ASKEP KEJANG DEMAM DAN TIFOID PADA ANAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di banyak negara berkembang, termasuk di Indonesia, demam tifoid masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat, berbagai upaya yang dilakukan untuk memberantas penyakit ini tampaknya belum memuaskan. Di seluruh dunia WHO memperkirakan pada tahun 2000 terdapat lebih dari 21,65 juta penderita demam tifoid dan lebih dari 216 ribu diantaranya meninggal . Di Indonesia selama tahun 2006, demam tifoid dan demam paratifoid merupakan penyebab morbiditas peringkat 3 setelah diare dan Demam Berdarah Dengue. Kejadian demam tifoid meningkat terutama pada musim hujan.Usia penderita di Indonesia (daerah endemis) antara 3-19 tahun (prevalensi 91% kasus). Dari presentase tersebut, jelas bahwa anak-anak sangat rentan untuk mengalami demam tifoid. Selain demam tifoid, kejang demam juga merupakan suatu keadaan yang yang dapat dialami oleh seorang anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% daripada anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderitanya (Millichap, 1968). Oleh karena demam tifoid dan kejang demam ini adalah keadaan yang berbahaya bagi seorang anak, bahkan (tifoid) dapat menyebabkan kematian, maka sebagai mahasiswa keperawatan perlu mengetahui tentang “DEMAM TIFOID DAN KEJANG DEMAM”, agar dapat menangani masalah tersebut sesuai dengan teori keperawatan pada kasus tersebut. Hal ini diharapkan dapat memecahkan masalah atau setidaknya dapat memberikan pengetahuan kepada kita tentang masalah yang terjadi di negara kita ini. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka penulis dapat merumuskan masalah: Konsep dasar Demam Tifoid dan Kejang Demam Asuhan Keperawatan dari Demam Tifoid dan Kejang Demam 1.3 Tujuan Makalah Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu

agar mahasiswa mengetahui dan memahami konsep dasar teori dari Demam Tifoid dan Kejang Demam agar mahasiswa mengerti dan memahami Asuhan Keperawatan dari Demam Tifoid dan Kejang Demam. 1.4 Kegunaan Makalah Dalam penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman tentang Demam Tifoid dan Kejang Demam, agar dapat meningkatkan derajat kesehatan anak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, umumnya bagi pembaca. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Demam Tifoid A. PENGERTIAN Penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.( Bruner and Sudart,1994 ). Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu , gangguan dari saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. (staff pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI). B. ETIOLOGI Penyebab demam tifoid dan demam paratifoid adalah S.typhi, S.paratyphi A, S.paratyphi B dan S.paratyphi C. (Arjatmo Tjokronegoro, 1997). Ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam tifoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun. C. PATOFISIOLOGI Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang

Pembesaran limpa/lien (splenomegali). d. dilapisi selaput tebal) c. lidah tampak kering. di bagian tengah kotor. Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung. (Soegeng soegijanto. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. * Penderita < 5 tahun. sedangkan di sisi kiri normal/kurang nyeri. karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. terdapatnya gas di perut dan usus) f. sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. GEJALA KLINIS Masa inkubasi: 10-14 hari. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak. kuman selanjutnya masuk limpa. g. 2002) Patofisiologi Demam Tifoid D. Nyeri tekan/spontan di daerah McBurney (di perut kanan bawah). e. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid. terutama sore atau malam hari. pembesaran Hepatomegali lebih sering dijumpai daripada splenomegali. usus halus dan kandung empedu. lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. hati/liver (hepatomegali). di bagian tepi hiperemis/memerah. Dapat disertai batuk . Demam selama satu minggu atau lebih.tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Dapat disertai diare atau konstipasi (sembelit). Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Lidah tifoid (tremor. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia. * Penderita > 5 tahun: a. b. Meteorismus (kembung. tanda klinisnya tidak khas. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis.

