Anda di halaman 1dari 3

ASI Air susu Ibu (ASI) adalah makanan paling sempurna bagi bayi.

Sebagai makanan tunggal yang mengandung seluruh zat gizi yang diperlukan bayi, ASI juga mengandung zat untuk meningkatkan daya tahan (kekebalan) tubuh dari berbagai infeksi (Pedriatrics, 2006). Menurut WHO (2006), definisi ASI eksklusif adalah bahwa bayi hanya menerima ASI dari ibu, atau pengasuh yang diminta memberikan ASI dari ibu, tanpa penambahan cairan atau makanan padat lain, kecuali sirup yang berisi vitamin, suplemen mineral atau obat. Pemberian ASI secara eksklusif menurut DepKes (2003) adalah pemberian ASI saja kepada bayi tanpa diberi makanan dan minuman lain sejak dari lahir sampai usia 6 bulan, kecuali pemberian obat dan vitamin. Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 450/SK/Menkes/VIII/2004, tanggal 7 April 2004 telah menetapkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pada ibu di Indonesia. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran (Linkages, 2002). Prevalensi ASI ekslusif menurut data SDKI hanya 32%,7. Survei yang dilakukan oleh Helen Keller International menyebutkan bahwa rata-rata bayi di Indonesia hanya mendapatkan ASI eksklusif selama 1,7 bulan (Anonim, 2009). Masyarakat telah menargetkan cakupan ASI eksklusif 6 bulan sebesar 80%. Namun demikian angka ini sangat sulit untuk dicapai bahkan tren prevalensi ASI eksklusif dari tahun ke tahun terus menurun. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997-2007 memperlihatkan terjadinya penurunan prevalensi ASI eksklusif dari 40,2% pada tahun 1997 menjadi 39,5% dan 32% pada tahun 2003 dan 2007 (BPS, 2003 dan BPS, 2007). ASI sudah terbukti sebagai makanan terbaik bagi bayi, namun sangat disayangkan masih banyak diantara ibu-ibu menyusui melupakan keuntungan menyusui. Banyak alasan yang menjadi penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif seperti budaya memberikan makanan pralaktal, memberikan tambahan susu formula karena ASI tidak keluar, menghentikan pemberian ASI karena bayi atau ibu sakit, ibu harus bekerja, serta ibu ingin mencoba susu formula. Studi kualitatif Fikawati & Syafiq melaporkan faktor predisposisi kegagalan ASI eksklusif adalah karena faktor predisposisi yaitu pengetahuan dan pengalaman ibu yang kurang dan faktor pemungkin penting yang menyebabkan terjadinya kegagalan adalah karena ibu tidak difasilitasi melakukan IMD (Fikawati dan Syafiq, 2009).

Pemberian makanan pengganti ASI berdampak buruk pada kondisi gizi bayi, daya tahan tubuh, serta pertumbuhan dan perkembangannya. Konsumsi air putih atau cairan lain meskipun dalam jumlah yang sedikit, akan membuat bayi merasa kenyang sehingga tidak mau menyusui, padahal ASI kaya dengan gizi yang sempurna untuk bayi. Penelitian menunjukkan bahwa memberi air putih sebagai tambahan cairan sebelum bayi berusia enam bulan dapat mengurangi asupan ASI hingga 11%. Pemberian air manis dalam minggu pertama usia bayi berhubungan dengan turunnya berat badan bayi. Pemberian cairan dan makanan dapat menjadi sarana masuknya bakteri patogen. Seorang bayi (tergantung usianya) yang diberi air putih, teh, atau minuman herbal lainnya berisiko terkena diare 2-3 kali lebih banyak dibanding bayi yang diberi ASI eksklusif (Linkages, 2002). Selama ini telah banyak dilakukan promosi pemberian ASI eksklusif. WHO merekomendasikan untuk memberikan hanya ASI saja sampai 6 bulan untuk keuntungan yang optimal bagi ibu dan bayi (WHO, 2002). Namun demikian ada beberapa rekomendasi dan catatan penting yang diungkapkan dalam kajian tim pakar tersebut. Pertama rekomendasi ini bisa dicapai bila masalah-masalah potensial seperti status gizi ibu hamil dan laktasi, status mikronutrien (zat besi, seng dan vitamin A) bayi dan pelayanan kesehatan dasar rutin bagi bayi (pengukuran pertumbuhan dan tanda klinis defisiensi mikronutrien) sudah berhasil diatasi. Kedua, perlunya pemberian makanan pendamping ASI yang tepat dan memperkenalkan makanan bergizi yang adekuat dan aman dalam hubungannya dengan pemberian ASI selanjutnya. Dalam hal ini perlu dikaji makanan pendamping ASI yang tepat termasuk sesuai dengan kondisi gizi dan umur bayi. Rata-rata pemberian ASI eksklusif di Indonesia hanya 1,7 bulan maka perlu diberikan petunjuk yang jelas mengenai makanan pendamping apa saja yang dapat diberikan. Ketiga, kondisi yang dibutuhkan untuk menerapkan kebijakan ini adalah pemberian dukungan sosial dan gizi yang adekuat untuk ibu yang sedang menyusui. Penerapan ASI eksklusif 6 bulan harus didukung oleh berbagai kebijakan seperti cuti untuk ibu menyusui, undang-undang pemasaran susu formula, sanksi untuk iklan susu formula, sanksi untuk bidan yang memberikan dan mengenalkan susu formula kepada bayi, peningkatan kualitas ante natal care. Selain upaya diatas, diperlukan pemberian motivasi kepada ibu untuk menyusui. Ibu di daerah pedesaan lebih banyak memberikan ASI pada anaknya dari pada ibu yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini dikarenakan ibu di perkotaan malu untuk menyusui karena alasan sosialitas, dan lebih mudah terpengaruh iklan susu formula. Ibu yang tinggal di daerah perkotaan harus dibangkitkan kemauan dan kesediannya untuk menyusui anaknya, terutama sebelum melahirkan (Siregar, 2004).

Bahan Bacaan Anonim. Turun, jumlah bayi yang dapat ASI eksklusif. Gizi Net [internet]. 2009[diakses 13 Desember 2009]. Tersedia di:http://www.gizi.net/ cgibin/berita/fullnews.cgi?newsid1173324133,39743. Badan Pusat Statistik, BKKBN, Departemen Kesehatan. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2003. Badan Pusat Statistik, BKKBN, Departemen Kesehatan. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2006-2007. Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2007. Fikawati S, Syafiq A. Praktik pemberian ASI eksklusif, penyebab-penyebab keberhasilan dan kegagalannya. Jurnal Kesmas Nasional 2009; 4(3):120-131. World Health Organization. The Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding, Report of an Expert Consultation. Geneva, Switzerland: World Health Organization, 2002.