Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJ SP) meskipun baru dikenal pada awal tahun 1970-an, namun sebenarnya konsep CSR sudah dikemukakan oleh Howard R. Bowen pada tahun 1953 dalam karyanya Social Re sponsibilities of the Businessman (Caroll, 1999: 270 dalam Kartini: 2009:5) . Ol eh karenanya Carroll menyebut Bowen sebagai The Fathers of Corporate Social Respon sibility yang merumuskan konsep tanggung jawab sosial sebagai: The Obligations of businessman to pursue those policies, to make those decisions, or to follow t hose line of action which are desirable in term of the objectives and values of our society, Sebagaimana ditekankan oleh Bowen, kewajiban atau tanggung jawab so sial dari perusahaan bersandar kepada keselarasan dengan tujuan dan nilai-nilai dari suatu masyarakat. Keselarasan tujuan dan nilai-nilai masyarakat merupakan d ua premis dasar tanggung jawab sosial. Steiner and Steiner (1994: 105-110 dalam Kartini: 2009:5) memandang rumusan Bowe n mengenai tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh pelaku bisnis sebagai kelan jutan dari pelaksanaan berbagai kegiatan derma (Charity) sebagai wujud kecintaan manusia terhadap sesama manusia (philantrophy) yang banyak dilakukan oleh para pengusaha ternama pada akhir abad ke sembilan belas sampai periode tahun 1930-an . Pada awal tahun 1970-an, pembakuan konsep Corporate Social Recponsibility atau t anggung jawab sosial perusahaan (selanjutnya CSR atau TJSP digunakan secara si lmultan) mulai dibicarakan, pimpinan perusahaan terkemuka di Amerika dan para pe neliti membentuk Committe for Economic Development (CED). Salah satu pernyataan CED (1971) dalam Solihin (2008:20) yang dituangkan dalam laporan berjudul Social Responsibilities of Business Corporations menyebutkan Saat ini, sudah jelas bahwa istilah kontrak sosial antara masyarakat dan pelaku usaha telah mengalami peruba han yang subtansial dan penting. Pelaku bisnis dituntut untuk memikul tanggung j awab yang lebih luas kepada masyarakat dibanding waktu-waktu sebelumnya serta me ngindahkan beragam nilai-nilai manusia. Perusahaan diminta memberikan kontribusi lebih besar bagi kehidupan bangsa Amerika dan bukan sekedar memasok sejumlah ba rang dan jasa. Selanjutnya CED membagi CSR kedalam tiga tanggung jawab, pertama inner circle of responsibilities yaitu tanggung jawab perusahaan melaksanakan f ungsi ekonomi berkaitan produksi barang dan pelaksanaan kerja secara efisien ser ta pertumbuhan ekonomi, kedua intermediate circle of responsibilities yaitu tang gung jawab perusahaan meningkatkan konservasi lingkungan hidup, hubungan dengan karyawan, memberikan informasi produk yang jelas kepada konsumen serta perlakuka n yang adil terhadap karyawan ditempat kerja, ketiga outer circle of responsibil ities yaitu tanggung jawab perusahaan meningkatkan kualitas lingkungan sosial. Carroll (1979) membagi CSR ke dalam empat kategori yaitu: pertama economic respo nsibilities yaitu tanggung jawab perusahaan menghasilkan barang dan jasa bagi ma syarakat secara menguntungkan, kedua legal responsibilities yaitu tanggung jawab perusahaan mentaati hukum dan peraturan yang berlaku, ketiga ethical responsibi lities yaitu tanggung jawab perusahaan secara perorangan maupun secara kelembaga an melaksanakan etika bisnis dan discretionary responsibiities yaitu tanggung ja wab perusahaan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Pada tahun 1987, The World Commission on Environment and Development (dalam Soli hin, 2008: 26) memperkenalkan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainability development) yang didifinisikan sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuha n manusia tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhannya. World Commission on Environment and Development ini dibentuk untuk menanggapi keprihatinan peningkatan kerusakan lingkungan hidup dan sumber daya alam yang semakin cepat, oleh karena itu konsep ini dibangun diatas tiga pilar y ang saling berhubungan dan saling mendukung satu dengan yang lain yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan, sebagaimana ditegaskan kembali dalam The United Nations 2005 World Summit Outcome Document. Organisasi lain yang memberikan rumusan CSR sejalan dengan konsep sustai

nable development adalah The World Business Council for Sustainable Development, dan mendifinisikan CSR sebagai komitmen berkelanjutan dari para pelaku bisnis u ntuk berperilaku secara etis dan memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi, sementara pada saat yang sama menningkatkan kualitas hidup dari para pekerja da n keluargannya demikian pula masyarakat lokal dan masyarakat secara luas. Fokus kegiatannya mencakup hak asasi manusia, hak pekerja, perlindungan lingkungan, hu bungan dengan pemasok, keterlibatan masyarakat, hak-hak pemangku kepentingan ser ta pemantauan dan penilaian kinerja CSR. The Green Paper selanjutnya membagi CSR yang dilakukan perusahan keadala m dua katagori yaitu pertama internal dimension of CSR (mencakup manajemen sumbe rdaya manusia, kesehatan dan keselamatan kerja, adaptasi terhadap perubahan dan pengelolaan dampak lingkungan, serta sumber daya alam), kedua external dimension of CSR ( mencakup pemberdayaan komunitas lokal, mitra usaha yang mencakup para pemasok dan konsumen, hak asasi manusia, dan permasalahan lingkungan global). Perkembangan penting lainnya adalah implementasi ISO 26000 (standar inte rnational yang mengatur standar social responsibility). Menurut ISO ini, yang di maksud dengan social responsibility adalah tanggung jawab suatu perusahaan atas dampak dari berbagai keputusan dan aktivitas mereka terhadap masyarakat dan ling kungan melalui suatu perilaku yang terbuka dan etis yang: 1. konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; 2. memperhatikan ekspektasi para pemangku kepentingan; 3. tunduk kepada hukum yang berlaku dan kosisten dengan norma perilaku inte rnasional; 4. diintegrasikan ke dalam suatu bagian organisasi. Dalam standar ini, tanggung jawab sosial mencakup tujuh isu pokok yaitu: pengemb angan masyarakat, konsumen, praktek kegiatan institusi yang sehat, lingkungan, k etenagakerjaan, hak asasi manusia, dan tata kelola organisasi. Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak awal t ahun 1990-an. Beberapa perusahaan telah melakukan CSR, meskipun baru bersifat k egiatan sosial perusahaan (karitatif). Peraturan yang terkait dengan CSR secara umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tent ang Perseroaan Terbatas. Dalam Undang-Undang Nomor 25 tentang Penanaman Modal pasal 15 huruf b menyebutka n setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaa n dan dalam penjelasan pasal tersebut menyebutkan Yang dimaksud dengan tanggung ja wab sosial perusahaan adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesu ai dengan lingkungan, nilai, norma dan budaya masyarakat setempat. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroaan Terbatas, pasal 1 a yat 3 undang-undang ini menyebutkan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen perseroaan untuk berperan serta dalam perekonomian berkelanjutan guna m eningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi persero an sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Pasal 74 menyebu tkan: 1. ayat (1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung jawab sosial dan Lingkungan, 2. ayat (2) Tanggung jawab sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebag ai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran, 3. ayat (3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksu d pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undan gan dan 4. ayat (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung jawab sosial dan Lingk ungan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Dengan adanya peraturan ini, ayat (1) perusahaan yang tadinya hanya secara sukar ela melakukan kegiatan-kegiatan sosial dalam bentuk apapun, menjadi kewajiban ba hkan paksaan karena diatur secara hukum. ayat (2) mengatur perlakuan akuntansi