ensefalopati. tetapi akan kembali normal setelah sembuh. kolesistitis. meningitis. perdarahan. delirium (mengigau). Bila berat dapat dijumpai penurunan kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pielonefritis. (Behrman Richard. Arthritis septik dan osteomielitis lebih sering terjadi pada penderita hemoglobinopati. nyeri kepala. dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Dapat disertai penurunan kualitas/fungsi pendengaran (agak tuli).Pneumonia sering ditemukan selama stadium ke-2 penyakit. endokarditis. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. 2. tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: perforasi usus. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus 3. h. 1992) F. anorexia (seleramakan menurun/menghilang). meningitis. hepatitis. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2 penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan darah serta kenaikan denyut jantung. dan ikterus. osteomielitis dan arthritis septik jarang terjadi pada hospes normal. (Ranuh. Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap : Dapat ditemukan leukopeni. kejang.batuk. lethargy (sensasi mengantuk yang hebat). peritonitis. 2001) Perdarahan usus. dan dkk. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu: Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri . Pemeriksaan SGOT dan SGPT : SGOT dan SGPT sering meningkat. Gambaran klinis: E. Pemeriksaan Uji Widal : Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi.5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita demam tifoid. Hariyono. i. nyeri perut. bronkopneumonia. toksemia dan kematian. (Arif mansjoer & Suprohaitan 2000) Perforasi usus terjadi pada 0.

(Widiastuti S.PENATALAKSANAAN Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan menghentikan invasi kuman. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim) 3. Kloramfenikol.Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter. mencegah terjadinya komplikasi. Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan antibiotika . Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita Demam Tifoid. 2001) H. TERAPI 1. Setelah umur 2 minggu bayi dapat menerima dosis sampai 50 mg/kgBB/ hari dalam 4 dosis tiap 6 jam. Ampisilin dan amoksilin. Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa pusing (Paracetamol). Anak : 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam. peritonitis atau perforasi. 2001) G. Berikan dosis lebih tinggi untuk infeksi lebih berat. 1. serta mencegah agar tak kambuh kembali. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis Demam Tifoid. Bayi < 2 minggu : 25 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi tiap 6 jam. berdiri dan berjalan. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc. 2. karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. Tiamfenikol. diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari. (Widiastuti Samekto. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB. faeces dan urine untuk mencegah penularan. Kortimoksazol. selama 3-5 hari 5. Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik. memperpendek perjalanan penyakit. Sefalosporin Generasi Ketiga. kemudian baru boleh duduk. selama 2 minggu 4. syok septik. Golongan Fluorokuinolon • • • • • Norfloksasin Siprofloksasin Ofloksasin Pefloksasin Fleroksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari 1.

Pilihan antibiotik yang dapat digunakan: a. lipat paha atau selangkangan dan dahi. c) Taruh anak di bath up/ ember mandi yang diisi air hangat bersuhu 30-32° C. Dapat diberikan lebih awal bila ada riwayat kejang demam. Amoksisilin 100 mg/kg berat badan/hari. d) Usapkan air hangat di sekujur tubuh bayi/ anak. Oleh karena itu. seperti ketiak. oral atau intravena. ajak bermain A. sefalosporin. Cara pemberian kompres hangat pada anak dengan typhoid Kompres hangat akan menurunkan suhu anak dalam waktu 30-45 menit. Kompres hangat ini juga membantu anak agar lebih comfortable. Sefiksim 10 mg/kg berat badan/hari. tidak menggunakan alkohol karena uap alkohol sangat berbahaya dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit.yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Kloramfenikol (drug of choice) 50-100 mg/kg berat badan/hari. selama 10 hari. oral atau intravena. dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien. trimethoprimsulfamethoxazole. Kotrimoksasol 6 mg/kg berat badan/hari. oral. Namun beberapa dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin. intravena atau intramuskuler. e. sekali sehari. Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus. 5 hari. c. selama 10 hari. oral. Cara mengompres anak demam: a) Kompres sebaiknya menggunakan air hangat. b. suruh duduk di ember / bath up. selama 10 hari. kotrimoksazol. b) Kompres akan lebih efektif apabila dilakukan pada daerah yang mengandung banyak pembuluh darah. d. dibagi dalam 4 dosis selama 10-14 hari. Antipiretik Diberikan bila demam > 39ºC. dibagi dalam 2 dosis. Seftriakson 80 mg/kg berat badan/hari. lakukanlah kompres hangat bila suhu anak sangat tinggi. Medikamentosa 1. e) Bila anak menolak. 2. beri mainan. .

