Anda di halaman 1dari 22

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

A. BIOENERGETIK (TERMODINAMIKA BIOKIMIA) Bioenergetik adalah ilmu pengetahuan tentang perubahan energi yang menyertai perubahan reaksi biokimia. Bioenergetik hanya berhubungan dengan keadaan awal dan akhir dari komponen reaksi, tidak terhadap mekanisme atau waktu yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi kimia. Seluruh pengetahuan mengenai bioenergetik adalah berdasarkan 3 pernyataan yang disebut hukumhukum termodinamika. 1). Hukum Termodinamika I Biasanya juga disebut hukum kekekalan energi yang bunyinya sebagai berikut : Jumlah energi dalam suatu sistem yang terisolasi adalah tetap. Dengan kata lain, energi dalam suatu sistem dapat berubah dari bentuk satu ke bentuk lain, tapi ia takdapat dibuat atau dihilangkan. Energi ialah kemampuan mengadakan kerja . Perubahan energi dalam ini terjadi bila : 1 . suatu sistem melakukan kerja atau kerja dilakukan pada sistem tersebut . 2 . suatu sistem mengabsorpsi panas atau mengeluarkan panas U = q - w U : perubahan energi dalam sistem q : kalor ;(+) energi dalam sistem; (-) sistem w : usaha ;(+) sistem menerima kerja melakukan kerja energi (-) dilepas sistem

2). Hukum temodinamika II Hukum termodinamika II berbunyi Entropi total sebuah sistem harus meningkat bila proses ingin berlangsung spontan.

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Dengan kata lain , selalu terdapat peningkatan entropi pada setiap proses yang terjadi secara spontan. Maksudnya, semua perubahan kimia/fisika cenderung berjalan menuju arah sedemikian rupa sehingga energi yang bermanfaat terurai secara ireversibel akan diubah menjadi energi panas. G = H - TS

: Perubahan energi bebas o akan melepas energi (eksogenik) apabila bernilai (-) o akan menyerap energi (endogenik) apabilla bernilai (+) H : Perubahan entalpi (ukuran perubahan panas dalam reaktan dan produk) T : Temperatur Absolut dalam Kelvin (0K) : 0K = 0C +273 S : Perubahan Entropi (ukuran perubahan ketidakteraturan atau acak dari reaktan dan produk) Nilai dari perubahan energy bebas (free energy change) dapat digunakan untuk memprediksi jalannya suatu reaksi dalan temperature dan tekanan yang konstan. Didasarkan pada reaksi : A B a) G bernilai negatif : Jika G bernilai negatif, berarti melepaskan energy, dan reaksi berjalan spontan, A dirubah menjadi B, seperti pada gambar (a). Reaksi ini disebut exergonik. b) G bernilai positif : Jika G bernilai positif, berarti menerima energy, dan reaksi tidak berjalan spontan dari B ke A, seperti pada gambar (b). Reaksi ini disebut reaksi endergonik, dan energy harus ditambahkan kedalam sistem untuk membuat reaksi dari B ke A. c) G bernilai nol : Jika G = 0, reaktan berada dalam keseimbangan. Catatan : ketika reakdi berjalan dengan spontan yaitu energy bebas dilepaskan lalu reaksi berlanjut sampai G mencapai nol dan terbentuk suatu keseimbangan.

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Energy bebas (G)

Energy bebas (G)

G negatif
B Proses reaksi (a ) B

G positif

Proses reaksi (b )

Gambar : perubahan energy bebas (G) selama reaksi. (a) produk memiliki energy bebas yang lebih sedikit daripada reaktan. (b) produk memiliki energy bebas yang lebih banyak daripada reaktan. (Lippincotts Illustrated Reviews : Biochemistry, 3rd Edition) 3). Hukum termodinamika III Hukum termodinamika III berbunyi, tercapai.

Nol

Absolut

tidak

pernah

Termodina mika

Metabolis me

Anabolime (memperoleh energi bebas ; endergonik)

Katabolisme (menghasilkan energi bebas ; eksergonik) 10

Gambar : Termodinamika dalam metabolism mahluk hidup.