atas biaya tanggung jawab sosial sebagai beban biaya perusahaan, pertanyaan sel anjutnya yang timbul adalah, apakah berdasarkan peraturan perpajakan biaya-biaya tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak. Sementara itu, tanggung jawab sosial untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diatu r dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Da lam pasal 88 ayat (1) undang-undang ini menyebutkan: BUMN dapat menyisihkan seba gian laba bersihnya unuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaa n masyarakat sekitar BUMN. Ketentuan ini diperjelas melalui Peraturan Menteri Ne gara Badan Usaha Milik Negara Nomor Per 05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan B adan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan. Dalam pa sal 1 angka 6 tersebut bahwa Program Bina Lingkungan antara BUMN dengan Usaha Ke cil dilakukan dengan pemanfaat dana dari bagian laba BUMN. Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, pembiayaan CSR dianggarkan dan diperh itungkan sebagai biaya, sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 pembia yaan diambil dari bagian laba. Menurut Fajar (2010: 20-21) kedua macam sumber pembiayaan tersebut masih menimbulkan berbagai perdebatan. Pembiayaan yang bersumber dari anggaran operas ional dianggap tidak adil, sebab korporasi sudah diwajibkan untuk menyisihkan da na operasionalnya untuk kepentingan sosial. Adalah terasa lebih adil, jika kewaj iban CSR dibiayai oleh korporasi ketika sudah mendapat keuntungan. Dengan menyis ihkan sebagian laba dianggap tidak terlalu membebani korporasi. Namun hal ini me nyisakan pertanyaan, bagaimana jika korporasi tidak mendapatkan keuntungan, apak ah tidak melaksanakan CSR ? Sebaliknya, jika CSR dibiayai oleh sebagian keuntung an apakah tidak mengurangi harta kekayaan perusahaan atau hak pemegang saham ? Tetapi menurut Philip Kotler dan Nancy Lee dalam Fajar (2010:21), sumber pembia yaan CSR tidak menjadi masalah penting. Biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan CSR tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi korporasi. CSR dapat dijadikan instrument promosi. Selain itu CSR dapat menjadi bagian strategi korporasi untuk mendapatkan berbagai keuntungan (advantages) dan mengurangi resiko. Seperti yan g dijelaskan Shann Turnbull, yaitu Businesses that actively engage in Corporate Social Responsibility (CSR) can obtain competitive advantages, reduse operating risks, increase their sustainability and build a political constiutuency to supp ort their operations while providing a basis for reducing government regulations , regulators and the dead weight cost of government. Nurlela dan Islahuddin (2008) mengatakan bahwa pemikiran yang melandasi Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) yang sering dianggap inti dari etika bisnis adalah bahwa perusahaan tidak hanya mempunyai ke wajiban-kewajiban ekonomi dan legal (artinya kepada pemegang saham atau sharehol der) tetapi juga kewajiban-kewajiban terhadap pihak-pihak lain yang berkepenting an (stakeholder) yang jangkauannya melebihi kewajiban - kewajiban diatas. Tanggu ng jawab sosial dari perusahaan terjadi antara sebuah perusahaan dengan semua st akeholder, termasuk di dalamnya adalah pelanggan atau customer, pegawai, komunit as, pemilik atau investor, pemerintah, pemasok bahkan juga kompetitor. Pengambilan keputusan ekonomi hanya dengan melihat kinerja keuangan saja , saat ini sudah tidak relevan lagi. Eipstein dan Freedman (1994), dalam Anggrai ni (2006), menemukan bahwa investor individual tertarik terhadap informasi sosia l yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Informasi tersebut berupa keamanan dan kualitas produk serta aktivitas lingkungan. Selain itu mereka menginginkan info rmasi mengenai etika, hubungan dengan karyawan dan masyarakat. Menurut Sayekti dan Wondabio (2007) berbagai penelitian sebelumnya menu njukkan bahwa jumlah perusahaan yang melakukan pengungkapan informasi pertanggun gjawaban sosial (Corporate Social Responsibility) dalam laporan tahunannya semak in bertambah. Demikian juga dengan jumlah dan jenis informasi CSR yang diungkapk an semakin meningkat (Ernst & Ernst, 1978; Trotman, 1979; Kelly, 1981; Pang, 198 2; Guthrie, 1982; Gray, 1990; Gray et al, 1993; Sayekti, 1994). Banyak perusahaa n semakin menyadari pentingnya menerapkan program CSR sebagai bagian dari strate gi bisnisnya. Survey global yang dilakukan oleh The Economist Intelligence Unit menunjukkan bahwa 85% eksekutif senior dan investor dari berbagai organisasi men jadikan CSR sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan (Warta Ekonom i, 2006). Penelitian Basamalah dan Jermias (2005) menunjukkan bahwa salah satu a

lasan manajemen melakukan pelaporan sosial adalah untuk alasan strategis. Meskip un belum bersifat compulsory, tetapi dapat dikatakan bahwa hampir semua perusaha an yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta sudah mengungkapkan informasi mengenai C SR dalam laporan tahunannya dalam kadar yang beragam (Sayekti, 2006). 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang rmasalah yang telah diuraikankan diatas, maka permasa lahannya dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap pengung kapan tanggung jawab sosial perusahaan ? 2. Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap pengungkap an tanggung jawab sosial perusahaan ? 3. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan ta nggung jawab sosial perusahaan ? 4. Apakah kategori perusahaan (BUMN / Non BUMN) berpengaruh signifikan terh adap pengungkapan tanggung jawab sosial ? 5. Apakah struktur kepemilikan, ukuran perusahaan dan kategori perusahaan b erpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan ? 6. Apakah pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan berpengaruh signif ikan terhadap kinerja perusahaan ? 7. Apakah struktur kepemilikan, ukuran perusahaan, kategori perusahaan dan pengungkapan tanggung jawan social perusahaan berpengaruh signifikan terhadap ki nerja perusahaan ? 8. Apakah kinerja perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kompensasi m anajemen ? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah yaitu: 1. Untuk mengkaji dan menganalisis apakah kepemilikan institusional berpeng aruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung awab sosial perusahaan. 2. Untuk mengkaji dan menganalisis apakah kepemilikan manajerial berpengaru h signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. 3. Untuk mengkaji dan menganalisis apakah ukuran perusahaan berpengaruh sig nifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. 4. Untuk mengkaji dan menganalisis apakah kategori perusahaan (BUMN / Non B UMN) berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. 5. Untuk mengkaji dan menganalisis apakah struktur kepemilikan, ukuran peru sahaan dan kategori perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tang gung jawab sosial perusahaan. 6. Untuk mengkaji dan menganalisis apakah pengungkapan tanggung jawab sosia l perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. 7. Untuk mengkaji dan menganalisis apakah struktur kepemilikan, ukuran peru sahaan, kategori perusahaan dan pengungkapan tanggung jawan social perusahaan be rpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. 8. Untuk mengkaji dan menganalisis apakah kinerja perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kompensasi manajemen. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis : 1.4.1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap teori man ajemen, terutama dalam mengidentifikasi variable struktur kepemilikan perusahaan , ukuran perusahaan, kategori perusahaan dalam hubungannya dengan pengungkapan t angung jawab social perusahaan, kinerja perusahaan dan kompensasi manjemen. 1.4.2. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan dalam melaksan akan tanggung jawab sosial perusahaan dengan mempertimbangkan kinerja perusahaan .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori Tanggung jawab sosial perusahaan (TJSP), sering disebut juga den gan corporate social responsibility (CSR) adalah suatu konsep dimana perusahaan tidak saja memliki tanggung jawab terhadap pemegang saham atau shareholder (mema ksimumkan profit), melainkan memiliki tanggung jawab terhadap pemangku kepentin gan atau stakeholder (konsumen, karyawan, pemegang saham, masyarakat dan ling kungan yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan aspek operasion al perusahaan). Tanggung jawab ini bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi, tapi jug a tanggung jawab sosial dan lingkungan. Perusahaan semakin menyadari bahwa kelangsungan hidup perusahaan juga te rgantung dari hubungan perusahaan dengan masyarakat dan lingkungannya tempat per usahaan beroperasi. Hal ini sejalan dengan teori ligitimasi yang menyatakan ba hwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatannya be rdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelo mpok kepentingan untuk melegitimasi tindakan perusahaan. Jika terjadi ketidaksel arasan antara sistem nilai perusahaan dan sistem nilai masyarakat, maka perusaha an akan kehilangan legitimasinya, yang selanjutnya akan mengancam kelangsungan h idup perusahaan. Salah satu cara perusahaan untuk membangun, mempertahankan dan melegitim asikan keperdulian perusahaan dari segi ekonomi dan politis yaitu melalui pengu ngkapan informasi tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Respon sibility dalam laporan tahunan. 2.1.1. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Istilah Corporate Social Responsibility pertama kali diperkenalkan oleh Bowen pada tahun 1953 dalam tulisannya berjudul Social Responsibility of the Bus inessman. Menurut Bowen dalam Solihin (2009:1) para pelaku bisnis memiliki kewaj iban untuk mengupayakan suatu kebijakan serta membuat keputusan atau melaksanaka n berbagai tindakan yang sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai masyarakat. Sebaga imana ditekankan Bowen, kewajiban atau tanggung jawab social dari perusahaan ber sandar kepada keselarasan dan tujuan (objectives) dan nilai-nilai (value) masyar akat. Keselarasan tujuan dan nilai-nilai masyarakat ini merupakan dua premis d asar tanggung jawab sosial. 1. Premis pertama, perusahaan bisa ada dalam masyarakat karena adanya dukun gan masyarakat, oleh karena itu, perilaku perusahaan dan cara yang digunakan saa t menjalankan bisnis harus berada dalam bingkai pedoman yang ditetapkan masyarak at. Kontrak sosial (merupakan dasar legitimasi bisnis) inilah yang menjadi wahan a bagi perusahaan untuk menyesuaikan tujuan perusahaan dengan tujuan-tujuan masy arakat yang pelaksanaanya dimanifestasikan dalam bentuk tanggung jawab perusahaa n. 2. Premis kedua, yang mendasari tanggung jawab social adalah bahwa perilaku