vaksin ini ternyata tidak memberikan perlindungan yang baik. Kortikosteroid Diberikan pada kasus berat yang disertai gangguan kesadaran. mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. edukasi.5 mL dengan booster (diulang setiap) 2-3 tahun. hingga kesadaran membaik. sanitasi. Deksametason 1-3 mg/kg berat badan/hari.tanpa ggn elektrolit/ metabolik berat Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rectal . 2. pada usia > 6 tahun.nial. Pencegahan 1. ulangan setiap 3-5 tahun. PENGERTIAN Kesepakatan UKK Neurologi IDAI – Saraf Anak PERDOSSI . pengamanan pembuangan limbah feses (tinja). Pada pemberian oral. penyediaan air minum yang memenuhi syarat. dengan interval selang sehari (hari 1. Vaksin polisakarida kapsular Vi (Typhi Vi) Vaksin ini disuntikkan sc atau im 0.3. Pembedahan Diperlukan bila terjadi perforasi usus. Diberikan secara oral. Imunisasi Vaksin yang digunakan adalah: a. intravena. Mencegah demam tifoid adalah dengan meningkatkan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan seperti: tidak jajan di sembarang tempat.belum pernah kejang tanpa demam . Higiene. Catatan:.2 Kejang Demam (Febris Konvulsi) A. Vaksin yang dibuat dari Salmonella typhosa yang dimatikan. 2004. 2. b. penyuluhan masyarakat. 5). 4. c. B. Vaksin ini memberikan perlindungan 87-95% selama 1. dibagi 3 dosis.5 tahun. pemberantasan lalat.terjadi pd umur 6bln – 5thn à18bln . Vaksin yang dibuat dari strain Salmonella yang dilemahkan (Ty21-a). 3. Kejang Demam adalah bangkitan kejang yg terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >38º C) yg disebabkan oleh suatu proses ekstrakra.

radang telinga tengah.mer-c. tingkah laku. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. di samping akibat ilnhibisi yang tidak sempurna. Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau kejang berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran. Status epileptikus terjadi oleh karena proses eksitasi yang berlebihan berlangsung terus menerus. sensorik. motorik. KRITERIA KEJANG Perbedaan antara kejang dan serangan yang menyerupai kejang Keadaan Onset Kejang Tiba-tiba Menyerupai kejang Mungkin gradual . atau 3] meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam glutamat dan aspartat melalui jalur eksitasi yang berulang. emosi. C. Mekanisme dasar terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik yang berlebihan pada neuron-neuron dan mampu secara berurutan merangsang sel neuron lain secara bersama-sama melepaskan muatan listriknya. 2] berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gama amino butirat [GABA]. 1] kemampuan membran sel sebagai pacemaker neuron untuk melepaskan muatan listrik yang berlebihan. dan atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron otak.or) B. ETIOLOGI Hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab kejang demam.lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (di luar rongga kepala). (staff pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI). infeksi saluran cerna dan infeksi saluran kemih. PATOFISIOLOGI Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten dapat berupa gangguan kesadaran. Hal tersebut diduga disebabkan oleh. patogenese dari kejang demam à Teori anoksia relatif : Suhu ↑ à metabolisme otak ↑(vaskularisasi otak anak umur 3 th ± 65%) à glukosa & O² otak ↓à pompa ion Na-K terganggu à ggn permeabilitas ddg selà depolarisasi à kejang D. Menurut Prichard dan Mc Greal th 1958. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas. Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980) kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak yang biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. (http://www. Kadang kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.