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Anabolisme : reaksi perubahan ikatan kimia yang sederhana menjadi ebih kompleks yang membutuhkan energy. Contoh : asam amino sintesis protein baru glukosa + fruktosa sukrosa Katabolisme : reaksi perubahan ikatan kimia yang kompleks menjadi yang lebih sederhana yang melepaskan / menghasilkan energi. Contoh : glikolisis dekarboksilasi oksidatif siklus krebs B. REAKSI REDUKSI DAN OKSIDASI (REDOKS) Oksidasi merupakan proses pelepasan elektron, sedangkan reduksi merupakan proses penangkapan elektron. Untuk memudahkan dalam memahami oksidasi dan reduksi, perhatikan table dibawah. Oksidasi Reduksi 1. Pengikatan dengan oksigen 1. Pelepasan oksigen (O2) (O2) 2. Pengikatan Hidrogen 2. Pelepasan Hidrogen 3. Menangkap elektron 3. Pelepasan elektron 4. Penurunan bilangan oksidasi 4. Peningkatan bilangan oksidasi Reaksi reduksi oksidasi (redoks) adalah reaksi yang meliputi transfer elektron dari reduktor(pereduksi, substansi yang mengalami oksidasi) kepada oksidator (pengoksidasi; substansi yang mengalami reduksi). Contoh reaksi redoks : Oksidasi Reduksi Reaksi Keseluruhan : Zn Zn2+ + 2e Cu Zn2+ + Cu

: Cu2+ + 2e- : Zn + Cu2+

Donor Elektron, merupakan : 1. Substansi yang melepas elektron 2. Substansi yang dioksidasi 3. Juga disebut agen pereduksi / reduktor Contoh donor elektron adalah : Fe2+ Fe3+ + 1eLaporan Kasus | Aspirin Intoxication

10

Sedangkan Penerima Elektron, merupakan : 1. Substansi yang menangkap elektron 2. Substansi yang direduksi 3. Disebut juga agen pengoksidasi / oksidator Contoh penerima elektron adalah : Fe3+ + 1e- Fe2+ H+ + 1e H2 Acetaldehyde + 2H+ +2e Ethanol C. RADIKAL BEBAS DAN ANTIOKSIDAN 1). Radikal Bebas Radikal bebas didefinisikan sebagai atom atau molekul yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Kecenderungan untuk selalu memperoleh atau menerima elektron dari substansi lain, menjadikan radikal bebas ini bersifat reaktif. Sehingga dapat menyebabkan kerusakan sel, berkurangnya kemampuan adaptasi sel, sampai kematian sel. Biasanya suatu radikal bebas diberi simbol dengan sebuah titik yang menggambarkan elektron yang tidak berpasangan. Contoh dari radikal bebas itu sendiri adalah: 1. Superoksida O2 2. Hidroksil OH 3. Alkoksil RO 4. Peroksil ROO Radikal bebas terjadi melalui sederetan mekanisme reaksi. Reaksi radikal bebas merupakan rekasi rantai yang terdiri dari: 1. Inisiasi : pembentukan awal radikal bebas 2. Propagasi : terbentuknya radikal bebas baru 3. Terminasi : pembentukan radikal bebas stabil dan tak reaktif Adapun sumber dari radikal bebas adalah : a. Berasal dari dalam tubuh : Dapat dihasilkan dari autoksidasi, oksidasi enzimatik, fagositosis dalam respirasi, transfor elektron di mitokondria, peroksida lipid, dan oksidasi ion-ion transisi. b. Berasal dari luar tubuh : Dari sinar UV, polusi lingkungan ( asap rokok, asap kendaraan bermotor, radiasi), dan dari obat-obatan. Terdapat pula insiator radikal bebas dan inhibitor radikal bebas. Insiator radikal bebas adalah zat yang menyebabkan pembentukan Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

