Anda di halaman 1dari 12

PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP ANAK

DISUSUN OLEH : DITA PUTERI SETYANINGRUM H3111016

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN

Anak merupakan asset bangsa. Kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia bergantung pada kualitas anak-anak masa kini sebagai generasi pelanjut dalam mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Negara dimasa hadapan, bahkan dengan kualitas itu pula anak-anak dapat menjadikan Indonesia sebuah negara yang kuat, modern dan sejahtera. Menjadi negara kuat, modern dan sejahtera adalah dambaan setiap bangsa di dunia dan dapat terwujud manakala suatu bangsa mempunyai kualitas yang baik diberbagai bidang kehidupan, sehingga dapat dijadikan modal dalam persaingan antar negara bahkan memenangkan persaingan tersebut. Salah satu pondasi yang sangat penting untuk menjadikan Negara kuat, maju dan sejahtera adalah dengan menjadikan anak-anak sebagai asset masa depan. Sebagai komponen kemajuan bangsa anak-anak harus kita perhatikan dengan baik mulai dari kandungan, balita (bayi lima tahun), anak usia sekolah (remaja) dan mahasiswa serta pemuda. oleh karena itu penting bagi Pemerintah untuk dapat melindungi setiap hak-hak anak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, bebas dari kekerasan dan diskriminasi; identitas diri, berpikir dan berekspresi sesuai tingkat kecerdasan dan usianya melakukan aktivitas dimana pun dia berada. Namun pada kenyataanya banyak anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik maupun mental, yang termasuk didalamnya pelecehan atau kekerasan seksual terhadap anak. Kasus kekerasan seksual pada anak di Indonesia selama beberapa tahun ini meningkat dengan sangat tajam. Kasus ini meliputi 57 kasus perkosaan, 25 kasus sodomi, 27 kasus panca bulan, 6 dilacurkan, 9 kasus pelecehan seksual, ini terjadi di Jawa Barat. Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak

mencatat sebanyak 1.826 kasus kekerasan terhadap anak diseluruh daerah terjadi sejak Januari hingga Mei 2010 atau terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. 68 persen kekerasan seksual terhadap anak pelakunya adalah keluarga terdekat. Sementara pada 2008 kasus kekerasan anak tercatat sebanyak 1.626 dan mengalami peningkatan menjadi 1.891 pada 2009. Sedangkan data yang dihimpun dari Polda Jabar mengenai kasus-kasus perdagangan anak-anak untuk dijadikan sebagai pekerja sex di Indonesia jarang terungkap karena licinya sindikat perdagangan perempuan masih lemah dan korupnya lembaga penegakan hukum dinegeri ini serta masih lemah dan korupnya lembaga penekan hukum ini. Begitu pula dengan persetubuhan anak dibawah umur, para pelakunya diberi hukuman minimal 10 tahun. Tetapi di Amerika minimal (14-18 thun) digolongkan sebagai tindak perkosaan (statutory Rape).

BAB II LATAR BELAKANG MASALAH

Januari 2011 baru berjalan 15 hari, tapi kasus pelecehan seksual terhadap anak menelan 110 korban. Jumlah ini melonjak 300%, dibandingkan dengan jumlah kasus yang terpantau selama tahun 2010. Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA) mencatat tiga kasus terjadi di awal tahun 2011, dilakukan Sartono alias Toni (29) warga Cirebon yang menjual mainan anak-anak mencabuli 96 anak laki-laki di berbagai tempat di Jakarta, Kepulauan Seribu, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Bekasi, Bogor dan Kerawang.

Selain itu, kasus pelecehan seksual yang dilakukan Guru Agama di Pondok Ranji, dan kasus pencabulan yang dilaukan pria gaek, M. Sopian, di Jakarta Pusat. Total korbannya sebanyak 110 anak-anak yang mayoritas laki-laki.

"Beruntunnya kasus kekerasan seksual terhadap anak, mestinya menjadi perhatian serius semua kalangan. Orang tua harus jeli melihat perubahan prilaku anaknya. Karena biasanya tidak mudah bagi anak yang sedang berada dalam tekanan untuk bercerita terus terang," papar Ariest Merdeka Sirait, Ketua KNPA di Jakarta, Sabtu (15/1).

Perubahan prilaku, sambung dia, juga kerap diperlihatkan dengan sikap anak yang kerap membandingkan sikap orang tuanya dengan orang lain, perilaku menyendiri, mengalami mimpi buruk atau terbiasa melihat film atau gambar porno.

Jadi ada banyak gejala yang diperlihatkan anak yang mengalami perubahan. Karenanya setiap orang tua harus jeli menggali keterangan dari anaknya sendiri, dan tidak malah mendiamkan. Ajak anak untuk berkomunikasi, saran Ariest.

