Anda di halaman 1dari 14

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN XANTON DARI KULIT BUAH MANGGIS ( Garcinia mangostana L.

)
Ivan Surya Pradipta1; Titi W Nikodemus2; Yasmiwar Susilawati2
1

Fakultas MIPA, Jurusan Farmasi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta 2 Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Bandung E-mail: ivanpradipta83@yahoo.com ABSTRACT

A research on the isolation and identification of xanthone from the fruit rind of mangosteen (Garcinia mangostana L.) was carried out. Extraction was done using maceration with methanol water solvent and fractionation with n-hexane and ethyl acetate solvent. Column chromatography with silica gel as the stationary phase and nhexane ethyl acetate (7 : 3) as the mobile phase was used for the isolation. From the ethyl acetate fraction was obtained GM II-1 isolate (Rf 0,61 ; n-hexane ethyl acetate 7 : 3 as mobile phase) which showed a colour change from reddish brown to yellow under UV light 366 nm after spraying with AlCl3. Identification of the isolate with UV spectrophotometry gave maximum absorptions at wavelengths 241,5, 257,5, 317, 364,5 nm. GC - MS indicated that GM II-1 isolate had a molecular weight of 259, the isolate was presumed to be a xanthone. Keywords: xanthone, Garcinia mangostana L., mangosteen, isolation, identification

PENDAHULUAN Obat merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk dan munculnya jenis-jenis penyakit yang merebak luas di masyarakat mengakibatkan kebutuhan obat menjadi suatu hal yang sangat penting. Tetapi di Indonesia kondisi tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan baku obat yang umumnya masih diimpor. Negeri kita dikenal kaya akan berbagai jenis tumbuhan, namun baru sebagian yang telah dimanfaatkan sebagai obat. Sebagai solusi atas kurangnya bahan baku obat tersebut, maka perlu dilakukan upaya alternatif, seperti pencarian bahan baku obat alami yang tersedia di Indonesia. Buah manggis (Garcinia mangostana L.), merupakan buah yang eksotik karena memiliki warna yang menarik dan kandungan gizi yang tinggi, karena itu buah manggis memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan (Wijaya, 2004). Potensi manggis tidak hanya terbatas pada buahnya saja, tetapi juga hampir seluruh bagian tumbuhan manggis menyimpan potensi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Penggunaan tumbuhan manggis diyakini dapat menyembuhkan penyakit, beberapa diantaranya adalah peluruh haid, obat

64

sariawan, penurun panas, pengelat (adstringen), disentri dan lain-lain (Heyne, 1987). Kandungan kimia kulit manggis adalah xanton, mangostin, garsinon, flavonoid dan tanin (Heyne, 1997; Soedibyo, 1998). Menurut hasil penelitian kulit buah manggis memiliki aktivitas HIV tipe I (Chen, 1966), antibakteri, antioksidan dan anti metastasis pada kanker usus (Tambunan, 1998). Xanton merupakan derivat dari difenil- -pyron, yang memiliki nama IUPAC 9H-xantin-9-on. Xanton terdistribusi luas pada tumbuhan tinggi, tumbuhan paku, jamur, dan tumbuhan lumut. Sebagian besar xanton ditemukan pada tumbuhan tinggi yang dapat diisolasi dari empat suku, yaitu Guttiferae, Moraceae, Polygalaceae dan Gentianaceae (Sluis, 1985). Xanton dilaporkan memiliki aktivitas farmakologi sebagai antibakteri, antifungi, antiinflamasi, antileukemia, antiagregasi platelet, selain itu xanton dapat menstimulasi sistem saraf pusat dan memiliki aktivitas antituberkulosis secara in vitro pada bakteri Mycobacterium tuberculosis (Bruneton, 1999 ; Sluis, 1985). Xanton jenis gentisin dan mangiferin memiliki aktivitas sebagai antitumor dan inhibitor monoamin oksidase (Robinson, 1995). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa golongan xanton yang terkandung pada kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai cara isolasi dan karakteristik senyawa golongan xanton kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.).

