Anda di halaman 1dari 8

RAHN (GADAI)

Disusun guna memenuhi tugas. Mata kuliah : Fiqh II Agus Khumaedi, M.Ag.

Dosen Pengampu :

Kelas RE3 C

Disusun oleh: Nama NIM :Muhammad Zulqornein :(2021210091)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN TAHUN AJARAN 2011

BAB I PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang sempurna yang membawa aturan berinteraksi (muamalah) antara sang kholiq dan makhluk melalui ritual ibadah yang dapat menyucikan jiwa dan menjernihkan hati. Islam juga mengatur interaksi antarsesama manusia, seperti jual beli, qiradh, rahn, uqud, wakaf dan jenis muamalah lainnya. Sehingga manusia dapat hidup dalam ikatan tali persaudaraan, suasana aman, adil dalam naungan kasih sayang. Suatu benda bernilai menurut pandangan syara sebagai tanggungan utang, dengan adanya benda yang menjadi tanggungan itu seluruh atau sebagian utang dapat diterima sebagai peneguh atau pengguat kepercayaan dalam utang piutang, penjelasan tersebut merupakan Rahn (Gadai). Dalam makalah ini, pemalah sedikit menjelaskan rahn mengenai tentang definisi rahn, dasar hukum, rukun dan syarat, dan lain-lain. Yang akan di paparkan dalam bab selanjutnya.

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi rahn Secara etimologi rahn berarti

(tetap dan lama).1

Ada pula yang menjelaskan bahwa rahn adalah terkurung atau terjerat.2 Menurut terminologi syara, rahn berarti:


penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut.
3

Ulama fiqh syalafiiyah berbeda pendapat mengenai pengertian rahn.


menjadikan sesuatu benda sebagai jaminan utang yang dapat dijadikan pembayar ketika berhalangan dalam membayar utang. Telah dipaparkan dari karangan Syaikh Muhammad bin Ibrahim dalam buku yang berjudul Ensiklopedi Islam, rahn ialah jaminan kepercayaan utang berupa benda yang mungkin sebagai ganti pembayaran atau dari nilai harganya, bila pemilik utang tidak mampu membayar kewajibannya.4
1 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, cet 2, (bandung: Pustaka Setia, 2004), hlm 159. 2 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm 105. 3 Rachmat Syafei, loc. cit. 4 Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Turwaijiri, Ensiklopedi Islam Al-Kamil, Darus Sunnah, cet.7,( Jakarta: Darus Sunnah press 2010), hlm 919.

Dalam buku terjemahan Kifayatul Akhyar karangan Drs. Moh. Rifai menjelaskan bahwa gadai ialah menjadikan harta (barang) sebagai tanggungan hutang. Firman Allah SWT dalam surat Al Mudatsir ayat 38, tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.5 B. Sifat Rahn Secara umum rahn dikategorikan sebagai akad yang bersifat derma, sebab yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima gadai (murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu. Yang diberikan murtahin kepada rahin adalah utang, bukan penukar atas barang yang digadaikan. Rahn juga termasuk akad yang bersifat ainiyah, yaitu dikatakan sempurna sesudah menyerahkan benda yang dijadikan akad, seperti hibah, pinjam-meminjam, titipan, dan qirad. Semua termasuk akad tabarru (derma) yang dikatakan sempurna setelah memegang (al qabdu) sesuai kaidah setelah pemegangan).6 C. Dasar Hukum Rahn Sebagai referensi atau landasan hukum pinjam-meminjam dengan jaminan (borg) adalah firman Allah SWT, 283. jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang7 (oleh yang berpiutang). (Al-Baqarah: 283). Diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah r.a. berkata:

(tidak sempurna tabarru, kecuali

5 Moh Rifai, Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar,( Semarang: CV. Toha Putra, 1978) hlm 196. 6 Rachmat Syafei, op. cit,. hlm 160.

7 Barang tanggungan (borg) itu di adakan bila satu sama lain tidak percaya mempercayai. 4


Dari Aisyah r.a. sesungguhnya Nabi s.a.w. membeli makanan baju besi beliau kepada si Yahudi itu.8 D. Rukun Rahn dan Unsur-unsurnya Rahn memiliki empat unsur, yaitu rahin (orang yang memberikan jaminan), almurtahin (orang yang menerima), al-marhun (jaminan), dan al-marhun nih (utang). Menurut ulama Hanafiyah yang dikutip dalam buku Fiqh Muamalah, rukun rahn adalah ijab dan qabul dari rahin dan al-murtahin, sebagaimana pada akad yang lain. Akan tetapi akad dalam rahn tidak akan sempurna sebelum adanya penyerahan barang. Adapun menurut selain Hanafiyah, rukun rahn adalah shighat, aqid (orang yang akad), marhun, dan marhun bih.9 E. Syarat-syarat Rahn Dalam rahn diisyaratkan beberapa syarat berikut. 1. Persyaratan Aqid Aqid, yaitu yang menggadaikan (rahin) dan yang menerima gadai (murtahin)........10 Kedua orang yang akan akad harus memenuhi kriteria al-ahliyah. Ahliyah ialah orang yang telah syah untuk jual beli. 2. Syarat Shighat Menurut ulama Syafiiyah berpendapat bahwa syarat dalam rahn ada tiga : a. Syarat sahih, seperti mensyaratkan agar murtahin cepat membayar sehingga jaminan sehingga tidak disita.

