Anda di halaman 1dari 11

UJI KULTUR GANDA

Oleh : Terry Ayu A. Nurchasanah Yeni Retno Adi Nuryaman Qiqi Rizqiyyah B1J004107 B1J004119 B1J004138 B1J005062 B1J005217

Kelompok 4 Asisten : Achmad Fatoni

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2007

I. PENDAHULUAN Penyakit tanaman yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen (fungi dan bakteri) sulit dikendalikan. Hal ini dikarenakan mikroorganisme penyebab penyakit tanaman mempunyai sifat yang sangat kompleks dan dipengaruhi oleh kompleknya permasalahan ekologi tanah. Selain itu mikroorganisme patogen mempunyai massa atau struktur istirahat (dorman) yang kadang mencapai masa yang lama tetapi akan tetap tumbuh kembali apabila faktor lingkungan memungkinkan. Penerapan pengendalian hayati dengan menggunakan mikroorganisme sekarang mendapat banyak perhatian karena usaha ini sangat menguntungkan, yaitu kurang menimbulkan efek samping yang membahayakan lingkungan hidup. Menurut Whealler (1988), biological control mempunyai peranan penting dalam bidang pertanian dimasa mendatang dan merupakan bentuk kepedulian terhadap efek bahaya penggunaan pestisida. Sistem pengendalian hayati dengan menggunakan mikroorganisme didasarkan pada kenyataan bahwa dalam suatu lingkungan dan kondisi tertentu mikroorganisme menunjukkan sifat yang antagonis terhadap organisme lain. Mikroorganisme yang secara selektif antagonis terhadap patogen tanaman, memberikan sumbangan besar kepentingan biological control. Trichoderma merupakan salah satu cendawan antagonis yang banyak digunakan untuk mengendalikan patogen luar tanah pada bagian tanaman, antara lain Fusarium oxysporum, penyebab layu pada tanaman tomat. Cook dan Baker (1983) menyatakan bahwa strain tertentu dari Trichoderma menghasilkan antibiotic viridin yang dapat menghambat pertumbuhan jamur, juga memproduksi enzim ekstrakseluler -1,3 glukanase, -1,3-(-4)-glukanase dan kitinase yang mendegradasi dinding sel cendawan. Cook dan Baker (1983), menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengendalian hayati (biological control atau biokontrol) penyakit tanaman adalah usaha dalam menekan penyakit (mengurangi jumlah atau pengaruh pathogen) yang menyandarkan pada mekanisme biologis atau organisme selain manusia. Fusarium merupakan salah satu jamur tular tanah penyebab penyakit layu pada berbagai tanaman. Pengendalian jamur tular tanah ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan bukan tular tanah karena jamur tular tanah ini jauh lebih dapat bertahan sampai bertahun-tahun meskipun pada keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dan tanpa tanaman inang dengan membentuk struktur bertahan

berupa klamidiospora. Jamur Trichoderma merupakan jamur yang hidup dalam tanah, parasit pada jamur lain dan memproduksi antibiotic yang bersifat menghambat atau menekan pertumbuhan beberapa pathogen tanah yang menyebabkan penyakit tanaman. Tanah pertanian berisi banyak spesies jamur saprofit yang memainkan peranan penting dalam mendekomposisi residu hasil panen dan beberapa diantaranya berinteraksi secara tidak langsung dengan jamur pathogen tanaman. Hasil interaksi dalam menekan penyakit akar yang mendapat bayak perhatian termasuk jamur sebagai mikoparasit dan produsen antibiotic. Fungi mikoparasit yang digunakan diantaranya Trichoderma spp. Sebagai agen biokontrol Trichoderma dan mikoparasit yang lain mempunyai kemampuan mengepung hifa jamur patogen missal Rhizoctonia dan merusak dinding hifa oleh enzim lisis (Hillock dan waller, 1997). Setiap cendawan antagonis memiliki senyawa antagonistik spesifik. Senyawa antifungi yang dihasilkan dan dikeluarkan oleh cendawan antagonis ternyata dapat digunakan untuk mengendalikan cendawan patogen. Contoh cendawan antagonis yang telah banyak digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman budidaya yang disebabkan oleh cendawan patogen adalah Trichoderma koningii dan Gliocladium sp. Kedua jamur tersebut saat ini sudah banyak diproduksi secara komersial sebagai biofungisida. Berdasarkan uraian diatas maka praktikum kali ini bertujuan untuk menguji kemampuan cendawan antagonis dalam menghambat pertumbuhan cendawan patogen dengan menggunakan cara pengendalian hayati.

