Anda di halaman 1dari 11

IBNU THUFAIL

Disusun guna memenuhi tugas. Mata kuliah Dosen Pengampu : : Filsafat Islam Ahmad Zuhri, M.Ag.

Kelas RE3 C Disusun oleh: Muhammad Zulqornein Sri Mulyahati Sufi Eva Lufita Ahmad Hasanudin (2021210091)

(2021210127) (2021210121) (2021210117)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN TAHUN AJARAN 2011 BAB I

PENDAHULUAN

Ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena masalah-masalah tersebut di luar jangkuan ilmu pengetahuan biasa, inilah yang merupakan pengertian dari definisi filsafat. Filsafat Islam merupakan suatu ilmu yang di pelajari dengan ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran segala sesuatu. Dalam makalah ini, pemalah sedikit menjelaskan tokoh filsafat, yakni Ibnu Thufail mengenai tentang riwayat hidup dan karyanya, ajaran filsafat yang didalamnya terdapat metafisika, jiwa, rekonsiliasi antara filsafat dan agama . Yang akan di paparkan dalam bab selanjutnya.

BAB II PEMBAHASAN A. Biografi Filsuf muslim kedua belahan barat ini hidup pada masa pemerintahan daulah Muwahhidun.1Nama lengkap Ibnu Thufail ialah Abu Bakar Muhammad ibnu Abd AlMalik ibnu Muhammad ibnu Muhammad ibnu Thufail. Ia dilahirkan di Cadix, provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/1110 M.2 Dan meninggal di kota Marraqesh, maroko pada tahun 581 H/1185 M. Ibnu Thufail termasuk keturunan dalam keluarga suku Arab terkemuka, Qais. Dalam bahasa latin ia populer dengan sebutan Abu Bacer. Sebagai seorang turunan suku Qais, ia dengan mudah mendapat fasilitas belajar, apalagi kecintaanya kepada buku-buku dan ilmu pengetahuan mengalahkan cintanya kepada sesama manusia.3 Sebagaimana filosof-filosof Muslim di masanya (juga filosof-filosof yunani), Ibnu Thufail juga memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang (all round). Selain sebagai filosof, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan penyair yang sangat terkenal dari Dinasti Al-Munawahhid Spanyol. Ia memulai kariernya sebagai dokter praktik di Granada. Lewat ketenaranya sebagai dokter, ia diangkat menjadi sekretaris gubernur di provinsi itu.4 Kemudian, ia diangkat sebagai dokter pribadi Abu Yusuf Yaqub al-Manshur, khalifah daulah Muwahhidin (1163-1184 M), merangkap sebagai wazirnya.5 Pada masa Khalifah Abu Yaqub Yusuf, Ibnu Thufail mempunyai pengaruh besar dalam pemerintahan. Pada pihak lain, Khalifah sendiri pecinta ilmu pengetahuan dan secara khusus adalah peminat filsafat serta memberi kebebasan berfilsafat. Sikapnya itu
1 Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam (Konsep, Filsuf, dan Ajaranya),(Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm 211. 2 Sirajudin Zar, Filsafat Islam, filosof dan filsafatnya, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hlm 205. 3 Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hlm 102. 4 Sirajudin Zar, loc. cit. 5 Hasyimsyah Nasution, loc. cit.