METODE PENELITIAN Alat yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain penggiling simplisia, maserator, gelas ukur, pipet tetes, batang pengaduk, beaker glass, kapas, alumunium foil, seperangkat alat rotary evaporator, cawan penguap, penangas air, mortir dan stamper, seperangkat alat hidrolisis, penangas air, corong pisah, tangki pengembang beserta penutupnya, kolom kromatografi, vial, spatel, tabung reaksi besar dan kecil, rak tabung reaksi, timbangan, pipa kapiler, plat KLT, detektor sinar UV 254 dan 366 nm. Bahan-bahan yang digunakan dalam penilitian ini, antara lain serbuk kulit buah manggis, pelarut metanol, n-heksan dan etil asetat yang telah disuling ulang, HCl 2 N, kloroform, pereaksi mayer, pereaksi dragendorff, pereaksi

65

buchardat, AlCl 3 , FeCl 3 , gelatin 1 %, serbuk Mg, eter, pereaksi liebermannburchard, KOH 5 %, vanilin HCl, amonia, amil alkohol, larutan vanilin 10%, H 2 SO 4 pekat, CH 3 COOH glasial, air suling, n-butanol, silika gel kolom Art. 7734 kieselgel 60 mesh 70-230 MERCK. Metode penelitian dimulai dari pengumpulan dan pengolahan bahan. Bahan tumbuhan yang digunakan adalah kulit buah manggis yang berasal dari Sumatera Barat. Kulit buah manggis yang digunakan merupakan kulit buah yang buahnya sudah layak untuk dikonsumsi. Kulit buah manggis yang telah terkumpul dibersihkan dari kotoran-kotoran, kemudian dirajang kecil-kecil dan dikeringkan di udara terbuka. Kulit yang telah kering digiling hingga menjadi serbuk simplisia. Determinasi buah manggis dilakukan di Laboratorium Taksonomi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi menggunakan kombinasi pelarut metanol dan air yang dilakukan secara remaserasi dengan variasi volume pelarut. Serbuk simplisia kulit buah manggis ditimbang sebanyak 1 kg kemudian ditempatkan ke dalam maserator yang bagian dasarnya telah dilapisi kapas, kemudian ke dalam maserator dimasukkan pelarut metanol - air dengan perbandingan 9 : 1 sebanyak 3 liter. Proses maserasi tersebut didiamkan selama 24 jam, sambil sesekali dilakukan pengadukan. Setelah 24 jam maserat dikeluarkan dan ditampung. Kemudian dilakukan remaserasi dengan

menggunakan pelarut metanol - air dengan perbandingan 9 : 1, selama 24 jam sambil sesekali dilakukan pengadukan. Setelah 24 jam maserat dikeluarkan dan ditampung. Kemudian ke dalam maserator dimasukkan pelarut metanol - air dengan perbandingan 1 : 1, didiamkan selama 24 jam sambil sesekali dilakukan pengadukan. Setelah 24 jam maserat dikeluarkan dan ditampung. Seluruh hasil penampungan pelarut dicampurkan untuk kemudian dilakukan proses pemekatan ekstrak dengan menggunakan alat rotary evaporator. Dilakukan hidrolisis terhadap ekstrak hasil pemekatan dengan

menggunakan HCl 2 N. Ekstrak pekat dilarutkan dalam metanol, setelah larut sempurna ditambahkan HCl 2 N dengan perbandingan 1 : 1. Campuran tersebut dihidrolisis selama 60 menit pada suhu titik didih pelarut dengan menggunakan alat yang dilengkapi kondensor sebagai pendingin balik. Setelah 60 menit ekstrak