10

radikal bebas, contohnya cahaya dan peroksida. Sedangkan inhibitor radikal bebas adalah zat yang membentuk radikal bebas tak reaktif, contohnya fenol. Radikal bebas berperan dalam terjadinya berbagai penyakit. Hal ini disebabkan karena radikal bebas adalah spesi kimia yang memiliki pasangan elektron bebas dikulit terluarnya sehingga rektif dan mampu bereaksi dengan protein, lipid, karbohidrat dan DNA. Reaksi radikal bebas dengan molekul ini menyebabkan pada timbulnya suatu penyakit. 2). Antioksidan Antioksidan didefinisikan sebagai inhibitor yang bekerja menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif untuk membentuk radikal bebas yang tak reaktif dan relative stabil. Macam-macam dari antioksidan : a. Antioksidan enzim, terdiri dari : 1. Antioksidan preventif : antioksidan yang mengurangi kecepatan inisiasi (permulaan) rantai reaksi. Contohnya : enzim katalase ( yang berfungsi mengubah hydrogen peroksida menjadi air dan oksigen) serta peroksida lain yang berikatan dengan ROOH dan zat-zat khelasi ion logam seperti DTPA (dietilenetriaminepentaasetat) serta EDTA ( etilenediaminetetraasetat) 2. Antioksidan pemutus rantai : antioksidan yang memotong reaksi berantai yang menangkap radikal bebas. Contohnya : enzim superoksida dismutase yang berperan dalam melawan radikal bebas pada mitokondria, sitoplasma dan bakteri aerob dengan mengurangi bentuk radikal bebas superoksida. b. Antioksidan vitamin. Contohnya vitamin A, -karoten, vitamin C, dan vitamin E (sumber anti oksidan yang kerjanya mencegah lipid peroksida dari asam lemak tak jenuh dalam memran sel). Sumber antioksidan : sereal, biji-bijian, sayur dan buah-buahan. D. Transfer Elektron dan Fosforilasi Oksidatif Fosforilasi Oksidatif merupakan proses dimana ATP dibentuk sebagai hasil dari transfer elektron dari NADH atau FADH2 kepada O2 dengan rangkaian transfer elektron. Baik transfer elektron maupun fosforilasi oksidatif bertempat di inner membran mitokondria.

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Gambar : Struktur mitokondria

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Rangkaian Transfer Elektron


Complex I NADH dehydrogenase FMN Fe-S centers

Complex II

Succinate dehydrogenase FAD (covalent) Fe-S centers b-type heme

NADH: ubiquinone (Q) oxidoreductase

Succinate: ubiquinone (Q) oxidoreductase UQ/UQH2 pool

Complex III

Cytochrome bc1 complex 2 b-type hemes Rieske Fe-S center c-type heme (cyt c1)

Ubiquinol (QH2): cytochrome c oxidoreductase

Cytochrome c

Complex IV O2 Cytochrome aa3 complex 2 a-type hemes Cu ions Cytochrome c oxidase H2O

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

1). Complex I: NADH-Ubiquinone Oxidoreductase Complex I, sering disebut NADH dehydrogenase, transfer elektron dari NADH ke ubiquinone (coenzim Q). Oksidasi NADH dimulai dengan transfer dua elektron dan dua proton dari NADH + H + ke FMN, flavin mononucleotide, mengandung riboflavin moiety (vitamin B2), yang memiliki ikatan yang kuat ke satu subunit. NADH + H+ + FMN NAD+ + FMNH2 Elektron kemudian ditransfer melalui susunan dari jenis FeS centers, 2Fe2S dan 4Fe4S, ke ubiquinone. Disini, FMN sebagai dua aseptor elektron dari NADH dan satu donor elektron ke FeS centers. Ubiquinone juga sebagai satu atau dua aseptor elektron dan dapat berperan mentransfer elektron dari complex I dan complex II ke complex III. Selama mentransfer dua elektron ke ubiquinone oleh complex I, 4 proton juga dipompa dari sisi matrix (N untuk negatif) ke sisi cytosolic (P untuk positif) pada inner membran. Energi dilepaskan selama reaksi oksidatif yang dipacu oleh perpindahan proton melintasi membran. 2). Complex II: Succinate-Ubiquinone Oxidoreductase Complex II dikenal dengan succinate dehydrogenase, yang mengandung ikatan kovalen FAD ke residu histidin yang mengandung tiga iron-sulfur centers dan dua protein hidropobik kecil. Pada oksidasi succinate menjadi fumarate, dua elektron dan dua proton ditransfer ke FAD. FADH2 mentransfer elektron ke ubiquinone melalui FeS centers dari complex II dengan reaksi: Succinate fumarate + 2H+ + 2eUQ + 2H+ + 2e UQH2 (Keseluruhan ) Succinate + UQ fumarate + UQH2 0 E = 0.029V; G0 = -5.6 kJ mol-1 Jumlah energi bebas dalam reaksi ini tidak cukup untuk memompa empat proton melintasi membran. 3). Complex III: Ubiquinol-Cytochrome c Oxidoreductase Complex III, atau cytochrome bc1 complex mengkatalis transfer elektron dari ubiquinol ke cytochrome c dengan translokasi proton melintasi membran. Pada mamalia enzim complex ini terdiri dari 11 subunit yang tiga diantaranya memiliki kelompok prostetik yang bekerja sebagai redox centers. Yaitu cytochrome b yang mengandung dua heme, cytochrome c1 yang mengandung satu kelompok heme dan Rieske iron-sulfur protein yang mengandung kelompok 2Fe2S. Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