bisnis bertindak sebagai agen moral (moral agent) dalam suatu masyarakat. Pembu at keputusan yang dilakukan pimpinan puncak di perusahaan senantiasa melibatkan pertimbangkan atau mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki manajemen puncak. Oleh sebab itu agar terjadi keselarasan antara nilai yang dimiliki perusahaan dan ma syarakat, maka perusahaan harus berprilaku sesuai dengan nilai-nilai masyarakat (dimensi etika dalam tanggung jawab sosial). Perkembangan lebih lanjut, dalam rangka memenuhi tanggung jawab social, perusahaan tidak cukup hanya bertanggung jawab pada pemegang saham (shareholder) saja akan tetapi kepada para pemangku kepentingan (stakeholder). Jones (1995) dalam Kartini (2009:8), mengklasifikasikan stakeholder ke dalam dua kategori, yaitu inside stakeholder dan outside stakeholder. 1. Para pemangku kepentingan di dalam perusahaan (inside stakeholders), ter diri dari orang-orang yang memiliki kepentingan da tuntutan terhadap sumber daya perusahaan serta berada di dalam organisasi perusahaan. Yang termasuk ke dalam kategori inside stakeholders adalah pemegang saham (shareholders), para manajer (managers), dan karyawan (employess). 2. Para pemangku kepentingan di luar perusahaan (outside stakeholders), ter diri dari orang-orang maupun pihak-pihak (constituencies) yang bukan pemilik per usahaan, bukan pemimpin perusahaan dan bukan pula karyawan perusahaan, tetapi me miliki kepentingan terhadap perusahaan dan dipengaruhi oleh keputusan serta tind akan yang dilakukan oleh perusahaan. Selain itu kelompok pemangku kepentingan in i dapat mempengaruhi perusahaan . Yang termasuk kedalam kategori outside stakeho lders adalah pelanggan (customers), pemasok (suppliers), pemerintah (government) , masyarakat local (local communites) dan masyarakat secara umum (general public ). Menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab social perusahaan didefinisi kan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan k ualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun un tuk pembangunan. Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut Sustainability Reporting. Sustainability Reporting adalah pelaporan meng enai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable developmen t). Sustainability Reporting meliputi pelaporan mengenai ekonomi, lingkungan dan pengaruh sosial terhadap kinerja organisasi (Anggraini, 2006). Sustainability report harus menjadi dokumen strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu , tantangan dan peluang Sustainability Development yang membawanya menuju kepad a core business dan sektor industrinya (Anggraini, 2006). Saat ini Sustainability Reporting banyak menggunakan standar Global Repo rting Initiative (GRI). Global Reporting Initiative (GRI) adalah sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak me nggunakan kerangka laporan keberlanjutan dan berkomitmen untuk terus-menerus mel akukan perbaikan dan penerapan di seluruh dunia (www.globalreporting.org). Stan dar ini menggunakan 6 (enam) indikator pengungkapan yaitu : 1. Indikator Kinerja Ekonomi (economic performance indicator) 2. Indikator Kinerja Lingkungan (environment performance indicator) 3. Indikator Kinerja Tenaga Kerja (labor practices performance indicator) 4. Indikator Kinerja Hak Asasi Manusia (human rights performance indicator) 5. Indikator Kinerja Sosial (social performance indicator) 6. Indikator Kinerja Produk (product responsibility performance indicator) 2.1.2. Teori Keagenan Jensen dan Meckling (1976) mendifinisikan bahwa hubungan keagenan sebag ai suatu kontrak yang mana satu atau lebih prinsipal (pemilik) menggunakan orang lain atau agen (manajer) untuk menjalankan aktivitas perusahaan. Dalam teori k eagenan, yang dimaksud dengan principal adalah pemegang saham atau pemilik, seda ngkan agen adalah manajemen yang mengelola harta pemilik modal. Principal menyed iakan fasilitas dan dana untuk kebutuhan operasi perusahaan, agen sebagai pengel

ola perusahaan dipercaya pemegang saham untuk meningkatkan kemakmuran pemegang s aham dengan meningkatkan nilai perusahaan. Sebagai kompensasinya agen memperoleh gaji, bonus dan kompensasi lainya. Teori keagenan sebagai suatu mekanisme kontrak antara principal dan agen . Prinsipal merupakan pihak yang memberikan mandat kepada agen untuk bertindak atas nama prinsipal, sedangkan agen merupakan pihak yang diberi amanat oleh pri nsipal untuk menjalankan perusahaan. Dengan demikian, kontrak kerja yang baik an tara prinsipal dan agen adalah kontrak kerja yang menjelaskan apa saja yang haru s dilakukan manajer dalam menjalankan pengelolaan dana yang diinvestasikan dan m ekanisme bagi hasil berupa keuntungan, return dan risiko-risiko yang telah diset ujui oleh kedua belah pihak. Teori keagenan mengasumsikan bahwa masing-masing in dividu termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga dapat menimbulkan k onflik antara prinsipal dan agen. Pihak prinsipal termotivasi mengadakan kontrak untuk mensejahterakan dir inya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Sedangkan agen termotivasi unt uk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologinya. Penyebab timbulnya konflik sebagai akibat keagenan karena para pengambil keputusan tidak menanggung resiko sebagai akibat adanya kesalahan dalam pengamb ilan keputusan bisnis, resiko tersebut sepenuhnya ditanggung oleh para pemegang saham. Konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham dapat diminimalkan melalui cara manajer diberi insentif atas tindakannya sesuai kepentingan pemegan g saham, tindakan manajer diawasi oleh pemegang saham atau didelegasikan kepada dewan komisaris. Masalah keagenan antara manajer dan pemegang saham pada banyak perusahaa n di Amerika Serikat telah diidentifikasi oleh Barle dan Means (1932) dalam Arif in (2007) sebagai akibat adanya perbedaan antara orang yang mengelola (manajer) dan yang memiliki perusahaan (pemegang saham). Manajer hanya memiliki porsi kep emilikan yang sangat kecil sehingga punya kecenderungan mengambil keputusan yang kurang sejalan dengan kepentingan pemegang saham dan pada saat yang sama masing -masing pemegang saham juga hanya memiliki porsi kepemilikan yang kecil sehingga mereka enggan melakukan pengawasan secara serius terhadap perilaku manajer. Po la kepemilikan perusahaan di Amerika Serikat memang cenderung menyebar (disperse d) sehingga dua kondisi di atas muncul. Di Indonesia, Arifin (2007) masalah agensi juga muncul pada perusahaanperusahaan yang sudah go public meskipun akar permasalahannya tidak sama dengan masalah agensi di Amerika Serikat. Sebagian besar perusahaan go public di Indone sia masih dimiliki secara mayoritas/dominan oleh keluarga pendiri perusahaan dan keluarga pendiri ini terlibat dalam manajerial perusahaan. Kondisi ini memuncul kan masalah agensi antara pemegang saham mayoritas, yang juga sebagai manajer pe rusahaan, dengan pemegang saham minoritas. Kurniawan dan Indriantoro (2000) dala m Arifin (2007), menengarahi bahwa struktur kepemilikan yang masih didominasi ke luarga menyebabkan perlindungan terhadap investor kecil masih lemah. 2.1.3. Teori Stakeholder Stakeholder atau pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang berkepent ingan terhadap perusahaan, dimana dapat mempengaruhi dan/atau dipengaruhi kegiat an operasional perusahaan. Konsep stakeholder tidak dapat dilepaskan perkembanga nnya dari adopsi pendekatan sistem kedalam teori manajemen (Kartini, 2009:7). Pe ngenalan terhadap konsep lingkungan organisasi perusahaan yang berkembang sejala n sejalan dengan berkembangnyha pendekatan system dalam manajemen, telah menguba h cara pandang manajer dan para ahli teori manajemen terhadap organisisi, teruta ma mengenai bagaimana seuatu organisasi perusahaan deapat mencapai tujuannya sec ara efektif. Melalui pengakuan terhadap berbagai elemen di lingkungan luar perus ahaan yang akan berpengaruh terhadap efektivitas pencapaian tujuan. Freeman (1984:46) dalam Kartini (2007:8), mendefinisikan stakeholder seb agai setiap kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan. Pada awalnya yang dimaksud dengan stakeholder men cakup pemegang saham (shareholders), para karyawan (employees) para pelanggan (c ustomers) para pemasok (suppliers) para pemberi pinjaman (lenders) dan mayarakat luas (society).