66

terhidrolisis didiamkan hingga suhunya konstan pada suhu kamar, untuk kemudian dilakukan proses selanjutnya. Ekstrak sebelum hidrolisis dan sesudah hidrolisis dianalisis dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), untuk mengetahui terjadinya perubahan setelah ekstrak dihidrolisis. Fraksinasi dilakukan terhadap ekstrak yang telah dihidrolisis, dengan menggunakan 2 jenis pelarut, yaitu n-heksan dan etil asetat. Ekstrak terhidrolisis ditempatkan dalam corong pisah, ke dalamnya ditambahkan pelarut n-heksan dengan perbandingan 1 : 1, kemudian dikocok secara perlahan hingga tercampur, kemudian didiamkan hingga tepat memisah menjadi 2 fase yang terdiri dari fase n-heksan dan fase air. Fase n-heksan dipisahkan dan fase air difraksinasi kembali hingga tiga kali. Fase n-heksan yang telah terkumpul dipekatkan menggunakan alat rotary evaporator dan penangas air. Fase air difraksinasi kembali dengan menggunakan pelarut etil asetat dengan

perbandingan 1 : 1, proses fraksinasi ini dilakukan tiga kali hingga diperoleh fase etil asetat dan fase air, yang masing-masing dipekatkan dengan alat rotary evaporator dan penangas air. Skrining fitokimia dilakukan terhadap serbuk simplisia kulit buah manggis, ekstrak hasil maserasi dan berbagai fraksi ekstrak yang dihasilkan. Penapisan fitokimia yang dilakukan, meliputi penapisan fitokimia senyawa alkaloid, polifenol dan tanin, flavonoid dan xanton, monoterpen dan seskuiterpen, steroid dan triterpenoid, saponin, kuinon. Pemeriksaan dilakukan terhadap fraksi n-heksan, etil asetat dan air, untuk mengetahui keberadaan kandungan xanton yang akan diisolasi. Selain dengan metode penapisan fitokimia, proses pemeriksaan kandungan xanton dilakukan dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) serta penampak bercak sinar UV (254 nm, 366 nm), uap amonia, vanilin HCl dan AlCl 3 . Pada metode KLT digunakan fase diam silika gel GF 254, pengembang n-heksan - etil asetat (6 : 4). Isolasi dan pemurnian dilakukan terhadap fraksi yang diduga memiliki kandungan xanton. Isolasi dan pemurnian menggunakan kromatografi kolom, fasa diam silika gel kolom Art 7734 mesh 70 230 MERCK dan fase gerak nheksan - etil asetat (7 : 3). Silika gel ditimbang sebanyak 37 g dan sampel 1,8 g. Isolasi dilakukan dengan cara kering, yaitu dengan mengeringkan sampel

67

dengan penjerapnya. Kemudian sampel yang telah kering ditempatkan di atas penjerapnya pada sistem kromatografi kolom dan dielusi dengan fase geraknya. Fraksi-fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom diperiksa dengan

menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), menggunakan fase diam silika gel GF 254, pengembang n-heksan - etil asetat (7 : 3), serta penampak bercak sinar UV (254 dan 366 nm), uap amonia + sinar UV (254 dan 366 nm), AlCl 3 , vanilin asam sulfat dan H 2 SO 4 10 %. Fraksi-fraksi yang memiliki kandungan yang sama disatukan, kemudian fraksi yang memiliki bercak tunggal pada

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) disatukan untuk dilakukan analisis kemurniannya. Setelah disatukan, terhadap fraksi yang memiliki bercak tunggal dilakukan analisis kemurnian dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dua arah dan menggunakan berbagai penampak bercak ( uap amonia, AlCl 3 , vanilin asam sulfat, vanilin HCl, H 2 SO
4

10 %, sinar UV 254 dan 366 nm). Isolat yang

diperoleh kemudian diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometri UV dan kromatografi gas-spektroskopi massa (KG-SM).

HASIL DAN PEMBAHASAN Dihasilkan ekstrak metanol dari 1000 g serbuk simplisia kulit buah manggis, seberat 166,95 g dan nilai rendemen 16,70 %. Ekstrak kental yang dilarutkan dalam metanol dan ditambahkan dengan HCl 2 N menghasilkan warna coklat, kemudian dilakukan hidrolisis selama 60 menit menghasilkan warna merah darah. Hasil analisis ekstrak sebelum dan sesudah dihidrolisis menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan pengembang n-heksan - etil asetat (6 : 4), menunjukkan adanya perubahan pola bercak. Setelah hidrolisis, bercak mengalami perubahan nilai R
f

yang semakin kecil yang terlihat pada Gambar 1.