menjadikan pemerintahannya sebagai pemuka pemikiran filosofis dan membuat Spanyol, seperti dikatakan R. Briffault, sebagai tempat kelahiran kembali negeri Eropa. Adapun posisi Ibnu Thufail di sini adalah pakar dalam pemikiran filosofis dan ilmiah (sains) tersebut. Semasa hidupnya Ibnu Thufail menerima penghargaan dari khalifah. Ketika meninggalpun, khalifah ikut menghadiri upacara pemakamannya. Karya tulis yang masih dapat ditemukan sampai sekarang ialah hayy ibn Yaqzhan (Roman Philosophique), yang judul lengkapnya hayy ibn Yaqzhan fi Asrar al-Hikmat al-Masyariqiyyah.6 B. Karyanya Sebelum filsafat Ibnu Thufail dipaparkan lebih jauh, ada baiknya dikemukakan ringkasan kisah (karya darinya) Hay ibn Yaqzan sebagai berikut.7 Dimulai dengan kelahiran mendadak Hay disebuah pulau kosong. Kemudian dibuang ditempat terpencil oleh saudari perempuan seorang raja. Dengan maksud agar perkawinannya dengan Yaqzan tetap terahasiakan. Dimana tempat pembuangan tersebut tidak diketahui oleh kehidupan masyarakat. Ditempat itu Ia diberi makan oleh seekor rusa kecil. Disamping itu Ia diajari oleh pikiran alamiah atau akal sehat, walaupun tak masuk akal, agar Dia bisa menyelidiki rahasia segala benda. Rupanya binatang tersebut mempunyai kesadaran akan ketelanjangannya dan ketiadaan perlindungan atas dirinya. Anak tersebut diatas oleh Ibnu Thufail dinamakan Hay ibn Yaqzan. Penghidupan Hay kemudian berkembang mengikuti masyarakat yang amat primitif itu mulai dari langkahnya yang pertama. Dilihatnya semua hewan tertutup auratnya dan dengan kulit dan bulu. Lalu ditirunya. Diambilnya bulu-bulu burung dan daun-daun kayu guna menutup auratnya.8 Lebih dari itu, ia mampu mempergunakan akalnya sedemikian rupa sehingga dapat memahami hakikat alam empiris dan mampu berpikir hal-hal yang bersifat metafisis.9
6 A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997), hlm 273. 7 Sirajudin Zar, op cit., hlm 209. 8 A. Mustofa, loc. cit. 9 Sirajudin Zar, op cit., hlm 210.

Pada suatu hari kijang yang mengasuhnya sejak kecil sakit dan makin hari makin lemah, akhirnya tidak bergerak lagi, yaitu mati. Disamping susah, hay menjadi heran, sebab belum pernah melihat hewan mati dengan sendirinya tanpa pembunuhan. Akhirnya hay mulai memikirkan sungguh-sungguh mengapa pada peristiwa itu. Kemudian badan kijang itu dioperasinya, kalau-kalau ada anggotanya yang rusak. Ternyata semua masih lengkap, dan akhirnya Hay mengerti bahwa sebab kematian itu berada diluar badannya. Dia bertanya siapakah yang berkuasa diluar badan itu? Dengan ini, sampailah pemikiran pengakuan ketuhanan.10 Berkat rahmat Allah ia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Pemikirannya yang mendalam tentang segala sesuatu yang dapat ditangkap pancaindra, menimbulkan keyakinan adanya Allah, Pencipta alam semesta. Keyakinan adanya Allah sebagai kebenaran yang hakiki, mendorong Hay untuk berusaha berhubungan dan dekat dengan-Nya. Melalui pemikiran falsafi, ia melatih diri dengan puasa selama 40 hari dalam sebuah gua. Dengan penuh kesungguhan (ber-mujahadat) melalui kontemplasi penuh kepada Allah. Akhirnya ia memperoleh apa yang ia kehendaki, yakni ittihad (menunggal dengan Allah) atau ittihal (berhubungan langsung) dengan Allah. Ittihal inilah kebahagiaan yang tertinggi karena dapat melihat Allah terus menerus. Ibnu Thufail berusaha mendramatitasikan perkembangan nalar teoritis manusia dari persepsi rasa yang masih kasar menjadi visi indah tentang Allah.11 Tidak jauh dari pulau itu terdapat pulau lain yang dihuni oleh masyarakat manusia. Namanya Absal dan Salaman, adalah penganut agama wahyu, tetapi memiliki kecenderungan yang berbeda. Absal banyak tertarik pada pengertian metaforis teks-teks agama, sedangkan Salaman lebih cenderung berpegang pada umumnya di pulau tersebut, Absal kemudian mengasingkan diri dari masyarakat. Suatu hari, ia menyeberang ke pulau yang dihuni Hay ibn Yaqzan.12 Disana dia berjumpa dengan Hay. Setelah Ia mengajari Hay tutur bahasa manusia maka mereka berduapun mengadakan tukar pikiran. Disinilah Ibnu Thufail mengambarkan bagaimana alam pikiran Hay yang berkembang sendiri itu dapat saja

