas Granger. Menurut Granger apabila terdapat dua variabel yaitu Xt dan Yt maka variabel Xt dikatakan mempengaruhi Yt jika nilai Yt dapat diduga lebih baik apabila seluruh informasi pada periode yang lalu (t-i) di dalam semesta digunakan untuk memprediksi Yt, daripada nilai X

dikeluarkan dari semesta. Berdasarkan definisi tersebut maka untuk menyatakan SP mempengaruhi ER, varian dari model regresi tanpa pembatasan haruslah lebih kecil dari varian dari model regresi dengan

pembatasan. Hal ini diperlukan pada uji F untuk mengetahui apakah nilai dari model regresi dengan pembatasan dinyatakan dengan nilai yang signifikan. Menghitung F uji :

BAB I PENDAHULUAN

31

F=

(RSS R - RSS U ) /m R

RSS U / n-k ......................................................... (1.22) R Dimana :

m = jumlah lag yang digunakan dalam model n = jumlah observasi k = jumlah parameter dalam regesi unrestricted. Dengan uji F kemudian melakukan pengujian apakah secara keseluruhan nilai-nilai yaitu parameter-parameter yang berkaitan dengan SP secara signifikan tidak sama dengan nol. Hasil pengujian :

Ho :

j =1 s

= 0 , maka SP tidak mempengaruhi ER

H1 =

j =1

0 , maka SP mempengaruhi ER

Ho diterima jika F stat < F tabel . Berarti SP tidak mempengaruhi ER dan sebaliknya prosedur pengujian yang sama dapat dilakukan untuk menguji hipotesis nol yang lain yaitu ER tidak mempengaruhi SP. Hal ini juga berlaku untuk persamaan lain pada penelitian ini. Dalam pengujian kausalitas Granger ini sangat dianjurkan melakukan pengujian-pengujian awal pada data dengan harapan hasil pengujian kausalitas Granger akan lebih dapat dipercayai. Pengujian-pengujian awal yang dianjurkan untuk dilakukan adalah

BAB I PENDAHULUAN

32

pengujian stasioneritas, pengujian kointegrasi, dan pendeteksian adanya gangguan autokorelasi. Untuk lebih jelasnya bagan alur proses penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 13. 1.6.4 Spesifikasi Data

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa data-data yang menjadi objek penelitian adalah sebagai berikut : Nilai tukar terhadap Dollar (USD) Nilai tukar yang digunakan adalah nilai tukar riil domestik terhadap Dollar US yang berasal dari lima negara anggota Asean; Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina untuk periode 1995.1 2004.6. Nilai ini didapat dengan mengalikan nilai tukar nominal dengan rasio antara tingkat harga agregat luar negeri terhadap tingkat harga agregat dalam negeri. Tingkat harga agregat diproksi dengan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI). Baik data nilai tukar nominal dan CPI didapat dari International Financial Statistics dari IMF dengan tahun 2000 sebagai tahun dasar. Suku Bunga Deposito riil

BAB I PENDAHULUAN

33

Tingkat suku bunga deposito yang digunakan adalah tingkat suku bunga deposito riil dari 5 negara anggota Asean ; Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina untuk periode 1995.1 2004.6. Nilai ini didapat dengan mengurangi tingkat suku bunga nominal deposito dengan tingkat inflasi yang terjadi pada masingmasing negara anggota Asean yang diteliti. Inflasi diproksi dengan CPI. Baik suku bunga nominal dan CPI didapat dari data sekunder International Financial Statistics dari IMF dengan tahun 2000 sebagai tahun dasar. Di Indonesia, Singapura, dan Filipina tingkat suku bunga deposito yang digunakan adalah suku bunga deposito rata-rata mengambang tiga bulanan, di Malaysia menggunakan tingkat suku bunga deposito rata-rata tiga bulanan yang telah ditetapkan. Sedangkan di Thailand menggunakan tingkat suku bunga deposito rata-rata perbankan domestik. Perbedaan tingkat suku bunga deposito yang digunakan disebabkan keterbatasan data yang tersedia. Tingkat suku bunga lainnya tidak lengkap dimiliki oleh masing-masing negara. 1.6.4.3 Indeks harga saham Indeks harga saham yang digunakan adalah nilai indeks ratarata tiap bulan yang diambil dari data harian dan berasal dari JSX

BAB I PENDAHULUAN

34

untuk indonesia, KLSE untuk Malaysia, SGX untuk Singapura, PSE untuk Filipina, dan SET untuk Thailand pada periode 1995.1 2004.