68

D
6

5 4

6 3

5 4 2 3 2 1

II

Gambar 1. Kromatogram lapis tipis ekstrak metanol sebelum dan sesudah hidrolisis dengan fase diam silika gel GF 254, pengembang n-heksan - etil asetat (6 : 4), penampak bercak sinar UV 366 nm (I : ekstrak sebelum hidrolisis, II : ekstrak setelah hidrolisis, A : garis awal, D : garis depan) Fraksi n-heksan yang dihasilkan berwarna kuning, fraksi etil asetat berwarna merah hati dan fraksi air berwarna merah kecoklatan. Berat dan rendemen fraksi fraksi yang dihasilkan dari 1000 g serbuk simplisia kulit buah manggis dapat dilihat pada Tabel 1 dan hasil penapisan fitokimia dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel I. Hasil Fraksinasi Ekstrak Metanol Kulit Buah Manggis
Fraksi n-heksan Etil asetat Air Berat (g) 0,3 1,2 13,24 Rendemen (%) 0,03 0,12 1,324

Tabel II. Hasil Penapisan Fitokimia


Golongan senyawa Serbuk simplisia +++ +++ +++ + Ekstrak metanol ++ ++ +++ ++ Fraksi nheksan + +++ Fraksi etil asetat ++ ++ +++ + Fraksi air + + + + + +

Alkaloid Polifenol Tanin Flavonoid / xanton Monoterpenoid / seskuiterpen Steroid + + Triterpenoid Kuinon ++ ++ + + Saponin + ++ Keterangan : - : reaksi negatif ; + : reaksi positif; ++ : reaksi positif kuat; +++ : reaksi positif sangat kuat

69

Hasil pemeriksaan fraksi dengan

KLT menggunakan pengembang n-

heksan - etil asetat (6 : 4), diperoleh 6 bercak pada fraksi n-heksan, pada fraksi etil asetat diperoleh 7 bercak, sedangkan pada fraksi air tidak mengalami pemisahan. Pada fraksi etil asetat, terdapat bercak yang diduga golongan flavonoid atau xanton yaitu bercak nomor 7 dengan nilai R
f

0,88 dengan

pengembang n-heksan - etil asetat (6 : 4). Bercak tersebut berwarna ungu pada sinar UV 254 nm dan berfluoresensi coklat kemerahan yang berubah menjadi fuoresensi kuning dibawah sinar UV 366 nm, hasil kromatogram dapat terilihat pada Gambar 2. Isolasi dan pemurnian dilakukan terhadap fraksi etil asetat kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.). Isolasi dilakukan dengan metode

kromatografi kolom dengan penjerap silika gel 60 mesh 70-230 MERCK dan pengelusi n-heksan - etil asetat (7 : 3). Fraksi-fraksi yang dihasilkan dari kromatografi kolom ditampung ke dalam vial. Kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan pengembang nheksan - etil asetat (7 : 3). Fraksi-fraksi yang memiliki pola yang sama disatukan, sehingga diperoleh 4 gabungan fraksi (A1, A2, A3, A4), pola kromatogram dapat terlihat pada Gambar 3.

D
6 5

D
X
7 6 4

3 2

4 1 3

II

III

Gambar 2. Kromatogram lapis tipis fraksi n-heksan (I), etil asetat (II) dan air (III), dengan fase diam silika gel GF 254, pengembang n-heksan - etil asetat (6 : 4), penampak bercak AlCl 3 dan sinar UV 366 nm (keterangan: (X) bercak yang akan diisolasi, (A) garis awal, dan (D) garis depan)

70

A1

A2

A3

A4

Gambar 3. Kromatogram gabungan fraksi A1, A2, A3 dan A4, dengan fase diam silika gel GF 254, pengembang n-heksan - etil asetat (7 : 3), penampak bercak AlCl 3 dan sinar UV 366 nm (Keterangan: (A) garis awal, (D) garis depan) Pada gabungan fraksi A1, terdapat satu bercak dan setelah diuji kemurniannya dengan KLT dua arah tetap menghasilkan satu bercak. Hal ini menunjukkan bahwa pada gabungan fraksi A1 telah diperoleh senyawa yang relatif murni yang kandungannya disebut GM II-1, pola kromatogram lapis tipis dua arah isolat GM II-1 dapat terlihat pada Gambar 4. Isolat GM II-1 berupa serbuk kuning. Identifikasi selanjutnya dilakukan terhadap isolat GM II-1 yang diduga senyawa golongan flavonoid atau xanton, pola kromatogram dapat terlihat pada Gambar 5.