Post et,al, (2002) dalam Kartini (2009:8-9) membagi para pemangku kepentingan ke dalam dua kategori yakni: primary stakeholders dan secondary stakeholders. Para pemangku kepentingan utama (primary stakeholders) adalah berbagai pihak yang ber interaksi langung dalam aktivitas bisnis perushaan serta mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk melaksanakan tujuan utamanya yakni menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat. Yang termasuk kedalam katagori primary stakeholders adalah: a. Para pemegang saham (stockholders). b. Para karyawan (employee) c. Para pemasok (suppliers) d. Para kreditur (creditors) e. Para pelanggan (customers) f. Para pedagang besar dan eceran (wholesalers and retailers). Sedangkan yang dimaksud dengan para pemangku kepentingan sekunder (secon dary stakeholders) adalah orang-orang atau kelompok si dalam masyarakat yang dip engaruhi secara langsung maupun tidak langsung oleh berbagai aktivitas atau kepu tusan utama perusahaan. Yang termasuk kedalam kategori secondary stakeholder ada lah: a) Masyarakat secara umum (the general public) b) Komonitas local (local community) c) Pemerintah pusat dan daerah (federal state and local governments) d) Para pemerintahan asing (foreign governments) e) Kelompok aktivis social (social activist groups) f) Media g) Berbagai kelompok pendukung bisnis (business support groups) Pengakuan terhadap adanya berbagai stakeholders di luar pemegang saham ( stockholders) yang dapat mempengaruhi efektivitas pencapaian tujuan perusahaan t elah mengubah dimensi tanggung jawab sosial perusahaan dari tanggung jawab ekono mi semata-mata dalam bentuk maksimalisasi laba untuk kemakmuran para pemegang sa ham menjadi tanggung jawab kepada sejumlah stakeholders yang lebih luas. Menurut Riyadi (2008) teori pemangku kepentingan menekankan bahwa perus ahaan mempunyai tanggung jawab sosial yang menuntut dia harus mempertimbangkan s emua kepentingan pelbagai pihak yang terkena pengaruh dari tindakannya. Acuan p ertimbangan para manajer dalam mengambil keputusan dan tindakan bukan semata-mat a para pemegang saham, melainkan juga pihak lain mana pun yang terkena pengaruhn ya Teori pemangku kepentingan , menurut Donaldson dan Preston (1995) dalam Riyadi (2008) dapat digunakan dalam tiga cara: 1. Cara deskriptif atau empiris, di mana teori ini digunakan untuk menggamba rkan dan kadang menjelaskan karakteristik dan perilaku spesifik korporasi. Sifat pendekatan ini adalah deskriptif. 2. Cara instrumental, di mana teori ini digunakan untuk mengidentifikasi kai tan atau kurangnya koneksi antara manajemen pemangku kepentingan dan pencapaian sasaran korporasi tradisional (misalnya keuntungan, pertumbuhan, dll.). Sifat pen dekatan ini adalah preskriptif. Pendekatan instrumental melihat para pemangku ke pentingan sebagai alat (means) untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu menghasilkan keuntungan dan meningkatkan efisiensi. Para pemangku kepentingan hanya diperhati kan sejauh itu menunjang tujuan-tujuan lebih tinggi dari sebuah perusahaan yaitu maksimisasi keuntungan, keberlangsungan dan pertumbuhan. 3. Cara normatif, di mana teori ini digunakan untuk menginterpretasikan fung si perusahaan dan mengidentifikasi panduan moral atau filosofis yang harus diikuti b erkaitan dengan operasi dan manajemen perusahaan. Pendekatan ini tentu saja ber sifat normatif- preskriptif, dan karena itu kadang dikacaukan dengan pendekatan kedua. Pendekatan normatif melihat para pemangku kepentingan sebagai tujuan (end) . Di atas itu semua, sebuah pertanyaan penting menuntut untuk dijawab: pa ra pemangku kepentingan yang manakah yang paling signifikan dalam mempengaruhi pengambilan kebijakan dan tindakan dari dan oleh sebuah perusahaan ? Menurut Mit chell dkk (1977) dalam Branco dan Rodriguez (2007) terdapat tiga faktor yang mem pengaruhi perusahaan dalam memandang signifikansi pemangku kepentingan, yaitu ke kuasaan/kekuatan (power), legitimasi, dan urgensi. Meskipun ketiga hal tersebut

bersama-sama dan saling terkait dalam mempengaruhi pengambilan tindakan oleh se buah perusahaan, tetapi yang paling besar dari ketiganya adalah kekuasaan / keku atan. Kekuasaan/kekuatan yang dimaksudkan di sini adalah kekuatan nyata suatu pemangku kepentingan untuk melakukan tekanan dan tuntutan baik secara sosial, po litis, maupun hukum. Menurut Riyadi (2008), bisa terjadi bahwa suatu pemangku kepentingan mem iliki legitimasi (misalnya korban langsung semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur) dan memiliki urgensitas yang sangat tinggi (keadaan mereka sudah sa ngat membahayakan dari segi kelangsungan hidup) untuk melakukan penuntutan kepa da sebuah perusahaan, namun karena mereka tidak memiliki kekuasaan yang real (m isalnya mereka terpecah belah dalam memandang persoalan itu, bahkan ada yang men erima begitu saja hal tersebut sebagai sebuah bencana alam dan bukan bencana buata n manusia yang harus dituntut), maka perusahaan bisa enggan atau bahkan tidak ma u melaku- kan tindakan apa pun. Branco dan Rodriguez (2007) mengutip contoh kas us di Kanada dan Swedia 28 di mana perusahaan-perusahaan kehutanan lebih memprio ritaskan tuntutan para pemangku kepentingan yang memiliki kekuatan real ketimban g tuntutan yang hanya dilontarkan berdasarkan argumen etis atau tanggung jawab sosial belaka. Pandangan yang diuraikan di atas adalah apa yang disebut sebagai pandang an berkesadaran sosial (socially aware view) yang lebih dekat pada prinsip do no harm, yaitu prinsip moral minimalis di mana perusahaan tidak boleh melakukan ti ndakan yang merugikan kepentingan para pemangku kepentingan dalam menjalankan ak tivitasnya untuk mencapai tujuannya. Yang juga dekat dengan teori pemangku kepen tingan adalah perspektif aktivis sosial. Perspektif ini melihat bahwa perusahaan bertanggung jawab terhadap semua pemangku kepentingan lain jauh melampaui para pemegang saham. Perusahaan harus secara aktif mempromosikan kepentingan-kepent ingan sosial, bahkan ketika masyarakat tidak mengharapkannya atau menuntutnya. Menurut Lantos (2002) dalam Riyadi (2008), pandangan ini menuntut supaya perusahaan harus secara aktif terlibat dalam program-program yang bisa memperbai ki pelbagai kerusakan sosial, misalnya dengan menyediakan kesempatan kerja bagi semua orang, memperbaiki kondisi lingkungan, dan mempromosikan keadilan secara luas, walaupun hal itu menuntut biaya tinggi yang harus dikeluarkan oleh para pe megang saham. Perspektif ini lebih tampak berkarakter affirmative duties, yaitu kewajiban untuk secara proaktif dan positif melakukan kebaikan (beneficence). 2.1.4 Struktur Kepemilikan

Struktur kepemilikan adalah perbandingan antara jumlah saham yang dimili ki oleh orang dalam (insider) dengan jumlah saham yang dimiliki oleh investor. S truktur kepemilikan oleh beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapa i tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan. Hal ini disebabkan ole h karena adanya kontrol yang mereka miliki. Adapun struktur kepemilikan perusaha an dapat terdiri atas: 1. Kepemilikan institusional yaitu kepemilikan saham perusahaan oleh instit usi keuangan, seperti perusahaan asuransi, bank, dana pensiun dan asset manageme nt. Tingkat kepemilikan yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar sehingga dapat mengindikasikan kemampuan dalam memantau kinerja perusahaa n. 2. Kepemilikan manajerial yaitu kepemilikan saham oleh insider (manajerial) . Jensen dan Meckling (1976) menemukan bahwa kepemilikan manajerial berhas il menjadi mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan dari manajer dengan menye laraskan kepentingan-kepentingan manajer dengan pemegang saham. Sehingga permasa lahan keagenan dapat diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer dianggap se bagai seorang pemilik. Semakin meningkat proporsi kepemilikan saham manajerial m aka semakin baik kinerja perusahaan. 2.1.5. Kinerja Perusahaan Pentingnya pengukuran kinerja perusahaan dapat dijelaskan dengan teori k

