Anda di halaman 1dari 19

II.

Analisis Aspek Teknis dan Teknologis

Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun (Husnan dan Suwarsono, 1984 dalam Indrawati, 2006). Aspek teknis dan teknologis berhubungan dengan input (penyediaan) dan out put (produksi) berupa barang dan jasa. Hasil analisis aspek teknis dan teknologis merupakan suatu simpulan apakah usulan proyek dapat diterapkan secara teknis, serta efektif secara teknologi. Jika secara operasional berada pada kondisi yang logis dan menguntungkan maka rencana pendirian industri tersebut layak ditinjau dari aspek teknis dan teknologis. Sebelum melakukan menganalisis aspek teknis dan teknologis dari studi kelayakan pendirian industri kapsul ini, perlu disebutkan bahwa bahan baku yang digunakan adalah singkong, tepung terigu, dan kardus sebagai pengemas.

1.

Ketersediaan Bahan Baku Mie adalah salah satu produk makanan yang di gemari oleh berbagai

masyarakat mulai dari masyarakat perkotaan sampai masyarakat pedesaan. Hal ini disebabkan tidak hanya oleh karena rasanya yang cukup enak, tetapi juga cara penyajiannya yang praktis dalam waktu singkat. Makanan mi dapat disajikan dalam berbagai bentuk masakan yang di jual mulai dari pinggir jalan dalam bentuk jajanan sampai ke restauran mewah. Ketersediaan bahan baku menjadi syarat penting dalam menjamin keberlangsungan produksi. Perusahaan yang akan didirikan di kabupaten Banyumas merupakan perusahaan perintis sehingga penyediaan bahan baku menjadi hal penting yang dikaji dalam aspek ini. Ketersediaan bahan baku yang baik akan dapat menjaga keseimbangan proses produksi suatu industri. Selain itu kajian bahan baku dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana peluang ketersediaan bahan baku di masa yang akan datang.

Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan semua jenis mi adalah tepung terigu, air, dan garam. Karena masih diimpor dan harganya mahal, tepung terigu dapat dicampur dengan tapioka, tepung sagu, tepung ubi jalar dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian, maka tepung terigu dapat diganti dengan tepung lain sampai 40%. Misalnya tepung yang dipakai 1 kg,, maka jumlah terigu yang digunakan 600 gram dan tepung lainnya 400 gram. Maka dari itu Mie REANG mengunakan bahan dasar tepung singkong sebagai bahan dasarnya selain tepung terigu agar lebih menghemat biaya pembuatan mie. Ketersediaan bahan baku industri Mie REANG dikaji berdasarkan potensi perkebunan singkong milik rakyat di desa suro, hal ini berkaitan dengan perencanaan awal pendirian industri Mie REANG menggunakan bahan baku singkong dari perkebunan milik rakyat.

2.

Rencana Kapasitas Produksi Kapasitas produksi adalah jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk

mencapai keuntungan yang optimal, sedangkan kapasitas adalah kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu, dan biasanya dinyatakan dalam bentuk keluaran (out put) per satuan waktu (Husnan dan Suwarsono, 1984 dalam Indrawati, 2006). Kapasitas produksi industri Mie REANG dipengaruhi oleh permintaan pasar dan ketersediaan bahan baku untuk pembuatan Mie. Faktor yang mempengaruhi perencanaan kapasitas produksi pada pabrik pengolahan Mie REANG ini adalah ketersediaan bahan baku, selain ketersedian bahan baku masih ada faktor-faktor yang harus di perhatikan dalam pembuatan produk ini yaitu, ketersediaan modal, teknologi mesin dan alat pengolahan, serta nilai ekonomis usaha.

Dengan memperhitungkan analisis aspek pemasaran yang telah dilakukan, ketersediaan teknologi dan bahan baku, maka kapasitas produksi yang direncanakan yaitu sebanyak

3.