II I Gambar 4. Kromatogram lapis tipis dua arah isolat GM II-1, dengan Fase diam : silika gel GF 254 (Keterangan : (A) titik awal, (I) Pengembangan I dengan n-heksan - etil asetat (7 : 3), (II) pengembangan II dengan kloroform metanol (9 : 1))

71

II

III

IV

Gambar 5. Kromatogram lapis tipis isolat GM II-1 dengan fase diam silika gel GF 254, pengembang n-heksan - etil asetat (7 : 3) (Keterangan penampak bercak : (I) Sinar tampak, (II) Sinar UV 254 nm, (III) Sinar UV 366 nm, (IV) Sinar UV 366 nm + AlCl3, (V) Sinar tampak + AlCl3) Dilakukan identifikasi terhadap isolat GM II-1 dengan menggunakan spektroskopi UV. Spektrum yang dihasilkan pada panjang gelombang 200-400 nm menunjukkan 4 puncak pada panjang gelombang: 241,5; 257,5; 317; 364,5 nm. Berdasarkan hasil kajian pustaka, pola spektrum isolat GM II-1 menunjukkan ciri dari senyawa golongan xanton (Harborne, 1987), hasil spektrum dapat terlihat pada Gambar 6. Spektrum massa yang dihasilkan dari isolat GM II-1 menunjukkan berat massa senyawa tersebut adalah 259. Gambar kromatogram kromatografi gas dan pola fragmentasi isolat GM II-1 dapat terlihat pada Gambar 7 dan 8.

Gambar 6. Spektrum UV isolat GM II-1 d n a lmd () k i l 4 , , e g n a a ma sma 2 15 nm; 257,5 nm; 317 nm; 364,5 nm

72

I n t e n s i t a s

Waktu retensi (menit) Gambar 7. Kromatogram Kromatografi Gas (KG) isolat GM II-1 (Keterangan: Intensitas terbesar terdapat pada waktu retensi 24,175 menit)

I n t e n s i t a s

m/e
Gambar 8. Pola fragmentasi spektrum massa isolat GM II-1 (Keterangan: waktu retensi 24,175 menit; berat molekul 259)

Bahan yang digunakan pada penelitian ini dalam bentuk serbuk simplisia. Bahan dikeringkan untuk menghilangkan kadar airnya, sehingga mencegah terjadinya pencemaran jamur, bakteri dan pencemaran lainnya. Kulit buah manggis memiliki kandungan air yang cukup banyak dan memiliki struktur kulit terluar yang sulit ditembus oleh sinar matahari, sehingga perlu dilakukan perajangan yang dapat mempercepat proses pengeringan. Proses pengeringan

73

dilakukan di udara terbuka, dengan sinar matahari yang tidak terlalu terik dan proses pengeringan dilakukan dengan pengawasan, agar bahan dapat kering secara merata hingga ke bagian dalamnya sehingga tidak terjadi perubahan kandungan kimia. Pada simplisia dilakukan proses penggilingan sampai menjadi serbuk simplisia yang siap digunakan untuk proses maserasi. Penggunaan dalam bentuk serbuk dilakukan agar luas permukaan simplisia terhadap pelarut pada proses maserasi menjadi lebih besar, sehingga penarikan metabolit-metabolit dapat lebih maksimal. Pelarut yang digunakan dalam proses maserasi adalah metanol - air (9 : 1) dan metanol - air (1 : 1), yang memiliki sifat relatif polar. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi penggunaan sistem pelarut tersebut, antara lain (1) Seperti halnya flavonoid, xanton dimungkinkan terdistribusi luas pada tumbuhan dalam bentuk glikosida, yang berikatan dengan suatu gula. Karena itu biasanya xanton dalam tumbuhan bersifat polar. Sesuai dengan hukum kelarutan like disolves like, artinya kelarutan akan terjadi bila memiliki sifat kepolaran yang sama; (2) Metanol merupakan pelarut yang universal, seperti halnya etanol yang dapat melarutkan metabolit-metabolit sekunder di dalam tumbuhan; (3) Pelarut