Ariest menilai untuk menghindari kasus serupa, para orang tua untuk mendidik pengetahuan tentang alat reproduksi. Pengenalan terhadap masalah itu penting dilakukan agar anak bisa mengambil sikap perlawanan ketika dijadikan target sasaran oleh orang yang berniat melakuka kejahatan seksual. http://beritabatavia.com/berita-5601--kasus-pelecehan-seksual-anak-naik-300.html

BAB III KAJIAN HAM

A. Pengertian HAM HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain sebagainya. Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM). Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseoarang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Menurut Deklarasi Universal Ham ( DUHAM ) terdapat 5 jenis hak asasi yang dimiliki setiap individu. Berikut pembagian bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia yang terkait dengan permasalahan diatas: 1. Hak asasi pribadi atau personal Right Jaminan minimum yang perlu ada untuk kebutuhan jasmani manusia seperti: - Hak untuk hidup - Hak perlindungan dan diskriminasi atas dasar gender - Hak warna kulit, ras, agama, bahasa - Hak pelarangan atas perbudakan

- Hak perlindungan atas tindakan kekerasan dan dari hukuman yang merendahkan martabat manusia, serta tindakan kurang manusiawi - Hak persamaan di depan hukum - Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pindah tempat - Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing 2. Hak Asasi Peradilan atau Procedural Rights - Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan - Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan penyelidikan di mata hukum.

3.3 Teori HAM 1. Teori Realitas Adanya sifat manusia yang menekankan self interest dan egoisme dalam dunia seperti anarkis, sehingga menimbulkan chaos tindakan tidak manusiawi diantara individu dalam memperjuangkan egoism dan self interestnya. Dengan demikian dalam situasi anarkis prinsip universalitas moral yang dimiliki setiap individu tidak dapat berlaku dan berfungsi. Untuk mengatasi situasi demikian negara harus mengambil tindakan berdasarkan power dan security yang dimilki dalam rangka menjaga kepentingan nasional dan keharmonisan social yang dibenarkan. Tindakan yang dilakukan negara ini tidak termasuk dalam katagori tindakan pelanggaran HAM oleh negara. 2. Teori Relativisme Kultural Nilai-nilai norma dan budaya bersifat partikultural (khusus), hal ini berarti bahwa nilai-nilai moral HAM bersifat local dan spesifik, sehingga berlaku khusus pada suatu Negara. Penerapan HAM lebih menekankan pada hak sipil dan hak kepemilikan pribadi (untuk negara maju). Penerapan HAM lebih menekankan pada hak ekonomi dan hak social (negara berkembang). Dan penerapan HAM lebih menekankan pada

hak penentuan nasib sendiri (self determination) dan pembangunan ekonomi (Negara terbelakang). 3. Teori Radikal Universalisme Semua nilai-nilai termasuk nilai HAM adalah bersifat universal dan tidak bisa dimodifikasi untuk menyesuaikan adanya perbedaan budaya dan sejarah suatu negara, nilai-nilai HAM berlaku untuk semua tempat dan di sembarang waktu serta dapat diterapkan pada masyarakat yang mempunyai latar belakang budaya dan sejarah yang berbeda. Dengan demikian pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai HAM berlaku sama dan bersifat universal bagi semua bangsa dan negara.

3.4 Undang-undang HAM Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa, setiap anak menjadi tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah dan Negara dalam mewujudkan hak anak untuk hidup, tumbuh kembang, berpartisipasi optimal, mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, mendapat identitas diri, memperoleh pelayanan dan fasilitas kesehatan serta jaminan sosial sesuai fisik, mental, spiritual, dan sosial, memperoleh pendidikan dan pengajaran dengan tanggungan biaya cumacuma untuk anak-anak kurang mampu dan terlantar, menyatakan pendapat, bermain dan berkreasi, membela diri dan memperoleh bantuan hukum, dan bebas berserikat dan berkumpul, termasuk kewajiban pemerintah mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak. BAB IV KAJIAN PEKERJA SOSIAL

4.1 Pekerja Sosial 4.1.1 Pengertian pekerja social Pekerjaan sosial adalah profesi pertolongan kamanusiaan yang tujuan utamanya adalah membantu keberfungsian sosial individu, keluarga dan masyarakat

dalam melaksanakan peran-peran sosialnya (Siporin, 1975; Morales dan Sheafor, 1989; Suharto, 1997). Para pekerja sosial, memiliki seperangkat pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai pertolongan yang diperoleh melalui pendidikan (perguruan tinggi). Seperti halnya profesi lain, misalnya kedokteran dan kependidikan, pekerjaan sosial terlibat dalam menjalankan program-program pembangunan nasional. Namun demikian, berbeda dengan kedokteran dan kependidikan yang concern dengan pembangunan sosial, pekerjaan sosial lebih memfokuskan diri kepada pembangunan kesejahteraan sosial. Agar mampu mengemban tugas profesionalnya, para calon pekerja sosial, yakni para mahasiswa jurusan kesejahteraan sosial, dibekali dengan ilmu dan metoda penyembuhan sosial (social treatment) yang umumnya meliputi terapi individu, kelompok dan masyarakat (Zastrow, 1985; Payne, 1991; DuBois dan Miley, 1992).