Penentuan Lokasi Penentuan lokasi bagi industri pengolahan Mie REANG menjadi faktor

penting karena kaitannya dengan kedudukan perusahaan dalam persaingan dan menentukan hidup perusahaan. Tujuan penentuan lokasi suatu perusahaan atau pabrik dengan tepat ialah untuk dapat membantu perusahaan beroperasi atau berproduksi dengan lancar, efektif, dan efisien. Ini berarti bahwa dalam menentukan lokasi perusahaan atau pabrik perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya biaya produksi dan biaya distribusi dari barang yang dihasilkan sehingga biaya-biaya ini dapat menjadi serendah mungkin. Husnan dan Suwarsono (1984 dalam Indrawati, 2006) mengatakan bahwa beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi proyek yaitu ketersediaan bahan mentah, letak pasar yang dituju, tenaga air dan listrik, supply bahan baku, tenaga kerja, dan fasilitas transportasi. Penentuan lokasi dan beberapa alternatif lokasi yang tersedia dengan menggunakan metode Delphi didasarkan pada pertimbangan yang meliputi ketersediaan bahan baku, pasokan tenaga kerja, fasilitas transportasi, tenaga listrik dan air, serta letak pasar yang akan dituju. Pembobotan dilakukan dengan nilai yang paling tinggi diasumsikan sebagai biaya yang termurah. Penulis memberi bobot tertinggi pada faktor ketersediaan bahan baku (a) yaitu sebesar 40 % (empat puluh persen) karena faktor ini merupakan penentu jalannya operasional produksi. Bobot tertinggi kedua adalah tenaga kerja (b) yaitu 30 % (tiga puluh persen) faktor ini penting karena sebagai faktor penunjang kelancaran operasional produksi. Faktor lain yaitu fasilitas transportasi (c) diberi

bobot 10 %, tenaga listrik dan air (d) 15 %, dan letak pasar yang dituju (e) sebesar 5%. Pemberian bobot nilai antara 10-100. Nilai tertinggi mewakilkan harga terendah. Alternatif lokasi pendirian pabrik pengolahan mie REANG yang dipilih yaitu 1) Sokaraja, 2) Gandrungmangu, 3) Wanareja 4) Dayehluhur, dan 5)

Cimanggu. Pemilihan loksi ini didasarkan pada ketersediaan bahan baku yang menjadi prioritas utama, dimana kelima lokasi ini merupakan daerah penghasil tepung dan singkong terbesar di Kabupaten Banyumas.

Matrik keputusan lokasi pabrik terdapat pada tabel berikut;

Tabel 1. Matriks keputusan lokasi pabrik Kriteria Bobot Alternatif Sokaraja a b 30 % 27 90 15 50 21 70 18 60 22,5 75 C 10 % 5 50 7,5 75 9 90 6 60 7 70 d 15 % 7,5 50 9 60 13,5 90 11,25 75 10,5 70 E 5% 2,5 50 3,5 70 3,75 75 3 60 4,5 90 Total 100 % 78 65 75,25 62,25 64,5

40 % 36 90 Gandrungmangu 30 75 28 Wanareja 70 24 Dayehluhur 60 20 Cimanggu 50

Berdasarkan total prosentase yang diperoleh pada tabel 1, maka dapat ditentukan bahwa lokasi pendirian pabrik adalah di Kecamatan Sokaraja dengan total 78 %.

4.