II. MATERI DAN CARA KERJA A. Materi Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, jarum inokulasi, lampu bunsen, kapas, pinset, bor gabus, wrapp dan tabung reaksi. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah cendawan pathogen (Fusarium sp.), cendawan antagonis (Trichoderma dan Gliocladium), alkohol dan media PDA. B. Cara Kerja 1. Cawan petri disiapkan dan dibuat garis diagonal pada bagian bawah cawan petri dengan jarak 2 cm. 2. Alat, tempat dan tangan disterilkan dengan alkohol. 3. Biakan cendawan antagonis dan cendawan patogen dibor gabus 0,8 mm. 4. Biakan tersebut ditanam ke dalam cawan petri yang telah digaris, jarak antara cendawan pathogen dan antagonis 2 cm. 5. Cawan ditutup dan diwrapping, lalu diinkubasi 3x24 jam. 6. Diamati dan diukur pertumbuhannya setiap hari dan dihitung % penghambatan. C. Lokasi dan Waktu Praktikum Fitopatologi pada acara Uji Kultur Ganda dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada hari sabtu tanggal 24 November 2007 pukul 15.30 WIB.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Hari/tanggal Cendawan pathogen Cendawan antagonis % Penghambatan (Fusarium) (Trichoderma) Mendekati Menjauhi Mendekati Menjauhi Minggu, 25 Nov 2007 Senin, Nov 2007 Selasa, Nov 2007 Hari/tanggal Cendawan pathogen Cendawan antagonis % Penghambatan 27 0,9 cm 2,6 cm 1,1 cm 4 cm 65,4% 26 0,8 cm 2,2 cm 0,6 cm 3,8 cm 54,3% (R1) 0,6 cm (R2) 0,8 cm (R1) 0,3 cm (R2) 0,5 cm

25%

(Fusarium) (Gliocladium) Mendekati Menjauhi Mendekati Menjauhi Minggu, 25 Nov 2007 Senin, Nov 2007 26 0,8 cm 2,7 cm 1cm (hampir menutupi Rabu, Nov 2007 % Penghambatan = R2 R1 R2 27 1 cm 3,5 cm cawan) menutupi cawan 3,1 cm (hampir menutupi cawan) menutupi cawan (R1) 0,5 cm (R2) 0,6 cm (R1) 0,9 cm (R2) 0,5 cm

17% 70%

85,7%

x 100 %

B. Pembahasan Pengendalian hayati adalah pengendalian dengan cara memanfaatkan musuh alami untuk mengendalikan OPT termasuk memanipulasi inang, lingkungan atau