10

4). Complex IV: Cytochrome c oxidase Complex IV mentransfer elektron dari cytochrome c ke O 2, terminal aseptor elektron, menjadi bentuk water coupled untuk translokasi proton melintasi membran. Pada complex mamalia terdiri dari 13 subunit yang mengandung dua cytochrome, a dan a3, dan dua copper centers, dikenal sebagai CuA dan CuB. Cytochrome c oxidase yang lebih simpel hanya mengandung tiga atau empat subunit, yang mengkatalis transfer elektron dan reaksi memompa proton yang ada dalam bacterial membran. 5). Complex V : Fosforilasi Oksidatif Yaitu komplek ATP sintase, terjadi pembentukan ADP + P i menjadi ATP. Dimana proton proton yang dihasilkan oleh komplekkompleks menuju inter membrane space masuk ke dalam ATP sintase dengan bantuan elektrikal gradien. Elektrikal gradien ini membuat proton-proton yang berada di inter membrane space kembali lagi masuk ke dalam matriks melalui inner mitokondria yaitu ATP sintase

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Gambar : Tranfer elektron dan fosforilasi oksidatif yang terjadi dalam inner membran mitokondria; ATP dihasilkan dengan pemanfaatan perbedaan gradient muatan dan konsentrasi; H+ masuk ke matrix mitokondria dari intermembran mitokondria melalui ATP sintase menghasilkan ATP.

E. ASPIRIN Aspirin merupakan salah satu obat anti inflamasi nonsteroid, yang umum dipakai. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk mengaktivasi atau merusak organism yang menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur derajat perbaikan jaringan. Jika penyembuhan lengkap, proses peradangan biasanya reda. Namun, terkadang inflamasi terjadi oleh suatu zat yang tidak berbahaya seperti tepung sari, atau oleh suatu respon imun, seperti asma atau arthritis rematoid. Pada kasus seperti ini, reaksi pertahanan mereka sendiri mungkin menyebabkan luka jaringan progresif, dan obat-obat anti inflamasi atau imunosupresi mungkin diperlukan untuk memodulasi proses peradangan. 1). Prostaglandin Pada umumnya obat anti inflamasi bekerja dengan jalan menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin merupakan turunan dari asam lemak tak jenuh yang mengandung 20 karbon yang berbentuk suatu struktur cincin siklik. 2). Sintesis Prostaglandin

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Gambar : sintesis prostaglandin ; Asam arakidonat merupakan precursor utama prostaglandin. Aspirin menghambat sintesis prortaglandin di siklooksigenase.

Asam arakidonat, suatu asam lemak 20-karbon, adalah precursor utama prostaglandin dan senyawa yang berkaitan. Asam arakidonat terdapat dalam komponen fosfolipid membrane sel, terutama fosfatilid inositol dan kompleks lipid lain-lainnya. Asam arakidonat bebas dilepaskan dari jaringan fosfolipid oleh kerja fosfolipase A2 dan asil hidrolase lainnya, melalui suatu proses yang dikontrol oleh hormone dan rangsangan lain. Ada dua jalan utama sintesis eikosanoid dari asam arakidonat. 1. Jalan siklo-oksigenase; semua eikosanoid berstruktur cincin sehingga, prostaglandin, trombokstan,dan prostasiklin, disintesis melalui jalan siklooksigenase. Telah diteliti dua siklooksigenase : COX-1 dan COX-2. Yang pertama bersifat ada di mana-mana dan

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

pembentuk, sedangkan yang kedua diinduksi dalam respon terhadap rangsangan inflamasi. 2. Jalan lipoksigenase; jalan ini, beberapa lipoksigenase dapat bekerja pada asam arakidonat untuk membentuk 5-HPETE, 12-HPETE DAN 15-HPETE, yang merupakan turunan peroksidasi tidak stabil yang dikonversi menjadi turunan hidroksilasi yang sesuai (HETES), atau menjadi leukotrien atau lipoksin, yang tergantung pada jaringan. 3). Mekanisme Kerja Aspirin Efek antipiretik dan antiinflamasi salisilat terjadi karena penghambatan sintesis prostaglandin di pusat pengatur panas dalam hipotalamus dan perifer di daerah target. Lebih lanjut, dengan menurunkan sintesis prostaglandin, salisilat juga mencegah sensitilasi reseptor rasa sakit terhadap rangsangan mekanik dan kimiawi. Aspirin juga menekan rangsang nyeri pada daerah subkortikal (yaitu thalamus dan hipotalamus).