Teknologi Proses Produksi

Menurut Husnan dan Suwarsono (1984 dalam Indrawati, 2006) menyatakan bahwa patokan umum yang digunakan dalam pemilihan jenis teknologi adalah seberapa jauh derajat mekanisasi yang diinginkan dan manfaat ekonomi yang diharapkan, di samping kriteria yang lain yakni : a. Ketepatan jenis teknologi yang dipilih dengan bahan mentah yang digunakan. b. Keberhasilan penggunaan jenis teknologi tersebut ditempat lain yang memiliki ciri-ciri yang mendekati dengan lokasi proyek. c. Kemampuan pengetahuan penduduk (tenaga kerja) setempat dan kemungkinan pengembangannya, juga kemungkinan penggunaan tenaga kerja asing. d. Pertimbangan kemungkinan adanya teknologi lanjutan sebagai salinan teknologi yang akan dipilih sebagai akibat keusangan. Mie Instan adalah mie yang telah mengalami proses gelatinisasi, sehingga untuk menghidangkannya cukup dengan di rebus dengan air mendidih, Mie instan biasanya mengacu pada produk-produk yang dikukus dan digoreng dalam minyak (stemed & deep fried) (Kim,1996) Mie instan juga dikenal dengan nama ramen. Mie ini dibuat dengan penambahan beberapa proses setelah menjadi mie segar. Tahap-tahap tersebut yaitu pengukusan, pembentukan dan pengeringan. Kadar air mie instan umunya mencapai 5-8% sehingga memiliki daya simpan yang relatif lama (Astawan,2003). Cara pembuatan Mie meliputi beberapa tahapan yaitu mie terdiri dari tahap pencampuran, roll press (pembentukan lembaran), pembentukan mie, pengukusan, penggorengan, pendinginan serta pengemasan. Selain itu juga ada brberapa proses lain yaitu sebagai berikut : 1. Mixing Tahap pencampuran bertujuan agar hidrasi tepung dengan air berlangsung secara merata dan menarik serat-serat gluten. Untuk mendapatkan adonan yang baik harus diperhatikan jumlah penambahan air (28 38 %), waktu pengadukan (15-25 menit), dan suhu adonan (24-40 oC)

2. Pelempengan/pemipihan Proses roll press (pembentukan lembaran) bertujuan untuk menghaluskan serat-serat gluten dan membuat lembaran adonan. Pasta yang dipress sebaiknya tidak bersuhu rendah yaitu kurang dari 25 oC, karena pada suhu tersebut menyebabkan lembaran pasta pecah-pecah dan kasar. Mutu lembaran pasta yang demikian akan menghasilkan mie yang mudah patah. Tebal akhir pasta sekitar 1,2 2 mm. 3. Pencetakkan Di akhir proses pembentukan lembaran, lembar adonan yang tipis dipotong memenjang selebar 1 2 mm dengan rool pemotong mie, dan selanjutnya dipotong melintang pada panjang tertentu, sehingga dalam keadaan kering menghasilkan berat standar. 4. Pengukusan Setelah pembentukan mie dilakukan proses pengukusan. Pada proses ini terjadi gelatinisasi pati dan koagulasi gluten sehingga dengan terjadinya dehidrasi air dari gluten akan menyebabkan timbulnya kekenyalan mie. Hal ini disebabkan oleh putusnya ikatan hidrogen, sehingga rantai ikatan kompleks pati dan gluten lebih rapat. Pada waktu sebelum dikukus, ikatan bersifat lunak dan fleksibel, tetapi setelah dikukus menjadi keras dan kuat. 5. Penggorengan Pada proses selanjutnya, mie digoreng dengan minyak pada suhu 140 150oC selama 60 sampai 120 detik. Tujuannya agar terjadi dehidrasi lebih sempurna sehingga kadar airnya menjadi 3 5 %. Suhu minyak yang tinggi menyebabkan air menguap dengan cepat dan menghasilkan pori-pori halus pada permukaan mie, sehingga waktu rehidrasi dipersingkat. Teknik tersebut biasa dipakai dalam pembuatan mie instan. 6. Pendinginan Setelah digoreng, mie ditiriskan dengan cepat hingga suhu 40 oC dengan kipas angin yang kuat pada ban berjalan. Proses tersebut bertujuan agar minyak memadat dan menempel pada mie. Selain itu juga membuat tekstur mie menjadi keras. Pendinginan harus dilakukan sempurna, karena jika uap air berkondensasi akan menyebabkan tumbuhnya jamur. Pengeringan dapat juga dilakukan menggunakan oven bersuhu 60 oC sebagai pengganti proses penggorengan, dan mie yang diproduksi dikemas dengan plastik. 5. Mesin dan Peralatan