metanol relatif lebih murah dibandingkan pelarut etanol; (4) Kombinasi pelarut metanol - air (9 : 1) dan metanol - air (1 : 1), merupakan sistem pelarut yang direkomendasikan pada isolasi flavonoid (Harborne, 1987), dikarenakan xanton merupakan senyawa yang berhubungan dekat dengan flavonoid, maka sistem pelarut tersebut digunakan pada penelitian ini. Seperti halnya flavonoid, xanton umumnya terdistribusi luas pada tumbuhan dalam bentuk ikatan glikosida. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses hidrolisis yang berfungsi untuk memecah ikatan glikosida sehingga dihasilkan aglikon xanton. Proses hidrolisis dilakukan dengan cara hidrolisis asam dengan menggunakan HCl 2 N. Xanton biasanya terdapat sebagai xanton O-glikosida. Pada senyawa tersebut satu gugus hidroksi xanton (atau lebih) terikat pada suatu gula dengan ikatan hemiasetal yang tidak tahan asam. Hidrolisis asam digunakan untuk memecah ikatan O-glikosida tersebut. Proses hidrolisis dilakukan pada ekstrak metanol yang mengalami perubahan warna ekstrak dari coklat menjadi merah darah setelah dilakukan proses hidrolisis. Terdapat tiga kemungkinan golongan senyawa yang

74

menyebabkan perubahan warna tersebut, yaitu proantosianidin, flobafen dan turunan 4,4-bis-antosianidin. Ketiga senyawa tersebut menghasilkan warna merah pada pemanasan dengan asam (Robinson, 1995). Untuk menelaah profil fitokimia lengkap dari suatu jenis tumbuhan, maka perlu dilakukan fraksinasi untuk memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari golongan utama yang lainnya. Fraksinasi dilakukan pada ekstrak yang telah dihidrolisis dengan menggunakan pelarut n-heksan dan etil asetat. Penggunaan pelarut tersebut didasarkan atas peningkatan kepolaran. Dihasilkan 3 jenis fraksi berdasarkan pelarutnya, yaitu : n-heksan, etil asetat, dan air. Masing-masing fraksi dilakukan penapisan fitokimia, untuk mengetahui kandungan kimia pada fraksi tersebut. Senyawa yang akan diisolasi terdapat paling dominan pada ekstrak etil asetat yang diidentifikasi melalui reaksi positif pada penapisan fitokimia senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid dan senyawa xanton memiliki kaitan biogenesis dan memiliki hubungan dekat. Hal itu dapat dilihat dari kemungkinan biosintesis xanton yang berkaitan dengan flavonoid. Analisis kandungan flavonoid atau xanton juga dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), sebelum dilakukan isolasi. Pada teknik KLT digunakan pengembang n-heksan - etil asetat (6 : 4). Diduga flavonoid atau xanton terdapat pada ekstrak etil asetat, hal tersebut didasari atas terdapatnya bercak yang mengalami perubahan fluoresensi dari fluoresensi coklat kemerahan menjadi fluoresensi kuning dibawah sinar UV 366 setelah penyemprotan dengan pereaksi semprot AlCl 3 . Berdasarkan hasil penapisan fitokimia dan hasil KLT, maka isolasi dilakukan terhadap fraksi etil asetat. Isolasi menggunakan kromatografi kolom dengan diameter kolom 2 cm, tinggi 47 cm, fase diam silika gel 60 dan fase gerak n-heksan - etil asetat (7 : 3). Fraksi-fraksi hasil kromatografi kolom yang memiliki pola kromatogram lapis tipis yang sama digabungkan dan dihasilkan 4 gabungan fraksi (A1, A2, A3, A4). Deteksi terhadap gabungan fraksi A1, A2, A3, A4 dengan menggunakan KLT, pengembang n-heksan - etil asetat (7 : 3) dan penampak bercak AlCl 3 menunjukkan senyawa yang akan diisolasi terdapat pada fraksi A1. Hal tersebut didasari atas perubahan fluoresensi coklat kemerahan menjadi fluoresensi