musuh alami itu sendiri. Pengendalian hayati bersifat ekologis dan berkelanjutan. Pembangunan penyakit tumbuhan secara hayati merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT) yang sesuai untuk menunjang pertanian berkelanjutan karena pengendalian ini lebih selektif (tidak merusak organisme yang berguna dan manusia) dan lebih berwawasan lingkungan. Pengendalian hayati berupaya memanfaatkan mikroorganisme hayati dan proses-proses alami. Aplikasi pengendalian hayati harus kompatibel dengan peraturan (karantina), pengendalian dengan jenis tahan, pemakaian pestisida dan lain-lain. Fungsi uji kultur ganda dalam aplikasi pengendali hayati yaitu untuk menguji kemampuan organisme dalam menghambat pertumbuhan patogen, contohnya uji kultur ganda Trichoderma harzianum terhadap Fusarium, berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma mampu menghambat pertumbuhan Fusarium (Istikorini, 2002). Menurut Istikorini (2002) antagonisme adalah mikroorganisme yang mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap mikrooraganisme lain yang tumbuh dan berasosiasi dengannya. Antagonisme meliputi : kompetisi nutrisi atau sesuatu yang lain dalam jumlah terbatas tetapi diperlukan oleh OPT, antibiosis sebagai hasil dari pelepasan antibiotika atau senyawa kimia yang lain oleh mikroorganisme dan berbahaya bagi OPT dan predasi, hiperparasitisme, mikroparasitisme atau bentuk yang lain dari eksploitasi langsung terhadap OPT oleh mikroorganisme yang lain. Kelebihan penggunaan cendawan antagonis sebagai agen pengendali hayati yaitu efektif untuk mengendalikan patogen, penghasil antibiotik, mudah didapat dan murah. Banyak peneliti yang mengambil manfaat dari Trichoderma spp. sebagai agensia yang efektif untuk mengendalikan berbagai patogen dalam tanah, contohnya T. koningii untuk Rigidoporus microsporus pada tanaman karet dan Trichoderma sp terhadap Phytophthora capsici pada lada. Kekurangan penggunaan cendawan antagonis sebagai agen pengendali hayati yaitu untuk mengetahui secara pasti peranannya tidak mudah karena terlalu banyak hal yang dianggap mendasar untuk diteliti, memerlukan fasilitas untuk mendukung rangkaian penelitian mulai dari eksploirasi, isolasi, identifikasi, pemurnian, dan perbanyakan inokulum. Syaratsyarat atau ciri-ciri cendawan antagonis yang baik untuk digunakan sebagai agen pengendali hayati yaitu mudah diisolasi dan dibiakkan, pertumbuhannya cepat dan mempunyai persentase penghambatan yang tinggi sehingga efektif untuk mengendalikan patogen, dan mampu berkompetisi dalam mendapatkan makanan dan tempat hidup.

Berdasarkan hasil pengamatan persentase penghambatan Fusarium sp. oleh cendawan Trichoderma sp., pada hari pertama yaitu sebesar 25 %, hari kedua 54,3% dan hari ketiga 65,4%. Hal ini menunjukkan Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan patogen yaitu Fusarium sp. Menurut Hillock dan Waller (1997), sebagai agen biokontrol Trichoderma sp dan mikoparasit yang lain mempunyai kemampuan mengepung hifa jamur patogen dan merusak dinding hifa oleh enzim lisis. Berdasarkan hasil praktikum pada cendawan Gliocladium sp. diperoleh hasil persentase penghambatan, pada hari pertama 17%, hari kedua penyebarannya sudah hampir menutupi seluruh cawan dan persentase penghambatannya sebesar 70%, sedangkan hari ketiga Gliocladium sp. sudah hampir menutupi seluruh cawan dan dihasilkan persentase penghambatan 85,7%. Berdasarkan grafik, pertumbuhan Gliocladium sp. lebih cepat dibandingkan dengan Trichoderma sp. Menurut Winarsih (2001), persentase penghambatan yang dapat digunakan sebagai agen pengendali hayati minimal 60%. Persentase penghambatan yang lebih dari 60% efektif untuk mengendalikan patogen. Hal ini berdasarkan hasil penelitian, isolatisolat yang mampu menekan pertumbuhan Rhizoctonia sp. adalah yang persentase penghambatannya lebih dari 60%. Isolat-isolat tersebut berupa Trichoderma koningii dan Gliocladium sp. Agen antagonis patogen tumbuhan yang telah banyak dikembangkan yaitu Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.. Trichoderma sp. efektif mengendalikan OPT atau cendawan tular tanah. Menurut Semangun (1995) dalam Istikorini (2002), Trichoderma sp. mempunyai daya antogonistik terhadap R. microporus. Pengamatan secara mikroskopis menunjukan miselia Trichoderma koningii akan membelit keseluruhan hifa dari R. microsporus sehingga penetrasi dari miselia patogen tidak terjadi dan Trichoderma koningii akan tumbuh di daerah pertumbuhan hifa inang patogen tersebut. Seterusnya untuk menjamin adanya antagonis yang efektif dalam tanah, sejak beberapa tahun yang lalu tersedia campuran triko yang mengandung T. koningii untuk menginokulasi tanah. Cendawan ini aktif menyerang Rhizoctonia solani dan Phytium, dan menghasilkan enzim kitinase dan -1,3glukanase, dengan proses antagonisme parasitisme. Gliocladium sp. bersifat antagonis terhadap beberapa patogen tular tanah, seperti Fusarium sp. dan Sclerotium rolfsii, dengan cara kerja antagonis berupa parasitisme, kompetisme dan antibiosis. Cara aplikasinya pada cendawan ini yaitu dapat diaplikasikan melalui