Alat dan mesin pada industri ini terdiri dari Mesin Pembuat/Pencetak Mie, Mesin roll presser, Mesin pengukus, mesin penggoreng, refrigerator, dan alat pengemas. Masing-masnig unit memiliki peralatan pendukung yang dapat mendukung kerja dari operator maupun mesin. Seluruh mesin dan peralatan pendukung disesuaikan dengan kapasitas produksi dan pemilihan jenis teknologi. 6. Pengawasan Mutu Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan terhadap pangan yang dikonsumsi, maka mengkonsumsi pangan yang aman merupakan hal yang harus diperhatikan oleh produsen dan konsumen. Keamanan pangan digambarkan dalam UU Pangan No. 7 tahun 1996 sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain (fisik) yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Pengujian pangan selalu menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari sistem keamanan pangan. Pengujian di tingkat industri dilakukan untuk memantau mutu dan keamanan produk yang memenuhi spesifikasi tertentu. Pengujian pangan pada skala nasional dilakukan dalam rangka surveilan, investigasi keracunan atau adanya kasus epidemi. Dalam perkembangan saat ini, pengujian pangan di tingkat industri tidak hanya dilakukan untuk menguji keberterimaan suatu lot produk tetapi juga untuk mendapatkan data baseline (misalnya mengenai mutu bahan baku dan mutu pangan produk akhir), memonitor lingkungan dan pemenuhan kriteria pangan yang diterapkan. Untuk membuktikan bahwa produk pangan yang dihasilkan oleh produsen aman dikonsumsi maka perlu dilakukan pengujian oleh suatu laboratorium. Suatu laboratorium yang berkompeten dapat menyediakan jasa pelayanan pengujian yang lengkap, meliputi pengujian parameter fisika, kimia dan mikrobiologi.

Mutu hasil produksi memegang peranan yang penting dalam dunia perdagangan karena disamping menunjukkan daya terima dapat juga menunjukkan gambaran citra produk dari perusahaan di masyarakat. Oleh karena itu diperlukan pengawasan mutu yang ketat. Adapun untuk mencapai hal tersebut, dilakukan manajemen mutu produk meliputi pengawasan mutu bahan baku dan pengawasan mutu proses produksi. Pada perusahaan yang akan didirikan ini, mutu produk yang dihasilkan memiliki dua aspek yaitu; a. Ciri-ciri produk yang memenuhi permintaan pelanggan. Mutu yang lebih tinggi memungkinkan produsen Mie REANG meningkatkan kepuasan pelanggan, membuat produk laku terjual, dapat bersaing, meningkatkan pangsa pasar dan volume penjualan, serta dapat dijual dengan harga lebih tinggi. b. Bebas kekurangan Mutu yang tinggi menyebabkan produsen Mie REANG dapat mengurangi tingkat kesalahan, mengurangi pengerjaan kembali dan pemborosan, mengurangi biaya garansi, mengurangi ketidakpuasan pelanggan, mengurangi inspeksi dalam pengujian, memperpendek waktu pengiriman produk ke pasar, meningkatkan hasil dan kapasitas, dan memperbaiki kinerja penyampaian produk atau jasa. Pengawasan mutu erat kaitannya dengan sistem pengolahan yang melibatkan bahan baku, proses pengolahan, penyimpangan yang terjadi, dan hasil akhir. Karenanya, pada setiap ruangan produksi disediakan tempat untuk pengujian mutu bahan baku, proses, dan produk. Sistem yang akan diterapkan adalah teknik pengendalian mutu statistik. Teknik analisa data yang digunakan dalam aplikasi teknik pengendalian mutu statistik dengan menggunakaan histogram dan bagan kendali, sedangkan dalam mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh pada mutu produk virgin coconut oil kapsul digunakan diagram sebab akibat dan untuk mencari solusi dari masalah yang ditemukan menggunakan metode brainstorming.

Pengisian check sheet untuk parameter mutu

Histogram

Bagan Kendali

Fishbone diagram (diagram sebab akibat)

Brainstorming

Evaluasi hasil dan perbaikan proses Gambar 2. Diagram alir proses data bagian pengawasan mutu Pengawasan mutu dilakukan dengan cara memeriksa kandungan produk akhir pada laboratorium yang berkompeten. Pengujian ini dilakukan setiap satu bulan sekali untuk menjamin mutu dari produk yang akan dipasarkan.