10 A. Mustofa, op cit., hlm 274. 11 Sirajudin Zar, loc. cit. 12 Dedi Supriyadi, op cit., hlm 214.

sesuai pandapatnya dengan alam pikiran Absal dari masyarakat ramai itu. 13 Keterangan Hay ini memperkuat keyakinan Absal tentang ajaran agama yang diterimanya dan bertemulah akal dan wahyu (al-manqul wa al-maqul). Atas ajakan Hay, Absal setuju pergi berdua ke pulau dari mana Absal datang. Hay bermaksud memberitahukan marifah hakiki yang ia peroleh kepada penghuni pulau itu. Pulau itu diperintah oleh seorang raja bernama Salaman sahabat Absal. Salaman menerima ajaran agama seperti yang disampaikan Nabi, dengan kata lain Salaman lebih tertarik pada arti lahir (eksoteris) nash. Ia menyukai hidup di tengah masyarakat da melarang orang lain untuk hidup menyepi, uzlah. Penduduk pulau itu menerima Hay dengan penuh antusias. Namun, setelah Hay menjelaskan pengetahuan dan pemikiran filsafatnya, ternyata penduduk pulau mencemoohnya. Hay mendapat pelajaran dari pengalamannya bahwa orang awam tidak memahami dan tidak mampu menerima marifat sejati. Hay menyadari bahwa pergaulannya membawa kerusakan bagi masyarakat dan untuk memperbaikinya sangat diperlukan ajaran agama yang dibawa oleh Nabi. Karena Nabilah yang paling mengenal jiwa manusia pada umumnya. Ia mohon maaf pada Salaman dan warganya, dan mengakui keliruannya sendiri karena memaksa mereka mencari makna tersembunyi dalam Kitab Suci (Al-Quran). Akhirnya, Hay dan Absal kembali ke pulau tempat Hay berasal. Mereka mengisi sisa umurnya dengan beribadah sepenuhnya kepada Allah.14 C. Ajaran Filsafat Ibnu Thufail Secara filosofis, karya Ibnu Thufail Hay ibn Yaqzan merupakan suatu pemaparan yang hebat tentang teori Ibnu Thufail mengenai pengetahuan, yang berupaya menyelaraskan Aristoteles dengan Neo-Platonis di satu pihak, dan Al-Ghazali dengan Ibnu Bajjah dipihak lain. Al-Ghazali sangat kritis dan dogmatis terhadap rasionalismenya Aristoteles, tetapi Ibnu Bajjah adalah pengikut sejati Aristoteles. Ibnu Thufail, mengikuti jalan tengah menjembatani jurang pemisah antara dua pihak itu. Sebagai seorang rasionalis, dia memihak Ibnu Bajjah dalam melawan AlGhazali dan mengubah tasawuf

13 A. Mustofa, loc. cit. 14 Sirajudin Zar, op cit., hlm 212.

menjadi rasionalisme. Adapun sebagai seorang ahli tasawuf, dia memihak Al-Ghazali dalam melawan Ibnu Bajjah dan menguabh rasionalisme menjadi tasawuf.15

1. Metafisika (ketuhanan) Dengan akalnya Hay, ia telah mengetahui adanya Allah. Dalam membuktikannya adanya Allah, Ibnu Thufail mengemukakan tiga argumen sebagai berikut. a. Argumen gerak (al-harakat) Secara faktual, di sinilah terletaknya keistimewaan argumen gerak Ibnu Thufail yang dapat membuktikan adanya Allah, baik bagi orang meyakini alam kadim maupun alam baharu (baru). Bagi yang menyakini alam kadim, penggerak ini berfungsi mengubah materi di alam dari potensial ke aktual, arti kata mengubah satu bentuk ada kepada bentuk yang lain. Sementara itu, bagi orang yang meyakini alam baharu, penggerak ini berfungsi mengubah alam dari tidak ada (al-adam) menjadi ada. Argumen gerak ini sebagai bukti alam kadim dan baharunya. Dengan argumen ini, Ibnu Thufail memperkuat argumentasi bahwa tanpa wahyu dan akal dapat mengetahui adanya Allah. b. Argumen materi (al-madat) dan bentuk (al-shurat) Argumen ini didasarkan pada ilmu fisika dan masih ada kolerasinya dengan dalil yang pertama (al-harakat). Hal ini dikemukakan oleh Ibnu Thufail dalam kumpulan pokok pikiran yang terkait antara satu denagn lainya, yakni sebagai berikut. 1. Segala yang ada tersusun dari materi dan bentuk. 2. Setiap materi membutuhkan bentuk. 3. Bentuk tidak mungkin bereksistensi pengerak. 4. Segala yang ada (maujud) untuk bereksistensi membutuhkan pencipta. Dengan argumen di atas dapat dibuktikan adanya Allah sebagai pencipta alam ini. Ia Mahakuasa dan bebas memilih serta tidak berawal dan tidak berakhir. Bagi orang yang meyakini alam kadim, pencipta ini berfungsi mengeksistensikan wujud dari satu bentuk pada bentuk yang lain. Sementara itu, bagi orang yang meyakini alam baharu, Pencipta ini berfungsi menciptakan alam dari tidak
15 Dedi Supriyadi, op cit., hlm 217.