10

Gambar : metabolisme aspirin dan asetilasi siklooksigenase oleh aspirin

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

4).

Fungsi Aspirin Obat-obat anti inflamasi termasuk aspirin, mempunyai tiga efek terapi utama, yaitu mengurangi inflamasi (anti-inflamasi), rasa sakit (analgesic), dan demam (antipiretik). 1. Anti-Inflamasi Karena aspirin menghambat aktivitas siklooksigenase, maka aspirin mengurangi pembentukan prostaglandin dan juga memodulasi beberapa aspek inflamasi dan prostaglandin bertindak sebagai mediator. Aspirin menghambat inflamasi pada arthritis, tetapi tidak menghentikan progresivitas penyakit ataupun menginduksi remisi. 2. Analgesik Prostaglandin E2 (PGE2) diduga mensensitilasi ujung saraf terhadap efek bradikinin, histamine, dan mediator kimiawi lainnya yang dilepaskan secara local oleh proses inflamasi. Jadi, dengan menurunkan sintesis PGE2, aspirin dan obat anti inflamasi lainnya menekan sensasi rasa sakit. Salisilat diduga terutama untuk menanggulangi rasa sakit intensitas ringan sampai sedang yang timbul dari struktur integument daripada yang berasal dari visera. Obat-obat anti inflamasi lebih superior daripada opioid dalam menanggulangi rasa sakit yang melibatkan inflamasi; kombinasi opioid dan obat anti inflamasi efektif dalam pengobatan rasa sakit yang ganas. 3. Anti Piretik Demam terjadi jika set point pada pusat pengatur panas di hipotalamus anterior meningkat. Hal ini dapat disebabkan oleh sintesis PGE2, yang dirangsang bila suatu zat penghasil demam endogen (pirogen) seperti sitokin dilepaskan dari sel darah putih yang diaktivasi oleh infeksi, hipersensitivitas, keganasan, atau inflamasi. Salisilat menurunkan suhu tubuh penderita demam dengan jalan menghalangi sintesis dan pelepasan PGE2. Aspirin mengembalikan thermostat kembali ke kondisi normal dan cepat menurunkan suhu tubuh penderita demam dengan meningkatkan pengeluaran panas sebagai akibat vasodilasi perifer dan berkeringat. Aspirin tidak mempunyai efek pada suhu tubuh normal. 5). Efek Samping Aspirin 1. Pada saluran pencernaan; efek salisilat terhadap saluran cerna yang paling umum adalah distress epigastrium, mual, dan muntah. Pendarahan mikroskopik saluran cerna hampir umum terjadi pada penderita yang mendapat pengobatan salisilat. Aspirin adalah Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