eagenan dan teori pensinyalan sebagai berikut: 1. Teori keagenan menjelaskan bahwa hubungan agen (manajer) dengan prinsipa l (pemilik) sangat tergantung pada penilaian prinsipal terhadap kinerja agen. Ke wajiban agen adalah mengelola perusahaan untuk meningkatkan kekayaan pemilik per usahaan melalui pengembalian investasi yang memuaskan pemilik perusahaan. Baik buruknya kinerja akan berpengaruh terhadap kompensasi diterima oleh agen. Peng embalian investasi dapat diukur dengan banyak cara, mulai dari laba akuntansi, laba per lembar saham, dividen per lembar saham, hingga tingkat pengembalian sep erti return on equity (ROE), return on investment (ROI) atau return on assets (R OA). Laba bersih menunjukkan besarnya selisih antara penjualan perusahaan dikur angi dengan semua biaya-biaya untuk mendapatkan penghasilan tersebut. Laba per l embar saham adalah jumlah total laba bersih dibagi dengan jumlah saham yang bere dar. Nilai laba per lembar saham lebih mampu memberikan gambaran besarnya bagian laba yang dilaporkan tersebut relatif terhadap porsi saham yang dimiliki oleh s eorang pemegang saham. Gambaran yang lebih jelas lagi diberikan oleh membandingk an antara total bagian laba bersih yang dibagikan sebagai dividen dengan jumlah lembar saham yang beredar. ROI memberikan ukuran yang berbeda dari ketiga ukuran terdahulu. ROI seperti yang dijelaskan sebelumnya menyatakan nilai relatif bagi an laba bersih dibandingkan dengan total investasi yang ditanamkan oleh perusaha an. Nilai ROI menggambarkan pertumbuhan kekayaan perusahaan dalam bentuk pertumb uhan laba bersih selama satu periode 2. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham, sang at dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Pengeluaran investasi memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan (signaling theory). Dividen mengandung informasi atau sebagai isyarat akan prospek perusahaan. has il penelitian yang dilakukan oleh Asquith dan Mullins (1983), bahwa pengumuman m eningkatnya dividen telah meningkatkan return saham, dan dapat digunakan untuk m enangkal isu-isu yang tidak diharapkan perusahaan di masa mendatang. 2.2. Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai pengungkapan informasi sosial dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan informasi sosial dalam laporan keuangan tahunan pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar pada bursa efek Jakarta telah dilakukan oleh Anggraini dan Reni (2006). Penelitian menemukan bahwa hampir semua perusaha an mengungkapkan kinerja ekonominya dan sebagian besar juga sudah mengungkapkan tanggung jawabnya terhadap masyarakat, sedangkan pengungkapan kinerja lingkungan masih sangat minim. Penelitian Novita dan Djakman (2008), mengenai pengaruh struktur kepemil ikan terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial (csr disclosure) pada lapo ran tahunan perusahaan: studi empiris pada perusahaan publik yang tercatat di bu rsa efek indonesia tahun 2006 menemukan bahwa: pihak asing yang memiliki saham di perusahaan Indonesia cenderung tidak menuntut pengungkapan CSR yang luas dala m laporan tahunan, khususnya yang sesuai dengan indikator GRI. Kepemilikan inst itusi yang terdiri dari perusahaan perbankan, asuransi, dana pensiun, dan asset management di Indonesia belum mempertimbangkan tanggung jawab sosial sebagai sal ah satu kriteria dalam melakukan investasi, sehingga para investor institusi ini juga cenderung tidak menekan perusahaan untuk mengungkapan CSR secara detail (m enggunakan indikator GRI) dalam laporan tahunan perusahaan. Sedang variabel kon trol Ukuran Perusahaan (Size) berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial (CSR Disclosure) dalam laporan tahunan, variabel kontrol t ipe industri berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan tanggung jawab so sial dan variabel kontrol BUMN dan Non BUMN menunjukkan bahwa variabel BUMN tida k berpengaruh terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial. Ini berarti BUMN belum sepenuhnya menganggap penting pengungkapan tanggung jawab sosial perusaha an dalam laporan tahunan perusahaan. Belkaoui (1989) dalam Anggraini (2006), menemukan hasil (1) peng ungkapan sosial mempunyai hubungan yang positif dengan kinerja sosial perusahaan yang berarti bahwa perusahaan yang melakukan aktivitas sosial akan mengungkapka nnya dalam laporan sosial, (2) ada hubungan positif antara pengungkapan sosial d

engan visibilitas politis, dimana perusahaan besar yang cenderung diawasi akan l ebih banyak mengungkapkan informasi sosial dibandingkan perusahaan kecil, (3) ad a hubungan negatif antara pengungkapan sosial dengan tingkat financial leverage, hal ini berarti semakin tinggi rasio utang/modal semakin rendah pengungkapan so sialnya karena semakin tinggi tingkat leverage maka semakin besar kemungkinan pe rusahaan akan melanggar perjanjian kredit. Berbagai penelitian lain yang terkait dengan faktor-faktor yang mempeng aruhi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan menunjukkan adanya keanekara gaman hasil. Penelitian yang dilakukan oleh Yuniati Gunawan (2000), Muhammad Riz al Hasibuan (2001), dan Rahma Yuliani (2003), menunjukkan adanya hubungan yang s ignifikan antara size perusahaan dengan pengungkapan tanggung jawab sosial. Seme ntara penelitian Robert (1992), Davey (1982), tidak menemukan hubungan dari kedu a variabel tersebut. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, maka penulis ingin meneliti se jauh mana pengaruh struktur kepemilikan perusahaan, ukuran perusahaan, kategori perusahaan (BUMN / Non BUMN) terhadap pengungkapan tanggung jawab social perusah aan, kinerja perusahaan dan kompensasi manajemen (direksi dan dewan komisaris).

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS 3.1. Kerangka Proses Berpikir

Gambar 3.1

KERANGKA PROSES BERPIKIR 3.1.1. Struktur Kepemilikan Perusahaan Dalam perseroan terbatas, terdapat pemisahan antara kepemilikan dan pen gelolaan perusahaan. Hubungan antara pemilik dan pengelola dikenal sebagai kont rak keagenan. Prinsipal sebagai pemilik modal mengunakan agen untuk menjalankan aktivitas perusahaan. Prinsipal (pemegang saham) menyediakan fasilitas dan dana untuk kebutuhan operasi perusahaan, sedang agen (manajer) sebagai pengelola per usahaan, yang dipercaya oleh pemegang saham untuk meningkatkan kemakmuran dengan meningkatkan nilai perusahaan. Sebagai imbalannya agen memperoleh gaji, bonus d an kompensasi lainnya. Teori keagenan mengasumsikan bahwa masing-masing individu termotivasi ol eh kepentingan dirinya sendiri sehingga dapat menimbulkan konflik antara prinsip al dan agen. Pihak prinsipal termotivasi mengadakan kontrak untuk mensejahteraka n dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Sedangkan agen termotivas i untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologinya. Penyebab timbulnya konflik sebagai akibat keagenan karena para pengambil keputusan tidak menanggung resiko sebagai akibat adanya kesalahan dalam pengamb ilan keputusan bisnis, resiko tersebut sepenuhnya ditanggung oleh para pemegang saham. Konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham ini dapat diminimalkan mel alui cara manajer diberi insentif atas tindakannya sesuai kepentingan pemegang s aham dan tindakan manajer diawasi oleh pemegang saham. Dengan demikian, struktur kepemilikan dipercaya mempengaruhi kinerja perusahaan. Struktur kepemilikan adalah perbandingan antara jumlah saham yang dimili ki oleh orang dalam (kepemilikan manajerial) dengan jumlah saham yang dimiliki o leh investor (kepemilikan institusional). Struktur kepemilikan dapat diidentifik asi melalui faktor: a. Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pen gawasan yang lebih besar sehingga dapat mengindikasikan kemampuan dalam memantau kinerja perusahaan b. Tingkat kepemilikan manajerial semakin meningkat maka semakin baik kiner ja perusahaan. 3.1.2. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroa an Terbatas, tanggung jawab sosial perusahaan yang tadinya hanya sukarela beruba h menjadi kewajiban. Sementara itu, untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tang gung jawab sosial telah diatur dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan dipertegas dalam Peraturan Menteri Negara Badan Usa ha Milik Negara Nomor Per 05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Mil ik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan. Dalam perkembangannya, perusahaan mulai menyadari bahwa kelangsungan hid up perusahaan tergantung dari hubungan perusahaan dengan masyarakat dan lingkung annya. Hal ini sejalan dengan teori ligitimasi yang menyatakan bahwa perusahaa n memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatannya berdasarkan nil ai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentin gan untuk melegitimasi tindakan perusahaan. Jika terjadi ketidakselarasan antara sistem nilai perusahaan dan sistem nilai masyarakat, maka perusahaan akan kehil angan legitimasinya, yang selanjutnya akan mengancam kelangsungan hidup perusaha an. Dalam penelitian ini, informasi mengenai Corporate Social Disclosure Ind ex (CSDI) berdasarkan standar GRI (Global Reporting Initiative) yang terdiri da ri 3 (tiga) fokus pengungkapan yaitu faktor ekonomi, lingkungan dan sosial. Untuk mengetahui hubungan struktur kepemilikan terhadap pengungkapan tan ggung jawab sosial perusahaan, terdapat 2 (dua) faktor yang mempengaruhi yaitu: 1. Katagori BUMN dan Non BUMN Pada perusahaan BUMN tanggung jawab sosial diatur dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 dan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor Per 05/ MBU/2007, sedangkan pada perusahaan secara umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007.