tanah dan melalui perlakuan benih. Cendawan Trichoderma sp. dapat diaplikasikan langsung ke tanah. Mekanisme pengendalian jamur patogen tanaman oleh Trichoderma sp. dilakukan melalui sistem interaksi hifa (lilitan hifa). Fitopatogen menghasilkan senyawa kimia semacam lektin (agglutinin). Dengan adanya lektin tersebut merangsang Trichoderma sp. untuk mendekati hifa jamur pathogen, kemudian melilitnya. Saat pelilitan hifa, dengan adanya lektin dari jamur pathogen merangsang Trichoderma mengeluarkan suatu alat yang berfungsi menusuk dan menembus dinding sel jamur pathogen. Bersamaan dengan pelilitan dan penusukan dinding sel fitopatogen tersebut Trichoderma sp. juga mengeluarkan enzim yang berfungsi meliliskan dinding sel dan merusak protoplasma jamur patogen. Faktor-faktor yang terlibat dalam sifat antagonistik dari Trichoderma sp. yang meliputi zat antibiotik folatil dan non folatil, enzim hidrolitik seperti kitinase, -1,3-glukanase dan protease (Wahyudi, 1997b). Penekanan terhadap populasi jamur patogen pada umumnya yaitu terjadinya mekanisme antibiosis, yang didahului dengan peristiwa lisisnya dinding sel jamur pathogen oleh enzim kitinase, -1,3-glukanase dan selulase. Shimbock et al. (1994) dalam Wahyudi (1997a), melaporkan bahwa terjadi mekanisme parallel sinergisme aksi dari enzim hidrolisis protease dan -1,3-glukanase serta senyawa antibiotic peptaibol. Odentlich et al. dalam Wahyudi (1997a), telah menemukan salah satu senyawa antibiotik yang dihasilkan oleh Trichoderma sp. yang termasuk kelompok furanom dapat menghambat pertumbuhan spora dan hifa jamur pathogen, diidentifikasikan dengan rumus kimia 3-(2-hydroxypropyl)-4-2-hexadienyl)-2-(5H)furanon.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : 1. Pertumbuhan cendawan antagonis Gliocladium sp. dalam menghambat cendawan patogen Fusarium lebih cepat dibandingkan dengan Trichoderma sp. 2. Gliocladium sp. bersifat antagonis terhadap beberapa patogen tular tanah, seperti Fusarium sp. dan Sclerotium rolfsii, dengan cara kerja antagonis berupa parasitisme, kompetisme dan antibiosis. Cara aplikasinya pada cendawan ini yaitu dapat diaplikasikan melalui tanah dan melalui perlakuan benih. Trichoderma spp. Sebagai agen biokontrol Trichoderma mempunyai kemampuan mengepung hifa jamur patogen. Cendawan Trichoderma sp. dapat diaplikasikan langsung ke tanah.

DAFTAR REFERENSI

Cook, R.J. and K.F. Baker. 1983. The Nature and Practice Biological Control of Plant Pathogens. The American Phytopathology Society. St. Paul, Minnesota. Hillock, E. and J. Waller. 1997. Phytopathology in Tropical Crop. John Willey and Sons inc., New York. Istikorini, Y. 2002. Pengendalian Penyakit Tumbuhan secara Hayati yang Ekologis dan Berkelanjutan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Wahyudi, P. 1997a. Produksi Biofungisida dari Kapang Trichoderma harzianum Bentuk Granula. Majalah BPP teknologi No. LXXX : 150-155 _________. 1997b. Biofungisida dari Jamur Trichoderma sebagai Pengendali Hayati Jamur Penyebab Penyakit Busuk Akar Tanaman. Majalah BPP Teknologi No. LXXX : 1-9 Whealler, T.O. 1988. Antagonism and Biological Control on Aerial Surface. John Willey and Sons, New York. Winarsih, S. 1998. Seleksi Agen Pengendali Hayati untuk Mengendalikan Penyakit Hawar Pelepah Daun Jagung yang Ditanam Di Tanah Gambut. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Bengkulu.

Trichoderma sp.

Gliocladium sp.