Kejang Demam dapat dibagi dalam dua jenis yaitu : Simple febrile seizures (Kejang Demam Sederhana/KDS) : kejang menyeluruh yang berlangsung < 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam. Complex febrile seizures / complex partial seizures (Kejang Demam Kompleks/KDK) : kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh). PEMERIKSAAN PENUNJANG n Darah tepi lengkap à penyebab demam n Elektrolit. muntah. berlangsung > 15 menit. dan atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung). F. . n L P à curiga meningitis. hal lain yg dpt mengganggu kesimbangan elektrolit atau gula darah. n EEG à tdk dpt memprediksi berulangnya kejang/ menjadi epilepsi à tidak perlu. umur 12 bl sangat dianjurkan. E. glukosa darah à diare. 12-18 bl dianjurkan. KLASIFIKASI Secara umum.Lama serangan Detik/menit Kesadaran Sering terganggu Sianosis Sering Gerakan ekstremitas Sinkron Stereotipik serangan Selalu Lidah tergigit atau lukaSering lain Gerakan abnormal bolaSelalu mata Fleksi pasif ekstremitasGerakan tetap ada Dapat diprovokasi Jarang Tahanan terhadapJarang gerakan pasif Bingung pascaHampir selalu serangan Iktal EEG abnormal Selalu Pasca iktal EEGselalu abnormal Beberapa menit Jarang terganggu Jarang Asinkron Jarang Sangat jarang Jarang Gerakan hilang Hampir selalu Selalu Tidak pernah Hampir tidak pernah jarang Sumber: Smith dkk (1998).

EPIDEMIOLOGI n KD terjadi pd 2-4% populasi 6 bl – 4 th n KDS 80 %. HHV-7 dan virus influenza n Kadar TNF alfa. Faktor Resiko menjadi Epilepsi 1. Berulang Kejang 1. Ensefalitis akut / Bila seluruh Faktor ada à 80% berulang.Tiap faktor resiko à epilpepsi↑ 4 – 6 % . Riwayat Epilepsi Dalam Keluarga.Kemungkinan menjadi Epilepsi tidak dapat dicegah dengan obat rumat pada Kejang Demam.Kombinasi dari faktor tersebut diatas à 10–50 % . 3. n CTscan atau MRI tidak dilakukan pd KDS n Vaksinasi bukan merupakan kontra indikasi G. Kejang Demam Kompleks 3. Riwayat Kejang Demam dalam keluarga (org tua – sdr) Usia < 12 bulan Tingginya suhu badan sebelum kejang. 4.n PCR à HHV-6. Kelainan Neurologis 2. . 2. KDK 20 % n Kejang > 15 mnt ± 8 % n Berulang dlm waktu 24 jam ± 16 % n Resiko menjadi epilepsi 2% – 50% H. (makin rendah à makin mudah berulang) Lamanya demam sebelum kejang à >16 jam à lebih mudah berulang. . b. FAKTOR RESIKO a. jika (-) à 10 – 15%. berulang terutama pada tahun I. IL-1 alfa & IL-6 pada CSS à meningkat à Ensefalopati.

segera bawa ke rumah sakit atau telpon ambulance. Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit. karena justru benda tersebut dapat menyumbat jalan napas. Miringkan posisi kepala ke salah satu sisi agar ia tidak tersedak dan memudahkan keluarnya air liur atau muntah. Penanganan demam : • • • Berikan kompres hangat Berikan pakaian tipis dan menyerap keringat Beri makanan dan minuman yang adekuat Cara menghitung kebutuhan cairan : KEBUTUHAN CAIRAN TUBUH • Cairan tubuh hilang melalui: 1. bukan terlentang. Jangan memegangi anak untuk melawan kejang. Melonggarkan pakaian yang digunakannya agar anak tidak mengalami sesak napas. untuk menghindari bahaya tersedak. anak akan sulit bernapas atau kulitnya membiruanak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Anak harus dibaringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping. Insensible Water Loss (50%) Respirasi (15%) Kulit (30%) Feses (5%) . PENANGANAN Pindahkan anak ke tempat yang aman seperti lantai atau kasur serta jauh dari bendabenda berbahaya. Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut si anak seperti sendok atau penggaris.I. Urin – 50% dari kehilangan cairan Normal: 50 ml/ kgBB/ 24 jam 1.