7.

Penentuan Kebutuhan Ruangan Pabrik Kebutuhan ruang pada industri dapat digolongkan menjadi dua kelompok

besar menurut kegunaan yaitu ruang produksi dan non produksi. Ruang produksi adalah ruangan yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan proses produksi dari awal (diterimanya bahan baku) sampai akhir (produk). Ruangan non produksi yaitu ruangan selain ruangan produksi yang digunakan untuk mendukung proses produksi. Kebutuhan ruang untuk proses produksi dan peralatan pada industri pengolahan virgin coconut oil kapsul sebagian besar digunakan sebagai ruang produksi. Bangunan produksi yang dibutuhkan memiliki kriteria antara lain cukup luas, mudah dibersihkan, ventilasi dan penerangan cukup, tersedianya perlengkapan P3K dan kamar mandi. Pada ruang produksi, lantai dibuat dari bahan yang kuat, rata dan kedap air misalnya keramik. Dinding ruang produksi dibuat dari bahan yang kuat, rata, halus, mudah dibersihkan dan berwarna terang. Langit-langit ruang dibuat cukup tinggi dan didesain dengan baik sehingga tidak terjadi penumpukkan debu, bersarangnya hama, dan mudah dibersihkan (Suryani dkk, 2005 dalam Indrawati, 2006). (1) Ruang Produksi Pada industri virgin coconut oil kapsul ini, ruang produksi yang dibutuhkan beserta fungsinya yaitu; (1)Ruang sortasi bahan baku, berfungsi sebagai tempat penerimaan bahan baku. Sortasi bertujuan untuk menyeleksi kelayakan dari bahan baku untuk proses selanjutnya (penyaringan). (2)Ruang penyimpanan bahan baku, berfungsi untuk menampung bahan baku bila stok bahan baku berlebih. (3)Ruang mixing. Ruangan ini merupakan tempat berlangsungnya proses pencampuran tepung dan air untuk mendapatkan adonan. (4)Ruang press. Ruangan ini berfungsi sebagai melempengkan dan meratakan adonan.

(5)Ruang percetakan mie. Merupakan ruangan tempat alat pencetakan mie. Ruangan ini berdekatan dengan ruang mixing dan press dengan tujuan untuk memudahkan aliran bahan. (6)Ruang pengukusan mie. Dalam ruangan ini mie yang telah dicetak adonannya dikukus . Ruangan ini letaknya berdekatan dengan ruang penggorengan dengan tujuan memudahkan aliran bahannya. (7)Ruang penggorengan. Merupakan ruangan yang dipakai untuk menggoreng adonan mie yang telah dikukus. (8)Ruang pendinginan. Dalam ruangan ini mie ditiriskan dengan cepat hingga suhu 40 oC dengan kipas angin yang kuat pada ban berjalan (9)Ruang penyimpanan produk akhir. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan produk yang sudah dikemas dalam kemasan siap jual. Menurut Apple (1990 dalam Indrawati, 2006), kebutuhan ruang yang digunakan untuk ruangan proses produksi ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut; Kebutuhan luas ruangan mesin adalah maksimum panjang alat dikalikan lebarnya (luasan mesin). Kebutuhan ruang untuk operator (bila ada) adalah luasan alat yang dipakai dikalikan satu meter. Kebutuhan ruang disesuaikan dengan bentuk alat dan wadah alat tersebut. Kelonggaran yang dipakai adalah 150 % dari luasan peralatan. Kelonggaran ini dipakai untuk jarak antar peralatan serta pergerakan operator atau pekerja. Kebutuhan ruang pada industri virgin coconut oil kapsul terdapat pada tabel berikut Tabel 3. Perkiraan kebutuhan luas ruang produksi Lokasi Peralatan
R. Penyimpanan Bahan Baku R. Sortasi R. mixing R. press 40 10 50 10