ada menjadi ada, Pencipta (Allah) merupakan illat (sebab) dan alam merupakan malul (akibat). Antara keduanya mempunyai perbedaan yang tajam dan tidak bisa disamakan dalam berbagai aspek, seperti Allah kekal dan kaya, sedangkan alam berkesudahan dan berkehendak. a. Argumen al-ghaiyyat dan al-illahiyat Argumen ini pernah dikemukakan Al-Kindi dan Ibnu Sina sebelumnya. Tampaknya, argumen ini lebih banyak dipahami oleh ajaran Islam. Tiga illat (sebab) yang dikemukakan oleh Aristoteles, al-madat (materi), al-shurat (bentuk), dan alfailat (pencipta), dilengkapi oleh Ibnu Sina dengan illat al-ghaiyyat (sebab tujuan). Ibnu Thufail (juga filosof Muslim lain) yang berpegang dengan argumen ini, sesuai dengan Quran, menolak bahwa alam diciptakan oleh Allah secara kebetulan. Pencipta seperti itu bukan timbul dari Pencipta Yang Maha Bijaksana. Menurut Ibnu Thufail, alam ini tersusun sangat rapi dan sangat teratur. Semua planet: matahari, bulan, dan lainya beredar secara teratur. Begitu juga hewan, semuanya dilengkapi dengan yang begitu rupa. Semua anggota tubuh tersebut mempuyai tujuan-tujuan tertentu yang efektif kemanfatannya bagi hewan yang bersangkutan. Tampaknya, tidak satupun ciptaan Allah ini dalam keadaan percuma. 1. Fisika Menurut Ibnu Thufail alam ini kadim dan juga baharu. Alam kadim karena Allah menciptakannya sejak azali, tanpa didahului oleh zaman (taqaddum zamany). Dilihat dari esensinya, alam adalah baharu karena terwujudnya alam (malul) bergantung pada zat Allah (illat). Pandangan Ibnu Thufail mengenai kadim dan baharunya alam, tampaknya merupakan kompromi antara pendapat Aristoteles yang menyatakan alam kadim dengan ajaran kaum otordok Islam yang menyatakan alam baharu . untuk lebih jelasnya, Ibnu Thufail memberikan contoh sebagai berikut. Sebagaimana ketika anda menggegam suatu benda mesti bergerak mengikuti gerak tangan anda. Gerakan benda tersebut tidak terlambat di segi zaman dan hanya keterlambatan dari segi zat. Demikianlah alam ini seluruhnya merupakan akibat dan diciptakan oleh Allah tanpa zaman. Firman Allah: Sesungguhnya keadaan-Nya, apabila 8

Ia menghendaki sesuatu hanyalah berfirman kepada-Nya : Jadilah, maka terjadilah ia, (QS. Yasin[36]:50).