10

asam. Pada pH lambung, aspirin tidak dibebaskan, akibatnya mudah menembus sel mukosa dan aspirin mengalami ionisasi (menjadi bermuatan negatif), dan terperangkap, jadi berpotensi menyebabkan kerusakan sel secara langsung. Aspirin seharusnya diberi bersama makanan dan cairan volume besar untuk mengurangi gangguan saluran cerna. Aspirin juga menghambat terbentuknya prostasiklin (PGI1) yang berfungsi menghambat sekresi asam lambung, dan juga PGE2 dan PGF2 yang berfungsi merangsang sintesis mucus protektif dalam lambung dan usus kecil. Akibatnya sekresi asam lambung menigkat dan mucus protektif berkurang, sehingga keluhan seperti distress epigastrium, ulkus, dan/atau pendarahan terjadi. 2. Darah; Asetilasi ireversibel siklooksigenase trombosit menurunkan kadar trombosit TXA2, mengakibatkan penghambatan agregasi trombosit dan perpanjangan waktu pendarahan. 3. Pernapasan ; pada dosis toksik, salisilat menimbulkan depresi pernafasan dan suatu kombinasi respirasi yang tidak terkompensasidan asidosis metabolik. Pada dosis terapi, aspirin meningkatkan ventilasi alveoli. 4. Proses metabolik ; dosis besar salisilat melepaskan fosforilasi oksidatif. Energi yang digunakan untuk menghasilkan ATP secara normal dikeluarkan sebagai panas, yang menerangkan terjadinya hipetermia yang disebabkan oleh pengambilan salisilat dalam jumlah toksik. 5. Hipersensitivitas; sekitar 15 % pasien yang mengkonsumsi aspirin mengalami reaksi sensitivitas. Gejala alergi yang asli adalah urtikaria, bronkokonstriksi, atau edema angioneurotik. Jarang terjadi anafilaktik syok yang fatal. 6. Sindrom Reye; Aspirin yang diberikan selama infeksi virus ada hubungannya dengan peningkatan insidens sindrom Reye, seringkali fatal, menimbulkan hepatitis dengan edema serebral. Terutama terjadi terjadi pada anak-anak, sehingga lebih baik diberi asetaminofen daripada aspirin jika pengobatan diperlukan. 6). Dosis Aspirin Pada dosis rendah, salisilat menunjukan aktivitas analgesic; hanya pada dosis lebih tinggi obat ini menunjukan aktivitas anti inflamasi. 10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Gambar : dosis aspirin dan efeknya.

BAB II PEMBAHASAN KASUS


A. PERMASALAHAN Pasien adalah bayi berusia 18 bulan yang telah masuk rumah sakit dengan keluhan utama : flu, muntah-muntah, dan demam. 1). Riwayat Penyakit Menurut ibu pasien, pasien baik-baik saja sampai tiga hari sebelum mendaftarkan diri ke rumah sakit. Mulai saat itu, pasien Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

10

mulai batuk tidak berdahak, hidung tersumbat, dan demam rendah. Karena gejala ini, Ibu pasien mulai mengobati pasien dengan aspirin. Setelah pemberian aspirin tersebut, flu (hidung tersumbat dan batuk) tidak bertambah buruk, walaupun pasien mulai mengalami muntah-muntah dan sakit perut. Ibu pasien menemukan bluish (kebiru-biruan) di sekitar mulut dan jarinya. Pada saat mendaftarkan diri di rumah sakit, pasien sangat lesu dan sangat sulit untuk bangkit. 2). Riwayat Pengobatan Untuk beberapa penyakit utama tampat tidak luar biasa. Imunisasi sudah berjalan. Perkembangan telah sesuai dengan usia pasien. Dan sebelumnya, pasien tidak menjalani pengobatan lain untuk penyakit ini. 3). Pemeriksaan Fisik Tes Nilai Keterangan 0 Temperatur 38,5 C Tinggi Denyut Nadi 136 kali/menit Normal Kecepatan 82 kali/menit Tinggi pernafasan Tekanan Darah 90/60 mmHg Tinggi Keluhan lain Agak susah berjalan Paien sangat sulit untuk dibangunkan walaupun telah memakai stimulasi rasa sakit. Tidak ada tanda meningeal seperti kekakuan nuchal. Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT) Membran timpani terlihat normal. Pupil bulat, seimbang dan reaktif terhadap cahaya. Tes Fundoskopik tidak terlihat abnormalitas, hidung memperlihatkan hambatan menengah dengan pembebasan mucopurulent halus. Oropharynx aman dan leher lentur. Aman, jantung berdetak secara regular dan tidak ada murmur. Halus tanpa organomegali Terlihat normal Memperlihatkan masa otot dan tone normal dengan reflek seimbang dan fisiologis. Tidak ada respon ekstensor plantar. Agak kebiru-biruan (bluish) Hb 11,5 gm/dl Normal Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

Dada Abdomen Genitalia Neurological

10

Alat gerak Pemeriksaan

Laboratorium Serum

Urinalis

Gas Darah

WBC 18000/mm3 Normal Normal diff. count Sodium 130 Rendah Tinggi mEq/L Potasium 6,0 Rendah Rendah mEq/L Klorida 90 mEq/L Tinggi Bikarbonat 8 Tinggi mEq/L BUN 30 mg/dl Gula darah 180 mg/dl Spesifik gravity, 1024 pH, 5 positif keton dan glukosa protein negative Penambahan FeCl3 pada menimbulkan warna ungu pH 7,11 Rendah Rendah PCO2 26 mmHg Rendah HCO3 8 mEq/L Normal PO2 100 mmHg

urin

4).