Luas (m2) Operator Sub total


25 10 60 40 25

(x 150%)
60 25 15 90

R. percetakan mie R pengukusan R. penggorengan R. pendinginan R. Penyimpanan Produk Akhir Total

30 40 50 50 70

10 10 10 10 -

40 50 60 60 70

60 75 90 90 105 510

Kebutuhan ruang pada industri Mie REANG ini disesuaikan dengan luas peralatan, luas operator, dan kebutuhan ruang untuk pengawasan mutu. Luas ruangan yang peralatannya membutuhkan operator lebih besar dibanding ruangan yang peralatannya tidak membutuhkan operator. Kebutuhan ruangan juga telah disesuaikan dengan kebutuhan ruang untuk peralatan pendukungnya. (2) Ruang non produksi Ruangan yang dibutuhkan oleh sebuah fasilitas jelas erat sekali kaitannya dengan peralatan, bahan, pegawai, dan kegiatan (Apple, 1990 dalam Indrawati, 2006). Ruangan non produksi yang dibutuhkan dalam industri ini meliputi gudang bahan baku dan gudang produk, kantor, mushola, WC, dapur dan kantin, gudang peralatan, parkir dan taman. Luas dari masing-masing ruangan dijelaskan pada tabel 4 berikut : Tabel 4. Perkiraan kebutuhan luas ruang non produksi Lokasi Kantor Mushola WC Dapur dan kantin Gudang peralatan Tempat parkir Pos satpam Total Luas (m2) 100 30 24 24 12 280 4 584

Perkiraan kebutuhan luas lahan disajikan pada tabel 5 berikut; Tabel 5. Rekapitulasi perkiraan kebutuhan luas lahan No 1. 2 Total luas Pusat Aktivitas Ruang produksi Ruang non produksi Luas lahan (m2) 510 584 1094

8.

Tata Letak Menurut Wignjosoebroto (2000 dalam Indrawati, 2006), aliran bahan dapat

diukur secara kualitatif dengan menggunakan tolok ukur derajat kedekatan hubungan antara satu fasilitas (departemen) dengan lainnya. Tata letak pabrik (plant lay out) atau tata letak fasilitas (facilities lay out) dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik untuk menunjang kelancaran proses produksi. Pengaturan tersebut mencoba memanfaatkan luas area untuk penempatan mesin dan fasilitas penunjang lainnya. Terdapat dua tahap perencanaan tata letak yang dilakukan. Pertama, analisis keterkaitan kegiatan menggunakan metode Analysis Relationship Chart (ARC) yang menggambarkan hubungan kerja antar departemen satu dengan yang lain. ARC akan memberikan informasi sampai sejauh mana derajat hubungan antar departemen untuk saling berjauhan atau berdekatan satu dengan yang lain. Perencanaan tata letak dengan metode ARC ini mencakup kebutuhan ruangan produksi dan ruangan non produksi. ARC terdiri dari bagan dan lembar kerja dengan alasan penetapan derajat hubungan antar aktivitas sebagai berikut;

Tabel 6. Alasan penetapan derajat hubungan antar aktivitas Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Deskripsi alasan Menggunakan catatan yang sama Menggunakan personel yang sma Memakai ruang yang sama Derajat hubungan pribadi yang sering dilakukan Derajat hubungan kertas kerja yang sering dilakukan Urutan aliran kerja Melaksanakan pekerjaan yang sama Menggunakan peralatan yang sama Kemungkinan bau tidak sedap, ramai, dan lain-lain

Bagan keterkaitan antar aktivitas pada industri pengolahan virgin coconut oil kapsul terdapat pada gambar berikut;

1 Penyimpanan b. baku

2 Sortasi

3 Mixing

4 Press

5 Pencetakan

6 Pengukusan

7 Penggorengan

8 Pendinginan

9 Gudang produk jadi

10 Administrasi kantor

11 Parkir

12 Gudang & Peralatan

13.Musholla

Gambar 3. Bagan Analysis Relationship Chart (ARC)

Keterangan : A : Absolutely necessary (mutlak), letak antar aktivitas harus saling berdekatan dan bersebelahan. E : Especially Important (sangat penting), letak antar aktivitas harus saling berdekatan. I O U X : Important (penting), letak antar aktivitas cukup berdekatan. : Ordinary (biasa), letak antar aktivitas tidak harus berdekatan. : Unimportant (tidak penting), letak antar aktivitas bebas. : Undesirable (berjauhan), letak antar aktivitas harus saling Berjauhan. Semua data yang terdapat dalam peta awal dipindahkan dalam lembar kerja Analysis Relationship Chart (ARC). Kode angka mengenai alasan penetapan derajat hubungan dinyatakan tidak dimasukkan, kode angka pada lembar kerja menyatakan ruangan mana saja yang mempunyai hubungan dengan ruangan tersebut. Tabel 7. Lembar kerja Analysis Relationship Chart (ARC) Kode A 1 Penyimpanan b. baku 2 Sortasi 3 Mixing 4 Press 5 Pencetakan 6 Pengukusan 7 Pengggorengan 8 Pendinginan 9 Gudang produk jadi 2,11 1,3 2,3 3,5 4,6 5,7 6,8 7,9 E 3,8,11 4 1 2 1 I 6 9,12 9,12 7.12 12 1,12 4,12 12 Derajat keterdekatan O 10 10 10 10 10 10 10 10 U 4,7,11 5,6,7,8,11 5,6,7,8,11 1,6,8,9,11 2,3,7,8,9,11 2,3,4,8,9,11 1,2,3,5,9,11 2,3,4,5,6,11 X 13 13 13 13 13 13 13 1,13

10 Administrasi kantor

8,11 -

2,3,10 9,11,13

1,12 1,2,3,4, 5,6,7,8

4,5,6,7 -

13 9

11 Parkir 12 Gudang & Peralatan 13. Ruang Peribadatan 1,9 10,12,13 2,3,4,5, 6,7,8,11 10,11

2,3,4,5,6,7,8 1

10,13

1,2,3,4,5,6, 7,8,9,12

Berdasarkan diagram keterkaitan antar aktivitas masing-masing unit produksi pada industri Mie REANG diatas, rancangan tata letak pabrik dapat dibuat dengan sedetail mungkin berdasar kepada alur proses produksi. Tahap kedua dari perencanaan tata letak adalah pembuatan design tata letak pabrik atau lay out. Pada design lay out tigkat kepentingan antar ruangan menjadi pertimbangan utama dalam penempatan fasilitas-fasilitas pabrik. Design tata letak pabrik dibuat dengan menyusun masing-masing departemen dengan memperhatikan pola hubungan yang ada dan mengabaikan luasan sebenarnya dari masing-masing departemen. Berikut adalah design tata letak yang dibuat untuk pabrik Mie REANG;

A.1,9

E.-

A.2,11 E.3,8,11 R. Penyim. Bahan Baku

A.1,3 R. Sortasi X.13 I.9,12 O.10 O.10 E.A.Gudang dan Peralatan X.10,13

E.4

A.2,3 R. Mixing X.13 I.9,12

E.1

Tempat Parkir X.I. 10,12,13 O.I.6 A.A.Kantor X.9 I.9,11,13O.1,2,3,4,5,6,7,8 I.10.11 E.Musholla X. 1,2,3,4,5,6, 7,8,9,12 O.-

X. 13

O.10

E.-

A.4,6 R. Press X.13 I.7,12

E.1

O.10

I. 2,3,4,5,6,7,8,11 O.9 A.6,8 E.A.5,7 E.A.3,5 E.2

A.7,11

E.-

R. Pendinginan X.1,13 I.12 O.10

R. Penggorengan X.13 I.4,12 O.10

R. Pengukusan X.13 I.1,12 O.10

R. Pencetakan X.13 I.12 O.10

A.8,11

E.-

Gudang Prod Akhir X.1,13 I.2,3,10 O.1,12

Gambar 4. Design tata letak pabrik Mie REANG

Rencana lay out pabrik terdapat pada gambar 5 berikut ini;

Ruangan kantor Musholla

Pintu

Lahan parkir kantor Gudang peralatan Gudang bahan baku

Pintu

Lahan parkir pabrik Gudang produk

Ruangan produksi

Gambit 5. Rencana lay out pabrik.