2. Jiwa Jiwa manusia, menurut Ibnu Thufail, adalah makhluk yang tertinggi martabatnya. Manusia terdiri dari dua unsur, yakni jasad dan roh (al-madat wa al-ruh). Badan tersusun dari unsur-unsur, sedangkan jiwa tidak tersusun. Jiwa bukan jisim dan bukan pula suatu daya yang ada di dalam jisim. Setelah badan hancur atau mengalami kematian, jiwa lepas dari badan, dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama berada dalam jasad akan hidup dan kekal. Menurut Ibnu Thufail (juga filosof Muslim sebelumnya) jiwa terdiri dari tiga tingkat: dari yang rendah jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabatiyyat), ke tingkat yang lebih tinggi jiwa hewan (al-nafs al-hayawaniyyat), kemudian ke tingkat jiwa yang martabatnya lebih tinggi dari keduanya jiwa manusia (al-nafs al-natiqat). Mengenai keabadian jiwa manusia dan hubungannya dengan Allah, Ibnu Thufail mengelompokkan jiwa dalam tiga keadaan berikut. a. Jiwa yang sebelum mengalami jasad telah mengenal Allah, mengagumi kebasaran dan keagungan-Nya, dan selalu ingat kepada-Nya, maka jiwa seperti ini akan kekal dalam kebahagian. b. Jiwa yang telah mengenal Allah, tetapi melakukan maksiat dan melupakan Allah, jiwa seperti ini akan abadi dalam kesengsaraan. c. Jiwa yang tidak pernah mengenal Allah selama hidupnya, jiwa ini akan berakhir seperti hewan. 1. Epistomologi Dalam epistemologi, Ibnu Thufail menjelaskan babhwa marifat itu dimulai dari pancaindra. Dengan pengamatan dan pengalaman dapat diperoleh pengetahuan indrawi. Hal-hal yang bersifat metafisis dapat diketahui dengan akal intuisi. Marifat dilakukan dengan dua cara: pemikiran atau renungan akal, seperti yang biasa dilakukan para 9

filosof Muslim dan tasawuf, seperti yang biasa dilakukan oleh kaum sufi. Kesesuaian antara nalar dan intuisi membentuk esensi epistomologi Ibnu Thufail.

Marifat dengan tasawuf, menurut Ibnu Thufail, dapat diperoleh dengan latihanlatihan rohani dengan penuh kesungguhan. Semakin tinggi latihan ini, marifat akan semakin jelas, dan berbagai hakikat akan tersingkap. Sinar terang yang akan menyenangkan, akan menlingkup orang yang melakukannya. Jiwanya menjadi sadar sepenuhnya dan mengalami apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dirasa oleh hati. Tasawuf merupakan ekstase yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata sebab kata-kata hanya merupakan simbol-simbol yang terbatas pada penagamatan indrawi. 2. Rekonsiliasi (tawfiq) antara Filsafat dan Agama Melalui roman filsafat Hay Ibn Yaqzan, Ibnu Thufail menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain, akal tidak bertentangan dengan wahyu. Allah tidak hanya dapat diketahui dengan wahyu, tetapi juga dapat diketahui dengan akal. Hay yang bebas dari pengaruh ajaran Nabi, dapat sampai ke tingkat tertinggi dari marifat terhadap Allah, melalui akalnya dan melalui tasawuf yang ia peroleh dengan jalan latihan kerohanian, seperti berpuasa, shalat, dan lainnya. Ibnu Thufail menokohkan Hay sebagai personifikasi dari spirit alamiah manusia yang disinari dari atas. Spirit tersebut mesti sesuai dengan ruh Nabi Muhammad, yang ucapan-ucapannya perlu ditafsirkan secara metaforis. Ibnu Thufail menyadari, mengetahui, dan berhubungan dengan Allah melalui pemikiran akal murni, yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang khusus (ahl malmarifat). Orang awam tidak mampu melakukannya. Justru itu, bagi orang awam sangat diperlukan adanya ajaran agama yang dibawa oleh Nabi. Agama diturunkan untuk semua orang dalam segala tinggkatnya. Filsafat hanya dapat dijangkau oleh orang-orang yang bernalar tinggi yang jumlahnya sedikit. Agama melambangkan dunia atas (divine world) dengan lambang-lambang eksoteris. Agama 10

penuh dengan perbandingan, persamaan, dan persepsi-persepsi antropomorfis, sehingga cukup mudah dipahami oleh orang banyak. Filsafat merupakan bagian dari kebenaran esoteris, yang menafsirkan lambang-lambang itu agar diperoleh pengertian-pengertian yang hakiki. Kenyataanya, Ibnu Thufail berusaha dengan penuh kesungguhan untuk merekonsiliasikan antaara filsafat dengan agama. Hay dalam roman fiilsafatnya, ia lambangkan sebagai akal yang dapat berkomunikasi dengan Allah. Sedangkan Absal, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk esoteris, yang membawa hakikat (kebenaran). Sementara Salaman, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk eksoteris, yang juga membawa kebenaran. Kebenaran yang dihalsilakan filsafat tidak bertentangan (sejalan) dengan kebenaran yang dikehendaki agama karena sumbernya sama, yakni Allah Swt.16

16 Sirajudin Zar, op cit., hlm 212-220.

11