2. Ukuran perusahaan Semakin besar ukuran perusahaan, semakin mendapat sorotan dari masyarakat oleh k arena itu perusahaan besar lebih banyak mengungkapkan informasi tanggung jawab s osialnya. Menurut Cowen et.al (1987) dalam Sembiring (2003), perusahaan besar me lakukan lebih banyak aktivitas yang memberikan dampak yang lebih besar terhadap masyarakat, kemungkinan mempunyai lebih banyak pemegang saham yang boleh jadi te rkait dengan program sosial perusahaan, dan laporan tahunan akan dijadikan sebag ai alat yang efisien untuk menyebarkan informasi ini. 3.1.3. Kinerja Perusahaan Teori keagenan menjelaskan bahwa hubungan agen (manajer) dengan prinsipa l (pemilik) sangat tergantung pada penilaian prinsipal terhadap kinerja agen. Ba ik buruknya kinerja perusahaan akan berpengaruh terhadap kompensasi diterima ol eh agen. Pengembalian investasi mencerminkan kinerja perusahaan yang dapat diu kur dari laba akuntansi, laba per lembar saham, dividen per lembar saham, tingka t pengembalian seperti return on equity (ROE), return on investment (ROI) atau r eturn on assets (ROA). Sedangkan kinerja perusahaan pasar modal diukur melalui h arga pasar saham dan tingkat deviden yang dibagikan. 3.2. Kerangka Konseptual

3.3. Hipotesis Berdasarkan kajian teori dan penelitian studi empiris maka hipotesis dir umuskan sebagai berikut: 1. Kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan t anggung jawab social perusahaan. 2. Kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tang gung jawab social perusahaan. 3. Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab social perusahaan. 4. Kategori perusahaan (BUMN / Non BUMN) berpengaruh signifikan terhadap pe ngungkapan tanggung jawab sosial. 5. Struktur kepemilikan, ukuran perusahaan dan kategori perusahaan berpenga ruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. 6. Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan berpengaruh signifikan te rhadap kinerja perusahaan. 7. Struktur kepemilikan, ukuran perusahaan, kategori perusahaan dan pengung kapan tanggung jawan social perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja p erusahaan. 8. Kinerja perusahaan berpengaruh signifikan tehadap kompensasi manajemen. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggambarkan pola hubungan yang mengungkapkan pengaruh s eperangkat variable terhadap variable yang lainnya, baik secara langsung maupun melalui variable lain sebagai variable moderating. Pola hubungan semacam ini dap at dianalisis dengan multiple regression analysis. Y1 = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 1 Y2 = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 4Y1 + 2 Y3 = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 4Y1 + 5Y2 + 3, dimana

Y1 = Pengungkapan tanggung jawa social X1 = Struktur kepemilikan X2 = Ukuran perusahaan X3 = Kategori perusahaa Y2 = Kinerja perusahaan Y3 = Kompensasi manajemen 4.2. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah perusahaan ter uka yang sahamnya tercata t di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang ergerak di i dang manufaktur dan menyajikan laporan keuangan tahunan serta mengungkapkan lapo ran tanggung jawa sosial perusahaan. 4.3. Tehnik Pengam ilan Sampel Pengam ilan sampel menggunakan metode purposive sampling, dengan kriteria pemili han sampel se agai erikut: 1. Sampel yang dipilih adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indon esia selama tahun 2008 2010. Alasan pemilihan tahun 2008 adalah karena pada tahun 2007 telah di erlakukan Un dang-Undang Repu lik Indonesia No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroaan Ter atas. Pasal 74 ayat 1 menye utkan ahwa Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya d i idang sum er daya alam waji melaksanakan Tanggung Jawa Sosial dan Lingkungan . Undang-Undang ini diundangkan pada tanggal 16 Agustus 2007 oleh karena sudah m endekati akhir tahun uku 2007, maka laporan keuangan perusahaan tahun terse ut dianggap elum mencerminkan kegiatan Tanggung Jawa Sosial Perusahaan selama sa tu periode tahun uku perusahaan. Oleh karena itu data penelitian yang digunaka n adalah laporan keuangan dimulai tahun 2008. 2. Perusahaan-perusahaan yang diam il menjadi sampel adalah perusahaan yang ergerak di idang manufaktur, karena perusahaan ini terkait secara langsung de ngan sum er daya alam dan lingkungan. 3. Perusahaan mengungkapkan laporan tanggung jawa sosial perusahaan (CSR) dalam laporan tahunan dan dapat diakses melalui we site Bursa Efek Indonesia (ww w.idx.co.id). 4.4. Sum er data Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan ta hunan perusahaan ter uka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia untuk tahun ya ng erakhir 31 Desem er 2008 sampai dengan tahun 2010. Data diperoleh dari laporan tahunan yang diakses melalui we site Bursa Efek Indo nesia (www.idx.co.id). 4.5. Teknik Analisis 4.5.1 Uji Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik ini ertujuan untuk mengetahui dan menguji kelayakan ata s model regresi yang digunakan dalam penelitian ini. Pengujian ini juga dimaksud kan untuk memastikan ahwa di dalam model regresi yang digunakan tidak terdapat multikolonieritas dan heteroskedastisitas serta untuk: 1. Uji Normalitas Uji normalitas ertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, data memilik i distri usi normal. Uji statistik yang digunakan untuk menguji normalitas dat a adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S), dengan melihat t ingkat signifikan 5%. 2. Uji Multikolinearitas Pengujian multikolinearitas ertujuan untuk menguji ada tidaknya hu ungan linear yang sempurna diantara varia le-varia el independen. Se agai aki at adanya mult ikolinearitas adalah koefisien regresinya tidak tertentu atau standar kesalahann ya tidak terhingga. Multikolinearitas dilihat dari nilai VIP ila kurang dari 10 dan nilai toleransi diatas 0,10, maka tidak terdapat gejala multikolenearitas d an se aliknya. 3. Uji Heterokedastisitas Pengujian Heteroskedastisitas ertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu o servasi ke o servasi yang lai n. Jika varian dan residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka dise

Keter ng n: : Corpor te Soci l Responsibility Disclosure Index perus h n j : dummy v ri ble : 1 = Jik item i diungk pk n 0 = jik item I tid k diungk pk n Nj : juml h item untuk perus h n j Deng n demiki n, 0 CSRIj 1

Y1 = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 1 Y2 = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 4Y1 + 2 Y3 = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 4Y1 + 5Y2 + 3, dimana Y1 = Pengungkapan tanggung jawa social X1 = Struktur kepemilikan X2 = Ukuran perusahaan X3 = Kategori perusahaa Y2 = Kinerja perusahaan Y3 = Kompensasi manajemen - 5=Koefisien Regresi E=Error Term 4.6. Identifikasi Varia el Varia el yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari varia le depen den, varia el independen, dan varia el moderating. 1. Varia el independen Varia el independen adalah varia el yang menjelaskan atau mempengaruhi varia el yang lain. Penelitian ini menggunakan varia el Struktur Kepemilikan se agai vari a el independen. 2. Varia el moderating Varia el moderating adalah varia el yang memperkuat atau memperlemah hu ungan la ngsung antara varia el independen dan varia el dependen. Dalam penelitian ini Uk uran Perusahaan dan Kategori perusahaan (BUMN dan Non BUMN) se agai varia el mod erating. 3. Varia el dependen Varia el dependen adalah varia el yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh varia el independen. Varia el dependen pada penelitian ini adalah pengungkapan tanggung jawa sosial, nilai perusahaan dan kompensasi manajemen. 4.7. Definisi Operasional Varia el

4.5.3

An lisis Regresi D t y ng tel h dikumpulk n di n lisis deng n menggun k n l t n lisis st tistik y itu n lis regresi line r berg nd (multiple regression n lysis) :

CSRIj Xij

ut Homoskedasitisitas dan jika er eda dise ut Heterokedatisitas. Model regresi yang aik adalah yang Homokedatisitas atau tidak terjadi Heterokedastisitas. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan meregresikan nilai a solute residual denga n varia le independennya. Ada tidaknya heterokedastisitas dapat diketahui dengan tingkat signifikan 5%. 4.5.2 An lisis Deskriptif An lisi deskriptif digun k n untuk menget hui tingk t pengungk p n t nggung j w b soci l perus h n. Pengungk p n inform si terk it deng n kegi t n t nggung men ggun k n indic tor GRI (Glob l Reporting initi tives). Indik tor GRI terdiri d r i 3 (tig ) focus pengungk p n, y itu ekonomi, lingkung n d n soci l seb g i d s r sust in bility. Pengukur n CSDI ini seperti y ng dil kuk n oleh S yekti d n Wo nd bio (2007), Novit d n Dj m n (2008), D hli (2008) d n Nurkhin (2009). Pengukur n CSDI ini menggun k n pendek t n dikotomi, seti p item d l m d ft r (c hecklist) d l m instrument peneliti n diberi nil i 1 jik diungk pk n, d n nil i 0 jik tid k diungk pk n. Sel njutny nil i seti p item dijuml hk n. Rumus perh itung n CSDI seb g i berikut:

1. Kepemilikan Institusional Kepemilikan saham perusahaan oleh institusi keuangan, seperti perusahaan asur ansi, ank. dana pensiun dan management assets. Diukur sesuai dengan proporsi ke pemilikan saham yang dimiliki oleh pemilik institusi terhadap jumlah saham yang eredar. Menurut Novita dan Djakman (2008), tingkat kepemilikan institusional yang tinggi ( le ih dari 5%) akan menim ulkan usaha pengawasan yang le ih esar oleh pihak investor institusional sehingga menghalangi peilaku opportunistic manajer. 2. Kepemilikan manajerial Kepemilikan saham perusahaan oleh insider (manajerial). Diukur sesuai dengan pro porsi kepemilikan saham oleh direksi dan dewan komisaris terhadap jumlah saham y ang eredar. Jensen dan Meckling (1976) menemukan ahwa kepemilikan manajerial erhasil menja di mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan dari manajer dengan menyelaraskan kepentingan-kepentingan manajer dengan pemegang saham. 3. Ukuran perusahaan Jumlah aktiva (log asset) yang dimiliki oleh perusahaan, hal ini dikarenakan pro xy terse ut mampu menggam arkan ukuran perusahaan, seperti yang dilakukan oleh S em iring (2005), Novita dan Djakman (2008), Nurkhin (2009). Menurut Sem iring (2005), perusahaan esar merupakan emiten yang anyak disoroti , pengungkapan yang le ih esar merupakan pengurangan iaya politis se agai wuju d tanggung jawa social perusahaan. 4. Kategori perusahaan (BUMN dan Non BUMN) Varia el ini mempunyai dampak kontijensi yang kuat pada hu ungan varia le strukt ur kepemilikan perusahaan dan varia le pengungkapan tanggung jawa sosial perusa haan. Hal ini dise a kan BUMN memiliki Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Mili k Negara NOMOR PER-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negar a Dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. Dalam peraturan ini ditegaskan ahwa BUMN waji meningkatkan perannya dalam keperdulian terhadap lingkungan da n pem inaan koperasi, usaha kecil dan menengah dalam program kemitraan. Pengukur an dilakukan dengan mem eri angka 1 (satu) untuk perusahaan yang masuk kategori BUMN dan angka 0 (nol) untuk perusahaan yang masuk kategori Non BUMN, seperti ya ng dilakukan Novita dan Djakman (2008). 5. Pengungkapan tanggung jawa social perusahaan Merupakan pengungkapan informasi terkait dengan kegiatan tanggung jawa social p erusahaan. Diukur melalui proxy Corporate Social Disclosure Index (CSDI) dengan menggunakan indikator GRI (Glo al Reporting initiatives). Indikator GRI terdiri dari 3 (tiga) focus pengungkapan, yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial se agai d asar sustaina ility. Pengukuran CSDI ini seperti yang dilakukan oleh Sayekti dan Wonda io (2007), Novita dan Djaman (2008), Dahlia (2008) dan Nurkhin (2009). 6. Kinerja perusahaan Pengem alian investasi mencerminkan kinerja perusahaan yang dapat diukur dari la a akuntansi, la a per lem ar saham, dividen per lem ar saham, tingkat pengem alian seperti return on equity (ROE), return on investment (ROI) atau return on assets (ROA). Sedangkan kinerja perusahaan pasar modal diukur melalui harga pasa r saham dan tingkat deviden yang di agikan. 7. Kompensasi manajemen Im alan yang di erikan oleh principal (pemegang saham) kepada agen (manajemen) a tas kepercayaan se agai pengelola perusahaan untuk meningkatkan kemakmuran denga n meningkatkan nilai perusahaan. Diukur sesuai dengan proporsi kompensasi direks i dan dewan komisaris terhadap asset perusahaan.

BAB V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1. Gam aran Umum O yek Penelitian 5.2. Deskripsi Varia el 5.3. Analisis Model dan Pem uktian Hipotesis 5.4. Pem ahasan Keter atasan Penelitian Dalam penelitian ini terdapat keter atasan, antara lain: 1. Sampel diam il pada perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dan laporan tahunannya dapat diakses melalui Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id). Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menampak jumlah sampel. 2. Periode penelitian hanya 3 tahun, yaitu dimulai laporan tahunan tahun u ku 2008 sampai dengan tahun 2010. Disarankan untuk peneliti selanjutnya mengam i l sampel untuk periode le ih dari 5 tahun, karena pengaruh tanggung jawa perusa haan terhadap citra perusahaan tidak erlaku secara langsung (seketika). 3. Penelitian ini hanya mengkhususkan pada perusahaan yang ergerak di ida ng manufaktur saja. Disarankan untuk peneliti selanjutnya meneliti perusahaan da ri er agai idang usaha, karena tanggung jawa perusahaan erlaku agi seluruh perusahaan.

BAB 6. SIMPULAN DAN SARAN 6.1. Simpulan 6.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko. 2007. Analisis Faktor-Faktor yang Memp engaruhi Kualitas La a dan Nilai Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi X. Ma kasar, 26 28 Juli. Anggraini, Fr. Reni Retno. 2006. Pengungkapan informasi sosial dan factor factor yang mempengaruhi pengungkapan informasi sosial dalam laporan keuangan tahunan ( studi empiris pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar Bursa Efek Jakarta). Maka lah disampaikan pada Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang, 23-26 Agustus. Arifin, Zaenal, 2007. Pengaruh Asymmetric Information Terhadap Efektifitas Mekan isme Pengurang Masalah Agensi, Sinergi, Kajian Bisnis dan Manajemen. Vol.9 No.2, Juni. Hal 167 177; ISSN 1410 9018. Barry, N.,2000 The Stakeholder Concept of Corporate Control Is Illogical and Im practical, The Independent Review, Vol. 6No. 4, , pp. 541-554. Branco, Manuel Castelo dan Lcia Lima Rodriguez,2007. Positioning Stakeholder Theor y within the De ate on Corporate Social Responsi ility, EJBO (Electronic Journal of Business Ethics and Organization Studies), Vol. 12, No. 1, pp. 5-15. Carroll, A. B.1979, A Three-Dimensional Conceptual Model of Corporate Social Per formance, Academy of Management Review, Vol. 4,No. 4, pp. 497-505. Carroll, A. B. 1991, The Pyramid of Corporate Social Responsi ility: Toward the Moral Management of Organizational Stakeholders, Business Horizons, Vol. 34No. 4, pp. 39-48. Donaldson, T. dan L. E. Preston, 1995, The Stakeholder Theory of the Corporatio n: Concepts, Evidence, and Implications, Academy of Management Review, Vol. 20 N o. 1, hlm. 65-91. Fajar ND, Mukti. 2010. Tanggung Jawa Sosial Perusahaan Di Indonesia, Studi Tent ang Penerapan Ketentuan CSR pada Perusahaan Multinasional, Swasta Nasional dan B UMN Di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Higgins, Ro ert C, 1996, Analisis Manajemen Keuangan, alih ahasa Gunawan dan Sus anti, Indira Pu lishing, Jensen, C, Michael and Meckling, W.H. (1976). Theory of the firm: managerial eh avior, agency costs, and ownership structure, Journal of Financial Economics, 3, 305-360. Kartini, Dwi. 2009. Corporate Social Responsi ility: Transformasi Konsep Sustain a ility Management dan Implementasi Di Indonesia, PT. Refika Aditama, Bandung. Laimona, Beria dan Fauzi, Aunul. 2008. CSR dan Pelestarian Lingkungan: Mengelola Dampak Positif dan Negatif, Indonesia Business Links, Jakarta. Nachrowi, D Nachrowi, 2006. Pendekatan Populer dan Praktis Ekonometrika Untuk An alisis Ekonomi dan Keuangan, Lem aga Pener itan Fakultas Ekonomi Universitas Ind onesia, Jakarta. Novita dan Djakman, Chaerul D. 2008. Pengaruh Struktur Kepemilikan terhadap Luas Pengungkapan Tanggung Jawa Sosial (csr disclosure) pada laporan Tahunan Perusa haan: Studi Empiris pada Perusahaan Pu lik yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia Tahun 2006. Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak, 22-22 Juni. Nurlela, Rika. Dan Islahuddin (2008). Pengaruh Corporate Social Responsi ility T erhadap Nilai Perusahaan Dengan Prosentase Kepemilikan Manajemen Se agai Varia e l Moderating (Studi Empiris Pada Perusahaasn Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakart a). Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak, 22 25 Juli. Riyadi, Eddie Sius, 2008. Landasan Teoritis agi Tanggung Jawa Sosial Perusahaa n: dari Pemegang Saham (Shareholder) ke Pemangku Kepentingan (Stakeholder), digi tas Volume V No.II. Sayekti, Yosefa dan Wonda io, Ludovicus Sensi. 2007. Pengaruh CSR Disclosure terh adap Earning Response Coefficient (Suatu Studi Empiris pada Perusahaan yang Terd aftar di Bursa Efek Jakarta). Makalah disampaikan pada Simposium Nasional Akuntan si IX, Makassar, 26-28 Juli. Sem iring, Eddy Rismanda. 2003. Kinerja Keuangan, Political Visi ility, Ketergan