Pengobatan Berdasarkan data-data yang ada, dicurigai pasien menderita keracunan salisilat. Pada anak dilakukan penyuntikan cairan glukosa (intravena). Penyuntikan bikarbonat pun telah dilakukan sambil memonitoring pH urin sampai mencapai paling sedikit 7. Pengobatan tambahan, pada pasien dilakukan pencucian lambung (gastric lavage). Pasien juga menjalani lumbar puncture dengan analisis cairan spinal normal. Kemudian, pasien dapat berjalan walaupun susah payah, pernafasan secara berangsurangsur membaik dan anak lebih waspada (sadar). Kadar salisilat pada awal pemeriksaan adalah 90 mg per 100 ml darah. B. OVER DOSIS SALISILAT Aspirin akan memberikan efek analgesiK dan antipiretik pada konsentrasi dibawah 10 mg/dl, dan selanjutnya akan memberikan efek anti inflamasi pada konsentrasi 10 mg/dl sampai Laporan Kasus | Aspirin Intoxication 10

50 mg/dl (lihat dosis aspirin hal. 15). Dan jika kadar salisilat dalam darah pasien mencapai lebih dari 50 mg/dl akan menyebabkan intoksikasi ringan sampai berat dan bahkan bila konsentrasi salisilat lebih dari 150 mg/dl akan menyebabkan kematian. Dalam kasus diketahui bahwa kadar salisilat dalam darah pasien mencapai 90 mg/dl. Mengacu pada konsentarasi tersebut dapat dikategorikan sebagai dosis salisilat yang berlebih dalam darah, lebih tepatnya terjadi keracunan ringan pada pasien. C. SINTESIS ATP TERGANGGU Dosis besar salisilat dapat mengakibatkan lepasnya fosforilasi oksidatif. Energi yang digunakan untuk menghasilkan ATP secara normal dikeluarkan sebagai panas, yang menerangkan terjadinya hipetermia yang disebabkan oleh pengambilan salisilat dalam jumlah toksik. Transfer electron dan fosforilasi oksidatif bertempat di membran dalam mitokondria (hal.7). Berbeda dengan membrane luarnya, membran dalam mitokondria bersifat impermeable terhadap molekul kecil dan ion, temasuk H+. Salisilat merupakan agen uncopling (pelepas) pada proses fosforlasi oksidatif. Zat ini menambah tingkat permeabilitas dari inner membrane mitokondria. Akibatnya molekul kecil dan ion, termasuk H+, yang merupakan proton yang akan membantu sintesi ATP pada fosforilasi oksidatif, dapat melewati membrane ini dengan bebas. Hal ini menyebabkan gradient proton antara inner membrane dan inter membrane mitokondria terganggu, dan sintesis ATP tidak dapat berjalan secara maksimal. Berdasarkan hukum temodinamika I yang berbunyi, Jumlah energy dalam suatu system yang terisolasi adalah tetap atau dengan kata lain, energi dalam suatu sistem dapat berubah dari bentuk satu ke bentuk lain, tapi tidak dapat dibuat atau dimusnahkan, maka potensial energy yang ada dari fosforilasi oksidatif ini dirubah bentuknya menjadi energy panas yang meningkatkan suhu tubuh pasien lalu menimbulkan demam (fever).

D. METABOLISME ASPIRIN MENGHASILKAN RADIKAL BEBAS Metabolisme pada aspirin dapat menghasilkan radikal bebas, yaitu atom atau molekul yang mempunyai satu atau lebih Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