Meningkatkan metabolisme • • Demam – ↑ H2O: 12%/ °C Hipotermi – H2O ↓ 12%/ °C 1. Kelembaban lingkungan tinggi Insensible water loss menurun 0 – 15 cc/ 100 KAL .CARA MENGHITUNG KEBUTUHAN CAIRAN 1. Kebutuhan kalori 100 – 150 cc/ 100 KAL 1. Luas permukaan tubuh (BSA = Body Surface Area) = mL/ m2/ 24 jam Paling tepat untuk BB > 10 kg Normal: 1500 ml/ m2/ 24 jam (kebutuhan maintenance/ kebutuhan rumatan) 1. memerlukan: 0 0 0 100 ml/ kg x 10 kg 50 ml/ kg x 10 kg 20 ml/ kg x 5 kg 25 kg = 1000 cc – 10 kg (I) = 500 cc – 10 kg (II) = 100 cc – 5 kg (sisa) = 1600 cc/ 24 jam Total = Keadaan yang Meningkatkan/ Menurunkan Kebutuhan Cairan 1. Menurunkan metabolisme 1. Berat badan Rumus umum: 0 0 0 100 ml/ kg 50 ml/ kg 20 ml/ kg – 10 kg pertama – 10 kg kedua – berat > 20 kg Misalnya ó anak dengan BB 25 kg.

Ekspresi wajah yang tak menyenangkan 2. Sebagaimana yang kita ketahui. Sehingga asuhan kep tidak bisa hanya berfokus pada anak .pengalaman sebelumnya terhadap sakit. tenaga kesehatan perlu untuk mendengarkan dan mengidentifikasi persepsi perasaan anak dan keluarga. dan spiritual si anak dan keluarganya.1.Menangis keras .reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan. termasuk dalam keperawatan anak hal ini merupakan salah satu yang harus menjadi perhatian seorang perawat.Pergerakan tubuh yang banyak . Hiperventilasi – IWL meningkat 50 – 60 cc/ 100 KAL 2.sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya.Masa todler (2-3 th) . tetapi juga pada orangtuanya. tetapi juga harus memperhatikan sisi psikologis.kehilangan. social. tentunya mengalami perubahan pada psikologis dan sosialnya.pada umumnya. Reaksi anak pada hospitalisasi : 1. Masa bayi(0-1 th) Dampak perpisahan Pembentukan rasa P. tidak hanya biologisnya saja.perlukaan tubuh.D dan kasih sayang Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas .dan rasa nyeri. Dalam hal ini.apalagi yang mengalami perawatan di RS. bahwa keperawatan itu bersifat holistic. REAKSI ANAK TERHADAP HOSPITALISASI/PERAWATAN Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak. Dalam keperawatan. Keringat >> – H2O meningkat 10 – 25 cc/ 100 KAL Kebutuhan Elektrolit • • 2 – 4 mEq Na+/ 100 cc cairan 2 – 4 mEq K+/ 100 cairan ASKEP PADA KELUARGA (PSIKO-SOSIAL) Pada anak yang sakit.

takut sehingga menimbulkan reaksi agresif.anak tak aktif. sedih. kehilangan klp sosial. marah.perasaan takut mati.Disini respon perilaku anak dengan tahapnya.Menolak makan .Masa remaja (12 sampai 18 tahun ) .Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan . berontak.tidak mau bekerja sama dengan perawat. 4. menolak perhatian orang lain > Putus asa menangis berkurang.Anak mulai menyukai lingkungannya 3.Sering bertanya .Mulai menerima perpisahan . Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal.Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan Perawatan di rumah sakit : .Pembatasan aktivitas Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun ) . menjerit. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dlm klg. 5.kelemahan fisik.Kehilangan kontrol .Masa sekolah 6 sampai 12 tahun Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai . klg. apatis > Pengingkaran/ denial .Menangis perlahan . > Tahap protes menangis. klp sosial sehingga menimbulkan kecemasan.kurang menunjukkan minat bermain. Sehingga ada perasaan malu.Membina hubungan secara dangkal .