tungan Pada Hutang, dan Pengungkapan Tanggung Jawa Sosial Perusahaan. Makalah d isampaikan pada Simposium Nasional Akuntansi VI. Sura aya, 16-17 Okto er. Sem iring, Eddy Rismanda. 2005. Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggu ng jawa Sosial Pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Jakarta. Simposium N asional Akuntansi 7, Solo 15-16 Desem er. Solihin, Ismail. 2009. Corporate Social Resposi ility: From Charity to Sustaina ility. Salem a Empat, Jakarta. Suhada, Sonny. Wi owo, Pamadi. Ginano, Katamsi, Jalal. Kadir, Irpan. Rahman, Tau fik. 2007. Mem umikan Bisnis Berkelanjutan: Memahami Konsep dan Praktik Tanggung Jawa Sosial Perusahaan. Indonesia Business Link, Jakarta. Suharto, Edi, 2009. Pekerjaan Sosial Di Dunia Industri: Memperkuat CSR (Corporat e Social Responsi ility) Alfa eta, Bandung. Surya, Indra dan Yustiavandana, Ivan. 2008. Penerapan Good Corporate Governance: Mengesampingkan Hak-Hak Istimewa Demi Kelangsungan Usaha. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. Susanto, A.B. 2009. Reputation-Driven Corporate Social Responsi ility: Pendekata n Strategic Management Dalam CSR. Esensi, divisi Pener it Erlangga, Jakarta. Wahyudin Zarkasyi, Moh. 2008. Good Corporate Governance: Pada Badan Usaha Manufa ktur, Per ankan, dan Jasa Keuangan Lainnya. Alfa eta, andung. Widjaja, Gunawan dan Ardi Pratama, Yeremia. 2008. Resiko Hukum dan Bisnis Perusa haan Tanpa CSR, Pene ar Swadaya, Jakarta. Yuniarsih, Ni Wayan dan Gede, Made Wirakusuma.2011. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan Corporate Social Responsi ility d an Good Corporate Governance Se agai Varia el Pemoderasi. Universitas Udayana. H htp://ejournal.unud.ac.id/a strak. Diakses tanggal 9 Fe ruari.

LAMPIRAN 1 Ta el Item-item Pengungkapan Tanggung Jawa Sosial Perusahaan KATEGORI Lingkungan 1 Pengendalian polusi kegiatan operasi; pengeluran riset dan pengem angan untuk pengurangan polusi 2 Pernyataan yang menunjukkan ahwa operasi perusahaan tidak mengaki atkan polusi atau memenuhi ketentuan hukum dan peraturan polusi 3 Pernyataan yang menunjukkan ahwa polusi operasi telah atau akan dikuran gi 4 Pencegahan atau per aikan kerusakan lingkungan aki at pengolahan sum er alam, misalnya, reklamasi daratan atau re oisasi 5 Konservasi sum er alam, misalnya mendaur ulang kaca, esi , minyak, air dan kertas 6 Penggunaan material daur ulang 7 Menerima penghargaan erkaitan dengan program lingkungan yang di uat per usahaan 8 Merancang fasilitas yang harmonis dengan lingkungan 9 Kontri usi dalam seni yang ertujuan untuk memperindah lingkungan 10 Kontri usi dalam pemugaran angungan sejarah 11 Pengolahan lim ah 12 Mempelajari dampak lingkungan untuk memonitor dampak lingkungan perusaha an 13 Perlindungan lingkungan hidup

Energi 1 Menggunakan energi secara le ih efisien dalam kegiatan operasi 2 Memanfaatkan arang ekas untuk memproduksi energi 3 Penghematan energi se agai hasil produk daur ulang 4 Mem ahas upaya perusahaan dalam mengurangi konsumi energi 5 Peningkatan efisiensi energi dari produk 6 Riset yang mengarah pada peningkatan efisiensi energi dari produk 7 Ke ijakan energi perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Tenaga Kerja 1 Mengurangi polusi, iritasi, atau risik dalam lingkungan kerja 2 Mempromosikan keselamatan tenaga kerja dan kesehatan fisik atau mental 3 Statistik kecelakaan kerja 4 Mentaati peraturan standar kesehatan dan keselamatan kerja 5 Menerima penghargaan erkaitan dengan keselamatan kerja 6 Menetapkan suatu komite keselamatan kerja 7 Melaksanakan riset untuk meningkatkan keselamatan kerja 8 Pelayanan kesehatan tenaga kerja Lain-lain Ketenaga Kerjaan 1 Perekrutan atau memanfaatkan tenaga kerja wanita/orang cacat 2 Persentase/jumlah tenaga kerja wanita/orang cacat dalam tingkat manageri al 3 Tujuan penggunaan tenaga kerja wanita/orang cacat dalam pekerjaan 4 Program untuk kemajuan tenaga kerja wanita/orang cacat 5 Pelatihan tenaga kerja melalui program tertentu di tempat kerja 6 Mem eri antuan keuangan pada tenaga kerja dalam idang pendidikan 7 Mendirikan suatu pusat pelatihan tenaga kerja 8 Bantuan atau im ingan untuk tenaga kerja yang dalam proses mengundurkan diri atau yang telah mem uat kesalahan 9 Perencanaan kepemilikan rumah karyawan 10 Fasilitas untuk aktivitas rekreasi 11 Presentase gaji untuk pensiun 12 Ke ijakan penggajian dalam perusahaan 13 Jumlah tenaga kerja dalam perusahaan 14 Tingkatan managerial yang ada 15 Disposisi staff dimana staff ditempatkan 16 Jumlah staff, masa kerja dan kelompok usia mereka 17 Statistik tenaga kerja, misal: penjualan per tenaga kerja 18 Kualifikasi tenaga kerja yang direkrut 18 Rencana kepemilikan saham oleh tenaga kerja 20 Rencana pem agian keuntungan lain 21 Informasi hu ungan manajemen dengan tenaga kerja dalam meningkatkan kepu asan & motivasi kerja 22 Informasi sta ilitas pekerjaan tenaga kerja dan masa depan perusahaan 23 Laporan tenaga kerja yang terpisah 24 Hu ungan perusahaan dengan serikat uruh 25 Gangguan dan aksi tenaga kerja 26 Informasi agaimana aksi tenaga kerja dinegosiasikan 27 Kondisi kerja secara umum 28 Reorganisasi perusahaan yang mempengaruhi tenaga kerja 29 Statistik perputaran tenaga kerja Produk 1 Pengem angan produk perusahaan, termasuk pengemasannya 2 Gam aran pengeluaran riset dan pengem angan produk 3 Informasi proyek riset perusahaan untuk memper aiki produk 4 Produk memenuhi standar keselamatan 5 Mem uat produk le ih aman untuk konsumen 6 Melaksanakan riset atas tingkat keselamatan produk perusahaan 7 Peningkatan ke ersihan/kesehatan dalam pengolahan dan penyiapan produk 8 Informasi atas keselamatan produk perusahaan 9 Informasi mutu produk yang dicerminkan dalam penerimaan penghargaan

10 Informasi yg dapat diverifikasi ahwa mutu produk telah meningkat (misal nya ISO 9000) Keterli atan Masyarakat 1 Sum angan tunai, produk, pelayanan untuk mendukung aktivitas masyarakat, pendidikan & seni 2 Tenaga kerja paruh waktu dari mahasiswa/pelajar 3 Se agai sponsor untuk proyek kesehatan masyarakat 4 Mem antu riset medis 5 Sponsor untuk konferensi pendidikan, seminar atau pameran seni 6 Mem iayai program easiswa 7 Mem uka fasilitas perusahaan untuk masyarakat 8 Sponsor kampanye nasional 9 Mendukung pengem angan industri lokal Umum 1 Tujuan/ke ijakan perusahaan secara umum erkaitan dengan tanggung jawa sosial perusahaan kepada masyarakat 2 Informasi erhu ungan dengan tanggung jawa sosial perusahaan selain yan g dise utkan di atas