8 Achmad Sunarto, Terjemah Shahih Bukhari jilid III,( Semarang; CV. Asy Syifa,1991) , hlm 538.

9 Ibid., hlm 162. 10 Hendi Suhendi, op. cit., hlm 107.

b. Mensyaratkan sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti mensyaratkan agar hewan yang dijadikan jaminannya diberi makanan tertentu. Syarat seperti itu batal, tetapi akadnya sah. c. Syarat yang merusak akad, seperti mensyaratkan sesuatu yang akan merugikan murtahin. 1. Syarat Marhun Bih (utang) Ulama Hanabilah dan syafiiyah memberikan tiga syarat bagi marhun bih: a. Berupa utang yang tetap dan dapat dimanfaatkan b. Utang harus lazim pada waktu akad c. Utang harus jelas dan diketahui oleh rahin dan murtahin 1. Syarat Marhun (borg) Marhun adalah barang yang dijadikan jaminan oleh rahin. Ulama Hanafiyah mensyaratkan marhun, antara lain: dapat diperjualbelikan, bermanfaat, jelas, milik rahin, bisa diserahkan, tidak bersatu dengan harta lain, dipegang (dikuasai) oleh rahin, harta yang tetap atau dapat dipindah. 2. Syarat kesempurnaan Rahn (memegang barang) Secara umum, ulama fiqh sepakat bahwa memegang atau menerima barang adalah syarat dalam rahn, yang didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat AlBaqarah :283, yang telah dituliskan ayatnya di atas dalam subbab dasar hukum rahn. Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa akad rahn tidak batal jika murtahin menitipkan atau meminjamkan borg kepada rahin misalnya untuk memanfaatkannya. Hal itu didasarkan pada hadis riwayat Daruquthni dan Hakim, Rahn dikendarai dan diperah, serta hadis Al-Bukhari, punggung dikendarai dengan memberikan nafkahnya jika digadaikan. A. Beberapa Hal yang Berkaitan dengan Syarat Rahn Beberapa hal yang berkaitan dengan syarat rahn, antara lain berikut ini. a. Borg harus utuh b. Borg yang berkaitan dengan benda lainnya c. Gadai utang d. Gadai barang yang didagangkan atau dipinjam e. Menggadaikan barang pinjaman f. Gadai tirkah (harta peninggalan jenazah) g. Gadai barang yang cepat rusak 6

h. Menggadaikan kitab A. Hukum Rahn dan Dampaknya Hukum rahn secara umum terbagi menjaadi dua, yaitu sahih dan ghair sahih (fasid). Rahn sahih adalah rahn yang memenuhi persyaratan sebagaimana dijelaskan diatas, sedangkan rahn fasid adalah rahn yang tidak memenuhi persyaratan tersebut. 1. Hukum rahn sahih/ rahn lazim Kelaziman rahn bergantung pada rahin, bukan murtahin. Rahn tidak memiliki kekuasaan untuk membatalkannya, sedangkan murtahin berhak membatalkannya kapan saja dia mau. Selain itu, menurut pandangan jumhur ulama, rahn baru dipandang sah bila borg sudah dipegang oleh murtahin. 2. Dampak rahn sahih. Jika akad rahn telah sempurna, yakni rahin menyerahkan borg kepada murtahin, terjadilah beberapa hukum, berikut. a. Adanya utang untuk rahin b. Hak menguasai borg c. Menjaga barang gadaian d. Pembiayaan atas borg e. Pemanfaatan gadai Pada dasarnya tidak terlalu lama memanfaatkan borg sebab hal itu akan menyebabkan borg hilang atau rusak. Hanya saja diwajibkan untuk mengambil faedah ketika berlangsungnya rahn. 1. Pemanfaatan rahin atau borg Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa rahin dibolehkan untuk memanfaatkan borg. Jika tidak menyebabkan borg berkurang, tidak perlu meminta izin, seperti mengendarainya, menempatinya, dan lain lain. Akan tetapi, jika menyebabkan borg berkurang, seperti sawah, kebun, rahin harus meminta izin kepada murtahin. 2. Pemanfaatan murtahin atas borg Jumhur ulama selain Hannabilah berpendapat bahwa murtahin tidak boleh memanfaatkan borg, kecuali jika rahin a. Tasharuf (mengusahakan) rahn b. Tanggung jawab atas borg 7

c. Menjual rahn d. Penyerahan borg 1. Hukum rahn fasid Jumhur ulama fiqh sepakat bahwa yang dikategorikan tidak sah dan menyebabkan akad batal atau rusak, yakni tidak adanya dampak hukum pada borg. Dengan demikian, murtahin tidak memiliki hak untuk menahannya. Begitu pula, rahin diharuskan meminta kembali borg. Jika murtahin menolak dan borg sampai rusak, murtahin dipandang sebagai perampas. A. Pertambahan Borg Ulama fiqh sepakat bahwa tambahan yang ada pada borg adalah milik rahin, sebab dialah pemilik aslinya. Menurut ulama Syafiiyah segala tambahan dari rahn, baik yang dilahirkan dari borg atau bukan, berkaitan dengan borg ataupun tidak, semuanya termasuk rahn. Dengan demiikian, hukuman untuk benda-benda tersebut adalah sebagimana hukum atas rahn itu sendiri. B. Penambahan Utang

Anda mungkin juga menyukai