75

kuning di bawah sinar UV 366 nm setelah dilakukan penyemprotan dengan AlCl 3 . Bercak tersebut merupakan bercak tunggal, untuk menguji kemurnian dari isolat tersebut dilakukan KLT dua arah menggunakan pengembang n-heksan etil asetat (7 : 3) dan kloroform - metanol (9 : 1), serta menggunakan berbagai penampak bercak , seperti uap amonia, AlCl 3 , vanilin asam sulfat, vanilin HCl, H 2 SO 4 10 %, sinar UV 254 dan 366 nm. Penggunaan berbagai penampak bercak tersebut dimaksudkan untuk mendeteksi keberadaan senyawa-senyawa lain yang terdapat pada gabungan fraksi A1. KLT dua arah tersebut menghasilkan bercak tunggal walaupun telah digunakan berbagai penampak bercak, sehingga tidak perlu dilakukan kromatografi kolom yang kedua. Setelah dikisatkan isolat GM II-1 berbentuk kristal kuning, kemudian dilakukan identifikasi dengan menggunakan spektrofotometri UV dan

Kromatografi Gas Spektroskopi Massa (KG-SM). Pada spektrum UV dihasilkan 4 puncak pada panjang gelombang 241,5; 257,5; 317; 364,5 nm, pola spektrum tersebut serupa dengan spektrum xanton, yaitu memiliki 4 puncak pada panjang gelombang 240, 258, 316, dan 364 nm (Harborne, 1987). KG SM menunjukkan bahwa isolat GM II-1 mempunyai berat molekul sebesar 259.

KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan isolat (GM II-1) pada fraksi etil asetat yang menunjukkan serapan maksimal pada panjang gelombang 241,5; 257,5; 317; 364,5 nm dan memiliki berat molekul 259. Senyawa tersebut diduga golongan xanton. Diharapkan dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui struktur kimia, jenis, serta pengujian aktivitas farmakologi dari senyawa tersebut. DAFTAR PUSTAKA Bruneton, J., 1999, Pharmacognosy Phytochemistry Medicinal Plants, Translated by Caroline K Hatton, 2nd edition, Lavoiser, France, pp 303-304 Chen, X. S., 1966, Active Constituent Against HIV-I Protease from Garcinia Mangostana L., Planta Med. 62 (3), pp 381-382 Harborne, J. B., 1987, Metode Fitokimi, Penerjemah : Kosasih Padmawinata, edisi kedua, ITB, Bandung, pp 94-95

76

Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia III, Penerjemah : Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Yayasan Sarana Wahajaya, Jakarta, pp 1385 1386 Markham, K. R., 1988, Cara Mengidentifikasi Flavonoid, Penerjemah : Kosasih Padmawinata, ITB, Bandung, pp 1 dan 4 Robinson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Penerjemah : Kosasih Padmawinata, Edisi VI, ITB, Bandung, pp 191-193 Sluis, W.G., 1985, Secoiridoids and Xanthones in The Genus Centaurium Hill (Gentianaceae), Drukkerij Elinkwijk bv, Utrecht, pp 109 114 Soedibyo, M., 1998, Alam Sumber Kesehatan, Balai Pustaka, Jakarta, pp 257 258 Tambunan, R. M., 1998. Telaah Kandungan dan Aktivitas Antimikroba Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.) [Thesis Magister Farmasi], Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, ITB, Bandung, pp 1 dan 40 Wijaya, A., et al., 2004. Development of Simple Harvesting Pole and Natural Beet Dying for Mangosteen, Denpasar, pp 1 11

77