10

electron yang tidak berpasangan (hal.5). Dalam kasus ini zat hasil metabolisme aspirin diduga sebagai oksidator kuat yang menyebabkan pembentukan Methemoglobin (metHb), yaitu bentukan dari hemoglobin yang ion Fe2+ (ferro) nya dioksidasi menghasilkan Fe3+ (ferri). Karena struktur hemoglobin yang berubah, maka dia tidak bisa mengikat dan mentransport O2. Methemoglobin dengan jumlah yang sangat sedikit di dalam darah adalah normal, mengingat sel darah merah memiliki sebuah system yang efektif (system NADH-sitokrom b5 methemoglobin reduktase) untuk mereduksi Fe3+ kembali kepada keadaan Fe2+. Fe3+ pada methemoglobin akan direduksi kembali menjadi Fe2+ oleh kerja sitokrom b5 tereduksi. Hb-Fe3+ + Cyt b5red Hb-Fe2+ + Cyt b5oks 1) Bluish Bluish pada pasien ditemukan di daerah jari dan mulut. Keadaan ini menunjukan kerusakan hemoglobin yang berubah menjadi methemoglobin, yang mana tidak bisa mengikat dan mentransport oksigen. Bluish juga mungkin disebabkan karena letak pembuluh darah di daerah sekitar jari jauh dari jantung, dan dinding mukosa mulut yang tipis mengakibatkan warna biru terlihat jelas disekelilingnya disbanding di daerah yang lain. 2) Konsentrasi Asam Laktat Meningkat Walaupun tubuh memiliki system yang disebutkan di atas, tetapi karena kadar salisilat dalam darah sudah berlebih (overdosis), maka metHb dalam darah mencapai lebih dari 1% (normal, < 1%). Keadaan ini menyebabkan suplai oksigen untuk metabolism karbohidrat terganggu. Pada akhirnya asam piruvat (hasil dari glikolisis) tidak berlanjut pada siklus asam sitrat, dan terjadi metabolism anaerob yang meningkatkan kadar asam laktat meningkat dalam tubuh. Karena metabolism anaerob dan terganggunya sintesis ATP di fosforilasi oksidatif inilah yang mengakibatkan ATP (paket energy tinggi) yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan dan pasien pun akhirnya terlihat lemah, lesu, bahkan sulit untuk dibangunkan. 3) Glukoneogenesis Dirangsang Karena kebutuhan energy yang tidak bisa ditunda lagi, maka pembuatan glukosa dari bahan yang bukan karbohidrat atau Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

10

disebut glukoneogenesis pun dilakukan tubuh. Keadaan ini menyebabkan peningkatan badan keton dalam tubuh. Badan keton tersebut adalah : Asetoasetat, Aseton dan 3-Hidroksibutirat. Selain itu, glukoneogenesis dari asam amino dapat meningkatkan hasil samping dalam tubuh. Keadaan ini menyebabkan kadar Blood Urea Nitrogen (BUN) meningkat dalam tubuh pasien sebagai akibat glukoneogenesis asam amino. Badan Keton pun ditemukan di urine sebagai respon berlebihnya badan keton di dalam tubuh yang berpotensi mengakibatkan asidosis, sebagai akibat glukoneogenesis asam lemak. Hasil glukoneogenesis ini pula mengakibatkan kadar gula dalam darah pasien meningkat. Tetapi walaupun demikian tetap diberikan cairan glukosa intavena (dengan kadar terkontrol) untuk membantu jumlah sintesis ATP. E. EFEK DIHAMBATNYA SINTESIS PROSTAGLANDIN Prostaglandin merupakan salah satu obat anti inflamasi yang bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin pada siklooksigenase (hal.11 dan 13). Salah satu prostaglandin yang dihambat adalah prostasiklin (PGI1), PGE2 dan PGF2. Secara normal PGI1 menghambat sekresi asam lambung, sedangkan PGE2 dan PGF2 merangsang sintesis mucus protektif dalam lambung dan usus kecil. Dengan adanya aspirin, prostanoidprostanoid ini tidak terbentuk, yang mengakibatkan sekresi asam lambung meningkat dan mucus protektif berkurang. Pada pasien, keadaan ini menyebabkan muntah-muntah (vomiting) dan sakit perut (abdominal pain). F. ASIDOSIS Asidosis dapat didefinisikan sebagai keadaan patologik akibat akumulasi asam pada, atau kehilangan basa dari tubuh. Pada pasien, serum bikarbonat yang merupakan molekul untuk mengurangi suasana asam dalam tubuh, berkonsentarsi rendah. Sedangkan produksi molekul bersifat asam dalam tubuh, seperti badan keton (Asam Asetoasetat, Aseton dan Asam 3Hidroksibutirat), asam laktat dan lainnya meningkat. Akibatnya pasien mengalami asidosis, dan tindakan yang tepat adalah memasukan cairan bikarbonat intavena agar suasana asam dalam tubuh dapat berkurang.

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication

10

Laporan Kasus | Aspirin Intoxication