hal ini akan membuat ia tdk dpt merawat anaknya dgn baik dan akan menyebabkan anak menjadi semakin stress (Supartini.Informasi buruk tentang diagnosa medis . Saat MRS cemas karena perpisahan tersebut. rasa bersalah.Perawatan yang tidak direncanakan .perasaan sedih dan frustasi: Berbagai macam perasaan muncul pd org tua yaitu : takut.menolak kehadiran orang lain REAKSI ORANG TUA DAN SAUDARA KANDUNG Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi & Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi: Takut dan cemas. Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol Reaksi yang muncul : > Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan > Tidak kooperatif dengan petugas Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon : .Prosedur yang menyakitkan .menarik diri . 2000). stress dan cemas (Halsom and Elander. karena takut kehilangan anak yg dicintainya dan adanya perasaan berduka (Brewis. Kehilangan anak yang dicintainya: .Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya.bertanya-tanya . Perasaan org tua tdk boleh diabaikan karena apabila org tua merasa stress. 1997) Rasa takut pd org tua selama anak di RS terutama pd kondisi sakit anak yg terminal.Pengalaman perawatan sebelumnya &Perasaan sedih: . 1995).

perhatian dlm bentuk lain mis : uang.Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain & Perasaan frustasi:Kondisi yang tidak mengalami perubahan.menginginkan P. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak .meminimalkan stressor .Mencegah perasaan kehilangan kontrol . makanan dan hal lain yg berhubungan dgn perw anak di RS menuntut org tua utk memprioritaskannya dibanding keperluan anak lain Reaksi yg sering muncul pd saudara kandung (sibling) thd kondisi ini adl : marah. Marah à jengkel thd org tua yg dinilai tdk memperhatikan Cemburu à dirasakan orrg tua lbh mementingkan saudaranya yg sedang sakit Rasa bersalah à anak berfikir mungkin saudaranya sakit akibat kesalahannya INTEVENSI PERAWATAN DALAM MENGATASI DAMPAK HOSPITALISASI Fokus intervensi keperawatan adalah .memaksimalkan manfaat hospitalisasi memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga .Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan . Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak Org tua pd dasarnya tdk boleh membedakan perlakukan pd anak yg sedang sakit dan dirawat di RS dgn saudara kandung lainnya di rumah Selain kehadiran fisik org tua di RS. Perilaku tidak kooperatif. benci dan rasa bersalah.putus asa.Mengurangi / meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan 1.menolak tindakan.P . cemburu.mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit Upaya meminimalkan stresor atau penyebab stress Dapat dilakukan dengan cara : .

Berikan dukungan pd keluarga utk mau tinggal dgn anak di RS .Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan .Buat jadwal untuk prosedur terapi. > Memberi kesempatan untuk sosialisasi. Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah. Memberi dukungan pd anggota keluarga lain : 1.2. gambar.Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri. > Memberi support kepada anggota keluarga. > Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri > Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak > Menghadirkan orang tua bila memungkinkan > Tunjukkan sikap empati > Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita.latihan.Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif. > Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak.bermain . Surat menyurat. > Meningkatkan kemampuan kontrol diri. . Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak > Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar .Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan . Modifikasi ruang perawatan 3. bertemu teman sekolah Mencegah perasaan kehilangan kontrol: .

Fasilitasi utk menghadirkan saudara kandung anak apabila diperlukan keluarga dan berdampak positif pd anak yg dirawat maupun saudara kandungnya Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit > Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak. Beri dukungan keluarga utk menerima kondisi anaknya dgn nilai-nilai yg diyakini 4.Lakukan pemeriksaan fisik BAB III PEMBAHASAN (ASUHAN KEPERAWATAN) Demam Tifoid A. .Berikan identitas pada anak.laksanakan pengkajian .Jelaskan aturan rumah sakit. mual. Riwayat keperawatan 2. dan kembung . Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam hari. penurunan kesadaran B. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 2. .Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya . . nyeri kepala. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. karena sgt dimungkinkan keluarga mengalami msl psikososial dan spiritual yg memerlukan bantuan ahli 3. epistaksis. fasilitasi keluarga utk berkonsultasi pd psikolog/ahli agama.Kenalkan pada pasien yang lain.2. > Mengorientasikan situasi rumah sakit. . Apabila diperlukan. tidak nafsu makan. Pada hari pertama lakukan tindakan : . lidah kotor. PENGKAJIAN 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan.

rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat. o Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi o Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering o Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama. Mencegah kurangnya volume cairan • • • • Mengobservasi tanda-tanda vital (suhu tubuh) paling sedikit setiap 4 jam Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan: turgor tidak elastis. Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan • Menilai status nutrisi anak o Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak. tekanan darah. 1. PERENCANAAN 1. pernafasan Berri minum yang cukup Berikan kompres air biasa Lakukan tepid sponge (seka) Pakaian (baju) yang tipis dan menyerap keringat Pemberian obat antipireksia Pemberian cairan parenteral (IV) yang adekuat 1. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan. 2. nadi. produksi urin menurun. dan peningkatan suhu tubuh C. 3. Mempertahankan suhu dalam batas normal • • • • • • • • Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermia Observasi suhu. bibir pecahpecah Mengobservasi dan mencatat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam o Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (Insensible Water Loss/IWL) dengan memberikan kompres dingin atau dengan tepid sponge .3. memberan mukosa kering. ubunubun cekung. dan dengan skala yang sama o Mempertahankan kebersihan mulut anak  Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit  Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral jika pemberian makanan melalui oral tidak memenuhi kebutuhan gizi anak 1.

2001) Kejang Demam 1. Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan. Pengkajian Yang paling penting peran perawat selama pasien kejang adalah observasi kejangnya dan gambarkan kejadiannya. (Suriadi & Rita Y. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktivitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak 2. Penderita memerlukan istirahat Diit lunak yang tidak merangsang dan rendah serat (Samsuridjal D dan Heru S. 2. dan efek samping 3. Penderita harus dapat diyakinkan cuci tangan dengan sabun setelah defekasi Mereka yang diketahui sebagai karier dihindari untuk mengelola makanan Lalat perlu dicegah menghinggapi makanan dan minuman. 4.o Memberikan antibiotik sesuai program (Suriadi & Rita Y. Aktivitas / istirahat : keletihan. perubahan tonus / kekuatan otot. 2003) 1. 1. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau penanganan. kontraksi otot lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang dimulai dan lamanya kejang. Sirkulasi : peningkatan nadi. . Menjelaskan gejala-gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut 4. peka rangsangan. DISCHARGE PLANNING 1. 1. Gerakan involunter 2. 2001) D. 3. 5. kelemahan umum. tanda vital tidak normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan 3. Setiap episode kejang mempunyai karakteristik yang berbeda misal adanya halusinasi (aura ). Riwayat penyakit juga memegang peranan penting untuk mengidentifikasi faktor pencetus kejang untuk pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kejang. sianosis. motor efek seperti pergerakan bola mata . Jelaskan terapi yang diberikan: dosis.

kehilangan koordinasi otot. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi. kerusakan jaringan lunak / gigi 6. mempertahankan aturan pengobatan. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular 3. Observasi keadaan umum. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali . Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul 1. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan. Tujuan Cidera / trauma tidak terjadi Kriteria hasil Faktor penyebab diketahui. perubahan kesadaran. meningkatkan keamanan lingkungan Intervensi Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang.4. perubahan kesadaran. peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus spinkter 5. Neurosensor : aktivitas kejang berulang. Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi 3. INTERVENSI Diagnosa 1 Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan. Riwayat jatuh / trauma 2. dan sesudah kejang. selama. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh 4. Eliminasi : inkontinensia episodik. mual dan muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang. kehilangan koordinasi otot. sebelum. penurunan kekuatan 5. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan. 2. riwayat truma kepala dan infeksi serebra 7.

sekresi mukosa tidak ada. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi Diagnosa 3 Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh Tujuan Aktivitas kejang tidak berulang Kriteria hasil Kejang dapat dikontrol. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti compulsan Diagnosa 2 Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular Tujuan Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi Kriteria hasil Jalan napas bersih dari sumbatan. Berikan kompres dingin pda daerah dahi dan ketiak. penurunan kekuatan . Lindungi klien dari trauma atau kejang. Berikan kenyamanan bagi klien. suhu tubuh kembali normal Intervensi Kaji factor pencetus kejang. Lakukan penghisapan lendir. Diagnosa 4 Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi. atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler. tanda-tanda vital setelah kejang.terjadi. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien. Observasi tanda-tanda vital. suara napas vesikuler. Lindungi anak dari trauma. Lakukan penilaian neurology. RR dalam batas normal Intervensi Observasi tanda-tanda vital.