4.1.2 Metode pekerja social Berikut beberapa metode dalam praktek pekerja social yang dapat digunakan untuk permasalahan diatas: 1. Social case work Metode dalam peksos yang melaksanakan fungsi-fungsi pemberian bantuan khusus langsung kepada individu. 2. Social group work Metode dalam pekerja social yang melaksanakan fungsi pemberian bantuan khususnya kepada individu didalam kelompok. Fokus SGW: Penggunaan kelompok untuk praktik klinis dan ada juga yang hanya di fokuskan pada proses terapi. Empat sistem dasar yang ada pada metode pekerja sosial, yaitu: 1. 2. 3. Sistem client Sistem kegiatan Sistem pelaksana kegiatan

4.

Sistem evaluasi

4.1.3 Peran pekerja social Berikut peran-peran yang dapat dilakukan oleh pekerja social dalam menangani permasalah yang ada, diantaranya: 1. 2. 3. 4. Advocate Fasilitator Konselor Aktifis

BAB V KESIMPULAN

Fenomena pelecehan seksual pada anak banyak terjadi dimana-mana. Padahal anak merupakan harapan dari sebuah bangsa. Mengapa bisa terjadi fenomena demikian? Jika dikaitkan dengan teori Realitas dapat dikatakan bahwa permasalahan mengenai pelecehan seksual pada anak ini merupakan akibat dari sifat manusia yang menekankan self interest dan egoisme dalam dunia seperti anarkis, sehingga menimbulkan chaos tindakan tidak manusiawi diantara individu dalam

memperjuangkan egoism dan self interestnya. Dan untuk mengatasi situasi demikian negara harus mengambil tindakan berdasarkan power dan security yang dimilki dalam rangka menjaga kepentingan nasional dan keharmonisan social yang dibenarkan. Dan tentu tindakan yang dilakukan negara ini tidak termasuk dalam katagori tindakan pelanggaran HAM oleh Negara, justru sebagai bentuk perlindungan yang merupakan hak dari seorang individu yaitu perlindungan atas tindakan kekerasan yang tidak manusiawi. Sedangkan jika dikaitkan dengan Teori Relativisme Kultural dan Teori Radikal Universalisme dilihat dari sisi HAM. Permasalahn pelecehan seksual ini merupakan permasalahan HAM yang bersifat universal. Sehingga permasalahan ini

tidak sesuai dengan teori relativisme cultural. Mengapa demikian? Pada kenyataannya pelecehan seksual merupakan permasalahan yang tidak dibatasi oleh budaya tidak bisa dimodifikasi untuk menyesuaikan adanya perbedaan budaya dan sejarah suatu negara, nilai-nilai HAM berlaku untuk semua tempat dan di sembarang waktu serta dapat diterapkan pada masyarakat yang mempunyai latar belakang budaya dan sejarah yang berbeda, karena nilai-nilai moral HAM untuk permasalahan ini tidak bersifat local dan spesifik. Tentu semua tempat ataupun daerah menganggap bahwa pelecehan seksual pada anak merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Permasalahan tersebut merupakan pelanggaran HAM menyangkut hak sipil, hak social dan hak penentuan nasib sendiri. Dan jika dikaitkan dengan praktik pekerja social peran yang dapat dilakukan oleh pekerja social yaitu sebagai advocate, fasilitator, konselor dan aktifis. Pekerja social sebagai advocate dengan menjadi pendamping anak sebagai perantara untuk urusan hukum, sehingga klien dapat merasakan perlindungan hukum yang sudah seharusnya didapatkan sesuai dengan hak anak tersebut yaitu perlindungan secara hukum dan perlindungan dari kekerasan yang tidak manusiawi. Pekerja social sebagai fasilitator. Pekerja social berusaha memfasilitasi klien dengan mendekatkan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk menghilangi trauma ataupun untuk perbaikan keadaan pasca, penanganan ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode social group work. Selain itu penanganan dapat dilakukan pada orangtua dari si anak atau klien. Pekerja social melakukan pendekatan kepada orangtua agar mereka lebih menjaga anak dan mengetahui pola asuh yang baik untuk menangani trauma anak dan agar tidak terjadi kembali pelecahan seksual pada si anak dengan metode social group work. Sebagai konselor, pekerja social berusaha menghilangkan traumatic yang dialami oleh anak berupa teknik konseling secara individu dengan menggunakan metode social case work. Dan yang terakhir pekerja social dapat berperan sebagai aktifis yang menyerukan keadilan untuk pihak-pihak yang tertekan, karena permasalahan pelecehan pada anak ini bukan masalah yang terjadi sekali atau dua

kali. Permasalahan ini banyak terjadi. Sehingga dengan gerakan ini diharapkan pemerintah dan kepolisian mulai serius untuk menangani agar permasalahn in tidak berangsur lama dan terus berkelanjutan.