Diagnosa 5 Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi Tujuan Pengetahuan keluarga meningkat Kriteria hasil Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. keluarga klien tidak bertanya lagi tentang penyakit. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien. Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti. Pengetahuan keluarga meningkat . kebutuhan klien teratasi Intervensi Kaji tingkat mobilisasi klien. 6. Jelaskan pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes. Cidera / trauma tidak terjadi 2. perawatan dan kondisi klien. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Intervensi Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. kejang tidak ada. Kerusakan mobilisasi fisik teratasi 5. EVALUASI 1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien. Aktivitas kejang tidak berulang 4. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan pada klien. Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi 3. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan.Tujuan Kerusakan mobilisasi fisik teratasi Kriteria hasil Mobilisasi fisik klien aktif .

id. 1. sehinga kami menyarankan agar teman-teman perawat membaca dan memahami isi makalah ini sehinga menjadi bekalkan bila menghadapi kasus ini. jika gejala klinis berat. dan keadan gizi penderita buruk.ac. Jakarta 2007. Profil Kesehatan Indonesia 2006. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kejang dapat berhenti sendiri. Infomedika Jakarta. seperti panas tinggi (hiperpireksia). Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Anurogo.kabarindonesia. Demam Tifoid Demam tifoid ini jika ditangani dengan baik. Tatalaksana kejang yang adekuat dibutuhkan untuk mencegah kejang menjadi status konvulsivus.unpad. Diakses tanggal 30 September 2010 Kania. Keadaan menjadi memburuk. Nia. Saran Diharapkan makalah ini bisa memerikan masukan bagi perawat terutama perawat yang bekerja pada ruang perawatan anak. atau memerlukan pengobatan sat kejang. Kejang Demam Penanganan kejang pada anak dimulai dengan memastikan adanya kejang. dan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang. KEJANG PADA ANAK. http://www. Dito.com. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Di akses tanggal 28 September 2010 . http://pustaka. maka akan dapat membaik. adanya komplikasi yang berat (dehidrasi dan asidosis). Setelah kejang teratasi dilakukan anamnesis. pemeriksaan klinis neurologis.BAB IV PENUTUP Kesimpulan 1. kesadaran menurun. Demam Tifoid.

com . Di akses tanggal 28 September 2010 http://www.id/kejang-demam. Di akses tanggal 28 September 2010 http://kedokteran.scribd. Dampak Hospitalisasi pada Anak & Orang Tua. Konsep Hospital. Di akses tanggal 28 September 2010 http://www. Whenny.mer-c.com/2008/08/kejang-demam-pada-anak. KEJANG DEMAM.unand.scribd.com/doc/14759186/ASKEP-THIPOID. Ratna. Di akses tanggal 28 September 2010 http://www. Diak ses tanggal 13 Oktober 2010.doc.slideshare. Di akses tanggal 28 September 2010 Yusvita. Mahmud.html.ac. Di akses tanggal 28 September 2010 www.wartamedika. http://nursingbegin. Hospitalisasi Pada anak.ac.net. Di akses tanggal 28 September 2010 _____.html. Di akses tanggal 28 September 2010 http://www.com/doc/5524958/KEJANG-PADA-ANAK.pediatrik. http://www. http://www.html.com/tips/20060220-r9k8mu-tips.com.com. www.com/askep-anak-demam-tifoid.ums.www. I8 Juni 2010. Diak ses tanggal 13 Oktober 2010.find-docs.id/ainicahayamata/2011/03/24/askep-kejang-demam-dan-tifoidpada-anak/ . Diak ses tanggal 13 Oktober 2010. Paskalis.org/component/content/article/25-artikelkesehatan/267-kejang-demam.medicalera.find-docs.Lukimon. http://blog.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful